Anda di halaman 1dari 20

HAK-HAK WANITA

1. Pendahuluan

Wanita adalah denyut nadi kehidupan. Berbicara tentang wanita bererti juga membicarakan kehidupan itu sendiri secara keseluruhan al mar atu imadu l bilad (wanita itu tiang negara). Bila baik wanita, baik pula kondisi negara tersebut. Perdana Menteri pernah menyatakan bahawa sekiranya kita mengecualikan sumbangan wanita dalam pembangunan Negara, ini bermakna tenaga kerja kita akan kurang dengan begitu mendadak kerana hampir 36 peratus daripada tenaga kerja di negara ini terdiri daripada kaum wanita. Selebihnya perangkaan oleh Kementerian Pembangunan Wanita, Keluarga dan Masyarakat mendedahkan bahawa kira-kira 4.7 juta berada di luar pasaran buruh dan tidak bekerja. Kedudukan wanita dalam masyarakat bukanlah merupakan isu yang baru dan juga bukan sesuatu yang telah ditetapkan sepenuhnya. Posisi Islam dalam hal ini telah menjadi sorotan dunia Barat dengan tingkat objektiviti yang sangat kurang. Ajaran islam bersumber dari Al Qur an dan As Sunnah (hadits). Al Qur an dan Hadits secara jelas dan tanpa bias menjadi sumber otentik dari segala hal yang berkenaan dengan agama Islam1. Wanita sering digambarkan sebagai kaum yang lemah dan senantiasa memerlukan bantuan kaum lelaki dalam segenap hal. Wanita dilihat sebagai kaum yang tidak mempunyai kebolehan di dalam sebarang bidang pekerjaan sehinggakan wujud penyataan bahawa wanita hanya sesuai berada di ceruk dapur sahaja.

2.

Hak Kaum Wanita Dari Sudut Pandang Sejarah

Salah satu tujuan utama dari penulisan ini adalah untuk menggambarkan suatu evaluasi yang adil terhadap kontribusi Islam (atau yang gagal dikontribusikan islam) terhadap pengembalian harga diri dan hak-hak wanita. Untuk mencapai tujuan ini, mungkin akan berguna untuk melihat secara sepintas bagaimana perlakuan terhadap wanita secara umum di zaman danagama sebelumnya, terutama agama-agama yang ada sebelum Islam. Namun demikian,

Haron Din (1988), Manusia dan Islam, Kuala Lumpur terbitan Percetakan Watan Sdn. Bhd. Hal 17

sebagian dari informasi yang dipaparkan disini merupakan gambaran kedudukan wanita pada akhir abad 19, lebih dari 12 abad sejak Islam pertama kali diturunkan.

2.1

Encyclopedia Britanica dinyatakan:

Di India, kepatuhan merupakan prinsip yang paling utama. Siang dan malam wanita harus dijaga dan tergantung kepada penjaganya kata Manu. Peraturan hak waris merupakan bagian

keturunan laki-laki, dimana hubungan darah melalui laki-laki dan mengabaikan perempuan. Dalam script Hindu, pemaparan mengenai isteri yang baik adalah sebagai berikut, wanita, yang pikirannya, perkataannya dan tubuhnya selalu berada dalam ketundukan, memperoleh Di Athen,

kemasyuran yang tinggi di dunia, dan selanjutnya, tinggal bersama suaminya.

kedudukan wanita tidak lebih baik ketimbang di India dan Romawi. Wanita Athen selalu berada diposisi yang lebih rendah (minor), tunduk terhadap laki-laki kepada ayah mereka, saudara

laki-laki mereka atau keluarga laki-laki mereka. Persetujuannya untuk menikah secara umum tidak dipandang perlu dan dia berkewajiban untuk patuh terhadap keinginan orang tuanya, dan menerima suaminya ataupun tuannya, meskipun dia adalah orang asing baginya. Perempuan Rowami digambarkan oleh para sejarahwan sebagai, bayi,mahluk rendah, anak kecil,

seseorang yang tidak mampu berbuat atau melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya, seseorang yang terus menerus berada dalam penjagaan dan pengawasan suaminya.

2.2

Dalam Encyclopedia Britanica,

Dalam hukum Romawi, wanita dalam masa sejarah sangat tergantung sepenuhnya. Jika menikah, dirinya dan hartanya berpindah tangan dalam kekuasaan suaminya seorang isteri

merupakan harta yang dapat diperjualbelikan bagi suaminya, dan layaknya perempuan hanya diperlukan untuk keuntungannya (suami ). Wanita tidak dapat bekerja di sektor awam, tidak dapat menjadi saksi, penjamin, pengajar, dia tidak dapat mengadopsi atau diadopsi, membuat surat wasiat atau kontrak.

Dalam masyarakat Skandinavian, perempuan adalah : Dalam perwailan terus-menerus, tidak diambil peduli sama ada dia menikah atau tidak. Sampai denngan Code of Chrisitan V

pada akhir abad ke 17 telah ditetapkan bahwa jika seorang perempuan menikah tanpa pesetujuan keluarganya, dia dapat jika dia mau memetik hasil darinya selama hidupnya.

Menurut English Common Law semua harta benda riil yang dimiliki seorang perempuan pada saatdia menikah menjadi milik suaminya. Dia (suami pent.) berhak menyewakan lahannya, dan segala keuntungan yang

didapatkan dari pengelolaan perkebunannya selama mereka menjadi pasangan suami isteri. Dengan berlalunya waktu, Hukum telah memikirkan cara untuk melarang seorang suami mengalihkan aset perkebunan tanpa persetujuan isterinya, namun ia tetap memiliki hak untuk mengelola dan memperoleh hasil yang diperoleh darinya. Sedangkan mengenai harta pribadi isteri, suami memiliki hak penuh. Dia memiliki hak untuk menggunakannya menurut kebutuhannya.

Wanita dalam Ajaran Hindu , Dalam bukunya, Modern Hinduism, Wilkins (1975) menyatakan bahwa wanita (Rashtra) dalam ajaran Hindu tidak pernah memperoleh kebebasan apapun juga, hanya kerana penghargaan yang tinggi terhadap ajaran-ajaran Hindu (Avatar) Manu yang disebut Dharma Shastra mengharuskan: Anak perempuan, wanita muda, atau bahkan wanita tua, tidak boleh, bahkan di tempat kediaman, diberikan kebebasan untuk berbuat menurut kehendak dan kesenangannya. Di mana anak perempuan harus tergantung pada ayahnya saja, di masa muda kepada suaminya, dan kepada anak laki-lakinya jika tuannya (suaminya) meninggal. Seorang wanita tidak boleh mencari kebebasan. (Dharma Sasstra, Ch. V. pp. 162-3)2 Menurut ajaran Manu, ada jenis mahluk tertentu yang tidak berhak mendapatkan hak apapun: Tiga orang, seorang isteri, seorang anak laki-laki dan budak, dinyatakan oleh hukum secara umum tidak memiliki harta sendiri3. Kekayaan, yang mungkin mereka dapatkan, selalu dikumpulkan oleh laki-laki yang kepadanyalah semua hak ke atas mereka. Pembunuhan bayi perempuan telah menjadi perkara yang biasa. Bahkan, pembakaran janda (Sati) hidup-hidup setelah kematian suaminya adalah sebahagian dari ajaran Hindu yang telah dilakukan terhadap

2 3

W.J. Wilkins(1975), Modern Hinduism, London, hal. 80) George Buhlerg (1982), The Law of Manu. Mortilal Banarsidass: Delhi. hal. 326, Bab VIII, ayat 416.

para wanita sepanjang sejarah4. Hal tersebut telah lazim di India sampai dilarang oleh pemerintah Inggeris pada tahun 1930.

Menurut ajaran Veda wanita tidak memiliki hak. Mereka hanya diberkahi untuk taat kepada suaminya. Apapun kualiti seorang laki-laki, yang dengannya seorang wanita

dipersatukan, kualiti wanita dengan kualiti laki-laki dibandingkan adalah seperti sungai dengan samudera5. Dalam ayat lain, ajaran Veda tentang Manu tidak memberikan nilai apapun juga kepada wanita. Tidak dengan penjualan atau pun penolakan seorang wanita dibebaskan dari suaminya, demikian hukum yang kita ketahui, yang ditetapkan oleh tuhan sekalian mahluk (Pragapati). Wanita menurut ajaran Veda Hindu yang otentik hanyalah seperti harta benda yang dapat diwariskan dan digunakan oleh kerabat seseorang. Isteri dari kakak laki-laki adalah untuk adiknya; isteri sang Guru... Manu juga menerapkan hukum yang serupa mengenai warisan isteri dari suami yang telah meninggal kepada saudara laki-lakinya.6

Wanita dalam Ajaran Kristian Di dalam bukunya Islam and Christianity, Ulfat Azizu Sammad menghubungkan monogami dalam ajaran Kristian dengan prilaku negatif dari banyak pemimpin agama Kristian terhadap wanita dan perkawinan secara umum. St. Paul, berdiri sebenanrnya dari bentuk ajaran Kristian yang sekarang, memandang wanita sebagai penggoda. Ia meletakkan seluruh kesalahan akan kejatuhan laki-laki dan asal-usul manusia kepada wanita.

Untuk memahami alasan disebalik penghinaan, wanita di Barat selama berabad-abad, kita perlu menganalis kedudukan ekstrim yang dipegang para mubaligh suci Kristian terhadap wanita: Wanita adalah anak perempuan kebohongan, penjaga neraka, musuh kedamaian, kerananya Adam kehilangan Syurga. (St. John Damascene, p. 79)7 Wanita adalah alat yang digunakan Iblis untuk memiliki (memperoleh kemenangan atas) jiwa kita. (St. Cyprian, p. 79). Wanita adalah racun dari ular berbisa, dendam seekor naga. (St. Gregory the Great, p. 79).29 Dapat difahami banyak pendeta Kristian lebih memilih kehidupan salibas (pembujangan)

4 5

Guxtave Le Bon (2001), Les Civilizations de lIndia, hal. 236. Buhlerg, hal. 331, Bab IX, ayat 22. 6 Saya terkejut menjumpai hukum yang sama pada Perjanjian Lama (Genesis 38:6-10). KJV Genesis 38:1-30; (1) Pada waktu itu Yehuda meninggalkan saudara-saudaranya dan menumpang pada seorang Adulam, yang namanya Hira. 7 Ulfat Azizussamad, Islam and Christianity, Presidency of Islamic Research: 1984, hal. 79.

daripada menikahi wanita. Perkahwinan dipandang sebagai perbuatan yang terlalu bersifat duniawi, ia akan melalaikan seseorang dari mencurahkan seluruh waktunya kepada Tuhan.

Pandangan Islam Terhadap Wanita Aburdene dan Nasibit (1193), dua orang peneliti feminist terkemuka, terkejut menemukan bahwa Al- Qur an tidak memandang wanita berkedudukan lebih rendah daripada laki-laki, sebagaimana yang mereka temukan dalam nashnash agama lain8. Mereka kemudian menyedari bahwa perbuatan laki-laki terhadap wanita di dunia Islam berdasarkan pada budaya yang bukan dari Islam atau kesalahan penafsiran terhadap ajaran Islam. Carroll (1983) mengakui bahwa dia sangat terkejut mendapati bahawa wanita Muslim adalah wanita pertama di alam ini yang hak-hak ekonomi dan hak-hak yang sah diakui. Dia juga menambahkan bahwa sistem keluarga dalam Islam disyariatkan 1400 yang lalu dalam rangka melindungi masyarakat, yakni keluarga.

3.

KONVENSYEN MENGENAI PENGHAPUSAN SEGALA BENTUK DISKRIMINASI TERHADAP WANITA9

Menyedari bahawa Piagam Bangsa-Bangsa Bersatu menaruh penuh keyakinan terhadap hakhak asasi manusia, maruah dan harga diri seseorang insan dan hak-hak yang sama antara lelaki dan wanita.

Menyedari bahawa Perisytiharan Sejagat Hak-Hak Asasi Manusia mengesahkan prinsip yang menolak diskriminasi, dan mengisytiharkan bahawa semua manusia dilahirkan bebas dan sama dari segi maruah serta hak-hak, dan bahawa setiap orang berhak kepada semua hak dan kebebasan yang telah ditetapkan terdahulu di dalamnya, tanpa sebarang perbezaan, termasuk jantina.

Menyedari bahawa Negara-Negara Anggota kepada Perjanjian- perjanjian Antarabangsa ke atas Hak Asasi Manusia mempunyai kewajipan bagi memastikan hak yang sama antara lelaki dan wanita untuk menikmati semua hak-hak ekonomi, sosial, kebudayaan, sivil dan politik.

8 9

Yusuf Qardhawi (1994), Fatwa Masa Kini, Ustaz Sidi Ahmad (terj.), Kuala Lumpur, PustakaSalam.Hal 35 Konvensyen Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita Suruhanjaya Hak Asasi Manusia (SUHAKAM),2009.

Mengambil kira konvensyen-konvensyen antarabangsa yang dipersetujui di bawah naungan Bangsa-Bangsa Bersatu dan agensi-agensi khusus yang menggalakkan kesamaan dalam hakhak antara lelaki dan wanita.

Juga menyedari tentang resolusi, perisytiharan dan cadangan-cadangan yang diterima oleh Bangsa-Bangsa Bersatu dan agensi-agensi khusus yang menggalakkan kesamaan dalam hakhak antara lelaki dan wanita.

Walau bagaimanapun, wujud kebimbangan, disebabkan diskriminasi berleluasa terhadap wanita masih berterusan, meskipun pelbagai instrumen seperti ini diadakan.

Menegaskan semula bahawa diskriminasi terhadap wanita merupakan pencabulan ke atas prinsip-prinsip kesamaan hak dan rasa hormat terhadap maruah manusia, serta berdasarkan persamaan dengan lelaki, merupakan halangan bagi penyertaan wanita dalam kehidupan politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan di negara mereka, menjejaskan kemajuan masyarakat dan keluarga, serta menjadikan pembangunan lengkap potensi wanita untuk berkhidmat kepada negara mereka dan manusia sejagat lebih sukar.

Bimbang bahawa dalam situasi kemiskinan, wanita paling kurang mendapat akses kepada makanan, kesihatan, pendidikan, latihan dan peluang-peluang mendapat pekerjaan serta keperluan lain. Berkeyakinan bahawa penubuhan oder baru ekonomi antarabangsa yang berdasarkan kesaksamaan dan keadilan, akan memberi sumbangan yang amat besar kepada penggalakan persamaan antara lelaki dan wanita.

Menekankan bahawa pembasmian aparteid, segala bentuk rasisme, diskriminasi ras, kolonialisme, neo-kolonialisme, keagresifan, pendudukan dan penguasaan asing serta campur tangan dalam hal-ehwal negara adalah penting untuk pencapaian sepenuhnya hak-hak lelaki dan wanita.

Menegaskan bahawa pengukuhan keamanan dan keselamatan antarabangsa, pengenduran ketegangan antarabangsa, saling bekerjasama di kalangan semua negara tanpa mengira perbezaan sistem sosial dan ekonomi, perlucutan senjata, khususnya senjata nuklear di bawah pengawalan antarabangsa yang ketat dan berkesan, pengesahan semula prinsip-prinsip keadilan, kesaksamaan dan faedah bersama dalam hubungan di antara negara-negara, dan merealisasikan hak orang-orang yang berada di bawah penguasaan asing dan penjajah dan penaklukan kuasa luar ke atas penentuan diri sendiri dan kemerdekaan, serta menghormati kedaulatan sesebuah negara dan integriti wilayah, akan menggalakkan kemajuan dan pembangunan sosial, dan seterusnya menyumbang kepada pencapaian kesaksamaan penuh antara lelaki dan wanita . Berkeyakinan bahawa pembangunan penuh dan menyeluruh sesebuah negara, kebajikan dunia dan usaha ke arah keamanan, menghendaki penyertaan maksimum wanita berdasarkan persamaan dengan lelaki dalam semua bidang.

Mengingati betapa besarnya sumbangan wanita terhadap kebajikan keluarga dan pembangunan masyarakat, yang sehingga kini belum diiktiraf sepenuhnya, betapa pentingnya kedudukan para ibu dalam masyarakat dan peranan kedua-dua ibu bapa dalam keluarga serta dalam membesarkan anak-anak, dan menyedari bahawa peranan wanita dalam penambahan zuriat tidak harus dijadikan asas untuk mendiskriminasi, akan tetapi pembesaran anak-anak memerlukan perkongsian tanggungjawab antara lelaki dan wanita serta seluruh masyarakat.

Menyedari bahawa perubahan dalam peranan tradisional lelaki serta peranan wanita dalam masyarakat dan keluarga diperlukan untuk mencapai kesaksamaan sepenuhnya antara lelaki dan wanita.

Dengan keazaman untuk melaksanakan prinsip-prinsip yang telah termaktub dalam Pengisytiharan mengenai Pembasmian Diskriminasi terhadap Wanita dan, untuk maksud tersebut, mengambil langkah- langkah yang perlu bagi pembasmian diskriminasi sedemikian dalam semua bentuk dan manifestasi.

Negara-negara anggota Pertubuhan Bangsa-bangsa Bersatu telah menerima konvensyen ini dengan menerimapakai semua 30 perkara yang menyangkut tentang kepentingan dan hak wanita. Konvensyen ini telah berkuatkuasa pada 3 September 1931 selaras dengan perkara 27(1).10

Di peringkat internasional sistem hukum hak asasi manusia internasional, pengakuan hak perempuan sebagai hak asasi manusia berakar pada Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia yang muncul pada tahun 1947 dan disahkan oleh Majlis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 10 Desember 1948. Deklarasi ini (selanjutkan akan disebut sebagai DUHAM), merupakan awal kodifikasi tentang standar pengakuan hak manusia yang di dalamnya termasuk hak perempuan. Deklarasi ini diakui sebagai standart umum bagi semua masyarakat dan semua bangsa untuk berjuang bagi kemajuan martabat manusia.11

4.

Hak kaum Wanita Di Malaysia

Dalam era kemajuan kini, kaum wanita berpotensi menjadi sumber pembangunan dalam pelbagai bidang sosial, ekonomi dan politik. Berpegang kepada hakikat ini, pada tahun 1989, kerajaan telah menggubal satu dasar yang berkaitan wanita iaitu Dasar Wanita Negara yang mengiktirafkan hak-hak wanita. Dasar yang digubal ini, mendukung cita-cita negara dan Perlembagaan Persekutuan bagi menjamin kedaulatan, kemakmuran, keadilan, kebebasan serta hak-hak asasi manusia. Selain daripada itu, dasar tersebut juga memberi panduan serta hala tuju dalam semua aspek perancangan dan perlaksanaan program pembangunan negara khususnya yang melibatkan kaum wanita secara langsung ataupun tidak tanpa diskrimanisi atau sebab kejantinaannya.

Kaum wanita di Malaysia begitu beruntung sekali kerana hak mereka tidak dipandang remeh oleh pemerintah. Di Malaysia, kaum wanita mendapat segala hak utama yang mereka kehendaki sama ada dari segi peluang pekerjaan, dalam bidang ekonomi, pemilikan harta, hak bersuara dan sebagainya. Dalam bidang politik di Malaysia, hak berpolitik bagi kaum wanita
Konvensyen Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita Suruhanjaya Hak Asasi Manusia (SUHAKAM),2009. Sri Wiyanti Eddyono, SH Women, Law and Development, Hak Asasi Manusia Kaum Perempuan, Langkah demi langkah, terjemahan dan terbitan LBH APIK Jakarta, 2001, hal. 13.
11
10

bermula dengan penglibatan Halimaton Saadiah yang bertanding dalam pilihan raya Persekutuan Tanah Melayu yang pertama pada tahun 1955. Kemudian diikuti dengan pelantikan Fatimah Haji Hashim sebagai Menteri Kebajikan Am pada 20 Mei 1969. Beliau yang memegang jawatan menteri dari tahun 1969 sehingga tahun 1973 merupakan satusatunya menteri wanita pada masa itu. Selepas itu jumlah wanita dalam parlimen semakin meningkat sehinggalah ke pilihan raya tahun lepas iaitu 8 Mac 2008. Wanita telah berjaya merebut 24 kerusi parlimen yang merupakan 10.81 % daripada 222 jumlah kerusi parlimen yang dipertandingkan, manakala sejumlah 40 kerusi dewan undangan negeri (DUN) atau 7.92 % dari 505 kerusi DUN telah berjaya ditawan.12 Menjelang tahun 2020, kerajaan Malaysia telah menetapkan sasaran sebanyak 30 peratus daripada pembuat dasar kerajaan melibatkan golongan wanita. Kerajaan juga telah menubuhkan kementerian yang khusus bagi menjaga hak dan pembangunan wanita di Malaysia. Di dalam Perlembagaan Persekutuan, prinsip menghormati dan mengangkat hak serta martabat wanita ada dinyatakan. Ia dinyatakan mengikut Perkara 8 Perlembagaan Persekutuan yang menjelaskan bahawa ; Semua orang adalah sama rata di sisi undangundang dan berhak mendapat perlindungan yang sama rata di sisi undang-undang .

Kenyataan tersebut jelas menunjukkan bahawa Perlembagaan Malaysia mengiktiraf semua golongan di Malaysia dan mendapat perlindungan yang sama rata tanpa membezakan antara agama, bangsa dan jantina seseorang. Begitu juga daripada sudut Islam, martabat kaum wanita tidak pernah dipandang rendah. Walaupun agama Islam tidak menyamakan antara lelaki dan perempuan, tetapi agama Islam menghormati kaum wanita dan mengangkatnya kepada darjat yang tinggi mengikut lunas-lunas Islam. Terdapat petikan alQuran dan Hadith yang berkaitan dengan wanita. Antaranya di dalam surah al- Imran ayat 195 Allah berfirman yang bermaksud Sesungguhnya Aku tidak akan sia-siakan amal orang-orang yang beramal dari kalangan kamu, sama ada lelaki atau perempuan, (kerana) setengah kamu (adalah keturunan) dari setengahnya yang lain . Begitu juga dalam Hadith Rasulullah S.A.W yang bermaksud : Wanita itu adalah pemimpin dalam rumahtangga suaminya, dan akan ditanya tentang pimpinannya . Berdasarkan ayat al-Quran dan Hadith tersebut ia jelas menunjukkan bahawa agama Islam memartabatkan kaum wanita.13

12 13

http://www.kpwkm.gov.my) Ibid

Di dalam undang-undang Keluarga Islam yang terlaksana di Malaysia (rujukan kepada Akta Undang-undang Keluarga Islam (Wilayah Persekutuan) 1984), hak seseorang wanita telah ditentukan dengan jelas bagi setiap negeri. Tujuannya ialah untuk memberi keadilan kepada kaum wanita supaya mereka mendapat hak sepatutnya dan tidak ditindas dengan sewenangwenangnya disamping membolehkan pihak wanita menuntut hak yang sepatutnya diberi bersandarkan kepada tuntutan hukum syarak.

Antara hak wanita yang terkandung di dalam Akta Undang-undang Keluarga Islam di Malaysia adalah seperti berikut :

1) Hak untuk berkahwin.

Menurut Akta Undang-undang Keluarga Islam (Wilayah Persekutuan) 1984, hak seorang wanita untuk berkahwin telah diperuntukkan dengan jelas di bawah seksyen 8 iaitu : Tiada sesuatu perkahwinan boleh diakadnikahkan di bawah Akta ini jika lelaki itu berumur kurang daripada lapan belas tahun atau perempuan itu berumur kurang daripada enam belas tahun kecuali jika Hakim Syarie telah memberi kebenarannya secara bertulis dalam hal keadaan tertentu . Tujuan peruntukkan ini dibuat bukanlah sebagai satu bentuk sekatan bagi pasangan pengantin berkahwin pada umur yang muda, namun ia bertujuan untuk memastikan setiap pasangan mempunyai tahap kematangan yang mencukupi dan mempunyai persediaan untuk memikul tanggungjawab yang besar dalam institusi kekeluargaan. 2) Hak terhadap mas kahwin14

Wanita juga diberi hak sepenuhnya terhadap mas kahwin yang dibayar terhadap masa akad nikah dijalankan, bahkan hak isteri ke atas mas kahwin tersebut tidak boleh digugurkan atas alasan perceraian ataupun pembubaran perkahwinan. Jika suami masih berhutang mas kahwin terhadap bekas isterinya, maka bekas isterinya boleh mengemukakan aduan kepada Mahkamah untuk mendapatkan jumlah mas kahwin yang masih terhutang.

14

Mahmud bin Bakyr (2003), Kamus Bahasa Melayu Nusantara, Brunei terbitan Dewan Bahasa dan Pustaka mas kahwin bermaksud sejumlah wang yang telah ditetapkan dan diberikan kepada pengantin perempuan. Hal 15

10

3) Hak dalam poligami15

Akta Undang-undang Keluarga Islam (Wilayah Persekutuan) 1984 telah menetapkan hak bagi setiap wanita untuk mendapat perlindungan daripada suami yang berpoligami. Akta ini telah menetapkan beberapa syarat sebelum seseorang lelaki dibenarkan berpoligami. Seksyen 23 ada menjelaskan bahawa seseorang lelaki itu semasa masih di dalam perkahwinan membuat kontrak perkahwinan yang lain dengan perempuan lain kecuali dengan kebenaran daripada mahkamah. Seksyen 123 menyatakan sekiranya lelaki berkenaan tidak mendapat kebenaran bertulis sepertimana yang diperuntukkan dalam seksyen 23 dan kemudiannya berkahwin lagi, maka dia telah melakukan satu kesalahan dan boleh dihukum denda sehingga RM1000 atau penjara sehingga 6 bulanatau kedua-duanya sekali. Selain itu, mahkamah juga perlu berpuas hati tentang lima perkara sebelum kebenaran diberikan iaitu :

i) Bahawa perkahwinan yang dicadangkan itu adalah perlu dan patut memandang kepada halhal keadaan yang berikut iaitu kemandulan, keuzuran jasmani, tidak layak dari segi jasmani untuk persetubuhan, sengaja ingkar mematuhi perintah untuk pemulihan hak-hak persetubuhan atau gila dipihak isteri atau isteri-isteri yang sedia ada.

ii)

Bahawa

pemohon

mempunyai

kemampuan

yang membolehkan

dia menanggung

sebagaimana yang dikehendaki oleh hukum syarak. Semua isteri dan orang tanggungannya termasuk orang-orang yang akan menjadi orang tanggungannya berikutan dengan perkahwinan yang dicadangkan itu.

iii) Bahawa pemohon akan berupaya memberi layanan sama rata kepada semua isterinya mengikut kehendak hukum syarak. iv) Bahawa perkahwinan yang dicadangkan itu tidak akan menyebabkan darar syarie 16 kepada isteri-isteri yang sedia ada dan Peruntukan tentang poligami dalam Undang-undang Keluarga Islan jelas memberi satu bentuk keadilan dan segala perlindungan kepada kaum wanita di

Mahmud bin Bakyr (2003), Kamus Bahasa Melayu Nusantara, Brunei terbitan Dewan Bahasa dan Pustaka Poligami bermaksud seorang lelaki/suami yang berkahwin lebih dari seorang perempuan. Hal 22 16 Mahmud bin Bakyr (2003), Kamus Bahasa Melayu Nusantara, Brunei terbitan Dewan Bahasa dan Pustaka, darar syarie bermaksud satu bentuk ketidak adilan suami kepada isteri-isteri yang terdahulu.Hal 8

15

11

mana ia memberi segala tertindas. Contohnya isteri

hak dan kepentingan isteri yang sedia ada terjamin dan tidak yang sedia ada akan diserahkan satu salinan permohonan dan

akuan berkanun bersama dengan saman (untuk hadir ke Mahkamah) kepada mereka sebagai makluman awal sebelum permohonan poligami dibuat. Semua peruntukan ini dibuat bukanlah bertujuan untuk menghapuskan terus poligami yang dibenarkan oleh Islam tetapi ianya diadakan agar tujuan poligami sebenar tidak disalahgunakan dan juga untuk mengelakkan diskriminasi terhadap wanita.

4) Hak-hak lain

i) Hak untuk mendapatkan perceraian secara khulu atau tebus talak bagi membatalkan ikatan perkahwinan dengan sebab-sebab yang munasabah dan telah diputuskan oleh Mahkamah seperti diperuntukkan dalam subseksyen 49(1) : Jika suami tidak bersetuju menjatuhkan talak dengan kerelaannya sendiri, tetapi pihak-pihak itu bersetuju bercerai dengan cara penebusan atau cerai tebus talak, Mahkamah hendaklah selepas jumlah bayaran tebus talak dipersetujui oleh pihak-pihak itu, mengarahkan suami itu melafazkan perceraian dengan cara penebusan dan perceraian itu adalah bain sughra atau tidak boleh dituju .

ii) Hak untuk mendapatkan perceraian di bawah takliq atau janji sepertimana diperuntukkan di bawah seksyen 50(1) : Seseorang perempuan yang bersuami boleh, jika berhak mendapat

perceraian menurut syarat-syarat surat perakuan takliq yang dibuat selepas berkahwin, memohon kepada Mahkamah untuk menetapkan bahawa perceraian yang demikian telah berlaku. iii) Hak untuk membubarkan perkahwinan atau fasakh17 jika terdapat satu atau lebih daripada alasan-alasan munasabah sebagaimana yang diperuntukkan dalam seksyen 52.

iv) Hak terhadap harta sepencarian sepertimana yang diperuntukkan dalam seksyen 58(1) : Mahkamah adalah mempunyai kuasa apabila membenarkan lafaz talak atau apabila membuat suatu perintah perceraian, memerintah supaya apa-apa aset yang diperolehi oleh pihak-pihak

Mahmud bin Bakyr (2003), Kamus Bahasa Melayu Nusantara, Brunei terbitan Dewan Bahasa dan Pustaka, fasakh bermaksud hak wanita untuk menuntut penceraian dari suami atas alasan ygang manasabah. Hal 10

17

12

itu dalam masa perkahwinan dengan usaha bersama mereka dibahagi antara mereka atau supaya mana-mana aset itu dijual dan hasil jualan itu dibahagi antara pihakpihak itu .

v) Hak terhadap bafkah eddah. Seorang isteri yang diceraikan berhak mendapat nafkah eddah yang diberi oleh bekas suaminya sepanjang tempoh eddah. Dalam seksyen 59(1) menyatakan : Tertakluk kepada hukum syarak, Mahkamah boleh memerintahkan seorang lelaki membayar nafkah kepada isteri atau bekas isterinya .

vi) Hak untuk mendapatkan tempat tinggal sebagaimana diperuntkkan dalam seksyen 71(1) : Seseorang perempuan yang diceraikan adalah berhak tinggal di rumah di mana dia biasa tinggal semasa dia berkahwin selagi suami tidak mendapatkan tempat tinggal lain yang sesuai untuk isteri .

vii) Hak keutamaan dalam hadhanah bagi menjamin kebajikan kanak-kanak tersebut seperti dalam seksyen 81(1) : Tertakluk kepada seksyen 82, ibu adalah yang paling berhak dari

segala orang bagi menjaga anak kecilnya dalam masa ibu itu masih dalam perkahwinan dan juga selepas perkahwinannya dibubarkan .

Hari ini, selepas negara merdeka 50 tahun, seiring dengan penambahan bilangan universiti, walaupun statistik terkini tidak diperoleh, dapat dilihat dengan jelas bahawa senarionya ialah jumlah pelajar wanita melebihi lelaki. Dan jika bilangannya majoriti, maka yang akan menjadi graduan juga secara automatik adalah kumpulan majoriti. Kadar mahasiswa dan mahasiswi pada masa sekarang ialah 61.39 dengan kata lain 61 wanita, 39 lelaki.

Semua ini kerana wanita mempunyai sifat tekun dan gigih, serta mempunyai perasaan bertanggungjawab dan sanggup bertungkus lumus merebut peluang yang sedia ada. Pencapaian wanita ini perlulah dijadikan satu dorongan kepada golongan lelaki untuk menilai kembali dimana silapnya dan berusaha memperbaiki kelemahan yang ada supaya jurang yang wujud dalam pencapaian akedemik ini dapat diperbaiki.

Sejak negara menyusun program-program pembangunan negara, kaum wanita diajak turut serta dalam proses ini. Sumbangan wanita diperlukan sebagai sebahagian daripada guna

13

tenaga. Hal ini dapat dilihat dari dua sudut. Pertama, pengakuan daripada kerajaan bahawasanya sumbangan wanita diperlukan demi kemajuan dan pembangunan negara. Kedua, mengikut teori pembangunan, wanita diajak supaya turut serta dalam arus pembangunan negara, menyertai dan menikmati nikmat daripada proses ini. Kesungguhan kerajaan terhadap potensi wanita sebagai penyumbang dan penerima nikmat dapat dilihat dengan jelas melalui program-program serta dasar-dasar yang telah dilaksanakan dalam masa dua dekad yang lepas.18

Pada tahun 1985, Kerajaan Malaysia telah menyiapkan sebuah Dasar Kebangsaan untuk Wanita sebagai panduan bagi penglibatan para wanita di dalam proses pembangunan. Dasar tersebut boleh membantu meningkatkan taraf kehidupan wanita dengan menangani cabaran-cabaran melalui pendidikan dan penghapusan kemiskinan. Status wanita telah menjadi objektif utama Rancangan Malaysia ke-6 (1991 1995), di mana sebuah dana khas disediakan

untuk perkembangan wanita dan telah menjadi satu langkah yang penting di dalam menuju ke arah keperkasaan wanita-wanita di Malaysia. Rancangan-rancangan Malaysia seterusnya masih memberi perhatian kepada keperluan-keperluan wanita dengan cadangan untuk memajukan status mereka di dalam masyarakat.

Dengan menyetujui pendapat-pendapat yang telah ditetapkan terlebih dahulu semasa Platform Beijing untuk Tindakan di Persidangan Sedunia PBB untuk Wanita yang Ke-Empat (1995), Kerajaan telah berjanji untuk 1) meningkatkan jentera kebangsaan untuk kemajuan wanita; 2) meningkatkan penglibatan para wanita dalam membuat keputusan; 3) mempertahan serta melindungi hak-hak wanita kepada kesihatan, pendidikan serta kesejahteraan sosial dan 4) mengatasi segala cabaran undang-undang serta amalan-amalan yang berunsur diskriminasi terhadap gender. Pada tahun 1995, Kerajaan juga telah memperkenalkan Konvensyen PBB yang berkaitan dengan Penghapusan Sebarang Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita (CEDAW).19

Pada tahun 2001, Kerajaan telah menubuhkan Kementerian Pembangunan Wanita,

Kementerian Pembangunan Wanita, Keluarga dan Masyarakat - http://www.kpwkm.gov.my Sri Wiyanti Eddyono, SH(2004). Hak Asasi Perempuan Dan Konvensi Cedaw. Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat .Hal 42
19

18

14

Keluarga & Masyarakat dengan diberikan mandat untuk mengendalikan isu-isu berkaitan dengan wanita serta mengangkat martabat wanita di negara ini. Perlembagaan Malaysia telah digubal semula pada Ogos 2001 yang melarang sebarang bentuk diskiriminasi yang berasaskan gender di dalam mana-mana undang-undang. Pihak Kerajaan masih terus memainkan peranan yang penting di dalam menyokong untuk mencapai lebih kesaksamaan gender dalam negara ini, dengan menyediakan persekitaran yang sihat untuk memajukan wanita-wanita dalam arena kebangsaan dan juga antarabangsa. Kementerian Pembangunan Wanita, Keluarga dan Masyarakat yang bertanggungjawab di dalam mengetengahkan isu-isu wanita di Malaysia telah diberikan peruntukan di mana ia telah ditingkatkan daripada RM 1.8 juta (US$ 0.5 juta) pada tahun 2001 kepada RM 30.5 juta (US$ 8.6 juta) pada tahun 2005, dan ia membuktikan bahawa negara ini amat serius di dalam komitmennya terhadap isu-isu wanita.20

Satu cara pembelaan kaum wanita dalam bidang ekonomi ialah melalui kemudahankemudahan yang disediakan oleh kerajaan bagi menggalakkan penyertaan kaum wanita. Mengikut SMIDEC (Small and Medium Industries Corporation), sebuah agensi yang ditubuhkan khas untuk membantu mereka yang ingin melibatkan diri dalam dunia keusahawanan pada tahap kecil dan sederhana, kira-kira RM46.6 juta telah diluluskan bagi tahun 2005 sebagai skim bantuan khas kepada usahawan wanita. Antara agensi pelaksana ialah ITAF (Industrial Technical Assistance Fund), SLSME (Soft Loan adn Medium Enterprises), PAKSI (Financial Package for SMIs) dan DKKP (Dana Khas Kerajaan Persekutuan).

Kerajaan turut menggubal suatu dasar dimana wanita diberikan hak 30 peratus diperingkat Pembuat Keputusan yang mana dasar ini telah dipersetujui oleh negara-negara anggota Pertubuhan Bangsa-bangsa Bersatu (PBB) di Persidangan Wanita Sedunia ke-4 di Beijing, China pada tahun 1995. Dasar ini menggesa agar semua anggota berusaha mencapai tahap sekurang-kurangnya 30 peratus daripada mereka yang memegang jawatan pembuat keputusan terdiri daripada wanita. Di Malaysia, pada tahun 2005, jumlah wanita yang memegang Jawatan Utama Sektor Awam (JUSA) ialah kira-kira 19.7 peratus berbanding sepuluh tahun dahulu, hampir tidak ada wanita memegang jawatan di dalam kategori ini.

http://www.mykhilafah.com/fokus-berita/1543-perhimpunan-wanita-dan-angan-angandasarwanita-negara-2009

20

15

5.

Perbincangan

Islam satu-satunya agama yang memberi pengiktirafan tinggi kepada kaum wanita berbanding agama yang lain. Selain mempunyai peranan dan hak yang sama dengan kaum lelaki, Islam turut memberi kebebasan kepada kaum wanita untuk bertindak dan menguruskan diri dan harta miliknya. Peranan wanita tidak terbatas dalam lingkungan rumahtangga semata-mata, malah turut berperanan dalam pembangunan negara21. Wanita dan lelaki sama-sama bertanggungjawab memimpin masyarakat dan memandu mereka ke jalan Allah S.W.T.

Namun ada empat isu yang paling jelas berkenaan hak asasi wanita ini. Senario hari ini menyaksikan penguasaan wanita dalam pelbagai sektor pekerjaan. Masyarakat sememangnya mengiktiraf kebolehan wanita yang menguasai pelbagai bidang. Dalam kalangan wanita elit dan profesional walaupun kebanyakan mereka mempunyai taraf pendidikan yang tinggi, mereka kurang memberi perhatian kepada pendidikan agama. Malah, perkara-perkara asas dalam agama tidak dipraktikkan dalam kehidupan seharian. Jadi, tidak hairanlah jika golongan ini yang menjadi sasaran seterusnya mendokong gerakan Islam Liberal terutamanya dalam hal yang berkaitan hak asasi wanita. Misalnya, kebanyakan tokoh-tokoh feminis Muslim mempunyai taraf pendidikan yang tinggi serta mendapat tempat di dalam masyarakat. Sehubungan dengan itu, perlunya satu usaha dilakukan bagi memperbetulkan pemikiran golongan wanita elit dan profesional ini agar tidak terpesong dari landasan syariat.22

Kaum wanita juga perlu melengkapkan diri dengan ilmu pengetahuan terutamanya ilmu agama. Selain itu, wanita juga hendaklah memahami dan menghayati tanggungjawab mereka kepada Allah S.W.T, diri dan masyarakat. Apabila diri wanita telah dilengkapi dengan ilmu dan iman, sukar bagi mereka untuk ditindas dan diperlekehkan oleh anasir. Idea-idea yang dibawa oleh pelbagai fahaman luar yang kononnya berpaut kepada hujah-hujah al-Quran dan alSunnah, sebenarnya telah menyimpang dari tafsirantafsiran konvensional ulama salaf dan khalaf yang muktabar. Dalam hubungan ini, Profesor Yusuf al-Qaradawi mengingatkan masyarakat Islam supaya berusaha sedaya mungkin untuk menguasai manhaj ilmu-ilmu Islam
Hanafi Mohamed (1998), Membentuk Keperibadian Mithali dan Menangani Krisis Moral Wanita Islam. Kuala Lumpur terbitan al-Hidayah Publishers Hal 28 22 Beterah Alias, Che Zarrina Saari (2006) Islam dan Emansipasi Wanita, Kuala Lumpur terbitan Universiti Malaya. Hal 22
21

16

secara komprehensif sebelum membuat satu-satu rumusan pemikiran baru. Wanita juga mestilah bersikap kritis dan objektif apabila membicarakan pemikiran. Ini ialah kerana pemikiran-pemikiran yang menyimpang seumpama ini sentiasa wujud pada setiap zaman.

Kaum wanita yang menghadapi banyak permasalahan kehidupan dan merasa bahawa masalah tersebut berakar pada perlakuan tidak adil terhadap wanita seharusnya dapat melihat bahwa Islamlah penjamin keadilan yang hakiki. Untuk mendapatkan penjelasan yang lebih terperinci, berikut dikemukakan beberapa contoh pemecahan masalah-masalah wanita yang menjadi sorotan dunia saat ini menurut syariat Islam:

1) Masalah kemiskinan, pendidikan, kesihatan dan tindakan buruk terhadap wanita.

Dalam pandangan Islam, masalah-masalah ini timbul kerana tiadanya penerapan hukum-hukum yang berhubungan dengan jaminan keperluan asas bagi rakyat. Keperluan asas rakyat meliputi: a) Keperluan asas yang dipenuhi secara individu untuk setiap individu rakyat dan b) keperluan asas masyarakat. Contoh keperluan asas yang pertama adalah makanan dan pakaian. Sedangkan yang kedua meliputi keperluan masyarakat akan keamanan, kesihatan

dan pendidikan.

Kemiskinan menurut Islam terjadi pada saat seseorang individu tidak mampu memenuhi keperluan pokoknya (keperluan individu). Kemiskinan pada wanita terjadi pada saat si suami atau walinya (yang berkewajiban memberi nafkah keperluan asas kepada wanita itu) juga miskin. Jalan keluar untuk mengatasi masalah ini sudah tentu bukannya dengan cara memberi modal kepada wanita agar ia dapat meningkatkan keadaan ekonominya kerana hal itu justeru akan menambah bebanan kepada si isteri yang juga mempunyai tanggungjawab di rumah23. Penyelesaian yang akan ditempuh adalah dengan menyediakan pekerjaan atau modal kerja kepada si suami atau wali dari wanita itu, agar ia dapat bekerja atau meningkatkan penghasilannya sehingga ia dapat menafkahi isteri dan anak-anaknya atau saudara wanitanya yang menjadi tanggungannya dalam batasan nafkah yang selayaknya.

Hanafi Mohamed (1998), Membentuk Keperibadian Mithali dan Menangani Krisis Moral Wanita Islam. Kuala Lumpur terbitan al-Hidayah Publishers. Hal 35

23

17

Di dalam Islam, menuntut ilmu adalah kewajiban bagi kedua-dua lelaki dan wanita, dan pendidikan adalah hak setiap warganegara, termasuk didalamnya para wanita. Negara mengelola dan memberi pendidikan secara percuma kepada setiap warganegara. Pendidikan yang diberikan secara percuma ini bertujuan untuk membentuk pola berfikir dan pola sikap (syakhshiyah) Islam kepada anak didik, serta membekal mereka dengan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kehidupan. Melalui pendidikan ini, seseorang muslim dibentuk menjadi peribadi yang berilmu (intelektual) agar menyingkapi sikap seorang ahli ibadah yang mulia. Dengan kurikulum pendidikan berteraskan aqidah ini akan muncul para saintis, jurutera, doktor dan lainnya yang beriman dan bertaqwa. Wanita tidak sekali-kali akan dihalang untuk mengikuti bidang-bidang pendidikan yang berbentuk profesional ini.

Mengenai jaminan terhadap keamanan, negara akan memenuhinya dengan membina aqidah umat sehingga mereka menjadi orang-orang yang bertaqwa dan takut akan adzab Allah yang pedih apabila mereka melakukan kejahatan. Sebagai contoh golongan lelaki diwajibkan Allah untuk menundukkan pandangan mereka ketika berhadapan dengan wanita dan wanita pula diwajibkan menutup aurat dengan cara yang betul ketika keluar dari rumah. Selain itu, negara juga menerapkan hukum yang tegas, yang bersumber dari wahyu, untuk bertindak keatas kejahatan-kejahatan yang berlaku tanpa adanya diskriminasi

2) Masalah penglibatan wanita sebagai pembuat polisi dan keputusan

Tidak seperti masyarakat kapitalis, masyarakat Islam tidak melihat masalah ini sebagai suatu ketidakadilan terhadap wanita. Didalam Islam, pembuat keputusan memanglah hanya dipertanggungjawabkan kepada seorang individu, iaitu pemimpin. Didalam keluarga

pemimpinnya adalah suami, ditingkat wilayah, pemimpin masyarakat adalah wali, dan ditingkat negara pemimpinnya adalah Khalifah24. Dalam isu-isu seperti ini, lelaki telah diberi hak oleh Allah untuk memikulnya. Semua kedudukan ini memanglah bukan hak untuk wanita menurut hukum syara . Ketidakadilan hanya berlaku apabila hukum Allah mengenai hak wanita dilanggar. Sebagai contoh, apabila wanita tidak diperkenankan utnuk memberikan sebarang pendapat atau masukan didalam pembuatan keputusan, atau apabila wanita tidak

24

Khalif Muammar (2006) Atas Nama Kebenaran: Tanggapan Kritis Terhadap Wacana Islam Liberal, Selangor: Akademi Kajian Ketamadunan.

18

diperkenankan untuk menasihati pemimpin jika pemimpin tersebut menyalahi syariat Allah. Meletakkan label zalim apabila wanita tidak dibenarkan menduduki kerusi-kerusi yang telah ditetapkan oleh Allah sebagai hak keatas lelaki merupakan satu label yang hanya memanifestasikan kejahilan dan penolakan urusan Allah didalam penetapan ini.

Wanita tetap bebas menduduki kerusi-kerusi kepimpinan yang lainnya selama ia tidak bertentangan dengan hukum Allah sebagai contoh sebagai ketua di jabatan-jabatan negara yang tidak berkaitan dengan aspek pemerintahan.

6.

Penutup

Penyelesaian permasalahan wanita dengan penerapan syariat Islam dalam kehidupan tidak hanya menjamin keadilan bagi wanita, tetapi juga menjamin keadilan bagi seluruh anggota masyarakat. Itulah penjaminan keadilan yang hakiki. Dengan adanya peruntukkan UndangUndang Keluarga Islam, kaum wanita dapat berfikir bijak dan dapat menentukan hak-hak mereka supaya kedudukan mereka terbela dan terjamin. Perlu diingat bahawa segala kelebihan ini perlulah digunakan secara bijaksana dan meskipun Islam telah memberi segala hak kepada wanita,mereka perlulah tidak melampaui batas serta tidak meminta-minta atau cuba

melaksanakan peraturan yang terlalu menonjol hingga melampaui batasan mereka sebagai seorang wanita.Walau apapun hak yang cuba ditegakkan oleh mereka atas alasan hak asasi,ianya tidak boleh sama sekali melanggar hokum syarak yang telah ditetapkan oleh Allah25. Malah agama-agama lain di dunia ini seperti agama kristian, hindu, dan Buddha telah menganggkat hak dan kedudukan kaum wanita dalam pelbagai aspek kehidupan seharian. Sesungguhnya wanita di Malaysia benar-benar dibela, baik dari perspektif undangundang mahupun aspek-aspek penting lain dalam kehidupan wanita. Agama Islam telah meletakkan dan memberikan kedudukan yang mulia kepada wanita dan kerajaan Malaysia senantiasa memastikan bahawa kedudukan tersebut tidak tergugat.

(4992 PATAH PERKATAAN)

Sulaiman Nordin (1995), Islam, Al-Quran dan Ideologi Masa Kini, Kuala Lumpur, terbitan Dewan Bahasa dan Pustaka. Hal 27

25

19

Rujukan (BUKU)
Beterah Alias, Che Zarrina Sa ari (2006), Islam dan Emansipasi Wanita, Kuala Lumpur terbitan Universiti Malaya. George Buhlerg (1982), The Law of Manu. Mortilal Banarsidass: Delhi Guxtave Le Bon (2001), Les Civilizations de l India: India Hanafi Mohamed (1998), Membentuk Keperibadian Mithali dan Menangani Krisis Moral Wanita Islam, Kuala Lumpur terbitan al-Hidayah Publishers. Haron Din (1988), Manusia dan Islam, Kuala Lumpur terbitan Percetakan Watan Sdn. Bhd. Khalif Muammar (2006) Atas Nama Kebenaran: Tanggapan Kritis Terhadap Wacana Islam Liberal, Selangor: Akademi Kajian Ketamadunan. SUHAKAM,(2009), Konvensyen Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita Suruhanjaya Hak Asasi Manusia. Mahmud bin Bakyr (2003), Kamus Bahasa Melayu Nusantara, Brunei terbitan Dewan Bahasa dan Pustaka. Sri Wiyanti Eddyono, SH(2004). Hak Asasi Perempuan Dan Konvensi Cedaw. Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat .Hal 42 Sulaiman Nordin (1995), Islam, Al-Quran dan Ideologi Masa Kini, Kuala Lumpur, terbitan Dewan Bahasa dan Pustaka. Yusuf Qardhawi (1994), Fatwa Masa Kini, Ustaz Sidi Ahmad (terj.), Kuala Lumpur, Pustaka Salam. W.J. Wilkins(1975), Modern Hinduism, London Zulkifli Mohamad Al-Bakri, Mohd Khairuddin Aman Razali At-Takiri (2005) Hukum Wanita Menjadi Imam Solat Kontroversi Solat Jumaat Dr. Amina Wadud. Kajang, terbitan Darul Fuqaha Enterprise.

Rujukan (INTERNET) http://www.pmo.gov.my/islamhadhari/index.php?menu=p7 http://www.mykhilafah.com/fokus-berita/1543-perhimpunan-wanita-dan-angan-angandasar wanita-negara-2009 http://suhakam.org.my http://www.womensorganizations.org


20