Anda di halaman 1dari 6

TUGAS KELOMPOK ALK

Nama Kelompok 3:

- Kelly Priscillia (20171031071)


- Marliana (2017031073)
- Kristian karo-karo (2017031072)
- Aisha Riztania (2017031088)
- Anita widiyanti (2017031131)
- Fransisico sedney N.P (2018031030)
- Indra L. Siahaan (2017031133)

Pengertian Kebangkrutan

Kebangkrutan adalah suatu kondisi disaat perusahaan mengalami ketidakcukupan dana untuk
menjalankan usahanya. Menurut Lesmana (2003:174), kebangkrutan adalah ketidakpastian
mengenai kemampuan atas suatu perusahaan untuk melanjutkan kegiatan operasinya jika
kondisi keuangan yang dimiliki mengalami penurunan. Kebangkrutan (bankcruptcy)
merupakan kondisi dimana perusahaan tidak mampu lagi untuk melunasi kewajibannya.
Kondisi ini biasanya tidak muncul begitu saja di perusahaan, ada indikasi awal dari
perusahaan tersebut yang biasanya dapat dikenali lebih dini kalau laporan keuangan dianalisis
secara lebih cermat dengan suatu cara tertentu. Rasio keuangan dapat digunakan sebagai
indikasi adanya kebangkrutan di perusahaan (Toto, 2011:332).

Menurut Undang-undang N0.4 tahun 1998 tentang kepailitan, menyatakan bahwa


kebangkrutan sebagai suatu situasi yang dinyatakan pailit oleh keputusan pengadilan.
Kebangkrutan sebagai suatu kegagalan yang terjadi pada sebuah perusahaan dapat diartikan
sebagai berikut (Brigham, 2001:2-3):

1. Kegagalan Ekonomi (Economic Distressed), yaitu kondisi perusahaan kehilangan


uang atau pendapatan perusahaan tidak mampu menutupi biayanya sendiri, ini berarti
tingkat labanya lebih kecil dari biaya modal atau nilai sekarang dari arus kas
perusahaan lebih kecil dari kewajiban. Kegagalan terjadi bila arus kas sebenarnya dari
perusahaan tersebut jauh di bawah arus kas yang diharapkan.
2. Kegagalan Keuangan (Financial Distressed), kondisi perusahaan dimana kesulitan
dana baik dalam arti dana dalam pengertian kas atau dalam pengertian modal kerja.
Sebagian asset liability management sangat berperan dalam pengaturan untuk
menjaga agar tidak terkena kegagalan keuangan. Kegagalan keuangan bisa juga
diartikan sebagai insolvensi yang membedakan antara dasar arus kas dan dasar saham.

Faktor Penyebab Kebangkrutan

Terdapat tiga faktor penyebab kebangkrutan atau kegagalan perusahaan yaitu (Sartono,
Perusahaan yang menghadapi technically insolvent, jika perusahaan tidak dapat memenuhi
kewajibannya yang segera jatuh tempo tetapi asset perusahaan nilainya lebih tinggi daripada
hutangnya.

1. Perusahaan yang menghadapi legally insolvent, jika nilai asset perusahaan lebih
rendah daripada nilai utang perusahaan.
2. Perusahaan yang menghadapi kebangkrutan yaitu jika tidak dapat membayar
utangnya dan oleh pengadilan dinyatakan pailit.

Secara umum faktor-faktor penyebab kebangkrutan dijelaskan sebagai berikut (Reny,


2011:28):

1. Faktor Ekonomi. Faktor-faktor penyebab kebangkrutan dari sektor ekonomi adalah


gejala inflasi dan deflasi dalam harga barang dan jasa, kebijakan keuangan, suku
bunga dan devaluasi uang dalam hubungannya dengan uang asing serta neraca
pembayaran, surplus dalam hubungannya dengan perdagangan luar negeri.
2. Faktor Sosial. Faktor sosial yang sangat berpengaruh terhadap kebangkrutan
cenderung pada perubahan gaya hidup masyarakat yang mempengaruhi permintaan
terhadap produk dan jasa ataupun cara perusahaan berhubungan dengan karyawan.
3. Faktor Teknologi. Penggunaan teknologi informasi juga menyebabkan biaya yang
ditanggung perusahaan membengkak terutama untuk pemeliharaan dan implementasi
yang tidak terencana, sistemnya tidak terpadu dan para manajer pengguna kurang
profesional.
4. Faktor Pemerintah. Kebijakan pemerintah terhadap pencabutan subsidi pada
perusahaan dan industri, pengenaan tarif ekspor dan impor barang yang berubah,
kebijakan undang-undang baru bagi perbankan atau tenaga kerja dan lain-lain.
5. Faktor Pelanggan. Perusahaan harus mengidentifikasi sifat konsumen, untuk
menghindari kehilangan konsumen, juga untuk menciptakan peluang, menemukan
konsumen baru dan menghindari menurunnya hasil penjualan dan mencegah
konsumen berpaling ke pesaing.
6. Faktor Pemasok. Perusahaan dan pemasok harus tetap bekerjasama dengan baik
karena kekuatan pemasok untuk menaikkan harga dan mengurangi keuntungan
pembelinya tergantung pada seberapa besar pemasok ini berhubungan dengan
perdagangan bebas.
7. Faktor Pesaing. Perusahaan juga jangan melupakan persaingan karena kalau produk
pesaing lebih diterima di masyarakat, maka perusahaan akan kehilangan konsumen
dan hal tersebut akan berakibat menurunnya pendapatan perusahaan.

Penyebab kebangkrutan biasanya merupakan akibat keputusan yang tidak tepat di masa lalu
atau mungkin karena pihak manajemen perusahaan gagal mengambil tindakan yang tepat
pada saat yang dibutuhkan, antara lain dijelaskan sebagai berikut (Yanuar, 2009:12):

1. Kredit yang diberikan pada pelanggan terlalu besar karena persyaratan kredit yang
sangat longgar atau jangka waktu kredit sangat panjang.
2. Ketidakmampuan manajemen, sering kali suatu bisnis gagal karena kualifikasi
personalia pihak manajemen yang kurang bagus dan kurangnya kemampuan,
pengalaman, keterampilan, serta kurang inisiatif dapat menyebabkan tidak tercapainya
tujuan perusahaan.
3. Kekurangan modal. Jika perusahaan mengalami kerugian operasi juga mengalami
kekurangan modal maka kemungkinan besar perusahaan tidak akan mampu lagi untuk
membiayai operasi dan membayar kewajibannya tepat pada tanggal jatuh tempo.

Tanda atau Indikator Kebangkrutan

Kebangkrutan yang akan terjadi pada perusahaan dapat diprediksi dengan melihat beberapa
indikator-indikator, yaitu (Hanafi, 2003:264):

1. Analisis aliran kas untuk saat ini atau masa mendatang.


2. Analisis strategi perusahaan, yaitu analisis yang memfokuskan pada persaingan yang
dihadapi oleh perusahaan.
3. Struktur biaya relatif terhadap pesaingnya.
4. Kualitas manajemen.
5. Kemampuan manajemen dalam mengendalikan biaya.

Kebangkrutan perusahaan juga biasanya ditemukan beberapa tanda atau indikator manajerial
dan operasional, yaitu (Fakhrurozie, 2007:18):

1. Indikator dari lingkungan bisnis. Pertumbuhan ekonomi yang rendah menjadikan


indikator yang cukup penting pada lemahnya peluang bisnis, apalagi jika di saat yang
sama banyak perusahaan baru yang memasuki pasar. Besarnya perusahaan tertentu
menjadi sebab mengecilnya perusahaan yang lain.
2. Indikator internal. Manajemen tidak mampu melakukan perkiraan bisnis dengan alat
analisa apapun yang digunakan, sehingga manajemen kesulitan mengembangkan
sikap proaktif. Lebih cenderung bersikap reaktif, dan oleh karena itu biasanya
terlambat mengantisipasi perubahan.
3. Indikator kombinasi. Seringkali perusahaan yang sakit disebabkan oleh interaksi
ancaman yang datang dari lingkungan bisnis dan kelemahan yang berasal dari
lingkungan perusahaan itu sendiri. Jika disebabkan oleh keduanya, biasanya
membawa akibat yang lebih kompleks dibanding yang disebabkan oleh salah satu
saja.

Hukum Kebangkrutan

Berikut ini terdapat 2 hukum kebangkrutan, terdiri atas:

1. Hukum Federal (Amerika Serikat) tentang kebangkrutan

Undang-undang kebangkrutan AS pertama kali diberlakukan pada tahun 1898. UU tersebut


kemudian dimodifikasi secara substansial pada tahun 1938 dan 1978, serta beberapa
penyesuaian dilakukan pada tahun 1986. Pada tahun 2005, Kongres mengubah ketentuan
kebangkrutan lebih lanjut, mempercepat proses kebangkrutan bagi perusahaan dan,mengatur
proses yang lebih sulit bagi konsumen untuk memanfaatkan ketentuan yang bisa menghapus
hutang tertentu.

Tujuan utama undang-undang kepailitan adalah untuk mencegah kreditur individual


memberikan tekanan untuk melakukan likuidasi (forcing to liquidation) terhadap perusahaan
nilainya lebih berharga apabila perusahaan tersebut tetap menjalankan bisnisnya. Hal tersebut
ditujukan juga agar tekanan menyebabkan kerugian bagi pemangku kepentingan lainnya.

Hukum kepailitan bersifat fleksibel karena menyediakan ruang untuk negosiasi antara
perusahaan, kreditor, angkatan kerja, dan pemegang sahamnya. Sebuah kasus dibuka dengan
mengajukan sebuah petisi dengan salah satu dari 291 pengadilan kebangkrutan yang melayani
90 distrik peradilan. Petisi tersebut dapat bersifat sukarela atau tidak disengaja; Itu bisa
diajukan baik oleh manajemen perusahaan atau oleh para krediturnya. Setelah mengajukan
pengajuan, sebuah komite kreditur tanpa jaminan kemudian ditunjuk oleh Kantor UE untuk
melakukan negosiasi dengan manajemen untuk reorganisasi, yang dapat mencakup
restrukturisasi hutang.

Di bawah Bab 11, wali amanat akan ditunjuk untuk mengambil alih perusahaan jika pengadilan
menganggap manajemen saat ini tidak kompeten atau jika kecurigaan dicurigai. Biasanya,
manajemen yang ada tetap memegang kendali. Jika tidak ada reorganisasi yang adil dan layak
dapat dilakukan, hakim kebangkrutan akan memerintahkan agar perusahaan tersebut
dilikuidasi berdasarkan prosedur yang dijabarkan di Bab 7 dari Undang-Undang
Kebangkrutan, dalam hal ini wali amanat akan selalu ditunjuk.

2. Perbandingan hukum kebangkrutan AS dengan hukum kepailitan di Indonesia

Hukum kepailitan yang berlaku di Indonesia memiliki banyak perbedaan dengan hukum
kepailitan yang berlaku di AS. Perbedaan tersebut meliputi sistematika dalam hukum kepailitan
masing-masing negara. Demikian pula dengan perbedaan terkait pihak-pihak yang dinyatakan
pailit, pihak-pihak yang dapat mengajukan permohonan pailit, prosedur dan tata cara pengajuan
permohonan pernyataan kepailitan, penundaan kewajiban pembayaran utang, jangka waktu
yang harus ditempuh, hukum acara yang dipergunakan, reorganisasi perusahaan dan lain-lain.
Di samping perbedaan di atas, terdapat beberapa persamaan yang ada dalam hukum kepailitan
yang berlaku di Indonesia dengan hukum kepailitan yang berlaku di AS. Di antaranya adalah
terkait dengan definisi pengertian antara kreditor, debitor, dan kurator. Selain itu, terdapat
persamaan dalam hal lembaga Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang di Indonesia denga
Reorganizarion di Amerika Serikat. Dalam hukum kepailitan di Indonesia dan AS juga sama-
sama memungkinkan kreditor dan debitor untuk menyelesaikan sengketa kepailitan di luar
pengadilan.

Aspek Indonesia AS

– Debitor

– Kreditor

Pihak yang dapat mengajukan – Kejaksaan – Debitor


kepailitan – Kreditor
– Bank Indonesia

– BPPM

– Menteri Keuangan

Tiga atau lebih


Pengajuan kepailitan oleh kreditor Satu atau lebih kreditor
kreditor

Dimungkinkan adanya upaya Tidak ada upaya


Upaya hukum lanjutan hukum atas putusan hukum atas putusan
kepailitan kepailitan