Anda di halaman 1dari 9

PENGAUDITAN 1

BUKTI AUDIT & KERTAS KERJA

OLEH KELOMPOK 6 :

1. Ni Wayan Remita Karisma Putri (1902622010010)


2. Rai Dedy Chandra Sivananda (1902622010016)
3. Ni Kadek Nia Apriantini (1902622010032)

FAKULTAS EKONOMI & BISNIS

PRODI AKUNTANSI

UNIVERSITAS MAHASARASWATI DENPASAR

2020/2021
A. HAKEKAT BUKTI AUDIT
Bukti Audit atau audit evidence adalah segala informasi yang digunakan auditor
untuk membuktikan apakah informasi yang diaudit sudah sesuai dengan kriteria tertentu.
Memperoleh sejumlah bukti audit yang berkualitas sangatlah penting untuk mencapai
tujuan audit. Auditor memerlukan bukti audit sebelum melakukan proses audit untuk
menghasilkan pelaporan audit yang kompeten. Bukti audit juga diartikan sebagai semua
informasi yang digunakan oleh auditor dalam pembuatan kesimpulan (opini) dibuat.
Bukti audit termasuk di dalamnya adalah catatan akuntansi yang menghasilkan laporan
keuangan, informasi lainnya yang berhubungan/terkait dengan catatan akuntansi dan
pendukung alasan logis dari auditor tentang laporan keuangan yang layak. Untuk itu,
auditor harus memperoleh bahan bukti audit yang cukup dan kompeten sebagai dasar
yang memadai untuk menyatakan pendapat. Adapun jenis- jenis adalah :
1. Pengujian fisik (physical examination)
Merupakan bukti yang diperoleh lewat pemeriksaan secara fisik atau lewat
perhitungan oleh auditor terhadap harta perusahaan. Misalnya, uang tunai, surat
berharga, barang persediaan.
2. Konfirmasi
Merupakan bukti yang didapatkan lewat penegasan dari pihak ketiga sebagai jawaban
atas permintaan informasi yang berkaitan dengan asersi manajemen dan tujuan audit.
Umumnya auditor lebih memilih konfirmasi tertulis karena mudah di-review oleh
supervisor audit dan memberikan dukungan keandalan.
3. Dokumentasi
Merupakan pemeriksaan atau penyelidikan oleh auditor atas dokumen dan catatan
klien guna mendukung informasi yang telah tersaji. Dokumentasi digunakan secara
luas sebagai bukti audit karena biayanya yang relatif rendah dan pada banyak
kesempatan menjadi satu-satunya bukti audit yang tersedia dan layak.
4. Prosedur Analitis
Dengan cara menggunakan perbandingan dan hubungan untuk menilai apakah saldo
akun atau data lainnya tampak wajar. Misalnya, auditor melakukan perbandingan
total beban gaji dengan jumlah tenaga kerja untuk menunjukkan apakah ada
pembayaran gaji yang tidak semestinya.
5. Wawancara dengan Klien
Merupakan upaya untuk memperoleh informasi secara lisan ataupun tertulis dari klien
yang menjadi bukti respon atas pertanyaan dari auditor.
6. Perhitungan Ulang
Merupakan pengujian atas keakuratan hasil perhitungan klien.
7. Observasi
Merupakan penggunaan alat indera untuk menilai aktivitas klien. Misalnya, auditor
melakukan kunjungan ke lokasi pabrik untuk mengamati proses produksi.
B. KEPUTUSAN AUDITOR TENTANG BUKTU AUDIT
Keputusan penting yang dihadapi setiap auditor adalah menentukan jenis dan
jumlah bukti yang tepat yang diperlukan untuk mendapatkan keyakinan bahwa
laporan keuangan klien telah ditetapkan secara wajar. Ada empat keputusan tentang
bukti apa yang harus diperoleh dan berapa banyak bukti harus dikumpulkan:
1. Prosedur audit yang harus digunakan
Prosedur audit adalah instruksi detail yang menjelaskan bukti audit
yang harus diperoleh selama audit berlangsung, yang biasanya dinyatakan
dengan instruksi yang cukup spesifik sehingga auditor dapat mengikuti
instruksi selama audit berlangsung. Misalnya: periksalah jurnal pengeluaran
kas dalam sistem akuntansi dan bandingkan dengan nama penerima, jumlah
rupiah dan tanggal dengan informasi online yang disediakan bank tentang check
yang diproses untuk akun kas yang bersangkutan.
2. Besar ukuran sampel yang harus dipilih untuk prosedur audit tersebut
Setelah prosedur audit ditetapkan, auditor harus menentukan ukuran
sampel yang ipilih dari populasi. Keputusan tentang berapa banyak unsur yang
akan diuji harus dibuat auditor untuk setiap prosedur audit yang akan
digunakan. Ukuran sampel yang dipilih bisa berbeda-beda antara audit yang satu
dengan audit yang lainnya, tergantung pada karakteristik klien seperti luas
pengendalian yang terotomasi dan tingkat assurance yang diperlukan dari prosedur.
3. Unsur-unsur apa yang harus dipilih dari populasi
Setelah menetapkan ukuran sampel, auditor harus memutuskan unsur-
unsur mana dalam populasi yang akan diuji. Misalnya setelah memilih 50
check dari 6000 check yang ada untuk diuji, lalu auditor perlu menentukan
metode yang akan digunakan untuk memilih check yang akan diuji secara spesifik
4. Kapan prosedur tersebut diterapkan
Lamanya audit atas laporan keuangan biasanya mencakup suatu periode seperti satu
tahun. Waktu pelaksanaan prosedur audit dapat bervariasi dari awal periode akuntansi
hingga berakhirnya periode akuntansi itu. Keputusan penetapan waktu audit,
sebagian, dipengaruhi oleh kapan klien menginginkan agar audit itu diselesaikan.
Dalam audit atas laporan keuangan, biasanya klien menginginkan agar audit
diselesaikan antara satu hingga tiga bulan setelah akhir tahun. Saat ini SEC
(Securities and Exchange Commission) mengharuskan semua perusahaan publik
untuk menyerahkan laporan keuangan yang telah diaudit kepada SEC dalam waktu 60
sampai 90 hari sesudah akhir tahun fiskal perusahaan, tergantung pada ukuran
perusahaan itu. Namun demikian, penetapan waktu juga dipengaruhi oleh kapan
auditor merasa yakin bukti audit akan paling efektif dan kapan staf audit tersedia.

C. KARAKTERISTIK BUKTI AUDIT


Standar audit (SA 500, Para 6) berbunyi sebagai berikut :“Auditor harus merancang
dan melaksanakan prosedur audit yang tepat sesuai dengan kondisi untuk memperoleh
bukti audit yang cukup dan tepat” Auditor diwajibkan untuk mengumpulkan bukti
yang cukup dan tepat sebagai dasar untuk mendukung opini yang diberikan.
Pertimbangan yang perlu dilakukan dalam pemeriksaan apakah bukti audit sudah
kompeten bisa didasarkan pada:
1. Ketepatan Bukti
Ketepatan bukti adalah ukuran kualitas bukti, yakni relevansi dan reliabilitasnya
dalam memenuhi tujuan audit atas golongan transaksi saldo- saldo akun
dan pengungkapan yang bersangkutan. Apabila bukti dipandang sangat tepat,
maka akan sangat membantu auditor dalam mendapatkan keyakinan bahwa laporan
keuangan disajikan secara wajar.
2. Relevansi Bukti
Bukti harus relevan dengan tujuan audit yang harus diuji terlebih dahulu oleh
auditor sebelum dapat dikatakan sebagai bukti yang tepat. Relavansi menjadi
masalah dalam kaitannya dengan tujuan audit. Karena terkadang ada bukti yang
relevan dengan suatu tujuan audit dan ada juga yang tidak relevan dengan tujuan
lainnya. Jika tujuan auditor adalah untuk menentukan keberadaan suatu persediaan,
auditor bisa mendapatkan buktinya dengan melakukan observasi langsung pada
persediaan tersebut.
3. Reliabilitas Bukti
Reliabilitas berkaitan dengan seberapa jauh bukti ini dapat dipercaya.
Sama seperti relevansi, apabila tingkat reliabiliasnya tinggi, maka bukti ini
akan sangat membantu auditor dalam meyakini bahwa laporan keuangan telah
di sajikan secara wajar. Reliabilitas tergantung pada apakah bukti telah memenuhi
karakteristik – karakteristik berikut :
a. Independensi pembuatan bukti
b. Efektivitas pengendalian internal klien
c. Pengetahuan langsung auditor
d. Kualifikasi individu pemberi informasi
e. Tingkat objektivitas
f. Ketepatan waktu
4. Kecukupan Bukti
Kecukupan ini berkaitan dengan kuantitas atau seberapa banyak bukti audit yang
harus diperoleh. Kuantitas bukti audit ini dipengaruhi oleh penilaian auditor
tentang risiko kesalahan penyajian material dan juga oleh kualitas bukti audit itu
sendiri. Ada dua factor yang menentukan ketepatan ukuran sampel dalam audit
yaitu ekspektasi auditor tentang kesalahan penyajian dan efektivitas pengendalian
internal dalam organisasi klien.

D. KERTAS KERJA
Berdasarkan penjelasan yang dikeluarkan oleh SA Seksi 339 terkait kertas kerja
pada paragraf ke 3 dikatakan bahwa kertas kerja audit adalah berbagai catatan yang
dilakukan oleh auditor terkait prosedur audit yang ditempuhnya, pengujian yang akan
dilakukan, informasi yang akan diperoleh, dan juga kesimpulan yang dibuat sehubungan
dengan audit. Berdasarkan SA Seksi 339 kertas kerja paragraf 05, kertas kerja harus
cukup memperlihatkan bahwa catatan akuntansi cocok dengan laporan keuangan atau
informasi lain yang dilaporkan serta standar auditing yang dapat diterapkan telah
dilaksanakan oleh auditor. Kertas kerja harus berisi dokumentasi yang memperlihatkan:
1. Kertas kerja audit memiliki dokumentasi yang menunjukkan informasi terkait sudah
dilakukannya standar pekerjaan lapangan pertama, yakni pemeriksaan yang sudah
direncanakan dan sudah dilakukan supervisi dengan baik.
2. Sudah dilakukannya standar pekerjaan lapangan yang kedua, yakni pemahaman yang
memadai terkait struktur pengendalian internal agar bisa merencanakan audit dan juga
menentukan sifat, saat, dan juga lingkup pengujian yang sudah dilakukan.
3. Kertas kerja audit juga berisi sudah dilakukannya standar pekerjaan lapangan yang
ketika, yakni bukti audit yang sudah diperoleh, prosedur audit sudah diterapkan, dan
pengujian pun sudah dilakukan yang nantinya mampu memberikan bukti yang cukup
kompeten sebagai suatu acuan untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan
yang sebelumnya sudah diaudit.
Ada beberapa tujuan pembuatan Kertas Kerja yaitu :
a. Mendukung pendapat auditor atas laporan keuangan yang diauditanya.
b. Menguatkan simpulan-simpulan auditor dan kompetensi auditnya.
c. Mengkoordinasi dan mengorganisasikan seluruh tahapan audit.
d. Memberikan pedoman dalam audit berikutnya.
Secara garis besar Kertas kerja dapat dikelompokan ke dalam 5 tipe kertas kerja yaitu:
1. Program audit
Merupakan daftar prosedur audit untuk seluruh audit unsur tertentu. Program audit
Berfungsi sebagai suatu alat yang bermanfaat untuk menetapkan jadwal pelaksanaan
dan pengawasan pekerjaan audit.
2. Working trial balance
Working trial balance ini adalah suatu daftar awalan yang harus dibuat oleh seorang
auditor untuk memindahkan seluruh saldo akun yang terdapat di dalam daftar saldo
(trial balance) klien nya. Pada kolom yang terakhir dalam working trial balance
tersebut seorang auditor menyajikan draft final laporan keuangan klien nya setelah
dilakukan audit oleh auditor.
3. Ringkasan Jurnal Adjustment (Penyesuaian)
Dalam proses auditnya, auditor mungkin menemukan kekeliruan dalam laporan
keuangan dan catatan akuntansi klien. Untuk membetulkan kekeliruan tersebut,
auditor membuat draf jurnal adjustment yang nantinya akan dibicarakan dengan
dengan klien.
4. Skedul utama
Skedul utama adalah kertas kerja yang dipakai untuk melakukan peringkasan
informasi yang dicatat di dalam skedul pendukung untuk berbagai akun yang
berkaitan. Skedul utama ini dipakai untuk menggabungkan berbagai akun yang ada di
buku besar yang sejenis, yang jumlah saldo nya akan disajikan di dalam laporan
keuangan dalam satu jumlah.
5. Skedul pendukung
Pada waktu auditor melakukan verifikasi terhadap unsur-unsur yang tercantum dalam
laporan keuangan klien, ia membuat berbagai macam kertas kerja pendukung yang
menguatkan informasi keuangan dan operasional yang yang dikumpulkannya.
6. Memorandum Audit dan Dokumentasi Informasi Penguat
Memorandum audit merupakan data tertulis yang disiapkan auditor dalam bentuk
naratif, misalnya komentar atas kinerja prosedur auditing dan kesimpulan yang
diperolehdari pelaksanaan audit. Dokumentasi informasi penguat meliputi
pendokumentasian pengajuan pertanyaan mengenai hasil rapat dewan komisaris,
respon konfirmasi dan representasi tertulis serta salinan berbagai kontrask penting.

E. PENDOKUMENTASIAN KERTAS KERJA


Menurut standar audit (SA) 230, dokumentasi audit atau kertas kerja audit adalah
dokumentasi atas prosedur audit yang telah dilakukan, bukti audit yang relevan diperoleh,
dan kesimpulan yang ditarik. Dokumentasi audit harus mencakup semua informasi yang
dipandang perlu oleh auditor untuk memenuhi pelaksanaan audit dan menjadi pendukung
atas laporan audit. Tujuan dokumentasi audit adalah untuk membantu auditor dalam
mendapatkan jaminan yang layak bahwa audit telah dilaksanakan secara memadai sesuai
dengan standar audit. Dokumen audit yang dibuat auditor selama audit berlangsung,
termasuk daftar yang dibuat klien untuk keperluan auditor, adalah milik auditor. Tidak
seorang pun berhak untuk melihat isi dokumen tersebut selain auditor beserta tim
auditnya. Auditor wajib menghasilkan file audit yang berisi data klien sesuai dengan
Prinsip Keberhasilan dalam Seksi 140 Kode Etik Profesi Akuntan Publik. Apabila
auditor membocorkan informasi kepada pihak luar, maka hal itu dapat mengganggu
hubungan baik dengan pihak manajemen.
Menurut standar audit (SA 230-ParaA.23), batas waktu penyimpanan tidak boleh
kurang dari 5 tahun sejak tanggal yang lebih akhir dari laporan auditor atas laporan
keuangan entitas atau laporan auditor atas laporan keuangan konsolidasian dan anak
perusahaan. Bentuk, isi, dan luas dokumentasi audit bergantung pada ukuran dan
kompleksitas entitas, sifat prosedur audit yang dilakukan serta signifikasi bukti audit
yang diperoleh. Setiap kantor akuntan publik dapat membuat ketentuan tentang
pendekatan untuk menyusun dan mengorganisasi file audit. Contoh dokumentasi audit
mencakup program audit, analisis, memorandum isi, dan lainnya.
1. Arsip Permanen
Arsip permanen berisi data historis dan data yang bersifat berkelanjutan. Arsip
permanen biasanya meliputi :
a. Ringkasan dokumen yang berlaku secara berkelanjutan seperti anggaran dasar,
anggaran rumah tangga, perjanjian obligasi, dan kontrak-kontrak
b. Analisis akun-akun tertentu dari tahun yang lalu yang berpengaruh terhadap
auditor
c. Informasi yang berhubungan dengan pemahaman tentang pengendalian internal
dan penilaian risiko pengendalian
d. Hasil prosedur analitis dari tahun-tahun yang lalu.
2. Arsip Tahun Berjalan
Arsip tahun berjalan meliputi semua dokumen yang bersangkutan dengan tahun
berjalan atau tahun yang diperiksa. Jenis informasi yang termasuk dalam arsip tahun
berjalan :
a. Program Audit
Program audit biasanya ditempatkan dalam file terpisah untuk meningkatkan
koordinasi dan mengintegrasikan semua bagian audit.
b. Informasi Umum
File audit biasanya memuat informasi dari tahun berjalan yang bersifat umum,
seperti rencana audit, ringkasan notulen rapat dewan komisaris, catatan hasil
diskusi dengan klien, komentar hasil rivew supervisor, dan kesimpulan umum.
c. Working Trial Balance
Setelah akhir tahun buku, auditor membuat daftar yang berisi saldo dari semua
akun yang ada di buku besar, daftar ini disebut working trial balance.
d. Jurnal Penyesuaian dan Jurnal Reklasifikasi
Hanya ayat-ayat jurnal penyesuaian dan jurnal reklasifikasi yang berpengaruh
signifikan terhadap penyajian secara wajar laporan keuangan yang harus dicatat.
e. Daftar Pendukung
Bagian terbesar dari dokumen audit adalah berupa daftar pendukung detail yang
dibuat oleh klien atau auditor sebagai pendukung atas angka-angka tertentu yang
tercantum dalam laporan keuangan. Tipe-tipe daftar pendukung adalah sebagai
berikut:
1. Analisis, untuk menunjukkan aktivitas dalam sebuah akun buku besar
sepanjang periode yang diaudit untuk menghubungkan saldo awal hingga
saldo akhir.
2. Daftar Saldo, berisi detail yang akhirnya menghasilkan saldo akhir dari
sebuah akun buku besar.
3. Rekonsiliasi Jumlah-jumlah Tertentu, untuk menghubungkan suatu jumlah
yang tercantum dalam catatan klien dengan sumber informasi lainnnya.
4. Uji Kewajaran, berisi informasi yang memungkinkan auditor mengevaluasi
apakah saldo dalam pembukuan klien mengandung kesalahan penyajian.
5. Ringkasan Pelaksanaan Prosedur, untuk mendokumentasikan luasnya
pengujian yang telah dilakukan, kesalahan penyajian yang ditemukan, dan
kesimpulan auditor berdasarkan pengujian yang telag dilakukan.
6. Pemeriksaan Dokumen Pendukung, berbagai daftar dengan tujuan khusus
dirancang untuk menunjukkan pengujian detil yang telah dilakkan. Daftar
tersebut menunjukkan pengujian yang dilakukan dan hasil yang diperoleh.
7. Dokumen-dokumen dari Luar, dalam dokumen ini ditunjukkan prosedur audit
yang telah diterapkan seperti halnya yang diterapkan dalam daftar-daftar yang
lain.
F. PENYUSUNAN DOKUMEN AUDIT
Pendokumentasian harus disusun dengan cukup detil agar mendapat pemahaman yang
jelas tentang pekerjaan yang telah dilakukan, bukti yang diperoleh beserta sumbernya,
dan kesimpulan yang dicapai. Meskipun rancangan tergantung pada tujuan yang ingin
dicapai, namun dokumentasi audit hendaknya memiliki karakteristik seperti:
a. Setiap file audit harus memiliki indentifikasi yang jelas.
b. Dokumen audit harus diberi index dan referensi-silang untuk memudahkan dalam
pengorganisasian dan pengarsipan.
c. Dokumen audit yang sudah rampung harus secara jelas menunjukkan pekerjaan audit
yang telah dilakukan
d. Dokumen audit harus berisi cukup informasi untuk memenuhi tujuan sesuai dengan
rencana
e. Kesimpulan yang dicapai tentang suatu segmen audit harus diformulasikan dengan
jelas.
DAFTAR PUSTAKA

https://kamus.tokopedia.com/b/bukti-audit/

https://mastahbisnis.com/kertas-kerja-audit/

https://accurate.id/akuntansi/kertas-kerja-audit/

https://www.scribd.com/document/390901143/Pendokumentasian-Audit

https://www.penainfo.com/2020/03/bukti-audit-dan-kertas-kerja-audit.html

http://spi.upi.edu/2019/05/30/bukti-audit/

Anda mungkin juga menyukai