Anda di halaman 1dari 4

FISIOLOGI SISTEM RESPIRASI HEWAN Nurlaila (3425083267), Risma Dwi Untari (3425083265), Mutiara Syafitri (3425083268), Ratna Putri

Ginting (3425083263) . 1 1 Mahasiswa Biologi 2008 Universitas Negeri Jakarta ABSTRAK Praktikum kali ini bertujuan untuk memahami mekanisme kerja organ respiratori pada hewan, memahami proses terjadinya oksidasi jaringan serta mengetahui tingkat permeabilitas paru-paru amfibi terhadap gas. Pelaksanaan praktikum kali ini pada tanggal1 April 2011 di laboratorium fisiologi kampus B, UNJ. Peralatan yang digunakan dalam praktikum ini adalah pisau, bedah, papan, gunting bedah, gelas kimia, pinset, serta alat tulis. Bahan-bahan yang digunakan adalah katak, ikan mas, ikan lele, mencit, ayam, larutan CaCO3, NaCl, dan metylen blue. Dari hasil percobaan didapat bahwa katak hanya memiliki organ pernafasan primer berupa paru-paru dan tidak memiliki organ pernafasan sekunder (pundi-pundi udara) begitupun dengan ayam, kadal, dan mencit. Sedangkan ikan mas dan lele memiliki organ respirasi primer (insang) dan sekunder (labirin). Oksidasi jaringan terjadi karena adanya ikatan antara oksigen dengan hemoglobin yang disebut oksihemoglobin (HbO2 ) yang akan memberi warna merah pada jaringan Pada percobaan permeabilitas paru-paru, terlihat bahwa paru-paru mengembang akibat masuknya gas CO2 dari larutan air kapur secara difusi. Kata Kunci : organ respirasi, oksidasi jaringan, permeabilitas paru-paru

A.

Pendahuluan

Respirasi (bernapas) adalah proses pengambilan O2 dan pengeluaran CO2. Setiap hewan memiliki sistem respirasi dan proses fisiologi respirasi yang berbeda. Secara ekologis, perbedaan tersebut disebabkan oleh faktor luar, terutama konsentrasi O2 yang ada di habitat dan juga berhubungan dengan tingkat kerumitan anatomi tubuh hewan tersebut, yaitu Hewan-hewan air mengambil O2 dari gas yang terlarut dalam air yang berkonsentrasi rendah, hewan dapat mengambil O2 melalui permukaan tubuh, tetapi hewan besar memerlukan alat khusus untuk menghisap oksigen (Schmidt-Nielsen, 1989). Zat makanan yang diserap oleh jonjot usus kemudian oleh darah dan getah bening diangkut ke organ-organ tubuh yang membutuhkan. Zat makanan merupakan senyawa yang mengandung energi. Energi tersebut dapat dimanfaatkan oleh tubuh maka harus dipecah terlebih dahulu, dimana memecahnya diperlukan oksigen yang diperoleh melalui pernafasan. Pernafasan atau respirasi mempunyai beberapa arti yaitu :

(e.g: katak) menggunakan kulit (permukaan tubuhnya) sebagai organ respirasi sekunder adalah untuk menjaga permukaan tubuhnya tetap lembab. Tugas ini biasanya dilakukan oleh sel-sel sekretori pada kulitnya. Pada beberapa jenis katak, pernafasan kulit dibantu oleh pemompaan udara yang keluar-masuk mulut; pertukaran gas terjadi lewat membran rongga mulut yang banyak mengandung pembuluh darah. Organ respirasi katak: paru-paru (trachea, bronchus, bronchioli) dan kulit (banyak kapiler darah). Tujuan praktikum kali ini adalah untuk menetahui organ respiratori Amphibia, mengetahui adanya oksidasi jaringan pada tubuh Amphibia dan mengetahui permeabilitas paru-paru Amphibia.

B.

Metodologi

Waktu dan tempat Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 1 April 2011 di Laboratorium Fisiologi, Kampus B, UNJ Cara Kerja Pengamatan Organ Respiratori Hewan Pada praktikum kali ini digunakan beberapa hewan seperti ikan lele, ikan gurame, katak, mencit, kadal, dan ayam. Sedangkan alat yang digunakan adalah papan bedah dan alat bedah. Langkah pertama yang dilakukan pada praktikum kali ini adalah membedah semua hewan percobaan dengan hati-hati. Langkah selanjutnya adalah mengamati organ pernapasan primer dan sekunder pada setiap hewan percobaan. Lalu praktikan mencatat dan membandingkan organ pernapasan pada satu hewan dengan hewan yang lain. Uji Oksidasi Jaringan Uji ini menggunakan seekor katak, methylen blue 0,5 mL, NaCl 0.7%, alat suntik, alat bedah dan papan bedah. Cara kerja: mencampurkan methylen blue dan NaCl 0.7% dengan perbandingan 1:1000. Lalu menginjeksikan 0,5 mL methylen blue ke dalam Saccus lymphaticus dorsalis katak dan kulit bagian subkutan katak. Lalu mematikan katak dengan cara yang sama pada pengamatan organ respiratori setelah 30 menit dan segera memeriksa warna dari saraf, darah, otot, jantung, ginjal, hati, dan pankreas. Lalu mencatat hasil pengamatan setelah 5 menit post mortal dari pembedahan, mengamati lagi keadaan saraf, darah, otot, jantung, ginjal, hati, dan pankreas setelah 30 menit post mortal. Lalu mencatat hasil pengamatan.

proses pengambilan O2, pengeluaran CO2 dan penggunaan energi yang dihasilkan oleh tubuh pertukaran gas antara sel dengan lingkungannya reaksi enzimatis, sebab dalam proses tersebut ada satu enzim yang memegang peranan penting yaitu sitokrom (enzim pernafasan) Pernafasan berlangsung melalui 2 tahap, yaitu pernafasan eksternal (luar) adalah difusi gas luar masuk ke dalam aliran darah (pertukaran O2 dari darah) dan pernafasan internal (dalam) adalah difusi gas atau pertukaran gas dari darah ke sel tubuh. Oksigen yang masuk ke dalam tubuh hanya sedikit yang dapat disimpan dalam tubuh, yaitu berupa oksimioglobin (dalam otot) dan sebagai okihemoglobin (dalam darah). Bernafas merupakan salah satu ciri makhluk hidup. Pada beberapa hewan memiliki alat pernapasan yang berbeda. Ada yang memiliki organ pernapasn primer dan sekunder, namun adapula yang hanya memiliki organ pernapasan primer saja. Organ/alat respirasi pada hewan besar, contohnya katak adalah paru-paru (trakhea, bronchus,bronkheoli) dan kulit (banyak kapiler darah). Beberapa hewan memperoleh O2 secara difusi melalui permukaan tubuhnya, biasanya belum memiliki ogan respiratori khusus, sistem sirkulasi darah dan umumnya hewan-hewan tersebut memiliki laju metabolik yang rendah. Oleh karena itu, kebutuhan O2 cukup dipenuhi dengan proses difusi. Hewan ini berciri khas memiliki kulit yang tipis dan banyak mengandung pembuluh darah sehingga memungkinkan O2 berdifusi melalui kulit ke dalam pembuluh darahnya. Mekanisme ini merupakan mekanisme tambahan dalam memperoleh O2 melalui alat respiratori khususnya. Tujuan hewan darat

Uji Permeabilitas Paru-paru Katak Mencit Alat dan bahan yang digunakan dalam pengujian ini adalah paru-paru katak, larutan CaCO3 , larutan NaCl, benang putih yang tipis, pemberat, gunting dan gelas kimia. Hal pertama yang dilakukan adalah membedah katak, kemudian mengikat bagian bronkus dengan benang dan mengempiskan paru-paru secara perlahan-lahan. Sebelum mengempiskan, tangan harus dibasahi dengan larutan NaCl. Setelah itu, lakukan pemotongan di bagian trakea, sampai paru-paru terlepas dari tubuh katak. Berikutnya, melilitkan benang dengan pemberat dan memasukkan paru-paru katak yang tergelantung di bawah pemberat tersebut ke dalam larutan CaCO3 yang telah disiapkan di dalam gelas kimia. Langkah terakhir adalah mengamati kekeruhan dan endapan dari larutan CaCO3 serta warna dan bentuk dari paru-paru, sebelum dan sesudah paru-paru tersebut direndam di dalam larutan CaCO3., kemudian dilakukan perbandingan dan menganalisa perubahan yang terjadi.

sedang Paru-paru: berbentuk lonjong putih, p: 12 cm, l: 0,5 cm, berwarna merah muda pucat

Tabel 2. Hasil uji oksidasi jaringan Jaringan post mortal 5' Saraf Darah Otot Jantung Putih pucat Merah Biru Ungu Biru + Hitam kecoklatan Kuning pucat

post mortal 30' Lebih pucat Merah lbh pucat biru lbh pucat Ungu pucat Biru ++ Hitam Kuning kecoklatan

C.

Hasil

Ginjal Hati Pankreas

Tabel 1. Hasil pengamatan organ respiratori hewan Organ Pernapasan Primer Insang: berwarna merah dan berbentuk lembaran2 tipis, tiap lembaran terdiri dari sepasang filamen dan tiap filamen tersusun atas lamela, insang ditutup oleh operkulum Insang: memiliki 4 lembaran dan berwarna merah tua Organ Pernapasan Sekunder Labirin: berwarna merah dan berbentuk seperti lembaran kipas Ket
Tipe gelembun g renang fisotomus

Ikan Mas

Tabel 3. Hasil uji permeabilitas paru-paru Amphibia

Paru-paru Indikator Warna Bentuk

Larutan CaCO3 Kekeruhan Endapan

Ikan Lele

Labirin: berbentuk seperti bunga karang, berwarna merah dengan tonjolan putih

Sebelum

Merah muda

Kantung yang mengemp is Kantung yang menggem bung

Putih keruh

Tidak ada endapan

Sesudah

Katak

Kulit: warna putih berbercak hitam dan terdapat mukus, tipis dan halus Paru-paru: berjumlah sepasang, berbentuk lonjong, berbentuk seperti kantung, tipis dan permeable, p: 2 cm l: 1,5 cm, dan berwarna merah muda. Paru-paru: berjumlah sepasang (2 lobus) dan berwarna merah muda Paru-paru: berwarna merah muda, berukuran

Merah muda pucat

Lebih jernih

Ada endapan warna putih

D.

Pembahasan

Organ Respiratori Hewan Pada praktikum pengamatan alat pernapasan ini digunakan beberapa hewan yaitu ikan mas, ikan lele, katak, ayam, kadal, dan mencit. Ikan memiliki alat pernafasan berupa insang (branchia). Tiap lembaran insang terdiri dari sepasang filamen yang banyak mengandung lamela (lapisan tipis). Pada filamen terdapat pembuluh darah yang mengandung kapiler sehingga memungkinkan terjadinya pertukaran gas O2 dan CO2. Proses inspirasi pada ikan berlangsung pada saat O2 dari air masuk ke dalam insang yang kemudian diikat oleh kapiler darah untuk dibawa ke jaringan tubuh. Sedangkan proses ekspirasi pada ikan berlangsung saat CO2 dari jaringan bersama darah menuju ke insang dan selanjutnya dikeluarkan dari tubuh. Ikan mas memiliki organ pernapasan primer berupa insang. Sama hal nya dengan ikan lele. Pada ikan lele insang berwarna lebih merah atau lebih pekat daripada insang ikan mas. Hal tersebut diakibatkan karena ikan lele hidup di tempat yang miskin O2 sehingga pembbuluh darah harus lebih massive agar pengambilan

Ayam

Kadal

O2 lebih banyak. Hal ini yang menyebabkan ikan lele memiliki insang yang lebih pekat. Ikan yang hidup di tempat berlumpur mempunyai labirin yang merupakan perluasan insang berbentuk lipatan berongga tidak teratur. Labirin merupakan organ pernapasan sekunder pada ikan mas dan ikan lele. Labirin berfungsi untuk menyimpan cadangan O2 sehingga ikan tahan pada kondisi kekuranganO2. Misalnya pada ikan lele dan ikan mas Katak memiliki alat pernafasan berupa selaput rongga mulut, kulit dan paru-paru. Alat pernafasan ini mempunyai lapisan tipis dan basah yang berdekatan dengan pembuluh darah sehingga oksigen dapat berdifusi. Melalui selaput rongga mulut, pernapasan terjadi bila faring rongga mulut bergerak, lubang hidung terbuka dan glotis tertutup sehingga udara masuk rongga mulut melalui selaput rongga mulut yang tipis. Sedangkan dengan kulit pada saat O2 masuk kulit melewati vena kulit (vena kutanea) kemudian ke jantun dan selanjutnya diedarkan ke seluruh tubuh. CO2 dari jaringan dibawa ke jantung dan selanjutnya ke kulit dan paru-paru melalui arteri kulit paruparu (arteri pulmo kutenea). Katak memiliki sepasang paru-paru.

Setelah direndam sebentar dalam larutan CaCO 3, paru-paru katak yang telah dikempiskan menggembung kembali dan air kapur yang sebelumnya putih keruh menjadi lebih jernih dan terdapat sedikit endapan kapur. Hal ini dapat dituliskan dalam reaksi: CaCO3 + H2O Ca (OH)2 + CO2 Reaksi tersebut membuktikan bahwa kapur yang dilarutkan dalam air akan menghasilkan CO2 dan endapan ion Ca. Hal ini menandakan bahwa setelah paru-paru dimasukkan ke dalam air kapur, terjadi proses difusi CO2 melalui membran alveoli ke dalam paru-paru. Tekanan CO2 pada larutan CaCO3 (air kapur) lebih besar dibandingkan dengan tekanan CO2 di dalam alveoli, sehingga CO2 berdifusi dari dalam larutan CaCO3 ke dalam alveoli sesuai dengan selisih tekanan sehingga paru-paru terlihat menggembung karena terisi oleh CO2 yang terdapat dalam larutan CaCO3. Sebelum paru-paru katak direndam ke dalam larutan CaCO3 , paru-paru katak berwarna merah muda, tetapi setelah direndam di dalam larutan CaCO3, lama-kelamaan warna paru-paru katak berubah menjadi lebih pucat. Hal ini disebabkan karena telah terjadi akumulasi CO2 yang terlalu banyak dan kekurangan oksigen di dalam jaringan paru-paru. Percobaan ini membuktian permeabelitas membran paru-paru. Dua sifat partikel yang mempengaruhi apakah suatu partikel dapat menembus membran yaitu kelarutan relatif partikel dalam lemak dan ukuran partikel. Oksigen dan karbondioksida merupakan molekul yang tidak bermuatan atau nonpolar yang sangat mudah larut dalam lemak dan cepat menembus membran (Sherwood, 2001). Pada paru-paru akan terjadi pertukaran gas. Gas O2 akan menembus membran alveoli-kapiler dan akan diikat oleh hemoglobin pada eritrosit. Lalu oksigen akan diangkut ke jantung, kemudian dipompa di dalam arteri ke semua bagian tubuh. Sedangkan di dalam paru-paru, gas CO2 adalah salah satu hasil buangan metabolisme, yang akan menembus membran alveoli-kapiler dari kapiler darah ke alveoli. Setelah melalui pipa bronkhial dan trakhea, karbondioksida dikeluarkan melalui hidung dan mulut.

Uji Oksidasi Jaringan Dilakukan penyuntikan larutan garam fisiologis pada bagian saccus lymphaticus dorsalis yaitu antara kulit dengan otot-otot dinding badan membentuk kantong lymphe yang terletak di tungkai atas katak. Larutan garam fisiologis yang digunakan dapat bergerak bebas dalam ruang intertisial sehingga efektif untuk meningkatkan volume intervaskuler dalam waktu singkat sehingga metilen biru yang tercampur dapat masuk kedalam jaringan katak. Metilen biru yang telah masuk ke berbagai jaringan dan organ akan berwarna biru sedangkan Hemoglobin akan berwarna merah. Namun, Hemoglobin dapat berikatan dengan selain O2 jika ada molekul atau zat yang afinitasnya lebih kuat dibandingkan oksigen karena senyawa atau unsur yang memiliki electron dengan afinitas yang tinggi akan memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk menerima electron dibandingkan dengan afinitas yang lebih rendah (Gupta, 2011). Metilen biru yang memiliki afinitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan O2, membuat jaringan banyak kehilangan O2 karena Hb tidak dapat berikatan dengan O2 dan membentuk Hbmet (methemoglobin), sehingga terjadi hipoksia (kekurangan oksigen). Namun pada saat terjadi oksidasi, respirasi yang membutuhkan oksigen akan membuat metilen biru menghilang. Darah arteri yang teroksigenasi sempurna tampak merah, dan darah vena yang telah kehilangan sebagian oksigennya di jaringan memperlihatkan rona kebiruan (Sherwood, 2001). Oleh sebab itu, jaringan dan organ yang mengalami kematian, terlihat pada saat 30 menit setelah post mortal, jaringan dan organ menjadi berwarna biru karena tidak diproduksinya CO2. Hal ini hanya terlihat pada organ hati, ginjal, dan pankreas. Uji Permeabilitas Paru-paru Katak Pada saat pembedahan, paru-paru katak berbentuk seperti kantung yang menggembung dan berwarna merah muda. Hal ini menandakan adanya kandungan oksigen di dalam pembuluh kapiler yang menuju paru-paru. Setelah diikat pada bagian percabangan bronkus, paru-paru sengaja dikempiskan dan kemudian dipotong bagian trakeanya, lalu direndam dalam larutan CaCO3 (air kapur). Sebelum mengempiskan paru-paru, tangan harus dibasahi dengan larutan NaCl agar paru-paru tidak robek dan permeabilitasnya tetap terjaga. Hal ini dikarenakan, larutan NaCl merupakan garam fisiologis yang berperan dalam mencegah masuknya cairan tubuh kita ke dalam jaringan paru-paru, yang akan membuat paru-paru menjadi robek.

E.

Kesimpulan

Katak, ayam, kadal, mencit hanya memiliki organ respirasi primer sedangkan ikan mas dan lele memiliki organ respirasi primer serta sekunder yang berupa labirin. Oksidasi jaringan terjadi karena adanya ikatan antara oksigen dengan hemoglobin yang disebut oksihemoglobin (HbO2 ) yang akan memberi warna merah pada jaringan. Perbedaan tekanan parsial gas menyebabkan terjadinya difusi karbondioksida ke dalam paru-paru. Sifat elastik paru bergantung pada jaringan ikat elastik di dalam paru dan pada interaksi tegangan permukaan alveolus/surfaktan paru.

F.

Pertanyaan

1.

Mengapa keluar masuknya O 2 dan CO2 dari organ respirasi ke jaringan dan sebaliknya berlangsung secara difusi? Karena adanya perbedaan tekanan. Tekanan CO2 dalam jaringan lebih besar dalam darah sehingga CO2 berdifusi dalam arah yang berlawanan sedangkan tekanan O2 dalam darah lebih besar daripada dalam jaringan sehingga O2 lebih mudah masuk ke dalam jaringan. Hal ini menimbulkan gradient konsentrasi O2 dan CO2 yang lebih besar

antara sel dan darah, sehingga lebih banyak O2 yang berdifusi ke luar dari darah untuk masuk ke dalam sel dan lebih banyak CO2 yang yang mengalir dalam arah sebaliknya

2.

Buatlah kurva disosiasi HbO2 !

yang bergerak ubiqinon dan sitorom c, bergerak cepat di sepanjang membrane, yang mengangkut electron di antara ketiga kompleks besar tersebut. Begitu setiap kompleks menerima dan dan kemudian melepaskan electron, kompleks tersebut memompa ion hydrogen (proton) dari matriks mitokondria ke dalam ruang antar membrane. Dengan demikian, energy kimiawi yang dipanen dari makanan ditransformasi menjadi gaya gerak proton, suatu gradient H+ melintasi membrane. Ion hydrogen menyelesaiakan rangkaiannya dengan mengalir menuruni gradiennya melalui saluran H+ dalam ATPsintase, kompleks protein yang ada di dalam membrane. ATPsintase ini menangkap gaya gerak proton untuk memfosforilasi ADP, dan membentuk ATP. Kompleks ATPsintase terdiri atas 3 bagian utama yaitu: silinder di dalam membrane dalam mitokondria, tombol yang menonjol ke matriks mitokondria dan batang internal yang menghubungkan keduanya. Apabila ion hydrogen mengalir melalui gradiennya, ion ini menyebabkan silinder dan batang yang terkait berputar, seperti aliran air yang mendesak dan memutar kincir air. Batang yang berputar ini menyebabkan perubahan konformasi pada tombol yang mengaktifkan tempattempat katalitik dimana ADP dan anorganik bergabung menjadi ATP

4.

Sebutkan membrane respirasi pada bagian apa pertukaran O2 dan CO2 berlangsung pada ikan, katak, reptilian, burung dan mamalia!

a. Ikan: insang, labirin b. Katak: kulit, paru-paru c. Reptil: paru-paru (trachea, bronchus, selat
Gambar Kurva disosiasi HbO2 Faktor yang menyebabkan pergeseran ke arah kanan kurva disosiasi HbO2 Jika konsentrasi karbon dioksida ditingkatkan maka karbondioksida diubah menjadi asam karbonat dan pH darah menurun. Penurunan pH darah menyebabkan semakin sulit memenuhi hemoglobin dengan oksigen dan membuat oksigen lebih mudah keluar ke jaringan. Pengaruh pH pada afinitas oksigen-hemoglobin disebut efek Bohr. Peningkatan pengeluaran oksigen oleh hemoglobin berguna sewaktu olahraga, stress atau meningkatnya keasaman darah. Peningkatan suhu, menyebabkan bertambahnya kesulitan untuk memenuhi hemoglobin dengan oksigen. Hemoglobin juga lebih mudah memberikan oksigen pada suhu yang tinggi. Pada suhu tubuh tinggi, laju metabolisme meningkat dan kebutuhan oksigen di tingkat jaringan lebih besar. Peningkatan kadar DPG. Peningkatan produk metabolisme anaerob menurunkan afinitas hemoglobin untuk oksigen dan meningkatkan pengeluaran oksigen ke jaringan. DPG dihasilkan metabolisme anaerob (glikolisis) dan memiliki efek langsung pada hemoglobin. Kadar DPG meningkat pada kondisi anaerob dan oksigen dengan mudah diserahkan oleh hemoglobin. Hal ini membuat lebih banyak oksigen di tingkat jaringan untuk metabolisme oksidatif.

d. Burung: kantong udara (pundi-pundi hawa),


paru-paru

kompleks)

e. Mamalia: paru-paru
DAFTAR PUSTAKA Gupta, S.K. 2011. Modern Hydrology and Sustainable Water Development. New Delhi: Wiley-Blackwell. Smith, d.h. 1939. The central and reflex control of respiration in the frog. J.Physiol, vol 95, page 305327. Schmidt, Knut, Nielsen. 1989. Animal Physiology, Adaptation and Environment. Third Edition. London: Cambridge University Press Sherwood, Lauralle. 2001. Fisiologi Manusia, dari Sel Ke Sistem. Terj. Brahm U. Pendit. Jakarta: EGC Soewolo. 2000. Pengantar Fisiologi Hewan. Jakarta: Depdiknas

3.
sel!

Jelaskan secara singkat sintesis ATP di dalam

NADH menggerakkan secara bolak-balik elektron berenergi tinggi yang diekstarsi dari makanan selama gikolisis dan dan siklus Krebs ke rantai transport electron, yang ada di dalam membranedalam mitokondria. Sebagian besar sitokrom dan pembawa electron lain dari rantai tersebut dikumpulkan dalm tiga kompleks. Dua pembawa