Anda di halaman 1dari 5

178

UPAYA PENINGKATAN KINERJA PEMERIKSAAN BPK RI MENGGUNAKAN COMPUTER ASSISTED AUDIT TECHNIQUES
Agung Dwi Hartoyo Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Perwakilan Provinsi Banten agungdh@gmail.com

Abstrak
Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) mempunyai tugas melakukan pemeriksaan keuangan negara. Tugas utama BPK RI adalah melakukan pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara termasuk keuangan daerah. Agar dapat melaksanakan tugas pemeriksaan dengan efektif diperlukan perangkat yang membantu auditor dalam melakukan pemeriksaan. Nota kesepahaman yang dilakukan antara BPK RI dengan sejumlah Kementerian Negara/Lembaga tentang Pengembangan dan Pengelolaan Sistem Informasi untuk Akses Data dalam rangka pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara menunjukkan komitmen BPK RI dalam memanfaatkan teknologi informasi sebagai enabler dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya. Nota kesepahaman ini menjadi pijakan bagi BPK RI dalam menggunakan computer assisted audit techniques (CAATs) sebagai tools dalam melaksanakan tugas pemeriksaan. Penelitian yang dilakukan Diane Janvrin, D. Jordan Lowe, dan James Bierstaker (2008) terkait CAATs dilakukan untuk mengetahui penerimaan auditor terhadap CAATs yang diperoleh dari 181 auditor perusahaan The Big 4, nasional, regional, dan lokal di Amerika Serikat menggunakan unified theory of acceptance and use of technology (UTAUT). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa variabel performance expectancy dan facilitating condition memberikan pengaruh bagi auditor dalam menggunakan CAATs. Penerapan CAATs ini diharapkan dapat membantu BPK RI dalam melaksanakan tugas pemeriksaan secara lebih efektif dan efisien. Kata Kunci: BPK RI, CAATs, pemeriksaan

1. Pendahuluan
Dalam mewujudkan pengelolaan keuangan negara seperti yang diamanatkan dalam ketentuan yang ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan Undangundang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara diperlukan pemeriksaan atas pengelolaan keuangan tersebut oleh suatu badan pemeriksa keuangan yang bebas dan mandiri. Hal ini sesuai dengan amanat Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 23E yang menyebutkan bahwa untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab tentang keuangan negara diadakan suatu Badan Pemeriksa Keuangan yang bebas dan mandiri. Tuntutan reformasi juga menginginkan adanya penyelenggaraan negara dalam hal ini pengelolaan keuangan negara yang bersih, bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme menuju terselenggaranya good corporate governance. Reformasi birokrasi secara tersirat telah mewajibkan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) untuk dapat melakukan pemeriksaan keuangan negara dalam rangka mewujudkan pengelolaan keuangan negara yang bersih dengan cara yang lebih efektif dan efisien. Kemajuan pesat di bidang teknologi menyebabkan teknologi memberikan peranan yang
e-Indonesia Initiative 2011 (eII2011) Konferensi Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Indonesia 14-15 Juni 2011, Bandung

sangat penting dalam suatu organisasi. Pada kondisi sekarang, peningkatan efektivitas kinerja dalam memberikan keunggulan kompetitif menyebabkan peranan TI bukan hanya sebagai supporting tetapi juga sebagai fungsi-fungsi yang lebih komprehensif. Penggunaan teknologi informasi memang telah memberikan banyak manfaat bagi organisasi. Demikian pula dengan reformasi birokrasi. Apabila reformasi birokrasi dapat didukung secara penuh dengan teknologi informasi, birokrasi menjadi lebih maju dan efisien dengan tetap mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik dan transparan serta menghindari unsur korupsi, kolusi, dan nepotisme. Berkaitan dengan hal tersebut, BPK RI perlu memanfaatkan teknologi informasi dalam mendorong produktivitas kinerja secara lebih efektif dan efisien. Teknologi informasi yang digunakan BPK RI diharapkan tidak hanya digunakan sebagai supporting tetapi juga wajib digunakan sebagai enabler dalam mendukung kinerja pemeriksaan BPK RI. Dengan demikian, BPK RI dapat mengubah paradigma, kewenangan, dan tanggung jawabnya secara terarah dan terukur dengan kemajuan teknologi.

2. Pembahasan
Dalam melakukan pemeriksaan, baik pemeriksaan keuangan, pemeriksaan kinerja, maupun

179

pemeriksaaan dengan tujuan tertentu, penggunaan komputer dan teknik-teknik yang ada memberikan peran penting dalam membantu auditor BPK RI dalam mengolah data yang berasal dari entitas yang diperiksa. Perkembangan teknologi informasi menuntut BPK RI untuk dapat melaksanakan pemeriksaan secara lebih baik dan berkualitas dengan memanfaatkan teknologi dalam melakukan pemeriksaan.

2.1. Computer Assisted Audit Techniques (CAATs)


Arens et. al. mendefinisikan auditing ditinjau dari sudut pandang proses dan pelaksana dari audit itu sendiri. Menurut Aren et. al., auditing didefinisikan sebagai pengumpulan dan evaluasi bukti-bukti atas informasi untuk menentukan dan melaporkan tingkat kesesuaian informasi dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan dan dilaksanakan oleh orang yang kompeten dan independen (Arens, 2010). Secara sederhana, audit merupakan proses untuk menentukan kesesuaian antara informasi, seperti laporan keuangan, dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya, seperti Standar Akuntansi Pemerintahan. Proses audit menetapkan apakah laporan keuangan tersebut telah sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Perkembangan yang terjadi di bidang auditing salah satunya ialah pemakaian teknologi informasi dalam melakukan proses audit. Pemakaian teknologi dalam proses audit ini dikenal dengan computer assisted audit techniques (CAATs) atau teknik audit berbantuan computer (TABK). Penerapan teknologi baru pada suatu organisasi akan berpengaruh terhadap keseluruhan organisasi. Apabila audit dilaksanakan di lingkungan sistem informasi komputer, tujuan dilakukannya audit mungkin tidak berubah. Namun demikian, audit dalam lingkungan sistem informasi memungkinkan auditor untuk menggunakan teknik-teknik audit dengan bantuan komputer sebagai alat bantu dalam melakukan audit. Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) dalam Pernyataan Standar Auditing (PSA) nomor 59 tentang Teknik Audit Berbantuan Komputer menyebutkan bahwa Teknik Audit Berbantuan Komputer (TABK) atau CAATs merupakan beberapa macam penggunaan komputer dalam audit (IAI, 2001). Dalam A Guide to Computer Assisted Audit Techniques yang dikeluarkan oleh Department of Revenue Massachusetts, CAATs merupakan pembaharuan dari fungsi audit yang dilakukan sebelumnya. Apabila fungsi audit sebelumnya dilakukan secara manual, sekarang dapat dilakukan menggunakan software akuntansi keuangan dengan melakukan modifikasi yang diperlukan untuk sistem tertentu. Setelah dilakukan verifikasi menggunakan teknik komputer, data disimpan sehingga dapat
e-Indonesia Initiative 2011 (eII2011) Konferensi Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Indonesia 14-15 Juni 2011, Bandung

digunakan di tempat lain untuk dapat diolah lebih lanjut (Department of Revenue-Massachusetts, 2006). Pemakaian teknologi informasi dalam pelaksanaan proses audit tentunya memerlukan auditor yang memiliki keahlian di bidang sistem informasi komputer. Oleh karena itu, auditor harus memiliki pengetahuan dan keahlian yang memadai dalam melakukan pemeriksaan menggunakan CAATs mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan pelaporan hasil pemeriksaan. Tingkat pengetahuan yang harus dimiliki oleh seorang auditor tergantung pada luas dan sifat CAATs serta sistem informasi yang digunakan oleh entitas yang diperiksa tersebut. Berkaitan dengan hal tersebut, auditor harus mempunyai kesadaran bahwa dalam situasi tertentu auditor harus memiliki pengetahuan yang lebih di bidang komputer terkait penggunaan CAATs. Kondisi yang menyebabkan auditor perlu mempertimbangkan penggunaan CAAT seperti disebutkan dalam SPAP pada PSA nomor 59 antara lain adalah: 1) tidak adanya dokumen masukan atau tidak adanya jejak audit (audit trail) dalam sistem informasi komputer yang digunakan dan 2) diperlukan peningkatan efektivitas dan efisiensi prosedur dalam melakukan pemeriksaan (IAI, 2001). Perencanaan dan pengembangan suatu CAATs dapat memberikan manfaat bagi auditor pada pemeriksaan berikutnya. Keterbatasan waktu dalam melakukan pemeriksaan mengharuskan auditor untuk mempertimbangkan penggunaan CAATs. Hal ini dikarenakan, penggunaan CAATs dalam melakukan pemeriksaan dapat memenuhi persyaratan waktu yang lebih baik dibandingkan prosedur lain. Penggunaan CAATs tersebut harus dikendalikan auditor untuk memberikan keyakinan yang memadai bahwa tujuan audit dan spesifikasi rinci dalam CAATs telah terpenuhi. Selain itu, pengendalian auditor dalam penggunaan CAATs juga dilakukan untuk meyakinkan bahwa bukti-bukti audit yang ada dalam sistem informasi entitas yang diperiksa tidak terdapat manipulasi data. Pengendalian dalam penggunaan CAATs memungkinkan diperlukannya prosedur khusus untuk menjamin validitas data.

2.2. Penerapan e-Audit di BPK RI sebagai Penerapan CAATs


Sampai dengan saat ini, BPK RI telah melakukan nota kesepahaman dengan sejumlah Kementerian Negara/Lembaga tentang pengembangan dan pengelolaan sistem informasi untuk akses data dalam rangka pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. Hal ini merupakan langkah strategis dalam mewujudkan sinergi antara BPK RI dengan para pemilik kepentingan termasuk entitas yang diperiksa. Melalui kesepakatan bersama di atas, terdapat beberapa manfaat yang dapat diperoleh. Manfaat

180

tersebut antara lain ialah akan terbentuknya pusat data BPK RI dengan menggabungkan data elektronik BPK RI dengan data elektronik entitas yang diperiksa (auditee), mempermudah pelaksanaan pemeriksaan oleh BPK RI, dan mendorong transparansi dan akuntabilitas data entitas yang diperiksa. Dengan adanya kerja sama ini, auditor BPK RI dapat melakukan akses data kementerian negara/lembaga tersebut dari kantor BPK RI melalui sistem informasi yang dikembangkan dan dikelola bersama oleh kedua belah pihak. Kerja sama ini akan memungkinkan dilakukannya e-audit sebagai wujud penggunaan CAATs dalam melakukan proses pemeriksaan. Dengan diimplementasikannya e-audit, BPK RI diharapkan dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara lebih efektif dan efisien yaitu melakukan pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara dan mendukung terwujudnya tata kelola yang baik atas pelaksanaan tugas utama BPK RI. Dengan demikian, teknologi informasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan bagi organisasi dalam melaksanakan tugas dan fungsi utamanya.

2.3. Auditor Acceptance terhadap CAATs dan Peningkatan Kinerja


Dalam implementasi suatu teknologi pada suatu organisasi diperlukan tingkat penerimaan pengguna untuk mengevaluasi efektivitas dan efisiensinya. Terkait dengan implementasi e-audit sebagai wujud penggunaan CAATs dalam melakukan proses pemeriksaan, suatu organisasi perlu mengetahui tingkat penerimaan pengguna terhadap implementasi teknologi baru. Terkait dengan hal tersebut, implementasi e-audit sebagai salah satu wujud penggunaan CAATs dalam melakukan pemeriksaan juga perlu untuk mengetahui tingkat penerimaan auditor terhadap implementasinya. Pemahaman terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan pengguna dalam hal ini auditor akan membantu manajemen untuk merencanakan langkah strategis demi kesuksesan implementasi CAATs dalam melakukan pemeriksaan. Salah satu teori yang banyak digunakan dalam mengetahui tingkat penerimaan pengguna terhadap implementasi sistem teknologi informasi adalah Teori Gabungan Penerimaan dan Penggunaan Teknologi atau Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT). Teori UTAUT dikembangkan oleh Venkantesh et. al. pada 2003. Dengan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan auditor memungkinkan manajemen untuk melakukan tindakan yang mendorong perbaikan kinerja auditor misalnya memberikan pelatihan. Menurut teori UTAUT, faktor yang mempengaruhi penerimaan pengguna terdiri dari empat yaitu: 1) harapan pengguna terhadap seberapa baik sistem tersebut dapat meningkatkan kinerja (performance expectancy), 2) tingkat
e-Indonesia Initiative 2011 (eII2011) Konferensi Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Indonesia 14-15 Juni 2011, Bandung

kemudahan penggunaan sistem baru (effort expectancy), 3) kesadaran seseorang tentang adanya pengaruh orang lain yang menggunakan sistem (social influence), dan 4) harapan pengguna tentang keyakinan bahwa infrastruktur organisasi dan teknis dapat mendukung berjalannya sistem (facilitating condition) (Venkantesh, 2003). Pada 2008, Diane Janvrin, D. Jordan Lowe, dan James Bierstaker melakukan penelitian terkait penerimaan auditor terhadap CAATs. Penelitian tersebut dilakukan terhadap 181 auditor yang mewakili perusahaan The Big 4, nasional, regional, dan lokal menggunakan UTAUT. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa performance expectancy dan facilitating condition merupakan faktor yang paling berpengaruh bagi auditor dalam menggunakan CAATs (Janvrin, 2008). Hasil tersebut menunjukkan bahwa untuk meningkatkan penggunaan CAATs, manajemen dapat mengembangkan program pelatihan untuk meningkatkan taraf kemudahan bagi auditor terkait penggunaan CAATs. Selain itu, faktor facilitating condition menunjukkan bahwa manajemen perlu meningkatkan infrastruktur organisasi dan teknis dalam mendukung penggunaan CAATs. Terkait dengan hal tersebut, BPK RI perlu meningkatkan penggunaan CAATs dalam hal ini eaudit dalam melakukan pemeriksaan. Peningkatan penggunaan CAATs dapat dilakukan dengan memberikan program sosialisasi, pelatihan, dan bimbingan teknis terkait teknologi informasi. Program tersebut dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan serta merata bagi seluruh auditor. Selain itu, untuk meningkatkan penggunaan CAATs di lingkungan BPK RI juga dilakukan dengan melakukan pengembangan dan perbaikan infrastruktur bagi implementasi teknologi informasi. Penerapan CAATs dalam hal ini implementasi eaudit memberikan banyak keunggulan. Kelebihan dari penerapan e-audit antara lain ialah pelaksanaan pengumpulan data menjadi lebih cepat. Hal ini dikarenakan, pengumpulan data dapat dilakukan sewaktu-waktu di kantor BPK RI dan bersifat real time online sehingga mempercepat proses pengumpulan data dibanding cara konvensional. Selain itu, pemeriksaan dapat dilakukan lebih cepat karena dilakukan dengan berbantuan komputer. Karena data yang diperoleh dari entitas yang diperiksa merupakan data komputer, proses pemeriksaan yakni analisis atas data juga harus dilakukan dengan berbantuan komputer (CAATs). Oleh karena itu, proses pemeriksaan menjadi lebih cepat. Dengan demikian, penggunaan CAATs diharapkan dapat meningkatkan kinerja auditor BPK RI dalam melakukan pemeriksaan sehingga proses pemeriksaan dapat dilakukan secara lebih efektif dan efisien.

181

3. Kesimpulan
Penerapan CAATs dalam hal ini implementasi eaudit merupakan langkah penting BPK RI dalam mewujudkan pengelolaan keuangan negara yang bersih, transparan, dan akuntabel. Untuk mencapai keberhasilan dalam penerapannya, BPK RI perlu memberikan program pelatihan secara berkesinambungan bagi seluruh auditor yang ada. Selain itu, BPK RI juga perlu melakukan pengembangan dan perbaikan infrastruktur sistem informasi yang dapat mendukung penerapan CAATs dalam hal ini e-audit. Dengan demikian, penggunaan CAATs bagi BPK RI dalam melakukan pemeriksaan diharapkan dapat meningkatkan kinerja auditor yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas pemeriksaan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan pelaporan hasil pemeriksaan.

DAFTAR PUSTAKA
Arens, Alvin A, Elders, Randal J., dan Beasley, Mark. Auditing and Assurance Services: An Integrated Approach, 13th ed. Upper Saddle River N.J.: Prentice Hall, 2010. Department of Revenue. A Guide to Computer Assisted Audit Techniques, Commonwealth of Massachusetts, 2006. Available [online]: www.mass.gov/Ador/docs/dor/Publ/PDFS/caat.p df [30 April 2011] Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Standar Profesional Akuntan Publik No. 59, Teknik Audit Berbantuan Komputer. Jakarta: Penerbit Salemba Empat, 2001. Janvrin, D., Lowe, D.J., dan Bierstaker, J., Auditor Acceptance of Computer-Assisted Audit Techniques, Working Paper, Iowa State University, Iowa, 2008. Available [online]: http://aaahq.org/meetings/AUD2009/AuditorAcc eptance.pdf [11 April 2011] Venkantesh, V., Goris, M. G., Davis, G. B., & Davis, F. D. (2003). User Acceptance of Information Technology: Toward A Unified View. MIS Quarterly , 27 (3), 425-478. www.bpk.go.id

e-Indonesia Initiative 2011 (eII2011) Konferensi Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Indonesia 14-15 Juni 2011, Bandung

182

e-Indonesia Initiative 2011 (eII2011) Konferensi Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Indonesia 14-15 Juni 2011, Bandung