Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH BAHAN BANGUNAN YANG RAMAH LINGKUNGAN

LKTI PESC (PNB Engineering Scientific Competition)

INOVASI PENGGANTI BETON YANG RAMAH LINGKUNGAN

Disusun Sebagai Satu Syarat Pemenuhan Tugas Mata Kuliah Struktur Beton 1
Dosen Pengampu : Telly Rosdiyani, ST,. MT

Disusun oleh :

FERIYANTO 2101201017

FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS BANTEN JAYA
SERANG- BANTEN
2022
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa, karena berkat rahmat-
Nya lah kita masih diberikan kesehatan maupun kesempatan sehingga karya ilmiah
mengenai bahan bangunan ramah lingkungan ini dapat terselesaikan dan dapat dilombakan.

Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung
penyusunan dan pembuatan karya ilmiah ini. Banyak rintangan dan tantangan yang
sempat membuat kami menyerah tetapi kami tetap yakin dan berjuang agar karya ilmiah ini
menjadi yang terbaik di dalam perlombaan. Walaupun, kami sangat menyadari masih
banyak kekurangan dan kelemahan baik dari segi materi kajian, pendekatan maupun cara
penulisannya, untuk itu kritik dan saran sangat kami harapkan dari pembaca, agar
kedepannya kami dapat membuat karya ilmiah yang lebih baik lagi.

Semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, dan juga tentunya
bermanfaat bagi semua orang.

Serang, Juli 2022

Penulis

ii
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………... 1
RUMUSAN MASALAH.................................................................................2
TUJUAN..........................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA…….. ……………………………………....3
BAB III METODE PENULISAN………………………………………….....7
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN……………………………………. 10
BAB V PENUTUP…………………………………………………………...11
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………….. 12

iii
1. PENDAHULUAN

Latar Belakang
Beton adalah material bangunan yang paling dibutuhkan untuk membangun
sebuah bangunan. Bangunan di Indonesia rata-rata menggunakan beton
sebagai fondasi bangunan yang kuat. Bahan abu-abu ini memang sangat
berguna untuk menyatukan kota. Mulai dari rumah, gedung, apartemen
hingga trotoar. Bahkan adapula yang sepenuhnya menggunakan beton
seperti bangunan Rooftop. Bentuk paling umum dari beton adalah beton
semen Portland, yang terdiri dari agregrat mineral biasanya kerikil atau
pasir,semen dan air. Pada lokasi tertentu, beton yang bahan bakunya semen
mudah bereaksi dengan suatu larutan kimia.

Hal ini menyebabkan efek buruk pada lingkungan. Bahan-bahan dasar


beton jika dipanaskan dapat mengeluarkan berton-ton gas emisi karbon
dioksida dan menyebabkan efek rumah kaca. Proses pengumpulan batu
kerikil atau pasir juga merusak sumber daya alam yang semakin menipis.
Karena dampak buruk inilah kami ingin memaparkan ide untuk mengganti
beton dengan pengganti yang lebih hijau dan alami sehingga menjadi
material bangunan yang ramah lingkungan. Kami mengharapkan agar para
kontraktor atau pembangun di Indonesia dapat membangun dengan bahan
yang alami dan juga ramah lingkungan. Kami juga berharap agar seluruh
warga Indonesia sadar akan pengganti beton yang lebih alami, agar tidak
terpaku terus dengan beton.

Misalnya, penggunaan batang jerami untuk menggantikan beton untuk


membuat tembok bangunan. Penggunaan batang jerami ini diharapkan
dapat memberikan efek yang lebih baik untuk lingkungan tidak seperti
beton yang penggunaannya memberikan dampak yang kurang baik pada
lingkungan. Selain itu hal ini juga diperlukan untuk menyeimbangkan
bahan alam dengan bahan sintetis. Karena pada dasarnya, lingkungan perlu
di lestarikan dengan menyeimbangkan kandungan alami dan buatan
manusia.

4
Rumusan Masalah

1. Apa itu ramah lingkungan ?


2. Apa itu bangunan ?
3. Apa itu material bangunan ?
4. Apa itu beton ?
5. Apa saja bahan bangunan pengganti beton yang ramah lingkungan ?
6. Bagaimana inovasi material alami tersebut dapat menggantikan beton?

Tujuan

1. Memberi solusi untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan akibat


penggunaan beton.
2. Untuk keperluan lomba karya ilmiah.
3. Menghimpun ide dan gagasan tentang inovasi material bangunan ramah
Lingkungan.
4. Sebagai sumber informasi yang bermanfaat.

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Ramah Lingkungan

Ramah lingkungan, atau populer dengan sebutan go-green menurut para ahli adalah
istilah keberlanjutan dan pemasaran yang mengacu pada barang dan jasa, hukum, pedoman
dan kebijakan yang mengklaim berkurangnya, minimalnya bahaya, bahkan tidak
membahayakan ekosistem atau lingkungan (Webster, 2005). Perusahaan menggunakan
istilah ambigu ini untuk mempromosikan barang dan jasanya, terkadang dengan sertifikasi
tambahan dan spesifik, seperti ecolabel. Penggunaan berlebihan yang mereka lakukan
dapat disebut sebagai greenwashing (Motavalli – Jim, 2011)
Organisasi Internasional untuk Standardisasi telah mengembangkan ISO 14020 dan
ISO 14024 untuk menetapkan prinsip dan prosedur untuk pelabelan dan deklarasi
lingkungan yang harus diikuti oleh lembaga sertifikasi dan eko-labeller. Secara khusus,
standar ini berhubungan dengan penghindaran konflik kepentingan keuangan,
penggunaan metode ilmiah yang masuk akal dan prosedur pengujian yang dapat diterima,
dan keterbukaan serta transparansi dalam penetapan standar (Green Seal, 2009). Sistem
ramah lingkungan atau go green dapat diaplikasikan ke segala bidang. Manusia sebagai
makhluk hidup memiliki beberapa kebutuhan hidup antar lain kebutuhan
sandang,pangan,papan.

B. Pengertian Bangunan

Bangunan adalah struktur buatan manusia yang terdiri atas dinding dan atap yang
didirikan secara permanen di suatu tempat. Bangunan juga biasa disebut
dengan rumah dan gedung, yaitu segala sarana, prasarana atau infrastruktur dalam
kebudayaan atau kehidupan manusia dalam membangun peradabannya. Bangunan
memiliki beragam bentuk, ukuran, dan fungsi, serta telah mengalami penyesuaian
sepanjang sejarah yang disebabkan oleh beberapa faktor, seperti bahan bangunan, kondisi
cuaca, harga, kondisi tanah, dan alasan estetika.
Bangunan mempunyai beberapa fungsi bagi kehidupan manusia, terutama sebagai tempat
berlindung dari cuaca, keamanan, tempat tinggal, privasi, tempat menyimpan barang, dan
tempat bekerja. Suatu bangunan tidak bisa lepas dari kehidupan manusia khususnya
sebagai sarana pemberi rasa aman, dan nyaman.
Contoh bangunan yang paling sering kita lihat yaitu jembatan beserta konstruksi
dan rancangannya, jalan, serta sarana telekomunikasi. Secara umum, peradaban suatu
bangsa dapat dilihat dari teknik-teknik bangunan maupun sarana, dan prasarana yang
dibuat maupun ditinggalkan oleh warisan manusia dalam perjalanan sejarahnya.

6
C. Hubungan Ramah Lingkungan dengan Bangunan

Sistem ramah lingkungan ini dapat dikaitkan dengan kebutuhan-kebutuhan manusia.


Contohnya kebutuhan manusia pada papan atau tempat tinggal. Seiring berjalanya waktu
kebutuhan manusia akan tempat tinggal semakin meningkat. Bila pada awalnya manusia
berprinsip hidup nomaden maka kini manusi memutuskan untuk berdiam pada satu tempat
yang pasti. Bangunan pun mengalami peningkatan variasi, dan tentunya peningkatan ini
menyebabkan semkin bervariasinya bahan dalam membangun bangunan. Jumlah
bangunan di muka bumi ini pun semakin meningkat. Meningkatnya jumlah bangunan
tentu berdampak juga bagi lingkungan dampaknya antara lain :
  Lahan terbuka berubah menjadi lahan tertutup.
  Area resapan air menjadi berkurang.
  Lahan pertanian berkurang.
  Berkurangnya SDA karena penggunaan yang terus menerus.
  Terganggunya ekosistem alam.
Dalam membuat bangunan manusia mulai menciptakan inovasi-inovasi baru yang
mampu menyokong pertumbuhan rancangan bangunan mereka. Bila pada masa lalu
manusia masih menggunakan bahan organik yang bersifat ramah lingkungan untuk
membantu mereka dalam membuat bangunan maka manusia mulai menciptakan inovasi
berupa semen, beton dan lain-lain. Namun, masalah mulai bermunculan inovasi manusia
dalam membentuk bahan bangunan yang mereka gunakan tidak hanya menimbulkan
dampak positif melainkan juga dampak negatif dari bahan bahan bangunan yang kurang
berifat ramah lingungan ini. Berdasarkan hal inilah tim kami memiliki tujuan untuk
mengurangi bahan bangunan yang tidak ramah lingkungan dalam membangun kota.

D. Bahan Bangunan Tidak Ramah Lingkungan

  Semen
Semen adalah zat yang digunakan untuk merekat batu, bata, batako, maupun bahan
bangunan lainnya. Sedangkan kata semen sendiri berasal dari caementum (bahasa Latin),
yang artinya "memotong menjadi bagian-bagian kecil tak beraturan". Meski sempat
populer pada zamannya, nenek moyang semen made in Napoli ini tak berumur panjang.
Menyusul runtuhnya Kerajaan Romawi, sekitar abad pertengahan (tahun 1100-1500 M)
resep ramuan pozzuolana sempat menghilang dari peredaran.
Semen mengandung beberapa bahan kimia antara lain:
Trikalsium silikat
Dikalsium silikat
Trikalsium aluminat
Tetrakalsium aluminofe
Gipsum

Dalam perkembangan peradaban manusia khususnya dalam hal bangunan, tentu kerap
mendengar cerita tentang kemampuan nenek moyang merekatkan batu-batu raksasa hanya
dengan mengandalkan zat putih telur, ketan atau lainnya. Alhasil, berdirilah bangunan
fenomenal, seperti Candi Borobudur atau Candi Prambanan di Indonesia ataupun jembatan
7
di Cina yang menurut legenda menggunakan ketan sebagai perekat. Ataupun
menggunakan aspal alam sebagaimana peradaban di Mahenjo
Daro dan Harappa di India ataupun bangunan kuno yang dijumpai di Pulau Buton. Benar
atau tidak, cerita, legenda tadi menunjukkan dikenalnya fungsi semen sejak zaman dahulu.
Sebelum mencapai bentuk seperti sekarang, perekat dan penguat bangunan ini awalnya
merupakan hasil percampuran batu kapur dan abu vulkanis. Pertama kali ditemukan pada
zaman Kerajaan Romawi, tepatnya di Pozzuoli, dekat teluk Napoli, Italia. Bubuk itu lantas
dinamai pozzuolana.

Baru pada abad ke-18 (ada juga sumber yang menyebut sekitar tahun 1700-an
M), John Smeaton - insinyur asal Inggris - menemukan kembali ramuan kuno berkhasiat
luar biasa ini. Dia membuat adonan dengan memanfaatkan campuran batu kapur dan tanah
liat saat membangun menara suar Eddystone di lepas pantai Cornwall, Inggris. Ironisnya,
bukan Smeaton yang akhirnya mematenkan proses pembuatan cikal bakal semen ini.
Adalah Joseph Aspdin, juga insinyur berkebangsaan Inggris, pada 1824 mengurus hak
paten ramuan yang kemudian dia sebut semen portland. Dinamai begitu karena warna hasil
akhir olahannya mirip tanah liat Pulau Portland, Inggris. Hasil rekayasa Aspdin inilah yang
sekarang banyak dipajang di toko-toko bangunan.
Sebenarnya, adonan Aspdin tak beda jauh dengan Smeaton. Dia tetap mengandalkan
dua bahan utama, batu kapur (kaya akan kalsium karbonat) dan tanah lempung yang
banyak mengandung silika (sejenis mineral berbentuk pasir), aluminium oksida (alumina)
serta oksida besi. Bahan-bahan itu kemudian dihaluskan dan dipanaskan pada suhu tinggi
sampai terbentuk campuran baru. Selama proses pemanasan, terbentuklah campuran padat
yang mengandung zat besi. Nah, agar tak mengeras seperti batu, ramuan diberi
bubuk gips dan dihaluskan hingga berbentuk partikel-partikel kecil mirip bedak.

a. Pembuatan Semen

Lazimnya, untuk mencapai kekuatan tertentu, semen Portland berkolaborasi dengan


bahan lain. Jika bertemu air (minus bahan-bahan lain), misalnya, memunculkan reaksi
kimia yang sanggup mengubah ramuan jadi sekeras batu. Jika ditambah pasir, terciptalah
perekat tembok nan kokoh. Namun untuk membuat pondasi bangunan, campuran tadi
biasanya masih ditambah dengan bongkahan batu atau kerikil, biasa
disebut concrete atau beton.
Meski bahan bakunya sama, "dosis" semen sebenarnya bisa disesuaikan dengan
beragam kebutuhan. Misalnya, jika kadar aluminanya diperbanyak, kolaborasi dengan
bahan bangunan lainnya bisa menghasilkan bahan tahan api. Ini karena sifat alumina yang
tahan terhadap suhu tinggi. Ada juga semen yang cocok buat mengecor karena
campurannya bisa mengisi pori-pori bagian yang hendak diperkuat.
Berikut dampak dampak penggunaan semen :
Dampak positif atau keuntungan yang dapat diambil dengan adanya pembangunan
industry Semen antara lain sebagai berikut :
o Menambah penghasilan penduduk yang akan meningkatkan kemakmuran
o Menghasilkan aneka barang yang diperlukan masyarakat banyak

8
o Memeperbesar kegunaan bahan mentah. Semakin banyak bahan mentah yang diolah
dalam perindustrian, semakin besar pula manfaat yang diperoleh
o Memperluas lapangan pekerjaan bagi penduduk
o Mengurangi ketergantungan Indonesia pada luar negeri
o Memberi hasil tambahan bagi para petani
o Merangsang masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan industry
o Memperluas kegiatan ekonomi manusia sehingga tidak semata-mata tergantung pada
lingkungan alam

Selain dampak positif terdapat juga dampak negatif dari industri semen,
diantaranya;

Salah satu dampak negatif dari industri semen pencemaran udara oleh debu. Debu
yang dihasilkan oleh kegiatan industri semen terdiri dari debu yang dihasilkan pada waktu
pengadaan bahan baku, debu selama proses pembakaran, dan debu yang dihasilkan selama
pengangkutan bahan baku ke pabrik serta bahan jadi ke luar pabrik, termasuk
pengantongannya. Selain itu, pabrik semen juga meningkatkan suhu udara dan suara yang
ditimbulkan mesin-mesin dalam pabrik juga menimbulkan kebisingan. Debu semen
memiliki banyak dampak negatif bagi kesehatan maupun lingkungan hidup. Selain
debu,berikut contoh dampak negatif dari pabrik semen bagi lingkungan.

a. Lahan
Penurunan kualitas dari segi kesuburan tanah akibat penambangan tanah liat.
Perubahan ini dari segi waktu akan meluas ke arah menurunnya kapasitas
penampungan air yang pada akhirnya akan berpengaruh juga terhadap kuantitas air
sungai. Sedangkan dari segi ruang akan mempengaruhi keseimbangan atau
keselarasan lingkungan setempat.
b. Air
Kualitas air bertambah buruk akibat limbah cair dari pabrik dalam bentuk minyak
dan sisa air dari kegiatan penambangan, yang menimbulkan lahan kritis yang
mudah terkena erosi, yang akan mengakibatkan pendangkalan dasar sungai, yang
pada akhirnya akan menimbulkan masalah banjir pada musim hujan
c. Flora dan Fauna
Berkurangnya keanekaragaman flora karena berubahnya pola vegetasi dan jenis
endemic, dan pembentukkan klorofil serta proses fotosintesis, Sedangkan
berkurangnya keanekaragaman fauna (burung, hewan tanah dan hewan langka)
disebabkan karena berubahnya habitat air dan habitat tanah tempat hidup hewan-
hewan tersebut
d. Definisi Beton
Beton merupakan bahan bangunan komposit yang terbuat dari kombinasi dan
pengikat semen. Bentuk paling umum adalah semen portland yang terdiri dari
bahan kerikil dan pasir, semen dan air. Beton di gunakan untuk membuat
perkerasan jalan , struktur bangunan , fondasi, jalan, jembatan penyebrangan,
truktur parkiran, dasar untuk pagar/gerbang, dan semen dalam bata atau tembok
blok. Dalam konstruksi, beton adalah sebuah bahan bangunan komposit yang
9
terbuat dari kombinasi aggregat dan pengikat semen. Bentuk paling umum dari
beton adalah beton semen Portland, yang terdiri dari agregat mineral
(biasanya kerikil dan pasir), semendan air. Biasanya dipercayai bahwa beton
mengering setelah pencampuran dan peletakan. Sebenarnya, beton tidak menjadi
padat karena air menguap, tetapi semen berhidrasi, mengelem komponen lainnya
bersama dan akhirnya membentuk material seperti-batu. Beton digunakan untuk
membuat perkerasan jalan, struktur bangunan, fondasi, jalan, jembatan
penyeberangan, struktur parkiran, dasar untuk pagar/gerbang, dan semen dalam
bata atau tembok blok. Nama lama untuk beton adalah batu cair.
Penggunaan beton dan bahan-bahan vulkanik seperti abu pozzolan sebagai
pembentuknya telah dimulai sejak zaman Yunani dan Romawi bahkan mungkin
sebelumnya. Dengan campuran kapur, pozzolan, dan batu apung,
bangsa Romawi banyak membangun infrastruktur seperti akuaduk, bangunan,
drainase dan lain-lain. Di Indonesia penggunaan yang serupa bisa dilihat pada
beberapa bangunan kuno yang tersisa. Benteng Indrapatra di Aceh yang dibangun
pada abad ke-7 oleh kerajaan Lamuri, bahan bangunannya berupa kapur, tanah liat,
dan batu gunung. Orang Mesir telah menemukan sebelumnya bahwa dengan
memakai aditif debu vulkanik mampu meningkatkan kuat tekan beton.

Penggunaan beton secara masif diawali pada permulaan abad 19 dan merupakan awal
era beton bertulang. Pada tahun 1801, F.Coignet menerbitkan tulisannya mengenai prinsip-
prinsip konstruksi dengan meninjau kelembaban bahan beton terhadap taruknya. Pada
tahun 1850, J.L. Lambot untuk pertama kalinya membuat kapal kecil dari bahan semen
untuk dipamerkan dalam Expo tahun 1855 di Paris. J.Moiner, seorang ahli taman
dari Prancis mematenkan rangka metal sebagai tulangan beton untuk mengatasi taruknya
yang digunakan untuk tanamannya. Pada tahun 1886, Koenen menerbitkan tulisan
mengenai teori dan perancangan struktur beton. C.A.P Turner mengembangkan pelat slab
tanpa balok tahun 1906.

Kelebihan beton adalah dapat mudah dibentuk sesuai dengan kebutuhan konstruksi.
Selain itu pula beton juga memiliki kekuatan mumpuni, tahan terhadap temperatur yang
tinggi dan biaya pemeliharaan yang murah. Sedang kekurangannya adalah bentuk yang
telah dibuat sulit diubah tanpa kerusakan. Pada struktur beton, jika ingin dilakukan
penghancuran maka akan mahal karena tidak dapat dipakai lagi. Beda dengan struktur baja
yang tetap bernilai. Berat, dibandingkan dengan kekuatannya dan daya pantul yang besar.
(Mulyono Tri, 2004)

Beton memiliki kuat tekan yang tinggi namun lemah dalam tariknya. Jika struktur itu
langsung jika tidak diberi perkuatan yang cukup akan mudah gagal. Menurut perkiraan
kasar, nilai kuat tariknya sekitar 9%-5% kuat tekannya. Maka dari itu perkuatan sangat
diperlukan dalam struktur beton. Perkuatan yang umum adalah dengan menggunakan
tulang baja yang jika dipadukan sering disebut dengan beton bertulang.

1
0
BAB III
METODE PENULISAN

a. Sumber dan Jenis Data

Data-data yang dipergunakan dalam penyusunan karya tulis ini berasal


dari berbagai literatur kepustakaan yang berkaitan dengan permasalahan yang
dibahas. Beberapa jenis referensi utama yang digunakan adalah dan artikel ilmiah yang
bersumber dari internet. Jenis data yang diperoleh variatif, bersifat kualitatif.

b. Pengumpulan Data

Metode penulisan bersifat studi pustaka. Informasi didapatkan dari


berbagai literatur dan disusun berdasarkan hasil studi dari informasi yangdiperoleh.
Penulisan diupayakan saling terkait antar satu sama lain dan sesuai dengan topik yang
dibahas.

c. Analisis Data

Data yang terkumpul diseleksi dan diurutkan sesuai dengan topik kajian. Kemudian
dilakukan penyusunan karya tulis berdasarkan data yang telah dipersiapkan secara
logis dan sistematis. Teknik analisis data bersifat deskriptif argumentatif.

d. Penarikan Kesimpulan

Simpulan didapatkan setelah merujuk kembali pada rumusan masalah,


tujuan penulisan, serta pembahasan. Simpulan yang ditarik mempresentasikan
pokok bahasan karya tulis, serta didukung dengan saran praktis sebagai rekomendasi
selanjutnya.

1
1
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil tinjauan pustaka yang telah kami peroleh, bahan inovasi material
pengganti beton yang paling ramah lingkungan adalah beton yang divariasikan dari batu
bata yang terbuat dari jamur Miselumyang telah dibiarkan tumbuh pada bahan bahan
organic seperti batang jerami dan bambu kemudian dibiarkan mengering. Namun, tidak
banyak orang tahu tentang fakta dibalik beton. Produksi bahan-bahan pembentuk beton
menghasilkan berton-ton gas rumah kaca berupa karbondioksida (CO2) ke atmosfer setiap
tahunnya. Polusi tersebut memicu proses perubahan iklim yang kita rasakan sekarang.
Untuk mengatasi kebutuhan pengganti bahan beton tersebut, berikut ini 6 inovasi
material bangunan sebagai sebuah alternatif beton dan menurunkan efek buruknya terhadap
lingkungan.

1. Batang Jerami

Bangunan yang terbuat dari tumpukan batang jerami mengingatkan pada zaman
dimana rumah-rumah dibangun menggunakan material yang alami dan diproduksi lokal.
Batang jerami yang digunakan untuk menggantikan dinding bata, kayu atau gipsum
ternyata dapat menghasilkan insulasi yang sangat baik bila disusun dengan baik. Tidak
hanya murah namun juga berkelanjutan karena jerami tumbuh sangat cepat di alam. Salah
satu alternatif yang akan digunakan untuk mengatasi masalah diatas adalah dengan batako
tidak berlubang, dengan bahan tambah jerami padi (batang padi setelah pasca panen).
Dengan optimalisasi pemanfaatan limbah pertanian yang berupa jerami padi ini diharapkan
akan mengurangi limbah yang mencemari lingkungan dan dapat mengurangi kerusakan
lahan pertanian yang dibutuhkan masyarakat sebagai tempat menanam padi.

Pertanaman padi tidak hanya menghasilkan padi (gabah) tetapi juga jerami. Jerami
padi merupakan salah satu limbah pertanian yang cukup besar jumlahnya dan belum
sepenuhnya dimanfaatkan. Produksi jerami padi bervariasi yaitu dapat mencapai 12-15 ton
setiap hektar pada masa panen, atau 4-5 ton bahan kering tergantung pada lokasi dan jenis
varietas tanaman yang digunakan. Bila produksi padi dilakukan tiga kali setiap tahun,
berarti jumlah gabah maupun jerami yang dihasilkan menjadi tiga kali lipat dari semula
dan tentu sangat bermanfaat.
Ketersediaan jerami sebanyak ini biasanya digunakan untuk pakan ternak seperti sapi atau
kerbau. Di beberapa daerah di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur, para petani
memanfaatkan jerami untuk pakan ternak, seperti sapi potong, sapi perah, maupun kerbau.
Jerami padi juga diolah untuk pupuk fermentasi, tetapi hal ini jarang sekali dilakukan di
jaman modern ini. Biasanya tumpukan padi yang melimpah jumlahnya oleh para petani
hanya dibakar saja,
karena mengingat lokasi persawahan harus segera dipersiapkan untuk segera diolah
kembali.
1
2
Jerami juga merupakan salah satu tanaman yang mengandung serat dan telah
digunakan produksi pulp dan kertas. Begitu juga pemanfaatan jerami sebagai bahan
bangunan, semisal digunakan sebagai bahan penutup atap pada tempat peristirahatan atau
cottage. Pemanfaatan jerami sebagai bahan bangunan dapat mengurangi dua pertiga jumlah
batu bata yang dipakai dalam membangun dinding eksterior. Hal tersebut dibuktikan
dengan pemanfataan jerami didaerah yang beriklim dingin (timur laut-cina), tumpukan
jerami dipakai sebagai bahan dinding eksterior bangunan. Tumpukan jerami ini kemudian
diplester kedua sisi. Menghasilkan dinding setebal 45-60 cm yang kelihatannya mirip
dengan dinding bata jemuran (adobe) atau batu, dengan demikian pemanfaatan jerami padi
akan mengurangi polusi dan pemakaian tanah liat yang langka. Rumah-rumah yang
dibangun dengan program tersebut sejauh ini mampu bertahan terhadap gempa karena
dinding jerami yang ringan dan lentur ini mampu menyerap goncangan gempa (alambina-
construction intelligence, htm, 2005).

Untuk menambah kekakuan pada cetakan jerami yang digunakan sebagai bahan
tambah batako tidak berlubang, dapat ditambah dengan lem kayu yang banyak terdapat di
toko-toko bangunan atau lem buatan yang dapat dibuat sendiri, seperti lem yang dibuat dari
tepung tapioka atau pati kanji. Penggunaan lem kayu yang digunakan untuk menambah
kekakuan jerami padi sehingga diharapkan dapat menambah kuat tekan pada pembuatan
batako tidak berlubang.
Alasan lain penggunaan bahan jerami untuk bahan campuran beton ringan adalah
menciptakan bangunan yang ramah lingkungan (Eco-Architecture) dengan sentuhan
teknologi baru. Dibandingkan dengan batako biasa, batako dengan penambahan jerami
padi ini dimungkinkan mempunyai berat yang lebih ringan, sehingga dapat digunakan pada
daerah rawan gempa.

2. Beton Rumput

Bahan ini biasanya digunakan di jalur pejalan kaki namun memiliki lubang-lubang
yang cukup untuk rumput tumbuh di sela-selanya. Bahan ini mengurangi pemakaian beton
dan juga bisa menjadi jalan masuknya air hujan ke dalam tanah. Menggunakan perkerasan
(beton) sebagai penutup tanah terkesan lebih praktis dan mudah dibersihkan. Namun,
memakai perkerasan memiliki kelemahan menghambat air meresap ke dalam tanah.

Sementara itu, memanfaatkan rumput untuk menutup tanah dapat menyerap air,
menghadirkan sentuhan alami, serta memasok oksigen sehingga ramah lingkungan. Namun
demikian, rumput membutuhkan perawatan khusus. Rumput juga mudah rusak dan
kemudian apabila kerap terinjak-injak.

1
3
Kini, dengan memadukan keduanya, kelemahan perkerasan dan rumput bisa diatasi.
Rumput lebih awet karena ada perkerasan, sementara air bisa dengan mudah terserap
masuk ke dalam tanah dan permukaan tanah tetap keras karena perkerasan beton.

Dengan teknik kombinasi seperti ini, halaman rumah akan tertutup tanah yang kuat
dan tetap ramah lingkungan. Tanpa rasa khawatir rusak, tanah yang tertutup oleh keduanya
dapat juga berfungsi sebagai tempat parkir mobil atau aktivitas berat lainnya.

3. Tanah Yang Dipadatkan

Apalagi yang lebih alami daripada merasakan tanah sebagai lantai rumah? Bahkan
sebenarnya dinding yang mirip dengan beton bisa dibuat dengan hanya memadatkan tanah
di rangka kayu. Pemadatan tanah adalah teknologi yang digunakan oleh peradaban manusia
sejak ribuan tahun lalu dan mampu bertahan lama. teknik pembuatan rumah ini sebenarnya
mendahului konstruksi bata-lumpur yang terkenal di daerah tersebut. Lapis demi lapis
tanah ditambahkan dalam proses, menjaga ketebalan dinding yang akan mampu membuat
penghuninya selamat dari berbagai cuaca.

Selain dinding rumah, penduduk juga membuat dinding-dinding pendek yang


berjasa sebagai elemen lanskap urban. Dinding pendek tersebut menyediakan tempat
duduk untuk bercengkrama dan bekerja. Fitur paling menakjubkan di sini adalah onamen
pada dinding-dinding rumah. Hampir setiap inci rumah tanah liat ini memiliki hiasan
berupa motif terbuat dari lumpur berwarna dan kapur. Motif tersebut merupakan cerita dari
kebudayaan suku kuno. Adapun yang digambarkan dari motif-motif itu antara lain
berabagai barang dan perabotan di kehidupan sehari-hari, hingga kepercayaan dan agama.
Rupanya, dekorasi tersebut sekaligus juga membedakan satu rumah dengan rumah lainnya.
Anda tidak akan menemui bangunan "polos" di kawasan ini.

1
4
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan

Jadi, penggunaan beton sebagai bahan bangunan dapat kita ganti dengan bahan-
bahan yang ramah lingkungan serta berada di dekat kita. Dan bahan-bahan ini pun bersifat
ramah lingkungan tanpa merugikan alam, contohnya penggantian beton dengan Miselum.
Dimana Miselum ini terbuat dari hifa jamur yang dikeringkan. Begitu pula dengan beton
dari jerami, dimana jerami ini memberikan keuntungan bagi kita, karena bahan jerami yang
ringan dan juga dapat menyerap getaran, sangat cocok bagi wilayah yang rawan gempa.

B. Saran

Sebaiknya inovasi material pengganti beton yang ramah lingkungan sudah


seharusnya diterapkan dalam ruang lingkup yang luas. Misal, pembangunan rumah susun
dengan dinding yang terbuat dari jerami, atau memanfaatkan bahan-bahan yang hasilnya
dua kali lipad dari beton biasa (bersifat sustainable). Karena semakin kreatif suatu inovasi
dapat diimplementasikan secara menyeluruh. Semua orang pasti akan tertarik untuk
mengikutinya. Jangan sampai bahan pengganti beton yang ramah lingkungan ini menjadi
susah didapat dan mahal bagi masyarakat Indonesia. Ditambah lagi dengan kelebihan-
kelebihan yang pengganti beton yang sangat menguntungkan bagi kehidupan manusia,
misalnya ramah lingkunga, biaya murah dan bahan dapat ditemukan dengan mudah di
alam.

1
5
Daftar Pustaka

  "nature-friendly". Webster's New Millennium Dictionary of English, Preview Edition


(v 0.9.7). Lexico Publishing Group, LLC.
  Motavalli, Jim (2011-02-12). "A History of Greenwashing: How Dirty Towels
Impacted the Green Movement". AOL.
  "Grønvaskere invaderer børsen" [Greenwashers invade the market]. EPN.dk (dalam
Danish). Jyllands-Posten. 2008-06-21.
  Greenwashing Fact Sheet. March 22, 2001. Retrieved November 14, 2009.
from corpwatch.org
  "international standards for eco-labeling". Green Seal.
  "Welcome to the European Union Eco-label Homepage". EUROPA.
  "Minutes" (PDF). EUEB Coordination and Cooperation Management Group.
  "Environmental Labels Type I". Ricoh.
  "Environmental Claims". Federal Trade Commission. 2008
  "Labels -environmentally friendly". ecolabels.
  Mulyono, Tri. 2004. Teknologi Beton. Jakarta:Penerbit Andi.
  Brook, K.M. dan Murdock, L.J. 1979. Bahan dan Praktik Beton. Jakarta:Penerbit
Erlangga.

1
6

Anda mungkin juga menyukai