Anda di halaman 1dari 9

UJIAN TENGAH SEMESTER PATOFISIOLOGI TIMBULNYA SINDROM NEFROTIK Untuk memenuhi sebagian persyaratan penilaian menempuh mata kuliah

Patofisiologi yang Dibina oleh dr. Agung Kurniawan, M.kes

OLEH SULISTYO DWI ARFIANI NIM : 10.041 KH

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA AKADEMI FARMASI PUTRA INDONESIA MALANG Juni 2011

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Ginjal merupakan salah satu organ dalam sistem urinari. Secara anatomi ginjal terletak pada dinding posterior abdomen, terutama di daerah lumbal, di sebelah kanan dan kiri tulang belakang, dibungkus lapisan lemak yang tebal, di belakang peritoneum, dan karena di luar rongga peritoneum. Kedudukan ginjal dapat diperkirakan dari belakang, mulai dari ketinggian vertebrata torakalis terakhir sampai vertebra lumbalis ketiga. Ginjal kanan sedikit lebih rendah dari kiri. Setiap ginjal panjangnya 6 sampai 7,5 cm, dan tebal 1,5 sampai 2,5 cm. Pada orang dewasa beatnya kira kira 140 g. Bentuk ginjal seperti kacang dan sisi dalamnya atau hilum menghadap ke tulang punggung. Sisi luarnya cembung. Pembuluh pembuluh ginjal semuanya masuk dan keluar pada hilum. Di atas setiap ginjal menjulang sebuah kelenjar suprarenal. Ginjal kanan lebih pendek dan lebih tebal dari yang kiri. Ginjal dibagi menjadi dua bagian besar yaitu pertama kortex, yang berada di bagian luar, pada bagian terdapat nefron, pada setiap nefron terdapat badan malphigi atau glomerulus, tubulus proksimal, anse henle, tubulus kontortus, nefron berfungsi untuk mengalirkan darah ke piala ginjal. Kedua medula, berada di bagian dalam, terdapat duktus koligentese yang mengarah ke hilum dan berakhir di kalises. Kalises ini menghubungkannya dengan pelvis ginjal. Ginjal berfungsi untuk mengatur keseimbangan air, mengatur konsentrasi garam dalam darah dan keseimbangan asam basa darah dan ekskresi bahan buangan dan kelebihan garam. Ginjal dapat mengalami kelainan yaitu :

Sindrom nefrotik dimana glomerulus mengalami kerusakan. Pielonefritis yaitu peradangan jaringan ginjal dan pelvis ginjal Batu dalam kandung kencing atau lebih dikenal batu ginjal Gagal ginjal yaitu nefritis akut oleh peracunan ginjal atau setelah suatu masa di mana tekanan darah sangat rendah sehingga mengurangi persediaan darah pada ginjal.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sindrom nefrotik ginjal Sindrom nefrotik ginjal adalah sebuah keadaan dimana ginjal kehilangan sejumlah besar protein ( khususnya albumin ) dan terjadi retensi air dan natrium sehingga mengakibatkan oedem. Penyebab paling sering adalah glomerulonefriis perubahan minimal pada anak dan nefropati membranosa atau glomerulosklerosis fokal segmental pada orang dewasa. Keadaan protrombotik, hipertensi , dan hiperlipidemia berkontribusi pada tingginya penyakit jantung iskemik

pada pasien nefrotik. Timbulnya sindrom nefrotik ginjal dipengaruhi oleh : 1. Retensi natrium oleh ginjal dan oedem Pada keadaan normal, tekanan hidrostatik darah arterial yang tinggi memasuki capillary bed jaringan menyebabkan sebagian cairan terfiltrasi melalui dinding kapiler menuju ruang interstisial. Tekanan hidrostatik menuju ujung vena capillary bed menurun dan kehilangan cairan menyebabkan peningkatan osmolalitas plasma karena protein plasma. Perubahan ini mendorong pergerakan balik cairan ke dalam darah. Perubahan tekanan hidrostatik atau osmotik kapiler dapat menyebabkan oedem yaitu akumulasi kelebihan cairan di interstisium. Hipervolemia meningkatkan tekanan hidrotatik pada ujung vena capillary bed, sehingga mengurangi reabsorbsi cairan interstisial. Konsentrasi protein plasma yang rendah menurunkan tekanan osmotik kapiler dan mengurangi reabsorbsi cairan intestisial. Oedem generalisata terjadi jika volume tubuh terlalu tinggi. Hal ini terjadi pada gagal ginjal lanjut karena ginjal tidak dapat mengekskresi air atau natrium yang cukup. Penyebab utama pada keadaan ini adalah gagal jantung kongestif, sirosis hati, dan sindrom nefrotik. Hal ini terjadi karena sensor volume mempersepsikan bahwa sirkulasi dalam keadaan kurang terisi dan menimbulkan respons terhadap perdarahan. 2. Kehilangan protein, malnutrisi, dan oedem Kehilangan protein dalam urin dapat menyebabkan keseimbangan protein negatif dan malnutrisi protein. Hal ini dapat menyebabkan infeksi dan dimungkinkan karena IgG dan protein imun lainnya terbuang dalam urin. 3. Trombosis

Protein tromboregulator, seperti antitrombin III, protein S, dan protein C, terbuang dalam urin dan hipoproteinemia meningkatkan sintesis fibrinogen di hati sehingga kadar fibrinogen meningkat. Perubahan ini memacu trombosis vena, terutama di ginjal dan vena tungkai dalam. Trombosis vena renalis dapat menyebabkan penurunan fungsi ginjal secara tiba tiba dengan nyeri pinggang dan hematuria. 4. Hiperlipidemia Terjadi peningkatan sintesis lipid dan apolipoproteindi hati dan penurunan katabolisme dan lipoprotein berdensitas sangat rendah ( VLDL ). Perubahan ini menyebabkan zat liporegulator hilang dalm urin dan menyebabkan peningkatan kolesterol-LDL dan VLDL dalam plasma. 5. Gangguan Ginjal Filtrasi glomerulus seringkali berkurang dan ginjal yang nefrotik rentan terhadapgagal ginjal akut prarenal. Gangguan pada susunan normal tonjolan kaki epitel kemungkinan mengurangi jumlah filtrasi interpodosit yang fungsional. Walupun setiap celah tersebut bersifat sangat permeabel, namun dapat terjadi pengurangan total area permukaan untuk filtrasi sehingga menyebabkan penurunan laju filtrasi glomerulus ( LFG ).

6. Kehamilan dan proteinuria Proteinuria dapat juga terjadi selama kehamilan, terutama pada lupus eritematosus sistemik. Namun pada trismester terakhir kehamilan, pre eklamsia dapat menyebabkan hipertensi, oedem

dan proteinuria. Jika protein banyak terbuang, dapat terjadi sindrom nefrotik.

BAB III

KESIMPULAN

Sindrom nefrotik biasanya terjadi tiba tiba pada anak anak berupa oliguria dengan urin yang berwarna gelap, atau urin yang kental akibat proteinuria berat. Sedangkan pada dewasa yang terlihat adalah oedem pada kaki dan genitalia. Terjadinya proteinuria akibat permeabilitas membran glomerulus. Sebagian besar protein dalam urin adalah albumin sehingga jika laju sintesis hepar dilampaui, meski telah berusaha ditingkatkan dapat menyebabkan hipoalbuminemia maka terjadi retensi garam dan air. Penyebab sindrom nefrotik pada anak anak adalah : Sebagian besar dikarenakan glomerulonefritis kelainan minimal Glomerulosklerosis fokal dan segmental Glomerulonefritis membranoproliferatif Glomerulonefritis pascatreptokok

Penyebab sindrom nefrotik pada dewasa adalah :

a. Glomerulonefritis primer ( sebagian besar tidak diketahui sebabnya )

Glomerulonefritis membranosa Glomerulonefritis kelainan minimal Glomerulonefritis membranoproliferatif Glomerulonefritis pascatreptokok

b. Glomerulonefritis sekunder Lupus erimatosus sistemik Obat ( emas, penisilamin, captopril, antiinflamasi nonsteroid ) Neoplasma ( kanker payudara, kolon, bronkus ) Penyakit sistemik yang mempengaruhi glomerulus ( diabetes, amilodosis )