Anda di halaman 1dari 4

KONSEP PENGEMBANGAN KURIKULUM

Pengertian Kurikulum
Kurikulum adalah program pendidikan yang disediakan oleh lembaga pendidikan (sekolah) bagi
siswa. Berdasarkan program pendidikan tersebut siswa melakukan berbagai kegiatan belajar,
sehingga mendorong perkembangan dan pertumbuhannya sesuai dengan tujuan pendidikan yang
telah ditetapkan. Dengan kata lain, dengan program kurikuler tersebut, sekolah/lembaga pendiidkan
menyediakan lingkungan pendidikan bagi siswa untuk perkembangan. Itu sebabnya, kurikulum
disusun sedemikian rupa yang memungkinkan siswa melakukan beraneka ragam kegiatan belajar.
Kurikulum tidak terbatas pada sejumlah mata pelajaran, namun meliputi segala sesuatu yang dapat
mempengaruhi perkembangan siswa, seperti: bangunan sekolah, alat pelajaran, perlengkapan
sekolah, perpustakaan, karyawan tata usaha, gambar-gambar, halaman sekolah, dan lain-lain.
Curriculum is interpreted to mean all of the organized courses activities, and experiences which
pupils have under the direction of school, whether in the classroom or not.
Berdasarkan rumusan ini, kegiatan-kegiatan kurikuler tidak terbatas dalam ruangan kelas,
melainkan mencakup juga kegiatan di luar kelas. Pandngan modern mejelaskan, bahwa antara
kegiatan intrakurikuler dan kegiatan ekstrakurikuler tidak ada pemisahan yang tegas. Semua kegiatan
yang bertujuan memberikan pengalaman pendidikan kepada siswa tercakup dalam kurikulum.
Kendatipun pandangan tersebut diterima, namun pada umumnya guru-guru tetap
berpandangan, bahwa kegiatan-kegiatan kelas saja yang termasuk kurikulum, sedangkan kegiatan di
luar kelas dari segi nilai edukatif yang diberikan oleh kurikulum itu. Penganut pandangan ini tetap
menyadari, bahwa kegiatan-kegiatan ekstra merupakan bagian khusus dalam program pendidikan
sekolah.

Asas Pengembangan
Pengembangan kurikulum merupakan inti dalam penyelenggaraan pendidikan, dan oleh
karenanya pengembangan dan pelaksanaan harus berdasarkan pada asas-asas pembangunan secara
makro. Sistem pengembangan kurikulum harus berdasarkan asas-asas, sebagai berikut:

1. Kurikulum dan teknologi pendidikan berdasarkan pada asas keimanan dan ketakwaan terhadap
Tuhan Yang Maha Esa.
2. Kurikulum dan teknologi pendidikan berdasarkan dan diarahkan pada asas demokrasi pancasila.
3. Pengembangan kurikulum dan teknologi pendidikan berdasarkan dan diarahkan pada asas
keadilan dan pemerataan pendidikan.
4. Pengembangan kurikulum dan teknologi pendidikan dilandasi dan diarahkan berdasarkan asas
kesimbangan, keserasian, dan keterpaduan.
5. Pengembangan kurikulum dan teknologi pendidikan dilandasi dan diarahkan berdasarkan asas
hukum yang berlaku.
6. Pengembangan kurikulum dan teknologi pendidikan dilandasi dan diarahkan berdasarkan asas
kemandirian dan pembentukan manusia mandiri.
7. Pengembangan kurikulum dan teknologi pendidikan dilandasi dan diarahkan berdasarkan asas
nilai-nilai kejuangan bangsa.
8. Pengembangan kurikulum dan teknologi pendidikan dilandasi dan diarahkan berdasarkan asas
pemanfaatan, pengembangan, penciptaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

Mengacu pada pola pikir manajemen, maka pengembangan kurikulum dilaksanakan dengan
secara terpadu dan berjenjang, sebagai berikut.
1. Tingkat makro; Pengembangan kurikulum didukung oleh berbagai disiplin ilmu kealaman, ilmu
sosial dan ilmu perilaku yang masing-masing menganut hukumnya sendiri (hukum kausalitas, hukum
normatif, dan hukum probalitas).
2. Tingkat struktural; Pengembangan kurikulum melibatkan peran serta berbagai pihak secara
intersektoral; dan antarinstitusional baik dalam lingkungan pendidikan maupun nonpendidikan, yang
dilaksanakan secara terkoordinasi.
3. Tingkat mikro; Pengembangan kurikulum dilaksanakan secara sistemik yang memuat semua
komponen, lengkap, utuh, meyeluruh, konsisten dan serasi dengan faktor-faktor yang mendasarinya.
4. Tingkat individual; Pengembangan kurikulum mengacu dan melibatkan semua individu secara
interaktif dan komunikatif dalam proses pembelajaran agar tercapai hasil belajar yang dapat diamati
secara terukur.

Pengembangan Kurikulum
Pengembangan kurikulum (curriculum development) adalah: the planning of learning
opportunities intended to bring about certain desered in pupils, and assesment of the extent to wich
these changes have taken plece (Audrey Nicholls & S. Howard Nichools).
Rumusan ini menunjukkan bahwa pengembangan kurikulum adalah perencanaan kesempatan-
kesempatan belajar yang dimaksudkan untuk membawa siswa ke arah perubahan-perubahan yang
diinginkan dan menilai hingga mana perubahan-perubahan itu telah terjadi pada diri manusia.
Sednagkan yang dimaksud kesempatan belajar (learning opportunity) adalah hubungan yang telah
direncanakan dan terkonttrol antara siswa, guru, bahan peralatan, dan lingkungan dimana belajar
yang diinginkan diharapkan terjadi. Ini terjadi bahwa semua kesempatan belajar direncanakan oleh
guru, bagi para siswa sesungguhnya adalah “kurikulum itu sendiri”.
Dalam pengertian di atas sesungguhnya pengembangan kurikulum adalah proses siklus, yang
tidak pernah berakhir. Proses kurikulum tersebut terdiri dari empat unsur yaitu:
a. Tujuan: mempelajari dan menggambarkan semua sumber pengetahuandan pertimbangan
tentang tujuan-tujuan pengajaran, baik yang berkenaan dengan mata pelajaran (subject course)
maupun kurikulum secara menyeluruh.
b. Metode dan material: mengembangkan dan mencoba menggunakan metode-metode dan
material sekolah untuk mencapai tujuan-tujuan tadi yang serasi menurut pertimbangan guru.
c. Penilaian (assessment): menilai keberhasilan pekerjaan yang telah dikembangkan itu dalam
hubungan dengan tujuan, dan bila mengembangkan tujuan-tujuan baru.
d. Balikan (feedbac): umpan balik dari semua pengalaman yang telah diperoleh yang pada
gilirannya menjadi titik tolak bagi studi selanjutnya.

Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum


a. Kurikulum disusun untuk mewujudkan sistem pendidikan nasional.
b. Kurikulum pada semua jenjang pendidikan dikembangkan dnegan pendekatan kemampuan.
c. Kurikulum harus sesuai dengan ciri khas satuan pendidikan pada masing-masing jenjang pendidikan.
d. Kurikulum pendidikan dasar, menengah dan tinggi dikembangkan atas dasar standar nasional
pendidikan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan.
e. Kurikulum pada semua jenjang pendiidkan dikembangkan secara berdiversifikasi, sesuai dnegan
kebutuhan potensi, dan minat peserta didik dan tuntutan pihak-pihak yang memerlukan dan
berkepentingan.
f. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan tuntutan pembangunan daerah dan nasional,
keanekaragaman potensi daerah dan lingkungan serta kebutuhan pengembangan iptek dan seni.
g. Kurikulum pada semua jenjang pendidikan dikembangkan secara berdiversifikasi, sesuai dengan
tuntutan lingkungan dan budaya setempat.
h. Kurikulum pada semua jenjang pendidikan mencakup aspek spiritual keagamaan, intelektualitas,
watak konsep diri, keterampilan belajar, kewirausahaan, keterampilan hidup yang berharkat dan
bermartabat, pola hidup sehat, estetika dan rasa kebangsaan.

Dalam Kondisi yang Bagaimana Pengembangan Kurikulum Dilakukan


Kegiatan pengembangan kurikulum dapat dilaksanakan pada berbagai kondisi atau setting, mulai
dari tingkat kelas sampai dengan tingkat nasional. Kondisi-kondisi itu adalah:
a. Pengembangan kurikulum oleh guru kelas
b. Pengembangan kurikulum oleh sekelompok guru dalam suatu sekolah
c. Pengembangan kurikulum melalui pusat guru ( teacher’s centre’s)
d. Pengembangan kurikulum pada tingkat daerah
e. Pengembangan kurikulum dalam/melalui proyek nasional
Seorang guru kelas dapat mengembangkan kurikulum untuk kelas yang menjadi tanggung
jawabnya. Tetapi kegiatan itu hanya terbatas pelaksanaannya dalam kelasnya saja. Jadi tidak
menerima input dari guru lainnya baik pengetahuan, pengalaman, keterampilan, ddan gagasan-
gagasan baru.
Hambatan pokok adalah bila kegiatanmengembangkan kurikulum yang dilakukan guru tidak
relevan dan tidka konsisten dengan program sekolah secara menyeluruh, disamping terbatasnya
sumber fasilitas dan perlengkapan.
Kegiatan pengembangan kurikulum yang dilakukan staf atau kelompok guru lebih mengandung
banyak keuntungan, antara lain terjadinya pertukarang pengalaman, lebih banyak keterampilan dan
pengetahuan yang disumbangkan. Banyak terjadi pertukaran gagasan-gagasan yang memperkaya
usaha pengembangan. Sehingga hasil pengembangan tersebut lebih luas daerah penggunaannya,
paling tidak oleh suatu sekolah. Selain dari itu sumber, fasilitas dan perlengkapan dan unsur
penunjang lainnya lebih banyak. Lagi pula hasil pengembangan akan lebih relevan dan konsisten
dengan kebutuhan siswa dan sekolah secara keseluruhan. Kegiatan pengembangan kurikulum yang
dilaksanakan melalui “Pusat Guru” mengandung daerah pemakaian yang lebih luas, kendatipun
dibatasi oleh pengembangan dalam bidang-bidnag studi saja. Tetapi dalam pusat guru akan
mendapatkan bantuan/bimbingan dari ahli dalam bidang-bidang yang diperlukan, lebih banyak
material dan sumber-sumber penunjang yang dibutuhkan. Dalam kesempatan ini guru dapat
berdiskusi secara lebih bebas dan terbuka karena tidak ada ikatan yang bersifat hierarkis (misalnya
kontrol dari kepala sekolah).
Kegiatan kurikulum di tingkat nasional tentu saja lebih banyak memiliki keuntungan jika
dibandingkan dengan usaha pengembangan dan kondisi-kondisi lainnya. Oleh sebab itu, di samping
lebih banyak tenaga yang terlibat, lebih banya informasi, gagasan pengembangan lebih mantap.
Gagasan yang telah dihasilakn oleh suatu regu ahli dan berpengalangan disebarluaskan pada
beberapa sekolah dan diujicobakan. Selanjutnya dikembalikan ke proyek nasional dengan sejumlah
komentar. Uji coba dapat dilakukan bebreapa kali agar memiliki relevansi dan konsistensi yang tinggi.
Setelah itu baru dipublikasikan yang dilaksanakan pada semua sekolah yang sesuai dengan kurikulum
tersebut. Jadi pengembangan nasional pada dasarnya lebih rasional dan mengikuti proses
sebagaimana yang diharapkan dalam pengembangan kurikulum. Kendatipun pengembangan nasional
memang baik, namun akan lebih relevan dengan pendekatan daerah. Dalam kerangka pelaksanaan
kombinasi antara pendekatan itulah maka dewasa ini sudah mulai dirintis secara nasional “muatan
lokal”.

Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum


Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang merangkum semua penalaman belajar yang
disediaka bagi siswa di sekolah. Dalam kurikulum integrasi filsafat, nilai-nilai, pengetahuan, dan
perbuatan pendidikan. Kurikulum disusun oleh para ahli pendidikan/ ahli kurikulum, ahli bidang ilmu,
pendidik, pejabat pendidik, pengusaha serta unsur-unsur masyarakat lainnya. Rancangan ini disusun
dengan maksud memberi pedoman pada pelaksana pendidikan, dalam proses pembibingan
perkembangan siswa, mecapai tujuan yang dicita-citakan siswa sendiri, keluarga, maupun
masyarakat.
Kelas merupakan tempat untuk melaksanakan dna menguji kurikulum. Di sana smeua konsep,
prinsip, nilai, pengetahuan, metode, alata dan kemampuan guru diuji dalam bentuk perbuatan, yang
akan mewujudkan bentuk kurikulum yang nyata dan hidup. Perwujudan konsep, prinsip, dan aspek-
aspek kurikulum tersebut seluruhnya terletak pada guru. Oleh karena itu, gurulah pemegang kunci
pelaksanaan dan keberhasilan kurikulum. Dialah sebenarnya perencana, pelaksana, penilai, dan
pengembang kurikulum sesungguhnya. Suatu kurikulum diharapkan memberikan landasan, isi dan
menjadi pedoman bagi pengembangan kemampuan siswa secara optimal sesuai dengan tuntutan dan
tantangan perkembangan masyarakat.
1. Prinsip-prinsip umum
Ada beberapa prinsip umum dalam mengembangkan kurikulum. Pertama, prinsip relevansi. Ada dua
relevansi yang harus dimiliki kurikulum, yaitu relevansi ke luar, dan relevansi di dalam kurikulum itu
sendiri, relevansi ke luar maksudnya tujuan, isi dna proses belajar yang tercakup dalam kurikulum
hendaknya relevan dengan tuntutan, kebutuhan dan perkembangan masyarakat. Kurikulum
menyiapkan siswa untuk bisa hidup dan bekerja dalam masyarakat. Apa yang tertuang dalam
kurikulum hendaknya mempersiapkan siswa dalam untuk tugas tersebut. Kurikulum bukan hanya
menyiapkan anak untuk kehidupannya sekarang tetapi juga yang kana datang. Kurikulum juga harus
memiliki relevansi di dalam yaitu ada kesesuaian atau konsistensi antara komponen-komponen
kurikulum, yaitu antara tujuan, isi, proses penyampaian dan penilaian. Relevansi internal ini
menunjukkan suatu keterpaduan kurikulum.
Prinsip kedua adalah fleksibilitas, kurikulum hendaknnya memilih sifat lentur atau fleksibel.
Kurikulum mempersiapkan anak untuk kehidupan sekarang dan yang akan datang, di sini dan di
tempat lain, bagi anak yang memiliki latar belakang dan kemampuan yang berbeda. Suatu kurikulum
yang baik adalah kurikulum yang berisi hal-hal yang solid, tetapi dalam pelaksanaannya
memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan kondisi daerah, waktu meupun
kemampuan, dan latar belakang anak.
Prinsip ketiga adalah kontinuitas yaitu kesinambungan. Perkembangan dna proses belajar anak
berlangsung secara berkesinambungan dan terus-menerus, tidak terputus-putus atau berhenti. Oleh
karena itu, pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum juga hendaknya
berkesinambungan antara satu tingkat kelas, dengan kelas lainnya, antara satu jenjang oendidikan
dnegan jenjang pendidikan lainnya, juga antara jenjang pendidikan dengan pekerjaan. Pengembangan
kurikulum perlu dilakukan serempak bersama-sama, perlu selalu ada komunikasi dan kerja sama
antara para pengembang kurikulum sekolah dasar, SMP, SMA dan perguruan tinggi.
Prinsip keempat adalah praktis, mudah dilaksanakan, menggunakan alat-alat sederhana dan
biayanya juga murah. Prinsip ini juga disebut prinsip efisiensi. Betapapun bagus dan idealnya suatu
kurikulum kalau menuntut keahlian-keahlian dan peralatan yang snagat khusus dan mahal pula
biayanya, maka kurikulum tersebut tidak praktis dan sukar dilaksanakan. Kurikulum dan pendidikan
selalu dilaksanakan dalam keterbatasan-keterbatasan, baik keterbatasna waktu, biaya, alat, maupun
personalia. Kurikulum bukan hanya harus ideal tetapi juga praktis.
Prinsip kelima adalah efektivitas. Walaupun kurikulum tersebut harus murah, sederhana, dan
biayanya juga murah tetapi keberhasilannya tetap harus diperhatikan. Keberhasilan pelaksanaan
kurikulum ini baik secara kuantitas maupun kualitas. Pengembangan suatu kurikulum tidak dapat
dilepaskan dan merupakan penjabaran dari perencanaan pendidikan. Perencanaan di bidang
pendidikan juga merupakan bagian yang dijabarkan dari kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah di
bidang pendidikan. Keberhasilan kurikulum akan akan mempengaruhi keberhasilan pendidikan.