Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PRAKTIKUM

MEKANIA FLUIDA

Disusun oleh:

Nama : Samuel Yedijah Liem


NIM : 011800026
Jurusan : Teknokimia Nuklir
Kelompok :A
Acara : Pengadukan
Asisten : Harum Azizah Darojati, M.Sc

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR


BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL
YOGYAKARTA
2019
PENGADUKAN
(AGITATION)

I. Tujuan
1. Mengetahui pengaruh waktu terhadap kecepatan pelarutan.
2. Mengetahui pengaruh kecepatan pengadukan terhadap kecepatan pelarutan.
3. Mengetahui pengaruh kecepatan pengadukan terhadap daya pengadukan.
4. Menentukan desain tangki pengadukan berdasarkan ketetapan.

II. Dasar Teori


Pengadukan (agitation) berbeda dengan penyampuran (mixing). Pengadukan
menunjukkan gerakan yang terinduksi menurut cara tertentu pada suatu bahan di dalam
bejana dengan gerakan berpola sirkulasi. Sedangkan pencampuran adalah peristiwa
menyebarnya bahan-bahan secara acak, bahan yang satu menyebar ke dalam bahan
yang lain sedangkan bahan-bahan tersebut sebelumnya terpisah dalam dua fase atau
lebih.
Pengadukan zat cair dilakukan untuk berbagai maksud bergantung dari tujuan
langkah pengolahan itu sendiri. Tujuan pengadukan antara lain adalah :
 Untuk membuat suspensi partikel zat padat.
 Untuk meramu zat cair yang mampu campur (miscible).
 Untuk menyebarkan (dispersi) gas dalam zat cair dalam bentuk gelembung-
gelembung kecil.
 Untuk menyebarkan zat cair yang tidak dapat bercampur dengan zat cair yang lain
sehingga membentuk emulsi atau suspensi butiran-butiran halus.
 Untuk mempercepat perpindahan kalor antara zat cair dengan kumparan atau mantel
pemanas.
Alat Pengadukan
Pengaduk berfungsi untuk menggerakkan bahan (cair, cair/padat, cair,cair/gas,
cair/padat/gas) di dalam bejana pengaduk. Biasanya yang berlangsung adalah gerakan
turbulen (misalnya untuk melaksanakan reaksi kimia, proses pertukaran panas, proses
pelarutan). Alat pengaduk terdiri atas sumbu pengaduk dan strip pengaduk yang
dirangkai menjadi satu kesatuan atau dapat dipisah-pisah menjadi 2-3 bagian pengaduk
yang dapat dipisah-pisahkan juga dapat dibongkar pasang didalam satu unit tangki
pengaduk.
Alat pengadukan biasanya terdiri dari :
a. Tangki atau bejana
Biasanya berbentuk silinder dengan sumbu terpasang vertikal dan ujung
bawah tangki dibuat melingkar agar tidak terlalu banyak daerah yang sulit ditembus
arus zat cair.
b. Impeler.
Ada dua macam impeler pengaduk, yaitu impeler dengan untuk
membangkitkan arus sejajar dengan sumbu poros impeler, dan impeler untuk
membangkitkan arus pada arah tangensial atau radial.
c. Propeler
Merupakan impeler dengan aliran aksial berkecepatan tinggi untuk zat cair
dengan viskositas rendah. Propeller kecil biasanya berputar pada kecepatan motor
penuh. Arus yang meninggalkan propeller mengalir melalu zat menurut arah tertentu
dan sampai di belokkan oleh lantai dinding bejana. Propeller biasanya digunakan
bila kita menghendaki adanya arus yang kuat, umpamanya kita hendak menjaga agar
partikel-partikel zat padat yang berada dalam suspense. Propeler kecil biasanya
berputar pada kecepatan motor penuh, yaitu 1.150 atau 1.750 put/min, sedangkan
propeller besar berputar pada 400 sampai 800 put/min. Arus yang meninggalkan
propeler mengalir melalui zat cair menurut arah tertentu sampai di belokkan oleh
lantai atau dinding bejana.
d. Turbin
Kebanyakan turbin menyerupai agitator berdaun banyak dengan daun-daun
yang agak pendek dan berputar pada kecepatan tinggi pada suatu poros yang
dipasang pada pusat bejana. Daun-daun boleh lurus dan boleh juga lengkung, sudut
vertikal. Impellernya mungkin terbuka, setengah terbuka atau terselubung. Diameter
impellernya biasanya lebih kecil dari diameter dayung yaitu berkisar antara 30
sampai 50 persen dari diameter bejana. Turbin biasanya efektif untuk jangkauan
viskositas cukup luas. Pada cairan berviskositas rendah turbin itu menimbulkan arus
yang sangat deras yang berlangsung pada keseluruhan bejana. (McCabe, Operasi
Teknik Kimia jilid 1. Erlangga, Jakarta. 1991)
e. Dayung.
Untuk keperluan sederhana, alat pengendapan yang terdiri dari satu dayung
datar yang berputar pada poros vertikal merupakan pengaduk yang cukup efektif.
Dayung ini berputar di tengah bejana dengan kecepatan rendah sampai sedang, dan
mendorong zat cair secara radial dan tangensial, hampir tanpa adanya gerakan
vertikal pada impeler kecuali bila daunnya dibuat agak miring.

Menurut aliran yang dihasilkan pengaduk dapat dibagi menjadi 3 golongan:


1. Pengaduk aliran aksial
Pengaduk ini akan menimbulkan arus atau aliran yang sejajar dengan sumbu
poros pengaduk.
2. Pengaduk aliran radial
Pengaduk ini akan menimbulkan aliran yang mempunyai arah tangensial dan
radial terhadap bidang rotasi pengaduk. Komponen aliran tangensial akan
menyebabkan timbulnya vorteks dan terjadinya suatu pusaran tetapi dapat
dihilangkan dengan pemasangan buffle atau cruciform buffle.
3. Pengaduk aliran campuran
Pengaduk ini merupakan gabungan dari dua jenis pengaduk diatas. Untuk
tugas-tugas sederhana, agitator yang terdiri dari satu dayung datar yang berputar
pada poros vertikal merupakan pengaduk yang cukup efektif. Kadang-kadang daun-
daunnya di buat miring, tetapi biasanya vertikal saja. Dayung ini berputar di tengah
bejana dengan kecepatan rendah sampai sedang dan mendorong zat cair secara radial
dan tangensial, hampir tanpa adanya gerakan vertikal pada impeler, kecuali bila
daunnya agak miring.

Gambar Proses pengadukan pada suatu tangki industri


Jenis-jenis Pengaduk
Secara umum, terdapat tiga jenis pengaduk yang biasa digunakan secara umum,
yaitu pengaduk baling – baling , pengaduk turbin, pengaduk dayung, dan pengaduk Helical
– Ribbon.
a. Pengaduk jenis baling-baling (propeller)
Ada beberapa jenis pengaduk yang biasa digunakan. Salah satunya adalah
baling-baling berdaun tiga.

Gambar Pengaduk jenis Baling-baling (a), Daun Dipertajam (b), Baling-baling kapal (c)
Baling-baling ini digunakan  pada kecepatan berkisar antara 400 hingga 1750
rpm (revolutions per minute) dan digunakan untuk cairan dengan viskositas rendah.
b. Pengaduk Dayung (Paddle)
Berbagai jenis pengaduk dayung biasanya digunakan pada kesepatan rendah
diantaranya 20 hingga 200 rpm. Dayung datar berdaun dua atau empat biasa
digunakan dalam sebuah proses pengadukan. Panjang total dari pengadukan dayung
biasanya 60 - 80% dari diameter tangki dan lebar dari daunnya 1/6 - 1/10 dari
panjangnya.

Gambar Pengaduk Jenis Dayung (Paddle) berdaun dua

Pengaduk dayung menjadi tidak efektif untuk suspensi padatan, karena aliran
radial bisa terbentuk namun aliran aksial dan vertikal menjadi kecil. Sebuah dayung
jangkar atau pagar, yang terlihat pada gambar 6 biasa digunakan dalam pengadukan.
Jenis ini menyapu dan mengeruk dinding tangki dan kadang-kadang bagian bawah
tangki. Jenis ini digunakan pada cairan kental dimana endapan pada dinding dapat
terbentuk dan juga digunakan untuk meningkatkan transfer panas dari dan ke
dinding tangki. Bagaimanapun jenis ini adalah pencampuran yang buruk. Pengaduk
dayung sering digunakan untuk proses pembuatan pasn kanji, cat, bahan perekat dan
kosmetik.
c. Pengaduk Turbin
Pengaduk turbin adalah pengaduk dayung yang memiliki banyak daun
pengaduk dan berukuran lebih pendek, digunakan pada kecepatan tinggi untuk
cairan dengan rentang kekentalan yang sangat luas. Diameter dari sebuah turbin
biasanya antara 30 - 50% dari diamter tangki. Turbin biasanya memiliki empat atau
enam daun pengaduk. Turbin dengan daun yang datar memberikan aliran yang
radial. Jenis ini juga berguna untuk dispersi gas yang baik, gas akan dialirkan dari
bagian bawah pengadukdan akan menuju ke bagian daun pengaduk lalu tepotong-
potong menjadi gelembung gas.

Gambar Pengaduk Turbin pada bagian variasi.


Pada turbin dengan daun yang dibuat miring sebesar 45o, seperti yang terlihat
pada gambar 8, beberapa aliran aksial akan terbentuk sehingga sebuah kombinasi
dari aliran aksial dan radial akan terbentuk. Jenis ini berguna dalam suspensi padatan
kerena aliran langsung ke bawah dan akan menyapu padatan ke atas. Terkadang
sebuah turbin dengan hanya empat daun miring digunakan dalam suspensi padat.
Pengaduk dengan aliran aksial menghasilkan pergerakan fluida yang lebih besar dan
pencampuran per satuan daya dan sangat berguna dalam suspensi padatan.

Gambar Pengaduk Turbin Baling-baling.


d. Pengaduk Helical-Ribbon
Jenis pengaduk ini digunakan pada larutan pada kekentalan yang tinggi dan
beroperasi pada rpm yang rendah pada bagian laminer. Ribbon (bentuk seperti pita)
dibentuk dalam sebuah bagian helical (bentuknya seperti baling-balling helicopter
dan ditempelkan ke pusat sumbu pengaduk). Cairan bergerak dalam sebuah bagian
aliran berliku-liku pada bagiam bawah dan naik ke bagian atas pengaduk.

Gambar Pengaduk Jenis (a), (b) & (c) Hellical-Ribbon, (d) Semi-Spiral

Daya Pengadukan
Pada proses pengadukan terjadi gerakan relatif antara zat pada (pengaduk) dengan
fluida (zat cair yang diaduk). Gaya gesekan yang terjadi dapat dinyatakan dalam
persamaan aliran fluida sebagai berikut :
2
f' ρ A v
FR' =
2 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (1)
Dengan :
FR’ : gaya gesek pada proses pengadukan
f' : faktor friksi
 : densitas larutan
A : luas permukaan impeller
v2 : kecepatan putar impeller
Diketahui bahwa kecepatan putar impeller (v2) adalah hasil kali antara jari-jari
impeller pengaduk (r) dengan kecepatan sudut (), dengan demikian Persamaan-1
dapat ditulis sebagai :
2 2
f' ρ A r ω
FR' =
2 .................................... (2)
Momen (T) yang bekerja pada impeller dari pengaduk merupakan hasil kali gaya
yang bekerja dengan jarak dari pusat.
' 3 2
T = fi ρ A r ω ...................................... (3)
f'
f 'i =
dengan 2
Untuk bentuk impeller yang sudah tertentu, luas perpukaan A dapat dinyatakan
dengan hasil kali antara suatu tetapan dengan kuadrat jari-jari :
} } ``ρ``r rSup { size 8{5} } ``ω rSup { size 8{2} } } { ¿¿
T = fi ¿ ........................................ (4)
Sedangkan daya (P) yang diperlukan pada pengadukan dinyatakan dalam
persamaan berikut :
} } ``ρ``r rSup { size 8{5} } ``ω rSup { size 8{3} } } { ¿¿
P = fi ¿ ........................................ (5)
fi" merupakan fungsi Bilangan Reynold (NRe), dengan :
2
ωr ρ
N Re=
μ ......................................... (6)
Untuk memudahkan perhitungan, digunakan data  diganti dengan putaran per
detik (n) dan r diganti diameter impeller (Di), sehingga Persamaan-6 menjadi :
2
n D ρ
N Re=
μ ......................................... (7)
Karena fi” merupakan fungsi NRe maka dapat dinyatakan dalam lambang  yang
disebut Power Number (Po) dan tidak berdimensi. Po dicari dengan grafik hubungan
antara Po dengan NRe, sehingga :
5 3
P = Φ ρ Di n ........................................ (8)
III. ALAT DAN BAHAN

Alat yang digunakan


a. Pompa pengaduk yang dapat diatur kecepatannya
b. Tangki pengaduk
c. Batang pengaduk (impeller)
d. Piknometer
e. Stop watch
f. Viskosimeter
g. Neraca analitik
h. Gelas beaker
i. Gelas ukur
j. Batang pengaduk kaca
k. Kaca arloji
1
2
Keterangan :
Statif
Motor pengaduk
Impeller
Tangki
pengadukan
Baffle
4
5

Gambar Rangkaian Alat Pengadukan Mekanik


Bahan yang digunakan
 Air (aquadest) atau pelarut lainnya
 Sampel padat/cair (garam, gula, tepung, dsb)

IV. METODE KERJA


Metode Pengadukan Manual
a. Mengukur dimensi tangki pengadukan.
b. Mengukur densitas dan viskostas air kran.
c. Memasukkan air kran ke dalam gelas beaker.
d. Sampel sejumlah tertentu dimasukkan ke dalam gelas beaker yang telah diisi air
kemudian diaduk hingga larut.
e. Mengukur densitas dan viskositas larutan.
f. Sampel kembali ditambahkan ke dalam gelas beaker yang berisi larutan sampel,
kemudian diaduk kembali hingga larut.
g. Mengukur densitas dan viskositas larutan.
h. Langkah e sampai f diulang sampai diperoleh minimal 5 data.
Metode Pengadukan Dengan Rangkaian Alat Pengadukan
a. Mengukur dimensi impeller dan tangki pengadukan.
b. Menyiapkan rangkaian alat pengadukan mekanik.
c. Memasukkan air ke dalam tangki pengaduk hingga keadaan steady state.
d. Pengaduk dijalankan pada kecepatan lambat.
e. Sampel sejumlah tertentu dimasukkan ke dalam tangki pengadukan sampai larut
kemudian diukur debitnya dengan menampung volume air yang keluar.
f. Densitas dan viskositas larutan yang ditampung diukur.
g. Langkah (e) sampai ( f ) diualang sampai diperoleh minimal 5 data.

V. DATA PENGAMATAN
Data Percobaan
Suhu air kran : 29ᵒC
Vol. piknometer : 25 mL
Panjang impeller : 35 cm
Diameter impeller : 8,5 cm
Lebar impeller : 0,8 cm
Diameter tangki : 11 cm
Tinggi tangki : 11,2 cm
Kecepatan pengadukan : 200 rpm
Debit : 11,88 mL/s
Massa piknometer kosong awal : 16,71 gram
Massa piknometer + aquadest : - gram
Massa piknometer + air kran : 41,39 gram
Pengadukan secara manual
No Massa sample dalam tanki (gram) Massa piknometer + larutan (gram)
1 3,0445 40,43
2 6,0875 40,86
3 9,0911 41,51
4 12,1373 41,57
5 15,1262 41,61

Pengadukan dengan alat

No Massa sample dalam tanki Massa Waktu Volume yang


(gram) piknometer + pengadukan (s) ditampung (mL)
larutan (gram)
1 3,012 41,37 7 28
2 6,076 41,49 13,94 28
3 9,105 41,47 19,28 28
4 12,114 41,56 25,47 34
5 15,121 41,60 32,77 29

Variasi kecepatan pengadukan (tetap)

No Massa sample dalam Massa Kecepatan Waktu Waktu alir


tanki (gram) piknometer pengadukan pengadukan (s)
+ larutan (rpm) (s)
(gram)
1 3,072 41,43 100 51,63 2,23
2 3,012 41,47 200 6,36 2,35
3 3,06 41,53 300 4,33 3,08
4 3,0082 41,55 500 2,10 3,12
5 3,0153 41,57 700 1,3 3,04

VI. PERHITUNGAN
 Volume tanki pengadukan

Rumus = πr2t

= π (5,5 cm)2 x 11,2 cm

=1064,4 cm3

 Grafik hubungan densitas vs konsentrasi pengadukan manual


a. Densitas (gr/mL) :
( massa piknometer +air kran )−(massa piknometer kosong)
volume piknlometer
mg(nutrisari yang ditambahkan)
b. Konsentrasi (ppm) :
L(volume larutan dalam tanki pengadukan)

Dari rumus diatas, didapatkan densitas dan konsentrasi pengadukan manual :

No Konsentrasi (ppm) Densitas (gr/mL)


1 2860,30 0,9488
2 5719,18 0,966
3 8541,06 0,992
4 11402,95 0,9944
5 14211,01 0,996
Sehingga didapat grafik hubungan konsentrasi vs densitas sebagai berikut :

1
f(x) = 4.32768364365054E-06 x + 0.942451720666083
0.99 R² = 0.8500478400675

0.98

0.97
Densitas

0.96

0.95

0.94

0.93

0.92
2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000 16000
konsentrasi

Dari grafik tersebut didapat persamaan Y = 4x10-6X+ 0,9425

 Hubungan waktu terhadap kecepatan pelarutan

Mencari densitas larutan dean pengadukan menggunakan alat :

Densitas (gr/mL) :
( massa piknometer +air kran )−(massa piknometer kosong)
volume piknlometer

Sehingga didapatkan :

No Massa piknometer Massa piknometer Volume Densitas


+ larutan (gram) kosong (gram) piknometer (mL) (gram/mL)
1 40,43 0,9488
2 40,86 0,966
3 41,51 16,71 25 0,992
4 41,57 0,9944
5 41,61 0,996
Dengan memasukan densitas ke persamaan y = 2x10-6χ + 1,1896, didapatkan
konsentrasi :

No Waktu Massa sampel dalam tangki Densitas Konsentrasi


pengadukan (gram) (gram/mL) (ppm)
(s)
1 7 3,012 0,9488 1,57 x 10^-9
2 13,94 6,076 0,966 5,87 x 10^-9
3 19,28 9,105 0,992 1,23 x 10^-8
4 25,47 12,114 0,9944 1,29 x 10^-8
5 32,77 15,121 0,996 1,33 x 10^-8

Massa garam yang larut

 Dalam waktu pengadukan 7 sekon


Massa garam larut (gram) = konsentrasi x volume tangki

= 1,57 x 10^9 ppm x 1064,4 cm3

1,57 x 109 mg
= x 1064,4 mL
1000 mL

= 1,6711 x 10-9 mg

= 1,6711 x 10-12 gram

Dengan menggunakan rumus yang sama, didapatkan massa garam larut tiap waktunya

Waktu pengadukan (s) Konsentrasi (ppm) Massa sampel terlarut (gram)


7 1,57 x 10^-9 1,6711 x 10^-12
13,94 5,87 x 10^-9 6,2480 x 10^-12
19,28 1,23 x 10^-8 1,3092 x 10^-11
25,47 1,29 x 10^-8 1,3731 x 10^-11
32,77 1,33 x 10^-8 1,4157 x 10^-11
Kecepatan Pelarutan

 Dalam waktu pengadukan 7 sekon


massa sampel terlarut (gram)
Kecepatan pelarutan =
waktu pengadukan agar larut (sekon)
−12
1,6711 x 10 gram
=
7 sekon
= 2,3873x10-13 gram/sekon

Dengan menggunakan rumus yang sama, didapatkan kecepatan pelarutan tiap


wakunya

Waktu pengadukan (s) Massa sampel terlarut (gram) Kecepatan pelarutan


(gram/sekon)
7 1,6711 x 10^-12 2,3873 x10-13
13,94 6,2480 x 10^-12 4,4821 x10-13
19,28 1,3092 x 10^-11 6,7905 x10-13
25,47 1,3731 x 10^-11 5,3911 x10-13
32,77 1,4157 x 10^-11 4,3201 x10-13

Dari data diatas, dibuat grafik hubungan waktu pengadukan vs kecepatan pelarutan

grafik hubungan waktu pengadukan vs


kecepatan pelarutan
1.00E-12

8.00E-13
kecepatan pelarutan

6.00E-13 Series2
f(x) = 7.21476577928239E-15 x + 3.25348832274371E-13
Linear (Series2)
4.00E-13 R² = 0.199874099114789

2.00E-13

0.00E+00
5 10 15 20 25 30 35
waktu pengadukan

 Hubungan Kecepatan Pengadukan Terhadap Daya Pengadukan

Suhu aquadest = 29ᵒC


t alir aquadest =2s
Densitas aquadest (suhu 29ᵒC) = 0,995948 g/mL
Viskositas aquadest (suhu 29ᵒC) = 0,00815 g/cm.s
 Mencari viskositas
Percobaan 1 (massa sampel 2,0003 gram)
Waktu alir = 128 sekon
densitas larutan x t alir larutan
µ larutan 1 = x µ aquadest
densitas aquadest x t alir aquadest
gram
0,9488 x 2,23 s
mL
= x 0,00815 g /cm. s
gram
0,995948 x2 s
mL
=0,00866 g/cm.s

Dengan cara yang sama, diperoleh data visositas sebagai berikut

Kecepatan Massa sample Densitas Waktu alir Viskositas


pengadukan dalam tanki (gram/mL) (s) larutan (g/cm.s)
(rpm) (gram)
100 3,072 0,9488 2,23 0,00866
200 3,012 0,966 2,35 0,00929
300 3,06 0,992 3,08 0,01250
500 3,0082 0,9944 3,12 0,01269
700 3,0153 0,996 3,14 0,01280

Kecepatan putaran
100rotasi 1 menit
Kecepatan putaran 100 rpm = x
1 menit 60 sekon
= 1,67 rps

Diameter impeller = 8,5 cm


ηx Dx D x ρ
Bilangan reynold =
µ
1,67 rps x 8,5 cm x 8,5 cm x 0,9488 gram/mL
=
0,00866
= 13219,38
Dari nilai bilangan Reynold di atas dapat ditentukan bahwa pada densitas selanjutnya
aliran selalu turbulen. Jadi aliran yang terjadi berupa aliran turbulen sehingga rumus
3 ρ
daya adalah P=n D N Q (aπnD)2Dengan nilai NQ untuk pengaduk pitched blade-
2 gc
turbine sebesar 0,75
Nilai gc adalah sebesar = 9,81 m/s2
= 981 cm/s2

α =Asumsi kecepatan resultan absolut pada impeller dibanding kecepatan pada ujung
daun impeller.
( 2 n+1 )( 5 n+3 )
α= 2
3 ( 3 n+1 )
Untuk aliran turbulen Newtonian dan non-Newtonian, α=1.0

Sehingga, daya pengadukan untuk kecepatan pengadukan 20 rps adalah

3 ρ 2
P=n D N Q (aπnD)
2 gc

0,9488 g /mL
P=1,67 rps x (8,5 cm)3 x 0,75 x 2
(1 x 3,14 x 1,67 rps x 5 cm)2
2 x 981 cm/s

P=738,9929 watt

Dengan cara yang sama diperoleh daya pengadukan untuk setiap variasi massa sampel
sebagai berikut:

Massa sample dalam tanki


No Daya pengadukan (watt)
(gram)
1 3,072 738,9929
2 3,012 2.007,0520
3 3,06 19.833,5691
4 3,0082 90.724,6159
5 3,0153 252.175,8127
 Merancang Desain Tanki Pengadukan
Asumsi :
Konsentrasi = 12,247%
Debit = 200 L/menit
Free Board = 8,569%
Volume = 500 mL
a) Penentuan Waktu Tinggal
Dari data perhitungan dibuat hubungan antara waktu dengan konsentrasi larutan.

Waktu (s) Konsentrasi (ppm)


7 1,57 x 10^-9
13,94 5,87 x 10^-9
19,28 1,23 x 10^-8
25,47 1,29 x 10^-8
32,77 1,33 x 10^-8

Dari data diatas, didapatkan hubungan waktu pengadukan dengan konsentrasi sampel

grafik hubungan waktu


pengadukan vs konsentrasi larutan
1.90E-08
1.70E-08
1.50E-08
konsentrasi (ppm)

f(x) = 4.75761400022891E-10 x − 1.80693489250766E-10


1.30E-08 R² = 0.824924921217357
1.10E-08
9.00E-09
7.00E-09
5.00E-09
3.00E-09
1.00E-09
5 10 15 20 25 30 35
waktu pengadukan (s)

Grafik tersebut menunjukan Y = 5x10-10X – 2x10-10

Dengan asumsi konsentrasi 12,247 %, maka dengan memasukan ke persamaan grafik


tersebut, didapatkan waktu tinggalnya (χ)

Y = 5x10-10X – 2x10-10

0,12247 = 5x10-10X – 2x10-10

0,12247 + 2x10-10 = 5x10-10X

0,1224700002 = 5x10-10X

Χ = 244.940.000,4 sekon = 4.082.333,34 menit

b) Volume Tangki Pengadukan


Pada desain ini diberikan asumsi untuk faktor keamanan sebesar 8,569%
V =Q x t tinggal x FB
¿ 200 L/menit x 4.082.333,34 menit x 0,08569
¿ 69.963 .028,78092 L
3
¿ 69.963 .028,78092dm

c) Dimensi Tangki

Kriteria menurut buku Unit Operation Of Chemical Engineering 4th Edition adalah
sebagai berikut,

Da 1 H J 1
= =1 =
Dt 3 Dt D t 12
E W 1 L 1
=1 = =
Da Da 5 Da 4

Pada bentuk,

H
=1 ; Dt=H , maka
Dt

1 2
V tangki= π D h
4
1
69.963 .028,78 dm3 = x 3,14 x h2 x h
4

3
3 69.963 .028,78 dm x 4
h=
3,14

h=√ 89.124 .877,43 dm


3 3

h=446,68 dm

h=44,668 m

D=h

Dt =44,668 m

Sehingga dapat dihitung data selanjutnya, yaitu

Diameter Impeller (Da) = 1/3 x Diameter Tangki (Dt)

= 1/3 x44,668 m

= 14,889 m

Jumlah Daun Impeller =4

Panjang Daun Impeller = 1/4 x Da

= 1/4 x 14,889m

= 3,72225 m

Lebar Daun Impeller = 1/5 x Da

= 1/5 x 14,889 m

= 2,9778 m

Ketinggian impeller = Diameter Impeller (Da)

= 14,889 m

Jumlah Baffle = 4 (untuk menghindari vortex)

Tinggi Baffle = 2 x Da

= 2 x 14,889 m
= 29,778 m

Tinggi Baffle Dari Bawah = 1/2 x Da

= 1/2 x 14,889 m

= 7,4445 m

Lebar Baffle = 1/12 x Dt

= 1/12 x 44,668 m

= 3,7223 m

Catatan :

Untuk menghindari vortex maka :

1. Baffle harus berada pada dinding reaktor

2. Posisi impeller harus tepat ditengah reaktor

Syarat desain baffle :


1. Jika terjadi putaran aliran yang laminer maka tidak perlu menggunakan
baffle

2. Pemasangan 4 baffle dengan sudut 90°

3. Lebar baffle adalah 10 % - 20 % dari diameter reaktor

4. Tinggi baffle adalah 2 kali tinggi impeller

VII. PEMBAHASAN

Pengadukan merupakan suatu aktivitas operasi pencampuran dua atau lebih zat agar
diperoleh hasil campuran yang homogen. Pada praktikum ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh waktu terhadap kecepatan pelarutan, pengaruh kecepatan pengadukan terhadap
kecepatan pelarutan, dan pengaruh kecepatan pengadukan terhadap daya pengadukan. Dalam
praktikum ini juga dilakukan percobaan yang bertujuan untuk merancang desain tangki
pengadukan dengan asumsi debit 200 L/menit dan konsentrasi hasil keluaran 12,247%.

Sebelum melakukan pengadukan dengan menggunakan alat(mekanik), dilakukan


pengadukan secara manual dalam gelas beaker 1000mL, dengan menyamakan volume air
yang steady state di tanki pengaduk. Tujuan pengadukan manual karena pada pengadukan
dengan alat dilakukan dengan waktu tertentu, maka larutan dalam tangki tidak dapat
dipastikan larut secara sempurna. Oleh karena itu, untuk mengetahui konsentrasinya
digunakan kurva kalibrasi pada pengadukan manual. Pada pengadukan manual dilakukan
dengan penambahan massa garam dalam interval tertentu dalam volume yang sudah
ditentukan, sehingga konsentrasi dari garam akan semakin tinggi yang nantinya akan
didapatkan persamaan hubungan antara densitas dengan konsentrasi. Pada percobaan ini
diperoleh persamaan y = 2x10-6χ+ 1,1896. Grafik kurang begitu maksimal. Ini disebabkan
karena tumpahnya beberapa cairan larutan saat praktikan melakukan pengadukan dan
menguji densitas larutan tersebut.

Percobaan selanjutnya, dilakukan pengadukan dengan mesin, untuk menentukan


hubungan waktu pengadukan dengan kecepatan pelarutan. Dari data yang diperoleh
menunjukkan bahwa semakin lama waktu maka kecepatan pelarutan akan semakin tinggi.
Hal ini terjadi karena konsentrasi yang diperoleh bernilai negatif, artinya pada waktu
pengadukan selama 15 detik, sudah tidak ada garam yang tersisa dalam tangki akibat
melebihi waktu tinggalnya begitu juga setiap beberapa interval waktu selanjutnya dengan
penambahan garam sebanyak ~ 3 gram, sehingga larutan tidak mengalami tepat jenuh.
Sehingga semakin lama waktu, semakin banyak garam yang dapat larut sebelum ikut keluar
tangki. Hasil tersebut berbanding terbalik dengan teori yang seharusnya semakin lama
semakin rendah juga kecepatan pelarutan karena pada saat waktu masih rendah, konsentrasi
garam dalam air juga masih rendah sehingga mudah larut,semua itu berkaitan dengan nilai
hasil kali kelarutan (Ksp), karena apabila Ksp rendah maka ionion dan jumlah garam yang
berada didalam larutan jumlahnya masih sedikit sehingga mudah mengalami pelarutan
berbanding terbalik apabila Ksp dalam keadaan tinggi, sehingga pada titik tertentu akan
diperoleh kecepatan pelarutan yang semakin rendah dan pada akhirnya mengalami steady
state yaitu larutan berada pada tepat jenuh sehingga garam sudah tidak dapat larut lagi. Selain
itu, ini terjadi karena tanki yang digunakan oleh praktikan tidak steady state, dikarenakan
kebocoran pada dinding tanki serata sambungan selang pada over flow-nya.

Percobaan kedua yaitu menentukan pengaruh kecepatan pengadukan terhadap


daya pengadukan. Variasi kecepatan pengadukan bisa memberikan gambaran mengenai
pola aliran yang dihasilkan serta daya pengadukan yang dibutuhkan. Maka dari itu,
dilakukan perhitungan untuk membuat grafik hubungan kecepatan pengadukan dengan
daya pengadukan. Daya pengadukan adalah daya yang dibutuhkan oleh impeller
(pengaduk) untuk berputar. Kecepatan pengadukan dibuat dalam satuan rotation per
second (rps). Sedangkan untuk mengetahui daya pengadukan, terlebih dahulu harus
ditentukan bilangan Reynold sehingga daya pengadukan dapat dihitung dengan rumus
yang sesuai dengan jenis aliran yang terjadi. Percobaan ini seharusnya praktikan
memvariasikan 5 kecepatan pengadukan yakni 100; 200; 300; 500; dan 700 rpm. Hasil
Data yang diperoleh saat kecepatan pengadukan divariasikan menunjukan daya yang
dihasilkan berbeda- beda. Namun bukan karena variasi kecepatannya, melainkan variasi
massa sampelnya. Sehingga, tujuan percobaan penentuan pengaruh kecepatan pengadukan
terhadap daya pengadukan tidak tercapai. Secara teori, kecepatan pengadukan dan daya
pengadukan berbanding lurus, yaitu semakin besar kecepatan pengadukan maka daya
pengadukan juga akan semakin besar. Jika dihubungkan dengan hasil pembahasan
sebelumnya mengenai kecepatan pelarutan, hal tersebut terjadi karena semakin banyak
massa garam yang terlarut menyebabkan densitas semakin besar pula, maka perlu
dilakukan optimasi dalam melakukan pengadukan agar diperoleh kecepatan pelarutan
yang optimum agar daya yang dikeluarkan bisa ditekan seoptimal mungkin.
Desain tangki yang dibuat berdasarkan asumsi ketentuan yaitu konsentrasi zat terlarut
sebesar 12,247% dengan debit 200 L/menit dan kapasitas tangki atau faktor keamanan
sebesar 8,569%. Desain yang dibuat meliputi waktu tinggal, volume tangki pengadukan,
dimensi tangki dan dimensi impeller ( pengaduk ). Dari percobaan didapatkan grafik
hubungan waktu pengadukan dan konsentrasi . Berdasarkan grafik tersebut didapatkan
persamaan y = 5x10-10X – 2x10-10. Persamaan ini kemudian digunakan untuk menghitung
waktu tinggal dengan cara mengganti fungsi y dengan nilai konsentrasi zat terlarut yang
diasumsikan yaitu 12,247%. Berdasarkan perhitungan didapatkan waktu tinggal yaitu
selama 4.082.333,34 menit. Dimensi tangki didapatkan berdasarkan nilai kapasitas tangki
yaitu 8,569%. Berdasarkan perhitungan, volume dari bak tangki sebesar
69.963 .028,78092 L. Selanjutnya perhitungan dimensi tangki berdasarakan literatur buku
Unit Operation Of Chemical Engineering 4th Edition Brown. Berdasarkan perhitungan,
dimensi tangki diperoleh diameter tangki ( D t ¿ 44,668 m , diameter impeller( D a ¿ 14,889 m
dengan jumlah impeller 4 buah, panjang daun impeller 3,72225 m, lebar daun impeller
2,9778 m, tinggi impeller 14,889 m.
Karena impeller menghasilkan putaran yang tinggi sehingga sangat mungkin
terbentuknya aliran turbulen yang ditandai dengan adanya vortex, tentu saja hal ini tidak
diinginkan karena akan merusak larutan yang akan diaduk, sehingga diperlukan baffle
untuk memecah aliran turbulen dengan jumlah 3 atau 4 buah. Karena volume tanki besar,
maka dibutuhkan 4 buah baffle yang terpasang. Dari perhitungan didapatkan tinggi baffle
29,778 m, tinggi baffle dari bawah 7,4445 m dan lebar baffle 3,7223 m.

VIII. KESIMPULAN
1. Hubungan antara waktu pengadukan terhadap kecepatan pelarutan yang didapat
adalah semakin lama waktu semakin tinggi kecepatan pelarutannya, hal ini
berbanding terbalik dengan teori yang seharusnya semakin lama semakin rendah
kecepatan pelarutannya.
2. Hubungan antara kecepatan pengadukan terhadap kecepatan pelarutan yaitu kecepatan
pengadukan tidak tercapai. Hal ini terjadi karena tidak divariasikanya kecepatan
pengadukan, karena adanya kebocoran tanki.
3. Hubungan antara kecepatan pengadukan terhadap daya pengadukan tidak tercapai.
Hal ini terjadi karena tidak divariasikanya kecepatan pengadukan, karena adanya
kebocoran tanki.
4. Desain tangki berdasarkan ketetapan dengan asumsi konsentrasi garam 12,347% dan
debit 200 L/menit dengan free board sebesar 8,569%.
Diperoleh kriteria desain tangki pengaduk seperti berikut :
a) Waktu tinggal = 4.082.333,34 menit
b) Volume tangki pengadukan = 69.963 .028,78092L
c) Diameter tangki = 44,668 m
d) Diameter Impeller = 14,889 m
e) Jumlah Daun Impeller = 4 buah
f) Panjang Daun Impeller = 3,72225 m
g) Lebar Daun Impeller = 2,9778 m
h) Tinggi impeller = 14,889 m
i) Jumlah Baffle = 4 buah
j) Tinggi Baffle dari bawah = 7,4445 m
k) Tinggi Baffle = 29,778 m
l) Lebar Baffle = 3,7223 m

IX. DAFTAR PUSTAKA

Brown GG, Unit Operations, John Wiley & Sons, Inc., New York.

Christie_J._Geankoplis_Transport_processes_and_u(BookFi)

Churniawan,Aditya Dani.2006.perencanaan turbin crossflow dengan Head 10 M dan


diameter penstok 4 in. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh
Nopember.

Darojati, Harum Azizah. 2019. Petunjuk Praktikum Pengadukan. Yogyakarta : STTN-


BATAN.

McCabe WL, et all., alih bahasa oleh Jasjfi E., 1991, Operasi Teknik Kimia, Jilid 1, Edisi
Keempat. Erlangga, Jakarta.

Perry R. H., Green D., Perry’s Chemical Engineer’s Hand Book, Second Edition, 1988,
McGraw-Hill, Tokyo.

Perry R. H., Green D., Perry’s Chemical Engineer’s Hand Book, Sixth Edition, 1988,
McGraw-Hill, Tokyo.

Widodo, Edi. 2015. Pengaruh Konsentrasi Garam Terhadap Karakteristik Aliran Dua Fase
Gas dan Air. Sidoarjo : Universitas Muhammadiyah.
Yogyakarta, 17 Oktober 2019

Pembimbing, Praktikan,

Harum Azizah Darojati, M.Sc Muhamad Irvan Haryanto

Anda mungkin juga menyukai