Anda di halaman 1dari 5

Yang dimaksud field instrument adalah sensor dan actuator. A.

Sensor : Output dari sensor yang masuk ke input module ada beberapa jenis yaitu : 1. Digital (high/low) yang dimaksud "high" tak beda jauh dengan kalau kita pakai di microcontroller high= 5 V tetapi kalau di sini tidak hanya 5 V tetapi bisa berbagai jenis misalnya 24 V, 110 V, 220 V atau hanya berupa dry contact (contact dari relay close/open) . 2. Analog (4-20mA, 0-10V atau dengan range tegangan yang lain). Sekarang ini yang banya dipakai adalah yang 4..20 mA karena outputnya tidak terpengaruh resistansi kabel selama R kabel tidak lebih dari batas maximum yang ditentukan dari pabrik device tersebut. Untuk menjamin keakuratan dari pembacaan biasanya kita perlu melakukan kalibrasi secara rutin. Kalibrasi dilakukan setiap 1 bulan atau 1 tahun sekali tergantung karakter device, yaitu seberapa lama error-nya berubah menjadi besar. Kalau metrologi biasanya 1 tahun sekali. Dan jangan lupa kalau kalibrator yang kita punya juga perlu dikalibrasi di metrologi setiap 1 tahun sekali. Penjelasan mengenai cara kalibrasi akan kita ulas besuk.

Transmitter yang banyak digunakan di industri adalah yang outputnya 4 to 20 mA. Transmitter ini ada yang dilengkapi HART (Highway Addressable Remote Transmitter) communication protocol sehingga dapat dihubungkan dengan Communicator untuk kalibrasi. Sedangkan transmitter yang tidak dilengkapi HART communication dapat dikalibrasi melalui tombol yang tersedia (tombol ZERO dan SPAN). Variable yang berhubungan dengan kalibrasi antara lain : a. ZERO : nilai nol dari pembacaan dengan output 4 mA. Tetapi jika kita pakai HART communicator, selain zero terdapat lower setting dimana zero = pembacaan nol dan lower = pembacaan dimana outputnya 4 mA (dalam hal ini lower bisa kita setting sama dengan zero). b. SPAN : nilai maksimum pembacaan dengan output 20 mA (kadang disebut upper setting). c. ERROR : error ada 3 macam yaitu "of rate", "full scale", dan "of span". jika kita menyebut error = 1% of rate berarti setiap pembacaan memiliki error sebesar 1% dari pembacaan saat itu. Sedangkan jika disebut 1% full scale, maka jika skala maksimum dari alat itu adalah 50 bar maka error pembacaannya sebesar 1% dari 50 bar untuk setiap nilai pembacaan. Jika disebutkan 1% of span maka jika range pembacaannya 10 bar sampai 40 bar berarti error pembacaan sebesar 1% dari 30 bar (40-10). Kalibrasi bertujuan untuk mendapatkan nilai pembacaan yang akurat dengan nilai error sekecil-kecilnya. Besarnya error yang diijinkan tergantung dari tiaptiap alat yang dikalibrasi. Dan jika errornya melebihi batas maksimum dan sudah tidak dapat dikalibrasi lagi maka transmitter tersebut tidak layak dipakai.

Untuk mengkalibrasi kita memerlukan HART Communicator (untuk transmitter yang ada HART), Ampere meter sudah terkalibrasi oleh metrologi (yang bisa membaca 20 mA), pressure injector (untuk kalibrasi pressure transmitter), temperature calibrator (untuk kalibrasi temperature calibrator), power supply, R 250 ohm. Wiring system untuk kalibrasi adalah sebagai berikut : Kita rangkai secara seri power supply, ampere meter, R 250 ohm (diperlukan jika communicator tidak dapat komunikasi dengan transmitter), dan transmitter. Lalu communicator dihubungka parallel dengan transmitter. Untuk kalibrasi pressure transmitter, maka kita hubungkan sensor dengan pressure injector. Urutan kalibrasi : 1. Kita lakukan Analog Trim (A/D trim). Ini bertujuan untuk mengkalibrasi nilai arus dari output transmitter sehiangga tepat sesuai dengan pembacaan di ampere meter yang sudah terkalibrasi oleh metrologi. 2. Kita kondisikan tekanan di sensor = 0 lalu kita pilih menu ZERO. 3. Kita kondisikan tekanan di sensor = nilai minimum yang kita inginkan (nanti pada tekanan sebesar itu maka output = 4 mA) lalu pilih menu Lower Setting. 4. Kita kondisikan tekanan di sensor = nilai maksimum yang kita inginkan (nanti pada tekanan sebesar itu maka output = 20 mA) lalu pilih menu Upper Setting. 5. Dan untuk mengetaui nilai errornya maka kita lakukan pengujian pembacaan dengan meng-inject pressure mulai dari batas bawah dan naik dengan kelipatan 25% atau % tertentu sampai 100% lalu 100% lebih sedikit kemudian pengujuan menurun sampai batas bawah. Setiap step kita catat outputnya dan kita hitung penyimpangannya. Error di setiap step tidak boleh melebihi batas maksimum error yang ditentukan.

1. Selain tidak terpengaruh nilai resistansi, penggunaan 4-20 mA jg memiliki keuntungan lain jika dibandingkan penggunaan level tegangan, misalnya saja sistem current loop 4-20 mA cukup tangguh, karena hampir tidak terpengaruh dengan masalah teknis misalkan ketidaksempurnaan pemasangan kabel transmisi (longgar, dll), short circuit, dll 2. Pada penggunaan range 4-20 mA Current loop, kenapa nilai low logicx 4 mA??? knp tidak 0 mA saja??? Hal itu mungkin digunakan untuk membedakan kondisi low dengan kondisi trouble pada loop transmisionx, misalnya saja low logic diset pada 0 mA, maka kondisi tersebut tidak dapat membedakan apakah itu logika low beneran atau ada "something" laennya yg menyebabkan tidak ada arus yg mengalir (0 mA) atau membedakan low signal dgn no signal, misalx saja kabel transmisi putus atau yang lain. Tp kenapa harus 4 ya...bkn 1, 2, atau 3 atau bahkan yang lainx...ada apa dengan angka 4 dan 20....??? 3. Pada penjelasan Mas Bambang ttg HART, disana tertuliskan R=250 ohm, apakah itu saklak, mutlak harus 250 ohm...??? coba kalau kita analisa dari

current loopx yg menggunakan level 4-20 mA... pada saat mulai kondisi low (4 mA) sampai kondisi High (20 mA). 4 mA x 250 ohm = 1 V (itu untuk kondisi low), sedangkan highx 20 mA x 250 ohm = 5 V.... mengagumkan...ternyata pada penggunaan PLC dan DCS level digital voltage masih digunakan sepertinya... Jd menurut saya angka 250 ohm itu sdh mutlak menjadi nilai impendansi standar yg diterapkan pada sistem Transmitter.

A: 1. - Untuk batasan2 tergantung dari tiap2 product (sesuai data sheetnya masing2). Anggap aja ada transmitter dimana range tegangan inputnya adalah 10 - 42 volt. Dengan data semacam itu berarti power supply kita tidak boleh melebihi 42 volt dan tidak boleh kurang dari 10 volt. - Sedangkan kalau kita melihat dari segi PLC-nya, PLC hanya akan membaca range 4-20 mA dan jika kurang atau lebih dianggap error. Untuk menetukan batas error tergantung PLC masing2 (ada yang +/- 10%). 2. current loop system tidak terpengarud Xc dan Xl karena transmitter berpedoman dengan arus yang dia keluarkan. Tentunya transmitter sudah dilengkapi dengan filter. 3. Di loop current system yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai resistansi kabel melebihi batas maximum yang ditentukan oleh transmitter. I=V/R B: 1. Ya. asal bukan petir atau High Voltage yang bisa merusak komponen di dalamnya. 2. 4 mA adalah batas minimum yang aman dimana transmitter masih dapat bekerja dengan normal. Perlu diketahui bahwa transmitter hanya dapat supply power dari kabel 4-20 mA itu. 3. R=250 ohm bukan impedansi standard untuk transmitter system melainkan agar HART Communicator dapat berkomunikasi dengan transmitter. Communicator ini membangkitkan frekuensi di jalur 4-20 mA. (seperti penggunaan telepon melaui kabel listrik). Jika tidak diberi R maka frekuensi ini akan terpengaruh dengan regulator tenganngan dari power supply. R=250 ini adalah nilai impedansi minimal yang diminta oleh Communicator. Jika kita beri lebih dari 250 juga bisa tetapi perlu diperhatikan R maximum yang diperbolehkan oleh transmitter agar dia bisa bermain di 4-20mA.

Selain controller yang menggunakan listrik, ada juga pneumatik kontroller. Pneumatic Controller murni menggunakan tekanan udara dimana power supplynya berupa tekanan udara (ada yang pakai 15, 20 psi atau tergantung data sheet masing2 controller). Sedangkan output-nya 3-15 psi atau 3-20 psi atau

yang lain. Controller ini banyak digunakan di oil & gas company karena lebih aman dari resiko hubungan arus pendek. Selain pakai supply udara dari compressor, ada juga yang memanfaatkan tekanan gas yang keluar dari sumur/well sehingga lebih menghemat sumber tenaga (tidak perlu compressor yang memerlukan bahan bakar). Output dari controller ini digunakan untuk mengendalikan membuka dan menutupnya control valve. Aplikasinya biasanya untuk mengendalikan level dari liquid di dalam vessel, mengendalikan pressure di dalam vessel atau bahkan mengendalikan temperature . * Prinsip pengendalian level : Untuk mengendalikan level kita biasa memakai Pneumatic Level Controller. Controller ini dilengkapi dengan floater sebagai sensornya, Set Point Setting, Proportional band setting. Prinsip kerjanya adalah setiap perubahan level dari liquid tersebut maka controller akan mengeluarkan output sesuai dengan kombinasi setting dari set point dan proportional band. Output ini dihubungkan ke control valve sehingga jika level liquid melebihi set point maka valve akan terbuka lebih lebar sehingga liquid keluar dari vessel lebih banyak dan levelnya akan turun. Dan begitu sebaliknya jika level kurang dari set point makan valve akan makin menutup untuk mempertahankan levelnya. (browsing Pneumatic Level Controller). * Prinsip pengendalian pressure : Pengendalian pressure hampir sama dengan level hanya saja kalau level (outlet atau lubang keluarnya di bawah) sedangkan untuk pressure (outletnya di atau karena yang dibuang adalah gas atau udara dalam vessel). * Prinsip Pengendalian Temperature : Pengendalian temperature ini belaku untuk heater dengan bahan bakar gas atau liquid karena output dari controller digunakan untuk mengontrol besar kecilnya bahan bakar yang masuk. Semakin besar volume bahan bakar yang masuk maka semakin panas temperature yang dihasilkan dan jika temperature melebihi set point maka konsumsi bahan bakar akan diperkecil.

. Kenapa 4-20mA? ceritanya ini hasil evolusi standart IEEE. dulu signal transmisi di industri itu 20-48Vdc. ternyata signal menggunakan tegangan listrik ini ada lossisnya dan kurang aman. standar signal ini lalu berubah dari tegangan menjadi arus yg tidak ada losses. yang dipilih 0-16mA. sedangknategangannya msih 24VDC. signal ini tidak lama. berubah menjadi 4-20mA sampai sekarang, t egangannya masih sama. karena signal 0mA pada 0-16mA kurang dapat memberi info apakah ini nul, error atau offshet apalagi healthy dari field transmitter. 3. kenapa 250Ohm?. Dasar dari HART technology itu adalah sistem komunikasi data yang menumpang signal 4-20mA (24VDC) menggunakan teknik frequency shift keying, FSK, dengan protokol tertentu. Detail protokol dapat diperlajari di www.HART.org. dibutuhkan R=250Ohm, untuk menyamakan level tegangan transmitter dengan level tegangan HART communicator, sehingga HART Communicator dapat membaca data FSK dari kabe masuk ke HART

COmmunicator. Disarnakan R yang digunakan adalah yang presisi 1% agar gelombang FSK tidak cacat dan dapat terbaca.

Anda mungkin juga menyukai