Anda di halaman 1dari 32

GAMBARAN PEMBELIAN OBAT KERAS TANPA RESEP DOKTER

DIAPOTEK KECAMATAN MARISA PADA TAHUN 2022.

MAPPING JURNAL

Diajukan kepada Fakultas Olahraga dan Kesehatan Universitas Negeri Gorontalo

Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh

Gelar Ahli Madya Farmasi

Oleh:

SITI GUSTIAWAT KIAY

NIM: 821319043

UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO


FAKULTAS OLAHRAGA DAN KESEHATAN
JURUSAN FARMASI
PROGRAM STUDI D3 FARMASI
2022

REVIEW JURNAL 1
Judul Karya GAMBARAN PEMBELIAN OBAT KERAS TANPA RESEP
Tulis Ilmiah DOKTER DIAPOTEK KECAMATAN MARISA PADA
TAHUN 2022
Nama Siti Gustiawati Kiay / 821319043
Mahasiswa /
NIM
Pembimbing Dr. Widysusanti Abdulkadir, S,Si , M.Si.Apt
1
Pembimbing Endah Nurrohwinta Djuwarno, M.Sc., Apt
2
Penulis, M. Rifqi Rokhman,Mentari Widiastuti, Satibi, Ria Fasyah
Judul Jurnal, Fatmawati, Na’imatul Munawaroh, Yenda Ayu Pramesti .
Halaman PENYERAHAN OBAT KERAS TANPA RESEP DI APOTEK.
halaman 115 - 124
Teori Penggunaan obat secara tidak rasional merupakan masalah besar
di seluruh dunia. WHO memperkirakan bahwa lebih dari
separuh obat diseluruh dunia diresepkan, disalurkan ataupun
dijual secara tidak tepat, dan separuh dari semua pasien gagal
untuk menggunakannya secara benar1. Penggunaan obat-obatan
yang secara medis tidak tepat, tidak efektif, dan tidak efisien
banyak terjadi di sistem pelayanan kesehatan di seluruh dunia,
terutama di negara berkembang Apotek sebagai bagian dari
farmasi komunitas sering kali menjadi kontak pertama pasien
dengan sistem pelayanan kesehatan dan menjadi saluran
distribusi pilihan tempat pasien mengakses obat terutama di
negara berpenghasilan rendah dan menengah di Asia3. Apotek
menjadi pilihan karena waktu tunggu lebih pendek, biaya yang
lebih rendah, dan jam buka lebih fleksibel4. Lemahnya sistem
pengawasan di negara berkembang berakibat pada mudahnya
akses pasien mendapatkan obat keras tanpa resep.
Metode Jenis dan desain penelitian
Penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah penelitian
deskriptif non-eksperimental.
Lokasi dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di sleman dan yogyakarta durasi
penelitian antara September 2016 sampai Januari 2017. Subjek
penelitian adalah apotek.
Populasi, Sampel dan Teknik Sampling
Pemilihan sampel apotek menggunakan metode simple random
sampling. Random sampling merupakan teknik pengambilan sampel
dari populasi dipilih secara acak dan setiap unsur populasi mempunyai
kesempatan sama untuk dipilih. Populasi pada penelitian adalah 297
apotek di Kabupaten Sleman dan 127 apotek di Kabupaten Kota
Yogyakarta. Jumlah apotek tersebut kemudian dikurangi dengan
apotek yang termasuk dalam kriteria eksklusi didapatkan jumlah
apotek yang ada di Kabupaten Sleman sebanyak 257 apotek dan di
Kota Yogyakarta sebanyak 121 apotek. Kriteria eksklusi berupa
apotek yang tidak menyediakan pelayanan obat keras yang diteliti
(seperti apotek kecantikan), apotek telah tutup, dan apotek tidak dapat
ditemukan. Melalui perhitungan rumus sampel untuk simple random
sampling, jumlah apotek minimal yang harus diambil di Sleman
sebanyak 70 apotek, sedangkan di Kota Yogyakarta sebanyak 54
apotek.
penelitian terdiri dari 2 tahap yaitu penelitian dengan pasien simulasi
dan dilanjutkan dengan menggunakan kuesioner. Pasien simulasi
merupakan metode penelitian yang tepat untuk menilai kinerja suatu
subjek ketika subjek tersebut berpotensi melakukan bias dengan
menyembunyikan perilaku atau kinerja yang menyimpang 20. Oleh
karena itu, metode penelitian dengan pasien simulasi diharapkan lebih
menggambarkan kondisi nyata21 termasuk dalam penyimpangan
pelayanan obat keras. Sedangkan Kuesioner berisi deskripsi apotek,
pemahaman apoteker mengenai obat yang dapat diserahkan dengan
atau tanpa resep, informasi yang biasa digali dan diberikan ketika
penyerahan obat keras tanpa resep, dan alasan penyerahan obat keras
tanpa resep.
Hasil Hasil penelitian dengan pasien simulasi menunjukkan bahwa dari 138 apotek
yang dipilih secara random, terdapat 132 apotek (95,7%) yang menyerahkan
Penelitian
amlodipin tanpa resep dan sebanyak 127 apotek (92,0%) memberikan
allopurinol tanpa resep. Hanya 6 apotek (4,3%) yang menolak memberikan
amlodipin dan 4 apotek (2,9%) yang menolak memberikan allopurinol (Tabel
I). Persentase penyerahan amlodipin dan allopurinol pada kedua kabupaten
juga tidak jauh berbeda.

Di Kabupaten Kota Yogyakarta, terdapat 1 apotek yang


menyerahkan amlodipin dengan kekuatan 10 mg, 1 apotek
mengganti obat amlodipin menjadi kaptopril, dan 1 apotek
memberikan allopurinol dengan kekuatan 300 mg, sedangkan di
Kabupaten Sleman terdapat 3 apotek yang memberikan
allopurinol dengan kekuatan 300 mg. Beberapa penelitian
melaporkan bahwa konsekuensi dari penyerahan obat keras
tanpa resep dapat berupa ketidaktepatan dosis obat dimana dosis
obat di luar jendela terapi untuk berbagai kondisi (baik sub-
terapeutik maupun dosis berlebihan).
Satu apotek di Kabupaten Sleman yang menyerahkan allopurinol
dengan merek dagang tertentu dengan alasan obat generiknya
habis. Ketentuan yang ada menyatakan bahwa apoteker dapat
mengganti obat merek dagang ke obat generik atau obat merek
dagang ke obat merek dagang lainnya dengan persetujuan pasien
dan atau dokter. Oleh karena itu, penggantian dari obat generik
ke obat merek dagang dengan isi yang sama tidaklah sesuai
dengan aturan yang ada.
Keterkaitan Jurnal ini mempunyai keterkaitan dengan karya tulis ilmiah yang
Dengan karya akan dibuat yaitu mengenai pembelian obat keras tanpa resep
tulis ilmiah dokter.
Ringkasan Perbedaan jurnal ini dengan penelitian yang akan saya buat
Rancangan adalah pada jurnal tersebut apoteker menyerahkan obat keras
yang tanpa resep ke pasien sendangkan pada karya tulis ilmiah yang
membedakan dilakukan pada pasien yang membeli obat keras tanpa resep
dengan yang dokter.
sudah ditulis
pada jurnal
sebelumnya.
Paraf
Pembimbing
1

REVIEW JURNAL 2

Judul Karya GAMBARAN PEMBELIAN OBAT KERAS TANPA RESEP


Tulis Ilmiah DOKTER DIAPOTEK KECAMATAN MARISA PADA
TAHUN 2022.
Nama Sit Gustiawati Kiay / 821319043
Mahasiswa /
NIM
Pembimbing Dr. Nur Rasdianah M.Sc.Apt
1
Pembimbing Juliyanti Akuba M.Sc., Apt
2
Penulis, Ridwan M, Thania, Nurhikmah Baharuddin, Muhammad Syafar.
Judul Jurnal, PENYALAHGUNAAN OBAT KERAS OLEH BURUH
Halaman BANGUNAN DI PERGUDANGAN PARANGLOE INDAH
KOTA MAKASSAR. Halaman: 118-126.
Teori Dalam menggunakan obat perlu diketahui efek obat tersebut,
penyakit yang diderita, dosis, waktu pemberian dan tujuan obat
itu digunakan.2 Obat keras, yaitu obat berkhasiat kerasyang
untuk mendapatkannya harus dengan resep dokter, memakai
tanda lingkaran merah bergaris tepi hitam dengan tulisan huruf K
di dalamnya. Obat-obatan yang termasuk dalam golongan ini
berkhasiat keras dan bila dipakai sembarangan bisa berbahaya
bahkan meracuni tubuh, memperparah penyakit, memicu
munculnya penyakit lain sebagai efek negatifnya, hingga
menyebabkan kerusakan organ-organ tubuh, bahkan dapat
menyebabkan kematian.
Berdasarkan laporan World Drug Report 2012 menyatakan
bahwa pada tahun 2010 terdapat sekitar 230 juta orang atau
sekitar 5% penduduk dunia usia 15-64 tahun yang
menyalahgunakan obat setidaknya satu kali dalam 12 bulan. Hal
ini terus menambah beban global penyakit dan setidaknya sekitar
1 dari setiap 100 kematian di antara orang dewasa disebabkan
dengan penyalahgunaan obat.
Berdasarkan pengungkapan kasus penyalahgunaan obat-obatan di
Sulawesi Selatan oleh POLDA Sulselbar sudah hampir semua
kabupaten / kota dapat ditemukan. Berkaitan dengan data
pengungkapan kasus tersebut, dapat ditentukan kerawanan daerah
penyebaran dan penyalahgunaan obat. POLDA Sulselbar
menjadikan Kota Makassar sebagai zona merah daerah paling
rawan penyebaran dan penyalahgunaan obat-obatan yaitu berada
pada posisi pertama diantara kabupaten/ kota di Sulawesi Selatan
penyalahgunaan obat keras tahun 2011.
Kenyataan dengan semakin meningkatnya penyalahgunaan obat-
obatan keras telah menyebar sebagai salah satu wabah.
Korbannya kini tidak memandang bulu, baik kalangan atas
hingga kalangan bawah, anak-anak, tua, muda bahkan sudah
tidak mengenal profesi apapun sudah masuk dalam lingkaran
penyalahgunaan obat keras. Berdasarkan observasi awal di
kawasan pergudangan Parangloe Indah, ditemukan beberapa
buruh bangunan yang sering mengonsumsi obatobatan yaitu jenis
obat keras. Awalnya mereka mengonsumsi obat keras tersebut
ketika mereka Sakit, dan kemudian mereka menyalahgunakan
efek samping yang dikandung dari obat keras tersebut. Mereka
mengonsumsi obat dalam dosis yang tidak dianjurkan hingga
membuat mereka merasa ketergantungan terhadap obat keras.
Penggunaan obat keras tanpa resep dokter dapat menimbulkan
masalah, misalnya penggunaan antibiotik yang tidak terkendali
sehingga dapat menyebabkan adanya penyalahgunaan.
Berdasarkan uraian tersebut, peneliti akan melakukan penelitian
tentang perilaku penyalahgunaan obat keras oleh buruh bangunan
di kawasan Pergudangan Parangloe Indah Kecamatan
Tamalanrea Kota Makassar.
Metode Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan
rancangan fenomenologi. Pengumpulan data dilaksanakan selama
kurang lebih satu bulan, yaitu Desember 2014 sampai dengan
Januari 2015 di kawasan Pergudangan Parangloe Indah
Kecamatan Tamalanrea. Data primer Dikumpulkan dengan cara
melakukan wawancara mendalam dan observasi. Variabel
penelitian ini terdiri dari, pengetahuan, sikap dan tindakan. Data
dikumpulkan melalui wawancara terhadap 11 informan yaitu
buruh bangunan yang bekerja di kawasan Pergudangan Parangloe
Indah dan mengonsumsi obat keras. Selain itu, observasi juga
dilakukan untuk menjaga keabsahan data. Data yang diperoleh
dianalisis dengan menggunakan content analysis yang disajikan
dalam bentuk narasi.
Hasil Penelitian ini dilakukan di Masyarakat yang sering
Penelitian menyalahgunakan obat keras tanpa resep dokter. Berdasarkan
hasil wawancara mendalam, dari 11 informan terdapat tiga alasan
yang berbeda mereka mengonsumsi obat keras, enam diantaranya
memiliki alasan bahwa mereka mengonsumsi obat tersebut untuk
kebutuhan kerja agar tidak merasa lelah. Obat keras yang
dikonsumsi secara berlebihan menurut informan juga dapat
menjaga stamina dan tidak merasa lelah saat bekerja.

Lain halnya dengan ARL dan PD, dua informan ini mengatakan
bahwa mereka mengonsumsi obat untuk menghilangkan stres
atau pikiran terhadap masalah misalnya masalah keluarga.

Keterkaitan Jurnal ini mempunyai keterkaitan dengan karya tulis ilmiah yang
Dengan akan dibuat yaitu mengenai penggunaan obat tanpa resep dokter.
Karya Tulis
Ilmiah
Ringkasan Perbedaan jurnal ini dengan penelitian yang akan saya buat
Rancangan adalah pada jurnal tersebut pengambilan data yang diabsorvasi
yang langsung terhada 11 informan sendangkan pada penelitian saya
membedakan dilakukan di apotek yang menggunakan quisioner.
dengan yang
sudah ditulis
pada jurnal
sebelumnya.

Paraf
Pembimbing
1
REVIEW JURNAL 3

Judul Karya GAMBARAN PEMBELIAN OBAT KERAS TANPA RESEP


Tulis Ilmiah DOKTER DIAPOTEK KECAMATAN MARISA PADA
TAHUN 2022.
Nama Siti Gustiawati Kiay / 821319043
Mahasiswa /
NIM
Pembimbing Dr. Nur Rasdianah M.Sc.Apt
1
Pembimbing Julyanti Akuba, M.Sc., Apt
2
Penulis, Yulia Pratiwi, Kristin Catur Sugiyanto. HUBUNGAN
Judul Jurnal, PENGETAHUAN PASIEN TENTANG OBAT KERAS TERHADAP

Halaman PEMBELIAN DAN KEPATUHAN PASIEN MINUM OBAT


ANTIBIOTIKA TANPA RESEP DOKTER DI APOTEK
KABUPATEN KUDUS. Halaman 74 - 84
Teori Obat keras merupakan obat yang berkhasiat keras dan hanya bisa
diperoleh dengan resep dokter atau dapat diberikan oleh seorang
apoteker (khusus untuk obat yang masuk dalam daftar Obat Wajib
Apotek) (Widodo, 2006). Obat keras yang sering disertakan dalam
setiap pengobatan yang diberikan ke pasien adalah obat antibiotika.
Antibiotik merupakan obat yang digunakan untuk mengobati infeksi
akibat bakteri, dan juga membantu system pertahanan alami tubuh
untuk mengeliminasi bakteri tersebut (Anna, 2013). Peresepan
antibiotic di Indonesia yang relatif tinggi dan kurang bijak
menimbulkan ancaman dan permasalahan global bagi kesehatan,
terutama kejadian resistensi bakteri terhadap Antibiotik (Kemenkes,
2011). Apabila Antibiotik yang mengalami resistensi terus berlanjut,
dunia sangat maju dan canggih akan kembali kemasa-masa kegelapan
ke dokteran seperti sebelum ditemukannya antibiotika (APUA, 2011).
Metode Jenis dan Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan non-eksperimental, dan sifat
analisa observasional dengan rancangan penelitian studi cross-sectional
yaitu penelitian yang dilakukan pada .satu waktu satu kali, tidak ada
follow up yang digunakan untuk mencari pengaruh antara variabel
independen (pengetahuan pasien akan obat keras).
Instrumen dalam penelitian ini adalah panduan wawancara berupa
kuisioner yang diberikan kepada responden untuk mengetahui adanya
pengaruh pengetahuan pasien tentang obat keras terhadap pembelian
obat dan pengaruh pengetahuan pasien tentang obat keras terhadap
kepatuhan pasien minum obat antibiotika.
Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang
membeli obat keras tanpa resep dokter di Apotek Kabupaten
Kudus yang terpilih secara purposive sampling sesuai dengan
kriteria inklusi yang ditetapkan.
Waktu dan tempat penelitian
enelitian dilakukan pada bulan mei – Agustus 2019. Lokasi
penelitian pada apotek yang berada di Kabupaten Kudus yang di
ambil kedalam 5 sampel apotek yaitu Apotek Bhakti Farma,
Apotek dadi Tombi, Apotek Tiga Saudara, Apotek Sehat Abadi,
dan Apotek Kusuma Farma.
Analisis Data
Sebelum kuisioner disebarkan kepada pasien perlu dilakukan uji
instrumen (uji validitas dan reliabilitas). Instrumen penelitian
adalah suatu alat yang diperlukan dalam pengumpulan data
(Notoatmodjo, 2012). Uji Validitas adalah suatu indeks yang
menunjukkan alat ukur itu benar-benar mengukur apa yang
diukur (Notoatmodjo, 2018). Interpretasi data hasil uji validitas
yaitu dengan membandingkan nilai r hitung dengan nilai r table.
Apabila nilai r hitung > r table maka butir pertanyaan tersebut
valid. Uji validitas instrumen penelitian ini akan dilakukan di
apotek kabupaten grobogan, yang memiliki karakteristik hampir
sama dengan apotek dikabupaten kudus. Sedangkan Uji
Reliabilitas suatu instrumen menunjukkan tingkat kehandalan
instrument dalam mengungkap data yang bisa dipercaya
(Arikunto, 2014). Biasanya dalam pengujian dapat menggunakan
Batasan tertentu seperti 0,6. Reliabilitas < 0,6 adalah kurang baik,
sedangkan reliabilitas 0,7 dapat diterima, dan realiabilitas 0,8
adalah baik.
Hasil Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik responden
Penelitian dalam penelitian ini terdiri dari umur, Pendidikan terakhir,
pekerjaan, penghasilan, dan cara pembelian obat.

Berdasarkan karakteristik responden yang ikut serta dalam


penelitian ini berada pada rentang usia 25- 45 th yaitu sebanyak
50 responden (45,45%), dengan pendidikan terakhir SMA
sebanyak 71 responden (64,55%). Dari segi pekerjaan di
dominasi oleh karyawan yaitu sebesar 35 responden (31.82%) ,
sebagian besar pasien berpenghasilan < 1 juta yaitu sebanyak 65
responden (59,09%). Mayoritas responden yang membeli
antibiotik di apotek lebih banyak memilih amoxicillin yaitu
sebanyak 55 responden (50%). Hal ini sesuai dengan beberapa
laporan – laporan hasil penelitian, antibiotik yang paling banyak
dikenal sekaligus dipakai masyarakat baik melalui peresepan
Keterkaitan Jurnal ini mempunyai keterkaitan dengan karya tulis ilmiah yang
Dengan akan dibuat yaitu mengenai pembelian obat keras tanpa resep
Karya Tulis dokter
Ilmiah

Ringkasan Perbedaan jurnal ini dengan penelitian yang akan saya buat
Rancangan adalah pada jurnal tersebut disertai dengan pembelian dan
yang kepatuhan mengenai obat keras dan antibioik sendangkan pada
membedakan penelitian saya hanya melihat gambaran pembelian obat keras
dengan yang tanpa resep dokter.
sudah ditulis
pada jurnal
sebelumnya.
Paraf
Pembimbing
1

REVIEW JURNAL 4

Judul Karya Tulis GAMBARAN PEMBELIAN OBAT KERAS TANPA


Ilmiah RESEP DOKTER DIAPOTEK KECAMATAN MARISA
PADA TAHUN 2022.
Nama Mahasiswa / Siti Gustiawati Kiay/ 821319043
NIM
Pembimbing 1 Dr. Nur Rasdianah M.Sc.Apt
Pembimbing 2 Juliyanti Akuba M.Sc., Apt
Penulis, Judul Eko Yudha Prasety, Dyah Ayu K. ANALISIS FAKTOR
Jurnal, Halaman YANG MEMPENGARUHI PENJUALAN ANTIBIOTIK
TANPA RESEP DI APOTEK KOMUNITAS DARI
PERSPEKTIF TENAGA KEFARMASIAN. Halaman 84 –
94.
Teori Antibiotik adalah segolongan senyawa, baik alami maupun
sintetik, yang memiliki efek membunuh atau menghambat
pertumbuhan bakteri dan setiap antibiotik sangat beragam
keefektifannya dalam melawan berbagai jenis bakteri.
Penggunaan antibiotik berdasarkan resep dokter
dimaksudkan agar penggunaannya rasional, dengan
indikator tepat pengobatan, tepat dosis, tepat cara
penggunaan, dan tepat durasi penggunannya. Antibiotik
digunakan untuk mencegah dan mengobati penyakit
infeksi akibat bakteri. Penyakit infeksi menjadi penyebab
kematian pada anak-anak dan dewasa muda terbesar di
dunia. Penyakit infeksi menyebabkan lebih dari 13 juta
kematian per tahun di negara-negara berkembang termasuk
di Indonesia (Badan POM, 2011).
Intensitas penggunaan antibiotik yang tinggi menimbulkan
masalah dan ancaman global bagi kesehatan terutama
persoalan resistensi bakteri terhadap antibiotik. Selain
berdampak pada morbiditas dan mortalitas, juga memberi
dampak negatif terhadap biaya pengobatan dan efek
samping obat. Pada mulanya resistensi terjadi di tingkat
rumah sakit, tetapi saat ini berkembang semakin
mengkhawatirkan hingga merambah lingkungan
komunitas. (Kemenkes RI 2011). Resistensi antibiotik
sebenarnya terjadi sebagai proses alami dengan kecepatan
rendah, namun, penyalahgunaan atau penggunaan
antibiotik yang tidak rasional pada manusia akan
mempercepat munculnya dan penyebaran proses resistensi
antibiotik. (WHO 2017). Di negara berkembang, Pedoman
atau kebijakan tentang penggunaan antibiotik yang
rasional tidak terlalu ketat, sehingga seringkali
mengakibatkan penggunaan antibiotik yang berlebihan
atau tidak perlu. Pemerintah Indonesia telah merumuskan
Pedoman Umum Penggunaan Antibiotik Tahun 2011.
Namun, penerapan pedoman ini tetap menjadi tantangan
karena sampai saat ini di Indonesia, seseorang tetap saja
dengan mudah mendapatkan antibiotik tanpa resep dengan
mudah di apotek komunitas.
Apotek komunitas merupakan salah satu sumber utama
dalam mendapatkan antibiotik di seluruh dunia (Morgan
DJ). Sebuah survei multi-negara yang di publikasikan oleh
WHO menunjukkan bahwa 93% orang memperoleh
antibiotik dari apotek atau toko obat. Sebaliknya hanya
negara-negara di Eropa Utara dan Amerika Utara yang
sangat ketat. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu
menunjukkan bahwa akses antibiotik tanpa resep di apotek
komunitas adalah hal umum di berbagai negara Eropa
Selatan, Afrika, Amerika Selatan dan Asia termasuk
diantaranya Indonesia. Meski regulasi di Indonesia dengan
jelas melarang penjualan antibiotik tanpa resep, namun
sebagaian besar realisasi dari peraturan itu belum
sepenuhya ditegakkan di bayak wilayah. Beberapa lokasi
di Indonesia, pasien dapat memperoleh obat keras,
termasuk antibiotik tanpa resep.
Metode Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
dengan riset exploratory dan deskriptif. Riset exploratory
dilakukan dengan analisis data sekunder melalui review
literatur dan survei. Riset deskriptif dilakukan dengan
metode survei untuk mengumpulkan data primer.
Hasil Penelitian Berdasarkan hasil penelusuran literatur terkait faktor-
faktor yang mempengaruhi penjualan antibiotik tanpa
resep diperoleh 10 domain, diantaranya aspek Sikap,
Keyakinan, Pengaruh Perilaku Serupa, Hukum & Sanksi,
Finansial, Tekanan Dari Luar, Etika, Pegalaman Personal,
Aspek Sosial, Dan Critical Sense. Berdasarkan 10 domain
tersebut, dikembangan menjadi kuesioner. Melalui tahapan
face validity dan content validity diperoleh desain awal
sebanyak 32 pertanyaan terkait penjualan antibiotik tanpa
resep di apotek. Construct validity kuisioner untuk 32 butir
pernyataan rating pada kuesioner dilakukan terhadap 38
responden subjek penelitian. Hasil Construct validity
terdapat 2 pernyataan dengan nilai R hitung kurang dari
nilai 0,320 (r tabel). Kedua pernyataan tersebut berasal
dari domain critical sense, yakni “Reaksi obat tidak
diinginkan dari penggunaan antibiotik jarang terjadi (r =
0,269)” dan “Resistensi antibiotik bukanlah hal yang perlu
untuk dikhawatirkan (r = 0,2695)” . 2 pertanyaan tersebut
dieliminasi dan tidak digunakan dalam penelitian sehigga
tersisa 30 pertanyaan.
Dalam penelitian ini uji reliabilitas yang digunakan adalah
internal consistency yang diamati melalui nilai Cronbach’s
Alpha. Membandingkan nilai Cronbach’s Alpha dengan
nilai standar yaitu 0,6. Bila Cronbach’s Alpha ≥ 0,6 maka
pernyataan tersebut dikatakan reliabel. Berdasarkan hasil
uji diketahui ke 30 item memiliki nilai Cronbach’s Alpha ≥
0,6 dengan rata-rata skor 0, 956 ≥ 0,6. Dengan demikian
ke 30 item pernyataan dalam kuisiner tersebut dinyatakan
reliabel. Kuesioner yang telah dinyatakan valid dan
reliabel digunakan untuk mengidentifikasi faktor penjualan
antibiotik tanpa resep di apotek komunitas kota X.
Penelitian ini mengidentifikasi faktor dari persepsi tenaga
kefarmasian yang meliputi Apoteker dan Tenaga Teknis
Kefarmasian (TTK). Responden yang berpartisipasi dalam
penelitian ini terdiri dari 34 Apoteker dan 7 orang tenaga
teknis kefarmasian. Mayoritas (65,90%) berusia antara 26-
30 tahun, karakteristik responden diringkas dalam Tabel 2.

Sesuai dengan tujuan penelitian yaitu menganalisa faktor-


faktor yang mempengaruhi penjualan antibiotik tanpa
resep di apotek komunitas dari perspektif tenaga
kefarmasian, maka dilakukan factor analysis. Analisis
faktor eksploratori digunakan untuk mengelompokkan
variabel-variabel yang berkorelasi menjadi faktor-faktor.
Faktor yang terbentuk dinamai sesuai dengan gambaran
variabel yang termasuk dalam faktor tersebut.
Keterkaitan Jurnal ini mempunyai keterkaitan dengan karya tulis
Dengan Karya ilmiah yang akan dibuat yaitu mengenai faktor penjualan
Tulis ilmiah obat keras tanpa resep dokter diapotek.
Ringkasan Perbedaan jurnal ini dengan penelitian yang akan saya buat
Rancangan yang adalah pada jurnal tersebut menggunakan metode Jenis
membedakan riset exploratory dan deskriptif. Riset exploratory
dengan yang sudah dilakukan dengan analisis data sekunder melalui review
ditulis pada jurnal literatur dan survei. Riset deskriptif dilakukan dengan
sebelumnya. metode survei untuk mengumpulkan data primer.
Sendangkan pada penelitian saya menggunakan metode
pengambilan data dalam bentuk kusioner.
Paraf Pembimbing
1

REVIEW JURNAL 5

Judul Karya Tulis GAMBARAN PEMBELIAN OBAT KERAS TANPA


Ilmiah RESEP DOKTER DIAPOTEK KECAMATAN MARISA
PADA TAHUN 2022.
Nama Mahasiswa / Siti Gustiawati Kiay / 821319043
NIM
Pembimbing 1 Dr. Nur Rasdianah M.Sc.Apt
Pembimbing 2 Juliyanti Akuba M.Sc., Apt
Penulis, Judul Maruxa Zapata-Cachafeiro, Marı́a Pineiro-Lamas,Marı́a C.
Jurnal, Halaman Guinovart, Paula Lopez-Vazquez, Juan Manuel Vazquez-
Lago dan Adolfo Figueiras. BESARAN DAN
DETERMINAN PEMBERIAN ANTIBIOTIK TANPA
RESEP DI SPANYOL : STUDI PASIEN SIMULASI.
Halaman 511 – 514.
Teori Resistensi terhadap antibiotik merupakan tantangan utama
yang dihadapi kesehatan masyarakat,1 karena morbiditas,
mortalitas dan biaya yang ditimbulkannya.2Ini bukan
hanya masalah lokal, tetapi juga masalah global karena
pelancong berkontribusi terhadap penyebaran resistensi
obat antimikroba.3Saat ini, tidak ada yang meragukan
bahwa itu terkait dengan penggunaan antibiotik yang
berlebihan dan tidak tepat. Mayoritas konsumsi adalah di
luar rumah sakit dan, kecuali Amerika Utara dan beberapa
negara Eropa, sebagian karena pengobatan
sendiri.4Mengontrol akses ke antibiotik yang tidak
diresepkan adalah elemen kunci dalam menguranginya,
dan apotek memainkan peran mendasar dalam hal ini.
Spanyol adalah salah satu negara dengan konsumsi
antibiotik tertinggi di UE dan konsumsinya tidak berhenti
tumbuh Diperkirakan 30% dari antibiotik yang dikeluarkan
tidak dibebankan ke sistem penggantian publik,6tetapi
berapa banyak karena sumber daya lain yang tidak diganti
(misalnya obat swasta) dan berapa banyak pengeluaran
antibiotik tanpa resep medis (DAwMP), praktik yang
melanggar hukum, tidak diketahui. Memperkirakan ini
adalah sebuah tantangan: penggunaan wawancara atau
survei dapat menghasilkan hasil yang bias oleh efek
Hawthorne. Metode yang kuat dapat berupa metode
simulasi pasien (SP),di mana seseorang mengunjungi
apotek yang mensimulasikan gejala spesifik dan
membutuhkan antibiotik. (DAwMP) mendekati yang asli
diperoleh dan memungkinkan kualitas perawatan farmasi
untuk dinilai. Dengan menggunakan teknik SP, penelitian
ini bertujuan untuk mengukur besarnya DAwMP di barat
laut Spanyol dan untuk menentukan faktor-faktor yang
terkait.
Metode Desain dan populasi.
Menggunakan Sebuah studi cross-sectional dilakukan di
dua provinsi (A Corun ~a dan Pontevedra) dari barat laut
Spanyol. Pengambilan sampel dilakukan secara
komprehensif, termasuk semua apotek di wilayah
geografis yang diteliti.
Pengaturan studi.
Di Spanyol, Sistem Kesehatan Nasional mencakup hampir
semua penduduk dan perawatan medis gratis.
Pengumpulan data.
Teknik SP digunakan Empat aktor amatir (dua wanita dan
dua pria dengan usia antara 30 dan 45 tahun) mengunjungi
apotek antara Desember 2016 dan Januari 2017. 10 apotek
dikunjungi per hari oleh setiap SP. Mereka dilatih oleh SP
ahli,sehingga representasi akan seragam. Empat tingkat
tekanan bertahap digunakan untuk mendapatkan antibiotik
tanpa resep: (i) permintaan obat untuk meredakan gejala;
(ii) permintaan obat yang lebih kuat dari yang ditawarkan;
(iii) permintaan antibiotik; dan (iv) permintaan khusus
untuk amoksisilin.
Hasil Penelitian Pengaruh variabel independen pada DAwMP (1" ya, 0"
tidak) dimodelkan dengan regresi logistik sederhana
(analisis mentah) dan regresi logistik ganda (analisis
disesuaikan). Variabel denganPnilai ,0.20 dalam analisis
bivariat dianggap berpotensi sebagai pembaur. Mereka
dikonfirmasi sebagai pembaur jika mereka menghasilkan
0,10% perubahan koefisien ketika mereka dihapus dari
model multivariat. Hasilnya dinyatakan sebagai OR dan
95% CI. Untuk menganalisis apakah area tersebut
mempengaruhi tingkat tekanan yang diperlukan untuk
mendapatkan antibiotik, kami melakukan sub-analisis dari
apotek yang diklasifikasikan sebagai DAwMP. Kami
membuat variabel biner, dengan nilai 1 jika antibiotik
diperoleh pada tingkat tekanan pertama atau kedua
(antibiotik tidak diminta secara terbuka) dan 0 untuk
tingkat tekanan ketiga atau keempat (SP meminta
antibiotik).
Antibiotik diperoleh di 184 apotek, sebagian besar antara
tingkat tekanan ketiga dan keempat. Dari apotek yang
melakukan DAwMP, 74,5% menjelaskan frekuensi
pemberian antibiotik. diambil, 24,5% bertanya tentang
alergi obat, 35,9% merekomendasikan ke dokter, dan
37,5% bertanya SP wanita tentang kemungkinan
kehamilan. Antibiotik yang paling sering diberikan adalah
amoksisilin (n " 127, 69,0%), dalam 7% kasus dalam
kombinasi dengan asam klavulanat. Azitromisin (n "42,
22,8%), kotrimoksazol (n "7, 3,8%, moksifloksasin (n "4,
2,2%, cefuroxime (n"2, 1,1%), klaritromisin ( n"1, 0,5%)
dan klindamisin (n "1, 0,5%) diperoleh lebih jarang.
Tingkat tekanan di mana setiap antibiotik diperoleh dapat
ditemukan pada TabelS1 (tersedia sebagai Tambahan).
Keterkaitan Jurnal ini mempunyai keterkaitan dengan karya tulis
Dengan Karya ilmiah yang akan dibuat yaitu mengenai obat keras tanpa
Tulis Ilmiah resep dokter.
Ringkasan Perbedaan jurnal ini dengan penelitian yang akan saya buat
Rancangan yang adalah pada jurnal tersebut membahas mengenai Studi
membedakan pemberian obat antibiotik (obat keras) tanpa resep
dengan yang sudah sendangkan pada penelitian saya memcakup mengenai
ditulis pada jurnal pola gambaran obat tanpa resp dokter sehingga masyarakat
sebelumnya. membeli obat keras tersebut tanpa resep dari dokter.
Paraf Pembimbing
1

REVIEW JURNAL 6

Judul Karya GAMBARAN PEMBELIAN OBAT KERAS TANPA RESEP


Tulis Ilmiah DOKTER DIAPOTEK KECAMATAN MARISA PADA
TAHUN 2022.
Nama Siti Gustiawati Kiay / 821319043
Mahasiswa /
NIM
Pembimbing 1 Dr. Nur Rasdianah M.Sc.Apt
Pembimbing 2 Juliyanti Akuba M.Sc., Apt
Penulis, Judul R. Nelly Mokwele, Natalie Schellack, Elmien Bronkhorst1,
Jurnal, Adrian J. Brink, Louise Schweckerdt4 dan Brian Godman.
MENGGUNAKAN PEMBELIAN UNTUK MENENTUKAN
Halaman PRAKTIK YANG BERKAITAN DENGAN ANTIBIOTIK
DISPENSING TANPA RESEP DIANTARA APOTEK DI
AFRIKA SELATAN. Halaman 1 – 10.
Teori Penjualan antibiotik tanpa resep telah diamati di banyak negara
terutama negara berpenghasilan rendah dan menengah
(LMICs). 8Di Afrika Sub-Sahara, kami telah melihat di
Zambia bahwa semua apoteker komunitas yang disurvei
memberikan antibiotik tanpa resep,9dengan pemberian
antibiotik tanpa resep juga umum di Tanzania dan Uganda,
didorong oleh keterbatasan kepercayaan dengan sistem
kesehatan masyarakat, akses mudah dan rantai pasokan obat
keropos.1,10Ini menjadi perhatian utama karena pemberian
antimikroba yang tidak tepat di apotek komunitas dan toko obat
dapat mencapai hingga 93% hingga 100% dari semua
antibiotik yang dibagikan di antara LMIC. Penggunaan
antibiotik yang tidak tepat seperti itu memperburuk
penggunaan yang tidak tepat, meningkatkan resistensi
antimikroba (AMR) dan terkait morbiditas, mortalitas, dan
biaya. Peraturan Afrika Selatan saat ini melarang pemberian
antibiotik di apotek tanpa resep.51Akibatnya, antibiotik hanya
boleh diberikan dengan resep yang sah dan ditandatangani oleh
pemberi resep yang berwenang. Pemerintah Afrika Selatan
mengharuskan apotek beroperasi di bawah lisensi dan
manajemen penuh waktu serta pengawasan apoteker terdaftar.
Selain memainkan peran pendidikan masyarakat pusat
menasihati pasien tentang penggunaan obat yang benar,
apoteker juga diharapkan untuk mengambil peran
kepemimpinan dalam penggunaan rasional obatobatan
termasuk antibiotik. Dua set kode etik dan perilaku profesional
yang dikeluarkan oleh Dewan Farmasi Afrika Selatan
selanjutnya berfungsi untuk memandu apoteker. Mereka
menekankan filosofi praktik, rasa hormat pasien dan peran
apoteker dalam tim multidisiplin. Apoteker dapat menjual
antibiotik dalam jumlah yang lebih besar atau lebih sedikit
daripada yang diresepkan. Ini meskipun tidak boleh kurang
atau lebih besar dari 5% dari yang ditentukan dalam resep.
metode Desain dan periode studi.
Kami melakukan studi percontohan observasional prospektif
menggunakan dua SP skenario untuk menentukan apakah
antibiotik dapat diperoleh tanpa resep yang valid di antara
apotek komunitas di daerah perkotaan, pinggiran kota dan
kotapraja di Provinsi Gauteng, Afrika Selatan. Apotek terdiri
dari apotek milik pribadi (pemilik tunggal independen) dan
apotek perusahaan (waralaba).
Populasi dan pengaturan studi.
Sebuah sampel acak dari 34 apotek (14 perkotaan, 14 pinggiran
kota dan 6 kotapraja) dari satu provinsi dikelompokkan
berdasarkan daerah perkotaan, pinggiran kota dan kotapraja
dan oleh zona sosial ekonomi yang lebih kaya atau lebih

miskin. Apotek milik swasta (juga dikenal sebagai apotek


independen) kebanyakan ditemukan di daerah pedesaan dan
apotek perusahaan di daerah perkotaan dan pinggiran kota.
Pada tahun 2014 terdapat 914 apotek yang terdaftar di Afrika
Selatan, di antaranya 472 apotek independen, 290 apotek
perusahaan dan sisanya terdaftar tidak aktif. Akibatnya, studi
'studi percontohan' ini mengambil sampel 3,7% dari total
populasi apotek. Personil apotek diidentifikasi sesuai dengan
nama dan peruntukannya, seperti yang tertera pada nametag
yang dikenakannya dan/atau pajangan di apotek yang
menunjukkan personel yang bertugas. Dalam kasus di mana
petugas apotek tidak dapat diidentifikasi, dicatat pada lembar
pengumpulan data.
Pengumpulan data dan pelatihan.
Dua kasus klinis yang berbeda disajikan; setiap jenis kasus
selalu disajikan oleh SP yang sama (Tabel2). Kedua skenario
berfokus pada penggambaran otentik pasien di apotek yang
memerlukan bantuan mendesak yang dibangun berdasarkan
pengalaman yang cukup banyak dari rekan penulis dalam
praktik farmasi dan melakukan penelitian SP yang
dikombinasikan dengan penelitian sebelumnya dengan tiga
tingkat permintaan.
Hasil Hasil penelitian Sebanyak 34 apotek komunitas dikunjungi.
penelitian Dari jumlah tersebut, 14 (14/34, 41%) dimiliki oleh perusahaan
(franchise) dan 20 (20/34, 59%) dimiliki secara pribadi.
Antibiotik oral dijual tanpa resep di 16 (16/34, 47%) apotek
komunitas di mana ISK dan URTI disajikan oleh dua SP yang
berbeda di apotek yang berbeda (Tabel4). Antibiotik hanya
dijual di apotek swasta, yang sebagian besar ditemukan di kota
- kota. Tidak ada apotek korporat (waralaba) yang memberikan
antibiotik tanpa resep, petugas apotek hanya
merekomendasikan obat bebas (OTC) untuk ISK dan URTI. Di
antara 16 apotek komunitas di mana antibiotik diberikan tanpa
resep, asisten apoteker di 6 apotek (37,5%, 6/16) memberikan
antibiotik kepada SP dengan ISK, dan staf tak dikenal yang
membantu SP memberikan antibiotik di 10 (62,5%, 10). /16).
Secara keseluruhan, 18 asisten apoteker terlibat di antara
apotek komunitas yang dikunjungi. Antibiotik tidak
dikeluarkan untuk URTI di apotek mana pun yang dikunjungi,
dengan antibiotik hanya dikeluarkan untuk SP yang
menunjukkan ISK di antara apotek komunitas.
Menjadi perhatian adalah bahwa tidak ada anggota staf apotek
yang merekomendasikan pasien untuk pergi dan menemui
dokter jika tidak ada perbaikan dalam kondisi mereka. Selain
itu, tidak ada staf apotek yang menanyakan kepada SP tentang
alergi obat (penisilin) saat memberikan antibiotik.
Keterkaitan Jurnal ini mempunyai keterkaitan dengan karya tulis ilmiah
dengan karya yang akan dibuat yaitu mengenai obat keras tanpa resep.
tulis ilmiah
Ringkasan Perbedaan jurnal ini dengan penelitian yang akan saya buat
Rancangan adalah pada jurnal tersebut membahas mengenai pemberian
yang antibiotik tanpa resep sendangkan pada penelitian saya
membedakan memcakup mengenai gambaran pembelian obat keras tanpa
dengan yang resp dokter.
sudah ditulis
pada jurnal
sebelumnya.

REVIEW JURNAL 7

Judul Karya GAMBARAN PEMBELIAN OBAT KERAS TANPA RESEP


Tulis Ilmiah DOKTER DIAPOTEK KECAMATAN MARISA PADA
TAHUN 2022.
Nama Siti Gustiawati Kiay / 821319043
Mahasiswa /
NIM
Pembimbing 1 Dr. Nur Rasdianah M.Sc.Apt
Pembimbing 2 Juliyanti Akuba M.Sc., Apt
Penulis, Judul Miguel Servia-Dopazo1 dan Adolfo Figueiras. PENENTU
Jurnal, PEMBERIAN ANTIBIOTIK OBAT KERAS TANPA RESEP.
Halaman Halaman 3244 – 3255.
Teori Saat ini, komunitas ilmiah memiliki sedikit keraguan tentang
hubungan antara penggunaan antimikroba yang tidak tepat dan
peningkatan strain resisten antibiotik.1Dalam hal ini, salah satu
praktik dengan dampak terbesar pada resistensi global adalah
pemberian dan penggunaan antibiotik tanpa resep medis. Telah
ditunjukkan bahwa pemberian antibiotik tanpa resep adalah
praktik yang sangat terkait dengan penggunaan antibiotik yang
tidak tepat, dan bahwa bakteri multiresisten paling umum di
komunitas dengan penggunaan antibiotik tertinggi tanpa resep
seperti itu. Apalagi praktik ini diketahui sangat sering terjadi di
seluruh wilayah dunia, kecuali Amerika Utara, Eropa Utara,
dan Australia. Aktor yang berbeda, seperti apoteker, pasien,
dokter, otoritas kesehatan (perundang-undangan, sistem
kesehatan) dan akses internet, terlibat dalam pemberian dan
penggunaan antibiotik tanpa resep medis.1,2 Seperti yang
terlihat dalam banyak penelitian yang menggunakan simulasi
pelanggan, pemberian obat tanpa resep medis di apotek cukup
tersebar luas di banyak negara, tanpa ada bukti pola geografis
atau temporal yang jelas; 1oleh karena itu, apoteker tampaknya
menjadi salah satu jalur utama untuk mendapatkan antibiotik
tanpa resep di banyak negara.
Metode Strategi pencarian
Untuk mencapai tujuan yang ditentukan dari tinjauan sistematis
ini, dilakukan pencarian database MEDLINE dan EMBASE
dari awal (tidak ada tanggal mulai yang ditentukan) hingga
Februari 2017. Kriteria pencarian yang digunakan adalah obat
antibiotik tanpa resep dokter.
Kriteria inklusi dan eksklusi.
Studi diperlukan untuk memenuhi kriteria inklusi sebagai
berikut: (i) diterbitkan dalam bahasa Inggris atau Spanyol; (ii)
berusaha untuk mengeksplorasi faktor faktor yang terkait
dengan pemberian antibiotik tanpa resep medis oleh petugas
apotek; dan (iii) populasi penelitian didefinisikan sebagai
pekerja farmasi, yaitu setiap orang yang, terlepas dari tingkat
pelatihan dan/atau kualifikasi profesionalnya, memiliki
kemungkinan memasok antibiotik ke populasi umum tanpa
pengawasan orang lain, pada pendirian yang berwenang secara
hukum untuk menjual obat-obatan ini berdasarkan undang-
undang yang berlaku.
Hasil Hasil penelitian yang didapatkan menggunakanStrategi
Penelitian pencarian yang dipilih menempatkan total 1524 artikel di
MEDLINE; ketika pencarian terbatas pada makalah yang tidak
muncul di MEDLINE, 24 studi lebih lanjut ditempatkan di
EMBASE. Pemeriksaan abstrak menghasilkan 204 makalah
yang dipilih untuk pembacaan teks lengkap, sementara tinjauan
referensi yang dikutip oleh studi yang dipilih menghasilkan 20
makalah lainnya.
Penilaian kualitatif Semua studi dengan analisis kuantitatif
memenuhi sebagian besar pertanyaan di alat AXIS (TabelS1,
tersedia sebagai data pelengkap padaJACOnline).
Keterkaitan Jurnal ini mempunyai keterkaitan dengan karya tulis ilmiah
Dengan Karya yang akan dibuat yaitu mengenai obat keras
Tulis Ilmiah
Ringkasan Perbedaan jurnal ini dengan penelitian yang akan saya buat
Rancangan adalah pada jurnal tersebut membahas mengenai Penentu
yang pemberian antibiotik yaitu obat keras sendangkan pada
membedakan penelitian saya memcakup mengenai gambaran pembelian obat
dengan yang keras tanpa resep dari dokter sehingga masyarakat dilar sana
sudah ditulis membelinya dengan sembarangan tanpa adanya resep.
pada jurnal
sebelumnya.
Paraf
Pembimbing 1