Anda di halaman 1dari 29

Bab 5

Peralatan Utama Pada Sistem Kriogenik


Peralatan utama pada sistem pencairan dan pendinginan pada suhu rendah umumnya terdiri dari Heat Exchanger, Kompresor, dan Expander. Ketiga alat tersebut memiliki prinsip kerja dan fungsi yang berbeda pada sistem kriogenik. Kinerja sistem kriogenik akan tergantung pada kinerja dan susunan dari alat-alat utama tersebut.

Skema sistem Linde-Hampson

5.1

HEAT EXCHANGER Stabilitas fasa fluida pada HE suhu rendah sangat penting

mengingat aliran panas/dingin harus dapat mengalir dengan baik (viscositas optimal). Pengaruh suhu, tekanan, dan jenis kriogenik akan sangat menentukan efektivitas pertukaran panas yang terjadi. Beberapa kriteria utama HE yang dibutuhkan untuk penggunaan pada suhu rendah: 1. Perbedaan suhu aliran panas dan dingin yg kecil guna meningkatkan efisiensi 2. Rasio luas permukaan terhadap volume yg besar untuk meminimalkan kebocoran 3. Perpindahan permukaan 4. Massa yg rendah untuk meminimalkan waktu start up 5. Kemampuan multi channel untuk mengurangi jumlah HE 6. Kemampuan menerima tekanan yg tinggi 7. Pressure Drop yg rendah Minimalisasi beda suhu aliran panas & dingin harus juga memperhatikan pengaruh suhu terhadap panas spesifik (Cp) fluida. Jika Cp menurun dengan menurunnya suhu fluida (contoh Hidrogen), maka perbedaan suhu inlet & outlet harus ditambah dari harga minimal beda suhu aliran. Gambar proses dapat dilihat pada Gambar 5.1. panas yang tinggi untuk mengurangi luas

Gambar 5.1 Profil suhu pada HE countercurrent dimana Cp aliran panas menurun dengan turunnya suhu.

Pemilihan HE untuk suhu rendah akan tergantung pada : 1. Kebutuhan disain proses 2. Batasan disain mekanik dan ekonomi 5.1.1 konsentrik Reversing HE tabung konsentrik dan tipe Collins Untuk skala laboratorium dan dan Extended tipe umumnya digunakan tabung (Collins-type) Regenerator. HE Exchanger. 5.2 Surface

Sedangkan untuk Industri banyak digunakan Coiled tube, Plate-fin, Exchanger konfigurasi Gambar menunjukkan beberapa Tabung konsentrik

sedangkan Gambar 5.3 menunjukkan HE tipe Collins.

Gb 5.2 Beberapa HE tabung konsentrik (a) HE sederhana; (b) HE tabung berganda; (c) Tabung konsentrik dengan kawat penyanggah; (d) Bundle HE

Gambar 5.3 HE Collins; LP = Aliran tekanan rendah ; HP = aliran tekanan tinggi.

Efektivitas perpindahan panas mengikuti urutan sbb : HE sederhana < HE tabung berganda < Tabung konsentrik dengan kawat penyanggah < Bunddle HE < HE Collins.

Persamaan Empiris Koefisien heat transfer (h) dan Pressure drop/panjang pipa untuk berbagai kondisi aliran diberikan pada Tabel 5.1. Contoh 5.1 : Gas nitrogen pada tekanan 0,101 Mpa dialirkan kedalam smooth straight circular pipe dengan ID 0.0254 m. Suhu dinding pipa ratarata 155 K, sementara suhu bulk nitrogen 145 K pada laju alir 0.1 kg/s. Hitung: a. Koef heat transfer (h) b. Laju heat transfer ke gas Nitrogen per satuan luas c. Drop pressure per satuan panjang pipa Solusi : Tw dan jenis HE

Tb

Gas Nitrogen

Properti gas nitrogen ditentukan dari suhu rata-rata film yaitu : 0.5 (Tw + Tb) = 0.5(155 + 145) = 150 K Dari Lampiran (Appendix hal 566) didapat : = 10.08 x 10-6 Pa.dt ; Cp= 1.047 kJ/kg K ; k= 13.77 x 10-3 W/m K ; = 2.289 kg/m3 Pr = Cp. /k = (1.047x103)(10.08x10-6)/913.77x10-3) = 0.766 Untuk menentukan apakah pola aliran laminer/turbulent maka dihitung bilangan Reynoldnya: Re = DeG/ = De.m/(A. ) = (0.0245)(197.3)/(10.08 x 10-6) = 4.97x105

Karena aliran yg didapat adalah turbulen, maka dari Tabel 5.1, harga h dihitung menggunakan persamaan: h = (0.023)Cp.G.Re-0,2.Pr-2/3 = 0.4118 kJ/m2 dt K Laju Perpindahan kalor persatuan luas: Q/A = h(Tw - Tb) = 0.4118(155 145) = 4.118 kJ/m2 Drop pressure per satuan panjang pipa berdasarkan Tabel 5.1 menggunakan persamaan: p/ L = 0.092.G2/(Re0,2.gcDe ) = 0.092(197.3)2/(4.97x105)0,2(1)(0.0254)(2.289) = 4470 Pa/m
Tabel 5.1 Hubungan antara perpindahan kalor empiris dengan pressure drop pada HE tabung konsentrik dan extended surface.

5.1.2 Coiled tube heat exchanger HE jenis ini disusun dari tabung-tabung (tubes) dengan jumlah besar mengelilingi tabung inti, dimana setiap HE terdiri dari lapisanlapisan tabung sepanjang arah aksial maupun radial. Aliran tekanan tinggi diberikan pada tube diameter kecil, sementara untuk tekanan rendah dialirkan pada bagian luar tube diameter kecil. Contoh alat HE Coiled Tube dapat dilihat pada Gambar 5.4.

Gambar 5.4 Coiled-tube HE dengan area perpindahan panas seluas 12,000 m2

HE jenis ini memiliki keuntungan untuk kondisi suhu rendah antara lain: 1. Perpindahan kalor dapat dilakukan lebih dari dari dua aliran secara simultan. 2. Memiliki jumlah unit Heat transfer yang tinggi 3. Dapat dilakukan pada tekanan tinggi. Geometri HE Coiled Tube sangat bervariasi, tergantung pada kondisi aliran dan drop pressure yang dibutuhkan. Parameter yang

berpengaruh antara lain: kecepatan aliran pada shell dan tube, diameter tube, jarak antar tube (tube pitch), layer spacer diameter. Faktor lain yang juga harus diperhitungkan yaitu jumlah fasa aliran, terjadinya kondensasi dan evaporasi pada shell atau tube. Aplikasi HE Coiled Tube untuk skala besar telah banyak diterapkan pada LNG Plant, dimana alat HE ini memiliki kapasitas 100,000 m3/h pada 289 K dan 0.101 Mpa. Luas permukaan heat transfer 25,000 m2 dan panjang keseluruhan 61 m, diameter 4.5 m dan berat 180 ton. Gambar Skematik alat tersebut dapat dilihat pada Gambar 5.5.

Gb. 5.5 Skema HE Coiled Tube yang Digunakan Pada LNG Plant

5.1.3

Plate-fin heat exchanger HE Plat-Fin umumnya mempunyai susunan plat alumunium

bergelombang dimana aliran-aliran panas/dingin dialirkan pada celah gelombang tersebut. Setiap lapisan gelombang dibatasi dengan plate pemisah (separator plate). Bentuk Plat-Fin ini sembilan

kali lebih lebih kecil dibanding HE Shell & tube konvensional untuk luas permukaan yANg sama. Tekanan operasi dapat mencapai 6 menggambarkan MPa pada suhu 4 hingga 340 K. Gambar 5.6

skema sederhana Plate-Fin HE dan pola aliran. Untuk dapat melakukan multi aliran dan multi arah aliran, maka Plate-Fin harus dilengkapi dengan Internal seal, distributor, dan external header. Untuk tipe cross flow akan sesuai jika harga beda suhu rata-rata efektif pada aliran silang dan harga LMTD nya tidak berbeda jauh. Tipe ini banyak didapat pada liquefiers (pencairan), hanya sedikit terjadi perbedaan suhu pada sisi kondensing dan aliran gas yg besar pada sisi panas.

Gb.5.6 Beberapa susunan aliran pada plate-fin heat exchanger

5.1.4 Dasar perancangan heat exchanger Ada dua pendakatan untuk perancangan HE yaitu : 1. 2. Pendekatan Efektivitas NTU: digunakan jika suhu masuk dan laju alir HE diketahui Pendekatan LMTD: membutuhkan data semua aliran, dimana ukuran HE ditentukan

Laju perpindahan panas dapat dirumuskan sbb : Q = U.A. Tm (5.1) Untuk pendekatan LMTD: Tm = LMTD = ( Tmax - Tmin)/ln( Tmax - Tmin ) (5.2) dimana Tmax adalah beda suhu lokal max, dan Tmin adalah beda suhu lokal minimal antara dua aliran fluida pada inlet dan outlet HE. Ditribusi suhu sepanjang HE ditunjukkan Gambar 5.7. Beda suhu konstan untuk aliran panas dan dingin jika yang terjadi adalah kondensasi di satu aliran dan evaporasi pada aliran lainnya (Gambar 5.7a).

Gambar 5.7 Profil Distribusi Suhu pada HE (a) Condenser Reboiler; (b) salah satu fluida terkondensasi atau terevaporasi; (c) Counterflow; (d) Paralel Flow

Kelebihan utama aliran Countercurrent dibanding Cocurrent adalah suhu keluar aliran dingin dapat lebih tinggi dibanding suhu aliran panas keluar HE. Keefektifan suatu HE dapat dinyatakan sbb:
=
panas aktual yang dipindahka n = (Th1 Th2 ) /(Th1 Tc1 ) maksimum panas yang dipindahka n

(5.3) (5.4)

1 exp( NTU (1 C min / C max ) 1 (C min / C max ) exp( NTU (1 C min / C max )

5.1.5 Bahan diskusi dan latihan soal:

5.1

Suatu heat exchanger dengan aliran countercurrent dalam sistem pencairan Linde sederhana mendinginkan suatu aliran gas bersuhu tinggi, 20.2 MPa, dari 300 K menuju ke suhu keluaran Th . Aliran gas bertekanan rendah, 0.101 MPa,
2

dihangatkan dari 82 K ke suhu Tc . Laju alir massa dari aliran


2

hangat adalah 1.0 kg/s, sedangkan laju alir massa untuk aliran panas adalah 0.95 kg/s. Kapasitas panas rata-rata dari fluida panas dan fluida dingin diasumsikan konstan pada rentang suhu tersebut sebesar 1.599 kJ/kg K dan 1.013 kJ/kg K. Jika koefisien perpindahan panas keseluruhan untuk heat exchanger seluas 50 m2 ini diasumsikan konstan pada 110 W/m2 K, tentukan keefektifan heat exchanger, suhu keluaran untuk kedua fluida, dan laju perpindahan panas untuk exchanger ini. 5.2 Jika sebuah aliran paralel heat exchanger telah dipilih untuk mendinginkan aliran gas bertekanan tinggi pada soal 5.1, tentukan keefektifan heat exchanger, suhu keluaran kedua fluida, dan laju perpindahan panas untuk exchanger ini. Asumsi laju alir massa, kapasitas panas rata-rata, luas area exchanger dan koefisien perpindahan panas keseluruhan adalah sama dengan soal 5.1.
5.3

Aliran balik dalam plate-fin heat exchanger adalah gas helium dingin dengan laju alir massa 0.3 kg/s dan tekanan masuk serta suhunya adalah 0.101 MPa dan 110 K. Asumsi bahwa dimensi exchanger untuk sisi dingin exchanger adalah identik dengan bagian yang hangat dan sebuah permukaan bebas alir seluas 0.03 m2 juga tersedia untuk aliran countercurrent dari gas helium dingin, hitung koefisien perpindahan panas keseluruhan, jumlah unit perpindahan panas untuk heat exchanger, suhu keluaran gas dingin, dan panjang heat

exchanger yang dibutuhkan jika efektifitas keseluruhan dari heat exchanger tidak bisa kurang dari 0.85. 5.4 Suatu siklus Linde sederhana digunakan untuk mencairkan nitrogen dan beroperasi di antara 0.101 dan 10.1 Mpa. Jika suhu dari gas bertekanan tinggi yang meninggalkan kompresor adalah 300 K dan kompresor bekerja secara isotermal dan reversibel, apakah efek dari pengurangan efektifitas dari heat exchanger dari 1.0 ke 0.95 pada yield cairan, kerja per unit massa dicairkan, dan figure of merit? Bahan bacaan: Cryogenic Process Engineering hal. 220-235 5.2 KOMPRESOR Kompresi mengambil bagian yang sangat penting untuk sebagian besar kebutuhan energi dalam produksi gas-gas industri dan dalam pencairan gas alam. Untuk menekan biaya dan perawatan fasilitas kriogenik, perlu dilakukan perhatian khusus ketika memilih alat-alatnya. 3 tipe utama kompresor yang paling sering digunakan adalah reciprocating, sentrifugal dan screw. 5.2.1 Kompresor reciprocating Sekarang ini banyak refrigerator dan liquifier yang besarbesar menggunakan kompresor reciprocating. Walaupun efisien, kompresor kebutuhan reciprocating perawatan cenderung tinggi, telah besar, dan berisik, memiliki yang ini sering menimbulkan ke arah

masalah getaran/vibrasi. Masalah-masalah membawa kita perkembangan desain balanced-opposed. Desain ini menyediakan keseimbangan operasi diantara silinder yang saling bertentangan (lihat Gambar 5.8). Kedua gaya primer dan sekunder yang tidak seimbang antara silinder yang bertentangan telah di hilangkan, sehingga mengurangi getaran mesin. Hasil akhirnya adalah umur kompresor yang lebih panjang, pondasi yang lebih ringan, dan

kebutuhan

perawatan

yang

lebih

rendah.

Balance-opposed

kompresor juga memiliki kelebihan yaitu menggunakan ruangan yang lebih sedikit karena instalasi yang lebih rapat antara pendingin dan pipa-pipanya. Ruang kompresor juga dapat di hemat dengan cara menggantung rotor untuk synchronous motor drive, sehingga menghilangkan sambungan shaft yang panjang, outboard, bearing dan flywheels.

Gambar 5.8 kompresor reciprocating balance-opposed

Kompresor reciprocating dapat digunakan untuk rentang volume dan tekanan yang cukup luas. Balance-opposed kompresor reciprocating dapat beroperasi hingga 11,200 kW (15,000 brake horsepower) dalam satu unit yang menggunakan dua hingga sepuluh kompresor silinder dan dapat menangani rentang tekanan yang begitu luas karena kompresor ini beroperasi pada efisiensi maksimum dalam seluruh kondisi load. Untuk aplikasi yang membutuhkan horsepower dibawah 400 kW, digunakan motor induksi karena unit tersebut biasanya memperbolehkan untuk start

dibawah kondisi load, memiliki desain yang lebih sederhana, dan memiliki kebutuhan perawatan yang lebih rendah. Digunakan tiga tipe piston seal dalam kompresor reciprocating yang berhubungan dengan sistem pencairan helium, yaitu: cincin Teflon, cincin logam yang dilumasi, atau segel labirin. Trend baru-baru ini lebih mengarah ke kompresor tanpa pelumas. Silinder-silinder ini antara lain, cincin piston Teflon, cincin rider, dan pressure packing. Sebagai perbedaan dari kompresor Teflon dry-running, keistimewaan khusus dari kompresor piston labirin adalah tidak adanya friksi pada bagian gas-swept nya. Kedua dinding piston dan silinder di buat dengan sejumlah besar lekukan. Hal ini menghasilkan efek penyegelan labirin. Kompresor piston labirin memiliki rentang kapasitas hingga 10,000 m3/h dengan tekanan hingga 25 Mpa. Kompresor dengan pelumas, digunakan dalam sistem oksigen, biasanya beroperasi pada kecepatan piston yang lebih rendah sehingga mengurangi bahaya panas yang ditimbulkan. Sebagai alasan keamanan dalam merawat mesin-mesin ini, dilakukan kontrol yang keras akan prosedur pembersihan untuk meyakinkan bahwa tidak ada oli di dalam silinder kerja dan pemasangan valve. Baru-baru ini kompresor reciprocating telah dikembangkan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan untuk mengompresi uap helium dingin. Suatu unit yang telah dikembangkan oleh Fermilab terdiri atas sebuah pengaturan stainless steel piston/silinder dengan pegas yang berisi poppet-style valve masukkan dan keluaran yang kesemuanya terbuat dari logam. Valve-valve ini didesain sebagai check valve. Suatu pengujian menunjukkan bahwa efisiensi adiabatik dari kompresor ini beragam mulai dari 40 hingga 70 % sebagai fungsi rasio tekanan dengan kebocoran panas (heat leak) 35 W 10 W. Kompresor ini dapat menangani aliran massa daro 0 hingga 0.065 kg/s pada kecepatan 250 hingga 450 rpm. Helium dua

fase pada masukkan tidak menimbulkan masalah untuk kompresor ini. Driver atau penggerak untuk kompresor reciprocating harus dipilih menurut kebutuhan ekonomi dari tiap-tiap plant site. Driver dengan gear (geared drives) adalah yang paling umum digunakan ketika suplai steam yang cukup telah tersedia, sedangkan driver dengan motor menawarkan (motor drives) digunakan ketika utilitas lokal laju dengan daya rendah dalam jangka waktu yang

cukup lama. Motor drives ini telah digunakan untuk menggantikan motor induksi pada wilayah-wilayah yang berbahaya. Gas prime movers digunakan ketika memiliki suplai bahan bakar gas dengan biaya rendah yang cukup. Kebanyakan driver mesin adalah yang bertipe kecepatan. Variasi kecepatan antara 50 dan 100 % dapat ditangani. Karena kehilangan dari friksi akibat cairan pada kompresor berkurang pada rpm yang lebih rendah, tipe kontrol seperti ini dapat digunakan untuk memperoleh efisiensi yang tinggi. 5.2.2 Kompresor sentrifugal Kompresor sentrifugal telah dikembangkan selama beberapa tahun terakhir untuk memiliki ketahanan yang lebih baik. Sekarang ini banyak kompresor turbo digunakan dalam industri hidrokarbon untuk pemisahan dan pencairan gas dalam pabrik pemisahan udara. Efisiensinya yang tinggi juga membuat kompresor ini ideal untuk load dasar dalam pabrik LNG. Kompresor sentrifugal merupakan tipe axial ataupun radial. Kompresor radial digunakan untuk suction volume antara 0.5 dan 70 m3/s, sedangkan kompresor axial digunakan untuk volum laju alir yang sangat besar dimulai dari 20 m3/s hingga lebih dari 280 m3/s. Untuk desain tekanan tinggi dan rapat, beberapa kompresor axial harus memiliki impeler yang tertempel pada shaft. Diaphgram digunakan untuk memisahkan stage-stage individual dan juga untuk

mengontrol ketinggian dan arah gas menuju ke stage berikutnya. Tekanan dan aliran dikontrol melalui guide vanes, yang tertempel pada masukkan dari tiap-tiap impeler. Menggunakan bearing yang sesuai adalah sangat penting dalam meningkatkan operasi mekanis dari sebuah kompresor turbo. Untuk kompresor kecil dengan kecepatan putar diatas 10,000 rpm, biasanya digunakan ruas bearing dengan bantalan miring. Untuk menghilangkan kebocoran gas, segel shaft spesial telah disediakan pada ujung akhir kopling. Tergantung pada jenis gas yang sedang ditangani, ada tiga tipe sistem penyegelan berbeda yang dapat digunakan. Segel labirin (labyrinth seal) adalah yang paling mudah dan hanya digunakan ketika kebocoran konstan ke atmosfir dapat diatasi. Segel cincin mengapung (floating ring seal) biasanya digunakan untuk gas-gas yang mudah terbakar, beracun, atau mudah meledak dikarenakan kebocoran ke atmosfir dapat ditahan hingga jumlah yang sangat sedikit. Segel mekanis (mechanical seal) digunakan ketika sama sekali kebocoran gas yang terjadi tidak dapat diatasi. Segel mekanis ini berupa segel cincin mengapung yang kemudian dicocokkan dengan shaft mekanis. Shaft berfungsi sebagai cincin karbon geser pada bagian gas. Kompresor turbo dapat menjadi tidak stabil ketika mereka tidak lagi dapat menahan tekanan kedalam sistem dibandingkan dengan yang dikeluarkannya. Hal ini mengakibatkan penurunan dalam volum aliran, dan terjadi gelombang. Gelombang-gelombang ini dapat merusak kompresor. Sehingga, suatu sistem kontrol yang memadai perlu dipasang untuk mengeluarkan gas berlebih atau mengembalikannya ke bagian suction melalui sebuah pendingin (cooler). Kompresor turbo memiliki beberapa bagian yang harus dipasang. Ketika di desain secara memadai, kompresor ini dapat beroperasi untuk jangka waktu yang lama tanpa kegagalan atau keausan yang signifikan. Pengotor di dalam gas yang sedang

diproses, dalam oli pelumas jika digunakan, dan dalam cooling water dapat mengurangi jangka waktu operasi dari turbin secara signifikan. Pengotor dapat menyebabkan erosi, korosi, dan pembentukan kerak. Untuk meningkatkan ketahanan kompresor adalah sangat kritikal untuk memilih bahan yang tepat ketika mengoperasikannya pada lingkungan yang keras. Dengan menggunakan bahan yang sesuai, kompresor sentrifugal dapat didesain untuk menangani gasgas yang korosif dan erosif. Untuk memilih bahan yang tepat, semua kondisi operasi yang mungkin terjadi harus didefinisikan secara akurat. Ketika memilih kompresor sentrifugal, faktor desain dan ekonomi sangatlah penting. Pemilihan bahan juga sangat kritikal untuk performa kompresor dan kebutuhan perawatan. 5.2.3 Kompresor screw Kompresor screw pertama kali di kembangkan di Swedia pada awal tahun 1930-an. Desainnya dimodifikasi pada tahun 1958 untuk memasukkan mekanisme oil injection. Svenska Rotor Maskiner adalah pemegang terbesar dari paten lain kompresor juga screw; izin bagaimanapun, beberapa perusahaan memiliki

kebanyakan untuk pembuatan aktual. Kompresor screw secara luas digunakan didalam pendinginan dan pencairan freon dan helium. Mereka juga berkompetisi dengan balance-opposed kompresor reciprocating di beberapa aplikasi yang lebih besar. Sebagian besar kompresor screw adalah jenis yang menggunakan pelumas oli dan berupa semihermetic atau pun open drive. Pada jenis semihermetic motornya terletak dalam tempat yang sama dengan penutup kompresornya, sedangkan pada jenis open drive motornya terletak diluar penutup kompresor sehingga membutuhkan segel untuk shaftnya.

Satu-satunya bagian bergerak pada kompresor screw adalah dua intermeshing helical rotors. Rotor tersebut terdiri atas sebuah male lobe, yang berfungsi sebagai piston berputar, dan sebuah female flute, yang berfungsi seperti silinder. Female rotor terdiri atas enam flute sedangkan male rotor hanya memiliki empat lobe. Karena kompresi screw berputar merupakan proses positivedisplacement yang kontinyu, maka tidak terjadi gelombang dalam sistem ini. Sebuah siklus dari dari kompresi ditunjukkan pada Gambar 5.9. Ketika rotor tertarik ke dalam melewati intake port, gas tertarik secara axial ke dalam rotor kompresor (lihat Gambar 5.9a). Ketika pisau rotor berputar melewati intake port, maka gas akan terperangkap seperti terlihat pada Gambar 5.9b. Ketika rotor mendorong gas kedepan, rongga dimana gas terjebak didalamnya menjadi semakin kecil (lihat Gambar 5.9c). Gas yang terkompresi kemudian dibuang ke exit port setelah proses berlangsung semua.

Gambar 5.9 Langkah-langkah proses kompresi di dalam kompresor screw. Bagian yang diarsir merepresentasikan satu volum gas ketika gas tersebut melewati kompresor

Kompresor screw membutuhkan perawatan yang sangat sedikit karena rotor berputar pada kecepatan yang konservatif dan terlumaskan dengan baik dengan oli pendingin. Kompresor screw biasanya berjalan dengan kondisi dingin, sehingga meminimisasi kebutuhan pergantian oli dan intercoolers.

Salah satu keuntungan utama dari kompresor screw adalah kompresor ini mampu memperoleh rasio tekanan tinggi dalam mode tunggal. Untuk memperoleh volume tekanan tinggi yang sama akan membutuhkan mesin reciprocating stage ganda. Dikarenakan keuntungan ini dan yang lainnya, kompresor screw sekarang lebih diinginkan dibandingkan kompresor reciprocating untuk aplikasi pendinginan dan pencairan helium. Kompresor ini bersaing dengan kompresor reciprocating dalam beberapa aplikasi lainnya. 5.3 EKSPANDER Fungsi utama dari peralatan ekspansi kriogenik adalah untuk mengurangi suhu gas yang sedang diekspansi untuk menyediakan kebutuhan akan pendingin. Ekspansi fluida untuk menghasilkan pendinginan dapat dibedakan dengan jelas menjadi dua bagian: (1) dalam valve Joule-Thomson dimana tidak ada kerja dihasilkan, dan (2) pada ekspander dimana kerja mekanis dihasilkan. Walaupun kedua jenis kompresor tadi akan dibahas, ekspander turbo juga akan diberikan untuk kebanyakan aplikasi ekspansi kering. Sebuah ekspander merupakan alat mekanik untuk merubah sebagian energi dari sebuah aliran proses menjadi suatu kerja mekanis yang berguna, sehingga menghasilkan penurunan pada suhu dan tekanan fluida proses. Ada dua daerah aplikasi untuk pengembalian listrik dari daya ekspander buangan/waste dan pendinginan. sedangkan Dalam dalam pengembalian daya, tujuannya adalah untuk menghasilkan energi panas heat, pendinginan (atau pencairan) tujuannya adalah untuk mendinginkan fluida proses, dan kerja yang dihasilkan merupakan kepentingan sekunder. 5.3.1 Ekspander reciprocating Konsep dari ekspander reciprocating adalah mirip dengan kompresor reciprocating. Umumnya, unit-unit ini digunakan dengan

tekanan masukkan antar 4-20 MPa, walaupun begitu ekspander ini digunakan juga pada tekanan kurang dari 4 MPa untuk aliran yang kecil atau gas-gas dengan berat molekul yang rendah. Mesin ini beroperasi pada kecepatan hingga 500 rpm. Efisiensi termalnya (perbedaan untuk aktual entalpi/perbedaan besar. Sebuah entalpi maksimum dari yang mesin sensitif mungkin) berkisar antara 75 % untuk unit yang kecil hingga 85 % mesin-mesin adalah keuntungan relatif reciprocating efisiensi mereka kurang

dibandingkan perubahan substansial dalam kondisi operasi. Ekspander reciprocating pertama kali dibuat oleh Georges Claude pada tahun 1902. Pada tahun dengan 1912, Heylandt mengembangkan efisiensi ekspander memperpanjang

silinder dan piston sehingga piston dapat di segel pada suhu kamar. Sebuah gambaran skemaatik dari ekspander Heylandt diperlihatkan pada Gambar 5.10. Piston terdiri atas dua bagian, sebuah penutup yang terbuat dari bahan dengan konduktivitas panas yang rendah dan sebuah piston penyegel. Pengembangan selanjutnya dilakukan oleh Collins ketika ia memasukkan tongkat piston yang fleksibel yang dijaga regangannya. Collins juga memperbaiki ketahanan aus dari piston dengan memasang Micarta sleeve diantara silinder, piston, dan tutup yang termodifikasi (lihat Gambar 5.11). Beberapa keistimewaan perancangan ekspander reciprocating termasuk dudukan valve keras yang baru, paking valve spesial yang mencegah kebocoran, dan cincin rider piston yang berfungsi sebagai pengarah bagi piston. Untuk ekspander tanpa pelumas, digunakan cincin non-logam. Cylinder liner yang mudah dipindahkan dan piston yang mengapung memberikan kesejajaran dan ketahanan aus yang baik.

Gambar 5.10 Gambaran skematik dari pengaturan piston dalam ekspander reciprocating Heylandt

Ada

lima

sumber

utama

penyebab

ketidakefisienan

(inefisiensi) yang terkait dengan ekspander reciprocating, yaitu: (1) valve losses dalam kaitannya dengan drop pressure yang melewati valve yang disebabkan karena ketahanan aliran fluida; (2) ekspansi yang tidak sempurna, karena valve masukkan dan keluaran tidak terbuka dan tertutup ketika piston berada pada posisi ekstrimnya; (3) kebocoran panas dalam kaitannya dengan panas yang sedang dipindahkan dari lingkungan ke gas selama masa ekspansi; (4) ekspansi yang tidak ideal karena panas yang terbentuk dari gesekan antara cincin piston dan silinder juga dipindahkan ke gas yang sedang mengembang; dan (5) kehilangan luas/ruang yang mengurangi efek pendinginan secara keseluruhan. Ruang yang ada

ketika piston berada pada posisi ekstrimnya memerangkap gas yang nantinya harus di tekan ulang. Kerja yang digunakan untuk menekan ulang gas yang tertinggal harus berasal dari jumlah gas masukkan selanjutnya. Tiap-tiap losses yang telah disebutkan diatas berkontribusi terhadap inefisiensi sebesar 2 hingga 6 % pada mesin ekspansi reciprocating. Efisiensi isentropik keseluruhan dari sebuah mesin reciprocating umumnya memiliki rentang dari 75 hingga 82 %.

Gambar 5.11 Gambaran skematik dari sebuah ekspander Collins dengan Micarta sleeve pada seluruh permukaan yang mudah aus

Dalam operasi normal, perlu diperhatikan agar tidak terbentuk cairan selama siklus ekspansi pada ekspander reciprocating. Cairan dalam ruang ekspansi dapat menyebabkan erosi dan korosi dari peralatan tersebut. Masalah-masalah mekanis yang cukup serius juga dapat muncul jika ada cairan yang membeku dalam silinder ekspander. Perhatian khusus juga perlu diambil untuk mencegah ekspansi gas ke daerah uap-cair dan daerah titik triple dari refrigeran. 5.3.2 Expander turbo (turboexpander) Ekspander turbo telah menggantikan ekspander reciprocating dalam pemasangan daya tinggi begitu juga dengan pencair helium kapasitas kecil. Ukurannya memiliki rentang dari 0.75 hingga 7500 kW dengan laju alir mencapai 28 juta m3/hari. Ekspander jenis ini lebih dipilih dibandingkan peralatan kriogenik yang lain karena kemampuannya untuk mengembunkan etana dan hidrokarbonhidrokarbon berat lainnya. Ekspander jenis ini biasanya memiliki berat dan biaya yang lebih kecil dan juga membutuhkan ruang dan operator yang lebih sedikit. Beberapa ekspander turbo telah beroperasi selama lima tahun tanpa kegagalan. Fungsi utama dari ekspander turbo adalah menyediakan ekspansi dari sebuah gas dengan recovery dari kerja yang dihasilkan. Kebanyakan desain dari turbo ekspander adalah gasbearing dan centripetal radial inflow. Sebuah potongan dari ekspander turbo diperlihatkan pada Gambar 5.12. Sebuah shaft menyambungkan brake compressor wheel pada ujung sisi hangat dengan roda turbin pada ujung sisi dingin. Brake compressor wheel mengontrol kecepatan putar shaft dengan sirkuit dayanya. Sirkuit daya terdiri atas sebuah throttle valve dan sebuah heat exchanger. Sistem daya ini mengambil kerja dari gas dalam ekspander dan memindahkan energi ini sebagai panas dalam sebuah heat sink. Bearing radial memiliki tiga bantalan miring yang di desain secara

aerodinamis yang menjaga lapisan pelumas gas antara bantalan dan shaft. Ekspander turbo dapat diklasifikasikan sebagai axial mauupun radial. Ekspander dengan aliran axial memiliki jenis pisau impulse atau reaksi dan sangat cocok untuk ekspander multistage karena memreka memberikan jalur aliran yang lebih mudah dari satu stage ke stage yang lainnya. Lain halnya dengan ekspander turbo radial, ekspander ini memiliki regangan yang lebih rendah pada kecepatan yang diberikan, hal ini membuat ekspander untuk bekerja pada kecepatan tinggi. Efisiensi yang lebih tinggi dengan kebutuhan energi yang lebih rendah dapat dihasilkan oleh ekspander ini.

Gambar 5.12 Ekspander turbo kriogenik dengan sistem bearing selfacting gas

Ketika

mengoperasikan

ekspander

turbo,

beberapa

wilayah/area perlu diperhatikan. Debu atau partikel-partikel padatan dalam aliran gas dapat menyebabkan erosi pada ekspander. Ketika mengoperasikan ekspander pada kecepatan sebesar 200 m/s, resonansi frekuensi dapat terjadi sehingga dapat meretakkan rotor. Biasanya, pabrikan akan melaporkan mode frekwensi terendah yang merupakan four-node rim atau vibrasi saddle. Masalah lain mengikutsertakan sebagian aliran yang terkondensasi, yang dapat menyebabkan erosi pada rotor. Dalam kondisi operasi normal, tidak lebih dari 15-20 % berat dari gas diperbolehkan untuk terkondensasi ketika melewati ekspander turbo jika ingin meminimisasi kerusakan. 5.3.3 Joule-Thomson valve Joule-Thomson valve (JT valve) sering juga disebut sebagai expansion valve. Valve-valve ini merupakan komponen yang cukup penting dalam kebanyakan sistem pendinginan. JT valve memberikan pilihan yang cukup menarik terhadap ekspander turbo untuk aplikasi gas recovery dalam skala kecil. Plant ini biasa disebtu sebagai Joule-Thomson plant. Fungsi prinsipal dari JT valve adalah untuk memperoleh pendinginan isentalpik dari gas yang mengalir melalui valve. Sebuah valve tipikal diberikan pada Gambar 5.13. Untuk mengurangi masalah penyegelan pada valve dan meminimisasi kebocoran melalui valve-stem packing, aliran bertekanan tinggi selalu dimasukkan secara langsung pada bagian bawah valve jauh dari dudukan valve. Kontrol positif pada posisi valve sangat disarankan diatas pegas balik valve karena pengotor dapat menyebabkan dudukan valve melekat. Gagang valve biasanya dibuat cukup panjang sehingga penyegelan gagang berada pada

suhu ambien. Dinding dari tube dengan sengaja dibuat tebal dan berlubang untuk mengurangi perpindahan panas. Fungsi lain dari expansion valve adalah untuk memisahkan cairan yang terbentuk setelah ekspansi dari uap. JT valve ini, selain telah digunakan secara luas untuk proses pendinginan juga telah menawarkan suatu alternatif yang menarik sebagai pengganti ringan ekspander skala turbo untuk aplikasi recovery plant, hidrokarbon sama kecil. Dalam Joule-Thomson

ekspander dihilangkan, tapi untuk memperoleh level recovery yang seperti pada plant ekspander turbo, kompresornya harus dinaikkan skalanya terlebih dahulu (scaled up). Keuntungan lain dari JT valve selain kesederhanaannya secara keseluruhan dalam pengoperasiannya beragam. adalah kemampuannya untuk beroperasi dibawah masukkan laju alir gas dengan rentang yang lebih luas dan

Gambar 5.13 Tipikal Joule-Thomson valve