Anda di halaman 1dari 35

BAHAN AJAR

ASUHAN KEBIDANAN

A. Deskripsi Singkat
Mata kuliah ini membahas tentang pengertian aspek budaya dalam
praktik kebidanan, pain in llabor based on culture, klarifikasi nyeri,
mekanisme nyeri, penanganan nyeri, refocusing asuhan dalam
antenatal, deteksi anemia dalam kehamilan dengan pemerikssaan Hb
pada waktu yang tepat, pengukuran BB dan TB dalam kunjungan
antenatal, pengukuran tinggi fundus uteri dengan pita pengukur, posisi
yang aman dalam kehamilan, kunjungan antenatal, parancraft
education, birth plan, support system dalam kehailan, implementasi
hak ibu dan janin pada massa kehailan, deteksi dini koplikasi dalam
kehamilan.
B. Tujuan Instruksional Umum
Setelah mengikuti mata kuliah ini, diharapkan mahasiswa dapat
menjelaskan dan memahami tentang pengertian aspek budaya dalam
praktik kebidanan dan refocusing asuhan dalam antenatal.
C. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mengikuti mata kuliah ini, diharapkan mahasiswa mampu
menjelaskan pengertian aspek budaya dalam praktik kebidanan, pain
in llabor based on culture, klarifikasi nyeri, mekanisme nyeri,
penanganan nyeri, refocusing asuhan dalam antenatal, deteksi
anemia dalam kehamilan dengan pemerikssaan Hb pada waktu yang
tepat, pengukuran BB dan TB dalam kunjungan antenatal,
pengukuran tinggi fundus uteri dengan pita pengukur, posisi yang
aman dalam kehamilan, kunjungan antenatal, parancraft education,
birth plan, support system dalam kehailan, implementasi hak ibu dan
janin pada masa kehamilan, deteksi dini komplikasi dalam kehamilan.

1
D. Penyajian Materi

1. Pengertian Aspek budaya dalam praktik kebidanan


a) Defenisi budaya
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki
bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dar
generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsure yang
unik, termasuk system agama dan politik, adat istiadat, bahasa,
perkakas, pakaian, bangunan dan karya seni.
Perilaku kesehatan merupakan salah satu faktor determinan pada
derajat kesehatan. Perilaku kesehatan tersebut meliputi seluruh
perilaku seseorang atau masyarakat yang dapat memberi akibat
terhadap kesehatan, kesakitan dan kematian. Perilaku sakit adalah
cara seseorang bereaksi terhadap gejala penyakit yang
biasanya  dipengaruhi oleh pengetahuan, fasilitas, kesempatan,
kebiasaan, kepercayaan, norma, nilai dan segala aturan dalam
masyarakat atau yang biasa disebut dengan budaya.
Beberapa perilaku dan aspek budaya yang mempengaruhi
pelayanan kebidanan diantaranya adalah sebagai berikut :
1) Health believe
    Adalah tradisi- tradisi yang diberlakukan secara turun-
menurun dalam. Contohnya: dalam pemberian makanan pada
bayi, di daerah Nusa Tenggara Barat ada pemberian nasi
papah atau di jawa dengan tradisi nasi pisang.
2)  Life style
Adalah gaya hidup yang berpengaruh terhadap kesehatan.
Contohnya gaya hidup kawin cerai di lombok atau gaya hidup
perokok
3) Health seeking behavior
      Salah satu bentuk perilaku sosial budaya yang
smempercayai apabila seseorang sakit tidak perlu ke

2
pelayanan kesehatan akan tetapi cukup dengan membeli obat
di warung atau mendatangi dukun.

b. Perilaku budaya masyarakat dalam praktek kebidanan.


1)   hamil
 Perilaku budaya masyarakat selama kehamilan
 Upaya yang harus dilakukan untuk mengupayakan
keselamatan bagi janin dalam prosesnya menjadi bayi
hingga saat kelahirannya. Contohnya upacara 7 bulanan
  Pantangan jangan memancing ikan karena akan
menyebabkan bibir anak menjadi sumbing
  Larangan masuk hutan
 Pantangan keluar waktu magrib
 Pantangan menjalin rambut karena bisa menyebabkan
lilitan tali pusat
  Pantangan nazar karena bisa menyebabkan air liur
menetes terus
  Pantangan makan tertentu, pantangan terhadap pakaian,
pantangan jangan pergi malam, pantangan jangan duduk
depan pintu, dll
  Kenduri
kenduri pertama kali dilakukan pada waktu hamil 3 bulan
sebagai tanda wanita itu hamil, kenduri kedua dilakukan
pada waktu umur kehamilan & bulan.
 Peran bidan terhadap prilaku selama hamil
  KIE tentang menjaga kehamilan yaitu dengan ANC
teratur,komunikasi makanan bergizi, batasi aktifitas fisik,
dan tidak perlu pantang makan
  KIE tentang segala sesuatu sudah diatur tuhan yang maha
esa, mitos yang tidak benar ditinggalkan

3
  Pendekatan kepada tokoh masyarakat untuk mengubah
tradisi yang negatif atau berpengaruh buruk terhadap
kehamilan.
2) Persalinan
  Perilaku budaya masyarakat selama persalinan
 Bayi laki-laki adalah penerus keluarga yang akan membawa
nama baik
   bayi perempuan adalah pelanjut atau penghasil keturunan
   Memasukan minyak ke dalam vagina supaya persalinan
lancar
 Melahirkan di tempat terpencil hanya dengan dukun,
biasanya persalinan dilakukan dengan duduk dilantai di atas
tikar, dukun yang menolong menunggu sampai persalinan
selesai.
  Minum air akar rumput fatimah dapat membuat persalinan
lancar
 Peran Bidan terhadap perilaku selama persalinan
 Memberikan pendidikan pada penolong persalinan
mengenai tempat persalinan, proses persalinan, perawatan
selama dan pasca persalinan.
 Memberikan pendidikan mengenai konsep kebersihan baik
dari segi tempat dan peralatan.
 Bekerja sama dengan penolong persalinan( dukun) dan
tenaga kesehatan setempat.
3) Nifas
  Perilaku budaya masyarakat selama masa nifas
 Setelah bersalin ibu dimandikan oleh dukun selanjutnya ibu
sudah harus bisa merawat dirinya sendiri lalu ibu diberikan
juga jamu untuk peredaran darah dan untuk laktasi. Cara
ibu tidur setengah duduk agar darah kotor lekas keluar. Ibu

4
masa nifas tidak boleh minum banyak, ibu tidak boleh
keluar rumah sebelum 40 hari karena bisa sawan, ibu tidak
boleh makan terong karena bisa membuat bayi demam dan
lain sebagainya.
4) Perawatan Bayi
 Perilaku budaya masyarakat pada bayi baru lahir
Bayi diurut baru dimandikan oleh dukun selama 40 hari,
ramuan tali pusat tiap hari harus diganti sampai putus. Tali
pusat yang sudah lepas dibuat jimat atau obat. Bayi ditidurkan
disamping ibu,tidak boleh dibawa jauh dari rumah sebelum bayi
40 hari, khitan dilakukan pada bayi laki-laki dan perempuan.
 Peran bidan terhadap perilaku masa nifas dan bayi baru lahir
 KIE prilaku positif dan negatif
 Memberikan penyuluhan tentang pantangan makanan
selama nifas dan menyusui sebenarnya kurang
menguntungkan bagi ibu dan bayi.
 Memberikan pendidikan tentang perawatan bayi baru lahir
yang benar dan tepat, meliputi pemotongan tali pusat,
membersihkan/memandikan, menyusukan (kolostrum), dan
menjaga kehangatan bayi.
   Memberikan penyuluhan pentingnya pemenuhan gizi
selama masa pasca bersalin, bayi dan balita.
2. Pain in labor based on culture          
 Pain in labor based on culture adalah bahwa budaya memainkan
peran penting dalam sikap menghadapi rasa nyeri persalinan.
Tanggapan terhadap nyeri dalam melahirkan dapat dipengaruhi
oleh  faktor-faktor budaya, makna nyeri dan harapan intervensi
berbeda antara kebudayaan yang satu dengan yang lainnya.
Beberapa budaya mengharapkan stoicisme ( sabar dan
membiarkannya) sedang budaya lainnya mendorong keterbukaan
untuk menyatakan perasaan ibu. Salah satu kebutuhan wanita dalam

5
proses persalinan adalah adalah keringanan rasa sakit. Umumnya
bidan menemukan ibu pada persalinan awal normal , mengeluh nyeri
hebat,  yang terlihat dari perilaku marah, mengulang-ulang cercaan,
dan mengeluarkan kata-kata secara berlebihan, tetapi ketika
melakukan palpasi bidan hanya menemukan kontraksi ringan
berdurasi singkat. Bidan dapat menghadirkan perubahan perillaku
yang dramatis ketika dramatis ketika memberi perhatian terhadap apa
yang dirasakan ibu secara fisik dan dialami secara psikologis.
Kemungkinan besar ibu merasa sangat takut. Dengan melakukan
perawatan penunjang ibu dapat dibantu untuk terseyum,
meningkatkan kemampuan kopingnya untuk menuju persalinan aktif
yang tidak memerlukan narkotik pada saat ini. Sebaliknya dalam
mengobati ibu, bidan harus selalu mengantisipasi kapan ia paling
membutuhkannya, yaitu selama transisi dan kemudian mengatur
perencanaan. Nyeri persalinan yang dialami ibu tidak boleh
diremehkan terlepas apapun temuan bidan. Ibu merasakan dan bidan
harus menghargai apa yang dialaminya. Sekali lagi ditegaskan, kiat
pengobatan melibatkan perencanaan perawatan penunjang secara
total, termasuk pengobatan sepanjang persalinan yang di rancang
untuk setiap ibu dengan memperhatikan batas keamanan.
3. Klasifikasi Nyeri
Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi
seseorang dan ekstensinya diketahui bila seseorang pernah
mengalaminya (Tamsuri, 2007). Menurut International Association for
Study of Plain (IASP), nyeri adalah sensori subyektif dan emosional
yang tidak menyenangkan yang didapat terkait dengan kerusakan
jaringan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi
terjadinya kerusakan.

6
Nyeri secara esensial dapat dibagi atas dua tipe yaitu nyeri adaptif
dan nyerimaladaptif. Nyeri adaptif berperan dalam proses survival
dengan melindungi organisme dari cederaatau sebagai petanda
adanya proses penyembuhan dari cedera. Nyeri maladaptif terjadi jika
ada proses patologis pada sistem saraf atau akibat dari abnormalitas
respon sistem saraf. Kondisi ini merupakansuatu penyakit (pain as a
disease)

.Pada praktek klinis sehari-hari kita mengenal 4 jenis nyeri :


a) Nyeri Nosiseptif 
Nyeri dengan stimulasi singkat dan tidak menimbulkan
kerusakan jaringan. Pada umumnya! tipe nyeriini tidak
memerlukan terapi khusus karena perlangsungannya yang
singkat. Nyeri ini dapat timbul jikaada stimulus yang cukup kuat
sehingga akan menimbulkan kesadaran akan adanya stimulus
berbahaya!dan merupakan sensasi fisiologis vital. "ntensitas
stimulus sebanding dengan intensitas nyeri. Contoh : nyeri pada
operasi, nyeri akibat tusukan jarum dll.
b) Nyeri Inflamatorik 
Nyeri dengan stimulasi kuat atau berkepanjangan yang
menyebabkan kerusakan atau lesi jaringan. Nyeri tipe "" ini dapat
terjadi akut dan kronik dan pasien dengan tipe nyeri ini! paling
banyak datang kefasilitas kesehatan. Contoh : nyeri pada
rheumatoid artritis
c. Nyeri Neuropatik 
Merupakan nyeri yang terjadi akibat adanya lesi sistem saraf
perifer (seperti pada neuropati diabetika! post-herpetik neuralgia!
radikulopati lumbal! dll) atau sentral (seperti pada nyeri pasca
cedera medulaspinalis! nyeri pasca stroke! dan nyeri pada
sklerosis multipel).
d. Nyeri Fungsional/ Psikogenik 

7
Bentuk sensitivitas nyeri ini ditandai dengan tidak ditemukannya
abnormalitas perifer dan defisitneurologis. Nyeri disebabkan oleh
respon abnormal sistem saraf terutama hipersensitifitas
aparatussensorik. %eberapa kondisi umum memiliki gambaran
nyeri tipe ini yaitu fibromialgia! iritable bo&elsyndrome! beberapa
bentuk nyeri dada non-kardiak! dan nyeri kepala tipe tegang.
'idak diketahuimengapa pada nyeri fungsional susunan saraf
menunjukkan sensitivitas abnormal atau hiper-responsifitas.
4. Mekanisme Nyeri
Mekanisme nyeri dari rangsang nosiseptor aferen primer ke
pengalaman subjektif dibagi menjadi empat langkah: transduksi,
transmisi, modulasi, dan persepsi.
a) Transduksi
Transduksi merupakan aktivasi nosiseptor aferen primer.
Nosiseptor aferen primer dapat diaktifkan oleh stimulus termal,
mekanik, kimia yang berbahaya dan suhu dingin yang berbahaya.
Nosiseptor aferen primer juga dapat diaktifkan oleh substansi kimia
endogen algesic yaitu, mediator inflamasi. Transduksi terjadi ketika
stimulus berbahaya bereaksi pada ujung saraf bebas reseptor nyeri
yang terletak dalam berbagai macam jaringan, mengarah ke
aktivitas elektrik depolarisasi dan menghasilkan impuls saraf
potensial aksi. Potensial aksi dimulai dengan perubahan tiba-tiba
keadaan istirahat normal potensial membran negatif menjadi
potensial membran positif lalu diakhiri dengan perubahan kembali
menjadi potensial negatif. Potensial aksi bergerak sepanjang
membran sel hingga mencapai akhir akson. Keadaan istirahat pada
membran sel disebut polarisasi yang cenderung agak negatif.
Polarisasi dipertahankan oleh keseimbangan antara ion natrium
pada bagian luar dan ion kalium pada bagian dalam. Ketika
membran menjadi depolarisasi, terjadi permiabilitas mendadak
terhadap ion natrium mencapai bagian dalam akson, melalui

8
saluran khusus dalam membran sel yang disebut saluran natrium.
Pada waktu yang sama saluran khusus sensitif pada kalium
membuka, mengijinkan aliran keluar kalium. Setelah membran
menjadi lebih permiabel terhadap ion natrium, saluran natrium
mulai menutup dan saluran kalium membuka lebih dari biasanya.
Karena difusi cepat ion kalium kembali pada sel mempertahankan
kembali keadaan istirahat potensial membran negatif, disebut
repolarisasi membran.
b) Transmisi
Proses kedua disebut transmisi yang mengarah pada aktivitas
neural yang membawa input nosiseptif ke dalam sistem saraf pusat
untuk proses selanjutnya. Terdapat tiga komponen dasar sistem
transmisi yaitu:

 Saraf sensoris perifer . yaitu neuron aferen primer (neuron orde


1), saraf ini membawa input nosiseptif dari organ sensoris
menuju serabut spinal. Potensial aksi muncul pada saat ujung
saraf bebas mentransmisikan sinyal nyeri menuju sistem saraf
pusat melalui serabut saraf aferen primer. Badan sel pada
neuron aferen primer yang menghantarkan impuls menuju
sistem saraf pusat terdapat dalam ganglion saraf yang
merupakan bagian sistem nyeri perifer. Serabut saraf aferen
melalui ganglion saraf kemudian memasuki sistem saraf pusat
melalui sinaps dengan neuron orde kedua.
 Neuron orde kedua yang membawa input ke pusat yang lebih
tinggi. Neuron aferen orde kedua dalam tanduk dorsal spinalis
dan tanduk dorsal medula menyilang menuju sisi kontralateral
dan naik menuju talamus melalui jalur spinotalamik pada saraf
servikal dan trigeminotalamik pada saraf trigeminal.
 Interaksi antara neuron, talamus, korteks, dan sistem limbik
serta input nosiseptif yang mencapai pusat. Akson dari traktus

9
spinotalamik dan trigeminotalamik bersinaps dengan neuron
orde ketiga dalam talamus. Lalu neuron orde ketiga
memproyeksikan impuls ke area yang berbeda dalam serebral
korteks sensoris dan sistem limbik otak. Impuls ini
menyebabkan dimensi motivasi dan emosional nyeri.

c) Modulasi. Proses ketiga meliputi pengalaman subjektif nyeri yang


disebut modulasi. Modulasi mengacu pada aktivitas neural sentral
yang melemahkan dan mengkontrol sinyal nyeri yang datang.
Aktivitas dalam sistem modulasi nyeri yaitu mengurangi aktivitas
jalur transmisi nyeri yang merupakan respons dari stimulus yang
berbahaya. Sinyal nosiseptif yang menuju ke atas (asenden)
bersinaps di dalam otak tengah mengaktifkan pelepasan
norepinephrine dan serotonin, 2 neurotransmitter utama yang
terlibat dalam jalur inhibitor yang menuju ke bawah (desenden).
Sistem opioid endogen untuk modulasi nyeri juga dapat terjadi.
Peptida opioid endogen mengurangi transmisi nosiseptif dengan
mencegah pelepasan neurotransmitter eksitator substansi P dari
terminal saraf aferen primer.
d) Persepsi Nyeri . Proses terakhir meliputi pengalaman subjektif yang
disebut persepsi nyeri. Jika input nosiseptif mencapai korteks
persepsi terjadi secara cepat menginisiasi interaksi kompleks
antara neuron dan pusat otak. Persepsi merupakan hasil akhir
proses nyeri yang terjadi ketika pesan nyeri mencapai pusat yang
lebih tinggi, penderitaan dan perilaku yang berhubungan dengan
nyeri dimulai. Persepsi nyeri memiliki dua komponen yaitu dimensi
sensordiskriminator dan dimensi afektif. Dimensi afektif nyeri
memberikan perasaan yang tidak menyenangkan dan emosi yang
bersamaan implikasi yang berhubungan dengan nyeri.

5. Penanganan Nyeri

10
Penanganan Nyeri (Pain Management) Managemen nyeri atau Pain
management adalah salah satu bagian dari displin ilmu medis yang
berkaitan dengan upaya-upaya menghilangkan nyeri atau pain relief.
Managemen Nyeri Farmakologikal Yaitu terapi farmakologis untuk
menanggulangi nyeri dengan cara memblokade transmisi stimulan
nyeri agar terjadi perubahan persepsi dan dengan mengurangi respon
kortikal terhadap nyeri.

a) Penanganan utama pada nyeri nosiseptif adalah pemberian anti


radang (NSAID/non steroid anti-inflammatory drugs) karena yang
mendasari nyeri ini adalah proses inflamasi (radang). Sedangkan
nyeri neuropatik sampai saat ini, penanganannya masih
merupakan tantangan besar bagi dunia kedokteran. Karena pada
nyeri neuropatik sudah terjadi kerusakan saraf, apabila tidak
ditangani dengan baik biasanya keluhan nyeri akan dirasakan
dalam jangka waktu lama bahkan menetap, hal ini sesuai dengan
sifat jaringan saraf itu sendiri yang regenerasinya tidak sempurna
seperti jaringan lain. Terapi medika mentosa (obat-obatan) yang
sering digunakan untuk nyeri neuropatik adalah anti depresan
seperti TCA, SSRI, Anti konvulsan seperti Carbamazepin, fenitoin,
Opioid. Prinsip pemberian terapi nyeri berdasarkan skala nyeri
(visual analog scale /skala 0-10) dan berdasarkan mekanisme
nyeri itu sendiri (nosiseptif atau neuropatik).

b) Penanganan nyeri yang lebih advance bisa dilakukan dengan


tindakan pain intervention untuk membantu penegakan
diagnostik sekaligus mengurangi keluhan nyeri. Di bidang
neurologi sendiri, tindakan intervensi nyeri yang sering
dilakukan adalah facet block intervention  yaitu memberikan
injeksi analgetik dengan bantuan teknologi X-Ray  yang canggih
sebagai panduan selama prosedur tindakan dilaksanakan.

11
c) Penderita nyeri neuropatik wajib mengetahui terapi yang
dilakukan hanya untuk mengurangi rasa nyeri. Di RS Awal Bros
Pekanbaru injeksi analgetik dengan X-Ray digunakan untuk
terapinya. Dan penggunaan alat ini dapat mengurangi risiko
terhadap salahnya pemberian terapi obat-obatan.

d) Mengetahui penyebab nyeri adalah langkah pertama


penyembuhan

e) Pengobatan yang dilakukan untuk mengatasi neuropatik


dilakukan untuk meredakan gejala yang muncul. Selain itu,
pengobatan juga dilakukan untuk mengatasi penyebab dasar
yang mengakibatkan munculnya neuropatik. Jadi, pengobatan
tergantung pada faktor atau kondisi yang menyebabkan
neuropatik sejak awal. Kebanyakan, jika penyebab dasarnya
terobati, maka neuropatik yang terjadi juga akan hilang atau
sembuh dengan sendirinya.

f) Khususnya pada neuropatik diabetes, pengaturan kadar gula


dan terus memonitor kadar gula dalam darah agar tidak
melebihi batas normal akan sangat penting dalam membantu
mencegah kerusakan lebih lanjut pada bagian saraf yang sudah
terpengaruh. Jika neuropatik yang muncul karena adanya
tekanan atau terhimpitnya saraf akibat tumor, maka kondisi ini
bisa ditangani dengan prosedur operasi. Neuropatik karena
penyakit autoimun, infeksi, penyakit ginjal, defisiensi vitamin,
efek samping obat, trauma atau cedera, dan penyebab dasar
lain akan membutuhkan penanganan berbeda. Sedangkan pada
neuropatik akibat kekurangan nutrisi, defisiensi vitamin, atau
karena kecanduan minuman keras, bisa dicegah dengan pola
makan seimbang dan membatasi konsumsi alkohol.Untuk
penanganan nyeri ini, harus diketahui terlebih dahulu apa

12
penyebabnya. Bagi masyarakat yang mengalami rasa nyeri
segera periksakan diri ke dokter, jangan sampai terlambat

Adapun obat yang digunakan untuk terapi nyeri adalah :

a. Analgesik Narkotik Menghilangkan nyeri dengan merubah aspek


emosional dari pengalaman nyeri (misal : persepsi nyeri).

b. Analgesik Lokal Analgesik bekerja dengan memblokade konduksi


saraf saat diberikan langsung keserabut saraf.

c. Analgesik yang dikontrol klien Sistem analgesik yang dikontrol klien


terdiri dari impus yang diisi narotika menurut resep, dipasang
dengan pengatur pada lubang injeksi intravena.

d. Obat obat nonsteroid Obat-obat non steroid non inflamasi bekerja


terutama terhadap penghambat sintesa prostaglandin.

6. REFOCUSING ASUHAN DALAM ANTENATAL


 Refocusing Asuhan Kehamilan
Hasil survey kesehatan rumahtangga (SKRT) tahun 1995
menunjukkan angka kematian ibu sebesar 373 per 100.000 kelahiran
hidup dengan penyebab utama adalah perdarahan, infeksi dan
eklampsia. Sebenarnya bidan memiliki peran penting dalam
mencegah dan atau menangani setiap kondisi yang mengancam jiwa
ini melalui beberapa intervensi yang merupakan komponen penting
dalam ANC seperti : mengukur tekanan darah, memeriksa kadar
proteinuria, mendeteksi tanda-tanda awal perdarahan/infeksi, 
maupun deteksi & penanganan awal terhadap anemia. Namun
ternyata banyak komponen ANC yang rutin dilaksanakan
tersebut  tidak efektif untuk menurunkan angka kematian maternal &
perinatal.

13
Refocusing berasal dari kata refocused yang artinya perbarui.
Refocusing Asuhan adalah asuhan kehamilan yang diberikan pada ibu
hamil dengan hal-hal yang terfokus pada kebutuhan ibu.

Fokus lama ANC :

a) Mengumpulkan data dalam upaya mengidentifikasi ibu yang beresiko


tinggi dan merujuknya untuk mendapatkan asuhan khusus.
b) Temuan-temuan fisik (TB, BB, ukuran pelvik, edema kaki, posisi &
presentasi janin di bawah usia 36 minggu dsb) yang memperkirakan
kategori resiko ibu.
c)   Pengajaran / Pendidikan kesehatan yang ditujukan untuk mencegah
resiko/komplikasi.

 Isi Refocusing ANC

Penolong yang terampil/terlatih harus selalu tersedia untuk :

a) Membantu setiap bumil & keluarganya membuat perencanaan


persalinan : petugas kesehatan yang terampil, tempat bersalin,
keuangan, nutrisi yang baik selama hamil, perlengkapan esensial
untuk ibu-bayi). Penolong persalinan yang terampil menjamin asuhan
normal yang aman sehingga mencegah komplikasi yang mengancam
jiwa serta dapat segera mengenali masalah dan merespon dengan
tepat.
b) Membantu setiap bumil & keluarganya mempersiapkan diri
menghadapi komplikasi  (deteksi dini, menentukan orang yang akan
membuat keputusan, dana kegawatdaruratan, komunikasi,
transportasi, donor darah,) pada setiap kunjungan. Jika setiap bumil
sudah mempersiapkan diri sebelum terjadi komplikasi maka waktu
penyelamatan jiwa tidak akan banyak terbuang untuk membuat
keputusan, mencari transportasi, biaya, donor darah, dsb.
c) Melakukan skrining/penapisan kondisi-kondisi yang memerlukan
persalinan RS (riwayat SC, IUFD, dsb). Ibu yang sudah tahu kalau ia

14
mempunyai kondisi yang memerlukan kelahiran di RS akan berada di
RS saat persalinan, sehingga kematian karena penundaan keputusan,
keputusan yang kurang tepat, atau hambatan dalam hal jangkauan
akan dapat dicegah.
d)  Mendeteksi & menangani komplikasi (preeklamsia, perdarahan
pervaginam, anemia berat, penyakit menular seksual, tuberkulosis,
malaria, dsb).
e)  Mendeteksi kehamilan ganda setelah usia kehamilan 28 minggu, dan
letak/presentasi abnormal setelah 36 minggu. Ibu yang memerlukan
kelahiran operatif akan sudah mempunyai jangkauan pada penolong
yang terampil dan fasilitas kesehatan yang dibutuhkan.
f)  Memberikan imunisasi Tetanus Toxoid untuk mencegah kematian
BBL karena tetanus.
g)  Memberikan suplementasi zat besi & asam folat. Umumnya anemia
ringan yang terjadi pada bumil adalah anemia defisiensi zat besi &
asam folat.
7. Deteksi Anemia dalam Kehamilan dengan pemeriksaan Hb pada
waktu yang tepat

Anemia adalah kondisi dimana sel darah merah menurun atau


menurunnya hemoglobin, sehingga kapasitas daya angkut oksigen
untuk kebutuhan organ-organ vital pada ibu dan janin menjadi
berkurang. Selama kehamilan, indikasi anemia adalah jika konsentrasi
hemoglobin kurang dari 10,50 sampai dengan 11,00 gr/dl (Varney H,
2006).

Anemia pada wanita hamil jika kadar hemoglobin atau darah


merahnya kurang dari 10,00 gr%. Penyakit ini disebut anemia berat.
Jika hemoglobin < 6,00 gr% disebut anemia gravis. Jumlah
hemoglobin wanita hamil adalah 12,00-15,00 gr% dan hematokrit
adalah 35,00-45,00% (Mellyna, 2005).

15
Anemia dalam kandungan ialah kondisi ibu dengan kadar Hb <
11,00 gr%. Pada trimester I dan III atau kadar Hb < 10,50 gr% pada
trimester II. Karena ada perbedaan dengan kondisi wanita tidak hamil
karena hemodilusi terutama terjadi pada trimester II (Sarwono P,
2002).

Untuk mendeteksi anemia dapat dilakukan dengan pemeriksaan


Hemoglobin. Pemeriksaan hemoglobin (Hb) secara rutin selama
kehamilan merupakan kegiatan yang umumnya dilakukan untuk
mendeteksi anemia. Namun ada kecenderungan bahwa kegiatan ini
tidak dilaksanakan secara optimal selama masa kehamilan.
Pemeriksaan Hb pada ibu hamil dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu
metode sahli dan metode talquist.

8. Pengukuran BB dan TB dalam kunjungan antenatal

           Pengukuran BB dan TB merupakan salah satu Pelayanan standar.


Pertambahan berat badan yang normal pada ibu hamil yaitu
berdasarkan masa tubuh (BMI: Boddy Masa Indeks) dimana metode
ini untuk menentukan pertambahan berat badan yang optimal selama
masa kehamilan, karena merupakan hal yang penting mengetahui
BMI wanita hamil. Dalam triwulan pertama penambahan berat ± 1 kg,
pada triwulan ke-2 penambahan ± 5 kg, triwulan ketiga penamahan
berat ± 5,5 kg.

            Penambahan berat ini disebabkan oleh berat janin (3kg), placenta
(0,5 kg), ait ketuban (1 kg), berat rahim (dari 30 gr, menjadi 1 kg),
penimbunan lemak seperti di buah dada, pantat dan lain-lain (1,5 kg),
penimbunan zat putih telur (2 kg), retensi air (1,5 kg). Kenaikan BB ibu
hamil normal rata-rata antara 6,5 kg sampai 16 kg.

            Tinggi badan diperiksa sekali pada saat ibu hamil datang pertama
kali kunjungan dilakukan untuk mendeteksi tinggi badan ibu yang

16
berguna untuk mengkategorikan adanya resiko apabila hasil
pengukuran < 145 cm.

9. Pengukuran Tinggi Fundus uteri dengan pita ukur

            Sejak uterus dapat diraba secara abdominal, yaitu pada usia
kehamilan 12 minggu lokasi fundus uteri terhadap simpisi pubis dapat
di identifikasi sebagai fundus uteri. Pengukuran tinggi fundus uteri
dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu menggunakan meteran dan
palpasi menurut Leopold.

            Pengukuran mengunakan meteran ini menurut Mc.Donal. Cara ini


akurat bila dilakukan dilakukan setelah usia kehamilan 20 minggu.
Caranya, garis nol pada meteran diletakkan pada tepi atas simfisis
pubis, kemudian direntangkan ke atas melalui perut hingga mencapai
fundus uteri. Tinggi fundus uteri dinyatakan dengan centimeter (cm)

            Pada waktu fundus uteri setinggi pusat hasil pengukurannya


sekitar 20 cm. Setiap minggu diharapkan terdapat kenaikan 1 cm,
dengan demikian apabila didapatkan hasil pengukuran setinggi 33 cm,
maka usia kehamilannya sekitar 33 minggu, sedangkan bila usia
kehamilannya di bawah 20 minggu, pengukuran tinggi fundus uteri
dan penentuan usia kehamilan dapat di lakuan dengan cara palpasi
menurut leopold. Cara pengukuran tinggi fundus uteri dengan
centimeter ini juga dapat membantu menentukan perkiraan berat janin
dengan rumus dari Johnson Tausak (TFU dalam cm-12)x 155 =
taksiran berat janin.

10. Posisi yang aman dalam kehamilan

Sikap Tubuh Yang Baik Perubahan tubuh yang paling jelas adalah
tulang punggung bertambah lordosis karena tumpuan tubuh bergeser
lebih ke belakang dibandingkan sikap tubuh ketika tidak hamil.
Keluhan yang sering muncul dari perubahan ini adalah rasa pegal di

17
punggung dan kram kaki ketika tidur malam hari. Untuk mencegah
dan mengurangi keluhan ini perlu adanya sikap tubuh yang baik.
Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:

a. Pakailah sepatu dengan hak yang rendah/tanpa hak dan jangan


terlalu sempit.
b. Posisi tubuh saat mengangkat beban, yaitu dalam keadaan tegak
dan pastikan beban terfokus pada lengan.
c. Tidur dengan posisi kaki ditinggikan.
d. Duduk dengan posisi punggung tegak.
e. Hindari duduk atau berdiri terlalu lama (ganti posisi secara
bergantian untuk mengurangi ketegangan otot). 

11. KUNJUNGAN ANTENATAL

a. Pengertian
Antenatal care adalah pemeriksaan/pengawasan antenatal adalah
pemeriksaan kehamilan untuk mengoptimalisasi kesehatan mental
dan fisik ibu hamil, sehingga mampu menghadapi persalinan, nifas,
persiapan memberikan ASI, dan kembalinya kesehatan reproduksi
secara wajar.
b. Tujuan ANC
1) Memantau kemajuan kehamilan dan untuk memastikan
kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi.
2) Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik dan
mental dan sosial ibu.
3) Mengenal secara dini adanya ketidaknormalan,
komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil termasuk
riwayat penyakit secara umum, kebidanan, dan pembedahan.
4) Mempersiapkan kehamilan cukup bulan, melahirkan dengans
elamat ibu dan bayinya dengan trauma seminimal mungkin.

18
5) Mempersiapkan Ibu agar masa nifas berjalan normal dan
pemberian ASI ekslusif
6) Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima
kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara optimal.

19
7) Mempersiapkan b. Cara c.
Kunjungan Waktu Tujuan

Trimester I Sebelum 14  Mendeteksi masalah yg dapat


minggu ditangani sebelum
membahayakan jiwa.
 Mencegah masalah, misal :
tetanus neonatal, anemia,
kebiasaan tradisional yang
berbahaya)
 Membangun hubungan saling
percaya
 Memulai persiapan kelahiran &
kesiapan menghadapi
komplikasi.
  Mendorong perilaku sehat
(nutrisi, kebersihan , olahraga,
istirahat, seks, dsb).

Trimester II 14-28 –   Sama dengan trimester I


minggu ditambah: kewaspadaan khusus
terhadap hipertensi kehamilan
(deteksi gejala preeklamsia,
pantau TD, evaluasi edema,
proteinuria)

Trimester 28-36 –  Sama, ditambah : deteksi


III minggu kehamilan ganda.

Setelah 36–  Sama, ditambah : deteksi kelainan


minggu letak atau kondisi yang
memerlukan persalinan di RS.

20
12. Parent craft Education (PERSIAPAN MENJADI ORANG TUA)
a. Pengertian
Parentcraft education adalah pendidikan dan penyuluhan yang
diberikan kepada orang tua untuk persiapan menghadapi
kelahiran dan juga persiapan untuk menjadi orang tua.Parentcraft
education dilaksanakan di fasilitas kesehatan umum ataupun
ketika ada pasangan yang mendatangi tenaga kesehatan (bidan)
untuk mendapatkan konseling dan penejelasan tentang
persiapan-persiapan yang diperlukan.Parentcraft education
biasanya dilaksanakan pada awal kehamilan karena seorang ibu
ataupun pasangan memerlukan penjelasan yang lebih mendalam
mengenai fase yang sedang mereka hadapi. Parentcraft education
sangat diperlukan karena bias membantu ibu dan keluarga untuk
memahami fase-fase yang sedang dialaminya sehingga tidak
terjadi kebingungan.
b. Fase parencraf education
1) Fase 1
Ibu menerima kenyataan biologis tentang kehamilan dengan
pernyataan “saya hamil” dan menyatakan ide tentang anak di
dalam tubuhnya dan gambaran dirinya sebagai berikut :
 Pikiran terpusat pada dirinya
 Menyadari kenyataan dirinya hamil
 Fetus adalah bagian dari dirinya
 Fetus seolah-olah tidak nyata
2) Fase 2
Pada fase ini, hal yang dirasakan oleh ibu adalah:
 Menerima tumbuhnya fetus yang merupakan makhluk
yang berbeda dengan dirinya
 Timbul pernyataan “saya akan mempunya bayi”
 Terlibat dalam hubungan ibu dan anak, asuhan dan
tanggung jawab

21
 Mengembangkan pelekatan (attachment)
 Menerima kenyataan, mendengan DJJ dan merasakan
gerakan anak
3) Fase 3
Ini adalah proses attachment dan ibu merasakan hal-hal
sebagai berikut:
 Merasa realistic
 Mempersiapkan kelahiran
 Mempersiapkan diri mejadi orang tua
 Spekulasi mengenai jenis kelamin
 Keluarga berinteraksi dengan menempelkan telinganya ke
perut ibu dan berbicara dengan bayi
13. BIRTH PLAN
a. Pengertian
Birth plan (rencana persalinan) adalah rencana tindakan
yang dibuat ibu, anggota keluarganya dan bidan. Dengan adanya
rencana persalinan akan mengurangi kebingungan dan
kekacauan pada saat persalinan dan meningkatkan kemungkinan
bahwa ibu akan menerima asuhan yang sesuai serta tepat waktu.
Birth plan adalah rancangan berupa catatan tentang pilihan
metode, tempat dan persiapan bersalin selama
hamil.Perencanaan persalinan biasanya dilakukan ketika
pemeriksaan kehamilan di klinik maupun di rumah.Perencanaan
persalinan biasanya diputuskan bersama pasangan dan keluarga.
Perencanaan ini biasanya diputuskan ketika trimester III karena
sudah diketahui apakah kelahiran bias normal atau tidak. Karena
apabila ada penyulit maka biasanya proses kelahiran akan
dilakukan di rumah sakit ataupun rumah bersalin dengan fasilitas
yang lengkap untuk menghindari terjadinya masalah.Birth plan
dilakukan untuk memastikan bahwa ibu dan keluarga
mendapatkan pelayanan yang terbaik dan telah merencanakan

22
semuanya dari awal agar tidak terjadi masalah yang dapat
membahayakan nyawa ibu dan anak ketika proes persalinan.
b. Komponen dalam rencana persalinan
1) Membuat rencana persalinan idealnya setiap keluarga
seharusnya mempunyai kesempatan untuk membuat suatu
rencana persalinan. Hal-hal yang harus digali dan diputuskan
dalam membuat rencana persalinan adalah:
 Tempat persalinan
 Memilih tenaga kesehatan yang terlatih
 Bagaimana menghubungi tenaga kesehatan tersebut
 Bagaimana transportasi ke tempat persalinan
 Siapa yang akan menemani pada saat persalinan
 Berapa banyak biaya yang dibutuhkan
2) Membuat rencana untuk mengambil keputusan jika terjadi
kegawatdaruratan pada saat mengambil keputusan utama.
Penting bagi bidan dan keluarga untuk mendiskusikan :
 Siapa pembuat keputusan utama dalam keluarga
 Siapa yag akan membuat keputusan jika pembuat
keputusan utama tidak ada saat terjadi kegawatdaruratan
3) Mempersiapkan system transportasi jika terjadi
kegawatdaruratan. Rencana ini perlu
dipersiapkan lebih dinindalam kehamilan dan harus terdiri dari
elemen-elemen sebagai berikut:
 Dimana ibu kan bersalin (desa, fasilitas kesehatan, rumah
sakit)
 Bagaimana cara menjangkau tingkat asuhan yang lebih
lanjut jika terjadi kegawatdaruratan
 Ke fasilitas kesehatan yang mana ibu tersebut harus
dirujuk

23
 Bagaimana cara mendapatkan dana jika terjadi
kegawatdaruratan
 Bagaimana cara mencari donor darah yang potensial
4) Membuat rencana menabung. Keluarga seharusnya
dianjurkan untuk menabung
sejumlah uang sehingga dana akan tesedia untuk asuhan
selama kehamilan dan jika
terjadi kegawatdaruratan. Persalinan normal umumnya
membutuhkan biaya yang relative ringan, namun bila
persalinan diperkirakan harus dilakukan dengan tindakan
operatif, maka persiapan dana yang lumayan besar harus
segera dilakukan.
5) Mempersiapkan peralatan yang diperlukan untuk persalinan.
Seorang ibu dapat mempersiapkan segala sesuatunya untuk
persalinan.
14. Support System Dalam Kehamilan
Dukungan selama masa kehamilan sangat dibutuhkan bagi seorang
wanita yang sedang hamil, terutama dari orang terdekat apalagi bagi
ibu yang baru pertama kali hamil. Seorang wanita akan merasa
tenang dan nyaman dengan adanya dukungan dan perhatian dari
orang orang terdekat. 
Dukungan/ support  yang diperlukan oleh ibu hamil dapat berasal dari
keluarga dan tenaga kesehatan.
a) Dukungan/ support keluarga
Ada 4 jenis dukungan yang dapat diberikan suami sebagai calon
ayah bagi anaknya antara lain:
1) Dukungan emosi
Yaitu suami sepenuhnya memberi dukungan kepada istrinya
secara psikologis dengan menunjukkan kepedulian dan
perhatian kepada kehamilannya serta peka terhadap kebutuhan
emosi ibu hamil 

24
Mercer dalam Bryar (2008) mendefinisikan dukungan
emosional
sebagai perasaan dicintai, diperhatikan, dipercaya dan
dimengerti.
2) Dukungan Instrumental
Yaitu dukungan suami yang diberikan untuk memenuhi
kebutuhan fisik ibu hamil dengan bantuan keluarga lainnya.
3) Dukungan informasi
Dukungan suami dalam memberikan informasi yang
diperolehnya mengenai kehamilan. Menurut Mercer dalam
Bryar (2008) dukungan informatif akan membantu ibu untuk
menolong dirinya dengan cara memberikan informasi yang
berguna untuk menghadapi masalah dan/atau situasi.
4) Dukungan penilaian
Yaitu memberikan keputusan yang tepat untuk perawatan
kehamilan istrinya.
Dukungan yang dapat diberikan oleh suami misalnya dengan
mengantar ibu memeriksakan kehamilan, memenuhi keinginan
ibu hamil yang mengidam, mengingatkan minum tablet zat besi,
maupun membantu ibu melakukan kegiatan rumah tangga
selama ibu hamil.
b) Support dari tenaga kesehatan
Bidan berperan memberikan support dan dukungan moral bagi
klien dalam menghadapi perubahan fisik dan adaptasi psikologis,
meyakinkan bahwa klien dapat menghadapi kehamilannya dan
perubahan yang dirasakannya adalah sesuatu yang normal. Bidan
harus bekerja sama dan membangun hubungan yang baik dengan
klien agar terjalin hubungan yang terbuka antara bidan dan klien.
Keterbukaan ini akan mempermudah bidan memberikan solusi
terhadap permasalahan yang dihadapi klien.

25
1) Pada trimester pertama, tenaga kesehatan dapat memberi
dukungan dengan menjelaskan dan meyakinkan pada ibu
bahwa apa yang terjadi padanya adalah sesuatu yang sangat
normal, sebagian besar wanita merasakan hal yang serupa
pada trimester pertama. Membantu ibu untuk memahami setiap
perubahan yang terjadi padanya baik fisik maupun psikologis . 
2) Pada trimester ke dua, ibu sudah mulai merasa lebih sehat dan
menginginkan kehamilannya sehingga petugas kesehatan dapat
memberikan dukungan dengan mengajarkan kepada ibu
tentang nutrisi, pertumbuhan bayi, tanda tanda bahaya, rencana
kelahiran dan kegawatdaruratan, karena saat ini merupakan
waktu dan kesempatan yang paling tepat.
3) Trimester ketiga seringkali disebut periode menunggu dan
waspada, sebab pada saat itu ibu merasa tidak sabar
menunggu kelahiran bayinya. Kewaspadaan ibu terhadap
timbulnya tanda dan gejala terjadinya persalinan
meningkat .Pada trimester ini, petugas kesehatan dapat
memberikan dukungan dengan memberikan penjelasan bahwa
yang dirasakan ibu adalah normal, Membicarakan lagi dengan
ibu bagaimana tanda tanda persalinan yang sebenarnya dan
menenangkan ibu
15. Implementasi hak ibu dan janin pada masa kehamilan
Beberapa hak hak pasien secara umum adalah :
1. Hak untuk memperoleh informasi
2. Hak untuk mendapatkan pelayanan yang berkualitas
3. Hak untuk mendapatkan perlindungan dalam pelayanan
4. Hak untuk mendapatkan jaminan kesehatan
5. Hak untuk mendapatkan pendampingan suami atau keluarga dalam
pelayanan
6. Hak untuk mendapatkan pelayanan sesuai pilihan.
a) Air Susu Ibu dan Hak Bayi

26
Hak anak adalah bagian dari hak azasi manusia yang wajib dijamin,
dilindungi, dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat,
pemerintah dan negara. Hak anak tersebut mencakup :
 Non diskriminasi
 Kepentingan terbaik bagi anak
 Hak kelangsungan hidup
 Perkembangan dan penghargaan terhadap pendapat anak
(Undang Undang Perlindungan Anak Bab I pasal 1 No. 12 dan
Bab II pasal 2).
Mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) merupakan salah satu hak
asasi bayi yang harus dipenuhi. Beberapa alasan yang
menerangkan pernyataan tersebut, yaitu :
 Setiap bayi mempunyai hak dasar atas makanan dan
kesehatan terbaik untuk memenuhi tumbuh kembang optimal.
 Setiap bayi mempunyai hak dasar atas perawatan atau
interaksi psikologis terbaik untuk kebutuhan tumbuh kembang
optimal.
 ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi, karena
mengandung zat gizi yang paling sesuai dengan kebutuhan
bayi yang sedang dalam tahap percepatan tumbuh kembang,
terutama pada 2 tahun pertama.
 ASI memberikan seperangkat zat perlindungan terhadap
berbagai penyakit akut dan kronis.
 Memberikan interaksi psikologis yang kuat dan adekuat antara
bayi dan ibu yang merupakan kebutuhan dasar tumbuh
kembang bayi..
 Ibu yang menyusui juga memperoleh manfaat menjadi lebih
sehat, antara lain menjarangkan kehamilan, menurunkan risiko
perdarahan pasca persalinan, anemi, kanker payudara dan
indung telur.

27
Sehubungan dengan hal tersebut, ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan yaitu :
 Hak azasi bayi terhadap makanan, kesehatan dan interaksi
psikologis terbaik dapat diperoleh dengan memberikan ASI
atau dengan lain kata, ‘Hak setiap bayi untuk mendapat ASI
sekaligus hak setiap ibu untuk menyusui bayinya’.
 Bayi harus memperoleh nutrisi yang cukup untuk pertumbuhan
dan perkembangan yang optimal sejak lahir. Oleh karena itu,
setiap bayi mempunyai hak mendapat  ASI secara eksklusif
selama 6 (enam) bulan pertama kehidupan dan dilanjutkan
bersamaan dengan pemberian makanan pendamping ASI (MP-
ASI) sampai usia dua tahun atau lebih.
 Ibu tidak boleh dilarang bila ingin menyusui bayinya.
 Pemerintah dan semua lapisan masyarakat mempunyai tugas
untuk memastikan bahwa tidak ada hambatan bagi ibu untuk
menyusui bayinya.
 Ibu tidak boleh didiskriminasi karena menyusui.
 Ibu harus mendapat informasi yang cukup dan dukungan agar
mampu menyusui.
 Ibu berhak untuk mendapat pelayanan antenatal (pra
persalinan) yang baik dan pelayanan kesehatan sayang ibu /
bayi.
 Ibu seharusnya tidak terpapar oleh pemasaran susu formula
baik melalui iklan maupun bentuk promosi lainnya.
Untuk mendukung hal tersebut telah dikeluarkan berbagai
pengakuan atau kesepakatan baik yang bersifat global maupun
nasional yang bertujuan melindungi, mempromosi, dan mendukung
pemberian ASI. Dengan demikian, diharapkan setiap ibu di seluruh
dunia dapat melaksanakan pemberian ASI dan setiap bayi
diseluruh dunia memperoleh haknya untuk mendapat ASI

28
b) Perlindungan ibu
Perlindungan ibu merupakan kondisi awal dari kesetaraan jender
atau kesetaraan pria dan wanita. Ibu bekerja perlu upah selama cuti
agar dapat menyusui secara eksklusif (ILO, 1997). WHA dan
UNICEF (2001) menganjurkan menyusui eksklusif selama 6 bulan,
selanjutnya setelah kembali bekerja, ibu mendapat kesempatan
menyusui dengan fasilitas untuk menyusui atau memeras ASI di
tempat kerjanya.
Pada kenyataannya, para ibu masih menemui kendala di
lingkungan pekerjaannya antara lain; cuti bersalin hanya
dimungkinkan bagi pekerja formal atau tenaga kontrak, sedangkan
petani, pekerja rumah tangga, dan pekerja di sektor informal masih
belum terlindungi oleh peraturan tersebut. Di lain hal, sebagian ibu
tidak mengambil cuti bersalinnya karena khawatir upah yang
diterima akan dikurangi atau kehilangan pekerjaannya selama
menjalankan cuti. Tempat penitipan anak di lingkungan tempat
bekerja tidak dimanfaatkan oleh ibu, karena ketidaktersediaan alat
transportasi yang aman dan nyaman.
 International Code tentang pemasaran Pengganti ASI
International code (1981) membatasi cara pemasaran pengganti
ASI (PASI), botol susu, dan kempeng serta menegaskan tanggung
jawab petugas pelayanan kesehatan dalam promosi pemberian
ASI. Selanjutnya, International Code disempurnakan dengan
dikeluarkannya Resolusi World Health Assembly (WHA, Majelis
Kesehatan Dunia).  International code dan resolusi WHA bertujuan
untuk melindungi pemberian ASI. 
 Resolusi WHA
a. Resolusi WHA 39.28 (1986), makanan dan minuman tidak
boleh dipromosikan/ dianjurkan kepada bayi berusia kurang
dari 6 bulan karena dapat mempengaruhi produksi ASI. Susu
lanjutan tidak diperlukan

29
b. Resolusi WHA 45.34 (1992), semua sarana pelayanan
kesehatan menerapkan 10 langkah menuju keberhasilan
menyusui.
c. Resolusi WHA.47.5 (1994), penerapan ’code’ dan Resolusi
WHA harus secara keseluruhan dan efektif. Tak ada
sumbangan PASI gratis/diskon disetiap sistem pelayanan
kesehatan. Menerapkan Sarana Pelayanan Kesehatan ‘Sayang
Bayi’ dan memperbaiki kurikulum pendidikan. Dalam situasi
darurat pengadaan PASI jangan digunakan untuk peningkatan
penjualan.
d. Resolusi WHA 49.15 (1996), pemantauan penerapan ‘code’
dan Resolusi WHA dilaksanakan secara transparan, bebas dan
tanpa pengaruh komersial perusahaan produsen PASI
e. Resolusi WHA 54 (2001), untuk pertumbuhan dan
perkembangan optimal bayi harus diberi ASI eksklusif selama 6
bulan pertama, kemudian diberi makanan pendamping ASI
(MP-ASI) dan ASI diteruskan sampai usia 2 tahun.
f. Resolusi WHA 58.32 (2005), melarang klaim nutrisi dan
kesehatan, kecuali diijinkan peraturan nasional, peduli tentang
kontaminasi susu bubuk yang tercantum pada label, dan
sponsor program kesehatan agar tidak berakibat konflik
kepentingan.
16. Deteksi dini komplikasi dalam kehamilan
Komplikasi selama kehamilan dapat terjadi pada ibu maupun janin.
Pada ibu beberapa komplikasi yang sering dijumpai adalah :

a. Preeklamsi
b. Gestational diabetes
c. Abortus
d. Persalinan preterm

30
Sedangkan pada janin, beberapa komplikasi yang sering terjadi antara
lain :

a. Open spina bifida


b. Kelainan jantung mayor
c. SGA atau IUGR
d. Makrosomia
e. Trisomy 21, 18 dan 13

Komplikasi yang terus terjadi dapat meningkatkan angka kematian ibu


maupun bayi. Maka perlu dilakukan deteksi atau pencegahan sedini
mungkin untuk mencegah terjadinya komplikasi, antara lain:

Pada trimester pertama

a. Perlu dilakukan penilaian risiko yang mungkin dimiliki ibu. Penilaian


risiko dapat dilihat dari riwayat obstetrik dan riwayat penyakit yang
dimiliki ibu serta usia ibu
b. Dilakukan pemeriksaan ultrasound dan fetal nuchal translucency
thickness
c. Pemeriksaan biomarker berupa free β-hCG, PAPP-A dan PGIF
pada darah ibu
d. Bila terdapat kemungkinan risiko atau kelainan pada janin, ibu
dianjurkan untuk melakukan tes kromosom untuk mengetahui
ada/tidaknya kelainan genetic pada janin

Selain screening, olah raga juga dianjurkan bagi ibu hamil untuk


kesehatan ibu dan janinnya. Manfaat dari olah raga pada ibu hamil
antara lain:

a. Bagi ibu:

31
 Mempertahankan kemampuan fisik yang cenderung turun
selama kehamilan
 Memperkuat otot tubuh agar mampu menyangga beban
kehamilan dan memperbaiki postur tubuh
 Mengurangi nyeri pinggang dan memperlancar proses
pencernaan
 Mengurangi stres, depresi, dan cemas, serta membuat rileks
 Mengurangi risiko hipertensi dan DM pada kehamilan
 Mengurangi gelambir perut setelah persalinan dan
mempercepat proses pemulihan
 Meningkatkan kekuatan dan kelenturan otot panggung untuk
memperlancar suasana

b. Bagi janin
 Meningkatkan pertumbuhan plasenta
 Bayi dapat dilahirkan dengan berat badan normal atau sesuai
usia kehamilan

Olah raga atau latihan fisik yang dianjurkan bagi ibu hamil sebanyak
3-5 kali seminggu dengan intensitas ringan-sedang (denyut nadi 100-
140kpm). Latihan fisik sebisa mungkin diawasi oleh tenaga terlatih.
Jika terlalu berat dapat mengganggu perkembangan janin dan latihan
fisik yang terlalu lama akan menurunkan lemak tubuh hingga
berdampak pada berat bayi yang rendah saat lahir (BBLR). Namun,
apabila ibu sudah memiliki komplikasi saat kehamillan maka olahraga
tidak dianjurkan, seperti pre-eklamsi, anemia berat, Diabetes Melitus
(DM), ataupun hipertiroid.

E. Daftar Pustaka

Asrinah, dkk. 2010. Asuhan Kebidanan Masa Kehamilan. Graha


Ilmu;Yoyakarta

32
Ari. Sulistyawati. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Kehamilan.
Jakarta: Salemba Medika
Bryar. Rosamund. 2008. Teori Praktik Kebidanan. Jakarta;

Bryar.Rosamund. 2008.Teori Praktik Kebidanan. Jakarta;EGC

Corwin, Elizabeth J Buku Saku Patofisiologi. Alih bahasa, Nike Budhi


Subekti; Editor edisi bahasa indonesia, Egi Komara Yudha. Ed.
3. Jakarta : EGC

Dorland, W.A.N Kamus Kedokteran Dorland. Edisi 29. Diterjemahkan


oleh : H. Hartanto, dkk. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran
EGC.

Guyton, A.C and J.E. Hall Fisiologi Kedokteran. Edisi 7. Diterjemahkan


oleh I. Setiawan, dkk. Jakarta : EGC.

Henderson, Christine, Kathleen Jones. 2005. Buku Ajar Konsep


Kebidanan. Jakarta;EGC
Henderson, Christine, Kathleen Jones. 2005. Buku ajar konsep
kebidanan. Jakarta; EGC.

Kemenkes RI, 2010, Panduan Teknis Latihan Fisik Selama Kehamilan


dan Nifas, Indonesia.

Kusmiyati, Yuni. Dan Heni puji Wahyuningsih. 2009. Perawatan Ibu


Hamil (Asuhan Ibu Hamil). Yogyakarta;  Fitramaya.

Prasetyo Nian Sigit. (2010). Konsep dan proses Keperawatan Nyeri.


Jakarta : Graha

Parrot T Pain Management In Primary-Care Medical Practice. In:


Tollison CD, Satterthwaithe JR, Tollison JW, eds. Practical Pain

33
Management. 3rd ed. Philadelpia, PA: Lippincott Williams &
Wilkins. Ilmu.

Rukiah, Ai yeyen. Dkk. 2009. Asuhan Kebidanan I (Kehamilan).


Jakarta: TIM.

Rowbotham,M.C.,Petersen,K.L.,Dkk.,2000. Recent Development in


The Treatment of Neuropatic Pain.in : Devor, M.,Rowbotham,
M.C.,& Wiesenfeld-Hallin, Z.(ed). Proceeding of the 9th World
on Pain.IASP Press, Seattle,pp 833-855
Salmah. dkk. 2006. Asuhan Kebidanan Antenatal. Jakarta; EGC

Thermofisher Scientific, 2016, Early Detection of Complication in


Pregnancy: Contingent first trimester screening reduce
unnecessary invasive test, Jerman.

WHO, UNFPA, UNICEF, 2017, Managing Complication in Pregnancy


and Childbirth: A Guide for Midwive and Doctors 2nd ed.

Woolf, C.J.,2004 :Pain: Moving from SYMPTON Conrol toward


Mechanism-Spesific Pharmacologic Management, ANN Intern
Med; 140:441-445

http://rohanihasanuddin.blogspot.com/2016/06/budaya-dalam-praktik-
kebidanan.html

https://www.academia.edu/15010380/Klasifikasi_Nyeri
http://akreditasirumahsakitmpo.blogspot.com/2017/11/panduan-
manajemen-nyeri.html
https://www.slideshare.net/AlphaZief/makalah-macam-macam-
kehamilan

34
.

35