Anda di halaman 1dari 16

PATOGENESIS ORAL LINCHEN PLANUS Abstrak Oral linchen planus (OLP ) merupakan sebuah penyakit akibat inflamasi kronik

yang dimediator oleh sel T dan masih belum jelas etiologinya. Linken planus memberikan gambaran berupa bercak putih, papul, plak bewarna keputihan, eritema, erosi atau lepuh, yng terutama mengenai mukosa dalam rogga mulut, lidah dan ginggiva. Keduanya baik yang sifatnya antigen spesifik dan nonspesifik berpengaruh terhadap patogenesis dari linken planus didaerah mulut. Mekanisme antigen spesifik dalam linken planus oral termasuk gambaran antigen oleh keratinoit basal dan antigen spesifik keratinosit yang dimatikan oleh sittotoksik sel T CD 8+. Mekanisme non spesiik meliputi degranulasi sel mast, dan aktivasi matrikmetalo proteinase pada lesi linken planus oral. Kedua mekanisme ini dapat menjadi satu kesatuan yang menyebabkan akumulasi sel T dilamiana propria superficial, kerusakan membran basal, migrasi dari sel T diintraepitel, dan apoptosis dari keratinosit pada linken planus oral. Terdpat beragam hipotesa yang diajukan terhadap patogenesis dari linken planus oral yang akan didiskusikan pada artikel ini. J Oral Pathol Med (2010) 39 : 729 734 Kata kunci : linchen planus oral ; patogenesis.

Pendahuluan Linchen planus merupakan sebuah kelainan dari epitel squamosa bertingkat (1). Hal ini merupakan suatu proses yang kronik , melibatkan system imun, penyakit pada lapisan mukokutan dengan berbagai macam manifestasi klinik. Mukosa oral biasanya terlibat dan merupakan satu-satunya dimana terdapat kelainan (2) . Oral linchen planus terjadi satu sampai dua persen dari populasi orang dewasa dan merupakan penyakit noninfeksius pada mukosa mulut yang paling sering ditemukan. Linken planus oral lebih banyak diderita oleh perempuan dibandingkan laki-laki dengan rasio 1,4 : 1 dan didapatkan pada orang dewasa yang lebih dari 40 tahun, meskipun pada remaja dan anakanak dapat juga terkena. Terdapat kemungkinan timbulnya lesi pada kulit yang menyerupai papula datar , menonjol yang terdapat pada pergelangan tangan, pergelangan kaki dan alat kelamin. Apabila mengenai dapat menyebabkan alopesia (3) . Didalam rongga oral, mukasa bukal, lidah dan ginggiva merupakan daerah yang biasa terkena oleh oral linken planus . Hal ini memberikan gambaran berupa lesi yang sifatnya simetris dan bilateral atau lesi dengan berbagai macam bentuk . Hal tersebut muncul dalam enam variasi yaitu retikuler, papular, plak, erosif, atrofi dan bulosa
(4)

jaringan kuku akan meyebabkan kerapuhan pada kuku,

terbantuknya pterigium dan kehilangan kuku secara permanen. Jika mengenai kulit kepala

. Keadaan ini dapat

dipertimbangkan sebagai sebuah kondisi yang sifatnya premaligna dan dengan kemungkinan berubah menjadi keganasan sekitar 0-2 % menurut sumari dan kawan-kawan (4) . Secara mikroskopik penyakit ini memiliki ciri khas berupa infiltrat limfohistiositik yang padat dilapisan subepitel, peningkatan jumlah limfosit intra epithelial dan degenerasi dari keratinosit lapisan basal. Degenerasi keratinosit dilapisan basal membentuk koloid (sifat hialin dan sitoid) yang tampak sebagai homogen eosinofilik globul
(3)

. Perubahan membran

basal epithel merupakan hal yang sering terjadi pada oral linken planus yang meliputi keretakan, kerusakan dan duplikasi dari membrane basal tersebut. Degenerasi dari dari membrane basal meyebabkan kelemahan dari jaringan ikat permukaan epitel yang tampak secara histologis berupa celah (ruang Max-joseph) dan jarang berupa lepuh pada mukosa oral (linchen planus bulosa). Parakeratosis, akantosis dan gambaran gigi gergaji merupakan kelainan yang sering ditemukan(1,3-5) .

Etiologi dan pathogenesis dari oral linchen planus (OLP )tidak sepenuhnya dapat dimengerti. Beberapa fakfor yang dapat mempengaruhi etiologinya dan beberapa hipotesis diajukan mengenai mengenai proses patogenesisnya. Pada artikel ini kami memberikan beberapa macam hipotesa berkaitan dengan ptogenesis linken planus oral. Etiologi Oral linchen planus merupakan penyakit akibat proses inflamasi kronik yang dimediator oleh sel T dan etiologinya masih belum dapat dipastikan (3) . Beberapa faktor yang telah diketahui berkaitan dengan etiologinya antara lain : Sifat genetic , material rongga mulut, obat-obatan, infeksi meliputi bacterial dan virus, autoimun yang meliputi proses autoimun yang lain, immunodeficiency, alergi makanan, stress, kebiasaaan, trauma, diabetes mellitus dan hipertensi, keganasan, dan penyakit pada saluran cerna (1,5) . Patogenesis Oral Lichen Planus Banyak kontroversi tentang patogenesis oral lichen planus. Sebuah bukti yang mendukung adalah peran dari disregulasi imun dalam patogenesis (1, 3-5). Berbagai mekanisme berperan dalam imunopatogenesis adalah: 1. Respon Imun terhadap antigen spesifik 2. Mekanisme non spesifik 3. Respon autoimun 4. Imunitas humoral
1. Respon Imun terhadap antigen spesifik

Antigen lichen planus tidak diketahui, mungkin antigen peptida sendiri, sehingga dapat didefinisikan lichen planus sebagai suatu penyakit autoimun yang benar. Awal terjadinya pembentukan lesi lichen planus merupakan ekspresi antigen keratinocyte antigen atau dapat disebabkan oleh pengobatan sistemik (reaksi obat lichenoid), kontak dengan alergen dalam bahan restorasi gigi atau pasta gigi (reaksi hipersensitivitas), trauma mekanik, bakteri atau virus, atau agen tak dikenal (3). Heat shock protein diregulasi di OLP dan dianggap sebagai antigen kemungkinan tetapi merupakan jalur alternatif yang menghubungkan berbagai agen eksogen (obat sistemik, kontak alergen, trauma mekanis, infeksi bakteri atau virus) dalam patogenesis OLP. Dalam, heat shock protein (HSP) dgambarkan dengan oral keratinosit yang merupakan auto antigenik di OLP. Kepekaan terhadap OLP akibat dari disregulasi ekspresi gen HSP ysng ditekan oleh
3

oral keratinosit sendiri atau dari ketidakmampuan untuk menekan suatu respon imun berikut pembentukan HSP sendiri yang penurunan respon imun. (3, 6) Kontroversi yang ada adalah tentang jumlah antigen, apakah satu atau dua antigen yang terlibat. CD4 + sel T helper dan CD8+ sitotoksik sel T diaktifkan dalam OLP. Semua diaktifkan bila dipertemukan dengan antigen oleh molekul MHC kelas II dan I. Antigen yang dipertemukan oleh MHC kelas II diproses melalui jalur selular endosomal. Sebaliknya, antigen yang dipertemukan oleh MHC kelas I diproses melalui jalur selular sitosol. Oleh karena itu, antigen dipertemukan oleh MHC kelas II terhadap CD4 + , sel T helper dalam OLP dapat berbeda dengan yang dipertemukan oleh MHC kelas I terhadap CD8+ sitotoksik. Sel T sebagai alternatif antigen tunggal bisa mendapatkan akses terhadap kedua jaringan selular jalur endosomal dan sitosol dari keberadaan antigen. (3, 6) Mediator sel imunitas tampaknya memainkan peran penting dalam patogenesis lichen planus oral. Sel T yang menghancurkan basal keratinosit adalah CD8 +. (3, 6) Respon imun spesifik terhadap antigen yang tidak teridentifikasi antigen meliputi langkah-langkah berikut:
1. Migrasi limfosit T kedalam epitelium; 2. Aktivasi limfosit T; 3. Penghancuran keratinosit.

Migrasi limfosit T kedalam epitel Dua hipotesis telah diajukan untuk perpindahan sel T ke dalam sel epitelium adalah :

Hipotesa chance encounter . Pelopor antigen spesifik CD8+ sitotoksik sel T dapat masuk keoral epitelium pada pengawasan rutin. Dalam epitel, sel T dapat bertemu antigen secara kebetulan.

Hipotesa Directed migration hipotesis . Menurut

hipotesis ini, sitokin yang

disekresi oleh keratinosit mengarahkan sel T untuk bermigrasi ke dalam epitel (3, 5). Aktivasi sel T Sel limfositik menginfiltrasi kedalam OLP berisi sel T, dan sebagian besar dari sel T masuk kedalam epitel dan mendekati untuk merusak basal keratinosit yang diaktifasi oleh CD8
+

limfosit. CD4

sel T tidak meningkat di daerah membran basal yang disrupsi

(3, 6)

Pengikatan antigen terhadap MHC-1 pada sel target (keratinosit) mengaktifkan CD8 + sel T
4

sitotoksik secara langsung. Diaktifkan CD8 OLP yang berkembang (3, 6).

sel T (dan mungkin keratinosit) dapat

melepaskan kemokin yang menarik tambahan limfosit dan sel imun lainnya ke dalam lesi Pengikatan antigen terhadap MHC-1 pada sel target (keratinosit) mengaktifkan sel T CD8 sitotoksik secara langsung, dan merangsang aktivitas sitotoksik (RCA) pada bagian permukaannya. MHC kelas II mempresentasikan antigen dalam OLP yang dimediasi oleh sel Langerhans (LCs) atau keratinosit. Terdapat peningkatan jumlah LCs pada lesi OLP dengan diregulasi oleh ekspresi MHC kelas II. pengikatan antigen oleh MHC-2 pada sel antigen dengan sekresi IL-12 mengaktifkan CD4
+

sel T. Kebanyakan limfosit di lamina propria


+

adalah CD4 + sel T helper. Kemudian mengaktifkan sel CD8 (lihat Gambar 1).

sel T oleh interaksi RCA R

reseptor dengan RCA yang diekspresikan pada sel -sel CD8 +, dan IL-2 dan sekresi IFN-y (3, 6)

Gambar 1. Aktivasi sel T sitotoksik oleh antigen dipresentasikan oleh MHC 1 pada keratinosit basal, aktivasi sel T helper dari antigen disajikan oleh sel langerhans dan dalam gilirannya aktivasi sel T sitotoksik oleh Interleukin 2 dan interferon gamma dan meminta untuk sitotoksik aktivitas (RCA) reseptor (3).

Penghancuran sel keratinosit basal Pengaktifan sel T sitotoksik menghancurkan keratinosit basal. Apoptosis merupakan mekanisme kematian keratinosit. Sel T sitotoksik mensekresikan TNF- yang memicu apoptosis keratinosit. Mekanisme yang tepat belum jelas. Kemungkinan mekanisme keratinocyte apoptosis adalah (lihat Gambar 2):
1. Sel T mengeluarkan TNF- mengikat reseptor TNF- R1pada permukaan keratinosit. 5

2. Permukaan sel T CD95L (ligan Fas) mengikat CD95 (Fas) pada permukaan

keratinosit.
3. Sel T mengeluarkan granzim B masuk kedalam melalui induksi perforin melalui pori-

pori membran. Semua mekanisme ini mengaktifkan kaskade caspase mengakibatkan apoptosis keratinosit. Sebaliknya berkurang atau tidak ada tingkat apoptosis dalam sel-sel inflamasi di OLP berpengaruh pada perkermbangan OLP (3).

Gambar 2 Mekanisme apoptosis keratinosit basal termasuk FAS-FAS ligan interaksi antara keratinosit basal dan sitotoksik T sel, produksi B granenzyme oleh sel sitotoksik dan tumor keratinosit (3).
2. Mekanisme non spesifik pada Oral Linchen Planus

Pada sel T limfositik infiltrasi pada OLP tidak spesifik mungkin tertarik dan ditahan dalam lesi oral lichen planus oral oleh berbagai masuk mekanisme peradangan yang sudah ada. Mekanisme ini ditujukan pada gerakan limfosit masuk ke epitel untuk merusak keratinosit. adalah: 1. Membran basal epitel 2. Matrix metaloproteinase 3. 4. Kemokin Sel Mast
(2, 3, 5)

Berbagai faktor yang dipertimbangkan pada respon imun non-spesifik

Membran Basal Epitel Konstribusi keratinosit terhadap struktur dari epitel membran basal dengan mengeluarkan kolagen IV dan laminin V masuk ke zona membran basal. Bukti dari model
6

kelenjar susu tikus menunjukkan bahwa keratinosit memerlukan membrane basal tanda sel hidup diturunkan untuk mencegah timbulnya apoptosis Gambar 3).
(3) .

Jadi membran basal diperlukan

untuk kelangsungan hidup keratinosit dan untuk produksi membran basal yang normal (lihat

Gambar 3 Peran membran basal dalam kelangsungan hidup keratinosit ditampilkan di sisi kiri. Sisi kanan menunjukkan konsekuensi dari dasar gangguan membran mengakibatkan apoptosis keratinosit dan migrasi sel T ke epitel.

Keratinosit apoptosis tidak lagi mampu melakukan fungsi ini. Oleh karena itu, apoptosis keratinosit dipicu oleh CD8+ intra epitelsel T sitotoksik dapat mengakibatkan gangguan membran basal epitel pada OLP, yang memungkinkan non-spesifik T limfosit hadir di sub zona epitel untuk bermigrasi kedalam epitelium. Baik apoptosis keratinosit dan gangguan membran basal termasuk dalam patogenesis OLP, misalnya, gangguan membran basal dapat memicu apoptosis keratinocit, dan keratinosit apoptosis mungkin tidak dapat memperbaiki gangguan membran basal. Seperti mekanisme siklus yang mendasari penyakit kronisitas (3, 5). Matrix metalloproteinase MMPs adalah keluarga dari seng yang mengandung endo-proteinase dengan minimal 20 anggota. Fungsi utama MMPs adalah degradasi proteolitik jaringan ikat matriks protein. MMPs berbagi sifat biokimia tetapi tetap mempertahankan kekhususan substrat yang berbeda. ( 3, 7 )

Gelatinases (misalnya MMP-2 dan MMP-9) memotong kolagen IV dan stromelysins (misalnya MMP-3 dan MMP-10) memotong kolagen IV dan laminin. MMP proteolitik diatur oleh aksi inhibitor endogen, termasuk inhibitor jaringan dari metaloproteinase (TIMPs), yang membentuk stabil enzim-inhibitor kompleks tidak aktif dengan MMPs atau proMMPs. ( 3, 7 ) Budaya supernatant dari lesi sel T OLP mengandung konsentrasi yang lebih tinggi dari MMP-9 dibanding yang berasal dari OLP atau sehat kontrol (darah tepi sel T menunjukkan adanya tambahan 9 MMP-aktivator dalam lesi sel T OLP supernatant . (7 ) MMP-9 aktivator dilepaskan dari sel T membantu dalam mengaktifkan pro MMP 9 mengakibatkan gangguan membran basal. ( , 3 7 ) Kemokin Kemokin adalah sitokin pro inflamasi. RANTES (diatur di aktivasi, normal sel T diungkapkan dan disekresikan) adalah anggota dari keluarga kemokin CC dan dihasilkan oleh berbagai sel, termasuk diaktifkan-limfosit T, sel epitel bronkial, fibroblas sinovial arthritis, keratinosit lisan dan sel mast. RANTES memainkan peran penting dalam perekrutan limfosit, monosit, sel-sel pembunuh alami, eosinofil, basofil, dan sel mast di OLP.CCR1, CCR3, CCR4, CCR5, CCR9 dan CCR10 yang reseptor permukaan sel untuk RANTES telah diidentifikasi di lichen planus. ( 3, 8 ) RANTES disekresikan oleh sel OLP T lesi mungkin menarik sel mast ke dalam lesi OLP berkembang dan kemudian merangsang degranulation sel mast. sel mast Degranulating di OLP akan mengeluarkan TNF- dan chymase yang inturn upregulates OLP lesi sel T RANTES sekresi. Seperti mekanisme siklus mungkin mendasari kronisitas OLP. ( 3 ) Sel Mast Penelitian telah menunjukkan kepadatan sel mast meningkat pada OLP. ( 7, 9-13 ) Sekitar 60% dari sel mast yang degranulated di OLP, dibandingkan dengan 20% di mukosa bukal normal. ( 7 ) Jadi sel mast telah diusulkan untuk terlibat dalam patogenesis OLP. Mast sel degranulation dalam rilis OLP berbagai mediator pro-inflamasi seperti TNF, chymase dan tryptase ( lihat Gambar. 4). TNF- dapat upregulate molekul adhesi sel

endotel (CD62E, CD54 dan CD106) berekspresi di OLP yang diperlukan untuk adhesi limfosit pada permukaan lumen pembuluh darah dan ekstravasasi berikutnya. ( 3, 7, 9-13 )

Gambar 4. Peran sel mast dalam Patogenesis lichen planus. TNF dan chymase disekresikan oleh sel mast. TNF merangsang ekstravasasi limfosit T (T) dari pembuluh darah.T sel darah melepaskan Pro MMP-9 dan mengaktifkan MMP-9 yang menyebabkan gangguan membran basement. TNF dan Chymase menstimulasi sel T untuk memproduksi RANTES yang selanjutnya mengaktifkan sel mast CCR 1 dan merangsang reseptor degranulation. K-basal keratinosit, A keratinosit apoptosis. ( 3 )

TNF- juga diregulasi, ekspresi CCR1 oleh berbagai sel inflamasi (termasuk sel T dan sel mast). Hal ini juga merangsang sekresi RANTES oleh lesi sel T. Seperti yang telah menggambarkan RANTES menarik CCR + sel mast dan sel inflamasi dalam mengembangkan lesi lichen planus oral dan memicu lebih lanjut degranulasi sel mast. ( 8 ) Chymase, sebuah protease sel mast, juga diketahui sebagai penggerak MMP-9. Oleh karena itu, gangguan membran basement OLP ini mungjkin dimediasi oleh sel mast protease secara langsung maupun tidak langsung melalui aktivasi T-sel yang disekresikan bersama MMP-9. ( , 7 10 )

Kedua TNF- dan Chymase merangsang sekresi RANTES oleh limfosit T yang pada gilirannya akan merangsang sel mast untuk melepaskan TNF- dan Chymase. Siklus ini dapat mengakibatkan kronisitas OLP. 3. Autoimunitas OLP dihipotesiskan menjadi penyakit autoimun. Peran dalam patogenesis penyakit autoimun didukung oleh banyak fitur autoimun OLP, termasuk kronisitas penyakit, onset dewasa, predileksi wanita, asosiasi dengan penyakit autoimun lainnya, kadang-kadang asosiasi jenis jaringan, aktivitas penekanan daya tahan tubuh pada pasien OLP, dan adanya auto- sitotoksik klon sel T dalam lesi lichen planus. ( 3) Empat hipotesis telah diusulkan melibatkan reaksi auto imun pada lichen planus oral, yaitu:
1. Kekurangan antigen-spesifik imunosupresi pada lichen planus oral - kurangnya TGF-

1. 2. Menurunnya data tahan tubuh, khususnya pada lichen planus oral. 3. Keratinosit apoptosis dan pematangan sel langerhans di lichen planus oral.
4. Heat Shock Proteins

Kekurangan antigen-spesifik imunosupresi pada lichen planus oral - kurangnya TGF1 TGF-1 memiliki efek imunosupresif. Lemahnya ekspresi TGF-1 telah ditemukan pada lichen planus oral. defisiensi TGF-1 dapat mempengaruhi peradangan limfositik autoimun. kronisitas OLP mungkin disebabkan, sebagian, dengan cacat dalam jalur imunosupresif TGF-1 melibatkan : 1. Kurangnya jumlah TGF-1-mensekresi Th3 dalam regulator sel T, 2. Tersumbatnya sekresi TGF-1, 3. Sekresi non-fungsional TGF-1, 4. Rusak atau ekspresi reseptor TGF-1 tidak memadai, atau 5. Cacatnya penerima sinyal intraseluler dari reseptor TGF-1. Keseimbangan antara TGF-1 dan IFN- sinyal dapat menentukan tingkat aktivitas imunologi pada lesi OLP. berlebihan Lokal IFN- oleh Th1 CD4 + T sel pada lesi OLP akan

10

downregulate efek imunosupresif TGF-1 dan upregulate keratinosit ekspresi MHC kelas II dan CD8+ aktivitas sel T sitotoksik. ( 3, 5 ) Menurunnya data tahan tubuh, khususnya pada lichen planus oral (kurangnya keratinosit apoptosis yang diinduksi sel T) Dalam studi baru-baru ini, TNF- diekspresikan sebagai band terus menerus oleh sel epitel basal, dan TNF-R1 itu diungkapkan dengan infiltrasi sel T dalam OLP. Keratinosit yang diturunkan dari TNF- dapat memicu apoptosis sel T melalui TNF-R1. Lichen planus oral dapat hasil dari kegagalan keratinosit penduduk untuk memicu apoptosis T sel. Penyakit aktivitas di lichen planus oral mungkin ditentukan oleh keseimbangan antara apoptosis keratinosit dipicu oleh infiltrasi sel T dan sel apoptosis T dipicu oleh keratinosit penduduk ( lihat Gambar. 5).

Gambar 5. Keratinosit menginduksi apoptosis sel T dalam keadaan normal. Dalam lichen planus oral (OLP), sel T menginduksi apoptosis keratinosit.

Mukosa oral normal dapat merupakan sebuah bagian yang mempunyai pertahanan, mirip dengan mata, testis dan apoptosis induksi plasenta dari infiltrasi sel T. Pada bagianbagian tersebut, pertahanan kekebalan tubuh dimediasi oleh Fas ligan (CD95L), yang dinyatakan oleh sel stroma, yang memicu apoptosis infiltrasi sel-sel inflamasi mengekspresikan Fas (CD95). ( 3 ) Oral keratinosit CD95L atau TNF- memicu apoptosis sel T melalui CD95 atau TNFR1, masing-masing, dapat mencegah infiltrasi sel T yang berlebihan di mukosa rongga mulut normal, sedangkan kegagalan mekanisme seperti dapat mengakibatkan OLP dan mungkin penyakit mukosa oral autoimun lainnya. ( 3 )

11

Keratinosit apoptosis dan pematangan sel Langerhans di lichen planus oral Untuk merangsang respon sel T, sel dendritik (DC) dan mungkin LC harus menjalani proses diferensiasi terminal disebut 'pematangan'.Rangsangan untuk DC dan pematangan LC termasuk sitokin inflamasi (IL-1, TNF-), CD40L (CD154) dinyatakan oleh sel T aktif, sel nekrotik, HSPs, nukleotida, oksigen intermediet reaktif, neurotransmiter, MMP-9, produk degradasi matriks ekstraselular , trauma mekanik, berbagai alergen, saluran blokade ion, reseptor Fc agregasi, RNA virus dan bakteri lipopolisakarida. ( 3 ) Dalam keadaan normal, APC peptida membawa diri berasal dari sel apoptosis tidak menerima stimulus pematangan dan karena itu tidak memicu respons sel T autoreaktif. Dalam OLP, basal keratinosit apoptosis yang endocytosed oleh APC diikuti dengan pematangan APC. Hal ini dapat mengaktifkan diri reaktif + T sel CD4 yang membedakan ke dalam atau fenotip Th1 Th2 dan mempromosikan atau antibodi-mediated autoimun reaksi-sel terhadap keratinosit basal ( lihat Gambar. 6 ). ( 3 )

Gambar 6. Mekanisme reaksi autoimun anti keratinosit. Sel Langerhans memfagositosis bagian dari keratinosit basal apoptosis dan menyampaikannya kepada sel T helper yang pada gilirannya merangsang sel T sitotoksik terhadap keratinosit basal.

12

Heat Shock Proteins Keratinosit pada lichen planus oral menunjukkan peningkatan ekspresi heat shock proteins.( 3 ) Regulasi ini dapat dipicu oleh obat-obatan, infeksi, produk bakteri dan trauma. Sel T berproliferasi sebagai respons terhadap protein tersebut. Heat shock proteins diduga autoantigenic untuk lichen planus oral. Tapi antigen yang tepat lichen planus masih belum diketahui. ( 1, 3, 4 )

4. Imunitas humoral Antibodi yang beredar telah diidentifikasi termasuk autoantibodies terhadap desmogleins 1 dan 3.
( 14 )

Hal ini menunjukkan peran kekebalan humoral pada lichen planus

oral. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui peranan tepat imunitas humoral.

Terapi implikasi Karena sentralitas interaksi perekat dalam acara bermigrasi dan sitotoksik pada lichen planus oral, sebuah strategi terapi yang potensial akan pencabutan ekspresi molekul adhesi. Beberapa pendekatan dipertimbangkan: ( 15 ) 1. Antibodi terhadap TNF- dan interferon-.
2. Antibodi untuk molekul adhesi tertentu yang mengganggu adhesi leukosit ke endotel,

misalnya anti-ICAM-1 dapat mengurangi infiltrasi jaringan sel T. 3. Stabilisasi sel mast untuk mencegah degranulation.
4. Penggunaan sitokin yang downregulate ekspresi molekul adhesi leukosit atau

mengganggu perdagangan. Berpotensi agen berguna adalah interleukin-8, TGF- dan interleukin-1 inhibitor.
5. Obat imunosupresif yang mengubah ekspresi molekul adhesi dan merusak fungsi

limfosit mungkin bermanfaat. ( 15 )

13

Kesimpulan Berdasarkan patogenesisnya, ada beberapa biomarker sedang diusulkan untuk memprediksi onset dan keparahan lichen planus oral, seperti CD275, desmogleins 1 dan 3; mendeteksi transformasi ganas seperti PLUNC (Langit-langit, paru-paru dan hidung epitel karsinoma protein asosiasi) dan 8-nitroguanine; dan untuk memantau respon terapi. Analisis data saat ini menunjukkan bahwa memblokir IL-12, IFN-, TNF-, RANTES, atau MMP-9 aktivitas atau mengatur aktivitas TGF-1 pada lichen planus oral mungkin dapat meningkatkan nilai terapeutik.
(3)

Diperlukan lebih banyak penelitian untuk memahami etiologi dan patogenesis

lichen planus oral.

14

Referensi
1. Scully C, Beyli M, Ferreiro MC, et al. Update on oral lichen planus: etiopathogenesis

and management. Crit Rev Oral Biol Med 1998; 9: 86122. 2. Chainani-Wu N, Silverman S Jr, Lozada-Nur F, Mayer P, Watson JJ. Oral lichen planus: patient prole, disease progression and treatment responses. J Am Dent Assoc 2001; 132: 9019.
3. Sugerman PB, Savage NW, Walsh LJ, et al. The pathogenesis of oral lichen planus.

Crit Rev Oral Biol Med 2002; 13: 35065.


4. Ismail SB, Kumar SKS, Zain RB. Oral lichen planus and Lichenoid reactions;

etiopathogenesis, diagnosis, management and malignant transformation. J Oral Sci 2007; 49: 89106.
5. Lodi G, Scully C, Carozzo M, et al. Current controversies in oral lichen planus: report

on an international consensus meeting. Part 1. Viral infections and etiopathogenesis. Triple O 2005; 100: 4051.
6. Zhou XJ, Sugarman PB, Savage NW, et al. Intra-epithelial CD8+ T cells and

basement membrane disruption in oral lichen planus. J Oral Pathol Med 2002; 31: 237.
7. Zhou XJ, Sugerman PB, Savage NW, Walsh LJ. Matrix metalloproteinases and their

inhibitors in oral lichen planus. J Cutan Pathol 2001; 28: 7282.


8. Zhao ZZ, Sugerman PB, Zhou XJ, Walsh LJ, Savage NW. Mast cell degranulation

and the role of T cell RANTES in oral lichen planus. Oral Dis 2001; 7: 24651.
9. Zhao ZZ, Savage NW, Pujic Z, Walsh LJ. Immunohistochemical localization of mast

cells and mast cellnerve interactions in oral lichen planus. Oral Dis 1997; 3: 716.
10. Zhao ZZ, Sugerman PB, Walsh LJ, Savage NW. Expression of RANTES and CCR1

in oral lichen planus and association with mast cell migration. J Oral Pathol Med 2002; 31: 15862. 11. Jose M, Raghu AR, Rao NN Evaluation of mast cells in oral lichen planus and oral lichenoid reaction. IJDR, Vol. 12 No. 3, JulySeptember 2001.
12. Juneja M, Mahajan S, Rao NN, et al. Histochemical analysis of pathological

alterations in oral lichen planus and oral lichenoid reactions. J Oral Sci 2006; 48: 18593.
13. Jontell M, Hansson HA, Nygren H. Mast cells in oral lichen planus. J Oral Pathol

1986; 15: 2735.


15

14. Lukac J, Brozovic S, Vucicevic-Boras V, et al. Serum autoantibodies to

desmogleins 1 and 3 in patients with oral lichen planus. Croat Med J 2006; 47: 538.
15. Walsh LJ, Savage NW, Ishii T, Seymour GJ. Immunopathogenesis of oral lichen

planus. J Oral Pathol Med 1990; 19: 38996.

16