Anda di halaman 1dari 16

1.

Komponen Lingkungan Geo Fisik Kimia


1.1. Iklim
Kondisi iklim di wilayah Kabupaten Banjar didasarkan pada hasil
pengamatan dan pengukuran yang dilakukan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi,
dan Geofisika Banjarbaru. Berdasarkan data Curah Hujan (CH) bulanan tersebut
dalam kurun waktu 10 tahun terakhir (tahun 2011 hingga 2020) menunjukkan bahwa
curah hujan bulanan tertinggi disekitar wilayah Kabupaten Banjar, termasuk di
wilayah studi adalah 653 mm per bulan dan jumlah hari hujan tertinggi adalah 25
hari perbulan (Tabel 2.1). Dari data curah hujan tersebut dapat diperoleh gambaran
mengenai siklus musim sepanjang tahun, selain itu dapat juga diprediksi kondisi
curah hujan di lokasi rencana kegiatan yaitu rata-rata > 100 mm/bulan.
Suhu udara rata-rata selama periode Tahun 2020 berkisar pada 26,3 oC – 27,3
o
C. Suhu selama periode Tahun 2020 menunjukkan suhu tertinggi terjadi pada Bulan
September (27,3 oC) dan suhu terendah terjadi pada Bulan Januari dan Bulan Juli
(26,3 oC). Suhu menunjukan pada musim timur dan peralihan II mencapai kondisi
terpanas sedang pada musim Timur dan peralihan I lebih berfluktuasi (Tabel 2.2) di
bawah ini. Kelembaban udara merupakan unsur yang berpengaruh terhadap curah
hujan. Kondisi kelembaban udara rata-rata pada bulan Januari 2020 sampai dengan
Desember 2020 bervariasi di mana kelembaban nisbi udara rata-rata berkisar antara
80,0 – 87,0%. Kelembaban tertinggi terjadi pada bulan Januari dan Maret 2020 yaitu
87,0 % dan terendah terjadi pada bulan September 2020 sebesar 80,0 %.

Tabel 2.1. Curah hujan dan hari hujan bulanan antara tahun 2011 – 2020
Tahun
Bulan
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

CH HH CH HH CH HH CH HH CH HH CH HH CH HH CH HH CH HH CH HH

Jan. 290 81 27 175 477 352 360 293 17 290,1 17 405,9 23


12 8 17 19 19 25 16,3
Peb. 262 215 398 43 413 294 310 184 13 468,2 23 433,3 18
17 24 19 14 21 21 16,5
Mar. 181 140 97 317 263 278 309 274 15 414,2 17 240,8 15
23 16 19 14 24 21 15,9
Apr. 424 83 453 180 285 488 320 372 13 137,1 18 613,0 14
20 13 6 16 18 25 13,8
Mei. 111 100 67 96 173 310 302 40 3 45,5 9 204,5 11
11 9 8 14 11 19 10,9
Jun. 87 60 14 86 101 210 285 166 8 69,9 12 82,7 9
6 7 10 19 11 13 10,3
Jul. 79 177 73 53 14 270 101 4 1 62,7 6 5,0 1
4 6 10 8 2 18 8,3
Agt. 23 111 159 95 0 208 95 12 1 27,8 2 10,5 2
2 1 14 8 0 12 6,1
Sep. 48 10 140 46 0 106 145 0 0 64,8 5 0 0
8 1 7 2 0 14 5,7
Okt. 159 85 69 0 6 165 165 93 8 126,3 12 18 3
14 9 20 1 3 17 10,4
Nop. 191 161 165 210 85 310 310 43 7 118,8 13 46 5
21 19 24 16 18 24 18,3
Des. 434 257 653 175 477 352 360 286 14 546,6 26 137,9 15
25 25 23 24 17 22 18,7

Sumber : Stasiun Meteorologi Banjarbaru, 2021.


Kondisi iklim berupa banyaknya HH dan CH per bulan serta 10 tahun terakhir
yang diperoleh dari data BPPS Kabupaten Banjar Dalam Angka Tahun 2017 masing-
masing dapat dilihat pada Lampiran 2 serta Tabel 2.1 dan Tabel 2.2.

Tabel 2.1. Banyaknya Hari Hujan dan Curah Hujan Per Bulan Tahun 2017
Bulan Hari Hujan (hari) Curah Hujan (mm)
Januari 22 411,4
Pebruari 16 251,3
Maret 14 369,0
April 19 300,6
Mei 13 109,8
Juni 16 169,4
Juli 9 55,5
Agustus 6 99,5
September 10 49,0
Oktober 6 186,0
Nopember 18 272,1
Desember 22 355,2
Sumber : Kabupaten Banjar dalam Angka (2017)

Tabel 2.3. Hasil Perhitungan Tipe Iklim Menurut Schmidt dan Fergusson

Curah Hujan Maksimum (mm) Total


Tahun
Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des BK BB

2011 290 262 181 424 111 87 79 23 48 159 191 434 2289

3 3 3 3 3 2 2 1 1 3 3 3 2 4

2012 81 215 140 83 100 60 177 111 10 85 161 257 1480

2 3 3 2 3 2 3 3 1 2 3 3 6 3

2013 27 398 97 453 67 14 73 159 140 69 165 653 2315

1 3 2 3 2 1 2 3 3 2 3 3 7 1

2014 175 43 317 180 96 86 53 95 46 0 210 175 1476

3 1 3 3 2 2 1 2 1 1 3 3 5 1

2015 477 413 263 285 173 101 14 0 0 6 85 477 2294

3 3 3 3 3 3 1 1 1 1 2 3 8 1

2016 352 294 278 488 310 210 270 208 106 165 310 352 3343

3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 6 4

2017 360 310 309 320 302 285 101 95 145 165 310 360 3062

3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 8

2018 293 184 274 372 40 166 4 12 0 93 43 286 1767

3 3 3 3 1 3 1 1 1 2 1 3 1 9

2019 290 468 414 137 46 70 63 28 65 126 119 547 2372

3 3 3 3 1 2 2 1 2 3 3 3 1 9

2020 406 433 241 613 205 83 5 11 0 18 46 138 2198


3 3 3 3 3 2 1 1 1 1 1 3 4 6

Rerata 275 302 251 336 145 116 84 74 56 89 164 368 188

Sumber : Stasiun Meteorologi Syamsuddin Noor, 2019 Jumlah 42 46

Rerata 4.2 4.6

Q = BK/BB

= 0.91304

Pada Tabel 2.1 dan Tabel 2.2 di atas menunjukkan bahwa banyaknya jumlah
hari hujan yang terjadi tidak selalu berkorelasi positif dengan banyaknya curah hujan
yang dihasilkan, baik dilihat dari data bulanan bulanan maupun tahunan. Beberapa
hari hujan yang banyak menghasilkan curah hujan yang sedikit, demikian pula
sebaliknya, bahkan dengan jumlah hari hujan yang sama, tetapi menghasilkan curah
hujan yang jauh berbeda. Pada Tabel 2.1, banyaknya hari hujan bulanan terbanyak
(22 hari) terjadi pada bulan Januari daan Bulan Desember dengan jumlah curah hujan
sebanyak 411,4 dan 355,2 mm, sedangkan yang paling sedikit (6 hari) terjadi pada
bulan Agustus dengan banyaknya curah hujan hanya sekitar 99,5 mm. Pada Tabel
2.3. di atas menunjukkan bahwa tipe iklim di wilayah studi termasuk dalam tipe
iklim D atau beriklim sedang.

Data suhu dan kelembaban udara di wilayah studi dapat dilihat pada Tabel 2.4
dan Tabel 2.5 yang diperoleh dari Stasiun Pengamatan Syamsuddin Noor
Banjarbaru.

Tabel 2.4. Suhu Minimum, Maksimum dan Rata-rata di Wilayah Studi


Suhu (o C)
Bulan
Minimum Rata-Rata Maksimum
Januari 22,4 27,0 32,4
Pebruari 23,4 27,2 33,8
Maret 20,4 27,1 34,0
April 23,0 27,5 34,6
Mei 22,0 27,7 35,0
Juni 23,0 27,1 34,2
Juli 21,0 26,3 33,4
Agustus 22,5 23,4 31,5
September 18,8 26,7 36,0
Oktober 22,4 27,3 34,6
Nopember 23,2 27,3 33,8
Desember 22,8 27,1 33,8
Sumber : Kabupaten Banjar dalam Angka, 2017
Gambar 2.3.
Grafik Suhu Rata-Rata di Wilayah Studi

Tabel 2.5. Kelembaban Udara Minimum, Rata-rata dan Maksimum di Wilayah


Studi
Kelembaban Udara (%)
Bulan
Minimum Rata-Rata Maksimum
Januari 81,3 87,5 93,5
Pebruari 73,0 85,1 94,0
Maret 81,5 87,1 95,0
April 81,3 86,4 91,3
Mei 82,8 88,0 94,0
Juni 83,8 88,8 94,0
Juli 83,3 88,3 93,0
Agustus 81,0 87,4 94,0
September 80,5 85,8 92,0
Oktober 82,0 86,7 96,0
Nopember 70,8 86,5 91,8
Desember 82,0 87,2 93,3
Sumber : Kabupaten Barito Kuala dalam Angka, 2017
Gambar 2.4.
Grafik Kelembaban Rata-Rata di Wilayah Studi

Suhu rata-rata di wilayah studi berkisar antara 23,4 – 27,3 oC dengan suhu
maksimum sebesar 36,0 0C tergolong cukup panas dan batas kisaran tertinggi
melampaui suhu udara maksimum untuk daerah tropis, yaitu 32oC.
Kelembaban udara di wilayah studi rata-rata berkisar antara 85,8 – 88,8 %
yang termasuk sedikit lembab untuk daerah tropis.

2. Fisiografi dan Geologi


Lokasi Wilayah Studi Danau Seran memiliki topografi dengan relief datar
(8 - 15%). Elevasi terendah berada di sekitar sungai Maluka yakni mencapai 7 – 8 m
dpl, Wilayah studi merupakan jenis bentang lahan dataran struktural lipatan
berombak-bergelombang (kode 3ogStl-Iisnk) dan dataran bermaterial fluvial
bermaterial aluvium (kode 3FV) dengan vegetasi terna tepian sungai payau. Jenis
tanah daerah ini termasuk kedalam Komplek Podsolik Merah Kuning dan Laterik
serta Organosol Glei-Humus, dengan bahan induk batuan beku dan bahan organik
fluvial.
Lokasi Wilayah Studi Void Pumpung memiliki topografi dengan relief datar
(8 - 15%). Elevasi terendah berada di sekitar sungai Maluka yakni mencapai 11 – 12
m dpl, Wilayah studi merupakan jenis bentang lahan dataran struktural lipatan
berombak-bergelombang bermaterial batuan sedimen berkarbonat (kode 3ogStl-
Iisnk) dan dataran bermaterial fluvial bermaterial aluvium (kode 3FV) dengan
vegetasi hutan pamah (non dipterokarpa) dan vegetasi terna tepian sungai payau.
Jenis tanah daerah ini termasuk kedalam Komplek Podsolik Merah Kuning dan
Laterik, dengan bahan induk batuan beku.
Hasil analisis DEM (Digital Elevation Model) yang diturunkan dari Citra
DEMNAS BIG digital 1 : 90.000, diperoleh informasi bahwa daerah penelitian datar
dengan kelas kemiringan lereng antara 8 - 15 %. Berdasarkan analisis kemiringan
lereng, pergerakan air utama disebabkan oleh letak daerah penelitian (lokasi studi)
yang terletak pada kemiringan 8 - 15 % (Landai) dimana pergerakan air bergerak dari
Utara ke Selatan selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 2.3 dan Gambar 2.4.

Tabel 2.20. Kemiringan lereng menurut klasifikasi Departemen Kehutanan, 1993


No. Kemiringan (%) Kelas Kemiringan (%) Keterangan
1. I 0–8 Datar
2. II 8 – 15 Landai
3. III 15 – 25 Agak Curam
4. IV 25 – 40 Curam
5. V > 40 Sangat Curam
Sumber : Hasil Analisis DEM SRTM
Gambar 2.3.
Peta Kontur dan Aliran Air Permukaan Disekitar Wilayah Studi Danau Seran

Gambar 2.4.
Peta Kontur dan Aliran Air Permukaan Disekitar Wilayah Studi Void Pumpung
3. Hidrologi
3.1. Karakteristik Fisik Sungai
Wilayah studi Danau Seran termasuk dalam Sub DAS Rancah yang
berbatasan dengan Sub DAS Sumbah di Sebelah Utara, Sub DAS Banyu Irang di
Sebelah Selatan, Sub DAS Tiung di Sebelah Timur dan Sub DAS Maluka di Sebelah
Barat. Pola aliran sungai ini dikategorikan berpola aliran mendaun (dendritic drainage
pattern), dimana jenis pola aliran tersebut dapat dicirikan dari aliran sungai cabang ke
sungai utama. Bentuk sungai berkelok-kelok (meander) dan kemiringan sungai sangat
kecil sehingga arus relatif lamban. Pergerakan air sebagian bergerak ke Sub DAS
Sumbah dan sebagian mengalir ke Sub DAS Banyu Irang.
Wilayah Studi Void Pumpung termasuk dalam Sub DAS Tiung berbatasan
dengan Sub DAS Rancah di Sebelah Utara, Sub DAS Banyu Irang di Sebelah
Selatan, Sub DAS Tiung di Sebelah Timur dan Sub DAS Maluka di Sebelah Barat.
Pola aliran sungai ini dikategorikan berpola aliran mendaun (dendritic drainage
pattern), dimana jenis pola aliran tersebut dapat dicirikan dari aliran sungai cabang
bermuara ke sungai utama. Bentuk sungai berkelok-kelok (meander) dan kemiringan
sungai sangat kecil sehingga arus relatif lamban, dimana pergerakan air mengalir ke
Sub DAS Banyu Irang.

3.2 Analisis Perilaku Hidrologi


Pengetahuan tentang proses-proses hidrologi dalam ekosistem DAS bermanfaat
bagi pengembangan sumber daya air dalam skala DAS. Sebagai suatu ekosistem,
setiap masukan (presipitasi) ke dalam ekosistem tersebut dapat dievaluasi proses
(vegetasi, tanah, dan lereng) yang telah dan sedang terjadi dengan cara melihat
keluaran (debit dan sedimen) dari ekosistem tersebut.
Berdasarkan analisis pola aliran di wilayah studi dapat ditunjukkan pada pada
Tabel 2.12.
Tabel 2.12. Luas Sub DAS di Wilayah Studi
No. Sub DAS Luas (Km2)
1. Sub DAS Rancah 2.457,68
2. Sub DAS Tiung 2.201,81
Sumber : DEM dan Analisis WDT Citra Demnas BIG.
Pada tabel di atas dapat dilihat luas SDAS Rancah sebesar 2.457,68 km2, dan
SDAS Tiung sebesar 2.201,81 km2. Secara Visual letak SDAS Rancah dan SDAS
Tiung dapat dilihat pada Gambar 2.7., dan Gambar 2.8.

Gambar 2.7.
Batas di Wilayah Studi SDAS Rancah
Gambar 2.7.
Batas di Wilayah Studi SDAS Tiung

3.2. Analisis Koefisien Limpasan Permukaan Berdasarkan Tutupan Vegetasi

Nilai koefisien aliran sering digunakan sebagai indikator untuk menentukan


apakah suatu DAS telah mengalami kerusakan secara fisik. Nilai C berkisar antara 0
hingga 1. Nilai 0 menunjukan bahwa semua air hujan yang jatuh akan mengalami
intersepsi dan infiltrasi, sehingga tidak terjadi aliran permukaan, sedang nilai 1
menunjukan nilai sebaliknya. Nilai koefisien aliran dapat dibedakan menjadi
koefisien aliran volume limpasan, koefisien aliran bulanan, dan koefisien aliran
tahunan (Arsyad, 1989; Asdak 2002).
Untuk menduga besarnya debit aliran pada Sub DAS digunakan persamaan
rasional dimana salah satu parameter masukan adalah nilai koefisien limpasan (C).
Nilai koefisien aliran permukaan yang digunakan berdasarkan besarnya tutupan
vegetasi yang ada di wilayah studi menurut metode US. Forest Service (1980 dalam
Asdak, 2004), dengan berdasarkan pada Tabel…… dan Tabel…….
Tabel ....... Nilai koefisien aliran (C) untuk persamaan rasional
Tataguna Lahan Koefisien Aliran
Tanah Pertanian, 0 – 30 %
Tanah Kosong
Rata 0,30 – 0,60
Kasar 0,20 – 0,50
Ladang Garapan
Tanah berlempung, tanpa vegetasi 0,30 – 0,60
Tanah berlempung, dengan vegetasi 0,20 – 0,50
Berpasir, tanpa vegetasi 0,20 – 0,25
Berpasir, dengan vegetasi 0,10 – 0,25
Padang Rumput
Tanah Berlempung 0,15 – 0,45
Tanah Berpasir 0,05 – 0,25
Hutan/Bervegetasi 0,05 – 0,25
Tanah Tidak Produktif > 30 %
Rata, kedap air 0,70 – 0,90
Kasar 0,50 – 0,70
Sumber : U.S. Forest Service (1980 dalam Asdak, 2004)

Tabel 2.18. Nilai koefisien aliran (C) untuk daerah urban

Tataguna Lahan Koefisien Aliran


Daerah Perdagangan :
Pertokoan 0,70 – 0,90
Pinggiran 0,50 – 0,70
Permukiman :
Perumahan satu keluarga 0,30 – 0,50
Perumahan berkelompok, terpisah-pisah 0,40 – 0,60
Perumahan berkelompok, bersambungan 0,60 – 0,75
Sub Urban 0,25 – 0,40
Daerah Apartemen 0,50 – 0,70
Industri :
Daerah ringan 0,50 – 0,80
Daerah padat 0,60 – 0,90
Taman Pekuburan 0,10 – 0,25
Tempat Bermain 0,20 – 0,35
Daerah Stasiun Kereta Api 0,20 – 0,40
Daerah belum diperbaiki 0,10 – 0,30
Jalan 0,70 – 0,95
Bata :
Jalan, hamparan 0,75 – 0,85
Atap 0,79 – 0,95
Sumber : Schwab dkk. (1981. dalam Arsyad, 1989)
Berdasarkan hasil analisis Tabel…. dan Tabel…. maka SDAS Rancah dan
SDAS Tiung mempunyai nilai C seperti pada Tabel…….
Nilai Koefisien C berdasarkan tutupan di Sub DAS Rancah dan Sub DAS
Tiung dapat dilihat pada Gambar ……dan Gambar …….serta dapat dilihat pada
Tabel……….

Tabel……. Nilai Koefisien C Berdasarkan Tutupan Vegetasi

No. Sub DAS Koefisien Aliran (C)


1. Sub DAS Rancah 0,3003
2. Sub DAS Tiung 0,3014
Sumber : Peta Tutupan Lahan Kabupaten Barito Kuala BIG 2018 Skala 1:250.000

Berdasarkan data pada tabel di atas dapat dilihat bahwa limpasan permukaan
yang terjadi di SDAS Rancah yaitu sebesar 0,3003, ini berarti dari 100 % peluang
terjadinya hujan sebesar 30,03 % limpasan permukaan akan mengalir ke Wilayah
Studi. Sedangkan di Wilayah Studi SDAS Tiung limpasan permukaan sebesar
0,3014 yang berarti dari 100 % peluang terjadinya hujan sebesar 30,14 % limpasan
permukaan akan mengalir ke Wilayah Studi.

Gambar 2.8.
Tutupan Lahan di Wilayah Studi SDAS Rancah
Gambar 2.9.
Tutupan Lahan di Wilayah Studi SDAS Tiung

3.3. Analisis Intensitas Curah Hujan


1. Intensitas Curah Hujan Metode Kirpich
Data intensitas hujan diperlukan untuk perhitungan debit puncak yang
dinyatakan dalam satuan mm/jam. Untuk menghitung besarnya intensitas hujan
digunakan formula Mononobe yang mempertimbangkan data rata-rata hujan
puncak harian pada bulan-bulan basah dinyatakan dalam mm/jam, secara
matematis formula Kirpich dirumuskan seperti persamaan berikut :
P ( 24 ) 2 / 3
I  x .......................................................................... (1)
24 t
0.77
 L 
Tc  0.0195  menit …………………….........……………
 S
(2)
H
S  ………………………………….........………………… (3)
L
Dengan ;
I = intensitas hujan (mm/jam)
P = hujan harian (mm)
T = periode hujan yang besarnya = waktu konsentrasi (Tc) jam.
Tc = waktu konsentrasi (jam)
L = panjang perjalanan/lintasan sungai (m)
S = kemiringan sungai (gradien sungai dalam %)
∆H = beda tinggi antara titik terjauh (paling atas) dari DAS sampai
dengan outlet yang dimaksud (m)

Data Curah Hujan Maksimum rata-rata dan perhitungan Intensitas Curah


Hujan. Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan persamaan Kirpich
diperoleh Curah Hujan Maksimum rata-rata sebesar 362,67 mm, Intensitas Curah
Hujan Sebelum dan sesudah kegiatan di SDAS Riam Kanan sebesar 26,96 mm/jam.

3.4. Debit Puncak Rasional (Qp)


Perhitungan debit puncak aliran permukaan yang dilakukan pada satuan
pemetaan (DAS) menggunakan metode rasional dengan masukan data intesitas hujan
dari stasiun pengukuran serta koefisien limpasan DAS. Dari analisis debit ini akan
dihasilkan debit aktual, dimana perumusan metode rasionalnya sebagai berikut:

Qp  0 . 278 . C . I . A …………......………..………….. (4)


dengan :
Qp = debit puncak (m3/detik)
C = koefisien limpasan permukaan (%) pada saat kejadian hujan Tc
I = intensitas curah hujan (mm/jam) yang lamanya sama dengan waktu
konsentrasi (Tc)
A = luas DAS (km2)
0.278 = tetapan untuk penyesuaian metrik

Debit puncak metode rasional (aktual) didasarkan pada perhitungan sesuai


dengan persamaan 4. Nilai koefisien limpasan permukaan pada persamaan tersebut
menggunakan hasil dari pendugaan koefisien limpasan dan dihitung pada curah
hujan maksimum rata-rata yang terjadi selama periode tahun 2015 - 2020.
Perhitungan debit puncak metode rasional (aktual) dengan masukan data luas DAS
hasil perhitungan SIG dan data intensitas hujan dari hasil pengukuran stasiun hujan
pada tanggal-tanggal kejadian hujan seperti pada Tabel …….
Tabel 2.14. Hasil Perhitungan Debit (Q) Puncak Metode Rasional Sebelum Proyek
Luas I Q = 0,278.C.I.A
No. Sub DAS C
(km2) (mm/jam) (m3/det)
1 Sub DAS Rancah 2.457,68 0,3003 1,65 386,770

2 Sub DAS Tiung 2.201,81 0,3014 1,88 304,027


Sumber : Pengolahan Data Primer.

Dari Tabel…….. dapat dilihat hasil perhitungan Debit (Q) dengan


menggunakan metode rasional di daerah SDAS Seran diperoleh limpasan permukaan
(C) sebesar 0,3003 dengan intensitas curah hujan sebesar 1,65 mm/jam, dan debit yang
dihasilkan sebesar 386,770 m3/det. Hasil Perhitungan Debit (Q) metode rasional
untuk SDAS Tiung diperoleh limpasan permukaan (C) sebesar 0,3014 dengan
intensitas curah hujan sebesar 1,88 mm/jam, dan debit yang dihasilkan sebesar 304,027
m3/det.

3.5. Analisis Neraca Air Lahan


Penggunakan perhitungan analisis neraca air Thornhwaite and Matter (1957),
dapat diketahui bulan-bulan dimana terjadi surplus, defisit dan pemakaian air tanah.
Bulan-bulan terjadi surplus air yaitu pada bulan Januari, Pebruari, Maret. Defisit air
akan terjadi pada bulan April sampai Desember selama periode ini juga akan terjadi
pemakaian air tanah pada bulan bulan April – Desember. Potensi Limpasan
permukaan (Ro) akan terjadi selama periode musim hujan Januari – Maret.

Gambar 2.8.
Neraca Air Lahan (ETP-ETA) di Wilayah Studi