Anda di halaman 1dari 1

Kisah Nabi Ismail

Nabi Ismail Alaihissalam (AS) merupakan anak dari Nabi Ibrahim AS yang menikah dengan
Sayyidah Hajar, sebelumnya Nabi Ibrahim telah memiliki istri bernama Sayyidah Sarah namun, di
umur pernikahannya yang terbilang tua, ia tak dikaruniai anak.
 
Nabi Ismail kecil lahir dan tumbuh menjadi anak yang berbakti kepada orang tuanya,
membantu keduanya, dan menaati perintah-perintahnya. Nabi Ismail juga diketahui sering
membantu ibunya menggembala ternak yang jumlahnya tidak sedikit.
 
Suatu hari ketika Nabi Ismail telah pada umur dewasa, selama tiga kali, Nabi Ibrahim selalu
bermimpi diperintahkan untuk menyembelih anaknya yakni Nabi Ismail. Ia sempat tak percaya dan
mengira mimpi terebut datang dari setan.
 
Nabi Ibrahim pun menceritakan mimpinya itu kepada Nabi Ismail. Nabi Ibrahim percaya
bahwa mimpi itu datang dari Allah SWT. Sebagai nabi, dan taat kepada Allah SWT, ia harus
melaksanakannya.
 
Kemudian ia menceritakan mimpi ini kepada anaknya, Nabi Ismail. Setelah diceritakan, Nabi
Ismail berkata bahwa hal tersebut merupaka perintah Allah SWT yang memang benar harus
dilaksanakan, sebagai tanda orang beriman, ia mengaku tabah dan sabar.
 
Tiba hari saat Nabi Ibrahim ingin melaksanakan perintah tersebut, Nabi Ismail tetap tidak
ada penolakan dan ingin menuruti apa yang akan dilakukan ayahnya atas perintah Allah SWT. Saat
Nabi Ismail akan disembelih, kemudian digantikan dengan seekor domba besar oleh Malaikat Jibril.
 
Kisah ini menjadi asal mula pelaksanaan ibadah kurban pada Hari Raya Idul Adha yang jatuh
setiap tanggal 10 Dzulhijjah dan dirayakan oleh setiap Muslim di seluruh dunia.
 
Dari ketabahan, ketaatan, dan kesabaran Nabi Ismail, dapat diteladani bagaimana seorang
anak yang berbakti kepada orang tuanya, membantu pekerjaan orang tua, dan berbaktinya kepada
orang tuanya dengan  pengorbanan tersebut, sebagai bentuk keimanannya kepada Allah SWT.
 
Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas
pelipis(nya), (untuk melaksanakan perintah Allah). Lalu Kami panggil dia, Wahai Ibrahim! sungguh,
engkau telah membenarkan mimpi itu. Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-
orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus
anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di
kalangan orang-orang yang datang kemudian, Selamat sejahtera bagi Ibrahim. ”Demikianlah Kami
memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sungguh, dia termasuk hamba-hamba
Kami yang beriman. (QS As-Saffat 103-111).