Anda di halaman 1dari 2

1.

KONSETRASI ENZIM
DISKUSI KELOMPOK Pada percobaan kali ini larutan enzim dibuat dengan berbagai macam konsentrasi untuk dapat membandingkan kerja enzim pada berbagai konsentrasi. Kadar enzim yang bervariasi dibuat dengan pengenceran dengan aquadest. Pada hasil percobaan, kecepatan reaksi dapat dilihat dari waktu hasil penggumpalan susu setelah diberi enzim protease. aktivitas enzim tertinggi (kecepatan reaksi enzimatik tertinggi) diperoleh pada kadar enzim terbesar, yaitu 1,0 ml enzim protease yg tidak diencerkan, dalam 2 menit 48 detik. Hal ini disebabkan banyak enzim yang bereaksi dengan substrat sehingga kecepatan reaksi tinggi dan produk banyak yang dihasilkan. Semakin menurun kadar enzim, aktivitas enzim seharusnya semakin menurun. Selanjutnya pada pengenceran 0,5 ml enzim protease yang ditambahkan 0,5ml air diperoleh kecepatan reaksi enzimatik yang lebih kecil daripada tanpa pengenceran, yaitu5 menit 12 detik . dan pengenceran 0,25ml enzim protease yang ditambahkan 0,75ml air, yaitu 9 menit 56 detik baru bias dilihat terjadi penggumpalan. Hal ini disebabkan jumlah enzim yang bereaksi dengan substrat berkurang sehingga aktivitas enzim pun menurun. KESIMPULAN Aktivitas enzim dipengaruhi oleh kadar enzim. Aktivitas enzim dan kadar enzim memiliki hubungan perbandingan yang lurus. Hal ini berarti semakin besar kadar enzim, semakin besar aktivitas enzim dan semakin cepat reaksi yang dikatalisis enzim.

3. Test Schardinger
HASIL Larutan Uji Pengamatan Kesimpulan Susu mentah Warna biru menjadi putih + Susu dipasteurisasi Tetap warna biru DISKUSI KELOMPOK pada susu yang masih murni (mentah) masih terdapat aktivitas dari enzim dehidrogenase, sehingga pada saat pemanasan dapat mereduksi metilen biru (warna biru berubah menjadi putih). Sedangkan pada susu yang telah dipasteurisasi, susu tersebut kehilangan aktivitas enzim dehidrogenase yang mengakibatkan susu tersebut tidak dapat mereduksi metilen biru (warna biru tidak berubah). Di bagian atas campuran terlihat warna biru karena biru metilen yang sudah direduksi oleh enzim dehidrogenase menjadi leukobirumetilen mengalami oksidasi kembali oleh udara sehingga menjadi biru metilen kembali (warna larutan susu akan menjadi biru kembali). reaksi dehidrogenasi CH3OH H2CO + H2. Bila formaldehida ini dioksidasi kembali, akan menghasilkan asam format yang sering ada dalam larutan formaldehida dalam kadar ppm.

Test ini berdasarkan reduksi biru metilen oleh enzim dehidrogenase pembentuk leukobirumetilen (MbH2) yang tidak berwarna. Hidrogen yang diperoleh dari formaldehid digunakan untuk mereduksi. Atom H yang terjadi oleh enzimnya segera diikat pada oksigen atau atom H diikat oleh akseptor birumetilen (Mb), maka terjadilah air atau leukobirumetilen yang tidak berwarna. Hanya susu murni (yang tidak dipanaskan) akan memberikan hasil positif terhadap reaksi tersebut (karena enzim dehidrogensenya rusak). Oleh karena itu, reaksi ini dapat digunakan untuk menemukan kesegaran susu murni. KESIMPULAN Didalam susu segar terdapat enzim dehidrigenase yang mamapu mereduksi birumetilen sedangkan pada susu yang telah dipasteurisasi, enzim dehidrogenase telah rusak sehingga tidak dapat mereduksi birumetilen sehingga warna larutan tetap biru.

5. Vitamin C
DISKUSI KELOMPOK Dari pecobaan diatas dapat kita lihat bahwa apel yang didiamkan dalam air mengalami perubahan warna menjadi kecoklatan karena apel yang mengandung fenol jika dilarutkan dalam aquades (H2O) akan teroksidasi karena adanya ikatan O2 didalam aquades. Sedangkan apel yang didiamkan dalam asam askorbat tidak mengalami perubahan warna karena fenol didalam apel tidak teroksidasi. Hal ini terjadi karena adanya virtamin C dalam asam askorbat yang berperan sebagai penghambat terjadinya reaksi oksidasi didalam apel (antioksidan) Reaksi askorbat dengan superoksida secara fisologis mirip dengan kerja enzim SOD sebagai berikut. 2O2 + 2H+ +Askorbat 2H2O2 + Dehiroaskorbat Reaksi dengan hidrogen peroksida dikatalisis oleh enzim askorbat peroksidase (Asada, 1992) H2O2 + 2 Askorbat 2H20 + 2 Monodehidroaskorbat KESIMPULAN Vitamin c termasuk golongan antioksidan karena sangatmudah teroksidasi oleh panas, cahaya, dan logam, oleh karena itu penggunaaan vitamin C sebagai antioksidan semakin sering dijumpai.