Anda di halaman 1dari 34

Similarity Report

PAPER NAME AUTHOR

Proposal Penelitian Eksperimen Kelomp Suyitno


ok 6.docx

WORD COUNT CHARACTER COUNT

5501 Words 38353 Characters

PAGE COUNT FILE SIZE

30 Pages 933.8KB

SUBMISSION DATE REPORT DATE

Jun 8, 2022 2:48 PM GMT+7 Jun 8, 2022 2:50 PM GMT+7

84% Overall Similarity


The combined total of all matches, including overlapping sources, for each database.
84% Internet database 27% Publications database
Crossref database Crossref Posted Content database
49% Submitted Works database

Excluded from Similarity Report


Bibliographic material Small Matches (Less then 10 words)

Summary
PELATIHAN REGULASI DIRI UNTUK MENGURANGI
PROKRASTINASI AKADEMIK PADA MAHASISWA PSIKOLOGI
ISLAM UIN KHAS JEMBER

PROPOSAL PENELITIAN
Untuk Memenuhi Tugas Akhir Psikologi Eksperimen

Disusun oleh :
Kelompok 5
1. Alfaini Zulfa Nada (205103050016)
2. Siti nur Hasanah (205103050013)
3. Syailir A Rohmah Amalia (204103050049)
4. Mohammad Irsyadil Isbadi (204103050033)

28
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI ISLAM
FAKULTAS DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER
MEI 2022

i
PELATIHAN REGULASI DIRI UNTUK MENGURANGI
PROKRASTINASI AKADEMIK PADA MAHASISWA PSIKOLOGI
ISLAM UIN KHAS JEMBER

Alfaini Zulfa Nada, Syailir A Rohmah Amalia, Siti nur Hasanah, Mohammad
Irsyadil Isbadi

ABSTRAK

Penundaan akademik adalah masalah yang sering dihadapi oleh pelajar,


demikian juga mahasiswa. Meski telah dianggap sebagai manusia yang dewasa
dengan pemikiran matang, mahasiswa juga sering kali mengalami prokrastinasi
akademik. Hal ini tentunya dangat mengganggu terhadap peroses belajar
mahasiswa.

Dari beberapa penlitian yang telah lalu diketahui bahwa teknik belajar
regulasi diri efektif untuk mengurangi penundaan akademik pelajar. Disini kami
mencoba membuktikan bahwa teknik belajar ini dapat juga berguna bagi
mahasiswa psikologi islam angkatan uin khas jember angkatan 2021. Penelitian ini
menggunakan metode kuantitatif dengan populasi mahasiswa psikologi islam UIN
khas jember angkatan 2021.

Kata Kunci: Mahasiswa, Proses Pembelajaran

ii
14
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT. Yang telah melimpahkan rahmat
taufik dan hidayahnya serta atas kuasa-Nya sehingga kami bisa menyusun Tugas
Penelitian Eksperimen sebagai Tugas akhir kami dalam mata kuliah Psikologi
26
Eksperimen. Shalawat serta salam tetap tercurahkan kepada Baginda besar Nabi
Muhammad saw.

Alhamdulillah, dalam kesempatan kali ini kami tim penyusun mengucapkan


banyak terima kasih kepada Ibu Arrumaisha Fitri sebagai dosen pengampu mata
kuliah Psikologi Eksperimen yang telah memercayai kami untuk menyelesaikan
tugas akhir ini tentang “Pelatihan Regulasi Diri Untuk Mengirangi Prokrastinasi
Akademik Pada Mahasiswa Psikologi Islam UIN KHAS JEMBER”. Dimana tugas
ini dapat memberikan manfaat bagi tim penyusun sebagai wadah untuk
berkembang.

Mudah-mudahan tugas akhir ini dapat membantu bertambahnya wawasan


literasi teman-teman. Pastinya dalam sebuah karya terdapat kekurangan atau
kesalahan, maka dari itu kami tim penyusun memohon maaf apabila terdapat
kesalahan.

Jember. 14 Mei 2022

Penulis

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i


ABSTRAK ............................................................................................................. ii
18
KATA PENGANTAR .......................................................................................... iii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................1
A. Latar belakang Masalah .............................................................................1
B. Rumusan masalah ......................................................................................4
C. Tujuan Penelitian .......................................................................................4
D. Manfaat Penelitian .....................................................................................4
BAB II LANDASAN TEORI ................................................................................6
A. Tinjauan Teori ........................................................................................6
1.1 Pengertian Prokrastinasi Akademik ................................................ 6
22
1.2 Jenis-jenis Prokrastinasi Akademik ...............................................10
1.3 Ciri-ciri Prokrastinasi Akademik ...................................................13
1.4 Teori Perkembangan Prokratinasi Akademik ................................14
1.5 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Prokrastinasi Akademik ........16
4
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ..........................................................20
A. Jenis Penelitian .......................................................................................20
B. Identifikasi Variabel Penelitian ..............................................................20
C. Definisi Operasional ...............................................................................21
D. Subjek Penelitian ....................................................................................23
E. Desain Penelitian ....................................................................................23
F. Prosedur Penelitian .................................................................................24
19
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................26

iv
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


4
Sebagian orang memandang menunda tugas sebagai suatu prilaku
negatif. Orang yang menunda tugas dianggap tidak peduli dengan kualitas
tugas dan memiliki kemampuan kognitif yang lebih rendah dibanding
kelompoknya. Hasil studi empiris oleh Burns, Dittman, Nguyen, &
Mitchelson dan Wolters mengungkapkan hasil dari menunda- nunda bahwa
seseorang akan kehilangan waktu, kesehatan yang terganggu, dan harga diri
yang rendah. Pada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Ferrari & Tice
prokrastinasi atau menunda-nunda dapat dikatikan dengan kecemasan dan
ketakutan terhadap kegagalan. Menunda-nunda dianggap sebagai hambatan
mahasiswa dalam mencapai kesuksesan akademis karena dapat
menurunkan kualitas dan kuantitas pembelajaran, menambah tingkat stres,
dan berdampak negatif dalam kehidupan mahasiswa.
2
Mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar disetiap
satuan pendidikan kampus ketika sudah menjadi mahasiswa sudah berbeda
2
lagi dengan siswa dalam tahap perkembangannya digolongkan pada masa
remaja. Hurlock (1980:206) menjelaskan bahwa “Awal masa remaja
berlangsung kira-kira dari 17 tahun”. Pada masa perkembangannya,
mahasiswa selayaknya perlu dibimbing agar terbentuknya diri secara positif
serta memiliki kemandirian dan pengendalian diri dalam memecahkan suatu
permasalahan yang dialaminya.
8
Schouwenburg dan Lay (1995) mendefinisikan Prokrastinasi
akademik sebagai perilaku menunda melakukan sesuatu dalam konteks
akademik. Bentuk perilaku prokrastinasi akademik yaitu mengerjakan tugas
mendekati waktu pengumpulan, terlambat mengembalikan buku ke
perpustakaan dan menghabiskan waktu untuk hal lain ketika sedang
menpersiapkan ujian.

1
Lay (Suridjah & Tjunjing, 2007) juga menjelaskan bahwa
prokrastinasi sebagai perilaku yang tidak perlu yang menunda kegiatan
walaupun orang itu merencanakan untuk menyelesaikan suatu kegiatan.
Perilaku menunda ini dikatakan sebagai prokrastinasi ketika perilaku
tersebut menimbulkan ketidaknyamanan emosi. McCloskey (2011)
menyatakan bahwa prokrastinasi akademik adalah kecenderungan untuk
menunda-nunda aktivitas yang berhubungan dengan belajar di lingkungan
akademik.
8
Senecal (Fatimah, Lukman, Khairudin, Shahrazad, & Halim 2011)
mengemukakan bahwa seseorang yang melakukan prokrastinasi akademik
sebenarnya mengetahui bahwa tugas harus dikerjakan dan kemungkinan
dirinya memiliki keinginan untuk menyelesaikan tugasnya, akan tetapi
dirinya mengalami kegagalan untuk melakukan tugas sesuai dengan waktu
yang diinginkan. Menurut Tuckman (Reza, 2015) prokrastinasi akademik
adalah perilaku penundaann atau menghindari mengerjakan atau
menyelesaikan tugas.
2
Para mahasiswa ini diharapkan memiliki kemampuan dalam
melaksanakan tugasnya sebagai seorang pelajar yaitu belajar secara optimal,
efektif dan efisien sesuai tuntutan yang dihadapi. Memenuhi tuntutan-
tuntutan tersebut, maka siswa diharapkan dapat memaksimalkan segenap
potensi.Mahasiswa datang ke kampus tepat waktu, belajar sesuai jadwal
dengan tidak membolos pada mata kuliah yang sedang d ampuh,
mengumpulkan tugas tepat waktu, dan tidak menunda-nunda untuk belajar.
16
Sebagai seorang mahasiswa, belajar merupakan kewajiban yang
harus dipenuhi. MahaSiswa dituntut untuk memiliki pengelolaan belajar
yang baik, khususnya dalam pengelolaan waktu. Pengelolaan waktu belajar
yang kurang baik menyebabkan mahasiswa melakukan penundaan dalam
mengerjakan tugas-tugas akademik. Perilaku menunda tugas- tugas
2
akademik disebut dengan prokrastinasi akademik.
Seung, dkk (2012:12) menjelaskan bahwa “Procrastination has been
commonly understood as a maladaptive behavior that impedes successful

2
academic experiences”. Penundaan umumnya dipahami sebagai perilaku
maladaptif yang dapat menghambat sukses akademik. Prokrastinasi dapat
berupa respon tetap dalam mengantisipasi tugas- tugas yang tidak disukai
dan dipandang bisa diselesaikan dengan sukses. Prokrastinasi akademik
merupakan kegagalan dalam mengerjakan tugas dalam jangka waktu yang
diinginkan atau menunda mengerjakan tugas sampai saat-saat terakhir.
2
Hubungan antara prokrastinasi dan stres dapat diprediksi beberapa
sebab. Mengingat bahwa stres melibatkan pengendalian yang rendah dari
rangsangan yang tidak menyenangkan, penunda mengalami stres karena
rendahnya persepsi dari kontrol diri dan efikasi diri. Beberapa penelitian
yang telah dilakukan mengenai prokrastinasi akademik yang merupakan
salah satu masalah pada sebagian mahasiswa . Sekitar 25% sampai dengan
75% dari pelajar melaporkan bahwa prokrastinasi merupakan salah satu
masalah dalam lingkup akademis mahasiswa. Konteks akademik
tampaknya mempengaruhi sejumlah besar mahasiswa.
2
Kebutuhan akan pelayanan BK sangat dipengaruhi oleh program
yang sesuai dengan kebutuhan akan mahasiswa. Prokrastinasi akademik
merupakan permasalahan yang harus diatasi, maka dalam hal ini perlu
adanya fungsi pengentasan (kuratif) agar mahasiswa dapat menjalani
kehidupan dan perkembangan dirinya dengan baik, tanpa adanya beban
yang dapat memberatkan, sehingga mahasiswa dapat mengembangkan
potensi yang dimilikinya secara optimal, serta tercapainya sukses akademik.
Hakekatnya BK merupakan upaya untuk membimbing mahasiswa
dalam membantu mengoptimalkan segala potensi. Dewasa ini Guru BK
hendaknya mampu mengaplikasikan berbagai metode dan model
pembelajaran, sehingga siswa lebih termotivasi untuk terlibat langsung
dalam penyelesaian masalah yang dialaminya. Salah satu model
pembelajaran yang dapat digunakan pada pemberian layanan secara klasikal
adalah dengan menggunakan model pembelajaran teknik team assisted
individualization.

3
Model pembelajaran teknik team assisted individualization
mengkombinasikan pembelajaran kooperatif dan individual. Model
pembelajaran teknik team assisted individualization merupakan model
kelompok kecil berkemampuan heterogen untuk saling membantu terhadap
siswa lain yang membutuhkan. Pada hakikatnya model pembelajaran teknik
team assisted individualization memiliki karakteristik bahwa tanggung
jawab belajar ada pada diri siswa sendiri. Team assisted individualization
dirancang sebagai bentuk pengajaran individual yang dapat menyelesaikan
masalah-masalah (Slavin, 2005:189). Oleh sebab itu prokrastinasi akademik
merupakan salah satu yang dapat menimbulkan berbagai masalah, maka
2
mahasiswa Psikologi islam UIN khas yang cenderung mengalami
prokrastinasi akademik akan diselesaikan dengan memberikan model
pembelajaran teknik team assisted individualization yang telah terimplisit
di dalamnya layanan informasi.

19
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka peneliti
mengajukan rumusan masalah penelitian sebagai berikut: Bagaimana
PELATIHAN REGULASI DIRI UNTUK MENGURANGI
PROKRASTINASI AKADEMIK PADA MAHASISWA PSIKOLOGI
ISLAM UIN KHAS JEMBER?”

25
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola perkembangan
perilaku psikososial remaja fase awal yang terpengaruh oleh prokrastinasi
akademik

D. Manfaat Penelitian
1) Manfaat Praktis
a) Manfaat praktis bagi remaja fase awal, yaitu sebagai pedoman
untuk meningkatkan kesadaran bahwa adanya team assisted

4
individualization terhadap mahasiswa yang berlebihan akan
memberikan dampak negatif terhadap para mahasiswa Psikologi
islam UIN khas.
b) Adanya penelitian ini bisa menjadi masukan yang berharga bagi
para dosen dengan upaya mengurangi tugas siswa ( fase remaja
awal) yang berhubungan dengan prokrastinasi akademik.
2) Manfaat Teoritis
a) Penelitian ini diharapkan bisa dijadikan motivasi dan pedoman
pola asuh orang tua terhadap kehidupan anaknya.
23
Penelitian ini bisa menjadi bahan kajian bagi lembaga
pendidikan dan juga swadaya masyarakat untuk memahami dan
peduli terhadap masalah dampak negatif akibat adanya
prokrastinasi akademik.

5
BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Teori
12
1.1. Pengertian Prokrastinasi Akademik

Istilah prokrastinasi berasal dari bahasa Latin “procrastination” dengan


awalan pro yang berarti mendorong maju atau bergerak maju dan akhiran crastinus
Yang berarti keputusan hari esok atau jika digabungkan menjadi menangguhkan
atau menunda sampai hari berikutnya. Prokrastinasi Akademik Seseorang yang
mempunyai kesulitan untuk melakukan sesuatu, sesuai batas waktu yang telah
ditentukan, sering mengalami keterlambatan, mempersiapkan sesuatu dengan
berlebihan, maupun gagal dalam menyelesaikan tugas sesuai batas waktu yang telah
ditentukan, dikatakan sebagai seorang yang melakukan prokrastinasi. Prokrastinasi
9
dapat dikatakan sebagai salah satu perilaku yang tidak efisien dalam menggunakan
waktu, dan adanya kecenderungan untuk tidak segera memulai suatu kerja ketika
menghadapi suatu tugas. Pada akhirnya, penundaan atau penghindaran tugas yang
kemudian disebut prokrastinasi tidak selalu diartikan sama dalam perspektif budaya
dan bahasa manusia.

Misalnya pada bangsa Mesir kuno mengartikan prokrastinasi dengan dua


arti, yaitu menunjukkan suatu kebiasaan yang berguna untuk menghindari kerja
yang penting dan usaha yang impulsif, juga menunjukkan suatu arti kebiasaan yang
berbahaya akibat kemalasan dalam menyelesaikan suatu tugas yang penting untuk
nafkah hidup, seperti mengerjakan ladang ketika waktu menanam sudah tiba. Jadi
pada abad lalu prokrastinasi bermakna positif bila penunda sebagai upaya
konstruktif untuk menghindari keputusan impulsif dan tanpa pemikiran yang
matang, dan bermakna negatif bila dilakukan karena malas atau tanpa tujuan yang
1
pasti. Prokrastinasi dapat dipandang dari berbagai segi, karena prokrastinasi ini
melibatkan berbagai unsur masalah yang komplek, yang saling terkait satu dengan
lainnya. Prokrastinasi tidak hanya suatu penundaan atau kecenderungan
menundanunda suatu kerja. Namun prokrastinasi juga bisa dikatakan penghindaran

6
tugas, yang diakibatkan perasaan yang tidak senang terhadap tugas dan ketakutan
untuk gagal dalam mengerjakan tugas. Prokrastinasi juga bisa sebagai suatu trait
atau kebiasaan seseorang terhadap respon dalam mengerjakan tugas.

6
Sumber gambar : Instagram.com/ https://www.instagram.com/get.kalm.id/
1
Ferrari dkk, (Ghufron, 2003: 17) menyimpulkan bahwa pengertian
prokrastinasi dapat dipandang dari berbagai batasan tertentu, yaitu:

(1) prokrastinasi hanya sebagai perilaku penundaan, yaitu bahwa setiap perbuatan
untuk menunda dalam mengerjakan suatu tugas disebut sebagai prokrastinasi, tanpa
mempermasalahkan tujuan serta alasan penundaan yang dilakukan.

(2) prokrastinasi sebagai suatu kebiasaan atau pola perilaku yang dimiliki individu,
yang mengarah kepada trait, penundaan yang dilakukan sudah merupakan respon
tetap yang selalu dilakukan seseorang dalam menghadapi tugas, biasanya disertai
oleh adanya keyakinan-keyakinan yang irrasional.

(3) prokrastinasi sebagai suatu trait kepribadian, dalam pengertian ini prokrastinasi
tidak hanya sebuah perilaku penundaan saja, akan tetapi prokrastinasi merupakan
suatu trait yang melibatkan komponen-komponen perilaku maupun struktur mental
lain yang saling terkait yang dapat diketahui secara langsung maupun tidak
langsung.

7
11
Sedangkan Millgram mengatakan bahwa prokrastinasi adalah suatu
perilaku spesifik, yang meliputi :

(1) suatu perilaku yang melibatkan unsur penundaan, baik untuk memulai maupun
menyelesaikan suatu tugas atau aktivitas.

(2) menghasilkan akibat-akibat lain yang lebih jauh, misalnya keterlambatan


menyelesaikan tugas maupun kegagalan dalam mengerjakan tugas.

(3) melibatkan suatu tugas yang dipersepsikan oleh pelaku prokrastinasi sebagai
suatu tugas yang penting untuk dikerjakan, misalnya tugas kantor, tugas sekolah,
maupun tugas rumah tangga.

(4) menghasilkan keadaan emosional yang tidak menyenangkan, misalnya perasaan


cemas, perasaan bersalah, marah, panik, dan sebagainya.
1
Dari berbagai pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian
prokastinasi akademik dapat didefinisikan sebagai suatu penundaan yang dilakukan
secara sengaja dan berulang-ulang pada area akademik, dengan melakukan aktivitas
lain yang tidak diperlukan dalam pengerjaan tugas akademik yang pada akhirnya
1
dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman pada pelakunya. prokrastinasi memiliki
etiologi yang dijelaskan dalam tiga faktor, yaitu:

a. Takut gagal (fear of failure). Takut gagal atau motif menolak kegagalan adalah
suatu kecenderungan mengalamai rasa bersalah apabila tidak dapat mencapai tujuan
atau gagal.

b. Tidak menyukai tugas (aversive of the task). Berhubungan dengan perasaan


negatif terhadap tugas atau pekerjaan yang dihadapi. Perasaan dibebani tugas yang
terlalu berlebihan, ketidakpuasan, dan tidak senang menjalankan tugas yang
diberikan.

c. Faktor lain. Beberapa faktor lainnya yang dikelompokkan disini antara lain; sifat
ketergantungan pada orang lain yang tidak kuat dan banyak membutuhkan bantuan,

8
pengambilan resiko yang berlebihan, sikap kurang tegas, sikap memberontak, dan
kesukaran membuat keputusan.
5
Defenisi Prokrastinasi Akademik menurut Steel (2007) mengatakan bahwa
prokrastinasi adalah menunda dengan sengaja kegiatan yang diinginkan walaupun
individu mengetahui bahwa perilaku penundaanya tersebut dapat menghasilkan
dampak buruk. Steel (2010) juga pernah mengatakan bahwa prokrastinasi adalah
suatu penundaan yang sengaja dilakukan oleh individu terhadap tugas/pekerjaannya
meskipun ia tahu bahwa hal ini akan berdampak buruk pada masa depan. Noran
(dalam Akinsola, Tella dan Tella 2007) mendefinisikan prokrastinasi sebagai
bentuk penghindaran dalam mengerjakan tugas yang seharusnya diselesaikan oleh
siswa. Siswa yang melakukan prokrastinasi lebih memilih menghabiskan waktu
dengan teman atau pekerjaan lainnya yang sebenarnya tidak begitu penting
daripada mengerjakan tugas yang harus diselesaikan dengan cepat. Selain itu, siswa
yang melakukan prokrastinasi juga lebih memilih menonton film atau televisi dari
pada belajar untuk kuis atau ujian.

Silver (dalam Ghufron 2003) mengatakan seseorang yang melakukan


prokrastinasi tidak bermaksud untuk menghindari atau tidak mau tahu dengan tugas
yang dihadapi. Akan tetapi mereka hanya menunda-nunda untuk mengerjakannya,
sehingga menyita waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas. Penundaan
tersebut menyebabkan dia gagal menyelesaikan tugasnya tepat waktu. Menurut
Ferrari (dalam Ghufron 2003) prokrastinasi akademik adalah jenis penundaan yang
dilakukan pada jenis tugas formal yang berhubungan dengan tugas akademik,
misalnya tugas sekolah atau tugas kursus. Rothblum, Solomon dan Murakami
(dalam Kurniawan, 2013) mendefinisikan prokrastinasi akademik sebagai
kecenderungan untuk

(a) selalu atau hampir selalu menunda tugas akademik,

(b) selalu atau hampir selalu mengalami kecemasan bermasalah terkait dengan
penundaan ini.

9
Berdasarkan pendapat yang diungkapkan oleh beberapa ahli diatas, maka
dapat disimpulkan bahwa prokrastinasi akademik adalah perilaku penundaan pada
tugas akademik yang dilakukan oleh siswa secara sadar dengan melakukan aktivitas
lain yang menyenangkan dan tidak penting, tidak bertujuan, dan tidak
memperhatikan waktu sehingga menimbulkan akibat negatif atau kerugian pada
siswa.
1
Selain itu, oleh bagian konseling Cambridge Universty penyebab individu
melakukan prokrastinasi antara lain karena:

1. Manajemen waktu. Manajemen waktu yang buruk sering diasosiasikan


dengan ketidak mampuan memperkirakan waktu yang tersedia
2. Ketidakmampuan dalam menentukan prioritas
3. Terlalu banyak tugas yang harus diselesaikan dalam waktu tertentu
4. Kecemasan dalam tugas, sehingga hal ini membuat banyak waktu
dihabiskan untuk memikirkan tentang yang dicemaskan dibandingkan
mengerjakan
5. Kesulitan konsentrasi
6. Tidak tahu apa yang dibutuhkan
7. Merasa terlalu ditekan oleh tugas-tugas
8. Terlalu memikirkan tentang kegagalan atau tidak mampu mencapai standar
yang diharapkan
9. Ketakutan untuk sukses dan segala konsekuensi yang akan diterima
10. Perfeksionis, sering diasosiasikan dengan standar yang tidak realistik
11. Perasaan yang negatif, seperti “saya bodoh” , “ semua tidak akan berjalan
dengan baik untukku”
12. Menjadi bosan terhadap tugas yang dikerjakan
13. Tidak pernah belajar tentang bagaimana mengerjakan atau memecahkan
masalah-masalah ketika berada di sekolah atau di rumah
14. Penolakan terhadap sesuatu yang tidak disukai atau yang dianggap sulit

1.2. Jenis-jenis Prokrastinasi Akademik

10
Ferrari (Rizvi dkk., 1997) membagi prokrastinasi menjadi dua:

a. Functional procrastination, yaitu penundaan mengerjakan tugas yang bertujuan


untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap dan akurat.

b. Disfunctional procrastination yaitu penundaan yang tidak bertujuan, berakibat


jelek dan menimbulkan masalah. Ada dua bentuk prokrastinasi yang disfunctional
berdasarkan tujuan mereka melakukan penundaan, yaitu decisional procrastination
dan avoidance procrastination.

Avoidance procrastination atau Behavioral procrastination adalah suatu


1
penundaan dalam perilaku tampak. Penundaan dilakukan sebagai suatu cara untuk
menghindari tugas yang dirasa tidak menyenangkan dan sulit untuk dilakukan.
Prokrastinasi dilakukan untuk menghindari kegagalan dalam menyelesaikan
pekerjaan yang akan datang. Avoidance procrastination berhubungan dengan tipe
self presentation, keinginan untuk menjauhkan diri dari tugas yang menantang, dan
implusiveness (Ghufron, 2003:19).
7
Prokrastinasi akademik dan non-akademik sering menjadi istilah yang
digunakan oleh para ahli untuk membagi jenis-jenis tugas di atas. Prokrastinasi
akademik adalah jenis penundaan yang dilakukan pada jenis tugas formal yang
berhubungan dengan tugas akdemik, misalnya tugas sekolah atau tugas kursus .
Prokrastinasi nonakademik adalah penundaan yang dilakukan pada jenis tugas non-
formal atau tugas yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, misalnya tugas
rumah tangga, tugas sosial, tugas kantor dan lain sebagainya.

Adapun Solomon dan Rothblum menyebutkan enam area akademik untuk


melihat jenis-jenis tugas yang sering diprokrastinasi oleh pelajar, yaitu : tugas
mengarang, belajar menghadapi ujian, membaca, kinerja administratif, menghadiri
pertemuan, dan kinerja akademik secara keseluruhan. Tugas mengarang meliputi
penundaan melaksanakan kewajiban atau tugas-tugas menulis, misalnya menulis
makalah, laporan, atau tugas mengarang lainnya. Tugas belajar menghadapi ujian
mencakup penundaan belajar untuk menghadapi ujian misalnya ujian tengah
semester, akhir semester, atau ulangan mingguan. Tugas membaca meliputi adanya

11
penundaan untuk membaca buku atau referensi yang berkaitan dengan tugas
akedemik yang diwajibkan. Kinerja tugas administratif, seperti menyalin catatan,
mendaftarkan diri dalam presensi kehadiran, daftar peserta praktikum dan
sebagainya. Menghadiri pertemuan, yaitu penundaan maupun keterlambatan dalam
menghadiri pelajaran, praktikum dan pertemuan-pertemuan lainnya. Dan keenam
adalah penundaan dalam kinerja akademik secara keseluruhan yaitu menunda
mengerjakan atau menyelesaikan tugas-tugas akademik secara keseluruhan
6
Tipe Prokrastinator

Sumber gambar: slideplayer.info


https://images.app.goo.gl/aWmDhNpgSveqciWT9

Menurut Linda Sapadin dan Jack Maguire dalam buku It’s About Time! ada
enam tipe prokrastinator, yaitu:

1. The Perfectionist. Tipe ini memiliki rasa khawatir tidak bisa mencapai
ekspektasinya yang tinggi.

2. The Dreamer. Tipe ini memiliki banyak rencana atau impian tetapi hanya
melakukan sedikit hal untuk mewujudkannya.

12
3. The Worrier. Orang yang memiliki tipe ini lebih cenderung untuk
menghindarinya karena merasa tidak mampu mengerjakannya dan takut gagal.

4. The Crisis-Maker. Nah, tipe ini merupakan orang yang termotivasi atau merasa
tertantang untuk mengerjakan di menit-menit akhir.

5. The Defier. Pada tipe ini seseorang akan melakukan penentangan karena merasa
seharusnya bukan dirinya yang mengerjakan hal tersebut. Namun, pada akhirnya
tetap dikerjakan juga.

6. The Over-Doer. Pada tipe terakhir ini mereka mengerjakan semuanya melebihi
kapasitasnya karena ia tidak bisa mengatakan “tidak”.

1
1.3. Ciri-ciri Prokrastinasi Akademik

Ferrari, dkk mengatakan bahwa sebagai suatu perilaku penundaan, prokrastinasi


akademik dapat termanifestasikan dalam indikator tertentu yang dapat diukur dan
diamati ciri-ciri tertentu berupa:

a. Penundaan untuk memulai maupun menyelesaikan kerja pada tugas yang


dihadapi. Seseorang yang melakukan prokrastinasi tahu bahwa tugas yang
dihadapinya harus segera diselesaikan dan berguna bagi dirinya, akan tetapi dia
menunda-nunda untuk mulai mengerjakannya.

b. Keterlambatan dalam mengerjakan tugas akademik. Orang yang melakukan


prokrastinasi memerlukan waktu yang lebih lama daripada waktu yang dibutuhkan
pada umumnya dalam mengerjakan suatu tugas. Seorang prokratinator
menghabiskan waktu yang dimilikinya untuk mempersiapkan diri secara
berlebihan, maupun melakukan hal-hal yang tidak dibutuhkan dalam penyelesaian
suatu tugas, tanpa memperhitungkan keterbatasan waktu yang dimilikinya.
Kadang-kadang tindakan tersebut mengakibatkan seseorang tidak berhasil
menyelesaikan tugasnya secara memadai. Kelambanan, dalam arti lambannya kerja
seseorang dalam melakukan suatu tugas dapat menjadi ciri yang utama dalam
prokrastinasi akademik.

13
c. Kesenjangan waktu antara rencana dan kinerja aktual. Seorang prokarstinator
mempunyai kesulitan untuk melakukan sesuatu sesuai dengan batas waktu yang
telah ditentukan sebelumnya. Seorang prokarstinator sering mengalami
keterlambatan dalam memenuhi deadline yang telah ditentukan, baik oleh orang
lain maupun rencanarencana yang telah dia tentukan sendiri. Seseorang mungkin
telah merencanakan untuk mulai mengerjakan tugas pada waktu yang telah ia
tentukan sendiri. Seseorang mungkin telah merencanakan untuk mulai mengerjakan
tugas pada waktu yang telah ia tentukan sendiri, akan tetapi ketika saatnya tiba dia
tidak juga melakukannya sesuai dengan apa yang telah direncanakan, sehingga
menyebabkan keterlambatan maupun kegagalan untuk menyelesaikan tugas secara
memadai.

d. Melakukan aktivitas lain yang lebih menyenangkan daripada melakukan tugas


yang harus dikerjakan. Seorang prokrastinator dengan sengaja tidak segera
melakukan tugasnya, akan tetapi menggunakan waktu yang dia miliki untuk
melakukan aktivitas lain yang dipandang lebih menyenangkan dan mendatangkan
hiburan, seperti membaca (koran, majalah, atau buku cerita lainnya), nonton,
ngobrol, jalan, mendengarkan musik, dan sebagainya, sehingga menyita waktu
yang dia miliki untuk mengerjakan tugas yang harus diselesaikannya. Jadi dapat
disimpulkan bahwa ciri-ciri prokrastinasi akademik adalah penundaan untuk
memulai maupun menyelesaikan kerja pada tugas yang dihadapi, keterlambatan
dalam mengerjakan tugas akademik, kesenjangan waktu antara rencana dan kinerja
aktual dan melakukan aktivitas lain yang lebih menyenangkan daripada melakukan
tugas yang harus dikerjakan.

1.4. Teori Perkembangan Prokratinasi Akademik

a. Psikodinamik

Ferrari dkk. mengatakan, penganut psikodinamik beranggapan bahwa


pengalaman masa kanak-kanak akan mempengaruhi perkembangan proses kognitif
seseorang ketika dewasa, terutama trauma. Seseorang yang pernah mengalami
trauma akan suatu tugas tertentu, misalnya gagal menyelesaikan tugas sekolahnya,

14
akan cenderung melakukan prokrastinasi ketika seseorang tersebut dihadapkan lagi
pada suatu tugas yang sama. Seseorang tersebut akan teringat kepada pengalaman
kegagalan maupun perasaan tidak menyenangkan yang pernah dialami seperti masa
lalu, sehingga seseorang menunda mengerjakan tugas sekolah, yang
dipersepsikannya akan mendatangkan perasaan seperti masa lalu (Ghufron, 2003:
24).

b. Behavioristik

Bijou, dkk. mengatakan, penganut psikologi behavioristik beranggapan


bahwa perilaku prokrastinasi akademik muncul akibat proses pembelajaran.
Seseorang melakukan prokrastinasi akademik karena dia pernah mendapatkan
punishment atas perilaku tersebut. Seorang yang pernah merasakan sukses dalam
melakukan tugas sekolah dengan melakukan penundaan, cenderung akan
mengulangi lagi perbuatannya. Sukses yang pernah dia rasakan akan dijadikan
reward untuk mengulangi perilaku yang sama dimasa yang akan datang. Adanya
obyek lain yang memberikan reward lebih menyenangkan daripada obyek yang
diprokrastinasi, menurut McCown dan Johnson dapat memunculkan perilaku
prokrastinasi akademik. Seseorang yang memandang bermain video game lebih
menyenangkan daripada mengerjakan tugas sekolah, mengakibatkan tugas sekolah
lebih sering diprokrastinasi daripada bermain video game.

Di samping reward yang diperoleh, prokrastinasi akademik juga cenderung


dilakukan pada jenis tugas sekolah yang mempunyai punishment atau konsekuensi
dalam jangka waktu yang lebih lama daripada tugas yang tidak ditunda oleh karena
punishment yang akan dihadapi kurang begitu kuat untuk menghentikan perilaku
prokrastinasi, misalnya ketika seseorang disuruh memilih untuk menunda belajar
ujian semester atau menunda untuk mengerjakan pekerjaan rumah mingguan, maka
kecenderungan untuk menunda belajar untuk ujian semester lebih besar daripada
menunda mengerjakan pekerjaan rumah minggguan, karena resiko nyata yang
dihadapi lebih pendek mengerjakan pekerjaan rumah daripada belajar untuk ujian.
Perilaku prokrastinasi akademik juga bisa muncul pada kondisi lingkungan tertentu.

15
Kondisi yang menimbulkan stimulus tertentu bisa menjadi reinforcement bagi
munculnya perilaku prokrastinasi. Kondisi yang lenient atau rendah dalam
pengawasan akan mendorong seseorang untuk melakukan prokrastinasi akademik,
karena tidak adanya pengawasan akan mendorong seseorang untuk berperilaku
tidak tepat waktu.

c. Kognitif dan behavioral-cognitif

Ellis dan Knaus memberikan penjelasan tentang prokrastinasi akademik


dari sudut pandang cognitive-behavioral. Prokrastinasi akademik terjadi karena
adanya keyakinan irrasional yang dimiliki oleh seseorang. Keyakinan irrasional
tersebut dapat disebabkan oleh suatu kesalahan dalam mempersepsikan tugas
sekolah, seseorang memandang tugas sebagai sesuatu yang berat dan tidak
menyenangkan (aversiveness of the task dan fear of failure). Oleh karena itu
seseorang merasa tidak mampu untuk menyelesaikan tugasnya secara memadai,
sehingga seseorang menunda-nunda dalam menyelesaikan tugas tersebut. Fear of
the failure adalah ketakutan yang berlebihan untuk gagal, seseorang menunda-
nunda mengerjakan tugas sekolahnya karena takut jika gagal menyelesaikannya
sehingga akan mendatangkan penilaian yang negatif akan kemampuannya.
Akibatnya seseorang menunda-nunda untuk mengerjakan tugas yang dihadapinya.

Ferrari mengatakan bahwa seseorang melakukan prokrastinasi akademik


untuk menghindari informasi diagnostik akan kemampuannya. Prokrastinasi
tersebut dilakukan karena seseorang tidak mau dikatakan mempunyai kemampuan
yang rendah atau kurang dengan hasil kerjanya. Seseorang yang melakukan
penundaan akan merasa bahwa bila mengalami kegagalan atau hasilnya tidak
memuaskan, itu bukan karena rendahnya kemampuan, akan tetapi karena
ketidaksungguhannya dalam mengerjakan tugas yang dihadapi, yaitu dengan
menunda-nunda.

1.5. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Prokrastinasi Akademik

Faktor-faktor yang mempengaruhi prokrastinasi akademik dapat


dikategorikan menjadi dua macam, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

16
a. Faktor internal, yaitu faktor-faktor yang terdapat dalam diri individu yang
mempengaruhi prokrastinasi. Faktor-faktor itu meliputi kondisi fisik dan kondisi
psikologis dari individu, yaitu:

1) Kondisi fisik individu.

Menurut Ferrari, faktor dari dalam diri individu yang turut mempengaruhi
munculnya prokrastinasi akademik adalah berupa keadaan fisik dan kondisi
kesehatan individu misalnya fatigue. Seseorang yang mengalami fatigue akan
memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk melakukan prokrastinasi daripada
yang tidak. Tingkat intelegensi yang dimiliki seseorang tidak mempengaruhi
perilaku prokrastinasi, walaupun prokrastinasi sering disebabkan oleh adanya
keyakinan-keyakinan yang irrasional yang dimiliki seseorang).

2) Kondisi psikologis individu


4
Menurut Millgram, dkk. Trait kepribadian individu yang turut
mempengaruhi munculnya perilaku penundaan, misalnya trait kemampuan sosial
yang tercermin dalam self regulation dan tingkat kecemasan dalam berhubungan.
Besarnya motivasi yang dimiliki seseorang juga akan mempengaruhi prokrastinasi
secara negatif, di mana semakin tinggi motivasi instrik yang dimiliki individu
ketika menghadapi tugas, akan semakin rendah kecenderungannya untuk
prokrastinasi akademik. Berbagai hasil penelitian juga menemukan aspek-aspek
lain pada diri individu yang turut mempengaruhi seseorang untuk mempunyai suatu
kecenderungan perilaku prokrastinasi, antara lain; rendahnya kontrol diri

b. Faktor eksternal, yaitu faktor-faktor yang terdapat di luar diri individu yang
mempengaruhi prokrastinasi. Faktor-faktor itu antara lain berupa pengasuhan orang
tua dan lingkungan yang kondusif, yaitu lingkungan yang lenient.

1) Gaya pengasuhan orangtua.

Hasil penelitian Ferrari dan Ollivete menemukan bahwa tingkat pengasuhan


otoriter ayah menyebabkan munculnya kecenderungan perilaku prokrastinasi yang
kronis pada subyek penelitian anak wanita, sedangkan tingkat pengasuhan otoritatif

17
ayah menghasilan anak wanita yang bukan prokrastinator. Ibu yang memiliki
kecenderungan melakukan avoidance procastination menghasilkan anak wanita
yang memiliki kecenderungan untuk melakukan avoidance procrastination pula.

2) Kondisi Lingkungan

Menurut Millgram, kondisi lingkungan yang lenient prokrastinasi akademik


lebih banyak dilakukan pada lingkungan yang rendah dalam pengawasan daripada
lingkungan yang penuh pengawasan (Rizvi, 1998). Tingkat atau level sekolah, juga
apakah sekolah terletak di desa ataupun di kota tidak mempengaruhi perilaku
prokrastinasi seseorang).

Berdasarkan keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa prokrastinasi


akademik dapat dipengaruhi oleh faktor internal, yaitu faktor yang ada dalam diri
individu dan faktor eksternal berupa faktor di luar diri individu. Faktor tersebut
dapat menjadi munculnya perilaku prokrastinasi maupun menjadi faktor kondusif
yang akan menjadi katalisator sehingga perilaku prokrastinasi akademik seseorang
semakin meningkat dengan adanya pengaruh faktor tersebut.

6
Sumber gambar: dictio.id https://images.app.goo.gl/hT7w1izhFaHw1aUB6

Ternyata ada beberapa cara untuk mengubah kebiasaan prokrastinasi yaitu:

18
1. Membuat to do list

Dengan membuat to do list harian lengkap beserta dengan jamnya, akan


menjadikan hari-hari kita lebih produktif. Dengan kecanggihan teknologi sekarang
ini, kita juga bisa membuat to do list melalui berbagai aplikasi lho teman-teman.

2. Membuat skala prioritas

Dengan membuat skala prioritas, kita bisa mengetahui mana yang prioritas atau
bukan. Sehingga kita bisa mendahulukan hal yang termasuk prioritas kita.

3.Tingkatkan motivasi

Ketika kita memiliki motivasi yang tinggi, kebiasaan prokrastinasi akan berkurang
sehingga kita tidak lagi menunda suatu pekerjaan atau tugas. Kita juga bisa
melakukan self reward ketika telah berhasil mengerjakan pekerjaan yang sulit.

19
13
BAB III

METEDOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Penelitian ini ialah penelitian eksperimen quasi. eksprimen quasi
2
ialah sebuah desain eksperimen yang memungkinkan peneliti
mengendalikan variabel sebanyak mungkin dari situasi yang ada, meski
peneliti tidak bisa mengandalikan variabel secara penuh namun peneliti
dapat memperhitungkan mana saja variabel yang tidak dapat di kendalikan.
tujuan dari eksperimen ini ialah untuk menengetahui sebab akibat dari suatu
perlakuan dimana penelitian ini melibatkan kelompok kontrol dan
kelompok eksperimen.
10
B. Identifikasi Variabel Penelitian
Sugiyono menyatakan bahwa, Variabel penelitian adalah atribut dari
sekelompok objek yang diteliti yang memiliki variasi antara satu dengan
yang lain dalam kelompok terebut (Husein, 2001). Dalam penelitian ini,
peneliti menggunakan 3 macam variabel, yaitu :
1. Variabel Terikat
Variabel yang tergantung pada variabel lain disebut variabel terikat.
10
Variabel terikat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Perilaku
PROKRASTINASI AKADEMIK.
2. Variabel Bebas
Variabel yang tidak tergantug dengan variabel lainnya disebut
variabel bebas. Variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Pengaruh sistem pembelajaran TEAM ASSISTED
INDIVIDUALIZATION.
20
3. Variabel kontrol
Variabel yang dibuat sama dalam suatu penelitian, biasanya faktor
lain diluar perlakuan yang dikenakan pada objek penelitian. Variabel

20
kontrol dalam penelitian ini adalah Mahasiswa prodi psikologi islam UIN
khas jember angkatan 2021.

10
C. Definisi Operasional
Definisi operasional variabel penelitian ialah uraian dari variabel-
variabel yang digunakan didalam penelitian ini berdasarkan indikator-
indikatornya, meliputi :
1) Prokrastinasi akademik
Prokrastinasi akademik dipahami sebagai perilaku yang maladaptif
pada pelajar. penundaan akadmik yang terjadi sering kali menghambat
kepada keberhasilan belajar seseorang. terapi konseling implementasi dapat
membantu mengurangi perilaku maladaktif tersebut.
2
Burka & Yuen (dalam Wyk, 2004:9) mendefinisikan prokrastinasi
adalah “To defer action, delay; to put of till another day or time”.
Prokrastinasi merupakan kebiasaan tindakan dalam menunda tugas sampai
hari lain.1
2) Pelatihan Regulasi Diri
3
Regulasi diri merupakan usaha individu untuk mengatur diri dengan
menggunakan kemampuannya secara aktif dalam kegiatan belajar. Regulasi
diri yang juga disebut self- regulated learning (SRL) merupakan suatu strategi
belajar dengan cara menjaga motivasi, meregulasi metakognisi, dan
menggunakan strategi belajar baik stategi kognitif, maupun strategi
pengelolaan lingkungan serta sumber daya.
Dengan kata lain, regulasi diri digunakan untuk menggambarkan suatu
proses pembelajaran yang ditandai oleh metakognisi atau serangkaian perilaku
yang terarah meliputi perencanaan, pengawasan, evaluasi dan penguatan hasil
belajar (Bandura, 2007; Zimmerman, 1989).
Aspek-aspek dari regulasi diri adalah (1) self-motivation (goal setting

2
1 Wyk, Van Liesel. 2004. The Relationship Between Procrastination and Stress in The Life of The High School Teacher.
Universty of pretoria.

21
3
and self-efficacy), (2) using learning strategies (task strategies), (3) effort
regulation (time-management), (4) self- monitoring comprehension, (5) using
environment successfully (choosing optimal physical locations), (6) selective
help-seeking.
Secara umum, regulasi diri melibatan proses kognitif meliputi
perencanaan, pengawasan, penilain, dan penguatan (Bandura,1997).
a. Perencanaan / Planning
Proses menetapkan suatu tujuan yang hendak dicapai. Dalam proses ini
juga mengembangkan strategi, mengidentifikasi tantangan/kesulitan yang akan
dihadapi. Penetapan strategi dapt dilakukan dengan melakukan analisis
terhadap tugas, mencermati dan menentukan sumber-sumber yang dapat
dipergunakan untuk membantu mencapai tujuan, serta menentukan target atau
hasil akhir yang diinginkan.
b. Pengawasan / Monitoring
Pengawasan atau pemantauan ini melibatkan kemampuan untuk
melakukan pengamatan dan mengukur kemajuan yang telah dicapi. Hal
tersebut dimaksudkan agar individu yang bersangkutan dapat mengidentifikasi
hal-hal apa saja yang masih membutuhkan perbaikan dan upaya perubahan
demi mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
c. Penilaian / Evaluating
Merupakan proses pengaturan diri yang menyangkut penilaian terhadap
hasil kinerja yangtelah dilakukan. Seberapa besar pencapaiannya, efektivitas
kinerja dan tepat tidaknya penerapan strateginya. Bila diperlukan perubahan
strategi, maka pada tahap inilah saatnya mengubah strategi regulasi diri.
d. Penguatan / Reinforcing
Penguatan biasanya dilakukan dengan cara merefleksikan dan
mengenali keberhasilan, termasuk penghargaan yang layak untuk didapatkan.
Kesuksesan yang dicapai melalui strategi- strategi tertentu dalam regulasi diri
perlu mendapat reinforcement (reward).
Proses kognitif inilah yang akan menjadi salah satu dasar penyusunan
model pembelajaran regulasi diri dalam kajian penelitian ini. Bandura (dalam

22
Zimmerman, 1989) menekankan pentingnya strategi self-regulated learning
untuk meningkatkan prestasi akademis. Tujuan dari tiap-tiap strategi tersebut
adalah untuk meningkatkan pengaturan diri dari (a) fungsi-fungsi personal
mereka, (b) performansi behavioral akademis, dan (c) lingkungan belajar.
Sebagai contoh, strategi organizing dan transforming, rehearsing dan
memorizing, dan goal setting dan planing memfokuskan pada
pengoptimalisasian pengaturan personal.
Strategi seperti evaluasi diri dan self-consequences di desain untuk
meningkatkan fungsi-fungsi behavioral. Strategi penstrukturan lingkungan,
mencari informasi, mereview, dan mencari bantuan dimaksudkan untuk
mengoptimalisasikanlingkungan belajar seseorang.

17
D. Subjek Penelitian
Subjek Penelitian adalah sampel dari populasi yang dianggap
mewakili atau mempunyai karakteristik yang mencerminkan populasi
asalnya (Supratiknya, 2014). Subjek penelitian dalam eksperimen ini adalah
mahasiswa psikologi islam UIN khas jember angkatan 2020. Subjek
penelitian dipilih atas dasar keterjangkauan. Jumlah subjek dalam penelitian
berjumlah 12 orang yang diambil dengan cara purposive sampling dengan
memilih anak remaja.

E. Desain Penelitian
Penelitian ini memakai Quasi Eksperimen Desain yang mana
21
penelitian tersebut merupakan pengembangan dari true experimental
design, yang mempunyai kelompok kontrol namun tidak dapat berfungsi
sepenuhnya untuk mengontrol variabel—variabel dari luar yang
mempengaruhi pelaksanaan eksperimen. Desain eksperimen quasi di pilih
17
untuk menguji efektifitas dari jenis intervensi tertentu dalam setting natural
14
(Solso, 2008), selain itu penggunaan metode penelitian kuasi
eksperimen ini didasarkan atas pertimbangan agar dalam pelaksanaan
penelitian, pembelajaran berlangsung secara alami, dan subyek tidak merasa

23
dieksperimenkan, sehingga dengan situasi yang demikian diharapkan dapat
memberikan kontribusi terhadap tingkat kevalidan penelitian.
15
Dapat di simpulkan bahwa quasi experimental design adalah jenis
desain penelitian yang memiliki kelompok kontrol dan kelompok
eksperimen tidak dipilih secara random. Peneliti menggunakan desain quasi
experimental design karena dalam penelitian ini terdapat variabel-varibel
dari luar yang tidak dapat dikontrol oleh peneliti.

F. Prosedur Penelitian
Prosedur eksperimen ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai
berikut :
13
a) Tahap Perencanaan dan Persiapan
Pada tahap awal yang dilakukan peneliti adalah
mempersiapkan penelitian dengan membaca buku-buku, artikel-
artikel dan tulisan-tulisan lainnya yang berkaitan langsung maupun
tidak langsung dengan “PELATIHAN REGULASI DIRI UNTUK
MENGURANGI PROKRASTINASI AKADEMIK PADA
MAHASISWA PSIKOLOGI ISLAM UIN KHAS JEMBER.”
13
Kemudian peneliti membuat desain penelitian, instrumen data dan
penyajian instrumen terlebih dahulu sebelum terjun kelapangan,
kemudian mempersiapkan hal-hal yang bersifat teknik.

b) Tahap Pelaksanaan
Penelitian ini dimulai dengan melakukan pengukuran tingkat
prokrastinasi akademik kepada sampel dengan menggunakan skala
prokrastinasi akademik, setelah data didapatkan maka langkah
selanjutnya ialah melakukan skoring awal dimana kemudian
dilanjutkan dengan eksperimen kepada kelompok eksperimen
berupa pemberian perlakuan " pelatihan regulasi diri " dimana

24
perlakuan ini diberikan dalam jangka waktu 1x 60 menit. Sesudah
itu peneliti memberikan waktu 2-3 hari kepada sampel untuk
kemudia dilakukan pengukuran lagi dengan sekala dilanjutkan
24
dengan skoring untuk mengetahui apakah ada perbedaan tingkat
prokrastinasi akademik sesudah kelompok eksperimen diberikan
perlakuan berupa pelatihan regulasi diri.

c) Tahap Pembuktian Hasil Penelitian


Dari hasil penelitian yang dilakukan

27
Jadwal Pelaksanaan Uji Coba Skala Penelitian

Tempat Responden
Tanggal Keterangan
30 Mei GedungA1 12 Pemberian
2022 Fakultas Dakwah Skala I
Skoring
Pemberian
Eksperimen
Pemberian
Skala II
Skoring

25
DAFTAR PUSTAKA

Mccloskey, j.d. (2011). Finally, My Thesis on Academic Procrastination.


Thesis tidak diterbitkan. The University of Texas at Arlington.

Nugrasanti, Reni. (2006). Locus of Control dan Prokrastinasi Akademik


Mahasiswa; Jurnal Provitae 2 No 1, Mei 2006. Jakarta: Yayasan
Obor Indonesia.

Lidwina Florentiana Sindoro. “EFEKTIVITAS EXPRESSIVE WRITING


SEBAGAI REDUKTOR PSYCHOLOGICAL DISTRESS”. (2016).
Skripsi

Siti Muyana. “Prokrastinasi Akademik Dikalangan Mahasiswa Program


Studi Bimbingan dan Konseling”. (2018). Jurnal Bimbingan dan
Konseling 8 (1), 45 – 52.
Syaiful Indra, A. Muri Yusuf, Jamaris Jamna. “EFEKTIVITAS TEAM
ASSISTED INDIVIDUALIZATION UNTUK MENGURANGI
PROKRASTINASI AKADEMIK”. Jurnal Edukasi Vol 1, Nomor 2.
(2015).
Wyk, Van Liesel. “THE RELATIONSHIP BETWEEN
PROCRASTINATION AND STRESS IN THE LIFE OF THE HIGH
SCHOOL TEACHER. UNIVERSTY OF PRETORIA”. (2004).
Siswanto, et al (2013). “PENERAPAN PEMBELAJARAN KOPERATIF
TIPE TAI (TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION) UNTUK
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PADA MATA PELAJARAN
MEMELIHARA SISTEM BAHAN BAKAR BENSIN SISWA KELAS
XI SMK NEGERI 3 BOYOLANGU”, SURABAYA: TIDAK
DITERBITKAN.

Huda. (2014). Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta:


Pustaka Pelajar.

https://repository.uir.ac.id/3578/5/BAB%20II.pdf

26
Similarity Report

84% Overall Similarity


Top sources found in the following databases:
84% Internet database 27% Publications database
Crossref database Crossref Posted Content database
49% Submitted Works database

TOP SOURCES
The sources with the highest number of matches within the submission. Overlapping sources will not be
displayed.

eprints.umg.ac.id
1 29%
Internet

jurnal.ar-raniry.ac.id
2 10%
Internet

scribd.com
3 7%
Internet

core.ac.uk
4 7%
Internet

repository.uin-suska.ac.id
5 5%
Internet

retizen.republika.co.id
6 5%
Internet

Surabaya University on 2012-02-16


7 4%
Submitted works

dspace.uii.ac.id
8 3%
Internet

Sources overview
Similarity Report

123dok.com
9 2%
Internet

eprints.ums.ac.id
10 2%
Internet

e-campus.iainbukittinggi.ac.id
11 2%
Internet

Unika Soegijapranata on 2015-07-02


12 1%
Submitted works

docplayer.info
13 1%
Internet

text-id.123dok.com
14 <1%
Internet

Repository.Unej.Ac.Id
15 <1%
Internet

Zainal Arifin, Awang Roni Effendi. "PENGEMBANGAN ASSESSMENT PE...


16 <1%
Crossref

docobook.com
17 <1%
Internet

onlyaratiara.blogspot.com
18 <1%
Internet

es.scribd.com
19 <1%
Internet

digilib.unila.ac.id
20 <1%
Internet

Sources overview
Similarity Report

repository.upstegal.ac.id
21 <1%
Internet

repository.radenintan.ac.id
22 <1%
Internet

Universitas Ibn Khaldun on 2021-06-19


23 <1%
Submitted works

Universitas Muhammadiyah Surakarta on 2015-10-09


24 <1%
Submitted works

nanopdf.com
25 <1%
Internet

repository.unj.ac.id
26 <1%
Internet

repository.usd.ac.id
27 <1%
Internet

coursehero.com
28 <1%
Internet

Sources overview

Anda mungkin juga menyukai