Anda di halaman 1dari 54

IMPLEMENTASI KELAYAKAN BISNIS RITEL

(STUDI PADA DALWA MART BANGIL PASURUAN)


Diajukan Kepada Fakultas Syariah Jurusan Ekonomi Syariah
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam Memperoleh
Gelar Sarjana Ekonomi Syariah (S.E) S1

Disusun Oleh:
Ahmad Berisi
NIM : 2015.85.14.0124

JURUSAN EKONOMI SYARIAH


FAKULTAS SYARIAH
INSTITUT DARULLUGHAH WADDA’WAH
BANGIL PASURUAN
2021

1
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Manusia, apabila ditinjau dari sisi sejarah, telah mengenal dan melakukan

kegiatan jual beli sejak mengenal peradaban sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan.

Keberadaan pasar merupakan tempat jual beli sedangkan tradisional dimaknai sikap

dan cara berpikir serta bertindak yang selalu berpegang kepada norma dan adat

kebiasaan yang ada secara turun temurun. Berdasarkan arti di atas, maka pasar

tradisional adalah tempat orang berjual beli yang berlangsung di suatu tempat

berdasarkan kebiasaan.

Pasar selama ini sudah menyatu dan memiliki tempat paling penting dalam

kehidupan masyarakat sehari-hari, bagi masyarakat pasar bukan hanya tempat

bertemunya antara penjual dan pembeli tetapi juga sebagai wadah untuk berinteraksi

sosial. Para ahli ekonomi mendiskripsikan sebuh pasar sebagai kumpulan penjual dan

pembeli yang melakukan transaksi atas suatu produk tertentu atau kelompok produk

tertentu.

Pasar mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Dari yang bersifat

tradisional menjadi modern. Perkembangan ini terjadi di kota-kota dunia. Keberadaan

pasar modern dewasa ini tidak dapat dibendung seiring dengan perubahan pemikiran

dan perilaku konsumsi masyarakat. 1

1
Sinaga, Dadjim dan Herlina J..Studi Kelayakan Investasi pada Proyek dan Bisnis Dalam
Perspektif Iklim Investasi Perekonomian Global.( Mitra Wacana Media 2013) hlm. 57

2
Secara umum masyarakat mengenal 2 jenis pasar, yaitu pasar tradisional dan

pasar modern. Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli

serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung dan biasanya

ada proses tawar-menawar, bangunan biasanya terdiri dari kios-kios atau gerai, los dan

dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar. Kebanyakan

menjual kebutuhan sehari-hari seperti bahan-bahan makanan berupa ikan, buah, sayur-

sayuran, telur, daging, kain, pakaian barang elektronik, jasa dan lain-lain.

Ritel modern pertama kali hadir di Indonesia saat Toserba Sarinah didirikan

pada tahun 1962. Pada era 1970 s/d 1980-an, format bisnis ini terus berkembang. Awal

dekade 1990-an merupakan tonggak sejarah masuknya ritel asing di Indonesia. Ini

ditandai dengan beroperasinya ritel terbesar Jepang “Sogo' di Indonesia. Ritel modern

kemudian berkembang begitu pesat, berdasarkan Kepres no. 99 th 1998, mengeluarkan

bisnis ritel dari negative list bagi Penanaman Modal Asing.

Ritel modern pada dasarnya merupakan pengembangan dari ritel tradisional.

Format ritel ini muncul dan berkembang seiring perkembangan perekonomian,

teknologi, dan gaya hidup masyarakat yang membuat masyarakat menuntut

kenyamanan yang lebih dalam berbelanja. Industri ritel, terus tumbuh pesat, bukan

hanya di Indonesia, melainkan juga di Asia. Era ritel modern menjelang Asean

Economic Community (AEC) 2023 diprediksi akan tumbuh lebih cepat. Hal itu

didukung oleh banyak perusahaan asing yang akan berinvestasi di Indonesia.2

Pengertian ritel itu sendiri adalah penjualan barang secara eceran pada berbagai

2
Kasmir dan Jakfar, Studi kelayakan Bisnis. Edisi Pertama, (Medan: USU Press. 2014) hlm.
198

3
tipe gerai seperti kios, pasar, department store, butik dan lain-lain (termasuk juga

penjualan dengan sistem delivery service), yang umumnya untuk dipergunakan

langsung oleh pembeli yang bersangkutan. Bisnis ritel di Indonesia dapat dibedakan

menjadi 2 kelompok besar, yakni Ritel Tradisional dan Ritel Modern. Ritel tradisonal

merupakan usaha ritel yang menekankan pada pengelolaan usaha dengan pendekatan

konvensional dan tradisional. Ritel modern merupakan usaha ritel yang menekankan

pengelolaanya secara modern.

Saat ini, jenis-jenis ritel modern di Indonesia sangat banyak meliputi Pasar

Modern, Pasar Swalayan, Department Store, Boutique, Factory Outlet, Specialty Store,

Trade Centre, Minimarket dan Mall/Supermall/Plaza. Sementara itu format format ritel

modern akan terus berkembang sesuai perkembangan perekonomian, teknologi, dan

gaya hidup masyarakat.

Selain itu, ada pula yang menjual kue-kue dan barang barang lainnya. Pasar

seperti ini masih banyak ditemukan di Indonesia, dan umumnya terletak dekat kawasan

perumahan agar memudahkan pembeli untuk mencapai pasar. Pasar modern adalah

pasar yang dikelola dengan manajemen modern, umumnya terdapat di kawasan

perkotaan, sebagai penyedia barang dan jasa dengan mutu dan pelayanan yang baik

kepada konsumen (umumnya anggota masyarakat kelas menengah ke atas). Pasar

modern antara lain mall, supermarket, departement store, shopping centre, waralaba,

toko mini swalayan, pasar serba ada, toko serba ada dan sebagainya.

Barang yang dijual disini memiliki variasi jenis yang beragam. Selain

menyediakan barang-barang lokal, pasar modern juga menyediakan barang impor.

Barang yang dijual mempunyai kualitas yang relative lebih terjamin karena melalui

4
penyeleksian terlebih dahulu secara ketat sehingga barang yang rijek/tidak memenuhi

persyaratan klasifikasi akan ditolak. Secara kuantitas, pasar modern umumnya

mempunyai persediaan barang di gudang yang terukur. Dari segi harga, pasar modern

memiliki label harga yang pasti (tercantum harga sebelum dan setelah dikenakan

pajak). Pasar modern juga memberikan pelayanan yang baik salah satunya

mengandalkan keramahan, kerapihan dan juga fasilitas seperti pendingin udara.

Pasar tradisional merupakan ciri pada negara berkembang. Tingkat pendapatan

dan perekonomian masyarakat kurang begitu tinggi. Hal ini menyebabkan masyarakat

lebih suka berbelanja ke pasar tradisional. Akan tetapi seiring dengan perkembangan

zaman, budaya masyarakat Indonesia sudah mulai bergeser. Kegiatan-kegiatan besar

dan lebih modern telah memasuki banyak perkotaan di Indonesia. Banyak investor

yang masuk ke Indonesia untuk membangun pasar-pasar modern yang menampung

kegiatan-kegiatan besar. Era globalisasi ini banyak bermunculan pasar-pasar modern.

Dibangun dengan segala kelebihan dan fasilitasnya serta kelengkapannya dalam

memperjual belikan barang barang kebutuhan masyarakat.3

Di tengah persaingan global di segala bidang, banyak pihak yang tidak mampu

bersaing dan terpuruk dari segi ekonomi dan kesejahteraaan. Peran pemerintah yang

tidak dapat memasuki semua golongan dapat memperburuk keadaan ini. Penghasilan

seseorang tidak lagi dapat mencukupi kebutuhan setiap orang dari segi ekonomi,

keadaan ekonomi yang kompleks ini menjadikan kita berlomba lomba dengan

menghindari kemiskinan yang dapat menimpa siapa saja dan kapan saja.

3
Sinaga, Dadjim dan Herlina J..Studi Kelayakan Investasi pada Proyek dan Bisnis Dalam
Perspektif Iklim Investasi Perekonomian Global.( Mitra Wacana Media 2013) hlm. 107

5
Ketidakpastian ekonomi yang membuat berbagai perusahaan tidak dapat bersaing dan

menghentikan usahanya dapat meningkatkan pengangguran di Indonesia, hal tersebut

dapat menyebabkan kesejahteraan masyarakat yang terus menurun.

Kesejahteraan hidup yang semakin berat ini di rasakan oleh semua kalangan

baik sektor formal maupun informal. Oleh karena itu kita sebagai individu haruslah

mempu berfikir kreatif dan inovatif untuk membaca peluang, sehingga kita dapat

meningkatkan kesejahteraan hidup. Kompetisi kita lakukan secara sadar maupun tidak,

hal tersebut terlihat dari pembentukan paradigma baru bahwa kita harus terus bergerak

dan tidak tinggal diam dengan berfikir kritis serta inovatif. Banyak perusahaan yang

pada awalnya terlihat baik namun tidak memberikan hasil yang menguntukan sebaik

tampilannya. Hal tersebut merupakan awal pergerakan perdagangan dan perekenomian

global dimana yang kreatif dan inovatiflah yang terus bertahan.4

Wirausaha atau entrepreneurship yang saat ini sedang berkembang di Indonesia

merupakan salah satu bentuk implementasi masyarakat untuk meningkatkan taraf

hidup kesejahteraannya. Wirausaha memiliki manfaat dari segi ekonomi dan bisnis

berperan sangat besar dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat baik secara langsung

maupun tidak. Maanfaat secara umum bagi negara, wirasusaha dapat mengatasi

permasalahan pengangguran di Indonesia. Jadi pada dasarnya wirausaha memiliki

banyak manfaat baik untuk personal, seperti kepuasan pribadi dan tujuan personal.

Maupun bagi negara dalam pemenuhan kebutuhan serta meningkatkan perekonomian

4
Maulana Syafi’ie, Bisnis Ritel Dalam Tinjauan Syariah (Jakarta, Buku Belaka, 2012), hlm.
34

6
nasional.

Agar dapat mencapai tingkat keuntungan dan manfaat yang optimal, seorang

wirausaha sebaiknya mengkaji bidang usaha yang akan di buat melalui sebuah studi

kelayakan bisnis. Hal tersebut di gunakan untuk meminimalkan resiko serta sebagai

dokumen investor. Studi tersebut juga di gunakan untuk membuat sebuah perencanaan

yang matang serta berorientasi pada laba dan kemampuan usaha bertahan di kompetisi

global.

Seiring dengan era globalisasi yang semakin pesat, maka pertumbuhan

ekonomi juga semakin meningkat. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya usaha

baru yang tumbuh di tengah masyarakat. Pasar modern asing telah berdiri Indonesia,

bukan saja di pusat perkotaan, tetapi juga di pedesaan sehingga mematikan pedagang

kecil dan pasar tradisional. Pasar Modern adalah pasar dengan sistem pelayanan

mandiri, menjual berbagai jenis barang secara eceran yang berbentuk Minimarket,

Supermarket, Department Store, Hypermarket ataupun grosir yang berbentuk

Perkulakan. . Semakin banyaknya pusat perdagangan lain seperti pasar ritel modern,

baik dalam bentuk minimarket, hypermart maupun mall yang pada gilirannya dapat

membuat pasar tradisional harus mampu bertahan dalam arus modernisasi.5

Saat ini keberadaan pasar modern tidak hanya ada di kota-kota besar tetapi

sekarang sudah banyak pasar-pasar modern dalam berbagai bentuk terutama dalam

bentuk minimarket dan supermarket yang kini sudah banyak berdiri di daerah daerah.

Di antaranya adalah mart yang dimiliki oleh Pesantren Darullughah Wadda’wah yang

5
Kasmir dan Jakfar, Studi kelayakan Bisnis. Edisi Pertama, (Medan: USU Press. 2014) hlm. 89

7
dikenal dengan Dalwa Mart. Dalwa Mart terletak di Jl. Raya Raci No. 51 Bangil

Pasuruan.

Dalwa Mart telah memberikan dampak yang positif terhadap daerah tersebut

karena dapat meningkatkan pendapatan daerah melalui pajak dan retribusi daerah dan

juga akan menyerap tenga kerja. Sehingga dengan begitu maka pengangguran di daerah

setempat akan berkurang serta memudahkan konsumen khususnya para santri untuk

berbelanja. Kehadiran Dalwa Mart membuat belanja menjadi suatu wisata santri yang

memberi pengalaman tersendiri. Bisnis ritel ini kini juga dikemas dalam tata ruang

yang apik, terang, lapang, sejuk dan tidak lagi disuguhi dengan suasana yang kotor,

panas, sumpek, dan becek.

Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti mengangkat judul skripsi yang

berjudul: “IMPLEMENTASI KELAYAKAN BISNIS RITEL (STUDI PADA

DALWA MART BANGIL PASURUAN)”

B. Fokus Penelitian

Fokus penelitian ini adalah :

1. Bagaimana konsep kelayakan bisnis pada Dalwa Mart Bangil Pasuruan ?

2. Bagaimana implementasi kelayakan bisnis pada Dalwa Mart Bangil Pasuruan

3. Apa faktor pendukung dang penghambat impelementasi kelayakan bisnis pada

Dalwa Mart Bangil Pasuruan ?

C. Tujuan Penelitian

8
Berdasarkan permasalahan yang ada, maka yang menjadi tujuan penelitian

adalah :

1. Untuk mengetahui konsep kelayakan bisnis pada Dalwa Mart Bangil Pasuruan

2. Untuk mengetahui implementasi kelayakan bisnis pada Dalwa Mart Bangil

Pasuruan

3. Untuk mengetahui faktor pendukung dang penghambat impelementasi

kelayakan bisnis pada Dalwa Mart Bangil Pasuruan

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat :

1) Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan konstribusi secara teoritis

kepada :

a. Terhadap ilmu pengetahuan dan memperluas wawasan bagi civitas akademi Institut

Agama Islam Darullughah Wadda’wah Bangil Pasuruan khususnya Mahasiswa

Jurusan Ekonomi Syari’ah.

b. Sebagai acuan atau salah satu sumber referensi bagi semua pihak yang ingin

melakukan penelitian lebih lanjut mengenai Dalwa Mart Bangil Pasuruan

2) Manfaat Praktis

a. Bagi Peneliti. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan

pengalaman peneliti mengenai studi kelayakan bisnis ritel Dalwa Mart. Penelitian ini

juga diharapkan dapat menjadi pembelajaran dan pengalaman dalam penelitian

9
selanjutnya.

b. Bagi pelaku usaha. Penelitian ini diharapkan bisa menjadi acuan bagi para pelaku

usaha bisnis ritel dalam mengembangakan bisnisnya.

c. Bagi Masyarakat. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan bagi

masyarakat mengenai kelayakan bisnis ritel Dalwa Mart.

E. Definisi Istilah

1. Implementasi

Implementasi adalah tindakan–tindakan yang dilakukan oleh individu atau

pejabat–pejabat, kelompok–kelompok pemerintah atau swasta yang diarahkan pada

terciptanya tujuan–tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijakan.

2. Studi Kelayakan Bisnis

Studi Kelayakan (Feasibility Study) Bisnis adalah kajian yang dilihat dari

berbagai segi aspek baik aspek legalitas, aspek teknis, pemasaran, sosial ekonomi

maupun manajemen dan keuangan, yang hasilnya digunakan untuk mengambil

keputusan suatu proyek dijalankan, ditunda, atau tidak dijalankan.

3. Bisnis Ritel

Bisnis ritel adalah kegiatan usaha yang melibatkan transaksi penjualan barang atau jasa

kepada konsumen dalam jumlah satuan maupun eceran untuk dikonsumsi pribadi dan

tidak diperjualbelikan kembali

4. Dalwa Mart

Dalwa Mart adalah salah satu usaha Pondok Pesantren Darullughah

Wadda’wah di bidang bisnis ritel. Dalwa Mart terlelar di Dalwa Centre.

10
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Hasil Penelitian Terdahulu

Dalam rangka penelitian yang dilakukan, penulis juga mendasarkan pada

beberapa penelitian terdahulu yang sudah pernah dibuat mengenai analisa studi

kelayakan bisnis. Berikut adalah beberapa penelitian terdahulu yang dijadikan penulis

sebagai acuan, yaitu :

a. Dewantara (2019), Jurnal Iqtishaduna vol IX. Penelitian yang di lakukan oleh Avian

Dwiputra bertujuan untuk mengetahui studi kelayakan bisnis Basmalah Mart, dengan

menggunakan capital budgeting. Penelitian Dewantar menguji kelayakan bisnisnya

dengan menggunakan beberapa aspek yaitu aspek pasar dan pemasaran, aspek teknis

produksi dan teknologi, aspek manajemen, aspek sumber daya manusia, aspek hukum,

dan aspek keuangan. kriteria justifikasi dalam aspek keuangan yaitu dengan

menghitung net prresent value, internal rate of return, discounted payback period, dan

profitability index. Berdasarkan penelitiannya bisnis tersebut layak dijalankan

(feesieble) berdasarkan analisis terhadap aspek aspek tersebut. Persamaan penelitian

penulis dengan penelitian Dewantara adalah dalam studi kelayakan bisnis. Sedangkan

perbedaanya bahwa Dewantara meneliti bisnis Basmalah Mart pada nilai keuntungan

dan kerugian bisnisnya, sedangkan penulis meneliti implementasi kelayakan bisnis ritel

pada Dalwa Mart

b. Agus Budiman (2020), menulis skripsi berjudul Pola Pembiayaan Usaha Kecil

(PPUK), Indomaret. Dalam tulisannya direktorat pembiayaan membuat studi

11
kelayakan sebuah Indomaret yang bertempat di Tangerang. Tujuan penulisan tersebut

adalah memberikan gambaran kepada perbankan khususnya dan pembaca umumnya

untuk mengetahui kelayakan bisnis Indomaret Dalam penelitiannya tersebut

menggunakan aspek aspek yang utama yaitu aspek produksi, aspek pasar dan

pemasaran serta aspek keuangan. Dalam aspek keuangan penulis membuat struktur

biaya dan asumsi asumsi, sehingga menghasilkan suatu estimasi laba/rugi dan arus kas,

lalu penulis mengujinya dengan analisis sensitivitas kelayakan usaha dengan

minghitung NPV, dan IRR dengan perubahan beberapa asumsi sensitivitas

pasar.Penulisan ini menghasilkan kesimpulan bahwa bisnis Indomaret di daerah

Tangerang. Persamaan penelitian penulis dengan penelitian Agus Budiman dengan

peneliti adalah dalam studi kelayakan bisnis. Sedangkan perbedaanya bahwa Agus

Budiman meneliti bisnis Indomaret dari kelayakan bisnis pada aspek pemasarannya

sedangkan penulis meneliti implementasi kelayakan bisnis ritel pada Dalwa Mart.

B. Kajian Teoritik

1. Implementasi

a. Pengertian Implementasi

Implementasi adalah suatu tindakan atau pelaksanaan dari sebuah rencana yang

sudah disusun secara matang dan terperinci. Implementasi biasanya dilakukan setelah

perencanaan sudah dianggap sempurna. Menurut Nurdin Usman, implementasi adalah

bermuara pada aktivitas, aksi, tindakan atau adanya mekanisme suatu sistem,

implementasi bukan sekedar aktivitas, tapi suatu kegiatan yang terencana dan untuk

12
mencapai tujuan kegiatan.6

Menurut Purwanto dan Sulistyastuti, Implementasi intinya adalah kegiatan

untuk mendistribusikan keluaran kebijakan (to deliver policy output) yang dilakukan

oleh para implementor kepada kelompok sasaran (target group) sebagai upaya untuk

mewujudkan kebijakan.7

Implementasi biasanya dilakukan setelah perencanaan sudah dianggap fix.

Implementasi juga bisa berarti pelaksanaan yang berasal dari kata bahasa Inggris

Implement yang berarti melaksanakan.8 Guntur Setiawan berpendapat, implementasi

adalah perluasan aktivitas yang saling menyesuaikan proses interaksi antara tujuan dan

tindakan untuk mencapainya serta memerlukan jaringan pelaksana birokrasi yang

efektif.9 Bahwa dapat disimpulkan implementasi ialah suatu kegiatan yang terencana,

bukan hanya suatu aktifitas dan dilakukan secara sungguh-sungguh berdasarkan acuan

norma norma tertentu untuk mencapai tujuan kegiatan.

b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Implementasi

Keberhasilan implementasi menurut Merile S. Grindle dipengaruhi oleh dua

variabel besar, yakni isi kebijakan (content of policy) dan lingkungan implementasi

6
Nurdin Usman, Konteks Implementasi Berbasis Kurikulum Grasindo, Jakarta, 2016. Hal. 70.
7
Purwanto dan Sulistyastuti, Analisis Kebijakan dari Formulasi ke Implementasi Kebijakan,
Bumi Aksara Jakarta, 2015) Hal. 21
8
E. Mulyasa, Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Jakarta, Bumi Aksara,
2013, Hal. 56.
9
Guntur Setiawan, Impelemtasi dalam Birokrasi Pembangunan, Balai Pustaka, Jakarta, 2014,
Hal. 39.

13
(context of implementation). Variabel isi kebijakan ini mencangkup:10

1) sejauh mana kepentingan kelompok sasaran termuat dalam isi kebijakan.

2) jenis manfaat yang diterima oleh target group, sebagai contoh, masyarakat di

wilayah slumareas lebih suka menerima program air bersih atau perlistrikan

daripada menerima program kredit sepeda motor.

3) Sejauh mana perubahan yang diinginkan dari sebuah kebijakan. sudah tepat.

Variabel

4) Apakah letak sebuah program lingkungan kebijakan mencakup:

a. Seberapa besar kekuasaan, kepentingan, dan strategi yang dimiliki oleh para

actor yang terlibat dalam implementasi kebijakan.

b. Karakteristik institusi dan rejim yang sedang berkuasa.

c. Tingkat kepatuhan dan responsivitas kelompok sasaran.

Van Meter dan van Horn menjelaskan bahwa tugas implementasi adalah

membangun jaringan yang memungkinkan tujuan kebijakan public direalisasikan

melalui aktivitas instansi pemerintah yang melibatkan berbagai pihak yang

berkepentingan.11 Van Meter dan Van Hom (dalam buku Winamo), menggolongkan

kebijakan-kebijakan menurut karakteristik yang berbeda yakni, jumlah perubahan yang

terjadi dan sejauh mana konsensus menyangkut tujuan antara pemerentah serta dalam

proses implementasi berlangsung. Unsur perubahan merupakan karakteristik yang

10
Merile S. Grindle (Dalam Buku Budi Winarno). Teori dan Proses Kebijakan Publik, Media
Pressindo, Yogyakarta, 2012, Hal. 21.
11
Merile S. Grindle (Dalam Buku Budi Winarno). Teori dan Proses Kebijakan Publik,…
hlm.179

14
paling penting setidaknya dalam dua (2) hal:12

1. Implementasi akan di pengaruhi oleh sejauh mana kebijakan menyimpang dari

kebijakan-kebijakan sebelumnya. Untuk hal ini, perubahan-perubahan

inkremental lebih cenderung menimbulkan tanggapan positif daripada

perubahan-perubahan drastis (rasional), seperti dikemukakan sebelumnya

perubahan inkremental yang didasarkan pada pembuatan keputusa secara

inkremental pada dasarnya merupakan remidial dan diarahkan lebih banyak

kepada perbaikan terhadap ketidak sempurnaan sosial yang nyata sekarang ini

dari pada mempromosikan tujuan sosial dari masa depan. Hal ini sangat

berbeda dengan perubahan yang didasarkan pada keputusan rasional yang lebih

berorientasi pada perubahan besar dan mendasar. Akibatnya peluang terjadi

konflik maupun ketidak sepakatan antara pelaku pembuat kebujakan akan

sangat besar.

2. Proses implementasi akan dipengaruhi oleh jumlah perubahan organisasi yang

diperlukan. Implementasi yang efektif akan sangat mungkin terjadi jika

lembaga pelaksana tidak diharuskan melakukan progenisasi secara derastis.

Kegagalan program-program sosial banyak berasal dari meningkatnya tuntutan

yang dibuat terhadap struktur-struktur dan prosedur-prosedur administratif

yang ada.

12
Merile S. Grindle (Dalam Buku Budi Winarno). Teori dan Proses Kebijakan Publik,….hlm.
179

15
2. Studi Kelayakan Bisnis

a. Pengertian Studi Kelayakan Bisnis

Studi kelayakan yang sering juga disebut dengan feasibility study merupakan

bahan pertimbangan dalam mengambil suatu keputusan, apakah menerima/

memanfaatkan atau menolak dari suatu gagasan atau peluang yang diperoleh. Studi

kelayakan Bisnis merupakan penelitian terhadap perencanaan usaha bisnis yang tidak

hanya menganalisis layak atau tidaknya usaha tersebut dibangun, tetapi juga saat

operasionalnya secara rutin dalam rangka pencapaian keuntungan yang maksimal

untuk waktu yang ditentukan. Misalnya, rencana peluncuran produk aspek-aspek yang

mendasari studi kelayakan bisnis adalah aspek pasar, aspek teknis dan teknologi, aspek

Sumber Daya Manusia, aspek Manajemen, aspek keuangan, aspek persaingan serta

aspek lingkungan sosial.13

Sedangkan menurut Dadjim Sinaga dan Herlina J dalam Bukunya yang

berjudul “Studi Kelayakan Investasi Pada Proyek dan Bisnis dalam Perspektif Iklim

Investasi Perekonomian Global”, studi kelayakan bisnis atau Investment analysis

merupakan suatu analisis untuk mengetahui arus biaya yang dikeluarkan dan

keuntungan berdasarkan data penelitian yang akurat terhadap faktor-faktor yang

berhubungan dengan pelaksanaan rencana investasi modal dalam suatu usaha, serta

membandingkan arus benefit dan biaya tersebut selama umur ekonomis investasi usaha

Sehingga dapat diketahui layak atau tidak layak usaha tersebut. pendapat lain yang juga

sejalan dengan pendapat diatas mengatakan bahwa Studi kelayakan adalah suatu

13
Umar, Husein. Studi Kelayakan Bisnis. (PT.Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 2011)

16
kegiatan yang mempelajari secara mendalam tentang suatu kegiatan atau usaha yang

akan dijalankan, untuk menentukan layak atau tidaknya suatu bisnis dijalankan.14

b. Fungsi dan Tujuan Studi Kelayakan Bisnis

Tujuan dilakukannya studi kelayakan bisnis ini adalah untuk memperkirakan

seberapa besar potensi usaha tersebut dapat berjalan menghasilkan keuntungan. baik

dalam situasi mendukung maupun situasi yang tidak mendukung dalam jangka panjang

atau jangka pendek.15 Adapun tujuan utama dilakukannya studi kelayakan investasi

bisnis bagi pemerintah, pihak swasta atau pemilik modal dapat dijelaskan sebagai

berikut :

1. Bagi pemerintah

Tugas utama pemerintah salah satunya adalah mengupayakan dan bertanggung

jawab atas terlaksananya pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dalam usaha

meningkatkan kesejahteraan Masyarakat. dan untuk mencapai kesinambungan dalam

kesejahteraan masyarakat tersebut, pemerintah dihadapkan pada keterbatasan

pemilikan sumber daya. Dengan adanya keterbatasan pemilikan Sumber daya yang

dimaksud, maka penggunaan yang berbeda-beda atas sumber daya yang terbatas

haruslah tepat sasaran dan memprioritaskan untuk kepentingan publik. Maka fungsi

studi kelayakan bisnis ini bagi pemerintah adalah untuk mengetahui apakah

pengalokasian penggunaan Sumber daya yang terbatas sudah tepat dalam rangka usaha

14
Kasmir dan Jakfar. Studi Kelayakan Bisnis. (Edisi Pertama, Medan: USU Press 2013) hlm.
56
15
Kasmir dan Jakfar. 2003. Studi Kelayakan Bisnis….. hlm. 67

17
pemerintah mencapai tujuan dan sasaran yang diinginkan. Sedangkan Tujuan utama

diadakannya analisis studi kelayakan bisnis ini adalah untuk mengetahui apakah

pengalokasian sumber daya yang terbatas itu dapat meningkatkan kesejahteraan

ekonomi masyarakat, pajak pendapatan yang diperoleh sertaberpengaruh pada sektor

lainnya.

2. Bagi Pihak Swasta atau pemilik Modal

Fungsi dari studi kelayakan bisnis ini bagi pihak swasta atau pemilik modal

adalah sebagai dasar pertimbangan manajemen, apakah investasi modal dalam bisnis

itu layak atau tidak layak untuk dijalankan. Hal ini dilihat dari kemampuan proyek

investasi menghasilkan keuntungan bersih rata-rata tiap periode selama umur

ekonomis, serta keamanan investasi modal. Sedangkan Tujuan studi kelayakan ini bagi

Pihak swasta atau pemilik modal adalah untuk mengetahui besarnya keuntungan yang

diperoleh selama periode waktu tertentu selama umur ekonomis, untuk mengetahui

tingkat keuntungan apakah lebih besar atau kecil dibandingkan dengan bunga modal

yang berlaku dipasar modal, untuk mengetahui berapa lama pengembalian modal

dengan pertimbangan Net cash flow yang dihasilkan dari proyek beberapa tahun sejak

awal produksi komersil, serta pelengkap proposal untuk mendapatkan izin usaha dari

pemerintah atau untuk mendapatkan bantuan kredit dari Bank.16

c. Aspek-Aspek Studi Kelayakan Bisnis

Dari hasil studi kelayakan tersebut, dapat diketahui apakah pilihan investasi

16
Nurmalina R, Sarianti T, Karyadi A. Studi Kelayakan Bisnis. (Departemen Agribisnis
Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor, Bogor. 2019) hlm. 52

18
usaha itu dapat menghasilkan keuntungan atau malah merugikan dari skala ekonomis.

Pada umumnya kerugian atau kegagalan investasi dalam suatu usaha disebabkan oleh

kurang akuratnya penelitian mengenai data atau informasi yang merupakan aspek

penting untuk diperhatikan dalam studi kelayakan itu sendiri, sehubungan dengan

keberhasilan suatu investasi usaha adapun aspek-aspek yang perlu untuk diperhatikan

untuk keberhasilan atau mengurangi resiko kerugian usaha belum ada keseragaman

mengenai aspek apa yang harus dikaji dalam rangka studi kelayakan bisnis yang

relevan. Namun menurut aspek yang perlu dikaji dalam studi kelayakan bisnis adalah

: 17

1. Aspek Pasar dan Pemasaran

Dalam uraian aspek Pasar dan Pemasaran, sekurang- kurangnya harus

melingkupi Luas pasar, perkembangan pasar, penetapan pangsa pasar, dan langkah-

langkah tertentu disamping kebijaksanaan yang diperlukan, siklus hidup produk atau

kesinambungan permintaan akan produk. Serta harus dapat memperkirakan kendala

kendala yang akan dihadapi dalam pasar. Permintaan dapat diartikan sebagai jumlah

barang yang dibutuhkan konsumen yang mempunyai kemampuan untuk membeli pada

berbagai tingkat harga. Sedangkan penawaran diartikan sebagai kuantitas barang yang

ditawarkan dipasar pada berbagai tingkat harga. Adapun faktor-faktor yang

mempengaruhi penawaran adalah :

a. Harga barang-barang substitusi

b. Biaya faktor produksi

17
Nurmalina R, Sarianti T, Karyadi A. Studi Kelayakan Bisnis…..hlm. 89

19
c. Tujuan perusahaan

Menurut Rangkuti, analisis pemasaran sangat penting untuk keberhasilan

perusahaan. Jika perusahaan mampu menjual lebih banyak produk yang sama, dengan

harga yang sama dan kualitas yang sama, atau dapat mengembangkan produk baru

yang lebih berhasil, perusahaan tersebut dapat dikatakan telah berhasil menggunakan

kemampuan analisis pemasarannya18 Terdapat 4 komponen dalam pemasaran atau

yang sering disebut sebagai Bauran pemasaran yaitu

a. Product adalah barang atau jasa yang dapat diperjual belikan. Dalam pemasaran,

produk adalah segala sesuatu yang bisa ditawarkan kesebuah pasar dan dianggap bisa

memenuhi kebutuhan

b. Price adalah suatu nilai tukar yang bisa disamakan dengan uang atau barang lain

untuk memperoleh manfaat dari suatu barang atau jasa bagi seseorang atau kelompok

pada waktu dan tempat tertentu.

c. Place adalah tempat berlangsungnya rencana aktivitas

d. Promotion adalah upaya untuk memberitahukan atau menawarkan barang atau jasa

terhadap khalayak ramai dengan tujuan menarik calon konsumen untuk membeli dan

mengkonsumsinya

2. Aspek Teknis dan Teknologi

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan pada aspek teknis dan teknologi adalah

yang menyangkut lokasi usaha, sumber bahan baku, jenis teknologi yang digunakan,

serta jenis dan jumlah investasi yang dibutuhkan disamping membuat rencana produksi

18
Nurmalina R, Sarianti T, Karyadi A. Studi Kelayakan Bisnis. (Departemen Agribisnis
Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor, Bogor. 2019) hlm. 41

20
selama umur ekonomis proyek. Dalam aspek ini, sangat dibutuhkan ketelitian dalam

menentukan teknologi yang digunakan. Karena pertimbangan biaya, umur mesin

produksi, tingkat kemampuan memproduksi, dampak lingkungan yang diakibatkan,

pemeliharaan serta keamanan dalam operasional perusahaan.19

3. Aspek SDM

Aspek SDM merupakan aspek yang paling krusial diperhatikan. Karena untuk

mengetahui apakah dalam pembangunan dan implementasi bisnis diperkirakan layak

atau tidak tergantung dari ketersediaan SDM. Ketersediaan SDM meliputi kondisi

kompetitif yang dimiliki Karyawan, Deskripsi pekerjaan, Program Pelatihan dan

Pengembangan, Penentuan Prestasi Kerja, Dispensasi, Perencanaan Karir, Mekanisme

PHK, Kebijakan Rekiuitmen-Seleksi Orientasi serta Keselamatan dan kesehatan kerja.

Aspek SDM dibagi menjadi 2 bagian yaitu, Peran SDM dalam pembangunan dan

pengembangan usaha bisnis serta peran mereka dalam operasional rutin usaha bisnis.

4. Aspek Manajemen

Tujuan dari aspek Manajemen dalam kegiatan studi kelayakan bisnis adalah

untuk mengetahui apakah pembangunan dan implementasi bisnis dapat direncanakan,

dilaksanakan, dan dikendalikan, sehingga rencana bisnis dapat dinyatakan layak atau

sebaliknya. Studi aspek Manajemen yang dilaksanakan dibagi menjadi 2 bagian, yaitu,

Manajemen saat pembangunan usaha dan manajemen saat usaha bisnis

dioperasionalkan secara rutin.20

5. Aspek Finansial

19
Umar Husein. Studi Kelayakan Bisnis (PT.Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 2013) hlm. 54
20
Nurmalina R, Sarianti T, Karyadi A. Studi Kelayakan Bisnis….hlm. 78

21
Studi aspek keuangan bertujuan untuk mengetahui perkiraan pendanaan dan

aliran kas. Dari sisi keuangan, usaha bisnis dikatakan layak apabila dapat memberikan

keuntungan yang mampu memenuhi kewajiban finansialnya.

6. Aspek Persaingan dan Lingkungan Eksternal Lainnya

Lingkungan sosial yang berada diluar perusahaan seperti Aspek Persaingan dan

Lingkungan Eksternal lainnya atau yang dapat disingkat dengan Aspek eksternal saja,

merupakan kondisi- kondisi diluar perusahaan yang bersifat dinamis dan tidak dapat

dikendalikan oleh perusahaan. Akan tetapi, aspek eksternal ini memiliki pengaruh yang

penting dalam berjalannya kegiatan bisnis yang dilakukan. Maka, perusahaan

hendaknya dapat mengupayakan informasi untuk dimanfaatkan secara maksimal

mengenai aspek ini. Juga dalam rangka menganalisis aspek-aspek lainnya. Aspek yang

dimaksud dapat berupa Yuridis Formal, sistem birokrasi, iklim politik, situasi

perekonomian, sistem nilai pada masyarakat termasuk lingkungan hidup,

perkembangan teknologi dan situasi persaingan bisnis.

d. Tahapan Studi Kelayakan Bisnis

Dalam melaksanakan studi kelayakan bisnis atau usaha, ada beberapa tahapan

studi yang dikerjakan yaitu: 21

1) Penemuan Ide Proyek

Produk atau Jasa yang akan dibuat haruslah berpotensi untuk dijual dan

menguntungkan. Karena itu, penelitian terhadap kebutuhan pasar dan jenis produk atau

21
Umar Husein. Studi Kelayakan Bisnis (PT.Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 2013) hlm. 13

22
jasa dari usaha harus dilakukan. Penelitian jenis produk dapat dilakukan dengan kriteria

kriteria bahwa suatu produk atau jasa dibuat untuk memenuhi kebutuhan pasar yang

masih belum terpenuhi, memenuhi kebutuhan manusia tetapi produk atau jasa tersebut

belum ada.

2) Tahap Penelitian

Setelah ide-ide proyek dipilih, selanjutnya dilakukan penelitian yang lebih

mendalam dengan memakai metode ilmiah. Proses itu dimulai dengan mengumpulkan

data, lalu mengolah data denganmemasukkan teori-teori yang relevan, menganalisis

dan menginterpretasi hasil pengolahan data dengan alat-alat analisis yang sesuai.

3) Tahap Evaluasi Proyek

Ada tiga macam evaluasi proyek. Pertama, mengevaluasi usulan proyek yang

akan didirikan. Kedua, mengevaluasi proyek yang sedang beroperasi. Dan yang Ketiga,

mengevaluasi proyek yang baru selesai dibangun. Evaluasi berarti membandingkan

antara sesuatu dengan satu atau lebih standar atau kriteria, dimana standar atau kriteria

ini bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Untuk evaluasi proyek, yang dibandingkan

adalah seluruh ongkos yang ditimbulkan oleh usulan proyek serta manfaat atau benefit

yang akan diperoleh.22

4) Tahap Pengurutan Usulan yang Layak

Jika terdapat lebih dari satu usulan proyek bisnis yang dianggap layak dan

terdapat keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki manajemen untuk merealisasikan

22
Nurmalina R, Sarianti T, Karyadi A. Studi Kelayakan Bisnis…hlm. 99

23
semua proyek tersebut, maka perlu dilakukan pemilihan proyek yang dianggap paling

penting untuk direalisasikan. Sudah tentu, proyek yang diprioritaskan ini mempunyai

skor tertinggi jika dibandingkan dengan usulan proyek yang lain berdasarkan kriteria-

kriteria penilaian yang telah ditentukan.

5) Tahap Rencana Pelaksanaan Proyek Bisnis

Setelah suatu usulan proyek dipilih untuk direalisasikan, perlu dibuat suatu

rencana kerja pelaksanaan pembangunan proyek itu sendiri. Mulai dari menentukan

jenis pekerjaan, jumlah dan kualifikasi tenaga pelaksana, ketersediaan dana dan sumber

daya lain, kesiapan manajemen dan lain-lain.

6) Tahap Pelaksanaan Proyek Bisnis

Setelah semua persiapan yang harus dikerjakan selesai disiapkan, tahap

pelaksanaan proyek pun dimulai. Semua tenaga pelaksana proyek, mulai dari

pemimpin sampai pada tingkat yang paling bawah, harus bekerja sama dengan sebaik-

baiknya sesuai dengan rencana yang telah diterapkan.23

3. Bisnis Ritel Syariah

a. Pengertian Bisnis

Binis ialah sejumlah total usaha yang meliputi pertanian, produksi, konstruksi,

distribusi, transportasi, komunikasi, usaha jasa, dan pemerintahan, yang bergerak

dalam bidang membuat dan memasarkan barang dan jasa ke konsumen. Istilah bisnis

23
Nurmalina R, Sarianti T, Karyadi A. Studi Kelayakan Bisnis….hlm 106

24
pada umumnya ditekankan pada 3 hal yaitu: usahausaha perorangan kecil-kecilan

dalam bidang barang dan jasa, usaha perusahaan besar seperti pabrik, transport,

perusahaan surat kabar, hotel dan sebagainya, dan usaha dalam bidang struktur

ekonomi suatu bangsa.

Menurut Hughes dan Kapoor business is the organized effort of individuals to

produce and sell for a profit, the goods and services that satisfy society or within an

industry. Maksudnya bisnis ialah suatu kegiatan usaha inividu yang terorganisasi untuk

menghasilkan dan menjual barang dan jasa guna mendapatkan keuntugan dalam

memenuhi kebutuhan masyarakat. Secara umum kegiatan ini ada di dalam masyarakat,

dan ada dalam industry. Orang yang berusaha menggunakan uang dan waktunya degan

menanggung resiko, dalam menjalankan kegiatan bisnis disebut entrepreneur. Untuk

menjalankan kegiatan bisnis maka entrepreneur harus mengkombinasikan empat maca

sumber yaitu material, human, financial, dan informasi.24

b. Pengertian Bisnis Berbasis Syariah

Bisnis syariah adalah bisnis yang berdasarkan pada Al-Qur'an dan hadis di

mana terdapat kesesuian kegiatan bisnis dengan syariah islam sebagai ibadah kepada

Allah Ta'ala untuk menapdat ridha-nya. Dari pengertian tersebut, bisnis berbasis

syariah merupakan bisnis yang berlandaskan syariah islam, di mana semua kegiatan

bisnis yang dilakukan harus sesuai dengan aturan agama islam (halal dan haram).

24
Buchari Alma, Pengantar Bisnis (Bandung: Alfabeta, 2018), h. 21

25
Dalam bisnis islam, semua hasil usaha yang telah dilakukan selalu mengingat dan

menyerahkan kepada Allah Ta'ala.25 Selain itu bisnis syariah juga meiliki arti yaitu

serangkaian aktivitas jual beli dalam berbagai bentuknya yang tidak dibatasi jumlah

kepemilikan hartanya baik barang atau jasa, tetapi dibatasi cara memperoleh dan

menggunakannya.26 Artinya, dalam mendapatkan harta dan mengunakannya tidak

boleh dengan cara-cara yang diharamkan Allah.

c. Ciri dan Karakter dari Binis Syariah

a. Memiliki pemahaman terhadap binis yang halal dan haram. Seseorang pelaku bisnis

syariah dituntut mengetahui benar faktafakta (tahqiqul manath) terhadap praktik binis

yang sahih dan yang salah. Di samping juga harus paham dasar-dasar nash yang

dijadikan hukumnya (tahqiqul hukmi).

b. Selalu berpijak pada nilai-nilai ruhiyah. Nilai ruhiyah adalah kesadaran setiap

manusia akan eksistensinya sebagai ciptaan (makhluk) Allah yang harus selalu kontak

dengan-Nya dalam wujud ketaan di setiap tarikan napas hidupnya. Ada tiga aspek

paling tidak nilai ruhiyah ini haru terwujud, yaitu pada aspek: (1) Konsep, (2) Sistem

yang diberlakukan, (3) Pelaku (Personal).

c. Praktik binis sesuai syariah yan benar. Dalam hal ini harus terdapat kesesuaian antara

aturan yaria islam dan praktik binis yang dilakukan, antara apa yang telah dipahami

25
Hamdi Agustin, Studi Kelayakan Binis Syariah (Depok: PT Raja Grafindo Persada, 2018),
h. 07
26
Asmuni dan siti Mujiatun, Bisnis Syariah (Medan: Perdana Publishing, 2015), h. 11.

26
dan yang diterapkan sehingga pertimbangannya tidak semata-mata untung dan rugi

secara material tetapi sangat mempertimbangkan praktik binis yang sesuai dengan

aturan yang telah ditetapkan syariah islam.

d. Berorientasi pada ibadah kepada Allah Ta'ala. Orientasi ini didapatkan dengan

menjadikan binis yang dikerjakannya itu sebagai lading ibadah dan menjadi pahala di

hadapan Allah Ta'ala. Hal ini itu terwujud jika binis atau apa pun yang kita lakukan

selalu mendasar pada aturan-Nya yaitu syariah islam.

Binis berbasis syariah berbeda dengan binis berbasis konvensional. Berikut

tabel perbedaan bisnis syariah dengan bisnis nonsyar’i27:

Tabel 2.1

Perbedaan Bisnis Syariah dengan Bisnis Konvensional

Bisnis Syariah Karakterisitik Bisnis Konvensional

Akidah Islam (nilai-nilai Asas Sekulerisme (nilai-nilai

transcendental) materialism)

Dunia - akherat Motivasi Dunia

Profit, zakat dan benefit Orientasi Profit pertumbuhan

(non materi) pertumbuhan, keberlangsungan

keberlangsungan

keberkahan

27
Muhamad, Binis Syariah: Transaksi dan Pola Peningkatannya (Depok: PT Raja Grafindo
Persada, 2018), h. 29

27
Tinggi, bisnis adalah Etos Kerja Tinggi, bisnis adalah

bagian dari ibadah kebutuhan duniawi

Maju dan produktif, Sikap mental Maju dan produktif

konsekuensi dari sekaligus konsumtif

kewajiban seorang muslim konsekuensi aktualisasi

diri

Cakap dan ahli di Keahlian Cakap dan ahli di

bidangnya konsekuensi bidangnya konsekuensi

dari kewajiban seorang dari motivasi reward dan

muslim punishment

Terpercaya dan Amanah Tergantung kemauan

bertanggungjawab tujuan individu (pemilik capital)

tidak menghalalkan segala tujuan menghalalkan

cara segala cara

Halal Modal Halal dan Haram

Sesuai dengan akad Sumber Daya Manusia Sesuai dengan akad

kerjanya kerjanya atau sesuai

keinginan pemilik modal

Halal Sumber Daya Halal dan Haram

Visi dan misi organisasi Manajemen Strategi Visi dan misi organisasi

terkait erat dengan misi ditetapkan berdasarkan

28
penciptaan manusia di pada kepentingan material

dunia belaka

Jaminan halal bagi setiap Manajemen Operasional Tidak ada jaminan halal

masukan, proses dan bagi setiap masukan,

keluaraga mengedepankan proses dan keluarga

produktivitas dalam mengedepankan

koridor syariah produktivitas dalam

koridor mamfaat

Jaminan halal bagi setiap Manajemen Keuangan Tidak ada jaminan halal

masukan, proses dan bagi setiap masukan,

keluaran keuangan proses dan keluaran

traksaksi bisnis dengan keuangan transaksi bisnis

bagi hasil dengan bunga

Pemasaran dalam koridor Manajemen Pemasaran Pemasaran menghalalkan

jaminan hala segala cara

SDM professional dan Manajemen SDM SDM Profesional, SDM

berkepribadian islami, adalah faktor produksi

SDM adalah pengelila SDM bertanggungjawab

bisnis SDM bertanggung pada diri majikan

jawab pada diri, majikan

dan Allah

29
Gambaran tabel di atas menunjukkan, bahwa bisnis islami selalu dikendalikan

oleh syariah. Syariah sebagai etika dalam kerangka ekonomi dan bisnis Islam harus

selalu menonjol. Dengan demikian, bisnis yang dikendalikan oleh syariah, ia bertujuan

mencapai empat hal utama, yaitu (1) target hasil: profit-materi dan benefit-nonmateri,

(2) pertumbuhan, artinya terus meningkat, (3) keberlangsungan, dalam kurun waktu

selama mungkin, dan (4) keberkahan atau keridhaan Allah.

Bisnis islami dikendalikan oleh aturan syariah, seperti berupa halal dan haram,

baik dari cara memerolehnya maupun pemanfaatannya. Sementara bisnis non-islami

dilandaskan pada sekularisme yang bersendikan pada nilai-nilai material. Bisnis non-

islami tidak memerhatikan aturan halal dan haram dalam setiap perencanaan,

pelaksanaan dan segala usaha yang dilakukan dalam meraih tujuantujuan bisnis.28

d. Binis Ritel

Kata ritel berasal dari bahasa Perancis, ritellier , yang berarti memotong atau

memecah sesuatu. Usaha ritel atau eceran (retailing) dapat dipahami sebagai semua

kegiatan yang terlibat dalam penjualan barang atau jasa secara langsung kepada

konsumen akhir untuk penggunaan pribadi dan bukan penggunaan bisnis.

Ritel jugamerupakan perangkat dari aktivitas-aktivitas bisnis yang melakukan

penambahan nilai terhadap produk-produk dan layanan penjualan kepada para

konsumen untukpenggunaan atau konsumsi perseorangan maupun keluarga. 29 Binis

28
Ibid, h.81
29
Sudjana dan Nana, Penelitian Hasil Proses Belajar Mengajar (Bandung: Remaja Rosda
Karya, 2012), h. 19

30
Ritel merupakan suatu bisnis menjual barang dan jasa pelayanan yang telah diberi nilai

tambah untuk memenuhi kebutuhan pribadi, keluarga, atau pengguna akhir lainya.30

Bisnis ritel atau penjual eceran mencakup segala kegiatan yang dilakukan untuk

menjual barang atau jasa langsung pada konsumen akhir untuk digunakan sendiri,

bukan untuk usaha.31

Bisnis retail merupakan jenis bisnis dimana produk yang ditawarkan adalah

dipakai hingga oleh konsumen akhir atau kebanyakan barang yang dijual adalah

bersifat consumer goods.Untuk jenis produk tertentu memiliki tingkat kadaluarsa yang

lebih singkat dari beberapa produku. Barang yang diperjualbelikan pada bisnis ini

seperti bahan sembako, produk kecantikan, dan sayur mayor dan sebagainya.

Pembisnis yang bergerak di bidang ini membuka tempat usahanya mulai dari

yang kecil hinga yang besar atau mulai dari toko kelontong, minimarket hingga

supermarket. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bisnis ritel adalah suatu bisnis

menjual barang produk dan jasa pelayanan yang ditawarkan kepada konsumen untuk

memenuhi kebutuhan pribadi.

e. Bisnis Ritel Syariah

Bisnis ritek syariah dalah suatu bisnis untuk memenuhi kebutuhan konsumen

akhir yang kegiatannya adalah mendistribusikan barang ataupun jasa kepada

perseorangan maupun rumah tangga, dimana cara menggunakan harta dan cara

memperoleh harta yang mereka dapatkan sesuai dengan syariat Islam yaitu al-Qur’an

30
Sopiah dan Syihabudhin, Manajemen Bisnis Ritel, (Yogyakarta:ANDI PUBLISHER,2018),
h.101
31
Philip Kotler, Marketing, (Herujati Purwoko), Jilid 2, (Jakarta: Erlangga, 2010), 305.

31
dan al-Sunnah. Konsumen akhir berkedudukan sebaia any user (pengguna akhir)

seperti individu atau rumah tangga.

Dalam Islam, terdapat larangan dalam menjual barang yang belum dimiliki

sepenuhnya. Hal tersebut diatas menjelaskan mengenai konsep ritel. Dalam Islam

terdapat larangan menjual barang yang belum sepenuhnya dimiliki sebelum akad.

Hendaknya si penjual menjadi ketersediaan barang yang dijualnya tersebut di

tempatnya, baik di tokoh, di gudang, maupun di show roomnya. Kemudian jika terdapat

pembeli, maka penjual dapat menegosiasikannya dengan pembeli tersebut terkait

dengan sistem pembayaran yang akan digunakan baik secara cash maupun tempo.32

4. Penerapan Prinsip-prinsip Syariah

a. Prinsip dalam Ekonomi Islam

Dalam pandangan agama islam setiap insan dan berhak mengumpulkan harta

sebanyak mungkin melalui aktivitas ekonomi. Meski demikian, semua aktivitas

ekonomi itu harus sesuai dan tetap dalam batas-batas yang telah ditetapkan oleh Allah

Ta'ala dalam syariat islam. Kondisi ini tentu tidak terlepas pula dari tingkat keimanan

seseorang. Sebab, keimanan seseorang sangat memengaruhi dan memengang peranan

penting dalam menjalani perekonomian secara islam. Terdapat beberapa hal prinsip

dalam Sistem Ekonomi Islam yang harus diperhatikan, yakni:

1) Harta diperoleh yang menyangkut kepemilikan (al-milkiyah)

Ekonomi Islam mengajarkan bahwa berbagai jenis sumber daya yang ada

32
Irham Fahmi, Kewirausahaan : Teori, Kasus dan Solusi (Bandung : Alfabeta, 2016) h. 431

32
dipandang sebagai pemberian atau amanah Allah Ta'ala kepada insan. Dengan

demikian, setiap insan harus memanfaatkannya secara optimal dan efisien dalam

memproduksi, guna memenuhi kesejahteraan untuk diri sendiri maupun orang lain

secara bersama. Namun, yang terpenting adalah bahwa setiap kegiatan tersebut akan

dipertanggungjawabkannya di akhirat nanti.

Islam menjamin kepemilikan masyarakat dan penggunaannya untuk

kepentingan orang banyak. Prinsip ini didasari Sunnah Rasulullah yang menyatakan

bahwa, "Masyarakat punya hak yang sama atas air, padang rumput dan api". Sunnah

Rasulullah tersebut menghendaki semua industri ekstraktif yang ada hubungannya

dengan produksi air, bahan tambang, bahkan bahan makanan harus dikelola oleh

negara.

Demikian juga berbagai macam bahan bakar untuk keperluan dalam negeri dan

industri tidak boleh dikuasai oleh individu. Islam mengakui kepemilikan pribadi dalam

batas-batas tertentu, termasuk kepemilikan aset dan faktor produksi. Hal ini

menunjukkan bahwa kepemilikan individu dibatasi oleh kepentingan masyarakat dan

islam menolak setiap pendapatan yang diperoleh secara batil, apalagi usaha tersebut

dapat menzalimi dan menghancurkan masyarakat.

Dengan demikian, kekuatan sekaligus penggerak utama ekonomi islam adalah

kebersamaan dan kerja sama. Seseorang muslim, baik ia sebagai pembeli, penjual,

penerima upah, pembuat keuntungan, dan sebagainya, dalam menjalani aktivitasnya

harus berpegang pada tuntunan Allah Ta'ala sebagaimana diterangkan dalam Al-

Qur'an;

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu

33
dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka

sama-suka di antara kamu, dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya

Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.33

Kepemilikan kekayaan pribadi seorang muslim harus berperan sebagai model

prouktif yang akan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, lapangan usaa

produktif dan pada akhirnya mampu meningkatkan laju pertumbuhan produk

nasional.34

2) Pengelolaan kepemilikan harta (tasharruf fill milkiyah)

Ajaran islam mencela dan melarang perdangangan yang tidak jujur atau

penipuan, perlakuan yang tidak adil dan semua bentuk deskriminasi dan penindasan.

Dengan demikian, setiap individu pelaku ekonomi dituntut atau harus mampu

menjalankan system syariat islam dalam melakukan kegiatan ekonomi. Karena di

akhirat nanti semua perilaku dan perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan

Allah Azzawajalla. Seperti diuraikan dalam Al-Qur'an sebagai berikut:

130. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan Riba dengan berlipat

ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.

131. dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang

kafir.35

Riba secara bahasa bermakna ziyadah (tambahan). Sedangkan menurut istilah

33
Q.S. An-Nisaa 04:29.
34
Hamdi Agustin, Studi Kelayakan Binis Syariah (Depok: PT Raja Grafindo Persada, 2018),
h. 02-03
35
Q.S. Ali Imran 03:130-131.

34
teknis riba berarti pengambilan tambahan uang dari harta pokok atau modal. Ada

beberapa pendapat yang menjelaskan riba. Dengan demikian, setiap pinjaman yang

mengharuskan untuk mengembalikan pinjaman dengan tambahan uang berdasarkan

jumlah pinjaman tersebut merupakan riba.

Namun secara umum terdapat benang merah yang menegaskan bahwa riba

adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual beli maupun pinjam-

meminjam secara batil atau bertentangan dengan prinsip muamalah dalam Islam.

Sesuatu yang diharamkan adalah sesuatu yang dilarang oleh Allah Ta'ala sebagaimana

yang telah dijelaskan dalam AlQuran dan Hadis.

Untuk memastikan bahwa praktik dan aktivitas keuangan atau bisnis kita tidak

bertentangan dengan hukum Islam, maka seseorang Muslim/muslimah harus

mempelajari ketentuan dan ilmu Sistem Ekonomi Islam dalam melakukan aktivitas

bisnis. Di sisi tak kalah pentingnya adalah diharapkan setiap lembaga syariah

membentuk Dewan Syariah. Dewan inih ahli hukum Islam yang bertindak sebagai

auditor dan penasihat yang independen.

Di samping itu, syariah Islam juga telah mengharamkan penimbunan emas dan

perak (harta kekayaan) meskipun zakatnya tetap dikeluarkan. Dalam hal ini Allah Swt.

berfirman: Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak

menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahawa

mereka akan mendapat) siksa yang pedih. QS At-Taubah [9]: 34.

Seorang Muslim/muslimah yang kekayaannya melebihi tingkat tertentu (nisab)

diwajibkan membayar zakat. Zakat merupakan salah satu alat atau cara dalam

mendistribusikan sebagian kekayaan orang kaya (sebagai kewajiban atas penguasaan

35
harta tersebut), yang ditujukan untuk

orang yang berhak menerimanya.

Di antaranya orang fakir dan miskin dan orang-orang lain yang membutuhkan.

Dengan zakat tersebut dapat membantu orang yang tidak mampu secara materi dalam

menghadapi kesulitan hidup, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.

Zakat merupakan kewajiban membayar sebagian dari harta yang telah mencapai

jumlah tertentu (nisab).

Zakat tersebut merupakan salah satu instrumen keadilan dan kesetaraan dalam

Islam. Maksud keadilan dan kesetaraan adalah setiap orang harus memiliki peluang

yang sama. Namun bukan berarti bahwa mereka harus sama.. atau sama-sama kaya.

Negara Islam wajib menjamin to kebutuhan minimal warga negaranya, dalam bentuk

sand papan, perawatan kesehatan dan pendidikan. Sebagaimana dijelaskan pula oleh

Allah Ta'ala dalam firman-Nya QS Al-Mujadilah[58]: 11.

11. Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-

lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi

kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah,

niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-

orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui

apa yang kamu kerjakan.

Tujuan utamanya adalah untuk menjembatani perbedaan sosial dalam

masyarakat dan agar kaum muslimin menerima perbedaan dalam kehidupan sosial dan

36
materil.36

b. Prinsip-prinsip Bisnis Syariah

Prinsip adalah dasar atau kebenaran yang menjadi pokok dasar berpikir dan

bertindak.37 Bisnis secara umum adalah sebagai suatu aktivitas yang dilakukan

seseorang untuk memperoleh pendapatan atau penghasilan guna memenuhi kebutuhan

hidupnya.?38 Prinsip bisnis syariah adalah suatu kebenaran yang menjadi dasar berpikir

dan bertindak dalam mengelola bisnis dengan berpadukan pada nilai-nilai syariah

Islam dan prinsip-prinsip yang mendasarinya. Agar keuntungan yang ingin diraih dapat

menambah kebaikan baik bagi pelaku bisnis itu sendiri ataupun lingkungan sekitarnya,

maka praktik bisnis mesti mengacu prinsip-prinsip dasar yang mencerminkan nilai-

nilai luhur yang universal. Setidaknya terdapat prinsip dasar sebagai berikut:39

Pertama, prinsip tauhid. Sebagaimana yang telah dijelaskan, bahwa tauhid atau

akidah merupakan fondasi fundamental ajaran Islam. Pada intinya bahwa prinsip ini

menegaskan bahwa Allah adalah pemilik sejati seluruh yang ada di alam semesta ini.

Allah tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia dan manusia diciptikan hanya untuk

beribadah kepada-Nya.

Oleh karena itu, pelaksanaan bisnis seharusnya didasarkan pada konsep

penyerahan diri dan menyakini bahwa semua yang diperjual belikan dalam bisnis

36
Ibid, h.05-06
37
Erni Tisnawati Sule, dkk., Manajemen Bisnis Syariah, (Bandung: PT Refika Aditama,
2016), hlm 32
38
Asmuni dan Siti Mujiatun, Bisnis Syariah, (Medan: Perdana Publishing, 2005), hlm 11
39
Hendri Hermawan Adinugraha, “Norma dan Nilai Dalam Ilmu Ekonomi Islam”, Jurnal
Media Ekonomi & Teknologi Informasi, Vol. 21 No. 1, 2013, hlm 53-56.

37
hanyalah milik Allah semata, melaksanakan bisnis berbasis ibadah. Kedua, prinsip

keadilan. Allah adalah Sang pencipta seluruh yang ada di muka bumi ini, dan 'adl

(keadilan) merupakan salah satu sifat-Nya.

Allah menganggap semua manusia itu sama (egalitarianism) di hadapanNya

dan memiliki potensi yang sama untuk berbuat baik, karena yang menjadi pembeda

bagi-Nya hanya tingkat ketaqwaan setiap individunya. Prinsip ini mengajarkan

manusia agar dapat berlaku adil dalam segala hal, terutama dalam kontek bisnis.

Ketiga, Prinsip Hurriyah (Kebebasan) Prinsip hurriyah merupakan prinsip yang

menyandarkan pada nilai-nilai kebebasan sebagai pemandunya. Kebebasan disini

berarti kebebasan dalam melakukan segala hal, selama tidak ada dalil yang

melarangnya. Prinsip ini melahirkan sikap inovasi dan kreatifitas. Keempat, Prinsip

Musawwah (Kesetaraan) Prinsip musawwah merupakan prinsip bisnis yang

menyandarkan pada nilai-nilai kesetaraan sebagai pemandunya.

Prinsip ini menghasilkan pola hubungan kemitraan dalam berbisnis.Kelima,

Prinsip Ta'awun (Tolong Menolong) Prinsip bisnis ini disandarkan pada nilai-nilai

kerjasama atau tolong-menolong (coorporation) sebagai pemandunya. Prinsip ini

dilaksanakan untuk saling membesarkan antara yang miskin dan yang kaya, antara

yang lemah dan yang kuat, dan sebagainya.

Keenam, Prinsip Musyarakah yaitu prinsip dalam bisnis yang mengedepankan

kerjasama sebagai prinsip dasarnya. Dalam Islam, orang yang bekerjasama layaknya

seperti bangunan kokoh yang tersusun rapi, dimana antara pihak satu dengan pihak

yang lain saling melengkapi dan saling menguatkan sehingga menghasilkan kekuatan

bisnis yang paripurna

38
Ketujuh, prinsip Nubuwwah (Kenabian). Prinsip ini menegaskan bahwa Nabi

Muhammad merupakan model yang ideal dalam segala perilaku, termasuk juga

perilaku bisnis yang seyogyanya dapat diteladani serta diimplementasikan oleh setiap

manusia, khususnya para pelaku bisnis. Sehingga tidak heran jika ia memiliki 4 (empat)

sifat yang sering dijadikan landasan dalam aktivitas manusia sehari-hari termasuk juga

dalam aktivitas bisnis karena selain bidang leadership ia juga sangat perpengalaman

dalam bidang perdagangan.

Empat sifat tersebut adalah: (1) Shiddiq (benar, jujur, valid). Sifat shiddiq ini

akan muncul konsep efektivitas dan efisiensi. Efektivitas dimaksudkan untuk mencapai

tujuan yang tepat (on time) dan benar (all right), sedangkan efisiensi adalah melakukan

aktivitas dengan benar dan hemat, maksudnya menggunakan teknik dan metode yang

tidak menyebabkan kemubadziran; (2) Amanah (responsibility, dapat dipercaya,

kredibilitas). Sifat ini dapat membentuk pribadi yang kredibel dan memiliki sikap

penuh tanggung jawab. Sifat amanah memiliki posisi yang fundamental dalam aktivitas

bisnis, karena tanpa kredibilitas dan tanggung jawab dalam berperilaku, maka

kehidupan bisnis menjadi tidak stabil. (3) Fathanah (kecerdasan, kebijaksanaan,

profesionalitas, intelektualitas).

Implikasi sifat ini dalam aktivitas bisnis adalah bahwa segala aktivitas harus

dilakukan dengan ilmu atau kecerdasan, dan optimalisasi semua potensi akal (al-'aqlu)

yang ada untuk mencapai tujuan (goal). Memiliki kredibilitas dan responsibility yang

tinggi saja belum cukup dalam menjalankan kehidupan berbisnis.

Tetapi apabila dilengkapi dengan akal cerdas dan sikap profesionalitas yang

mumpuni maka hal ini akan lebih mudah dalam menjalankannya (konsep “work hard

39
and smart); (4) Tabligh (komunikatif, transparansi, marketeble). Sifat tabligh dalam

bisnis menurunkan prinsip-prinsip ilmu komunikasi (personal, interpersonal), seperti

penjualan, pemasaran, periklanan, pembentukan opini masa, dan lain sebagainya yang

dilakukan dengan benar dan proporsional.

Kedelapan, prinsip khilafah merupakan representasi bahwa manusia adalah

pemimpin (khalifah) di dunia ini dengan dianugerahi seperangkat potensi mental dan

spiritual oleh Allah SWT, serta disediakan kelengkapan sumber daya alam atau materi

yang dapat dimanfaatkan dalam rangka untuk sustainibilitas atau keberlangsungan

hidupnya.

Fungsi utamanya adalah untuk menjaga keteraturan interaksi (mu’amalah)

antar pelaku bisnis, agar dapat meminimalisir kekacauan, persengketaan, dan keributan

dalam aktivitas mereka. Kelima, prinsip ma'ad (hasil). Prinsip ini mengajarkan bahwa

pada dasarnya manusia diciptakan di dunia ini untuk berjuang dan bekerja.

Dalam perspektif Islam, dunia adalah ladang akhirat, maksudnya dunia

merupakan tempat bagi manusia untuk mencari bekal dengan bekerja, beraktivitas, dan

beramal baik. Pada prinsipnya perbuatan baik akan dibalas dengan kebaikan, dan

demikian juga sebaliknya. Oleh karena itu, ma'ad bermakna balasan, imbalan, ganjaran.

Menurut Imam Al-Gazhali implikasi konsep ma'ad dalam kehidupan bisnis misalnya,

mendapatkan profit/laba sebagai motivasi para pelaku bisnis.

Laba tersebut bisa didapatkan di dunia dan bisa juga kelak akan diterima di

akhirat. Karena itu konsep profit/laba mendapatkan legitimasi dalam Islam. Pendapat

lain mengutarakan bahwa prinsip dasar yang harus diadopsi oleh pelaku bisnis dalam

perspektif Islam adalah bahwa praktik bisnis tersebut harus mencerminkan karakter

40
yang mengandung nilai-nilai rohaniah bahwa segala sesuatu hanyalah ciptaan Allah;

memiliki pemahaman bisnis yang halal dan haram; dan berorientasi pada hasil dunia

dan akhirat.40

Selain itu, bisnis yang dijalankan harus menghindarkan praktik pemberian

hadiah atau komisi dalam lobi bisnis; tidak makan riba; tidak wanprestasi; tidak suap;

tidak menipu; tidak zalim dan input, proses serta output harus bebas dari barang dan

jasa yang haram. Secara prinsip, aspek kesyariahan dalam manajemen meliputi tiga

bidang, yaitu:

1) Haram zat (barang) yang diperdagangkan, misalnya barang yang mengandung unsur

babi, darah, bangkai, khamar , dan sebagainya.

2) Haram untuk dilakukan (selain dzatnya), misalnya terdapat unsur “maghrib” yaitu

maysir (perjudian), gharar (ketidakpastian), riba(tambahan atas hutang yang diberikan

kepada pemberi hutang),tadlis (penipuan), iḥtikar (rekayasa pasar dalam suplai),

rishwah(suap menyuap), dan sebagainya.

3) Tidak sahnya akad (perjanjian) karena tidak terpenuhinya unsurunsur dalam jual

beli, seperti rukun, syarat, dan sebagainya.

c. Etika Bisnis Syariah

Prinsip-prinsip etika bisnis Islam berasal dari Al-Qur'an dan Hadis telah

dipraktikkan oleh Rasulullah saat melakukan perniagaan dalam menjalankan bisnisnya.

Qardhawi berpendapat bisnis dan akhlak (etika) saling berkaitan karena akhlak adalah

40
Mardani, Hukum Bisnis Syariah, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2014), hlm. 23-24.

41
sangat penting dalam kehidupan Islami. Tanpa adanya akhlak dalam bisnis, umat Islam

akan semena-mena dalam menjalankan bisnis tanpa memandang apakah itu halal atau

haram.

Etika bisnis menurut Qardhawi yang sesuai dengan bisnis syariah dapat

dipaparkan pada table berikut:

Tabel 2.2 Etika Bisnis

Bidang Etika

Produksi 1. Bekerja adalah hal utama dalam

produksi

2. Produksi yang halal

3. Perlindungan terhadap kekayaan alam

4. Mewujudkan swadaya

5. Merealisasikan swasembada

Konsumsi

Konsumsi 1. Menafkakan dalam kebaikan

2. Tidak berfoya-foya

3. Sederhana

Distribusi 1. tidak berdagang barang haram 2. sidq,

amanah, jujur

3. adil dan menjauhi riba

4. kasih saying dan tidak monopoli 5.

42
toleransi, persaudaraan dan

sedekah

Prinsip etika bisnis menurut Qardhawi adalah salah satu prinsip yang dapat

menjadi rujukan bagi pelaku bisnis dalam menjalankan usahanya. Selain Qardhawi,

prinsip etika bisnis masih banyak lagi yang dijelaskan oleh para ahli ekonomi Islam.

Secara umum prinsip etika bisnis Islam dapat dilihat dari kesatuan ASIFAT yaitu:

Akidah (ketaatan kepada Allah Ta'ala), Shiddiq (benar), Fathanah (cerdas), Amanah

(jujur/terpercaya) dan Tabligh (komunikatif).

Selain itu, tidak melakukan praktik yang bertentangan dengan syariah. Etika

bisnis Islam bertujuan agar setiap kegiatan bisnis yang dijalankan sesuai dengan

syariah Islam untuk keselamatan kehidupan dunia dan akhirat. Prinsip etika bisnis

syariah dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Akidah

Dalam kegiatan bisnis akidah adalah alat bagi umat Islam untuk menjaga

perilakunya dalam berbisnis. Dengan adanya penyerahan dini lumda Allah Ta'ala maka

pelaku bisnis akan selalu menjaga perbuatannya dari hal-hal yang dilarang oleh

syariah. Akidah ini muncul tiga asas pokok yang dipegang oleh pelaku bisnis syariah,

yaitu:

a. Allah Ta'ala adalah pemilik dunia dan seluruh isinya dan hanya Allah Ta'ala yang

mengatur semuanya menurut apa yang dia kehendaki-Nya. Dalam hal harta, manusia

43
adalah pemengang amanah titipan dari Allah Ta'ala atas mengelola harta yang

sebenarnya sepenuhnya dimiliki oleh Allah Ta'ala.

b. Allah adalah pencipta seluruh mahluk hidup dan semua makhluk hanya tunduk dan

patuh kepada-Nya

c. Iman kepada hari kiamat. Keimanan pada datangnya hari kiamatakan membuat

perilaku bisnis orang muslim berjalan sesuai dengan syariat karena semua perilaku

binis yang dilakukan didunia akan dipertanggungjawabkan di hari akhir nanti.41

2) Shiddiq

Wirausahawan Muslim haruslah memiliki sifat shiddiq atau benar yang dapat

dipercaya dan bertanggung jawab. Dengan sifat shiddiq usahawan Muslim akan

bertanggung jawab atas segala yang dia lakukan dalam hal muamalahnya. Bertanggung

jawab dengan selalu menjaga hakhak manusia dan hak-hak Allah dengan tidak

melupakan kewajiban sebagai manusia sosial dan makhluk ciptaan Allah Swt.

Tanggung jawab di agama Islam memiliki aspek fundamentalis yakni, pertama

status khalifah manusia di muka bumi menyatu dengan tanggung jawab. Seorang

khalifah yang baik selalu melakukan perbuatan baik kepada sesamanya. Berbuat baik

dilakukan dengan membantu orang miskin dengan merelakan sebagian harta yang dia

cintai. Membantu orang miskin dengan memberikan sebagian harta adalah tanggung

jawab khalifah yang baik. Kedua, tanggung jawab seorang khalifah dilakukan dengan

sukarela tanpa adanya pemaksaan.

41
Ibid, h.09

44
Jika konsep ini dilakukan dalam bisnis, maka wirausaha Muslim akan berbisnis

dengan cara yang halal, di mana cara pengelolaan dilakukan dengan cara-cara yang

benar, adil dan mempunyai manfaat sosial berupa manfaat optimal bagi semua

komponen masyarakat yang menikmati dan terlibat dalam kegiatan bisnis yang

dilakukan.

Penerapan perilaku ini tidak akan membawa kerugian pada pihak lain karena

pelaku usaha dengan menjunjung tinggi akhlak yang sesuai syariah islam akan

senantiasa mengerti akan keharusannya untuk membantu dan menghormati orang

lain.42

3) Fathanah

Fathanah pada umumnya diartikan sebagai kecerdasan, kemahiran, atau

penguasaan terhadap bidang tertentu. Padahal makna fathanah merujuk pada dimensi

mental yang sangat mendasar dan menyeluruh, sehingga dapat diartikan bahwa

fathanah merupakan kecerdasan yang mencakup kecerdasan intelektual, emosional dan

terutama spiritual.

Seseorang yang memiliki sikap fathanah tidak saja menguasai bidangnya, tetapi

memiliki keteguhan hati yang kuat. Keputusankeputusannya menunjukkan seorang

profesional yang didasarkan sikap akhlak seperti akhlak Rasulullah. Seorang yang

fathanah tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki kebijaksanaan atau kearifan dalam

berpikir dan bertindak

Selain itu, sifat fathanah mampu menempatkan dirinya sebagai fokus perhatian

42
Ibid, h.10

45
lalu menjadikan dirinya sebagai figur teladan karena keahlian dan kepribadiannya yang

mampu menumbuhkan situasi yang menenteramkan. Fathanah meliputi dua bagian

terdiri dari pertama, fathanah dalam hal manajemen usaha bisnis yang berkaitan dengan

aktivitas pencatatan atau pembukuan secara rapi agar tetap bisa menjaga amanah dan

sifat shiddiqnya.

Kedua, Fathanah dalam hal menangkap selera pembeli yang berkaitan dengan

barang maupun harta. Dalam hal fathanah ini Rasulullah mencontohkan tidak

mengambil untung yang terlalu tinggi dibanding dengan pedagang lainnya. Sehingga

barang beliau cepat terjual.

Dengan demikian, fathanah di sini berkaitan dengan strategi pemasaran dalam

kiat membangun citra yang meliputi: penampilan, pelayanan, persuasi, dan pemuasan.

Dengan demikian, sikap fathanah ini sangat penting bagi pebisnis, karena sikap

fathanah ini berkaitan dengan pemasaran.

4) Amanah / Jujur

Jujur adalah kesamaan antara berita yang disampaikan dengan fakta atau

fenomena yang ada. Di samping itu, juga kejujuran dalam berperilaku dalam usaha

bisnis sesuai dengan yang diperaktikkan Rasulullah. Kejujuran tersebut dapat terlihat

pada Rasulullah yang merupakan seorang guru entrepreneur sukses dan professional.

Selalu mengutamakan kejujuran dalam hubungan transaksi dengan semua

pelanggannya. Dalam bisnis syariah jujur adalah nilai terpenting dalam transaksi

sebuah bisnis. Pelaku bisnis yang jujur akan menjaga timbangannya, mengatakan baik

dan buruknya barang yang dia jual.

46
Dari hubungan jual beli yang didasari oleh kepercayaan di antara penjual dan

pembeli atau antara penyedia dan pengguna jasa. Kepercayaan inilah salahsatu

menjadikan bisnis yang dilakukan sesuai dengan syariah Islam yang merupakan hal

paling mendasar dari semua

hubungan dan transaksi kegiatan binis.43

5) Tabligh (Menyampaikan)

Salah satu peranan dari sikap tabligh yang merupakan salah satu sifat akhlaqul

karimah dari Rasulullah yaitu menyampaikan kebenaran melalui suri teladan dan

perasaan cinta yang mendalam. Kemampuan berkomunikasi dalam kata tabligh

menunjukkan proses menyampaikan sesuatu untuk memengaruhi orang lain melalui

perkataan yang baik dan transparan.

Dalam praktiknya, tidak menutup kemungkinan bila usaha bisnis memberikan

informasi yang akan menyesatkan konsumennya dengan maksud untuk mendapatkan

sesuatu yang pada akhirnya merugikan konsumennya. Di sinilah pentingnya

kecerdasan spiritual bagi setiap usaha bisnis di dalam melakukan seluruh aktivitasnya,

sehingga dapat mengendalikan dan menjauhi segala perbuatan yang melanggar syarish

Islam.

6) Tidak melakukan praktik bisnis bertentangan dengan syariah

Praktik mal bisnis adalah praktik-praktik bisnis yang tidak terpuji karena

43
Ibid, h.11

47
merugikan pihak lain dan melanggar hukum yang ada. Perilaku yang ada dalam praktik

bisnis mal sangat bertentangan sangat bertentangan dengan nilamillal yang ada dalam

Al-Qur'an. Jenis praktik mal bisnis antara lain:

a. Produk barang dan jasa yang dijual halal

Barang atau jasa yang dijual haruslah halal dan bermanfaat untuk masyarakat.

Barang yang boleh diperjualbelikan adalah suci dari najis, berguna dan halal. Selain itu

bisnis dalam bidang jasa diperbolehkan jika dalam jasa yang diberikan tidak merugikan

orang lain dan sifatnya membantu dalam hal kebaikan. Misalnya usaha bengkel motor

untuk membantu memperbaiki motor rusak yang dibutuhkan orang lain.

b. Gharar

Jual beli gharar adalah jual beli barang yang masih samar-samar. Gharar adalah

salah satu jual beli yang mengandung unsur penipuan karena dalam akadnya transaksi

yang dilakukan belum jelas. Benda yang dijualbelikan belum jelas wujudnya, misalnya

menjual buah-buahan yang belum masak yang masih menunggu

masa panen.

c. Tidak menipu (al-Gabn dan Tadlis)

Gabn adalah harga yang ditetapkan jauh dari rata-rata yang ada baik lebih

rendah atau lebih tinggi. Sedangkan Tadlis adalah penipuan dengan menutupi

kecacatan sebuah barang yang akan dijual saat transaksi terjadi. Penipuan yang

dilakukan seorang penjual dapat merugikan orang lain. Transaksi ini bertentangan

48
dengan syariah Islam karena ini merupakan bentuk ketidakjujuran dalam berbisnis

sehingga sangat merugikan pihak orang lain.

d. Riba

Riba jual beli yaitu riba fadlal yaitu kelebihan yang diperoleh dalam transaksi

tukar-menukar barang. Riba berkaitan juga dengan penetapan harga barang, jika

penjual menetapkan harga yang sangat tinggi maka tentunya pembeli tidak akan rela

untuk membayar harga barang tersebut. Jadi dalam penentuan harga harus ada

kesepakatan antar penjual dan pembeli yang dilakukan secara baik dan atas dasar suka

sama suka. Penentuan harga seorang penjual harus tetap menghormati pembeli dengan

memberikan sikap toleran dan harga yang wajar. Selain itu juga, riba terjadi pada

meminjam uang di mana menetapkan adanya tambahan dari pinjaman yang diberikan.

e. Ihtikar

Ihtikar atau menimbun barang untuk harapan mendapatkan harga yang tinggi

di kemudian hari. Ihtikar tidak diperbolehkan karena akan mengakibatkan kerugian

bagi banyak orang. Penimbunan membekukan, menahan dan menjatuhkannya dari

peredaran akan menyebabkan susanya pengendalian pasar. Menumpuk suatu barang

dengan berharap suatu saat dapat di jual dengan harta lebih tinggi diperbolekan.

Menjual barang dengan harga lebih tinggi saat barang tersebut mengalami kelangkaan

sama saja dengan menzalimi orang lain dengan menahan barang yang dibutuhkan

orang tersebut.

f. Mengurangi timbangan atau takaran

49
Perdagangan tidak terlepas dari melakukan timbangan atau takaran sebaai alat

penjualan. Kecurangan dalam hal timbangan dan takaran dilakukan untuk

mendapatkan keuntungan dengan cara cepat dan mudah. Perilaku mengurangi

timbangan ini termasuk dalam penipuan karena mengurangi hak orang lain.

Kecurangan yang dilakukan dengan mengurangi timbangan adalah hal yang tidak jujur

dalam praktik bisnis.44

44
Ibid, h. 12-14

50
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif dengan metode analisis

deskriptif. Metode deskriptif ini dimaksudkan untuk membuat deskripsi atau

gambaran secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta- fakta serta sifat-

sifat dari suatu fenomena yang diselidiki, yang penekanannya tidak pada pengujian

hipotesis melainkan pada usaha menjawab pertanyaan penelitian memulai cara

berfikir formal dan argumentasi.45

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, penelitian meliputi untuk diuji

menjawab pertanyaan mengenai status terakhir dari subjek penelitian. Dimana

metode tersebut selanjutnya akan dilakukan untuk mengetahui permasalahan yng

menjadi tema dalam penelitian dan data-data hasil survey tersebut lalu akan dikenai

pendekatan kualitatif berbentuk deskriptif yang akan menjelaskan dan menjawab

rumusan masalah.

B. Kehadiran Peneliti

Dalam penelitian ini, peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain

merupakan alat pengumpul data utama. Kehadiran peneliti mutlak diperlukan,

karena hanya manusia sebagai alat yang dapat berhubungan dengan responden

atau objek lainnya, dan hanya manusialah yang mampu mememahami kaitan

45
Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif Dan R&D (Bandung: Alfabeta,2010), Hlm:8

51
kenyataan-kenyataan di lapangan. Oleh karena itu pada waktu pengumpulan data

di lapangan, peneliti berperan serta pada objek penelitian dan mengikuti secara

aktif kegiatan-kegiatan di lapangan46.

Kedudukan peneliti dalam penelitian kualitatif cukup rumit. Peneliti

merupakan perencana, pelaksana pengumpulan data, analisis, penafsir data, dan

pada akhirnya peneliti sebagai pelapor hasilnya.

C. Sumber Data

Data yang diperlukan dalam penelitian ini bersifat kualitatif. Data data

kualitatif berupa profil usaha serta data-data untuk keperluan analisis aspek

pemasaran. Sumber data dalam penelitian ini adalah subjek darimana data dapat

diperoleh.47 Sumber data dalam penelitian digolongkan menjadi data primer dan

data sekunder yang diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Data primer

Data primer adalah Data yang diperoleh langsung dari subyek penelitian

dengan menggunakan alat pengukuran atau alat pengambil data langsung pada

subyek sebagai sumber informasi yang dicari. Data yang dikumpulkan langsung dari

pihak-pihak terkait guna memperoleh informasi yang berhubungan dengan

kelayakan bisnis ritel di Dalwa Mart. Data tersebut berupa wawancara dengan

pemilik maupun dengan pengelola usaha serta pihak-pihak yang terkait dalam

penelitian ini.

47
Ibid, hlm. 9

52
2. Data sekunder

Data sekunder adalah Data yang diperoleh dari pihak lain, tidak langsung

diperoleh oleh peneliti dari subyek penelitiannya. Dalam penelitian ini data

sekunder yang digunakan berasal dari sumber, yaitu buku yang berkait dengan

masalah yang diteliti dan sumber lain yang berkaitan dengan judul skripsi yang

dimaksud.48

D. Teknik Pengumpulan Data

1. Observasi

Observasi adalah sebuah kegiatan yang terencana dan terfokus untuk melihat

dan mencatat serangkaian perilaku ataupun jalannya sebuah sistem yang memiliki

tujuan tertentu. Metode pengamatan menuntut adanya pengamatan dari seseorang

peneliti, baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap objek yang diteliti

dengan menggunakan instrument yang berupa pedoman penelitian dalam bentuk

lembar pengamatan atau lainnya. Peneliti akan mengadakan observasi mengenai

alokasi perusahaan, pengetahuan dan perkembangan perusahaan.

2. Wawancara

Wawancara adalah proses tanya jawab antara interview dengan narasumber

untuk bertukar informasi dan ide, sehingga interview dapat mengetahui hal-hal yang

terkait dengan penelitian secara lebih akurat dan mendalam.49 Wawancara adalah

48
Rony Kountur, Metode Penelitian, (Jakarta, Bumi Aksara,2005). Hlm:42
49
Iqbal Hasan, Analisis Data Penelitian dengan Statistik, (Jakarta,PT Bumi Aksara,2004).
Hlm:56

53
teknik pengumpulan data dengan cara mengajukan beberapa pertanyaan baik lisan

maupun tulisan kepada pihak- pihak yang terkait di Dalwa Mart guna memperoleh

keterangan sesuai dengan topik yang dibahas.

E. Teknis Analisis Data

Analisis data merupakan upaya mencari dan menata secara sistematis

serakan data yang terkumpul, supaya data yang tercecer mudah dipahami dan enak

dinikmati sebagai temuan yang dirasakan orang lain. Dalam melakukan analisis data

peneliti akan menggunakan metode deskriptif, yakni mendeskripsikan data yang

diperoleh melalui sumber dan data sekunder. Penelitian ini disebut dengan

penelitian deskriptif kualitatif yang tidak hanya menggambarkan akan tetapi juga

menjelaskan tingkat status fenomena.

54

Anda mungkin juga menyukai