Anda di halaman 1dari 2

Nama : Muhammad Fahriza

NPM : 1806263496
Pembimbing : Dr. dr. Mohamad Saekhu, SpBS(K)

1. Dasar diagnosis hidrosefalus pada kasus ini


Tanda dan gejala hidrosefalus pada dandy walker termasuk di dalamnya ukuran kepala besar,
lingkar kepala bertambah dengan cepat, penurunan kesadaran, dengan ditemui tanda sunset
eye appearance, fossa posterior besar dengan gambaran plati basi, kejang, spastisitas,
kelemahan ekstremitas, perkembangan terlambat, gagal napas, apnea, papil edema. Anak-
anak yang lebih tua mungkin muncul serupa dengan pasien dengan tumor fossa posterior, dan
gejala mungkin termasuk nistagmus dan ataksia. Banyak malformasi dijelaskan dalam
literatur terkait dengan DWS dan variannya. Insiden terkait anomali di SSP bervariasi tetapi
telah dilaporkan setinggi 68%, dengan kelainan sistemik hadir pada sekitar seperempat
pasien. Kelainan SSP yang paling sering terkait adalah agenesis korpus kalosum, sedangkan
sistemik, hemangioma kapiler dan cacat jantung merupakan asosiasi yang paling sering
terjadi

Pada pasien ini ditemukan adanya gejala ukuran kepala yang besar dan pertambahan
lingkar kepala yang cepat, pada pemeriksaan fisis didapatkan lingkar kepala 51 cm
(>2SD), ubun-ubun tegang, frontal bosing, pada radiologis ditemukan adanya
pelebaran system ventrikel dengan evans ratio 4,6. Dan didapatkan adanya gambaran
agenesis vermis yang menandakan adanya gambaran dandy walker

2. Bagaimana pemilihan VP shunt device


Pemilihan shunt device dapat didasarkan dari usia, ketersediaan device, penyebab
hidrosefalus, keadaan hidrodinamik. Namun pada prinsipnya berdasarkan penelitian
seluruh pasien dengan hidrosefalus dapat cocok dengan segala jenis device shunt
karena ventrikel dan juga otak akan beradaptasi dengan jenis device yang ada, dan
kegagalan atau malfungsi shunt tidak dikarenakan adanya mismatched dari valve,
namun karena oklusi dari drain ventrikular

3. Bagaimana mencegah rejeksi dan infeksi


Persiapan pre operasi, ketahui faktor risiko pasien yang dapat menyebabkan infeksi
ataupun rejeksi (Infeksi berulang, riwayat autoimunitas, gizi buruk), penggunaan
antibiotic profilaksis, intra operasi dengan asepsis dan antisepsis yang baik,
penggunaan no hand techniques, menyentuh hanya dengan instrumentasi operasi
steril, dan dianjurkan mengganti sarung tangan saat insersi shunt. Pasca operasi,
dilakukan observasi tanda-tanda infeksi maupun rejeksi, pemeriksaan marker infeksi
pasca operasi hingga dengan pemberian steroid jika diperlukan