Anda di halaman 1dari 30

BAB 1 PENDAHULUAN A.

LATAR BELAKANG Hingga saat ini penyakit herpes simpleks menjadi salah satu penyakit menular yang sering dijumpai di masyarakat. Hal ini semakin meningkat di picu oleh beberapa faktor diantaranya rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai penyakit herpes simplek itu sendiri dan rendahnya tingkat konsep kebersihan masing-masing individu. Dan kebanyakan individu mengalami gangguan psikologi dan psikososial sebagai akibat dari nyeri yang timbul serta gejala lain yang menyertai ketika terjadi infeksi aktif. Sampai saat ini penyakit herpes simpleks tidak dapat disembuhkan serta bersifat kambuhkambuhan maka terapi sekarang di fokuskan untuk menurunkan gejala yang timbul, meningkatkan pengetahuan mengenai herpes simpleks, menjarangkan kekambuhan serta menekan angka penularan sehingga diharapkan kualitas hidup dari masyarakat dan penderita menjadi lebih baik setelah dilakukan penangan dengan tepat.
B. BATASAN TOPIK

1. Konsep Herpes Simpleks a. Definisi b. Etiologi c. Patofisiologi d. Manifestasi klinis e. Faktor resiko
f. Mekanisme penularan dan komplikasi

g. Pemeriksaan penunjang h. Penatalaksanaan medis 1. Asuhan keperawatan

BAB II PEMBAHASAN A. KONSEP HERPES SIMPLEKS 1. Definisi


a) Herpes simpleks adalah penyakit berbentuk lesi pada kulit di sebabkan

oleh HSV(herpes simpleks virus) yang menimbulakan infeksi akut dan di tandai dengan vesikel berkelompok pada kulit yang lembab (Sardjito, 2003)
b) Herpes simpleks adalah penyakit Infeksi akut oleh HSV(herpes simplek

virus / virus herpes hominis) tipe I dan tipe II yang di tandai dengan vesikel berkelompok pada kulit eritematosa pada daerah dekat mukokutan. Sedangkan infeksi berlangsung secara primer ataupun rekuren.(salvaggio, 2009)
c) Herpes simpleks adalah penyakit infeksi akut oleh HSV tipe I /II dan

biasanya di sebut juga sebagai fever blister,cold score, herpes febrilis, herpes labialis, herpes progenitalis. (kapita selekta kedokteran,2000) 1. Etiologi
a) Penyebab infeksi b) Klasifikasi virus Famili Subfamili Genus Spesies a) Jenis virus

: herpes simpleks virus tipe I / tipe II : : Herpesviridae : Alphaherpesvirinae : Simpleksvirus : Virus Herpes Simpleks Tipe 1 dan Virus Herpes Simpleks Tipe 2 : virus DNA beruntai-untai ganda (BM 85-106 106) berbentuk lurus

X
b) Fase transmisi c) Siklus hidup

: fase asimtomatis : replikasi dan inklusi secara intranuklear berlansung cepat memakan waktu 8-16 jam

khas
d) Lokasi dominan

HSV I : dominan pd lesi orofacial di temukan pda ganglia trigeminal


2

HSV II : dominan pd lesi daerah genital ditemukan pd ganglia lumboskral (smeltzer and Bare,2002) 1. Patofisiologi
Faktor Resiko Transmisi Virus lewat kontak langsung virus dgn mukosa Herpes Simplek Virus (HSV) yg berada dlm tubuh menginvasi sel melalui fusi langsung dngn membran sel pada infeksi primer Invasi sel host berkembang cepat dn menghncurkan sel serta melepaskan banyak virion untuk menginfeksi sel dsktrnya. Virus menyebar melaui saluran limfe ke kelenjar limfe regional dan menyebabkan limfe denopati Tubuh melakukan respon imun seluler dan humoral yg menahan infeksitapi tidak mencegah kekambuhan infeksi aktif Infeksi primer Muncul lesi herpes simplek Infeksi primer HSV, virus bereplikasi di Masa Laten virus orofaringeal dari saraf sensoris perifer ke ganglion trigeminal. Virus mempersarafi daerah terinfeksi,migrasi HSV dalam fase latent dalam ganglion trigeminal dan bersembunyi sepanjang akson di dalam ganglion radiks tanpa menimbulkan sitokinesis Bbg faktor memicu reaktivasi v.laten,dan turun dari saraf sensorik ke daerah bibir Masa rekuren asimtomatis HSV dlm fase latent dlm ganglion lumbosakral Bbg faktor memicu reaktivasi virus laten, kemudian turun dari saraf sensorik ke area genital Infeksi primer HSV, vrs bereplikasi di genital dan naik dari saraf sensoris perifer keganglion lumbosakral

2. Manifestasi klinis

Herpes simpleks tipe 1

(smeltzer and Bare,2002)


Herpes simpleks tipe 1 3

a) Masa inkubasi umunya berkisar antara 3-7 hari, tapi dapat lebih lama. b) Infeksi primer Berlangsung kira-kira 3 minggu dan sering disertai gejala sistemik, misalnya demam, malaise, anoreksia, dan dapat ditemukan pembengkakan kelenjar getah bening regional. Tempat predileksi VHS tipe 1 di daerah pinggang ke atas terutama di daerah mulut dan hidung, Tempat predileksi VHS tiper 2 di daerah pinggang ke bawah, terutama di daerah genital, juga dapat menyebabkan herpes meningitis dan infeksi neonatus. Cara hubungan seksual orogenital, dapat menyebabkan herpes pada daerah genital yang disebabkan oleh VHS tipe 1 atau di daerah mulut dan rongga mulut yang disebabkan VHS tipe 2. a) Fase laten Tidak ditemukan gejala klinism tetapi VHS dapat ditemukan dalam keadaan tidak aktif pada ganglion dorsalis. Penularan dapat terjadi pada fase ii, akibat pelepasan virus terus berlangsung meskipun dalam jumlah sedikit. b) Infeksi rekuren Reaktivasi VHS pada ganglion dorsalis mencapai klit sehingga menimbulkan gejala klinis. Dapat dipicu oleh trauma fisik. Obat-obatan, menstruasi, dan dapat pula timbul akibat jenis makan dan minuman yang merangsang. Gejala klinis yang timbul lebih ringan daripada infeksi primer dan berlangsung kira-kira 7-10 hari. Sering ditemukan gejala prodromal local sebelum timbul vesikel, berupa rasa panas, gatal, dan nyeri. Dapat timbul pada tempat yang sama(loco) atau tempat lain/temat disekitarnya (non loco). (Kapita selekta kedokteran, 2000) 1. Faktor resiko a) Usia b) Jenis kelamin c) Aktivitas atau kebiasaan seksual d) Kondisi immunology tubuh
4

e) Stress f) Galur laten virus yang di derita g) Sakit/kelelahan/luka kulit h) Paparan sinar UV/matahari i) Haid j) Riwayat keluarga yang menderita hal serupa
1. Mekanisme penularan dan komplikai

a) Mekanisme penularan Secara Horizontal Penularan cara ini adalah penularan lewat kontak lansung antara penderita dengan bukan penderita melalui kontak langsung luka dengan droplet penderita, air liur lewat ciuman dan melalui peralatan yang di gunakan penderita Secara vertical Penularan cara ini adalah penularan yang terjadi antara seorang ibu yang mengidap penyakit herpes genitalia dan bayinya saat proses persalinan. Dalm hal ini bayi kontak langsung dengan lesi herpes genitalia ibunya. Atau juga bisa lewat air ketuban. a) Komplikasi HSV-1 1. Gingivostomatitis herpetik akut Penyakit ini sering terjadi pada anak-anak kecil (usia 1-3 tahun) dan terdiri atas lesi-lesi vesikuloulseratif yang luas dari selaput lendir mulut, demam, lekas marah dan limfadenopati lokal. Masa inkubasi pendek(sekitar 3-5 hari) dan lesi-lesi menyembuh dalam 2-3 minggu. 2. Keratojungtivitis Suatu infeksi awal HSV-1 yang menyerang kornea mata dan dapat mengakibatkan kebutaan 3. Herpes Labialis Terjadi pengelompokan vesikel-vesikel lokal, biasanya pada perbatasan mukokutan bibir. Vesikel pecah, meninggalkan tukak yang rasanya sakit dan menyembuh tanpa jaringan parut.

Lesi-lesi dapat kambuh kembali secara berulang pada berbagai interval waktu. HSV-2 1. Herpes Genetalis Herpes genetalis ditandai oleh lesi-lesi vesikuloulseratif pada penis pria atau serviks, vulva, vagina, dan perineum wanita. Lesi terasa sangat nyeri dan diikuti dengan demam, malaise, disuria, dan limfadenopati inguinal. Infeksi herpes genetalis dapat mengalami kekambuhan dan beberapa kasus kekambuhan bersifat asimtomatik. Bersifat simtomatik ataupun asimtomatik, virus yang dikeluarkan dapat menularkan infeksi pada pasangan seksual seseorang yang telah terinfeksi. 2. Herpes neonatal Herpes neonatal merupakan infeksi HSV-2 pada bayi yang baru lahir. Virus HSV-2 ini ditularkan ke bayi baru lahir pada waktu kelahiran melalui kontak dengan lesi-lesi herpetik pada jalan lahir. Untuk menghindari infeksi, dilakukan persalinan melalui bedah caesar terhadap wanita hamil dengan lesi-lesi herpes genetalis. Infeksi herpesneonatal hampir selalu simtomatik. Dari kasus yang tidak diobati, angka kematian seluruhnya sebesar 50%. (Sardjito, 2003) 2. Pemeriksaan penunjang a) Tes Sitologi 1) Tzanck test 2) Pap smear Tes ini pengujinya dengan mengorek dari lesi herpes kemudian menggunakan pewarnaan werght dan giemsa. Pada pemeriksaan ditemukan sel raksasa khusus dengan banyak nucleus atau partikel khusus yang membawa virus (inklusi). Mengindikasikan infeksi herpes. Tes ini cepat dan akurat tapi tidak dapat membedakan antara herpes simplek dan herpes zoster a) Tes virology 1) Mikroskop cahaya
6

Sampel

berasal

dari

sel-sel

di

dasar

lesi,

apusan

padapermukaan mukosa, atau dari biopsi, mungkin ditemukan intranuklear inklusi (Lipschutz inclusion bodies).Sel-sel yang terinfeksi dapat menunjukkan sel yang membesar menyerupai balon (ballooning) dan ditemukan fusi. Pada percobaan Tzanck dengan pewarnaan Giemsa atau Wright, dapat ditemukan sel datia berinti banyak dan badan inklusi intranuklear. 2) Pemeriksaan antigen langsung (imunofluoresensi). Sel-sel dibekukan. dari spesimen dimasukkan pemeriksaan dalam aseton yang Kemudian dilakukan dengan

menggunakan cahaya elektron (90% sensitif, 90% spesifik) tetapi, pemeriksaan ini tidak dapat dicocokkan dengan kultur virus. 3) PCR Test reaksi rantai polimer untuk DNA HSV lebih sensitif dibandingkan kultur viral tradisional (sensitivitasnya >95 %, dibandingkan dengan kultur yang hanya 75 %). Tetapi penggunaannya dalam mendiagnosis infeksi HSV belum dilakukan secara reguler, kemungkinan besar karena biayanya yang mahal. Tes ini biasa digunakan untuk mendiagnosis ensefalitis HSV karena hasilnya yang lebih cepat dibandingkan kultur virus. 4) Kultur Virus Kultur virus dari cairan vesikel pada lesi (+) untuk HSV adalah cara yang paling baik karena paling sensitif dan spesifik dibanding dengan cara-cara lain. HSV dapat berkembang dalam 2 sampai 3 hari. Jika tes ini (+), hampir 100% akurat, khususnya jika cairan berasal dari vesikel primer daripada vesikel rekuren. Pertumbuhan virus dalam sel ditunjukkan dengan terjadinya granulasi sitoplasmik, degenerasi balon dan sel raksasa berinti banyak. Sejak virus sulit untuk berkembang, hasil tesnya sering (-). Namun cara ini memiliki kekurangan karena waktu pemeriksaan yang lama dan biaya yang mahal. a) Tes serologi Dapat menidentifikasikan antibody yang spesifik untuk virus dan jenis,herpes simplek virus 1(HSV 1) atau virus herpes simplek 2 (HSV 2). Ketika herpes virus menginfeksi seseorang, system kekebalan
7

tubuh tersebut menghasilkan antibody spesifik untuk melawan virus. Adanya antibody terhadap herpes menunjukkan bahwa seseornag adalah pembawa virus dan mungkin mengirimkan kepada orang lain. Es antibody terhadpa protein yang berbea yang berkaitan dengan virus herpes yaitu Glikoprotein GG-1 dikaitkan dengan HSV 1 dan Glikoprotein GG-2 behubungan dengan HSV 2. Meskipun glikoprotei (GG) jenis tes spesifik telah tersedia sejak tahun 1999, banyak tes khusus non tipe tua masih di pasar. CDC merekomendasikan hanya tipe spesifik GG tes untuk diagnose herpes. Pemeriksaan serologi yang paling akurat bila diberikan 12-16 minggu setelah terpapar virus. Fitur tes meliputi: 1) ELISA Dasar dari pemeriksaan ELISA adalah adanya ikatan antara antigen dan antibodi, dimana antigen berasal dari suatu konjugat igG dan antibodi berasal dari serum spesimen. Setelah spesimen dicuci untuk membersihkan sample dari material (HRP) kemudian diberi label antibodi IgG konjugat. Konjugat ini dapat mengikat antibodi spesifik HSV-II. komplek imun dibentuk oleh ikatan konjugat yang ditambah dengan Tetramethylbenzidine (TMB) yang akan memberikan reaksi berwarna biru. Asam sulfur ditambahkan untuk menghentikan reaksi yang akan memberikan reaksi warna kuning. Pembacaan reaksi dilakukan dengan mikrowell plate reader ELISA dengan panjang gelombang 450 nm. Interpretasi hasil: Jika terdapat antibodi HSV-II berarti pernah terinfeksi HSV-II, virus dorman didalam nervus sakralis dan pasien sedang menderita herpes genitalis. Jika antibodi HSV-II tidak ada berarti 95-98% anda tidak menderita herpes genital kecuali anda baru saja terinfeksi HSV-II karena antibodi baru akan terbentuk 6 minggu kemudian, bahkan ada beberapa individu (1 diantara 5) baru mampu membentuk antibodi tersebut setelah 6 bulan, oleh karena itu lebih baik mengulang pemeriksaan 6-8 minggu kemudian.

Jika terdapat antibodi HSV-I berarti anda mengalami infeksi HSVI. Antibodi ini tidak bisa mendeteksi virus yang dorman. Pada sebagian besar orang (>90%) virus berada dalam syaraf mulut dan mata. Beberapa orang yang mempunyai infeksi HSV-I pada genital dapat mempunyai antibodi dari infeksi HSV-I pada daerah genital.

Jika tidak terdapat antibodi HSV-I dan HSV-II, berarti anda tidak terinfeksi HSV-I maupun HSV-II tetapi suatu ketika anda mungkin dapat terinfeksi. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa anda baru saja terinfeksi tetapi belum terbentuk antibodi.

Pada infeksi primer, antibodi HSV-I dan II dapat terdeteksi pada hari-hari awal setelah onset dari penyakit. Serokonversi terhadap kandungan antibodi Ig M dan IgG diperlukan sebagai deteksi adanya infeksi primer, sebagai tambahan antibodi IgA spesifik juga dapat terdeteksi mengikuti terbentuknya antibodi IgM dan IgG. Ketika infeksi berjalan, antibodi IgM dan IgA belum terdeteksi beberapa minggu-bulan ketika individu tersebut telah mempunyai antibodi IgG yang menetap dalam tubuhnya untuk seumur hidup dan dalam titer yang tinggi (gambar A). Pola serologis yang lain membuktikan kandungan IgG, IgM dan IgA pada kasus reaktivasi dari infeksi laten atau periode reinfeksi (gambar B). Sebagian besar serum sampel diambil dalam waktu 7-10 hari setelah terinfeksi menunjukkan peningkatan antibodi IgG yang signifikan. Peningkatan kadar antibodi IgA juga sering ditemui, peningkatan serokonversi IgA pada kasus dimana juga terjadi peningkatan kadar IgG menunjukkan bahwa serum sampel secara serologik terinfeksi HSV

1) Biokit HSV Tes ini mendeteksiHSV-2 adalah bahwa murah. 2) Western Blot Test hanya membutuhkan tusukan jari dan hasil yang disediakan dalam waktu kurang dari 10 menit. Halini juga lebih saja. Keunggulan utamanya

Western Blot test merupakan test yang sangat akurat untuk mendeteksi HSV, namun harganya lebih mahal dibandingkan testes yang lain dan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengintepresentasikannya. Test ini merupakan metoda gold standard dalam pemeriksaan antibodi. Tes ini hanya digunakan sebagai referensi dan konfirmasi apabila tes dengan ELISA menunjukkan hasil yang meragukan. Test ini memiliki ketelitian untuk menyimpulkan secara spesifik bahwa sample benar-benar mengandung antibodi terhadap protein tertentu dari virus. a) Herpes virus antigen deteksi Sel-sel dari jaringan luka diambil dan kemudian diusapkan pada permukaan mikroskop untuk diteliti. Tes ini menemukan tanda-tanda (yang disebut antigen) pada permukaan sel yang terinfeksi oleh virus herpes.

1. Penatalaksanaan medis a) Terapi medik 1) Oral a) Indikasi dan dosis Acyclovir menghambat aktivitas HSV 1 dan HSV-2. Pasien mengalami rasa sakit yang lebih kurang dan resolusi yang lebih cepat dari lesi kulit bila digunakan dalam waktu 48 jam dari onset ruam. Mungkin dapat mencegah rekurensi. Infeksi Primer HSV: 200 mg peroral 5 kali/hari untuk 10 hari atau 5 mg/kg/hari IV setiap 8 jam. Herpes oral atau genital rekuren : 200 mg peroral 5 kali/hari untuk 5 hari (non-FDA : 400 mg peroral 3 kali/hari untuk 5 hari) Supresi herpes genital : 400 mg peroral 2 kali/hari Disseminated disease: 5-10 mg/kg IV setiap 8 jam untuk 7 hari jika >12 tahun. Famciclovir Herpes labialis rekuren : 1500 mg peroral saat onset gejala. dosis tunggal pada

10

Episode primer herpes Genitalis :250 mg peroral selama10 hari

3 kali/hari

Episode primer herpes Genitalis :1000 mg peroral setiap 12 jam selama 24 jam pada saat onst gejala (dalam 6 hari gejala pertama)

Supressi jangka panjang: 250 mg peroral 2kali/hari HIV-positive individuals dengan infeksi HSV orolabial atau genital rekuren : 500 mg peroral 2 kali/hari untuk 7 hari (sesuaikan dosis untuk insufisiensi ginjal)

Supresi herpes simplex genital rekuren (pasien terinfeksi HIV): 500 mg peroral 2 kali/hari

Valacyclovir Herpes labialis: 2000 mg peroral setiap 12 jam selama 24 jam (harus diberikan pada gejala pertama/prodromal) Genital herpes, episode primer: 1000 mg peroral 2kali/hari selama 10 hari. Herpes genital rekuren: 500 mg peroral 2 kali/hari selama 3 hari. Suppressi herpes Genital (9 atau lebih rekurensi per tahun atau HIV-positif): 500 mg peroral 1 kali/hari. Herpes simplex genital rekuren , suppressi( pasien terinfeksi HIV): 500 mg peroral 2kali/hari, jika >9 rekurensi pertahun : 1000 mg peroral peroral 1 kali/hari. Foscarnet HSV resisten Acyclovir: 40 mg/kg IV setiap 8-10 jam selama 1021 hari Mucocutaneous, resisten acyclovir: 40 mg/kg IV, selama 1 jam, setiap 8-12 jam selama 2-3 minggu atau hingga sembuh. a) Efek samping obat oral : Pada sistem saraf pusat dilaporakan terjadi malaise (perasaan tidak nyaman) sekitar 12% dan sakit kepala (2%).pada system pencernaan (gastrointestinal) dilaporkan terjadi mual (2-5%), muntah (3%) dan diare (2-3%).
11

(McEvoy, G.K,2004)
1) Antiviral 2) Topical

: Acyclovir :

a) Indikasi dan dosis Penciclovir krim 1% (tiap 2 jam selama 4 hari) atau Acyclovir krim 5% (5 kali sehari selama 5 hari). Idealnya, krim ini digunakan 1 jam setelah munculnya gejala, meskipun juga pemberian yang terlambat juga dilaporkan masih efektif dalam mengurangi gejala serta membatasi perluasan daerah lesi. b) efek samping Nyeri ringan termasuk rasa terbakar sementara dan rasa yang menyengat. Reaksi lokal termasuk pruritus, rash, vulvitis, dan edema. a) Terapi nonmedik Memberikan pendidikan kepada pasien denga menjelaskan halhal sebagai berikut:

Bahaya PMS dan komplikasinya Pentingnya mematuhi pengobatan yang diberikan Cara penularan PMS dan perlunya pengobatan untuk pasangan seks tetapnya Hindari hubungan seksual sebelum sembuh , dan memakai kondom jika tak dapat menghindari lagi Cara cara menghindari infeksi PMS di masa dating berlangsung lebih singkat dan rekurens lebih panjang.

(Rakel, David.,2003)
A. ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian A. Identitas Klien Nama Usia Jenis kelamin Status pernikahan Sumber informasi B. Status kesehatan Saat Ini
12

: Nyonya x :27 tahun :Perempuan :Kawin :Suami klien

Nama klg. dekat yg bisa dihubungi :Bapak x

1. Keluhan utama:

Timbul gelembung kecil Terasa panas Gatal Nyeri Bengkak di sekitar bibir

2. Lama keluhan :3 hari 3. Diagnosa medis

:Herpes simplek

A. Riwayat Kesehatan Saat Ini 1. P: Provokatif/ Paliatif a. Faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya keluhan? virus b. Faktor apa yang memperparah atau memperingankan keluhan? 2. Q: Quality/quantity a. Bagaimana yang di rasakan sekarang, lebih parah atau lebih ringan dari yang di rasakan sebelumnya? 3. R: Regio a. Bila ada nyeri, bagian mana yang di rasakan? 4. S: Saverity a. Bagaimana pengaruhnya terhadap aktivitas? 5. T: Time a. Mulai kapan keluhan itu muncul? 3 hari yang lalu b. Seberapa sering keluhan itu muncul? c. Berapa lama keluhan tersebut muncul? A. Riwayat Kesehatan Terdahulu B. Riwayat Keluarga
2

minggu yang lalu suami Nyonya x mengalami hal yang sama

C. Riwayat Lingkungan D. Pola Aktifitas-Latihan E. Pola Nutrisi Metabolik Rumah Sakit


13

Rumah

Napsu makan

Napsu baik

Malas makan

A. Pola Eliminasi B. Pola Tidur-Istirahat C. Pola Kebersihan Diri D. Pola Toleransi-Koping Stres E. Konsep Diri 1. Gambaran diri:Klien jadi kurang percaya diri karena disekitar bibirnya bengkak A. Pola Peran & Hubungan 1. Peran dalam keluarga : istri 2. Sistem pendukung:suami A. Pola Komunikasi
1. Bicara:

( ) Normal

( )Bahasa () Sendiri

utama:indonesia
2. Tempat tinggal:

A. Pola Seksualitas B. Pola Nilai & Kepercayaan C. Pemeriksaan Fisik 1. Keadaan Umum: Timbul gelembung kecil yang terasa panas, nyeri, gatal, dan 3 hari yang lalu pasien merasa demam
Kesadaran: Sadar Tanda-tanda vital:

- Tekanan darah :120/80 mmHg - Nadi 2. Kepala & Leher Mulut & tenggorokan: Eritema dan inflamasi di sekitar bibir Kulit & Kuku Kulit: terasa nyeri, nyeri tekan (+) A. Hasil Pemeriksaan Penunjang TERLAMPIR Tzanck tes (+) B. Terapi Paracetamol 500 mg :102 x/meni

- Suhu :38oC - RR :20 x/menit

14

Acyclovir 200 mg C. Persepsi Klien Terhadap Penyakitnya D. Kesimpulan Klien Nyonya x didiagnosa terkena herpes simplek yang disebabkan oleh HSV-1. Diperkirakan tertular dari suami klien (Bapak x) E. Perencanaan Pulang 2. Pengelompokan data Data subyektif : 1. Klien mengeluh timbul gelembung gelembung kecil dan gatal 2. Klien mengeluh nyeri dan bengkak di sekitar bibir 3. Klien mengeluh 3 hari mengalami demam 4. Klien mengeluh malas makan Data obyektif : 1. Timbul vesikel berkelompok 2. Timbul eritema dan inflamasi di sekitar bibir 3. Nyeri tekan 4. TTV : Tekanan darah Nadi RR suhu : 38 C : 120/80 mmHG : 20x/mnt, : 102 x/mnt

1. Analisa data DATA ETIOLOGI MASALAH KEPERAWATAN DS 1. 2. 3. Faktor resiko Transmisi virus dengan kontak langsung Kerusakan integritas kulit

15

DO : 1. 2.

Gejala sistemik Infeksi primer muncul 3. Papul-papul eritematosa berkelompok berisi cairan Pustul di kulit Berkembang ulkusulkus nyeri Kerusakan integritas kulit

Tekanan darah : 120/80 mmHG Nadi : 102 x/mnt RR : 20x/mnt, suhu: 38 C

DS 1.

Infeksi primer Menginfeksi dan

Nyeri akut

DO 1. 2. Tekanan darah : 120/80 mmHG Nadi : 102 x/mnt RR : 20x/mnt, suhu : 38 C

memfagosit sel penjamu Infeksi oleh virion Papul eritematosa berisi cairan
16

Pustul di kulit Ulkus nyeri Nyeri akut DS 1. 2. Transmisi virus kontak langsung Gejala sistemik DO 1. Timbul vesikel berkelompok 2. Timbul eritema dan inflamasi di sekitar bibir TTV : Tekanan darah : 120/80 mmHG Nadi : 102 x/mnt RR : 20x/mnt, suhu : 38 C Infeksi primer Papul eritematosa berisi cairan Pustul dikulit Ulkus nyeri di bibir Malas makan Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

DS 1. K l Infeksi primer Resiko infeksi

17

i e n m e n g e l u h t i m b u l g e l e m b u n g g e l e

Invasi dan fagosit sel penjamu/host Infeksi virion Respon imun dan humoral infeksi Resiko infeksi

18

m b u n g k e c i l d a n g a t a l 2. K l i e n m e n g e l u h

19

n y e r i d a n b e n g k a k d i s e k i t a r b i b i r 3. K l i
20

e n m e n g e l u h 3 h a r i m e n g a l a m i d e m a m DO 1.

21

2.

3. Tekanan darah : 120/80 mmHG Nadi : 102 x/mnt RR : 20x/mnt, suhu: 38 C

1. Diagnosa keperawatan 1. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan Defisit imunologi 2. Nyeri akut berhubungan dengan Agen injury 3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan pemasukan / mengarbsobsi zat 4. Resiko infeksi berhubungan dengan imunosupresi 1. Rencana keperawatan 1. Kerusakan integritas kuli berhubungan dengan deficit immunology Tujuan ukuran lesi Kriteria hasil : 1. Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan 2. Tidak ada luka/ lesi pada kulit 3. Perfusi jaringan baik 4. Menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya cedera berulang 5. Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembapan kulit dan perawatan alami INTERVENSI KEPERAWATAN :
22

: meningkatkan integritas kulit dengan menurunkan

INTERVENSI Kaji letak kerusakan integritas kulit

RASIONAL memberikan data dasar untu mengakaji kondisi kulit

Berikan tindakan yang tepat untuk kontrol infeksi

Menurunkan resiko adanya perluasan infeksi atau area peradangan

Mengakaji lesi, ada atau tidaknya jaringan yang mati atau exudat Membersihkan luka dengan prosedur yang di anjurkan

Menandai munculnya daerah penyembuhan dan infeksi Pembersihan membantu mempercepat granulasi yang sehat dalam proses penyembuhan Mengontrol pertumbuhan bakteri, membantu mempercepat meningkatkan pemulihan integritas kulit,sebagai efek perlindungan,menurunkan inflamasi dan area infeksi berlanjut. Area yang menglami peradangan perlu dijaga kondisi kebersihannya untuk menghindari perluasan area infeksi

Menerapakan agen topical yang diresepkan untuk lesi dan luka sesuai dosis dan aturan pakai Beri penjelasan klien untuk menjaga kebersihan tangan dan tubuh terutama pada lokasi peradangan

2. Nyeri akut berhubungan dengan agen injury Tujuan : pasien akan merasa nyaman dan terbebas dari nyeri Kriteria hasil : 1. Mampu kontrol nyeri. 2. Nyeri berkurang 3. Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri) 4. Kenyamanan meningkat
23

5. Tanda vital dan psikologi kembali normal. INTERVENSI KEPERAWATAN INTERVENSI Kaji letak nyeri, karakterisitik,kualitas dan beratnya disekitar vesikel RASIONAL Memberikan dasar untuk mengkaji perubahan pada tingkat nyeri dan evaluasi intervensi

Kaji persepi nyeri klien sejalan dengan kebiasaan dan ekspresi terhadap nyeri (menggunakan skala wajah) Catat kemungkinan patofisiologi dan psikologi penyebab nyeri (seperti inflamasi,trauma jaringan, infeksi,cemas,depresi dan kelainan pribadi ) Bantu relakasi untuk mengurangi rasa nyeri

Persepsi nyeri klien dan ekspresi nyeri di pengaruhi oleh umur, tahap perkembangan, penyebab nyeri, faktor kognitif dan kebiasaan Nyeri akut pada herpes biasanya diikuti oleh luka, trauma, atau prosedur pembedahan, dan mungkin juga di sebabkan oleh infeksi dan di picu oleh faktor psikologi. Realksasi merupakan upaya merilekskan otot-otot yang kaku

Pemberian analgesic

Penggunaan agen-agen farmakologi unuk mengurangi atau menghilangkan nyeri

Pantau TTV sebelum dan sesudah pemberian analgesic

secara farmakologis analgesic cenderung lebih efektif untuk menghambat stimulus nyeriditerima oleh pusat saraf

Cek adanya riwayat alergi obat

Alergi obat mempengaruhi tingkat kesakitan klien dengan berbagai respon klien

24

Evaluasi Respon klien

untuk mengetahui bagaimana reaksi setelah dilakukan beberapa intervensi&implementasi sebelumnya

3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan pemasukan / mengarbsobsi zat Tujuan Kriteria Hasil : 1. Adanya peningkatan BB sesuai tujuan 2. BB ideal sesuai TB 3. Mampu mengidentifikasi kebutuhan dasar nutrisi 4. Tak ada tanda malnutrisi 5. Tidak terjadi penurunan BB yang berararti INTERVENSI KEPERAWATAN INTERVENSI RASIONAL : meningkatkan status nutrisi terkait pemasukan makanan dan cairan

Mengkaji pengibatan yang benar Memperbaiki pemasukan dan nutrisi atau mengontrol faktor penunjang penyebabnya.

Memberikan secara oral

agen

anti

fungal Mengobati lesi ketaneus di mulut yang membatasi nafsu makan kemampuan klien atau

Mengobati nyeri dan manajeman Meningkatkan kenyamanan pisikal dan efek obat nafsu makan

Konsultasi terapi

Mengidentifikasi alat yang sesuai untuk memfasilitasi makan kemandirian dalam

25

Mengembangkan yang

klien

dengan Program termasuk kebiasaan makan, anoresia

ini

digunakan maladaptive klien bulimia

untuk dalam dengan dan

membuat program terapi nutrisi mengubah terstruktur, periode dokumentasi

makan dan

membuat makan blender yang ketidakcukupan kalori yang masuk tidak bisa dimakan

1. Resiko infeksi berhubungan dengan imunosupresi Tujuan : mengetahui lebih dini factor resiko untuk melakukan perlindungan dan control infeksi. Kriteria Hasil : 1. Klien bebas dari tanda gejala infeksi 2. Mendeskripsikan proses penularan, factor yang mempengaruhi penularan serta penatalaksanaannya. 3. Menunjukkan kemampuan unutk mencegah timbulnya infeksi 4. Menunjukkan perilaku hidup sehat INTERVENSI KEPERAWATAN INTERVENSI RASIONAL

Mengkaji ada tidaknya faktor yang Balita atau lebih tua lebih rentan mempengaruhi system imun Umur yang ekstrem Adanya penyakit yang mendasari terhadap penyakit dan infeksi daripada populasi pada umunya Klien mempunyai penyakit yang di pengaruhi langsung aleh system imun / dapat yang karena kelemahan akibat penyakit yang kronis Gaya Hidup Kebiasaan seperti, tanpa personal/kondisi sharing pelindung hidup

personal, meningkatkan

penggunaan obat IV, hubungan sex kerentanan infeksi Status Nutrisi Malnutrisi melemahkan sistem imun
26

menaikkan menyediakan pathogen Trauma Hilangnya

level

serum media

glukosa tumbuh

kulit

atau

intregitas

membrane mukosa/prosedur invasi adalah jalur masuk pathogen Pengobatan yang benar Steroid, langsung kemoterapeutik system agen imun.

Penggunaaan terapi obat antibiotik terlalu lama dapat menghilangkan flora normal tubuh dan meningkatkan kerentanan organism resisten Ada atau tidaknya Imunitas Imun sebagai antibody penyakit imunisasi secara unutk khusus, dapat alami agen dihasilkan spesifik

sebagai

pengembangan

pengikut infeksi, perlindungan dari mengaktifkan mencegah

berhubungan dengan penyakit Observasi kulit / Jaringan Luka Kemerahan, nyeri, kehangatan,

bengkak, garis merah adalah gejala perkembangan lokasi infeksi yang menyebabkan implikasi sistematik jika pengobatan ditunda Mengkaji dan Hubungan langsung meningkatkan tulang berlokasi terhadap di infeksi tulang yang yang

mendokumentasikan kondisis kulit

mengisyaratkan osteomyelitis tulang rapuh, dan menunda pengobatan terbatas Catat demam yang terjadi, Gejala dan tanda dasi sepsis pengibatan medis yang intensive dan mengevaluasi unutk sumber infeksi
27

kedinginan,

diaphoresis, (sistemin infeksi), mewajibkan

meningkatkan level kesadaran

dan pathogen spesifik

BAB III RINGKASAN Herpes simplek merupakan sebuah penyakit pada lesi pada kulit yang disebabkan oleh herpes simpleks virus (HSV). HSV terdiri dari dua jenis yaitu HSV-1 dan HSV-2. Pada umumnya HSV-1 dominan lesi pada orofacial dan HSV-2 dominan pada lesi genitalia. HSV menginfeksi seseorang melalui kontak lansung luka dengan mukosa penderita yang menyimpan HSV dalam tubuhnya. Selanjutnya virus akan menginfeksi host dengan melalu bebapa fase yaitu fase infeksi primer, fase laten, fase rekuren dan fase asimtomatis. Dari infeksi virus tersebut tubuh penderita akan melakukan respon imun dan menghasilkan gejala-gejala penyakit herpes simplek, pada umumnya gejala pada kulit penderita pada mulanya akan muncul papul eritematosa berisi cairan kemudian akan berubah menjadi pustule dan yang terakhir akan berubah menjadi ulkus nyeri disertai inflamsi.
28

Tes penunjang untuk herpes simplek ada banyak jenisnya. Tes tersebut diantaranya tes sitologi yang terdiri dari tzanck tes dan papsmear, tes virology yang terdiri dari mikroskopik cahya, imunoflouresensi, PCR, dan kultur virus, tes serologi terdiri dari tes ELISA,biokit HSV dan western blot tes dan tes yang terakhir herpes virus antigen deteksi. Pengobatan herpes virus dapat di berikan secara oral, antiviral dan topical. Obat yang diberikan secara oral diantaranya acyclovir, famcyclovir, valacyclovir dan foscarnet, secara antiviral acyclovir dan secara topical yang diberikan adalah obat krim acyclovir dan pancyclovir.

DAFTAR PUSTAKA Arenes, Roberto. 2001. Herpes Simplek/Athous Ulcer, in : Arenes R, Etroda R. editor: Topical I Dermatologi USA Jawet E. et al. 1984. Mikrobiologi unutk profesi kesehatan edisi 16, ECG. Penerbit : Buku kedokteran Jakarta Sardjito. R. Hep, esvind. 2003. dlm buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran. Bina Rupa Aksara : Jakarta Salvaggia.N.R.HS.2009.diakses tanggal(9 juni2010).http://emedicine.medscape.com Madkan V.Sra.K.dkk.Human Herpes Simpleks Virus in:Bolognia JL.Jarizzo.JL,Rapini RP,editors.Dermatology.2nd.London:Mosby.Elsevier.2008

29

Doenges,Marilyne.2010.Rencana Asuhan Keperawatan.Ed.3.Jakarta:EGC Smeltzer and Bare.2002.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.Ed.8.Vol.3. Jakarta:EGC McEvoy, G.K.,2004, AHFS Drug Information,American Society Of Health_Systen Pharmacists, Inc.,USA Rakel, David.,2003,Integrative Medicine, 1st Edition, Elsevier Science, USA

30