Anda di halaman 1dari 26

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA TEORITIS, DAN

PENGEMBANGAN HIPOTESIS

2.1 Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka akan menjelaskan beberapa teori, hasil penelitian

terdahulu, dan publikasi umum yang relevan dengan variabel-variabel penelitian.

Kajian pustaka yang dikemukakan adalah sebagai berikut:

2.1.1 Teori Agensi (Agency Theory)

Teori agensi menggambarkan perusahaan sebagai suatu titik temu antara

pemilik perusahaan (principal) dengan manajemen (agent). Jensen dan Meckling

(1976) menyatakan bahwa hubungan keagenan merupakan sebuah kontrak yang

terjadi antara manajer (agent) dengan pemilik perusahaan (principal). Wewenang

dan tanggung jawab agent maupun principal diatur dalam kontrak kerja atas

persetujuan bersama. Jensen dan Meckling (1976) dikutip dari Waryanto (2010)

menjelaskan adanya konflik kepentingan dalam hubungan keagenan. Terjadinya

konflik kepentingan antara pemilik dan agen karena kemungkinan agen bertindak

tidak sesuai dengan kepentingan prinsipal, sehingga memicu biaya keagenan

(agency cost). Pada teori agensi juga dijelaskan mengenai masalah asimetri

informasi (information asymmetry). Asimetri informasi antara manajemen (agent)

dengan pemilik (principal) dapat memberikan kesempatan kepada manajer untuk

melakukan tindakan oportunis seperti manajemen laba (earnings management)

1
mengenai kinerja ekonomi perusahaan sehingga dapat merugikan pemilik

(pemegang saham).Berdasarkan teori agensi, perusahaan yang menghadapi biaya

pengawasan dan biaya kontrak yang rendah cenderung akan melaporkan

laba bersih rendah atau dengan kata lain akan mengeluarkan biaya-biaya untuk

kepentingan manajemen salah satunya biaya yang dapat meningkatkan reputasi

perusahaan di mata masyarakat. Kemudian sebagai wujud pertanggungjawaban,

manajer sebagai agen akan berusaha memenuhi seluruh keinginan pihak prinsipal

dengan melakukan corporate environmental disclosure sebagai tindakan CSR.

Sun et al. (2010) menyatakan bahwa corporate environmental disclosure

merupakan sinyal yang dapat mengalihkan perhatian pemegang saham dari

pengawasan manipulasi laba atau isu- isu lainnya dan sebagai hasilnya harga

saham di pasar modal akan meningkat seiring meningkatnya kepercayaan

pemegang saham terhadap transparansi informasi yang diungkapkan oleh

perusahaan.

2.1.2. Pengertian Corporate Social Responsibility (CSR)

Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan komitmen perusahaan

untuk meningkatkan kesejahteraan komunitas atau masyarakat sekitar melalui

praktik bisnis yang baik dan mengkontribusikan sebagian sumber daya

perusahaan. Kotler dan Lee, (2005:3), Corporate Social Responsibility (CSR) atau

tanggung jawab sosial perusahaan didefinisikan sebagai komitmen bisnis untuk

memberikan kontribusi bagi pembangunan ekonomi berkelanjutan, melalui kerja

sama dengan para karyawan serta perwakilan mereka, keluarga mereka,

komunitas setempat maupun masyarakat umum untuk meningkatkan kualitas

2
kehidupan dengan cara yang bermanfaat baik bagi bisnis sendiri maupun bagi

pembangunan Ramadhani, (2012).

Pandangan yang lebih luas ini telah menjadi sumber utama kemajuan dala

m pemahaman tentang pengungkapan CSR dan sekaligus merupakan sumber kriti

k yang utama terhadap pengungkapan CSR perusahaan. Namun dalam pengungka

pan tanggung jawab sosial perusahaan pada masyarakat ini terjadi pro dan kontra,

ada yang mendukung pengungkapan CSR ini dan disisi lain ada pula yang menent

ang. Menurut (Harahap., 1993) alasan-alasan yang dikemukakan oleh para penduk

ung pengungkapan CSR adalah sebagai berikut :

a. Pengungkapan CSR merupakan respon terhadap keinginan dan harapan

masyarakat terhadap peranan perusahaan. Dalam jangka panjang hal ini

akan sangat menguntungkan perusahaan

b. Meningkatkan nama baik perusahaan dan akan menimbulkan simpati

pelanggan, karyawan, investor, dan lain-lain.

c. Dapat menunjukkan respon positif perusahaan terhadap norma dan nilai

yang berlaku dalam masyarakat sehingga mendapat simpati masyarakat.

d. Membantu kepentingan nasional seperti konservasi alam, pemeliharan

barang-barang seni budaya, peningkatan pendidikan rakyat, lapangan kerja

dan sebagainya.

e. Mengurangi rasa kebencian masyarakat terhadap perusahaan yang kadang-

kadang sulit diatasi oleh perusahaan.

Sedangkan alasan yang dikemukakan oleh para penentang pengungkapan

CSR adalah sebagi berikut :

3
a. Mengalihkan perhatian perusahaan dari tujuan utamanya yaitu untuk

mencari laba dan hal ini dinilai akan menimbulkan keborosan.

b. Akan menimbulkan dana dan tenaga kerja yang cukup besar yang tidak

dapat di penuhi oleh dana perusahaan terbatas, yang dapat menimbulkan

kebangkrutan dan menurunkan tingkat pertumbuhan perusahaan.

c. Memungkinkan keterlibatan perusahaan terhadap permainan kekuasaan

atau politik secara berlebihan yang sebenarnya bukan bagiannya.

2.1.2. Konsep Corporate Social Responsibility (CSR)

Elkington (1997) menjelaskan konsep Triple Bottom Line digunakan sebag

ai landasan prinsipal dalam aplikasi program Corporate Social Responsibility pad

a sebuah perusahaan.

Tiga kepentingan yang menjadi satu ini merupakan garis besar dan tujuan

utama tanggung jawab sosial sebuah perusahaan dijabarkan sebagai berikut :

1. Profit (Keuntungan)

Keuntungan merupakan unsur terpenting dan menjadi tujuan utama dari

setiap kegiatan usaha. Keuntungan sendiri pada hakikatnya merupakan

tambahan pendapatan yang dapat digunakan untuk menjamin

kelangsungan hidup perusahaan.

2. People (Masyarakat)

Pentingnya masyarakat dalam suatu perusahaan karena merupakan salah

satu stakeholder penting bagi perusahaan dengan adanya dukungan

masyarakat sekitar sangat diperlukan untuk keberadaan, kelangsungan

4
hidup dan perkembangan perusahaan. Perusahaan perlu berkomitmen

untuk berupaya memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada

masyarakat. Selain itu, operasi perusahaan berpotensi memberikan dampak

kepada masyarakat sekitar. Tanggung jawab sosial perusahaan didasarkan

pada keputusan perusahaan tidak berupa paksaan atau tuntutan masyarakat

sekitar. Untuk memperkokoh komitmen dalam tanggung jawab sosial

diperlukan pandangan mengenai Pengungkapan Corporate Social

Responsibility (CSR). Melalui kegiatan sosial perusahaan dapat membuat

masyarakat terasa diperhatikan oleh perusahaan sehingga dapat dikatakan

perusahaan melakukan investasi untuk masa depan dan timbal baliknya

masyarakat juga akan ikut serta menjaga eksistensi perusahaan.

3. Planet (Lingkungan)

Lingkungan merupakan sesuatu yang terkait dengan seluruh bidang

kehidupan perusahaan. Hubungan perusahaan dan lingkungan adalah

hubungan sebab akibat (jika, maka) yaitu jika perusahaan merawat

lingkungan maka lingkungan akan bermanfaat bagi perusahaan.

Sebaliknya jika perusahaan merusak lingkungan maka lingkungan juga

akan tidak memberikan manfaat kepada perusahaan. Dengan demikian,

penerapan konsep Triple Bottom Line yakni Profit, People, dan Planet

sangat diperlukan sebuah perusahaan dalam menjalankan operasinya.

Sebuah perusahaan tidak hanya keuntungan saja yang dicari melainkan

juga memperdulikan masyarakat dan lingkungan sekitar perusahaan.

5
2.1.3 Pengungkan Corporate Sosial Responsibility (CSR)

Menurut Deegan (2002) dalam Lanis dan Richardson (2013) menyatakan

bahwa Pengungkapan CSR dipandang sebagai sarana yang digunakan oleh

menajemen perusahaan dalam berinteraksi dengan masyarakat yang lebih luas

untuk mempengaruhi persepsi. Pengungkapan CSR terdapat dalam laporan

tanggung jawab sosial perusahaan, laporan sumber daya manusia, dan laporan

kesehatan dan keselamatan kerja. Pengukuran pengungkapan Corporate Sosial

Responsibility (CSR) menurut Maretta Yoehana (2013), yakni sebagai berikut:

∑ Xyi
CSRDI =
¿

CSRDI = Corporate Sosial Responsibility Disclosure Index (Indeks) Pengungkapa

n Tanggung Jawab Sosial) perusahaan i.

∑Xyi = dummy varible , nilai 1= jika item y diungkapkan; 0 = jika item y tidak

diungkapkan.

ni = Jumlah item untuk perusahaan

Pengungkapan Corporate Social Responsibility diungkapkan berdasarkan s

tandar yang berlaku, dimana di Indonesia merujuk pada standar yang diterapkan o

leh GRI (Global Reporting Initiative). Standar GRI dipilih karena lebih memfokus

kan pada standar pengungkapan sebagai kinerja ekonomi, sosial dan lingkungan p

erusahaan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas dan pemanfaatan Sustainab

ility Reporting (www.globalreporting.org).

Terdapat dua standar GRI yang digunakan perusahaan indeks LQ45 yang terdaftar

di BEI dalam mengungkapkan kegiatan Corporate Social Responsibility melalui

6
Sustainability Reporting selama periode tahun 2018-2021. Pertama yaitu standar

GRI G-3 menyatakan pengungkapannya dalam 79 item pengungkapan yang

terdiri dari indikator Ekonomi (9 item), Lingkungan (30 item), dan Sosial yang

mencakup Tenaga Kerja (14 item) Hak Asasi Manusia (9 item), Sosial (8 item)

dan Produk (9 item), Gantino (2016).

Kedua yaitu, standar GRI G-4 Dalam standar GRI-G4, indikator kinerja

dibagi menjadi tiga komponen utama, yaitu Ekonomi (9 item), Lingkungan Hidup

(34 item) dan Sosial. Kategori sosial mencakup Hak Asasi Manusia (12

item),praktek Ketenagakerjaan dan Lingkungan Kerja (16 item), Masyarakat

Sosial (11 item) dan Tanggung Jawab Produk (9 item), total indikator yang

terdapat dalam GRI-G4 mencapai 91 item (www.globalreporting.org).

Saat ini GRI-G4 telah banyak digunakan oleh perusahaan di Indonesia,

GRI- G4 menyediakan kerangka kerja yang relevan secara global untuk

mendukung pendekatan yang terstandarisasi dalam pelaporan yang mendoronng

tingkat transparansi dan konsistensi yang diperlukan untuk membuat informasi

yang disampaikan menjadi berguna dan dapat dipercaya oleh pasar dan

masyarakat (www.globalreporting.org).

2.1.4 Keuntungan dan Kerugian Pengungkapan Corporate Social

Responsibility (CSR)

Menurut Wibisono (2007) ada 10 keuntungan yang dapat diperoleh dalam

melakukan CSR, yaitu:

1. Mempertahankan, Mendongkrak Reputasi dan Image Perusahan, dengan

7
melakukan CSR, konsumen dapat lebih mengenal perusahaan sebagai

perusahaan yang selalu melakukan kegiatan yang baik bagi stakeholdernya

(baik masyarakat maupun investor).

2. Layak Mendapatkan Social License To Operate, masyarakat sekitar adalah

komunitas utama sebuah perusahaan, ketika mereka mendapatkan

keuntungan dari perusahaan, maka dengan sendirinya mereka akan merasa

memiliki perusahaan tersebut. Sebagai imbalan yang diberikan kepada

perusahaan maka masyarakat memberikan kebebasan untuk menjalankan

operasi bisnisnya dikawasan tersebut.

3. Mereduksi Resiko Bisnis Perusahaan, mengelola risiko ditengah

kompleksnya permasalahan sebuah persahaan menjadikan kunci yang

esensialnya sebuah usaha. Ketidakharmosan hubungan dengan stakeholder

dapat menganggu kelancaran bisnis sebuah perusahaan, dengan adanya hal

tersebut menekan biaya yang jauh lebih besar untuk memulihkan

hubungan dengan stakeholder dibandingkan dengan biaya (anggaran) yang

dilakukan untuk melakukan Pengungkapan Tanggung Jawab Sosialnya

(Corporate Social Responsibility Disclosure). Oleh karena itu,

pelaksanaan Pengungkapan Coporate Social Responsibility diharapkan

menjadi langkah untuk mencegah buruknya hubungan dengan stakeholder.

4. Melebarkan Akses Sumber Daya, catatan yang baik dalam pengelola

Pengungkapan Corporate Social Responsibility merupakan keunggulan

perusahaan untuk bersaing sehingga dapat memuluskan jalan menuju

sumber daya yang diperlukan perusahaan.

8
5. Membentangkan Akses Menuju Market, investasi yang ditanamkan untuk

program Pengungkapan Corporate Social Responsibility ini menjadikan

peluang untuk perusahaan akan semakin besar, termasuk dalam memupuk

loyalitas konsumen dan menembus pangsa pasar baru.

6. Mereduksi Biaya, banyak contoh untuk penghematan biaya yang dapat

dilakukan dengan program Pengungkapan Corporate Social

Responsibility, salah satu contohnya yakni: dengan mendaur ulang limbah

pabrik ke dalam saat produksi, selain mengurangi dampak terhadap

pencemaran lingkungan dan juga limbah aman untuk lingkungan.

7. Memperbaiki Hubungan Dengan Stakeholder, Implementasi

Pengungkapan Corporate Social Responsibility akan membantu

menambah frekuensi komunikasi dengan stakeholder, dimana komunikasi

ini diharapkan akan semakin menambah kepercayaan stakeholder kepada

perusahaan.

8. Memperbaiki Hubungan Dengan Regulator (Pemerintah), Perusahaan

yang melaksanakan Pengungkapan Coporate Social Responsibility

umumnya akan meringankan beban pemerintah sebagai regulator yang

sebenarnya bertangungjawab atas kesejahteraan masyarakat dan

lingkungan.

9. Meningkatkan Semangat, dan Produktivitas Karyawan, dan Reputasi

perusahaan yang baik dimata stakeholders dan kontribusi yang positif

yang diberikan oleh perusahaan kepada masyarakat sekitar serta

lingkungan tentunya akan menimbulkan kebanggan tersendiri bagi

9
karyawan yang bekerja dalam perusahaan tersebut sehingga dapat

diharapkan meningkatkan motivasi terhadap kinerja mereka (karyawan).

10. Peluang Mendapatkan Penghargaan.Perusahaan menganggap adanya

Pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai peluang

mendapatkan penghargaan, karena dinegara indonesia sendiri banyak

perusahaan yang belum mengungkapkan CSR, maka dengan adanya hal

tersebut perusahaan tertarik untuk mengungkapkan CSR tentunya dengan

maksud ingin mendapatkan penghargaan.

2.1.5 Pengertian Ukuran Perusahaan

Dalam upaya mencapai ketepatwaktuan laporan keuangan tahunan salah

satu hal yang mempengaruhinya adalah ukuran perusahaan. Menurut Brigham &

Houston (2010:4) dalam Ali Akbar Yulianto (2010) ukuran perusahaan

merupakan ukuran besar kecilnya sebuah perusahaan yang ditunjukan atau dinilai

oleh total aset, total penjualan, jumlah laba, beban pajak dan lain-lain.

Sesuai dengan Keputusan Ketua BAPEPAM No. IX.C.7 tentang pedoman

mengenai bentuk dan isi pernyataan pendaftaran dalam rangka penawaran umum

oleh perusahaan menengah dan kecil, menyatakan bahwa perusahaan besar adalah

badan hukum yang didirikan di Indonesia yang memiliki jumlah kekayaan (total

asset) tidak lebih dari Rp. 100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah), bukan

merupakan afiliasi atau dikendalikan oleh suatu perusahaan yang bukan

perusahaan menengah atau kecil, dan bukan merupakan reksa dana. Sedangkan

penawaran umum oleh perusahaan menengah atau kecil adalah penawaran

umum sehubungan dengan efek yang ditawarkan oleh perusahaan menengah

10
atau kecil, di mana nilai keseluruhan efek yang ditawarkan tidak lebih dari Rp.

40.000.000.000,00 (empat puluh miliar rupiah).

Jadi, ukuran perusahaan menurut keputusan ketua BAPEPAM No. IX.C.7

dapat diartikan sebagai suatu ukuran dengan mengklasifikasikan besar kecilnya

perusahaan dengan berbagai cara antara lain dinyatakan dalam total aktiva, nilai

pasar saham, dan lain-lain.

Sedangkan menurut Rachmawati (2008:3) ukuran perusahaan merupakan

fungsi dari kecepatan pelaporan keuangan. Besar kecilnya ukuran perusahaan juga

dipengaruhi oleh aktivitas operasional, variabilitas dan tingkat penjualan

perusahaan tersebut akan berpengaruh terhadap kecepatan dalam menyajikan

laporan keuangan kepada publik.

2.1.6 Kategori Ukuran Perusahaan

UU No. 20 Tahun 2008 mengkategorikan ukuran perusahaan ke dalam 4

kategori yaitu usaha mikro, usaha kecil, usaha menengah, dan usaha besar.

Pengklasifikasian ukuran perusahaan tersebut didasarkan pada total aset yang

dimiliki dan total penjualan tahunan perusahaan tersebut.

UU No. 20 Tahun 2008 tersebut mendefinisikan usaha mikro, usaha kecil,

usaha menengah, dan usaha besar sebagai berikut:

1. Usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan /atau

badan usaha perorangan yang memiliki kriteria usaha mikro sebagaimana

diatur dalam undang-undang ini.

2. Usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri yang

dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan

11
anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai,

atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha

menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria usaha kecil

sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini.

3. Usaha menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri,

yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan

merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki,

dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung

dengan usaha kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau

hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam undang-undang ini.

4. Usaha besar adalah usaha ekonomi produktif yang dilakukan oleh

badan usaha dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan

lebih besar dari usaha menengah, yang meliputi usaha nasional milik

negara atau swasta, usaha patungan, dan usaha asing yang melakukan

kegiatan ekonomi di Indonesia.

Adapun kriteria ukuran perusahaan yang diatur dalam UU No.20 tahun

2008 diuraikan dalam tabel 2.1.

Tabel 2.1 Kategori Ukuran Perusahaan


Kategori
Ukuran Perusahaan Aset Penjualan/Tahun
(Tanah&Bangunan) (dalam Rupiah)
(dalam Rupiah)
Usaha Mikro Maksimal 50 juta Maksimal 300
juta
Usaha Kecil >50 juta – 500 juta >300 juta - 2,5 M
Usaha >500 juta – 10 M >2,5 – 50 M
Menengah
Usaha Besar >10 M >50 M

12
Menurut Machfoedz (1994) dalam Febrianty (2011:302) ukuran

perusahaan terbagi menjadi 3 jenis antara lain sebagai berikut:

a. Perusahaan Kecil

Perusahaan kecil adalah perusahaan yang memiliki kekayaan bersih paling

banyak Rp 200 juta tidak termasuk tanah dan bangunan dan memiliki hasil

penjualan minimal Rp 1 Milyar/tahun.

b. Perusahaan Besar

Perusahaan besar adalah perusahaan yang memiliki kekayaan bersih lebih besar

dari Rp 10 Milyar termasuk tanah dan bangunan. Memiliki penjualan lebih dari

Rp 50 Milyar/tahun.

c. Perusahaan Menengah

Perusahaan menengah adalah perusahaan yang memiliki kekayaan bersih Rp

1-10 Milyar termasuk tanah dan bangunan. Memiliki hasil penjualan lebih besar

dari Rp 1 Milyar dan kurang dari Rp 50 Milyar.

1. Komponen Ukuran Perusahaan

Menurut keputusan ketua BAPEPAM No. IX.C.7 komponen ukuran

perusahaan yang biasa dipakai dalam menentukan tingkat perusahaan

adalah:

13
a. Tenaga Kerja

Merupakan jumlah pegawai tetap dan kontraktor yang terdaftar atau

bekerja di perusahaan pada suatu saat tertentu.

b. Tingkat Penjualan

Merupakan volume penjualan suatu perusahaan pada suatu periode

tertentu misalnya satu tahun.

c. Total Utang Ditambah Dengan Nilai Pasar saham Biasa

Merupakan jumlah utang dan nilai pasar saham biasa perusahaan pada

suatu atau suatu tanggal tertentu.

d. Total Aset

Merupakan keseluruhan aktiva yang dimiliki perusahaan pada saat

tertentu.

Melihat kepada sub-sub penjelasan di atas ukuran perusahaan dapat

diinterpretasikan sebagai pengukur yang menunjukkan besar kecilnya sebuah

perusahaan. Ukuran perusahaan diukur berdasarkan jumlah tenaga kerja, tingkat

penjualan, total hutang, nilai pasar saham dan total aset. Ukuran perusahaan juga

merupakan fungsi dari kecepatan penyampaian laporan keuangan, sebab semakin

besar sebuah perusahaan akan semakin cepat menyampai laporan keuangan

kepada para pemakai laporan keuangan, karena perusahaan besar lebih banyak

memiliki sumber informasi dan sumber daya untuk membayar audit fee yang

relatif tinggi.

2.1.6 Manajemen Laba

Manajemen laba dapat didefinisikan sebagai tindakan yang dilakukan

14
manajemen untuk melaporkan kondisi keuangan perusahaan agar dapat mencapai

target yang diprediksikan dalam batasan-batasan yang layak dan legal. Kelayakan

dan kelegalan manajemen laba digambarkan dengan adanya aktivitas ilegal untuk

memanipulasi laporan keuangan dan melaporkan hasil yang tidak

menggambarkan realitas ekonomi yang sebenarnya (Mckee, 2005). Healy dan

Wahlen dalam Inaam (2016:182) mendefinisikan keterjadian manajemen laba

sebagai:

“(…) when managers use judgement in financial reporting and in structuri

ng transactions to alter financial reports to misrepresent the underlying economic

performance of a company or to influence contractual outcomes that depend on r

eported accounting numbers.”

Manajemen laba dapat diklasifikasikan menjadi real earnings

management (REM) dan manajemen laba akrual. Suatu manajemen laba akrual

memandang banyaknya pilihan asumsi akuntansi yang dilegalkan oleh PABU

memungkinkan manajemen untuk menggelapkan kebenaran kondisi ekonomi

perusahaanya, sedangkan REM diasumsikan terjadi ketika seorang manajer

mengambil tindakan yang mengubah dimensi waktu atau struktur operasi,

investasi, dan/atau transaksi keuangan sebagai bentuk usaha untuk mempengaruhi

output dari sistem akuntasi (Gunny, 2010).

Ada beberapa fitur Prinsip Akuntansi Berlaku Umum (PABU) untuk

akuntansi akrual yang mengharuskan manajemen untuk berestimasi dan

mencatat kejadian masa depan yang akan dibayarkan sebagai hasil dari transaksi

fiskal tahun berjalan. Oleh karena kejadian masa depan yang tidak dapat diketahui

15
kepastiannya, PABU memperbolehkan adanya pemilihan estimasi dari

manajemen. Terdapat sejumlah titik yang dapat diestimasi oleh seorang manajer,

yakni estimasi retur penjualan dan pengurangan harga, estimasi penghapusan

cadangan kerugian piutang, estimasi penghapusan persediaan, estimasi biaya

garansi, estimasi biaya pensiun, menutup biaya pensiun, estimasi persentase

penyelesaian kontrak jangka panjang (Mckee, 2005).

Fungsi dari mekanisme tata kelola perusahaan dalam pelaporan keuangan

adalah untuk menjamin kesesuaian dengan PABU dan untuk menjaga keandalan

dan kepercayaan laporan keuangan korporat (Inaam, 2016). Bagaimana pun

rasionalisasinya, sangatlah penting untuk menyadari bahwa ada suatu “iron law”

yang bersinggungan dengan basis akrual dari manajemen laba. Pelimpahan hak

memilih kebijakan akuntansi kepada manajer merupakan faktor terbesar

terjadinya perilaku manajemen laba (Scott, 2015).

Standar memperbolehkan penggunaan fleksibilitas perusahaan hingga

pada titik tertentu ketika hendak mengambil suatu keputusan. Hal ini akan

memberikan kesempatan kepada perusahaan untuk melakukan sesuatu yang tidak

wajar pada batas kelegalan. Meskipun banyak perusahaan melaporkan laporan

keuangan mereka dalam batasan Prinsip Akuntansi Berlaku Umum (PABU), ada

banyak variasi kualitas pelaporan keuangan di bawah aturan pelaporan yang sama

(Choi, 2011). Kurang tegasnya pemaparan kerangka konseptual ini

memungkinkan adanya ketidakspesifikan perhitungan, pengukuran, dan

pengungkapan kontemporer manajer atas nilai akuntansi terkini. Hal ini seolah

16
membebaskan para manajer untuk memilih metodenya masing-masing (Dopuch

dan Sunder (1980) dalam Godfrey, 2010). Pengukuran yang fleksibel sangatlah

penting dibakukan untuk menghitung kemungkinan dorongan mempertemukan

ramalan analis dalam memperkirakan besaran manipulasi manajemen (Choy,

2012).

Manajemen laba dapat dipertimbangkan sebagai biaya keagenan karena

manajer menganggapnya sebagai kepentingan pribadinya yang ditampakkan

dalam penerbitan laporan keuangan yang tidak mencerminkan kondisi ekonomi

perusahaan yang sebenarnya. Manajemen laba tidak hanya berdampak pada

pemilik perusahaan, melainkan juga bagi para stakeholders. Sebagai

konsekuensinya, shareholders dapat memberikan keputusan investasi yang tidak

menguntungkan. Oleh karena itu manajemen laba dapat berhubungan dengan teori

keagenan (Prior, 2008).

2.1.7 Motivasi Manajemen Laba

Scott (2015) menilai bahwa ada suatu tujuan yang mendasari manajemen

laba yang dapat dilihat entah dari perspektif pelaporan ataupun

kontraktual. Dari perspektif pelaporan, manajemen laba bertujuan untuk

menghindari pelaporan kerugian atau untuk melaporkan keuangan sesuai

dengan yang diekspektasikan. Motivasi ini kemudian akan berdampak

pada penghindaran atas buruknya reputasi perusahaan dan reaksi negatif

atas harga saham. Dari perspektif kontraktual, manajemen laba bertujuan

sebagai suatu langkah yang digunakan untuk melindungi perusahaan dari

kejadian yang tak terduga ketika kontrak begitu kaku dan tidak sempurna.

17
Mulford (2010) menyatakan bahwa tindakan manajemen laba dilakukan

untuk membantu perusahaan mencapai proyeksi manajemen atau melebihi

proyeksi manajemen atau peramalan consensus analisis. Pelaksanaan manajemen

laba umumnya akan didukung oleh proyek nyata yang terealisasi. Manajemen

laba umumnya bisa diterima oleh investor untuk mencegah penurunan nilai pasar

demi tercapainya ramalan dan kadang dilakukan tanpa sepengetahuan investor

(manajemen laba kasar) demi kepentingan suatu pihak. Selain itu, ada beberapa

kondisi berbeda yang memotivasi manajemen untuk melakukan manajemen laba,

berikut adalah kondisi dan imbalan terjadinya praktik manajemen laba.

Tabel 2.2. Manajemen laba: Kondisi dan Imbalan


Imbalan
Kondisi

Adanya ramalan laba menurut Menghindari penurunan nilai saham

konsensus pasar modal dari yang diharapkan

Persiapan Initial Public Offering Menyajikan gambaran laba terbaik

(IPO) saham baru agar nilainya bisa dimaksimalkan

Laba di batas tingkat minimal yang

diminta agar menghasilkan Posisi perolehan laba antara bogey

kompensasi, atau laba hampir atau cap agar memperoleh bonus

melebihi angka cap

Meminimalkan biaya politis dengan

Perusahaan yang menjadi target menghindari pelaporan laba yang

potensial kegiatan politik yang buruk terlalu besar

Menghindari denda kontrak, entah

18
Perusahaan hampir melanggar kontrak berupa kenaikan tingkat bunga

utang atau pinjaman ataupun tuntutan pelunasan

Laba di bawah atau di atas angka laba

yang diharapkan konstan Menghindari sentiment pasar

Gejolak naik/turunnya laba melalui Menghindari gejolak laba agar nilai

serangkaian item non-operasi saham tidak dipandang berisiko tinggi

Sumber: Mulford (2010)

Teori keagenan menjabarkan bahwa sepanjang tujuan principal dan agent

itu sejalan, maka agen akan berupaya untuk memaksimalkan kepuasan principal,

namun ketika tujuan kedua belah pihak berbeda maka manajemen akan

melakukan manajemen laba dengan manipulasi laba untuk maksimalisasi

kepentingan pribadi agent di atas kepentingan principal (Godfrey, 2010). Watts

(1990) menilai bahwa ada 3 hipotesis utama terkait dengan motivasi seorang

manajemen melakukan manajemen laba, yakni:

a. Bonus Plan Hypothesis. Perencanaan bonus tidak selalu memberikan

manajer insentif untuk meningkatkan laba. Jika laba berada di bawah level

minimum sebagai dasar kontrak, maka manajer memiliki insentif untuk

mengurangi laba di tahun tersebut. Hal ini dikarenakan manajer sudah

dapat memastikan tidak akan diperolehnya pembayaran akan bonus.

b. Debt/equity Hypothesis. Hipotesis ini memprediksikan tingginya rasio

biaya/ekuitas, kemungkinan manajer akan melakukan metode akuntansi

untuk menaikkan laba. Jika perjanjian utang semakin tinggi, maka

19
kemungkinan kecurangan juga semakin tinggi.

c. Political Cost Hypothesis. Hipotesis ini memprediksikan bahwa

perusahaan yang besar akan berkemungkinan memanfaatkan peluang

akuntansi untuk mengurangi pelaporan laba ketimbang perusahaan kecil.

2. Pengukuran Manajemen Laba

Berikut langkah-langkah perhitungan akrual diskresioner dengan

menggunakan Model Jones Modified (Dechow, 1995):

a. Menentukan nilai total akrual (TA) dengan rumus:

𝑇𝐴𝑖𝑡 = 𝑁𝐼𝑖𝑡 − 𝐶𝐹𝑂𝑖𝑡

Dalam menghitung nilai total akrual ini, peneliti dapat mengurangi nilai la

ba bersih perusahaan i pada periode t yang diperoleh dari laba/rugi berjalan dalam

laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain konsolidasian dengan total ar

us kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi dalam laporan arus kas konsoli

dasian

b. Menentukan nilai parameter α1, α2, α3 dengan menggunakan Jones

Model (1991) dengan rumus:

𝑇𝐴𝑖𝑡 = α1 + α2∆𝑅𝑒𝑣𝑖𝑡 + α3𝑃𝑃𝐸𝑖𝑡 + ℰ𝑖𝑡

Kemudian menskala data, semua variabel tersebut dibagi dengan aset

tahun sebelumnya (𝐴𝑖𝑡−1). Penskalaan dilakukan untuk mengurangi

heteroskedastisitas, dimana uji ini dapat melihat apakah terdapat ketidaksamaan

varians dari residual satu ke residual lain, sehingga rumusnya menjadi:

20
Rahayu (2012) menyatakan bahwa terdapat 3 fenomena ekonomi yang

dianggap berpengaruh pada akrual nondiskresioner yakni aset, perubahan

pendapatan, dan property, plant, and equipment.

Dalam menghitung nilai parameter-parameter di atas, peneliti dapat memb

agi hasil perhitungan total akrual perusahaan i pada periode t dengan total aset yan

g diperoleh dari laporan posisi keuangan. Masing- masing parameter dapat diperhi

tungkan dengan menggunakan analisis regresi metode least square. Adapun perub

ahan penjualan bersih perusahaan i dalam periode t diperoleh dari pengurangan pe

njualan atau pendapatan bersih periode t dengan periode sebelumnya dalam lapora

n laba rugi dan penghasilan komprehensif lain konsolidasian, sedangkan property,

plant, and equipment perusahaan i dalam periode t diperoleh dari total aset tetap p

eriode t.

Menghitung nilai akrual nondiskresioner (NDA) dengan rumus:

Dechow (1995) menyatakan bahwa pola rumus ini adalah penyempurnaan

dari James Model dengan menambahkan asumsi bahwa perubahan yang terjadi

dalam penjualan kredit pada periode berjalan merupakan objek manipulasi laba

sehingga perlu ditambahkan sebagai faktor penentu akrual nondiskresioner.

Dalam menghitung nilai akrual nondiskresioner perusahaan, peneliti dapat

menginput masing- masing data seperti cara perolehan data tahap sebelumnya

dengan informasi tambahan perubahan piutang perusahaan i dalam periode t yang

diperoleh dari total piutang usaha periode t dikurangi dengan total piutang usaha

21
sebelum periode t dalam laporan keuangan konsolidasian.

c. Menentukan nilai akrual diskresioner yang merupakan indikator

manajemen laba akrual dengan rumus:

𝐷𝐴𝑖𝑡 = 𝑇𝐴𝑖𝑡/𝐴𝑖𝑡−1 − 𝑁𝐷𝐴𝑖𝑡

Keterangan

𝑇𝐴𝑖𝑡 = Total akrual perusahaan i dalam periode t

𝑁𝐼𝑖𝑡 = Laba bersih perusahaan i dalam periode t

𝐶𝐹𝑂𝑖𝑡 = Arus kas operasi perusahaan i dalam periode t

𝑁𝐷𝐴𝑖𝑡 = Akrual nondiskresioner perusahaan i dalam periode t

𝐷𝐴𝑖𝑡 = Akrual diskresioner perusahaan i dalam periode t

𝐴𝑖𝑡−1 = Total asset perusahaan i dalam periode t-1

∆𝑅𝑒𝑣𝑖𝑡 = Perubahan penjualan bersih perusahaan i dalam periode t

∆𝑅𝑒𝑐𝑖𝑡 = Perubahan piutang perusahaan i dalam periode t

𝑃𝑃𝐸𝑖𝑡 = Property, Plant, and Equipment perusahaan i dalam periode t

α1, α2, α3 = parameter yang diperoleh dari persamaan regresi

ℰ𝑖𝑡 = error term perusahaan i pada periode t

Setelah mendapatkan nilai akrual diskresioner hasil pengukuran dari

laporan keuangan tiap perusahaan, berikutnya perlu dilakukan pengkategorisasian

suatu perusahaan melakukan manajemen laba yang tinggi atau rendah. Ayers

(2006) menyatakan bahwa akrual diskresioner berpengaruh secara positif

signifikan dengan perubahan laba dalam angka. Berikut adalah pengklasifikasian

besarnya perilaku manajemen laba dalam indikator akrual diskresioner:

22
Tabel 2.3. Klasifikasi Nilai Manajemen Laba
Modified Jones Akrual Diskresioner Klasifikasi Nilai Manajemen Laba

X < -0.45 Minimization income sangat tinggi

-0.45 ≤ X < -0.30 Minimization income tinggi

-0.30 ≤ X < -0.15 Minimization income rendah

-0.15 ≤ X < 0 Minimization income sangat rendah

0 ≥ X ≥ 0.25 Maximization income sangat rendah

0.25 > X ≥ 0.50 Maximization income rendah

0.50 > X ≥ 0.75 Maximization income tinggi

X > 0.75 Maximization income sangat tinggi

Sumber: Prasetya (2016)

2.2 Penelitian Sebelumnya

Berikut ini adalah penelitian-penelitian yang telah dilakukan oleh para

peneliti sebelumnya:

Penelitian Alexander dan Agustin (2020) yang berjudul “Pengaruh Corpor

ate Social Responsibility Reporting Terhadap Manajemen Laba”, menunjukkan ha

sil penelitian yaitu CSR berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Hasil pene

litian menunjukan bahwa pengungkapan CSR dapat mengurangi praktik manajem

en laba karena semakin transparannya informasi yang diberikan oleh perusahaan k

epada pemangku kepentingan.

Nastiti (2010) menguji mengenai pengaruh pengungkapan corporate social

responsibility terhadap manajemen laba. Variabel independen corporate social res

ponsibility diukur menggunakan skor hasil survei yang dicapai perusahaan dalam

23
corporate social responsibility index (CSRI), variabel dependen manajemen laba d

iukur menggunakan discretionary accrual. Penelitian 24 ini menggunakan penguji

an hipotesis yang diuji dengan analisis regresi linear sederhana dan tingkat signifi

kan yang digunakan adalah 5%. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa terdapat p

engaruh negatif dan tidak signifikan antara corporate social responsibility dan ma

najemen laba.

Palguna Putra (2013) meneliti mengenai pengaruh tingkat pengungkapan it

em CSR terhadap manajemen laba. Penelitian ini meneliti perusahaan yang mamp

u berada dalam indeks SRI KEHATI selama 3 tahun berturut-turut dari tahun 200

9-2011. Tujuan dari penelitian ini adalah menunjukan pengaruh dari pengungkapa

n CSR terhadap manajemen laba dengan profitabilitas sebagai variabel kontrol. Al

at analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu regresi linier berganda denga

n tingkat penerimaan hipotesis 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengung

kapan item item CSR ini memiliki pengaruh negatif terhadap manajemen laba yan

g berimplikasi pada kualitas laba.

Putri (2012) meneliti mengenai pengaruh pengungkapan corporate social r

esponsibility terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur tahun 2008-

2011 yang melakukan pengungkapan CSR secara konsisten. Penelitian ini mengg

unakan variabel kontrol yaitu ROA, SIZE, kepemilikan insider, kepemilikan instit

usional, dan kepemilikan blockholder. Teknik pengambilan sampel menggunakan

teknik purposive sampling dan didapat 28 perusahaan. Analisis data dilakukan de

ngan regresi berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa pengungkapan Corpora

te Social Responsibility berpengaruh secara negatif terhadap manajemen laba. Dar

24
i hasil tersebut peneliti menyimpulkan apabila 25 pengungkapan CSR semakin ba

nyak maka manajemen laba yang terjadi semakin sedikit.

Tabel 2.4.Penelitian Terdahulu


No Peneliti Variabel Hasil

1 Alexsander Dependen: Corporate social


Agustin (2020)
Earnings Management responsibility berpengaruh

Independen: Corporate negatif dan terhadap

Social Responsibility manajemen laba

2 Amalia Rudi Dependen: Corporate social

Nastiti (2010) Manajemen Laba responsibility berpengaruh

Independen: negatif dan tidak signifikan

Corporate Social terhadap manajemen laba

Responsibility

3 I Gusti Bagus Dependen: Manajemen Pengungkapan CSR

Alit Wahyu laba berpengaruh negatif terhadap

Palguna Putra manajemen laba yang

(2013) Independen: berimplikasi pada kualitas

Pengungkapan CSR laba

4 Ajeng Dependen: Manajemen Pengungkapan Corporate

Rusmalina Sari laba Social Responsibility

Putri (2012) Independen: berpengaruh secara negatif

Pengungkapan CSR terhadap manajemen laba.

25
2.3 Kerangka Teoritis

Kerangka teoritis adalah konsep-konsep yang sebenarnya merupakan abstr

aksi dari hasil pemikiran atau kerangka dan acuan yang pada dasarnya bertujuan

mengadakan kesimpulan terhadap dimensi-dimensi. Setiap penelitian selalu disert

ai dengan pemikiran-pemikiran teoritis, dalam hal ini karena adanya hubungan tim

bal balik yang erat antara teori dengan kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisi

s, dan kostruksi.

CORPORATE SOC

IAL RESPONSIBIL

ITY (X1) MANAJEMEN LA

UKURAN PERUSA BA (Y)

HAAN (X2)

2.4 Model Analisis dan Hipotesis

Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesis yang diajukan adalah:

H1: Pengungkapan tanggung jawab sosial berpengaruh negatif terhadap p

raktik manajemen laba

26