Anda di halaman 1dari 37

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA TEORITIS,

DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

2.1 Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka akan menjelaskan beberapa teori, hasil penelitian terdahulu,

dan publikasi umum yang relevan dengan variabel-variabel penelitian. Kajian pustaka

yang dikemukakan adalah sebagai berikut:

2.1.1 Teori Agensi (Agency Theory)

Teori agensi merupakan teori yang menjelaskan hubungan yang terjadi antara

pihak manajemen perusahaan selaku agen dengan pemilik perusahaan selaku pihak pr

incipal. Pihak principal adalah pihak yang memberikan perintah kepada pihak lain yai

tu agen untunk melakukan semua kegiatan atas nama principal. Pemilik perusahaan y

aitu principal selalu ingin mengetahui semua informasi yang mengenai aktivitas perus

ahaan, termasuk dalam aktivitas manajemen dalam hal pengoprasian dana yang di inv

estasikan dalam perusahaan. Melalui laporan pertanggung jawaban yang di buat mana

jemen selaku agen, principal mendapatkan informasi yang di butuhkan dan sekaligus

sebagai alat penilaian atas kinerja yang di lakukan agen dalam periode tertentu. Namu

n dalam praktiknya adalah kecenderungan pihak agen yaitu manajemen melakuakan t

1
indakan curang agar laporan pertanggungjawaban yang sajikan baik dan akan membe

rikan keuntungan pada pihak principal, sehingga kinerja yang dilakukan agen terlihat

baik. Maka untuk meminimalisir kejadian tersebut diperlukan bantuan pihak ketiga ya

ng independen, yaitu seorang auditor. Dengan bantuan dari auditor maka laporan keu

angan yang di sajikan oleh agen lebih dapat di percaya (reliable). Teori agensi ini dap

at membantu seorang auditor untuk memahmi masalah yang terjadi antara agen dan p

rincipal. Dalam konteks keagenan peran pihak ketiga berfungsi untuk memonitori per

ilaku manajemen selaku agen dan memastiakan agen bertindak sesuai dengan kehend

ak principal. Auditor dianggap sebagai pihak yang mampu menjembatani pihak princi

pal dan agen sebagai bentuk pertanggungjawaban pihak agen kepada pihak principal.

Tugas yang dimiliki auditor ialah untuk memberiakan opini atas kewajaran dari hasil

laporan keuangan yang disajikan oleh agen yang kendalanya dapat dilihat dari kualita

s audit yang dihasilkan oleh auditor.

2.1.2 Corporate Social Responbility (CSR)

Awal mula munculnya konsep Corporate Social Responsibility (CSR) adalah

adanya ketidakpercayaan masyarakat terhadap perusahaan. Perusahaan disini tidak ter

batas pada perseroan terbatas, tetapi juga kegiatan usaha yang ada, baik berbadan huk

um maupun tidak berbadan hukum. CSR ke dalam tiga fokus: 3P, singkatan dari profi

t, planet dan people. Perusahaan yang baik tidak hanya memburu keuntungan ekonom

i belaka (profit) melainkan pula memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan

(planet) dan kesejahteraan masyarakat (people). CSR telah diatur secara tegas di Indo

nesia yaitu pada Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas,

2
Undang-Undang Nomor 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal, dan Peraturan Me

nteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor Per-5/MBU/2007 tentang Program K

emitraan BUMN dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan, khusus untuk p

erusahaan-perusahaan BUMN. Setelah itu tanggung jawab sosial perusahaan dicantu

mkan lagi dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (Na

yenggita, dkk. 2019)

CSR merupakan komitmen usaha untuk bertindak secara etis, beroperasi secar

a legal dan berkontribusi untuk meningkatkan kualitas hidup dari karyawan dan kelua

rganya, komunitas lokal, dan komunitas luas. Konsep CSR melibatkan tanggung jawa

b kemitraan antara pemerintah, perusahaan, dan komunitas masyarakat setempat yang

bersifat aktif dan dinamis. Terdapat dua jenis konsep CSR, yaitu dalam pengertian lua

s dan dalam pengertian sempit. CSR dalam pengertian luas, berkaitan erat dengan tuj

uan mencapai kegiatan ekonomi berkelanjutan (sustainable economic activity). Keber

lanjutan kegiatan ekonomi bukan hanya terkait soal tanggungjawab sosial tetapi juga

menyangkut akuntabilitas (accountability) perusahaan terhadap masyarakat dan bangs

a serta dunia internasional. CSR merupakan bentuk kerjasama antara perusahaan (tida

k hanya Perseroan Terbatas) dengan segala hal (stake-holders) yang secara langsung

maupun tidak langsung berinteraksi dengan perusahaan untuk tetap menjamin kebera

daan dan kelangsungan hidup usaha (sustainability) perusahaan tersebut. Pengertian t

ersebut sama dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan, yaitu merupakan komitm

en perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna

meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi persero

3
an sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya (Nayenggita, dk

k. 2019)

CSR dalam pengertian sempit dipahami dari beberapa peraturan yang dapat di

uraikan sebagai berikut :

1. Pengertian CSR dalam UUPT No.40 Tahun 2007 pasal 1 angka 3 menyebutkan

Tanggung jawab sosial lingkungan adalah komitmen perseroan untuk berperan

serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas

kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi perusahaan sendiri,

komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya.

2. CSR yang diatur pada pasal 15 huruf b UUPM 2007 menjelaskan bahwa

tanggung jawab sosial merupakan tanggung jawab yang melekat pada setiap

perusahaan penanaman modal untuk tetap menciptakan hubungan yang serasi,

seimbang, dan sesuai dengan lingkungan, nilai, norma, dan budaya masyarakat

setempat. Tampak bahwa UUPM 2007 mencoba memisahkan antara tanggung

jawab sosial dan tanggung jawab lingkungan yang mengarah pada CSR sebagai

sebuah komitmen perusahaan terhadap pembangunan ekonomi berkelanjutan

dalam upaya meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan.

3. Sedangkan pengertian CSR menurut European Union hanya menggambarkan

CSR sebagai suatu konsep perusahaan yang berusahaa mengintegrasikan aspek

sosial dan lingkungan serta stakeholders atas dasar voluntary dalam melakukan

aktivitas usahanya. Pengintegrasian tersebut tidak hanya berkisar antara kerelaan

4
berinvestasi kedalam pengembangan manusia, lingkungan, dan hubungan dengan

stakeholder. Dari beberapa uraian pengertian yang telah dipaparkan diatas maka

dapat diketahui bahwa CSR adalah suatu tanggung jawab yang berhubungan

dengan pihak internal dan eksternal perusahaan. Pada umumnya CSR berkisar

tentang peranan, tanggung jawab dan sebuah kewajiban perusahaan untuk peduli

dan membantu mengatasi masalah sosial dan lingkungan yang semakin hari

krisis kemanusiaan semakin meningkat. Akuntansi sosial secara umum bertujuan

untuk mengukur dan mengungkapkan untung rugi dan biaya sosial yang

ditimbulkan oleh kegiatan perusahaan tersebut di masyarakat. Biaya sosial ini

umumnya berkaitan dengan ketenagakerjaan, konsumen dan produk atau

barang/jasa yang dihasilkan kemasyarakat dan lingkungan hidup disekitar

perusahaan. Prinsip dasar CSR mengharuskan perusahaan untuk memberikan

laporan bukan hanya kepada pemegang saham, calon investor, kreditur, dan

pemerintah semata tetapi juga kepada karyawan dan masyarakat. Ruang lingkup

CSR sangat luas sehingga dibutuhkan pedoman yang memudahkan pemahaman

dan implementasinya pada perusahaan. CSR sendiri merupakan komitmen

perusahaan terhadap kepentingan para stakeholder dalam arti luas daripada

sekedar kepentingan perusahaan saja. Dengan kata lain meskipun perusahaan

mengejar keuntungan namun bukan berarti perusahaan dibenarkan mencapai

keuntungan tersebut dengan mengorbankan kepentingan-kepentingan pihak lain

yang terkait. Setiap perusahaan bertanggung jawab atas tindakan dan kegiatan

yang dilakukan oleh perusahaan tersebut (Subiantoro., 2015).

5
4. Pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR). Pengungkapan CSR

adalah pengungkapan sebagai penyajian sejumlah informasi yang dibutuhkan

untuk mengoperasikan secara optimal pasar modal yang efesien (Sumedi., 2012).

Definisi pengungkapan tersebut ditujukan pada tanggung jawab sosial

perusahaan, dimana pengungkapan informasi CSR pada laporan tahunan entitas

bisnis memberikan dampak positif, yaitu manfaat jangka panjang bagi

perusahaan kedepannya. Pengungkapan CSR merupakan proses

pengkomunikasian dampak sosial dan lingkungan dari kegiatan ekonomi

organisasi terhadap kelompok khusus yang berkepentingan dan terhadap

masyarakat secara keseluruhan. Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa

akuntansi pertanggung jawaban sosial merupakan suatu proses komunikasi

terhadap dampak sosial dan lingkungan dari kegiatan ekonomi organisasi yang

dilihat dari laporan tahunan perusahaan terhadap kelompok khusus yang

berkepentingan dan masyarakat secara keseluruhan. Pengungkapan informasi

dalam laporan tahunan perusahaan dikelompokkan menjadi dua yaitu

pengungkapan wajib dan pengungkapan sukarela. Pengungkapan wajib adalah

pengungkapan minimum yang harus diungkapkan sedangkan pengungkapan

sukarela dapat diartika perusahaan bebas memilih jenis informasi yang akan

diungkap dan sekiranya dapat mendukung dalam pengambilan keputusan.

Adapun salah satu jenis pengungkapan informasi sukarela adalah pengungkapan

sosial yang dilakukan oleh perusahaan (Dewi., 2015). Di indonesia peraturan

yang mengatur tentang pengungkapan adalah keputusan BAPEPAM No. Kep-

6
38/PM/1996. Pengungkapan CSR muncul karna adanya kesadaran masyarakat

tentang lingkungan sekitar.

Undang-undang No.40 tahun 2007 pasal 66 ayat 2 tentang perseroan terbatas

mewajibkan perusahaan untuk mengungkapkan aktivitas tanggung jawab sosialnya da

lam laporan tahunan.

demikian itemitem CSR yang diungkapkan masih bersifat sukarela.

Menurut (Gray et al., 2010) ada dua pendekatan yang secara signifikan berbed

a dalam melakukan penelitian tentang pengungkapan tanggung jawab perusahaan. Per

tama pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan mungkin diperlukan sebagai s

uplemen dari aktivitas akuntansi konvesional. Pendekatan ini secara umum akan men

ganggap masyarakat keuangan sebagai pemakai utama pengungkapan tanggung jawa

b sosial perusahaan dan cendrung membatasi persepsi tentang tanggung jawab sosial

yang di laporkan. Pendekatan alternatif kedua, yaitu dengan meletakkan pengungkapa

n tanggung jawab sosial perusahaan pada suatu pengujian peran informasi dalam hub

ungan masyarkat dan organisasi.

Pandangan yang lebih luas ini telah menjadi sumber utama kemajuan dalam p

emahaman tentang pengungkapan CSR dan sekaligus merupakan sumber kritik yang

utama terhadap pengungkapan CSR perusahaan. Namun dalam pengungkapan tanggu

ng jawab sosial perusahaan pada masyarakat ini terjadi pro dan kontra, ada yang men

dukung pengungkapan CSR ini dan disisi lain ada pula yang menentang. Menurut (Ha

7
rahap., 1993) alasan-alasan yang dikemukakan oleh para pendukung pengungkapan C

SR adalah sebagai berikut :

a. Pengungkapan CSR merupakan respon terhadap keinginan dan harapan

masyarakat terhadap peranan perusahaan. Dalam jangka panjang hal ini akan

sangat menguntungkan perusahaan

b. Meningkatkan nama baik perusahaan dan akan menimbulkan simpati pelanggan,

karyawan, investor, dan lain-lain.

c. Dapat menunjukkan respon positif perusahaan terhadap norma dan nilai yang

berlaku dalam masyarakat sehingga mendapat simpati masyarakat.

d. Membantu kepentingan nasional seperti konservasi alam, pemeliharan barang-

barang seni budaya, peningkatan pendidikan rakyat, lapangan kerja dan

sebagainya.

e. Mengurangi rasa kebencian masyarakat terhadap perusahaan yang kadang-

kadang sulit diatasi oleh perusahaan.

Sedangkan alasan yang dikemukakan oleh para penentang pengungkapan CS

R adalah sebagi berikut :

a. Mengalihkan perhatian perusahaan dari tujuan utamanya yaitu untuk mencari

laba dan hal ini dinilai akan menimbulkan keborosan.

b. Akan menimbulkan dana dan tenaga kerja yang cukup besar yang tidak dapat di

penuhi oleh dana perusahaan terbatas, yang dapat menimbulkan kebangkrutan

8
dan menurunkan tingkat pertumbuhan perusahaan.

c. Memungkinkan keterlibatan perusahaan terhadap permainan kekuasaan atau

politik secara berlebihan yang sebenarnya bukan bagiannya.

2.1.3 Konsep Corporate Social Responsibility (CSR)

Elkington (1997) menjelaskan konsep Triple Bottom Line digunakan sebagai l

andasan prinsipal dalam aplikasi program Corporate Social Responsibility pada sebua

h perusahaan.

Tiga kepentingan yang menjadi satu ini merupakan garis besar dan tujuan utama

tanggung jawab sosial sebuah perusahaan dijabarkan sebagai berikut :

1. Profit (Keuntungan)

Keuntungan merupakan unsur terpenting dan menjadi tujuan utama dari setiap

kegiatan usaha. Keuntungan sendiri pada hakikatnya merupakan tambahan

pendapatan yang dapat digunakan untuk menjamin kelangsungan hidup

perusahaan.

2. People (Masyarakat)

Pentingnya masyarakat dalam suatu perusahaan karena merupakan salah satu

stakeholder penting bagi perusahaan dengan adanya dukungan masyarakat

sekitar sangat diperlukan untuk keberadaan, kelangsungan hidup dan

perkembangan perusahaan. Perusahaan perlu berkomitmen untuk berupaya

memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat. Selain itu, operasi

perusahaan berpotensi memberikan dampak kepada masyarakat sekitar.

9
Tanggung jawab sosial perusahaan didasarkan pada keputusan perusahaan tidak

berupa paksaan atau tuntutan masyarakat sekitar. Untuk memperkokoh komitmen

dalam tanggung jawab sosial diperlukan pandangan mengenai Pengungkapan

Corporate Social Responsibility (CSR). Melalui kegiatan sosial perusahaan dapat

membuat masyarakat terasa diperhatikan oleh perusahaan sehingga dapat

dikatakan perusahaan melakukan investasi untuk masa depan dan timbal baliknya

masyarakat juga akan ikut serta menjaga eksistensi perusahaan.

3. Planet (Lingkungan)

Lingkungan merupakan sesuatu yang terkait dengan seluruh bidang kehidupan

perusahaan. Hubungan perusahaan dan lingkungan adalah hubungan sebab akibat

(jika, maka) yaitu jika perusahaan merawat lingkungan maka lingkungan akan

bermanfaat bagi perusahaan. Sebaliknya jika perusahaan merusak lingkungan

maka lingkungan juga akan tidak memberikan manfaat kepada perusahaan.

Dengan demikian, penerapan konsep Triple Bottom Line yakni Profit, People,

dan Planet sangat diperlukan sebuah perusahaan dalam menjalankan operasinya.

Sebuah perusahaan tidak hanya keuntungan saja yang dicari melainkan juga

memperdulikan masyarakat dan lingkungan sekitar perusahaan.

2.1.4 Pengungkan Corporate Sosial Responsibility (CSR)

Menurut Deegan (2002) dalam Lanis dan Richardson (2013) menyatakan

bahwa Pengungkapan CSR dipandang sebagai sarana yang digunakan oleh

menajemen perusahaan dalam berinteraksi dengan masyarakat yang lebih luas untuk

10
mempengaruhi persepsi. Pengungkapan CSR terdapat dalam laporan tanggung jawab

sosial perusahaan, laporan sumber daya manusia, dan laporan kesehatan dan

keselamatan kerja. Pengukuran pengungkapan Corporate Sosial Responsibility (CSR)

menurut Maretta Yoehana (2013), yakni sebagai berikut:

∑ Xyi
CSRDI =
¿

CSRDI = Corporate Sosial Responsibility Disclosure Index (Indeks) Pengungkapan T

anggung Jawab Sosial) perusahaan i.

∑Xyi = dummy varible , nilai 1= jika item y diungkapkan; 0 = jika item y tidak

diungkapkan.

ni = Jumlah item untuk perusahaan

Pengungkapan Corporate Social Responsibility diungkapkan berdasarkan stan

dar yang berlaku, dimana di Indonesia merujuk pada standar yang diterapkan oleh GR

I (Global Reporting Initiative). Standar GRI dipilih karena lebih memfokuskan pada s

tandar pengungkapan sebagai kinerja ekonomi, sosial dan lingkungan perusahaan den

gan tujuan untuk meningkatkan kualitas dan pemanfaatan Sustainability Reporting (w

ww.globalreporting.org).

Terdapat dua standar GRI yang digunakan perusahaan indeks LQ45 yang terdaftar di

BEI dalam mengungkapkan kegiatan Corporate Social Responsibility melalui

Sustainability Reporting selama periode tahun 2018-2021. Pertama yaitu standar GRI

G-3 menyatakan pengungkapannya dalam 79 item pengungkapan yang terdiri dari

indikator Ekonomi (9 item), Lingkungan (30 item), dan Sosial yang mencakup

11
Tenaga Kerja (14 item) Hak Asasi Manusia (9 item), Sosial (8 item) dan Produk (9

item), Gantino (2016).

Kedua yaitu, standar GRI G-4 Dalam standar GRI-G4, indikator kinerja

dibagi menjadi tiga komponen utama, yaitu Ekonomi (9 item), Lingkungan Hidup (34

item) dan Sosial. Kategori sosial mencakup Hak Asasi Manusia (12 item),praktek

Ketenagakerjaan dan Lingkungan Kerja (16 item), Masyarakat Sosial (11 item) dan

Tanggung Jawab Produk (9 item), total indikator yang terdapat dalam GRI-G4

mencapai 91 item (www.globalreporting.org).

Saat ini GRI-G4 telah banyak digunakan oleh perusahaan di Indonesia, GRI-

G4 menyediakan kerangka kerja yang relevan secara global untuk mendukung

pendekatan yang terstandarisasi dalam pelaporan yang mendoronng tingkat

transparansi dan konsistensi yang diperlukan untuk membuat informasi yang

disampaikan menjadi berguna dan dapat dipercaya oleh pasar dan masyarakat

(www.globalreporting.org).

2.1.5 Keuntungan dan Kerugian Pengungkapan Corporate


Social Responsibility (CSR)

Menurut Wibisono (2007) ada 10 keuntungan yang dapat diperoleh dalam

melakukan CSR, yaitu:

1. Mempertahankan, Mendongkrak Reputasi dan Image Perusahan, dengan

melakukan CSR, konsumen dapat lebih mengenal perusahaan sebagai perusahaan

yang selalu melakukan kegiatan yang baik bagi stakeholdernya (baik masyarakat

12
maupun investor).

2. Layak Mendapatkan Social License To Operate, masyarakat sekitar adalah

komunitas utama sebuah perusahaan, ketika mereka mendapatkan keuntungan

dari perusahaan, maka dengan sendirinya mereka akan merasa memiliki

perusahaan tersebut. Sebagai imbalan yang diberikan kepada perusahaan maka

masyarakat memberikan kebebasan untuk menjalankan operasi bisnisnya

dikawasan tersebut.

3. Mereduksi Resiko Bisnis Perusahaan, mengelola risiko ditengah kompleksnya

permasalahan sebuah persahaan menjadikan kunci yang esensialnya sebuah

usaha. Ketidakharmosan hubungan dengan stakeholder dapat menganggu

kelancaran bisnis sebuah perusahaan, dengan adanya hal tersebut menekan biaya

yang jauh lebih besar untuk memulihkan hubungan dengan stakeholder

dibandingkan dengan biaya (anggaran) yang dilakukan untuk melakukan

Pengungkapan Tanggung Jawab Sosialnya (Corporate Social Responsibility

Disclosure). Oleh karena itu, pelaksanaan Pengungkapan Coporate Social

Responsibility diharapkan menjadi langkah untuk mencegah buruknya hubungan

dengan stakeholder.

4. Melebarkan Akses Sumber Daya, catatan yang baik dalam pengelola

Pengungkapan Corporate Social Responsibility merupakan keunggulan

perusahaan untuk bersaing sehingga dapat memuluskan jalan menuju sumber

daya yang diperlukan perusahaan.

5. Membentangkan Akses Menuju Market, investasi yang ditanamkan untuk

13
program Pengungkapan Corporate Social Responsibility ini menjadikan peluang

untuk perusahaan akan semakin besar, termasuk dalam memupuk loyalitas

konsumen dan menembus pangsa pasar baru.

6. Mereduksi Biaya, banyak contoh untuk penghematan biaya yang dapat dilakukan

dengan program Pengungkapan Corporate Social Responsibility, salah satu

contohnya yakni: dengan mendaur ulang limbah pabrik ke dalam saat produksi,

selain mengurangi dampak terhadap pencemaran lingkungan dan juga limbah

aman untuk lingkungan.

7. Memperbaiki Hubungan Dengan Stakeholder, Implementasi Pengungkapan

Corporate Social Responsibility akan membantu menambah frekuensi

komunikasi dengan stakeholder, dimana komunikasi ini diharapkan akan

semakin menambah kepercayaan stakeholder kepada perusahaan.

8. Memperbaiki Hubungan Dengan Regulator (Pemerintah), Perusahaan yang

melaksanakan Pengungkapan Coporate Social Responsibility umumnya akan

meringankan beban pemerintah sebagai regulator yang sebenarnya

bertangungjawab atas kesejahteraan masyarakat dan lingkungan.

9. Meningkatkan Semangat, dan Produktivitas Karyawan, dan Reputasi perusahaan

yang baik dimata stakeholders dan kontribusi yang positif yang diberikan oleh

perusahaan kepada masyarakat sekitar serta lingkungan tentunya akan

menimbulkan kebanggan tersendiri bagi karyawan yang bekerja dalam

perusahaan tersebut sehingga dapat diharapkan meningkatkan motivasi terhadap

kinerja mereka (karyawan).

14
10. Peluang Mendapatkan Penghargaan.Perusahaan menganggap adanya

Pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai peluang

mendapatkan penghargaan, karena dinegara indonesia sendiri banyak perusahaan

yang belum mengungkapkan CSR, maka dengan adanya hal tersebut perusahaan

tertarik untuk mengungkapkan CSR tentunya dengan maksud ingin mendapatkan

penghargaan.

2.1.6 Pengertian Ukuran Perusahaan

Dalam upaya mencapai ketepatwaktuan laporan keuangan tahunan salah satu

hal yang mempengaruhinya adalah ukuran perusahaan. Menurut Brigham & Houston

(2010:4) dalam Ali Akbar Yulianto (2010) ukuran perusahaan merupakan ukuran

besar kecilnya sebuah perusahaan yang ditunjukan atau dinilai oleh total aset, total

penjualan, jumlah laba, beban pajak dan lain-lain.

Sesuai dengan Keputusan Ketua BAPEPAM No. IX.C.7 tentang pedoman

mengenai bentuk dan isi pernyataan pendaftaran dalam rangka penawaran umum oleh

perusahaan menengah dan kecil, menyatakan bahwa perusahaan besar adalah badan

hukum yang didirikan di Indonesia yang memiliki jumlah kekayaan (total asset) tidak

lebih dari Rp. 100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah), bukan merupakan afiliasi

atau dikendalikan oleh suatu perusahaan yang bukan perusahaan menengah atau

kecil, dan bukan merupakan reksa dana. Sedangkan penawaran umum oleh

perusahaan menengah atau kecil adalah penawaran umum sehubungan dengan efek

yang ditawarkan oleh perusahaan menengah atau kecil, di mana nilai keseluruhan

efek yang ditawarkan tidak lebih dari Rp. 40.000.000.000,00 (empat puluh miliar

15
rupiah).

Jadi, ukuran perusahaan menurut keputusan ketua BAPEPAM No. IX.C.7

dapat diartikan sebagai suatu ukuran dengan mengklasifikasikan besar kecilnya

perusahaan dengan berbagai cara antara lain dinyatakan dalam total aktiva, nilai pasar

saham, dan lain-lain.

Sedangkan menurut Rachmawati (2008:3) ukuran perusahaan merupakan

fungsi dari kecepatan pelaporan keuangan. Besar kecilnya ukuran perusahaan juga

dipengaruhi oleh aktivitas operasional, variabilitas dan tingkat penjualan perusahaan

tersebut akan berpengaruh terhadap kecepatan dalam menyajikan laporan keuangan

kepada publik.

2.1.7 Kategori Ukuran Perusahaan

UU No. 20 Tahun 2008 mengkategorikan ukuran perusahaan ke dalam 4

kategori yaitu usaha mikro, usaha kecil, usaha menengah, dan usaha besar.

Pengklasifikasian ukuran perusahaan tersebut didasarkan pada total aset yang dimiliki

dan total penjualan tahunan perusahaan tersebut.

UU No. 20 Tahun 2008 tersebut mendefinisikan usaha mikro, usaha kecil,

usaha menengah, dan usaha besar sebagai berikut:

1. Usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan /atau badan

usaha perorangan yang memiliki kriteria usaha mikro sebagaimana diatur

dalam undang-undang ini.

2. Usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri yang

16
dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan

anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau

menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah

atau usaha besar yang memenuhi kriteria usaha kecil sebagaimana dimaksud

dalam undang-undang ini.

3. Usaha menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang

dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan

anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi

bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha kecil atau

usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan

sebagaimana diatur dalam undang-undang ini.

4. Usaha besar adalah usaha ekonomi produktif yang dilakukan oleh badan

usaha dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan lebih besar

dari usaha menengah, yang meliputi usaha nasional milik negara atau swasta,

usaha patungan, dan usaha asing yang melakukan kegiatan ekonomi di

Indonesia.

Adapun kriteria ukuran perusahaan yang diatur dalam UU No.20 tahun 2008

diuraikan dalam tabel 2.1.

Tabel 2.1

Kategori Ukuran Perusahaan

17
Katego

Ukuran Perusahaan ri

Aset Penjualan/Tahun

(Tanah&Bangunan) (dalam Rupiah)

(dalam Rupiah)

Usaha Mikro Maksimal 50 juta Maksimal 300

juta

Usaha Kecil >50 juta – 500 juta >300 juta - 2,5

Usaha >500 juta – 10 M >2,5 – 50 M

Menengah

Usaha Besar >10 M >50 M

18
Menurut Machfoedz (1994) dalam Febrianty (2011:302) ukuran perusahaan

terbagi menjadi 3 jenis antara lain sebagai berikut:

1. Perusahaan Besar

Perusahaan besar adalah perusahaan yang memiliki kekayaan bersih lebih

besar dari Rp 10 Milyar termasuk tanah dan bangunan. Memiliki penjualan

lebih dari Rp 50 Milyar/tahun.

2. Perusahaan Menengah

Perusahaan menengah adalah perusahaan yang memiliki kekayaan

bersih Rp 1-10 Milyar termasuk tanah dan bangunan. Memiliki hasil penjualan

lebih besar dari Rp 1 Milyar dan kurang dari Rp 50 Milyar.

1) Perusahaan Kecil

Perusahaan kecil adalah perusahaan yang memiliki kekayaan bersih paling

banyak Rp 200 juta tidak termasuk tanah dan bangunan dan memiliki hasil

penjualan minimal Rp 1 Milyar/tahun.

3. Komponen Ukuran Perusahaan

Menurut keputusan ketua BAPEPAM No. IX.C.7 komponen ukuran

perusahaan yang biasa dipakai dalam menentukan tingkat perusahaan adalah:

19
a. Tenaga Kerja

Merupakan jumlah pegawai tetap dan kontraktor yang terdaftar atau

bekerja di perusahaan pada suatu saat tertentu.

b. Tingkat Penjualan

Merupakan volume penjualan suatu perusahaan pada suatu periode

tertentu misalnya satu tahun.

c. Total Utang Ditambah Dengan Nilai Pasar saham Biasa

Merupakan jumlah utang dan nilai pasar saham biasa perusahaan pada

suatu atau suatu tanggal tertentu.

d. Total Aset

Merupakan keseluruhan aktiva yang dimiliki perusahaan pada saat tertentu.

Melihat kepada sub-sub penjelasan di atas ukuran perusahaan dapat

diinterpretasikan sebagai pengukur yang menunjukkan besar kecilnya sebuah

perusahaan. Ukuran perusahaan diukur berdasarkan jumlah tenaga kerja, tingkat

penjualan, total hutang, nilai pasar saham dan total aset. Ukuran perusahaan juga

merupakan fungsi dari kecepatan penyampaian laporan keuangan, sebab semakin

besar sebuah perusahaan akan semakin cepat menyampai laporan keuangan

kepada para pemakai laporan keuangan, karena perusahaan besar lebih banyak

memiliki sumber informasi dan sumber daya untuk membayar audit fee yang

relatif tinggi.

20
2.1.8 Manajemen Laba

Manajemen laba dapat didefinisikan sebagai tindakan yang

dilakukan manajemen untuk melaporkan kondisi keuangan

perusahaan agar dapat mencapai target yang diprediksikan dalam

batasan-batasan yang layak dan legal. Kelayakan dan kelegalan

manajemen laba digambarkan dengan adanya aktivitas ilegal untuk

memanipulasi laporan keuangan dan melaporkan hasil yang tidak

menggambarkan realitas ekonomi yang sebenarnya (Mckee, 2005).

Healy dan Wahlen dalam Inaam (2016:182) mendefinisikan

keterjadian manajemen laba sebagai:

(…) when managers use judgement in financial reporting and i

n structuring transactions to alter financial reports to misrepresent

the underlying economic performance of a company or to influence

contractual outcomes that depend on reported accounting numbers.

Manajemen laba dapat diklasifikasikan menjadi real earnings

management (REM) dan manajemen laba akrual. Suatu manajemen

laba akrual memandang banyaknya pilihan asumsi akuntansi yang

dilegalkan oleh PABU memungkinkan manajemen untuk

menggelapkan kebenaran kondisi ekonomi perusahaanya,

sedangkan REM diasumsikan terjadi ketika seorang manajer

21
mengambil tindakan yang mengubah dimensi waktu atau struktur

operasi, investasi, dan/atau transaksi keuangan sebagai bentuk

usaha untuk mempengaruhi output dari sistem akuntasi (Gunny,

2010).

Ada beberapa fitur Prinsip Akuntansi Berlaku Umum (PABU)

untuk akuntansi akrual yang mengharuskan manajemen untuk

berestimasi dan mencatat kejadian masa depan yang akan

dibayarkan sebagai hasil dari transaksi fiskal tahun berjalan. Oleh

karena kejadian masa depan yang tidak dapat diketahui

kepastiannya, PABU memperbolehkan adanya pemilihan estimasi

dari manajemen. Terdapat sejumlah titik yang dapat diestimasi oleh

seorang manajer, yakni estimasi retur penjualan dan pengurangan

harga, estimasi penghapusan cadangan kerugian piutang, estimasi

penghapusan persediaan, estimasi biaya garansi, estimasi biaya

pensiun, menutup biaya pensiun, estimasi persentase penyelesaian

kontrak jangka panjang (Mckee, 2005).

Fungsi dari mekanisme tata kelola perusahaan dalam pelaporan

keuangan adalah untuk menjamin kesesuaian dengan PABU dan

untuk menjaga keandalan dan kepercayaan laporan keuangan

korporat (Inaam, 2016). Bagaimana pun rasionalisasinya, sangatlah

penting untuk menyadari bahwa ada suatu “iron law” yang

bersinggungan dengan basis akrual dari manajemen laba.

22
Pelimpahan hak memilih kebijakan akuntansi kepada manajer

merupakan faktor terbesar terjadinya perilaku manajemen laba

(Scott, 2015).

Standar memperbolehkan penggunaan fleksibilitas perusahaan hingga

pada titik tertentu ketika hendak mengambil suatu keputusan. Hal ini akan

memberikan kesempatan kepada perusahaan untuk melakukan sesuatu yang

tidak wajar pada batas kelegalan. Meskipun banyak perusahaan melaporkan

laporan keuangan mereka dalam batasan Prinsip Akuntansi Berlaku Umum

(PABU), ada banyak variasi kualitas pelaporan keuangan di bawah aturan

pelaporan yang sama (Choi, 2011). Kurang tegasnya pemaparan kerangka

konseptual ini memungkinkan adanya ketidakspesifikan perhitungan,

pengukuran, dan pengungkapan kontemporer manajer atas nilai

akuntansi terkini. Hal ini seolah membebaskan para manajer untuk

memilih metodenya masing-masing (Dopuch dan Sunder (1980)

dalam Godfrey, 2010). Pengukuran yang fleksibel sangatlah penting

dibakukan untuk menghitung kemungkinan dorongan

mempertemukan ramalan analis dalam memperkirakan besaran

manipulasi manajemen (Choy, 2012).

Manajemen laba dapat dipertimbangkan sebagai biaya

keagenan karena manajer menganggapnya sebagai kepentingan

pribadinya yang ditampakkan dalam penerbitan laporan keuangan

yang tidak mencerminkan kondisi ekonomi perusahaan yang

23
sebenarnya. Manajemen laba tidak hanya berdampak pada pemilik

perusahaan, melainkan juga bagi para stakeholders. Sebagai

konsekuensinya, shareholders dapat memberikan keputusan

investasi yang tidak menguntungkan. Oleh karena itu manajemen

laba dapat berhubungan dengan teori keagenan (Prior, 2008).

1. Motivasi Manajemen Laba

Scott (2015) menilai bahwa ada suatu tujuan yang mendasari

manajemen laba yang dapat dilihat entah dari perspektif pelaporan

ataupun kontraktual. Dari perspektif pelaporan, manajemen laba

bertujuan untuk menghindari pelaporan kerugian atau untuk

melaporkan keuangan sesuai dengan yang diekspektasikan.

Motivasi ini kemudian akan berdampak pada penghindaran atas

buruknya reputasi perusahaan dan reaksi negatif atas harga saham.

Dari perspektif kontraktual, manajemen laba bertujuan sebagai

suatu langkah yang digunakan untuk melindungi perusahaan dari

kejadian yang tak terduga ketika kontrak begitu kaku dan tidak

sempurna.

Mulford (2010) menyatakan bahwa tindakan manajemen laba

dilakukan untuk membantu perusahaan mencapai proyeksi

manajemen atau melebihi proyeksi manajemen atau peramalan

consensus analisis. Pelaksanaan manajemen laba umumnya akan

didukung oleh proyek nyata yang terealisasi. Manajemen laba

24
umumnya bisa diterima oleh investor untuk mencegah penurunan

nilai pasar demi tercapainya ramalan dan kadang dilakukan tanpa

sepengetahuan investor (manajemen laba kasar) demi kepentingan

suatu pihak. Selain itu, ada beberapa kondisi berbeda yang

memotivasi manajemen untuk melakukan manajemen laba, berikut

adalah kondisi dan imbalan terjadinya praktik manajemen laba

Tabel 2.1. Manajemen laba: Kondisi dan Imbalan

Imbalan
Kondisi

Adanya ramalan laba menurut Menghindari penurunan nilai saham

konsensus pasar modal dari yang diharapkan

Menyajikan gambaran laba terbaik


Persiapan Initial Public Offering
agar nilainya bisa dimaksimalkan
(IPO) saham baru

Laba di batas tingkat minimal yang


Posisi perolehan laba antara bogey
diminta agar menghasilkan
atau cap agar memperoleh bonus
kompensasi, atau laba hampir

melebihi angka cap

Meminimalkan biaya politis dengan

Perusahaan yang menjadi target menghindari pelaporan laba yang

potensial kegiatan politik yang buruk

25
terlalu besar

Menghindari denda kontrak, entah

Perusahaan hampir melanggar kontrak berupa kenaikan tingkat bunga

utang atau pinjaman ataupun tuntutan pelunasan

Laba di bawah atau di atas angka laba


Menghindari sentiment pasar
yang diharapkan konstan

Gejolak naik/turunnya laba melalui Menghindari gejolak laba agar nilai

serangkaian item non-operasi saham tidak dipandang berisiko tinggi

Sumber: Mulford (2010)

Teori keagenan menjabarkan bahwa sepanjang tujuan principal

dan agent itu sejalan, maka agen akan berupaya untuk

memaksimalkan kepuasan principal, namun ketika tujuan kedua

belah pihak berbeda maka manajemen akan melakukan manajemen

laba dengan manipulasi laba untuk maksimalisasi kepentingan

pribadi agent di atas kepentingan principal (Godfrey, 2010). Watts

(1990) menilai bahwa ada 3 hipotesis utama terkait dengan motivasi

seorang manajemen melakukan manajemen laba, yakni:

a. Bonus Plan Hypothesis. Perencanaan bonus tidak selalu


memberikan manajer insentif untuk meningkatkan laba. Jika
laba berada di bawah level minimum sebagai dasar kontrak,
maka manajer memiliki insentif untuk mengurangi laba di

26
tahun tersebut. Hal ini dikarenakan manajer sudah dapat
memastikan tidak akan diperolehnya pembayaran akan bonus.

b. Debt/equity Hypothesis. Hipotesis ini memprediksikan

tingginya rasio biaya/ekuitas, kemungkinan manajer akan

melakukan metode akuntansi untuk menaikkan laba. Jika

perjanjian utang semakin tinggi, maka kemungkinan

kecurangan juga semakin tinggi.

c. Political Cost Hypothesis. Hipotesis ini memprediksikan

bahwa perusahaan yang besar akan berkemungkinan

memanfaatkan peluang akuntansi untuk mengurangi pelaporan

laba ketimbang perusahaan kecil.

2. Pengukuran Manajemen Laba

Sulistiawan (2011) menyatakan bahwa

manajemen laba dapat dideteksi dengan pengujian

atas komponen akrual diskresioner. Jika besaran

akrual diskresioner absolut semakin tinggi, maka

semakin besar pula level manajemen laba. Akrual

nondiskresioner bersifat tetap sehingga perubahan

akrual yang terjadi disebabkan karena adanya

perubahan akrual diskresioner. Perubahan dapat

terjadi dengan adanya pertimbangan (diskresi) dari

27
manajemen dalam melakukan permainan kebijakan

akuntansi. Rahayu (2012) menyatakan bahwa

manajemen laba hanya akan terjadi bila akrual

diskresioner perusahaan terlihat aneh/abnormal.

Berikut langkah-langkah perhitungan akrual

diskresioner dengan menggunakan Model Jones

Modified (Dechow, 1995):

a. Menentukan nilai total akrual (TA) dengan rumus:

𝑇𝐴𝑖𝑡 = 𝑁𝐼𝑖𝑡 − 𝐶𝐹𝑂𝑖𝑡

Dalam menghitung nilai total akrual ini, peneliti dapat mengurangi

nilai laba bersih perusahaan i pada periode t yang diperoleh dari lab

a/rugi berjalan dalam laporan laba rugi dan penghasilan komprehen

sif lain konsolidasian dengan total arus kas bersih yang diperoleh da

ri aktivitas operasi dalam laporan arus kas konsolidasian

b. Menentukan nilai parameter α1, α2, α3 dengan menggunakan Jones

Model (1991) dengan rumus:

28
𝑇𝐴𝑖𝑡 = α1 + α2∆𝑅𝑒𝑣𝑖𝑡 + α3𝑃𝑃𝐸𝑖𝑡 + ℰ𝑖𝑡

Kemudian menskala data, semua variabel tersebut dibagi dengan

aset tahun sebelumnya (𝐴𝑖𝑡−1). Penskalaan dilakukan untuk

mengurangi heteroskedastisitas, dimana uji ini dapat melihat

apakah terdapat ketidaksamaan varians dari residual satu ke

residual lain, sehingga rumusnya menjadi:

Rahayu (2012) menyatakan bahwa terdapat 3 fenomena ekonomi

yang dianggap berpengaruh pada akrual nondiskresioner yakni aset,

perubahan pendapatan, dan property, plant, and equipment.

Dalam menghitung nilai parameter-parameter di atas, peneliti dapat

membagi hasil perhitungan total akrual perusahaan i pada periode t

dengan total aset yang diperoleh dari laporan posisi keuangan. Masi

ng- masing parameter dapat diperhitungkan dengan menggunakan a

nalisis regresi metode least square. Adapun perubahan penjualan be

rsih perusahaan i dalam periode t diperoleh dari pengurangan penju

alan atau pendapatan bersih periode t dengan periode sebelumnya d

alam laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain konsolida

sian, sedangkan property, plant, and equipment perusahaan i dalam

periode t diperoleh dari total aset tetap periode t.

29
Menghitung nilai akrual nondiskresioner (NDA) dengan rumus:

Dechow (1995) menyatakan bahwa pola rumus

ini adalah penyempurnaan dari James Model

dengan menambahkan asumsi bahwa

perubahan yang terjadi dalam penjualan kredit

pada periode berjalan merupakan objek

manipulasi laba sehingga perlu ditambahkan

sebagai faktor penentu akrual nondiskresioner.

Dalam menghitung nilai akrual

nondiskresioner perusahaan, peneliti dapat

menginput masing- masing data seperti cara

perolehan data tahap sebelumnya dengan

informasi tambahan perubahan piutang

perusahaan i dalam periode t yang diperoleh

dari total piutang usaha periode t dikurangi

dengan total piutang usaha sebelum periode t

dalam laporan keuangan konsolidasian.

c. Menentukan nilai akrual diskresioner yang

merupakan indikator manajemen laba akrual

dengan rumus:

30
𝐷𝐴𝑖𝑡 = 𝑇𝐴𝑖𝑡/𝐴𝑖𝑡−1 − 𝑁𝐷𝐴𝑖𝑡

Keterangan

𝑇𝐴𝑖𝑡 = Total akrual perusahaan i dalam periode t

𝑁𝐼𝑖𝑡 = Laba bersih perusahaan i dalam periode t

𝐶𝐹𝑂𝑖𝑡 = Arus kas operasi perusahaan i dalam periode t

𝑁𝐷𝐴𝑖𝑡 = Akrual nondiskresioner perusahaan i dalam

periode t

𝐷𝐴𝑖𝑡 = Akrual diskresioner perusahaan i dalam periode

31
𝐴𝑖𝑡−1 = Total asset perusahaan i dalam periode t-1

∆𝑅𝑒𝑣𝑖𝑡 = Perubahan penjualan bersih perusahaan i dalam

periode t

∆𝑅𝑒𝑐𝑖𝑡 = Perubahan piutang perusahaan i dalam periode t

𝑃𝑃𝐸𝑖𝑡 = Property, Plant, and Equipm

ent perusahaan i dalam periode t

α1, α2, α3 = parameter yang diperoleh dari persamaan regresi

ℰ𝑖𝑡 = error term perusahaan i pada periode t

Setelah mendapatkan nilai akrual diskresioner hasil

pengukuran dari laporan keuangan tiap perusahaan,

berikutnya perlu dilakukan pengkategorisasian suatu

perusahaan melakukan manajemen laba yang tinggi atau

rendah. Ayers (2006) menyatakan bahwa akrual

diskresioner berpengaruh secara positif signifikan dengan

perubahan laba dalam angka. Berikut adalah

32
pengklasifikasian besarnya perilaku manajemen laba

dalam indikator akrual diskresioner:

Tabel 2.2. Klasifikasi Nilai Manajemen Laba

Modified Jones Akrual Diskresioner Klasifikasi Nilai Manajemen Laba

X < -0.45 Minimization income sangat tinggi

-0.45 ≤ X < -0.30 Minimization income tinggi

-0.30 ≤ X < -0.15 Minimization income rendah

-0.15 ≤ X < 0 Minimization income sangat rendah

0 ≥ X ≥ 0.25 Maximization income sangat rendah

0.25 > X ≥ 0.50 Maximization income rendah

0.50 > X ≥ 0.75 Maximization income tinggi

X > 0.75 Maximization income sangat tinggi

Sumber: Prasetya (2016)

33
2.2 Penelitian Sebelumnya

Berikut ini adalah penelitian-penelitian yang telah dilakukan oleh para

peneliti sebelumnya:

Penelitian Alexander dan Agustin (2020) yang berjudul “Pengaruh Corpor

ate Social Responsibility Reporting Terhadap Manajemen Laba”, menunjukkan ha

sil penelitian yaitu CSR berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Hasil pene

litian menunjukan bahwa pengungkapan CSR dapat mengurangi praktik manajem

en laba karena semakin transparannya informasi yang diberikan oleh perusahaan k

epada pemangku kepentingan.

Menurut penelitian (Triyana, dkk. 2020) yang berjudul "Pengaruh Pengun

gkapan Corporate Social Responsibility (CSR), Free Cash Flow, Dan Ukuran Peru

sahaan Terhadap Manajemen Laba". Menunjukkan hasil penelitian yaitu Corporat

e social responsibility (CSR), free cash flow dan ukuran perusahaan secara simult

an berpengaruh terhadap manajemen laba. Artinya variasi dari manajemen laba di

pengaruhi oleh Corporate social responsibility (CSR), free cash flow dan ukuran p

erusahaan.

Menurut penelitian (Wardani., Desifa. 2018) yang berjudul "Pengaruh Tax

Planning, Ukuran Perusahaan, Corporate Social Responsibility (Csr) Terhadap Ma

najemen Laba". Menunjukkan hasil penelitian yaitu Berdasarkan hasil dari olah da

ta yang dilakukan menggunakan regresi linier berganda didapatkan hasil sebagai b

erikut: a) Tax planning (perencanaan pajak) tidak memiliki pengaruh terhadap ma

najemen laba., b) Ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap manajemen la

34
ba., dan c) Corporate social responsibility (CSR) memiliki pengaruh positif terhad

ap manajemen laba.

Menurut penelitian (Asmedi., Rizky. 2021) yang berjudul "Pengaruh Corp

orate Social Responsibility, Beban Pajak Tangguhan Dan Tax Planning Terhadap

Manajemen Laba". Menunjukkan hasil penelitian yaitu Untuk itu hipotesis pertam

a (H1) yang menyatakan bahwa berpengaruh variabel independen corporate social

responsibility(X1), beban pajak tangguhan (X2) dan tax planning (X3) secara sim

ultan terhadap variabel dependen manajemen laba (Y) pada perusahaan manufaktu

r sektor industri dan barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BE

I) periode tahun 2014-2018. Untuk itu hipotesis kedua (H2) yang menyatakan bah

wa tidak berpengaruh variabel independen corporate social responsibility (X1) sig

nifikan terhadap variabel dependen manajemen laba (Y) pada perusahaan manufa

ktur sektor industri barang dan konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

(BEI) periode tahun 2014-2018.

Menurut penelitian (Evadewi., Wahyu. 2014) yang berjudul "Pengaruh Pe

ngungkapan Corporate Social Responsibility Terhadap Earnings Management :A

Political Cost Perspective". Menunjukkan hasil penelitian yaitu bahwa pengungka

pan CSR berpengaruh signfikan dan positif terhadap manajemen laba dalam indus

tri manufaktur dimana tingkat political cost rendah. Hal ini menunjukkan bahwa s

emakin banyak informasi kegiatan CSR yang diungkapkan perusahaan, maka sem

akin tinggi tingkat kecenderungan melakukan manajemen laba. Kualitas laba yang

semakin buruk karena meningkatnya pengungkapan informasi tanggung jawab sos

35
ial perusahaan kepada stakeholder membuat perusahaan merekayasa laporan keua

ngannya.

2.3 Kerangka Teoritis

Kerangka teoritis adalah konsep-konsep yang sebenarnya merupakan abstr

aksi dari hasil pemikiran atau kerangka dan acuan yang pada dasarnya bertujuan

mengadakan kesimpulan terhadap dimensi-dimensi. Setiap penelitian selalu disert

ai dengan pemikiran-pemikiran teoritis, dalam hal ini karena adanya hubungan tim

bal balik yang erat antara teori dengan kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisi

s, dan kostruksi.

CORPORATE SOC

IAL RESPONSIBIL

ITY (X1) MANAJEMEN LA

UKURAN PERUSA BA (Y)

HAAN (X2)

2.4 Model Analisis dan Hipotesis

Hipotesis Penelitian Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut. Maka hipot

esis dari penelitian dalam penelitian ini adalah :

Hipotesis 1 : “Terdapat Pengaruh Manajemen Laba Akrual Terhadap Peng

ungkapan Corporate Social Responsibility”.

36
Hipotesis 2 : “Terdapat Pengaruh Manajemen Laba Riil Terhadap Pengun

gkapan Corporate Social Responsibility”.

Hipotesis 3 : “Terdapat Pengaruh Manajemen Laba Akrual dan Manajeme

n Laba Riil Terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility”

37