Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

ILMU KESEHATAN ANAK

“Tindakan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan :

Gigitan Binatang Berbisa”

Disusun Dalam Rangka Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ilmu Kesehatan Anak

Oleh Kelompok 6 :

1. Dwi Novi Zahrotun Jannah(16.14.02.007)


2. Fepy Sisiliay (16.14.02.011)
3. Noor Eka Setiyani (16.14.02.021)
4. Riska Presti Oktavianty (16.14.02.028)
5. Yesi Diah Kristiasari (16.14.02.036)

AKADEMI KEBIDANAN PAMENANG

JL. SOEKARNO HATTA NO. 15 BENDO-PARE-KEDIRI

TELEPON (0354) 393102-FAX (0354) 395480

TAHUN 2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena

dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya lah kami dapat

menyelesaikan Makalah Ilmu Kesehatan Anak yang berjudul “Tindakan

Pertolongan Pertama pada Kecelakaan : Gigitan Binatang Berbisa”

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah

wawasan serta pengetahuan kita. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di

dalam tugas ini terdapat kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang kami

harapkan. Untuk itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi

perbaikan di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna

tanpa sarana yang membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang

membacanya. Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami

sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila

terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami.

Pare, 17 Februari 2018

Penyusun
DAFTAR ISI

JUDUL .................................................................................................................
KATA PENGANTAR.........................................................................................ii
DAFTAR ISI........................................................................................................iii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.................................................................................................1
1.2 Rumusan masalah............................................................................................1
1.3 Tujuan .............................................................................................................3

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Gigitan Binatang Berbisa ..................................................................3
2.2 Penyebab Gigitan Binatang Berbisa ...............................................................5
2.3 Diagnosis Gigitan Binatang Berbisa ..............................................................5
2.4 Patofisiologi Gigitan Binatang Berbisa ..........................................................6
2.5 Klasifikasi Gigitan Binatang Berbisa .............................................................7
2.6 Manifestasi Gigitan Binatang Berbisa ............................................................8
2.7 Penatalaksanaan Gigitan Binatang Berbisa ....................................................9
2.8 Pronosis Gigitan Binatang Berbisa .................................................................14

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan......................................................................................................15
3.2 Saran................................................................................................................15

DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................17
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Gigitan atau sengatan binatang berbisa, seperti ular, laba-laba atau

binatang berbisa lainnya, pada umumnya menyebabkan nyeri lokal dan tidak

memerlukan perawatan, namun anak-anak mempunyai risiko tinggi terjadi

reaksi berat. Reaksi klinis berat pada anak sering terjadi karena volume tubuh

lebih kecil untuk penyebaran racun/bisa dibandingkan dengan orang dewasa

(Niasari, 2003 : 92).

Pada setiap kasus yang dilaporkan sebagai gigitan ular, harus dipastikan

apakah gigitan tersebut disebabkan ular berbisa. Hal tersebut dapat ditentukan

antara lain dari luka bekas gigitan yang terjadi. Jika identifikasi sulit

ditentukan, gejala dan tanda akibat gigitan bisa ular menjadi dasar untuk

menegakkan diagnosis (Niasari, 2003 : 92).

Dalam menghadapi kasus gigitan ular berbisa diperlukan tata laksana yang

cepat, baik dalam menegakkan diagnosis maupun terapinya, oleh karena dapat

menimbulkan kecacatan dan mengancam jiwa (Niasari, 2003 : 92).

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana pengertian dari gigitan binatang berbisa (ular)?

2. Bagaimana penyebab dari gigitan binatang berbisa (ular)?

3. Bagaimana diagnosis dari gigitan binatang berbisa (ular)?

4. Bagaimana patofisiologis dari gigitan binatang berbisa (ular)?

5. Bagaimana klasifikaisi dari gigitan binatang berbisa (ular)?


6. Bagaimana manifestasi klinis dari gigitan binatang berbisa (ular)?

7. Bagaimana penatalaksanaan dari gigitan binatang berbisa (ular)?

8. Bagaimana prognosis gigitan dari binatang berbisa (ular)

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui definisi dari gigitan binatang berbisa (ular).

2. Untuk mengetahui penyebab dari gigitan binatang berbisa (ular).

3. Untuk mengetahui diagnosis dari gigitan binatang berbisa (ular).

4. Untuk mengetahui patofisiologis dari gigitan binatang berbisa (ular).

5. Untuk mengetahui klasifikasi dari gigitan binatang berbisa (ular).

6. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari gigitan binatang berbisa (ular)

7. Untuk mengetahui penatalaksanaan dari gigitan binatang berbisa (ular).

8. Untuk mengetahui prognosis gigitan dari binatang berbisa (ular).


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi

Gigitan ular merupakan salah satumasalah kesehatan yang sering terjadi

dinegara tropis dan subtropis. Pada tahun 2009, WHO memasukkan gigitan

ular dalamdaftar neglected tropical disease dan sampai sekarang tetap sebagai

masalah kesehatanmasyarakat global. Mayoritas penduduk Indonesia bekerja

dibidang pertanian dianggap sebagai populasi berisiko tinggi untuk

terkenagigitan ular. Di Indonesia tidak ada laporanepidemiologi nasional yang

tersediadisebabkan oleh sistem pelaporan yang kurangakurat. Data

epidemiologi kasus gigitan ularhanya dari laporan rumah sakit. Hanya ada

42kasus gigitan ular yang diobati pada antaratahun 2004 dan 2009. Wanita

lebih jarangdigigit ular dibandingkan pria, kecuali pekerjaan didominasi oleh

wanita. Anak-anak dan dewasa muda merupakan puncak usia yang sering

digigit ular (Pratama, 2017 : 33).

Gigitan binatang berbisa adalah gigitan atau serangan yang di akibatkan

oleh gigitan hewan berbisa seperti ular, laba-laba, kalajengking, dll. Korban

gigitan ular adalah pasien yang digigit ular atau diduga digigit ular.

1. Ular yang berbisa memiliki ciri- ciri :

a. Bentuk kepala segiempat panjang

b. Gigi taring kecil

c. Bekas gigitan: luka halus berbentuk lengkungan


2. Sedangkan ciri-ciri ular tidak berbisa seperti :

a. Bentuk kepala segitiga

b. Dua gigi taring besar di rahang atas

c. Bekas gigitan: dua luka gigitan utama akibat gigi taring

3. Bisa ular mengandung toksin dan enzim yang berasal dari air liur. Bisa

tersebut bersifat:

a. Neurotoksin: berakibat pada saraf perifer atau sentral. Berakibat fatal

karena paralise otot-otot lurik. Manifestasi klinis: kelumpuhan otot

pernafasan, kardiovaskuler yang terganggu, derajat kesadaran menurun

sampai dengan koma.

b. Haemotoksin: bersifat hemolitik dengan zat antara fosfolipase dan

enzim lainnya atau menyebabkan koagulasi dengan mengaktifkan

protrombin. Perdarahan itu sendiri sebagai akibat lisisnya sel darah

merah karena toksin. Manifestasi klinis: luka bekas gigitan yang terus

berdarah, haematom pada tiap suntikan IM, hematuria, hemoptisis,

hematemesis, gagal ginjal.

c. Myotoksin: mengakibatkan rhabdomiolisis yang sering berhubungan

dengan mhaemotoksin. Myoglobulinuria yang menyebabkan

kerusakan ginjal dan hiperkalemia akibat kerusakan sel-sel otot.

d. Kardiotoksin: merusak serat-serat otot jantung yang menimbulkan

kerusakan otot jantung.

e. Cytotoksin: dengan melepaskan histamin dan zat vasoaktifamin

lainnya berakibat terganggunya kardiovaskuler.


f. Cytolitik: zat ini yang aktif menyebabkan peradangan dan nekrose di

jaringan pada tempat patukan

g. Enzim-enzim: termasuk hyaluronidase sebagai zat aktif pada

penyebaran bisa.

Antibisa ular adalah satu-satunya antidot efektif untuk bisa ular.

Pemberian antibisa ular dilakukan sesegera mungkin sesuai indikasi. Antibisa

ular dapat melawan keracunan sistemik walaupun telah terjadi selama

beberapa hari. Pemberian antibisa ular diberikan selama bukti adanya

koagulopati masih ada. Antibisa ular berperan dalam mengatasi koagulopati

dan menurunkan udem ekstremitas yang berat. Selain menimbulkan gangguan

hemostasis, keracunan sistemik bisa ular juga dapat berupa gangguan

neurologis, kardiovaskular, dan cedera ginjal akut (Jaya, 2016 : 188).

2.2 Penyebab Gigitan Binatang Berbisa

Binatang berbisa tidak akan menyerang kecuali kalau mereka digusar atau

diganggu. Kebanyakan gigitan dan sengatan digunakan untuk pertahanan.

Gigitan serangga untuk melindungi sarang mereka.Sebuah gigitan atau

sengatan dapat menyuntikkan bisa(racun) yang tersusun dari protein dan

substansi lain yang mungkin memicu reaksi alergi kepada penderita.

2.3 Diagnosis

Menurut WHO (2009 : 37), gejala umum meliputi syok, muntah dan sakit

kepala. Periksa jejas gigitan untuk melihat adanya nekrosis lokal, perdarahan

atau pembesaran kelenjar limfe setempat yang lunak. Tanda spesifik

bergantung pada jenis racun dan reaksinya, meliputi :

a. Syok
b. Pembengkakan lokal yang perlahan meluas dari tempat gigitan

c. Perdarahan: eksternal: gusi, lika ; Internal: intrakranial

d. Tanda neurotoksisitas: kesulitan bernafas atau paralisis otot pernafasan,

ptosis, palpi bulbar (kesulitan menelan dan berbicara), kelemahan

skstremitas.

e. Tanda kerusakan otot: nyeri otot, dan urin menghitam

f. Periksa Hb (bila memungkinkan, periksa fungsi pembekuan darah)

2.4 Patofisiologi

Tanda umum ular berbisa adalah kepalanya berbentuk segitiga. Tanda lain

adalah dari penampakan langsung misalnya corak kulitnya. Dari bekas gigitan

dapat dillihat dua lubang yang jelas akibat dua gigi taring rahang atas bila

ularnya berbisa, dan deretan bekas gigi-gigi kecil berbentuk U bila ularnya tak

berbisa.

Bisa ular terdiri dari campuran beberapa polipeptida, enzim dan protein.

Jumlah bisa, efek letal dan komposisinya bervariasi tergantung dari spesies

dan usia ular. Bisa ular bersifat stabil dan resisten terhadap perubahan

temperatur. Secara mikroskop elektron dapat terlihat bahwa bisa ular

merupakan protein yang dapat menimbulkan kerusakan pada sel-sel endotel

dinding pembuluh darah, sehingga menyebabkan kerusakan membran plasma.

Komponen peptida bisa ular dapat berikatan dengan reseptor-reseptor yang

ada pada tubuh korban. Bradikinin, serotonin dan histamin adalah sebagian

hasil reaksi yang terjadi akibat bisa ular (Niasari, 2003 : 94).

Enzim yang terdapat pada bisa ular misalnya Larginine esterase

menyebabkan pelepasan bradikinin sehingga menimbulkan rasa nyeri,


hipotensi, mual dan muntah serta seringkali menimbulkan keluarnya keringat

yang banyak setelah terjadi gigitan. Enzim protease akan menimbulkan

berbagai variasi nekrosis jaringan. Phospholipase A menyebabkan terjadi

hidrolisis dari membran sel darah merah. Hyaluronidase dapat menyebabkan

kerusakan dari jaringan ikat. Amino acid esterase menyebabkan terjadi KID.

Pada kasus yang berat bisa ular dapat menyebabkan kerusakan permanen,

gangguan fungsi bahkan dapat terjadi amputasi pada ekstremitas (Niasari,

2003 : 94-95).

Bisa ular dari famili Crotalidae/Viperidae bersifat sitolitik yang

menyebabkan nekrosis jaringan, kebocoran vaskular dan terjadi koagulopati.

Komponen dari bisa ular jenis ini mempunyai dampak hampir pada semua

sistem organ. Bisa ular dari famili Elapidae dan Hydrophidae terutama bersifat

sangat neurotoksik, dan mempunyai dampak seperti kurare yang memblok

neurotransmiter pada neuromuscular junction. Aliran dari bisa ular di dalam

tubuh, tergantung dari dalamnya taring ular tersebut masuk ke dalam jaringan

tubuh (Niasari, 2003 : 95).

2.5 Klasifikasi

Derajat berat kasus gigitan ular berbisa umumnya dibagi dalam 4 skala,

yaitu derajat 1 (minor) = tidak ada gejala, derajat 2 (moderate) = gejala lokal,

derajat 3 (severe) = gejala berkembang ke daerah regional, derajat 4 (major) =

gejala sistemik (Niasari, 2003 : 95).


Tabel 1 ini adalah tabel skor dari derajat beratnya kasus gigitan ular berbisa

dari famili Crotalidae dan famili Elapidae

Pada umumnya gejala yang ditimbulkan oleh bisa ular terjadi dalam 2-6

jam setelah gigitan. serebri sering terjadi karena gigitan ular dari famili

Crotalidae/Viperidae, terjadi dalam waktu 7 jam sampai 1 minggu setelah

gigitan. Lalloo DG dkk, pada tahun 1992 melaporkan bahwa gejala klinis

timbul mulai 15 menit sampai 6 jam (dengan median 1 jam) setelah gigitan

(Niasari, 2003 : 95).

2.6 Manifestasi Klinis

Gigitan oleh Viperidae/Crotalidae seringkali menimbulkan gejala pada

tempat gigitan berupa nyeri dan bengkak yang dapat terjadi dalam beberapa
menit, bisa akan menjalar ke proksimal, selanjutnya terjadi edem dan

ekimosis. Pada kasus berat dapat timbul bula dan jaringan nekrotik, serta

gejala sistemik berupa mual, muntah, kelemahan otot, gatal sekitar wajah dan

kejang. Pasien jarang mengalami syok, edem generalisata atau aritmia jantung,

tetapi perdarahan sering terjadi. Boyer LV dkk, melaporkan bahwa dari 38

korban gigitan ular Viperidae, 29 (76%) mengalami koagulopati, dengan 20

(53%) terdapat beberapa kelainan komponen koagulopati (misalnya

hipofibrinogenemia dan trombositopenia) (Niasari, 2003 : 95).

Gigitan akibat Elapidae biasanya tidak menimbulkan nyeri hebat. Namun

demikian tidak adanya gejala lokal atau minimal, tidak berarti gejala yang

lebih serius tidak akan terjadi. Gejala yang serius lebih jarang terjadi dan

biasanya gejala berkembang dalam 12 jam. Bisa yang bersifat neurotoksik,

mempunyai dapat sangat cepat dalam beberapa jam, mulai dari perasaan

mengantuk sampai kelumpuhan nervus kranialis, kelemahan otot dan

kematian karena gagal napas (Niasari, 2003 : 95).

2.7 Penatalaksanaan

Menurut WHO (2009 : 37), penatalaksanaan terhadap gigitan binatang

berbisa (ular) ada beberapa hal yaitu :

1. Pertolongan pertama

a. Lakukan pembebatan pada ekstremitas proksimal jejaas gigitan untuk

mengurangi penjalaran dan penyerapan bisa. Jika gigitan kemungkinan

bersl dari ular dengan bisa neurotoksik, balut dengan ketat pada

ekstremitas yang tergigit dari jari-jari atau ibu jari hingga proksimal

tempat gigitan.
b. Bersihkan luka.

c. Jika terdapat salah satu tanda diatas, bawa anak segera ke rumah sakit

yang memiliki anti bisa ular. Jika ular telah dimatikan, bawa bangkai

ular tersebut bersama anak ke rumah sakit tersebut.

d. Hindari membuat irisan pada luka atau menggunakan toniket.

(WHO, 2009 : 37)

2. Perawatan di rumah sakit

 Apabila terjadi syok akibat gagal nafas :

a. Atasi syok jika timbul

b. Paralisis otot pernafasan dapat berlangsung beberapa hari dan hal

ini memerluhkan intubasi (lihat buka panduan pelatihan

APRC/APLS dari UKK PGD-IDAI) dan ventilasi mekanik (lihar

buku panduan pelatihan ventilasi mekanik pada anak dari UKK

PGD-IDAI) hingga fungsi pernafasan normal kembali atau

ventilasi manual (dengan masker atau pipa endotrakeal dan kantung

(Jackson Rees) yang dilakukan oleh staf dan atau keluarga

sementara menunggu rujukan ke rumah sakit rujukan ke yang lebih

tinggi terdekat. Perhatikan keamanan fiksasi pipa endotrakeal.

Sebagai alternatif lain adalah trakeostomi elektif (WHO, 2009 :

38).

 Antibisa

Jika didapatkan gejala sistemik atau lokal yang hebat

(pembengkakan pada lebihn dari setengah ekstremitas atau nekrosis

berat)berikan antibisa jika tersedia (WHO, 2009 : 38).


a. Siapkan epinefrin SK atau IM bila syok dan difenhidramin IM

untuk mengatasi reaksi alergi yang terjadi setelah pemberian

antibisa ular

b. Berikan antibisa polivalen. Ikuti langkah yang diberikan pada anak

sama dengan dosis pada orang dewasa.

 Larutkan antibisa 2-3 kali volume garam nornal berikan secara

intavena selama 1 jam. Berikan lebih perlahan pada awalnya

dan awasi kemungkinan terjadi reaksi anafilaksis atau efek

samping yang serius

c. Jika gatalnatau timbul urtikaria, gelisah, demam, batuk atau

kesulitan bernafas, hentikan pemberian antibisa dan berikan

epinefrin 0.01 ml/kg larutan 1/1000 atau 0.1 ml/kg 1/10000 SK.

Difenhidramin 1.25 mg/kg/BB/kali IM, bisa diberikan sampai 4

kali perhari (maksimal 50 mg/kali atau 300 mg/hari). Bila anak

stabil, mulai kembali berikan antibisa perlahan melalui infus.

d. Tambahan antibisa harus diberikan setelah 6jam terjadi gangguan

pembekuan darah berulang atau setelah 1-2jam. Jika pasien terus

mengalami perdarahan atau menunjukkan tanda yang memburuk

dari efek neurotoksik atau kardiovaskular (WHO, 2009 : 37).

Tranfusi darath tidak diperluhkan bila antibisa telah diberikan.

Fungsi pembekuan kembali normal setelah faktor pembekuan

diproduksi oleh htai. Tanda neurologi yang diseabkan antibisa

bervariasi, tergantung jenis bisa (WHO, 2009 : 38-39).

a. Pemberian antibisa dapat diulangi bila tidak ada respons.


b. Antikolinesterase dapat memperbaiki gejala neurologi pada

beberapa spesies ular (WHO, 2009 : 39).

 Pengobatan lain

Pembedahan

Mintalah pendapat/pertimbangan bedah jika terjadi pembengkakan

pada ekstremitas, denyut nadi melemah/tidak teraba atau terjadi

nekrosis lokal (WHO, 2009 : 38).

Tindakan bedah meliputi :

a. Eksisi jaringan nekrosis

b. Insisi selaput otot (fascial) untuk menghilangkan lim

compartments, jika perlu

c. Skin grafting, jika terjadi nekrosis yang luas

d. Trakeostomi dan kesulitan menelan

(WHO, 2009 : 39)

 Perawatan penunjang

a. Berikan cairan secara oral atau dengan NGT sesuai dengan

kebutuhan per hari. Buat catatan cairan masuk dan keluar.

b. Berikan obat pereda rasa sakit.

c. Elevasi ekstremitas jika bengkak.

d. Berikan profilaksis anti tetanus.

e. Pengobatan antibiotik tidak diperluhkan kecuali terdapat nekrosis.

f. Hindari pemberian suntikan intamuskular.


g. Pantau ketrtat segera setelah tiba di rumah sakit, kemudian tiap

jam selama 24 jam karena racun dapat berkembang dengan cepat

(WHO, 2009 : 39).

3. Sumber lain bisa binatang

Ikuti prinsip pengobatan seperti diatas. Berikan antibisa, jika tersedia

dan jika kelainan lokal berat atau terjadi efek sistemik (WHO, 2009 : 39).

a. Pada umumnya gigitan kalajengking dan laba-laba beracun

menimbulkan rasa sakit yang sangat tetapi jarang menimbulkan gejala

sistemik. Antibisa telah tersedia untuk beberapa spesies seperti widow

spider dan banana spider. Ikan beracun dapat menimbulkan rasa nyeri

lokal yang sangat hebat, tetapi jarang menimbulkan gejala sistemik.

Sengatan ubur-ubur kadang-kadang dengan cepat menyebabkan

bahaya yang mengancam nyawa. Berikan cuka dengan menggunakan

kapas untuk denaturasi protein bisa ubur-ubur yang menempel pada

kulit. Sungut yang menempel pada kulit.

b. Sungut yang menempel harus diambil hati-hati.

c. Menggosok-gosok luka sengatan dapat memperluas dampak

racun.antibisa mungkin tersedia.

d. Dosis antibisa untuk ubur-ubur dan laba-laba harus ditentukan berdasar

jumlah racun yang masuk. Dosis yang lebih tinggi diperlukan pada

gigitan yang multipel, gejala yang berat atau apabila gejala timbul

lambat (WHO, 2009 : 39-40).


2.8 Progosis

Gigitan ular berbisa berpotensi menyebabkan kematian dan keadaan yang

berat, sehingga perlu pemberian antibisa yang tepat untuk mengurangi gejala.

Ekstremitas atau bagian tubuh yang mengalami nekrosis pada umumnya akan

mengalami perbaikan, fungsi normal, dan hanya pada kasus-kasus tertentu

memerlukan skin graft (Niasari, 2003 : 97).


BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Gigitan ular merupakan salah satumasalah kesehatan yang sering terjadi

dinegara tropis dan subtropis. Pada tahun 2009, WHO memasukkan gigitan

ular dalamdaftar neglected tropical disease dan sampai sekarang tetap sebagai

masalah kesehatanmasyarakat global (Pratama, 2017 : 33). Gigitan binatang

berbisa adalah gigitan atau serangan yang di akibatkan oleh gigitan hewan

berbisa seperti ular, laba-laba, kalajengking, dll. Korban gigitan ular adalah

pasien yang digigit ular atau diduga digigit ular. Gigitan ular berbisa

berpotensi menyebabkan kematian dan keadaan yang berat, sehingga perlu

pemberian antibisa yang tepat untuk mengurangi gejala.

Antibisa ular adalah satu-satunya antidot efektif untuk bisa ular.

Pemberian antibisa ular dilakukan sesegera mungkin sesuai indikasi. Antibisa

ular dapat melawan keracunan sistemik walaupun telah terjadi selama

beberapa hari. Menurut WHO (2009 : 37), gejala umum meliputi syok,

muntah dan sakit kepala. Periksa jejas gigitan untuk melihat adanya nekrosis

lokal, perdarahan atau pembesaran kelenjar limfe setempat yang lunak.

3.2 Saran

Dalam menghadapi kasus gigitan ular berbisa diperlukan tata laksana yang

cepat, baik dalam menegakkan diagnosis maupun terapinya, oleh karena dapat

menimbulkan kecacatan dan mengancam jiwa. Sehingga makalah ini dapat


dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk pembelajaran atau panduan

apabila menghadapi kasus gigitan binatang berbisa (ular).


DAFTAR PUSTAKA

Niasari, Nia dan Latief, Abdul. 2003. Gigitan Ular Berbisa. Jakarta : Jurnal Sari

Pediatri, Vol. 5, No. 3, Desember 2003: 92-98 Fakultas Kedokteran

Universitas Brawijaya.

Pratama, Gilang Yoghi dan Oktafany. 2017. Gigitan Ular pada Regio Sinistra.

Lampung : Jurnal Medula Unila, Volume 7, Nomor 1, Januari 2017 Fakultas

Kedokteran Universitas Lampung.

World Health Organization. 2009. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di

Rumah Sakit : Pedoman Bagi Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama di

Kabupaten/Kota. Jakarta : WHO Indonesia

Jaya, AA Gede dan Panji, I Putu. 2016. Tata Laksana Gigitan Ular yang Disertai

Sindrom Kompartemen di Ruang Terapi Intensif. Denpasar : ISSN 2540-

8313 URL:http.\\ojs.unud.co.id\index.php\eum Volume 51 Nomor 2 mei

2016 Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.