Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH PENGABDIAN MASYARAKAT

“PENYULUHAN ANEMIA PADA REMAJA PUTRI”

Disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Kesehatan Masyarakat

Oleh :

Kelompok 8

1. Anisa’ Fitrianingrum (16.14.02.002)

2. Dian Ferliya Anggraeni (16.14.02.006)

3. Fepy Sisiliay (16.14.02.011)

AKADEMI KEBIDANAN PAMENANG

JL. SOEKARNO HATTA NO. 15 BENDO PARE KEDIRI

TELEPON (0354) 393102

TAHUN 2018
BAB II

PEMBAHASAN

A. REMAJA

1. Pengertian

Remaja adalah masa di mana individu mengalami perkembangan semua aspek

dari masa kanak-kanak menjadi dewasa. Peralihan dari masa kanak-kanak menjadi

dewasa ini biasa dikenal atau disebut dengan masa pubertas (inggris: puberty) yang

berarti sebagai tahap di mana remaja mengalami kematangan seksual dan mulai

berfungsinya organ-organ reproduksi. Masa pematangan fisik ini berjalan kurang

lebih 2 tahun dan biasanya dihitung dari mulainya haid yang pertama pada wanita

atau sejak seorang laki-laki mengalami mimpi basah yang pertama (Sarwono, 2011).

Menurut World Health Organization dalam Sarwono 2011 remaja adalah masa

dimana individu berkembang dari saat pertama kali menunjukkan tanda-tanda seksual

sekunder sampai saat mencapai kematangan seksual. Kematangan seksual baik primer

(produksi sel telur, sel sperma) maupun sekunder seperti kumis, rambut kemaluan,

payudara dan lain-lain. Remaja dalam arti adolescence berasal dari bahasa latin

adolescence yang artinya tumbuh ke arah kematangan. Kematangan di sini tidak

hanya berarti kematangan fisik, tetapi juga kematangan sosial psikologis (Muss,1968

dalam Sarwono 2011).

Batasan usia remaja berbeda-beda sesuai dengan sosial budaya setempat.

WHO membagi kurun usia dalam 2 bagian, yaitu remaja awal 10-14 tahun dan remaja

akhir 15-20 tahun. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan usia 15-24 tahun

sebagai masa usia muda (youth). Batasan untuk remaja Indonesia usia 11-24 tahun

dan belum menikah (Sarwono, 2011).


Sedangkan menurut Hurlock (2011) mengemukakan bahwa masa remaja

dimulai dengan masa remaja awal (12-14 tahun), kemudian dilanjutkan dengan masa

remaja tengah (15-17 tahun), dan masa remaja akhir (18-21 tahun).

Menurut Depatemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat (2011) masa remaja

merupakan masa transisi dari masa anak-anak ke masa dewasa. Selama masa ini

banyak persoalan yang dihadapi para remaja yang berkaitan dengan masalah gizi.

Masalah yang berkaitan dengan gizi yang paling sering dijumpai pada remaja putri

adalah anemia, anemia lebih sering terjadi pada wanita dan remaja putri dibandingkan

dengan pria (Sulistyoningsih, 2011).

2. Tahapan Remaja

Menurut Sarwono (2011) dan Hurlock (2011) ada tiga tahap perkembangan remaja,

yaitu :

1) Remaja awal (early adolescence) usia 11-13 tahun

Seorang remaja pada tahap ini masih heran akan perubahan-perubahan yang

terjadi pada tubuhnya. Remaja mengembangkan pikiran-pikiran baru, cepat tertarik

pada lawan jenis, dan mudah terangsang secara erotis. Pada tahap ini remaja awal

sulit untuk mengerti dan dimengerti oleh orang dewasa. Remaja ingin bebas dan

mulai berfikir abstrak.

2) Remaja Madya (middle adolescence) 14-16 tahun

Pada tahap ini remaja sangat membutuhkan teman-teman. Remaja merasa

senang jika banyak teman yang menyukainya. Ada kecendrungan “narcistic”, yaitu

mencintai diri sendiri, dengan menyukai teman-teman yang mempunyai sifat yang

sama pada dirinya. Remaja cendrung berada dalam kondisi kebingungan karena ia

tidak tahu harus memilih yang mana. Pada fase remaja madya ini mulai timbul

keinginan untuk berkencan dengan lawan jenis dan berkhayal tentang aktivitas
seksual sehingga remaja mulai mencoba aktivitas-aktivitas seksual yang mereka

inginkan.

3) Remaja akhir (late adolesence) 17-20 tahun

Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa yang ditandai

dengan pencapaian 5 hal, yaitu :

a. Minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelektual.

b. Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang-orang dan dalam

pengalaman-pengalaman yang baru.

c. Terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi.

d. Egosentrisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri.

e. Tumbuh “dinding” yang memisahkan diri pribadinya (private self) dan publik.

3. Perkembangan Remaja

1) Perkembangan fisik

Perubahan fisik terjadi dengan cepat pada remaja. Kematangan seksual terjadi

seiring dengan perkembangan karakteristik seksual primer dan sekunder.

Karakteristik primer berupa perubahan fisik dan hormonal yang penting untuk

reproduksi dan karakteristik sekunder secara eksternal berbeda pada laki-laki dan

perempuan (Potter & Perry, 2005).

Perubahan fisik ditandai dengan kematangan seks sekunder seperti tumbuh

rambut diketiak dan sekitar alat kemaluan. Pada anak laki-laki tumbuhnya kumis dan

jenggot, jakun dan suara membesar. Puncak kematangan organ reproduksi pada anak

laki-laki adalah dengan kemampuannya dalam ejakulasi, yang menunjukkan bahwa

pada masa ini remaja laki-laki sudah dapat menghasilkan sperma. Ejakulasi ini

biasanya terjadi disaat tidur dan diawali dengan mimpi erotis atau yang biasa disebut

dengan mimpi basah (Sarwono, 2011).


Pada anak perempuan tampak perubahan pada bentuk tubuh karena

tumbuhnya payudara dan panggulnya yang membesar serta suaranya yang berubah

menjadi lebih lembut. Puncak dari kematangan organ reproduksi pada masa remaja

anak perempuan adalah mendapatkan menstruasi pertama (menarche). Menstruasi

pertama menunjukkan bahwa dirinya telah memproduksi sel telur yang tidak dibuahi,

sehingga akan keluar bersama darah menstruasi melalui vagina atau alat kelamin

wanita (Sarwono, 2011).

2) Perkembangan emosi

Perkembangan emosi erat kaitannya dengan perkembangan hormon, dan

ditandai dengan emosi yang sangat labil. Ketika marah bisa meledak-ledak, jika

sedang gembira terlihat sangat ceria dan jika sedih bisa sangat depresif. Ini adalah

kondisi yang normal bahwa remaja belum dapat sepenuhnya mengendalikan

emosinya (Sarwono, 2011).

3) Perkembangan kognitif

Remaja mengembangkan kemampuannya dalam menyelesaikan masalah

dengan tindakan logis. Remaja dapat berpikir abstrak dan menghadapi masalah yang

sulit secara efektif. Jika terlibat dalam masalah, remaja dapat mempertimbangkan

beragam penyebab dan solusi yang sangat banyak (Potter & Perry, 2005).

4) Perkembangan psikososial

Perkembangan psikososial ini ditandai dengan keterkaitannya pada kelompok

sebaya. Hal ini mengembangkan rasa solidaritas, saling menghargai, saling

menghormati yang sebelumnya tidak remaja miliki ketika masa kanak-kanak. Pada

masa ini selain masalah sekolah, masalah teman dan ketertarikan pada lawan jenis

menjadi lebih menyenangkan. Minat sosialnya bertambah dan penampilannya

menjadi lebih penting dibandingkan sebelumnya. Perubahan fisik seperti tinggi badan
dan berat badan serta proporsi tubuh dapat menimbulkan perasaan yang tidak

menyenangkan, seperti ragu-ragu, tidak percaya diri dan tidak aman (Potter & Perry,

2005)

4. Ciri Perkembangan Remaja Putri

Ciri-ciri perkembangan remaja putri menurut Hurlock (2001), antara lain :

a. Perubahan Tubuh Pada Masa Puber

1) Perubahan Ukuran Tubuh

Perubahan fisik utama pada masa puber adalah perubauan ukuran tubuh dalam

tinggi dan berat badan. Di antara anak-anak perempuan, rata-rata peningkatan per

tahun dalam tahun sebelum haid adalah 3 inci, tetapi peningkatan itu bisa juga terjadi

dari 5 sampai 6 inci. Dua tahun sebelum haid peningkatan rata-rata

adalah 2,5 inci. Jadi peningkatan keseluruhan selama dua tahun sebelum haid adalah

5,5 inci. Setelah haid, tingkat pertumbuhan menurun sampai kira-kira 1 inci setahun

dan berhenti sekitar delapan belas tahun.

2) Perubahan Proporsi Tubuh

Perubahan fisik pokok yang kedua adalah perubahan proporsi tubuh. Daerah-

daerah tubuh tertentu yang tadinya terlampau kecil, sekarang menjadi terlampau besar

karena kematangan tercapai lebih cepat dari daerah-daerah tubuh yang lain. Badan

yang kurus dan panjang mulai melebar di bagian pinggul dan bahu, dan ukuran

pinggang tampak tinggi karena kaki menjadi lebih panjang dari badan.

3) Ciri-ciri Seks Primer

Semua organ reproduksi wanita tumbuh selama masa puber, meskipun dalam

tingkat kecepatan yang berbeda. Berat uterus anak usia sebelah atau dua belas tahun

berkisar 5,3 gram; pada usia enam belas tahun rata-rata beratnya 43 gram. Tuba
falopi, telur-telur, dan vagina juga tumbuh pesat pada saat ini. Petunjuk pertama

bahwa mekanisme reproduksi anak perempuan menjadi matang adalah datangnya

haid. Ini adalah permulaan dari serangkaian pengeluaran darah, lendir, dan jaringan

sel yang hancur dari uterus secara berkala, yang akan terjadi kira-kira setiap dua puluh

delapan hari sampai mencapai menopause. Periode haid umumnya terjadi pada jangka

waktu yang sangat tidak teratur dan lamanya berbeda-beda pada tahun-tahun pertama.

4) Ciri-ciri seks sekunder

 Pinggul

Pinggul menjadi bertambah lebar dan bulat sebagai akibat membesarnya

tulang pinggul dan berkembangnya lemak bawah kulit.

 Payudara

Segera setelah pinggul mulai membesar, payudara juga berkembang. Puting

susu membesar dan menonjol, dan dengan berkembangnya kelenjarr susu,

payudara menjadi lebih besar dan lebih bulat.

 Rambut

Rambut kemaluan timbul setelah pinggul dan payudara mulai berkembang.

Bulu ketiak dan bulu pada kulit wajah mulai tampak setelah haid. Semua rambut

kecuali rambut wajah mulai lurus dan terang warnanya, kemudian menjadi lebih

subur, lebir kasar, lebih gelap dan agak keriting.

 Kulit

Kulit menjadi lebih kasar, lebih tebal, agak pucat dan lubang pori-pori

bertambah besar.
 Kelenjar

Kelenjar lemak dan kelenjar keringat menjadi lebih aktif. Sumbatan kelenjar

lemak dapat menyebabkan jerawat. Kelenjar keringat di ketiak mengeluarkan

banyak keringat dan baunya menusuk sebelum dan selama masa haid.

 Otot

Otot semakin besar dan semakin kuat, terutama pada pertengahan dan

menjelang akhir masa puber, sehingga memberikan bentuk pada bahu, lengan dan

tungkai kaki.

 Suara

Suara menjadi lebih penuh dan lebih semakin merdu. Suara serak dan suara

yang pecah jarang terjadi pada anak perempuan.

b. Akibat Perubahan Remaja Putri Pada Masa Puber

1) Akibat terhadap keadaan fisik

Pertumbuhan yang pesat dan perubahan-perubahan tubuh cenderung disertai

kelelahan, kelesuan dan gejala-gejala buruk lainnya. Sering terjadi gangguan

pencernaann dan nafsu makan kurang baik. Anak prapuber sering terganggu oleh

perubahanperubahan kelenjar, besarnya, dan posisi organ-organ internal.

Perubahan-perubahan ini menganggu fungsi pencernaan yang normal. Anemia

sering terjadi pada masa ini, bukan karena adanya perubahan dalam kimiawi darah

tetapi kebiasaan makan yang tidak menentu yang semakin menambah kelelahan

dan kelesuan.
2) Akibat pada sikap dan perilaku

Dapat dimengerti bahwa akibat yang luas dari masa puber pada keadaan fisik

anak juga mempengaruhi sikap dan perilaku. Pada umumnya pengaruh masa puber

lebih banyak pada anak perempuan daripada anak laki-laki, sebagian disebabkan

karena anak perempuan biasanya lebih cepat matang daripada anak lakilaki dan

sebagian karena banyak hambatan-hambatan sosial mulai ditekankan pada perilaku

anak perempuan justru pada saat anak perempuan mencoba untuk membebaskan

diri dari berbagai pembatasan. Karena mencapai masa puber lebih dulu, anak

perempuan lebih cepat menunjukkan tanda-tanda perilaku yang menganggu

daripada anak laki-laki. Tetapi perilaku anak perempuan lebih cepat stabil daripada

anak laki-laki, dan anak perempuan mulai berperilaku seperti sebelum masa puber.

c. Akibat kematangan yang menyimpang

1) Matang lebih awal versus matang terlambat

Matang lebih awal kurang menguntungkan bagi anak perempuan daripada

anak laki-laki. Anak perempuan yang matang lebih awal berperilaku lebih dewasa

dan lebih berpengalaman, namun penampilan dan tindakannnnya dapat

menimbulkan reputasi “kegenitan seksual”. Di samping itu, anak perempuan yang

matang lebih awal banyak mengalami salah langkah dengan teman-temannya

dibandingkan dengan anak laki-laki yang matang lebih awal. Anak perempuan

yang matang tidak mengalami gangguan psikologis sebanyak anak laki-laki yang

matang terlambat.
2) Cepat matang versus lamban matang

Tingkat kecepatan dari kematangan seksual memberi pengaruh buruk terutama

pada anak yang lamban matangnya. Meskipun anak yang cepat matang kadang-

kadang secara emosional terganggu oleh ketakutan dan kejanggalannya dan walaupun

periode meningginya emosi lebih sering terjadi dengan intensitas yang lebih tinggi

dibandingkan dengan anak yang lamban matang, tetapi anak tidak pernah merasa

khawatir apakah ia akan menjadi dewasa.

B. ANEMIA PADA REMAJA PUTRI

1. Pendahuluan Anemia

Anemia pada remaja putri sampai saat ini masih cukup tinggi, menurut World

Health Organization (WHO), prevalensi anemia dunia berkisar 40-88%. Menurut

WHO, angka kejadian anemia pada remaja putri di Negara-negara berkembang sekitar

53,7% dari semua remaja putri, anemia sering menyerang remaja putri disebabkan

karena keadaan stress, haid, atau terlambat makanan. Angka anemia gizi besi di

Indonesia sebanyak 72,3%. Kekurangan besi pada remaja mengakibatkan pucat,

lemah, letih, pusing, dan menurunnya konsentrasi belajar. Penyebabnya, antara lain:

tingkat pendidikan orang tua, tingkat ekonomi, tingkat pengetahuan tentang anemia

dari remaja putri, konsumsi Fe, Vitamin C, dan lamanya menstruasi. Jumlah

penduduk usia remaja (10-19 tahun) di Indonesia sebesar 26,2% yang terdiri dari

50,9% laki-laki dan 49,1% perempuan. Selain itu, berdasarkan hasil Riskesdas tahun

2013, prevalensi anemia di Indonesia yaitu 21,7% dengan penderita anemia berumur

5-14 tahun sebesar 26,4% dan 18,4% penderita berumur 15-24 tahun.
Data Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2012 menyatakan

bahwa prevalensi anemia pada balita sebesar 40,5%, ibu hamil sebesar 50,5%, ibu

nifas sebesar 45,1%, remaja putri usia 10-18 tahun sebesar 57,1% dan usia 19-45

tahun sebesar 39,5%. Wanita mempunyai risiko terkena anemia paling tinggi terutama

pada remaja putri. Angka prevalensi anemia di Indonesia, yaitu pada remaja wanita

sebesar 26,50%, pada wanita usia subur sebesar 26,9%, pada ibu hamil sebesar 40,1%

dan pada balita sebesar 47,0%. Dari Hasil Riskesdas 2013 hal ini menunjukkan bahwa

anemia gizi besi pada remaja sampai saat ini masih menjadi permasalahan gizi di

Indonesia karena persentasenya >20% (Riskesdas, 2013 ; Minarto, 2011).

2. Pengertian Anemia

Anemia adalah kekurangan kadar hemoglobin (Hb) dalam darah yang

disebabkan kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk pembentukan hemoglobin.

Kadar Hb normal pada remaja perempuan adalah 12 gr/dl. Remaja dikatakan anemia

jika kadar Hb <12 gr/dl (Proverawati & Asfuah, 2009).

Remaja putri merupakan salah satu kelompok yang rawan menderita anemia

gizi besi karena mempunyai kebutuhan zat besi yang tinggi untuk pertumbuhan dan

peningkatan kehilangan akibat menstruasi. Penelitian menunjukan bahwa 27% anak

perempuan usia 11- 18 tahun tidak memenuhi kebutuhan zat besinya sedangkan anak

laki-laki hanya 4%, hal ini menunjukan bahwa remaja putri lebih rawan untuk

mengalami defisiensi zat gizi. Selain itu, remaja putri biasanya sangat memperhatikan

bentuk tubuh, sehingga banyak yang membatasi konsumsi makanan dan banyak

pantangan terhadap makanan. Bila asupan makanan kurang maka cadangan besi

banyak yang dipecah untuk memenuhi kebutuhan. Keadaan seperti ini dapat

mempercepat terjadinya anemia gizi besi (Webster, 2012).


Menurut Smeltzer dan Bare (2002), anemia adalah istilah yang menunjukkan

rendahnya hitung sel darah merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit di bawah

normal. Anemia bukan merupakan pencerminan keadaan suatu penyakit atau

gangguan fungsi tubuh. Secara fisiologis, anemia terjadi apabila terdapat kekurangan

jumlah hemoglobin untuk mengangkut oksigen ke jaringan. Perempuan lebih rentan

anemia dibanding dengan laki-laki. Kebutuhan zat besi pada perempuan adalah 3 kali

lebih besar daripada pada laki-laki. Perempuan setiap bulan mengalami menstruasi

yang secara otomatis mengeluarkan darah. Itulah sebabnya perempuan membutuhkan

zat besi untuk mengembalikan kondisi tubuhnya kekeadaan semula. Hal tersebut tidak

terjadi pada laki-laki. Demikian pula pada waktu kehamilan, kebutuhan akan zat besi

meningkat 3 kali dibanding dengan pada waktu sebelum kehamilan. Ini berkaitan

dengan kebutuhan perkembangan janin yang dikandungnya.

Anemia gizi besi dikalangan remaja jika tidak tertangani dengan baik akan

berlanjut hingga dewasa dan berkontribusi besar terhadap angka kematian ibu, bayi

lahir prematur, dan bayi dengan berat lahir rendah. Selain itu, anemia gizi besi dapat

menyebabkan lekas lelah, konsentrasi belajar menurun sehingga prestasi belajar

rendah dan dapat menurunkan produktivitas kerja.(Spear, 2000)

3. Batasan Anemia

Menurut Manuaba (2010), batasan anemia adalah sebagai berikut:

a. Tidak anemia Hb > 11 gr %

b. Anemia Ringan Hb 9-10 gr %

c. Anemia Sedang Hb 7-8 gr %

d. Anemia Berat Hb < 7 gr %


4. Macam-macam Anemia

Menurut Prawirohardjo (2009), macam-macam anemia adalah sebagai berikut:

a. Anemia defisiensi besi

Adalah anemia yang disebabkan oleh kurangnya mineral fe. Kekurangan ini dapat

disebabkan karena kurang masuknya unsur besi dengan makanan, karena gangguan

absorbsi, atau terlampau banyaknya besi keluar dari badan, misalnya pada perdarahan

(Prawirohardjo, 2009).

b. Anemia megaloblastik

Adalah anemia yang disebabkan oleh defisiensi asam folat, jarang sekali karena

defisiensi vitamin B12, anemia ini sering ditemukan pada wanita yang jarang

mengkonsumsi sayuran hijau segar atau makanan dengan protein hewani tinggi

(Walsh,2008).

c. Anemia hemolitik

Adalah anemia yang disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung

lebih cepat dari pembuatannya (Prawirohardjo, 2009).

d. Anemia Hipoplastik dan Aplastik

Adalah anemia yang disebabkan karena sumsum tulang belakang kurang mampu

membuat sel-sel darah yang baru (Prawirohardjo 2005). Pada sepertiga kasus anemia

dipicu oleh obat atau zat kimia lain, infeksi, radiasi, leukimia, dan gangguan imunologis

(Myles, 2009).
5. Tanda dan Gejala Anemia

Menurut Proverawati & Asfuah (2009), tanda-tanda anemia pada remaja putri adalah :

a. Lesu, lemah, letih, lelah dan lunglai (5L)

b. Sering mengeluh pusing dan mata berkunang-kunang.

c. Gejala lebih lanjut adalah kelopak mata, bibir, lidah, kulit dan telapak tangan

menjadi pucat.

Menurut Handayani dan Haribowo (2008), gejala anemia dibagi menjadi tiga

golongan besar yaitu sebagai berikut:

1) Gejala umum anemia

Gejala umum anemia disebut juga sebagai sindrom anemia atau Anemic

syndrome. Gejala umum anemia atau sindrom anemia adalah gejala yang timbul pada

semua jenis anemia pada kadar hemoglobin yang sudah menurunsedemikian rupa di

bawah titik tertentu. Gejala yang timbul anoksiaorgan target dan mekanisme

kompensasi tubuh terhadap penurunan hemoglobin. Gejala-gejala tersebut apabila

diklasifikasikan menurut organ yan terkena adalah:

a) Sistem kardiovaskuler : lesu, cepat lelah, palpitasi, takikardi, sesak nafas saat

beraktifitas, angina pektoris, dan gagal jantung.

b) Sistem saraf : sakit kepala, pusing, telinga mendenging, mata berkunang-

kunang, kelemahan otot, iritabilitas, lesu, serta perasaan dingin pada

ekstermitas.

c) Sistem urogenital : gangguan haid dan libido menurun.


d) Epitel : warna pucat pada kulit dan mukosa, elastisitas kulit menurun, serta

rambut tipis dan halus.

6. Penyebab Anemia

Anemia gizi disebabkan oleh kekurangan zat gizi yang berperan dalam

pembentukan hemoglobin, baik karena kekurangan konsumsi atau karena gangguan

absorpsi. Zat gizi yang bersangkutan adalah besi, protein, piridoksin (vitamin B6)

yang berperan sebagai katalisator dalam sintesis hem didalam molekul hemoglobin,

vitamin C yang mempengaruhi absorpsi dan pelepasan besi dari transferin ke dalam

jaringan tubuh, dan vitamin E yang mempengaruhi membran sel darah merah

(Almatsier, 2009).

Anemia terjadi karena produksi sel-sel darah merah tidak mencukupi, yang

disebabkan oleh faktor konsumsi zat gizi, khususnya zat besi. Pada daerah-daerah

tertentu, anemia dapat dipengaruhi oleh investasi cacing tambang. Cacing tambang

yang menempel pada dinding usus dan memakan makanan membuat zat gizi tidak

dapat diserap dengan sempurna.

Akibatnya, seseorang menderita kurang gizi, khususnya zat besi. Gigitan cacing

tambang pada dinding usus juga menyebabkan terjadinya pendarahan sehingga akan

kehilangan banyak sel darah merah. Pendarahan dapat terjadi pada kondisi eksternal

maupun internal, misalnya pada waktu kecelakaan atau menstruasi yang banyak bagi

perempuan remaja (Supariasa, 2001).

Salah satu penyebab kurangnya asupan zat besi adalah karena pola konsumsi

masyarakat Indonesia yang masih didominasi sayuran sebagai sumber zat besi (non

heme iron). Sedangkan daging dan protein hewani lain (ayam dan ikan) yang

diketahui sebagai sumber zat besi yang baik (heme iron), jarang dikonsumsi terutama
oleh masyarakat di pedesaan sehingga hal ini menyebabkan rendahnya penggunaan

dan penyerapan zat besi (Sediaoetama, 2003).

Selain itu penyebab anemia defisiensi besi dipengaruhi oleh kebutuhan tubuh

yang meningkat, akibat mengidap penyakit kronis, kehilangan darah karena

menstruasi dan infeksi parasit(cacing). Di Indonesia penyakit kecacingan masih

merupakan masalah yang besar untuk kasus anemia defisiensi besi, karena

diperkirakan cacing menghisap darah 2-100 cc setiap harinya (Proverawati & Asfuah

(2009).

Menurut Mansjoer (2008), etiologi anemia, meliputi :

a. Asupan besi yang berkurang pada jenis makanan yang mengandung Fe.

b. Kehilangan/pengeluaran besi berlebihan pada perdarahan saluran cerna kronis.

c. Kebutuhan energi dan zat besi yang meningkat oleh karena pertumbuhan pada bayi,

remaja, dan ibu hamil.

d. Asupan zat besi yang tidak cukup dan penyerapan tidak adekuat.

7. Kebutuhan zat besi pada remaja putri

Kebutuhan zat besi pada remaja putri dipengaruhi oleh :

a. Pertumbuhan Fisik

Pada usia remaja tumbuh kembang tubuh berlangsung lambat bahkan akan

berhenti menjelang usia 18 tahun, tidak berarti faktor gizi pada usia ini tidak memerlukan

perhatian lagi. Selain itu keterlambatan tumbuh kembang tubuh pada usia sebelumnya

akan dikejar pada usia ini. Ini berarti pemenuhan kecukupan gizi sangat penting agar

tumbuh kembang tubuh berlangsung dengan sempurna. Taraf gizi seseorang, dimana
makin tinggi kebutuhan akan zat besi, misalnya pada masa pertumbuhan, kehamilan dan

penderita anemia (Moeji, 2003).

b. Aktivitas Fisik

Sifat energik pada usia remaja menyebabkan aktivitas tubuh meningkat sehingga

kebutuhan zat gizinya juga meningkat (Moeji, 2003).

8. Dampak Anemia Bagi Remaja Putri

Menurut Sediaoetama (2003), dampak anemia bagi remaja putri adalah :

a. Menurunkan kemampuan dan konsentrasi belajar.

b. Mengganggu pertumbuhan sehingga tinggi badan tidak mencapai

optimal.

c. Menurunkan kemampuan fisik olahraga.

d. Mengakibatkan muka pucat.

9. Pencegahan Anemia

Menurut Almatzier (2009), cara mencegah dan mengobati anemia adalah :

a. Meningkatkan Konsumsi Makanan Bergizi.

 Makan makanan yang banyak mengandung zat besi dari bahan makanan

hewani (daging, ikan, ayam, hati, telur) dan bahan makanan nabati (sayuran

berwarna hijau tua, kacang-kacangan, tempe).

 Makan sayur-sayuran dan buah-buahan yang banyak mengandung vitamin C

(daun katuk, daun singkong, bayam, jambu, tomat, jeruk dan nanas) sangat

bermanfaat untuk meningkatkan penyerapan zat besi dalam usus.

b. Menambah pemasukan zat besi kedalam tubuh dengan minum Tablet Tambah

Darah (TTD).
Tablet Tambah Darah adalah tablet besi folat yang setiap tablet mengandung

200 mg Ferro Sulfat atau 60 mg besi elemental dan 0,25 mg asam folat. Wanita dan

Remaja Putri perlu minum Tablet Tambah Darah karena wanita mengalami haid

sehingga memerlukan zat besi untuk mengganti darah yang hilang. Wanita

mengalami hamil, menyusui, sehingga kebutuhan zat besinya sangat tinggi yang

perlu dipersiapkan sedini mungkin semenjak remaja. Tablet tambah darah mampu

mengobati wanita dan remaja putri yang menderita anemia, meningkatkan

kemampuan belajar, kemampuan kerja dan kualitas sumber daya manusia serta

generasi penerus. Meningkatkan status gizi dan kesehatan remaja putri dan wanita.

Anjuran minum yaitu minumlah 1 (satu) Tablet Tambah Darah seminggu

sekali dan dianjurkan minum 1 tablet setiap hari selama haid. Minumlah Tablet

Tambah Darah dengan air putih, jangan minum dengan teh, susu atau kopi karena

dapat menurunkan penyerapan zat besi dalam tubuh sehingga manfaatnya menjadi

berkurang.

c. Mengobati penyakit yang menyebabkan atau memperberat anemia seperti:

cacingan, malaria dan penyakit TBC.


DAFTAR PUSTAKA

Dardjito. 2016. Anemia Gizi Besi pada Remaja Putri di Wilayah Kabupaten

Banyumas. file:///C:/Users/acer/Downloads/138-49-270-2-10-20180327.pdf

(diakses tanggal 5 Mei 2018)

Khambali. Bab II Tinjauan Pustaka.

http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/123/jtptunimus-gdl-khambalig2-6127-2-

babii.pdf (diakses tanggal 4 Mei 2018)

Rizkyafril. 2016. http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/150/jtptunimus-gdl-

rizkyafril-7458-3-babii.pdf (diakses tanggal 5 Mei 2018)

Pratiwi. 2016. Faktor yang Mempengaruhi Anemia pada Remaja.

http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29680/1/EKA

%20PRATIWI-FKIK.pdf (diakses tanggal 5 Mei 2018)

Windasari. 2016. Bab II Tinjauan Pustaka.

http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/2463/f.%20Bab

%20II.pdf?sequence=6&isAllowed=y (diakses tanggal 5 Mei 2018)