Anda di halaman 1dari 14

PROPOSAL

KESEHATAN MASYARAKAT

“ UPAYA PENURUNAN AKI AKB DENGAN


MEMBENTUK POSYANDU REMAJA “

Disusun Dalam Rangka Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kesehatan Masyarakat


Oleh Kelompok 1 :
1. Diah Ayu Sugita (16.14.02.009)
2. Fepy Sisiliay (16.14.02.011)
3. Fransiska Iga (16.14.02.013)
4. Klolipah Anggraeni (16.14.02.015)
5. Linda Silviya (16.14.02.017)
6. Ni Ayang Wahyunata (16.14.02.020)
7. Nur Laili Rohmah (16.14.02.023)

AKADEMI KEBIDANAN PAMENANG


JL. SOEKARNO HATTA NO. 15 BENDO-PARE-KEDIRI
TELEPON (0354) 393102-FAX (0354) 395480
TAHUN 2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena

dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya lah kami dapat

menyelesaikan Makalah Kesehatan Masyarakat yang berjudul “Upaya

Penurunan AKI AKB dengan Membentuk Posyandu Remaja”

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah

wawasan serta pengetahuan kita. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di

dalam tugas ini terdapat kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang kami

harapkan. Untuk itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi

perbaikan di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna

tanpa sarana yang membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang

membacanya. Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami

sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila

terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami.

Pare, 30 Maret 2018

Penyusun
DAFTAR ISI

JUDUL .................................................................................................................
KATA PENGANTAR.........................................................................................ii
DAFTAR ISI........................................................................................................iii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.................................................................................................1
1.2 Tujuan..............................................................................................................2
1.3 Manfaat............................................................................................................3

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kondisi Kekinian.............................................................................................4
2.2 Solusi yang Ditawarkan sebelumnya...............................................................5
2.3 Pihak-Pihak yang Dipertimbangkan................................................................6
2.4 Langkah Strategis............................................................................................7

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan......................................................................................................9
3.2 Saran................................................................................................................10

DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................11
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ibu adalah sosok perempuan yang paling berjasa dalam kehidupan seoran

anak termasuk kita. Kasih ibu sepanjang masa, begitulah peribahasa yang kita

kenal untuk menggambarkan betapa besarnya kasih sayang ibu untuk anaknya,

taka da perumpamaan seindah apapun munkin yang sebanding dengan realita

kasih sayang yang ibu berikan dengan tulus kepada kita. Ibu adalah anggota

keluarga yang berperan penting dalam mengatur semua terkait urusan rumah

tangga, pendidikan anak dan kesehatan seluruh keluarga. Dalam

penyelenggaran upaya kesehatan, ibu dan anak merupkan anggota yang perlu

mendapatkan prioritas. Oleh karena itu, upaya peningkatan kesehatan ibu dan

anak mendapat perhatian khusus. Penilaian terhadap status kesehatan dan

kinerja upaya kesehatan ibu penting untuk dilakukan pemantauan. Hal tersebut

dikarenakan angka kematian ibu (AKI) merupakan salah satu indicator yang

peka dalam menggambarkan kesejahteraan masyarakat di suatu Negara

(Kemenkes RI, 2014).

Kematian ibu menurut definisi WHO adalah kematian selama kehamilan

atau dalam periode 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, akibat semua sebab

yang terkait dengan atau diperberat oleh kehamilan atau penanganannya,

tetapi bukan disebabkan oleh kecelakaan/cedera (Kemenkes RI, 2014).

Berdasarkan survei demografi dan kesehatan Indonesia (SDKI) tahun

2012, angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi sebesar 359 per 100.000
kelahiran hidup Angka ini sedikit menurun jika dibandingkan dengan SDKI

tahun 1991, yaitu sebesar 390 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini sedikit

menurun meskipun tidak terlalu signifikan. Target global MDGs (Millenium

Development Gols) ke-5 menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) menjadi

102 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015. Mengacu dari kondisi ini,

potensi untuk mencapai target MDGs ke-5 untuk menurunkan AKI adalah off

track, artinya diperlukan kerja keras dan sungguh-sungguh untuk mencapainya

(Kemenkes RI, 2014).

Pemerintah bersama masyarakat bertanggung jawab untuk menjamin

bahwa setiap ibu memiliki akses setiap terhadap pelayanan kesehatan ibu yang

berkualitas, mulai dari saat hamil, pertolongan persalinan oleh tenaga

kesehatan terlatih, dan perawatan pasca persalinan bagi ibu dan bayi,

perawatan khusus dan rujukan jika terjadi komplikasi, serta akses terhadap

keluarga berencana. Di samping itu, pentingnya melakukan intervensi lebih ke

hulu yaknI kepada kelompok remaja dan dewasa muda dan upaya percepatan

penurunan AKI (Kemenkes RI, 2014).

1.2 Tujuan

Tujuannya adalah menurunkan angka kematian ibu dan bayi di masa

mendatang dengan mengadakan Program Posyandu Remaja untuk

memberikan konseling dan pendidikan seks pada remaja serta mengetahui

status gizi remaja di Indonesia sejak dini. Dengan mengetahui status gizi

remaja dan permasalahan kesehatan yang terjadi pada remaja, diharapkan


pemerintah dapat dengan segera mengatasinya dan program penurunan angka

kematian ibu dan bayi dapat terwujud.

1.3 Manfaat

1.3.1 Manfaat untuk remaja

a. Mengurangi kenakalan remaja.

b. Membentuk remaja sebagai generasi muda yang sehat.

1.3.2 Manfaat untuk masyarakat

a. Meningkatkan kepedulian remaja terhadap fenomena yang ada di

masyarakat sekitar.

b. Mengetahui permasalahan kesehatan yang terjadi pada remaja.

1.3.3 Manfaat untuk pemerintah

a. Menurunkan angka kesakitan ibu dan angka kesakitan bayi di masa

mendatang.

b. Menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi

(AKB) di masa mendatang.


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Kondisi Kekinian

Berdasarkan penelitian WHO di seluruh dunia, terdapat kematian ibu

sebesar 500.000 jiwa per tahun dan kematian bayi khususnya neonatus

sebesar 10.000.000 jiwa per tahun. Kematian maternal dan bayi tersebut

terjadi terutama di Negara berkembang sebesar 99 % (Manuaba dalam

Marwita, 2017). Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia

(SDKI) tahun 2012, angka kematian ibu (yang berkaitan dengan kehamilan,

persalinan, dan nifas) sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup dan angka

kematian bayi sebesar 32 per 1000 kelahiran hidup (Kemenkes RI, 2013).

Laporan rutin program kesehatan ibu dinas kesehatan provinsi tahun 2012

menjelaskan bahwa penyebab kematian ibu di Indonesia masih didominasi

oleh perdarahan (32%) dan hipertensi dalam kehamilan (25%), diikuti oleh

infeksi (5%), partus lama (5%), dan abortus (1%). Selain penyebab obstetrik,

kematian ibu juga disebabkan oleh penyebab lain-lain (non obstetrik) sebesar

32% (Kemenkes RI, 2013).

Berdasarkan laporan di atas disebutkan bahwa perdarahan merupakan

penyebab kematian ibu yang paling mendominasi di Indonesia. Pencegahan

terjadinya perdarahan biasanya dilakukan saat ibu dalam kondisi hamil yaitu

dengan memberikan tablet zat besi sebanyak 90 teblet selama masa

kehamilan. Namun, pencegahan yang sebenarnya dapat dilakukan sedini

mungkin yaitu dengan cara mencegah terjadinya anemia pada masa remaja

serta memantau status gizi ibu sejak remaja. Cara memantau status gizi
remaja dapat dilakukan dengan mengadakan pemantauan rutin setiap bulan

misalnya posyandu.

Posyandu adalah salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya

Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk da

bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan.

Posyandu tersebut di atas hanya diperuntukkan oleh bayi, balita, ibu dan

manula saja, sedangkan posyandu remaja masih belum ada. Sedangkan

remaja di Indonesia menurut Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI

2007) menunjukkan jumlah remaja di Indonesia mencapai 30 % dari jumlah

penduduk, jika status gizi remaja kurang maka akan mempengaruhi status gizi

saat remaja tersebut menjadi seorang ibu. Menurut Yanti dkk (2016: 213)

bahwa ibu dengan status gizi kurang akan cenderung mengalami anemia yang

berdampak pada pertumbuhan bayi, oleh karena itu status gizi pada ibu hamil

sangat penting. Dengan kata lain, status gizi saat remaja akan berpengaruh

dengan status gizi saat dewasa. Oleh karena itu pemerintah harus segera

menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB)

dengan cara memantau status gizi ibu sejak remaja yaitu dengan membentuk

posyandu remaja.

2.2 Solusi yang Ditawarkan Sebelumnya

Sebagai upaya penurunan AKI, pemerintah melalui Kementerian

Kesehatan sejak tahun 1990 telah meluncurkan safe motherhood initiative,

sebuah program yang memastikan semua wanita mendapatkan perawatan yang

dibutuhkan sehingga selamat dan sehat selama kehamilan dan persalinannya.


Upaya tersebut dilanjutkan dengan program Gerakan Sayang Ibu tahun 1996

oleh Presiden Republik Indonesia. Upaya lain juga telah dilakukan yaitu

strategi Making Pregnancy Safer yang dicanangkan tahun 2000. Pada tahun

2012 Kementerian Kesehatan meluncurkan program Expanding Maternal and

Neonatal Survival (EMAS) dalam rangka menurunkan AKI dan AKB sebesar

25%. Program EMAS berupaya menurunkan angka kematian ibu dan angka

kematian neonatal dengan cara meningkatkan kualitas pelayanan emergensi

obstetri dan bayi baru lahir minimal di 150 Rumah Sakit Pelayanan Obstetri

Neonatal Esensial Komprehensip (PONEK), 300 Puskesmas/Balkesmas

Pelayanan Obstetri Neonatal Esensial Dasar (PONED) dan memperkuat

sistem rujukan yang efisien dan efektif antar puskesmas dan rumah sakit.

Dalam Rencana Strategis Kementrian Kesehatan 2015-2019 salah satu sasaran

yang ingin dicapai adalah meningkatkan derajat kesehatan dan status gizi

masyarakat dengan target salah satu indikatornya, yaitu AKI pada tahun 2019

turun menjadi 306/100.000 kelahiran hidup (Kemenkes RI, 2015).

2.3 Pihak-Pihak yang Dipertimbangkan

Pihak-pihak yang dipertimbangan dalam pelaksanaan posyandu remaja

tidak hanya remaja, tetapi juga masyarakat dan pemerintah khusunya bagi ibu

dan calon ibu. Bagi masyarakat, posyandu remaja memiliki fungsi untuk

mengetahui permasalahan kesehatan yang terjadi pada remaja. Sedangkan

bagi pemerintah, posyandu remaja berfungsi untuk menurunkan Angka

Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB), memantau status gizi

remaja hingga dewasa, menekan ledakan penduduk yang disebabkan oleh


pernikahan usia dini. Apabila permasalahan kesehatan remaja dapat diatasi,

maka permasalahan yang terjadi pada ibu dan bayi juga dapat ditekan dan

diatasi karena status kesehatan remaja akan mempengaruhi status kesehatan

pada saat menjadi seorang ibu.

2.4 Langkah Strategis

Langkah strategis yang akan dilakukan oleh posyandu remaja yaitu :

a. Pelaksanaan posyandu remaja dilakukan sekurang-kurangnya satu bulan

sekali.

b. Posyandu berlokasi di setiap desa/kelurahan/RT/RW atau dusun, namun

dibawah naungan Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten, Dinas Kesehatan

Provinsi serta Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

c. Kegiatan posyandu remaja meliputi :

1. Meja 1 ; Pendaftaran

Pendaftaran dilakukan saat peserta (remaja) datang ke pusat

pelayanan kesehatan (posyandu remaja) sebelum melakukan kegiatan

yang ada di posyandu.

2. Meja 2 : Pemeriksaan

Peserta melakukan penimbangan berat badan, pengukuran tinggi

badan, dan lingkar lengan atas, serta cek tekanan darah dan cek kadar

hemoglobin oleh kader posyandu atau petugas kesehatan untuk

mengetahui status gizi remaja.


3. Meja 3 : Pendokumentasian

Setelah melakukan pengukuran berat badan dan lingkar lengan

atas, petugas posyandu akan melakukan pendokumentasian di dalam

buku catatan perkembangan remaja (seperti buku KIA).

4. Meja 4 : Pemberian Vitamin dan tablet Fe

Setelah dilakukan pencatatan, peserta akan diberikan vitamin dan

tablet Fe. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya anemia pada

remaja, karena banyaknya angka kematian ibu disebabkan perdarahan

saat melahirkan. Untuk itu, mengonsumsi tablet Fe sebaiknya sudah

dilakukan sejak remaja, bukan hanya saat masa kehamilan.

5. Meja 5 : Bimbingan konseling remaja

Kader atau petugas kesehatan memberikan bimbingan konseling

remaja meliputi pendidikan seks remaja yang berguna agar remaja

mengerti dan memahami cara menjaga kesehatan reproduksi serta

dampak yang ditimbulkan jika melakuakan seks bebas, masalah

penyakit reproduksi, misalnya desminorhe dan penyakit seksual

lainnya, serta melakukan konseling hasil penimbangan berat badan

dan pengukuran lingkar lengan atas. Selain itu, petugas akan

memberikan pengarahan dan saran agar remaja mengonsumsi buah

dan sayur sehingga tidak mengalami kekurangan gizi maupun anemia.


BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan penelitian WHO di seluruh dunia, terdapat kematian ibu

sebesar 500.000 jiwa per tahun dan kematian bayi khususnya neonatus sebesar

10.000.000 jiwa per tahun. Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan

Indonesia (SDKI) tahun 2012, angka kematian ibu (yang berkaitan dengan

kehamilan, persalinan, dan nifas) sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup dan

angka kematian bayi sebesar 32 per 1000 kelahiran hidup. Penyebab kematian

ibu di Indonesia masih didominasi oleh perdarahan (32%) dan hipertensi

dalam kehamilan (25%), diikuti oleh infeksi (5%), partus lama (5%), dan

abortus (1%). Selain penyebab obstetrik, kematian ibu juga disebabkan oleh

penyebab lain-lain (non obstetrik) sebesar 32%.

Posyandu adalah salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya

Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk da

bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Survey

Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI 2007) menunjukkan jumlah remaja di

Indonesia mencapai 30 % dari jumlah penduduk, jika status gizi remaja

kurang maka akan mempengaruhi status gizi saat remaja tersebut menjadi

seorang ibu. Status gizi saat remaja akan berpengaruh dengan status gizi saat

dewasa. Oleh karena itu pemerintah harus segera menurunkan Angka

Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) dengan cara memantau

status gizi ibu sejak remaja yaitu dengan membentuk posyandu remaja.
3.2 Saran

Upaya menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian

Bayi (AKB) sebaiknya dapat dilakukan sejak ibu dalam masa remaja yaitu

dengan cara melakukan pemantauan status gizi remaja. Upaya tersebut dapat

dilakukan dengan membentuk posyandu remaja. Dengan adanya posyandu

remaja diharapkan pemerintah dapat melakukan usaha preventif terhadap

kejadian mortilitas dan morbiditas ibu dan bayi.


DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 2006. Pedoman Umum Pengelolaan Posyandu. Jakarta: Kementerian

Kesehatan Republik Indonesia.

https://agus34drajat.files.wordpress.com/2010/10/buku-pedoman-umum-

pengelolaan-posyandu.pdf (Diakses pada tanggal 9 Februari 2017).

________. 2012. Buku Pegangan Kader Posyandu. Jakarta: Pusat Promosi

Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

http://www.depkes.go.id/resources/download/promosi-kesehatan/buku-saku-

posyandu.pdf (Diakses pada tanggal 9 Februari 2017).

Kemenkes RI. 2014. Mother’s Day. Pusat Data dan Informasi Kementerian

Kesehatan RI. Jakarta: Kemenkes RI.

___________. 2015a. Profil Kesehatan Indonesia 2015. www.depkes.go.id.

___________. 2015b. Rencana Strategis Kementrian Kesehatan Tahun 2015-

2019. www.depkes.go.id.

Marwita, Desy. 2017. Asuhan Kebidanan Pada Ny. D Masa Hamil Sampai

dengan Keluarga Berencana di Bidan Praktek Mandiri Hj. Rukni Lubis Jalan

Luku 1 No 289 Kec. Medan Johor Kota Madya Medan Tahun 2017. Laporan

Tugas Akhir. Medan: Poltekkes Kemenkes Medan.

Yanti, dkk. 2016. Faktor Karakteristik Ibu terhadap Berat Bayi Lahir Rendah.

Rakernas AIPKEMA 2016-Temu Ilmiah Penelitian dan Pengabdian

Masyarakat. Purwokerto: Stikes Harapan Bangsa.