Anda di halaman 1dari 6

HUBUNGAN PENGALAMAN PRAKTIK KERJA INDUSTRI (PRAKERIN) DAN

KEMAMPUAN SOFT SKILLS DENGAN KESIAPAN MEMASUKI DUNIA


KERJA SISWA JURUSAN TEKNIK PEMESINAN SMK
BIDANG TEKNOLOGI DAN REKAYASA

RELATIONSHIP BETWEEN EXPERIENCE OF INDUSTRIAL WORK PRACTICES AND


THE ABILITY OF SOFT SKILLS WITH READINESS ENTERING THE WORKFORCE
OF STUDENTS SMK IN THE FIELD OF TECHNOLOGY AND ENGINEERING

Kelompok 3
Jurusan Teknik Mesin, SMKN 1 Rejang Lebong
ferry.adx@gmail.com

Abstrak
Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya pengangguran adalah adanya ketidaksiapan siswa dalam
memasuki dunia kerja, baik dari segi pengalaman maupun kemampuan penunjang. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui sejauh mana hubungan pengalaman praktik kerja industri dan kemampuan soft skills
dengan kesiapan memasuki dunia kerja siswa jurusan Teknik Pemesinan SMK Bidang Teknologi dan
Rekayasa di Kota Padang. Penelitian ini termasuk jenis penelitian korelasi. Populasi penelitian ini adalah 123
siswa, sedangkan teknik pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Simple Random Sampling. Teknik
pengumpulan data yang digunakan adalah angket. Sebelum digunakan untuk memperoleh data, angket diuji
validitas dan relibialitasnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan
signifikan antara pengalaman praktik kerja industri dan kemampuan soft skills dengan kesiapan memasuki
dunia kerja siswa jurusan Teknik Pemesinan SMK Bidang Teknologi dan Rekayasa di Kota Padang dan
masuk dalam kategori hubungan yang kuat. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi pengalaman praktik
kerja industri dan kemampuan soft skills siswa, maka siswa akan semakin siap memasuki dunia kerja.
Kata Kunci: Prakerin, Soft Skills, Dunia Kerja, Teknik Pemesinan, SMK.

Abstract
One of the factors that cause the onset of unemployment is the unpreparedness of students in entering the
workforce, both in terms of experience and supporting abilities. This research aims to determine the extent of
the relationship between experience of industrial work practices and the ability of soft skills with
readiness entering the workforce of students SMK engineering department in the field of technology
and engineering in the city of Padang. This research is correlation research. The population of this
research was 123 students, while the sampling technique by simple random sampling. Data
collection techniques used are questionnaires. Before being used to obtain data, the questionnaire
was tested for it’s validity and reliability. The results of this research indicate that there is a
positive and significant relationship between experience of industrial work practices and the ability
of soft skills with readiness entering the workforce of students SMK engineering department in the
field of technology and engineering in the city of Padang and categorized as having a strong
relationship. This matters how high experience of industrial work practices and the ability of soft
skills, then students will be more ready entering the workforce.
Keywords: Prakerin, Soft Skills, Workforce, Mechanical Engineering, SMK.

1
I. Pendahuluan 1. Mempersiapkan siswa untuk melanjutkan ke
jenjang yang lebih tinggi dan atau meluaskan
Pendidikan Nasional adalah usaha untuk
pendidikan dasar.
membangun manusia Indonesia seutuhnya menjadi
2. Meningkatkan kemampuan siswa sebagai
manusia berbudaya dan bertaqwa kepada Tuhan
anggota masyarakat dalam mengadakan
Yang Maha Esa, dengan mengusahakan
hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial,
perkembangan spiritual, sikap dan nilai hidup,
budaya dan alam sekitar.
pengetahuan serta keterampilan sehingga manusia
3. Meningkatkan kemampuan siswa untuk dapat
dapat mengembangkan dirinya bersama-sama
mengembangkan diri sejalan dengan
membangun masyarakat serta mendayagunakan
perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan
alam sekitarnya. Dengan demikian, pendidikan
kesenian.
mempunyai peran yang sangat strategis untuk
4. Menyiapkan siswa untuk memasuki lapangan
mempersiapkan generasi muda yang memiliki
kerja dan mengembangkan sikap profesional.
keberdayaan, kecerdasan emosional yang tinggi dan
Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2017
menguasai keterampilan yang mantap dalam
mencatat jumlah pengangguran mencapai sebesar
menghadapi globalisasi.
7,04 juta orang, bertambah 10 ribu orang dibanding
Pemerintah telah menetapkan tujuan pendidikan
realisasi 7,03 juta orang di Agustus 2016. Tingkat
nasional untuk menciptakan pendidikan yang akan
Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 5,50 persen
menghasilkan Sumber Daya Manusia yang
atau turun 0,11 poin. Kepala BPS, (Suhariyanto
berkulitas. Pemerintah merumuskan dalam Undang-
dalam Liputan6.com) menyatakan dari TPT sebesar
Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 Bab
5,50 persen di Agustus 2017, pengangguran
II pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang
terbanyak merupakan lulusan Sekolah Menengah
menjelaskan bahwa pendidikan dilakukan agar
Kejuruan (SMK) sebesar 11,41 persen, lalu Sekolah
mendapatkan tujuan yang diharapkan bersama, yaitu
Menengah Atas (SMA) 8,29 persen, Diploma I/II/III
: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
6,88 persen, dan Universitas 5,18 persen dan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
Sekolah Dasar (SD) ke bawah sebesar 2,62 persen.
bangsa yang bermartabat dalam rangka
Total 128,06 juta orang jumlah angkatan kerja,
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
sebanyak 121,02 juta orang merupakan penduduk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
bekerja dan pengangguran 7,04 juta orang.
manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan
Berdasarkan pendidikan, pekerja yang mengecap
Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,
jenjang pendidikan SD ke bawah sebanyak 50,98
cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara
juta atau 42,13 persen, SMP 21,72 juta orang atau
yang demokratis serta bertanggung jawab.
17,95 persen, SMA 21,13 juta orang atau 17,46
Tujuan pendidikan nasional tersebut secara tidak
persen, SMK 12,59 juta orang atau 10,40 persen,
langsung merumuskan seluruh jalur, jenjang dan
Universitas 11,32 juta orang atau 9,35 persen, dan
jenis pendidikan di Indonesia harus memiliki
Diploma 3,28 juta atau 2,71 persen.
konsekwensi yang sama yaitu bermuara kepada
Deputi Bidang Statistik Sosial BPS, (M. Sairi
tujuan pendidikan nasional yang dapat
Hasbullah, dalam Liputan6.com) menuturkan, faktor
mengembangkan sumber daya manusia yang terarah,
pengangguran paling banyak dari lulusan SMK
terpadu, dan menyeluruh dengan melalui berbagai
karena keahilan mereka belum tentu sesuai dengan
upaya aktif dan proaktif oleh seluruh komponen
kebutuhan perusahaan. Melisa (2013:1) menyatakan
yang ada secara optimal sesuai dengan potensinya
gejala kesenjangan ini disebabkan oleh berbagai hal,
dalam membentuk manusia Indonesia seutuhnya.
antara lain pendidikan kejuruan yang sepenuhnya
Pendidikan kejuruan yang dikembangkan di
diselenggarakan oleh sekolah, kurang mampu
Indonesia diantaranya adalah Sekolah Menengah
menyesuaikan diri dengan perubahan dan
Kejuruan (SMK). SMK merupakan salah satu
perkembangan dunia kerja, sehingga kesiapan kerja
lembaga pendidikan formal yang dirancang untuk
siswa menjadi kurang. Kesiapan kerja merupakan
menyiapkan peserta didik atau lulusan yang siap
keseluruhan kondisi individu yang meliputi
memasuki dunia kerja dan mampu mengembangkan
kematangan fisik, mental, dan pengalaman, serta
sikap profesional di bidang kejuruan. Lulusan
adanya kemauan dan kemampuan untuk
pendidikan kejuruan, diharapkan menjadi individu
melaksanakan suatu pekerjaan atau kegiatan.
yang produktif yang mampu bekerja menjadi tenaga
Kesiapan kerja sangat penting dimiliki oleh seorang
kerja menengah dan memiliki kesiapan untuk
siswa SMK, karena siswa SMK merupakan harapan
menghadapi persaingan kerja. Sebagaimana yang
masyarakat untuk menjadi lulusan yang mempunyai
tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor
kompetensi sesuai bidang keahliannya. Namun
490/U/1992 bahwa tujuan Sekolah Menengah
ekspektasi yang tinggi dari masyarakat terhadap
Kejuruan adalah :
SMK tidak sesuai dengan kenyataan dimana
pengangguran terbanyak justru adalah dari lulusan
2
SMK. Tuntutan relevansi antara dunia pendidikan 1. Kesiapan Kerja
dengan dunia kerja dalam arti luas mengisyaratkan
Kesiapan kerja adalah keahlian dan kematangan
perlu dikuasainya sejumlah kompetensi yang dapat
seseorang baik secara fisik, mental, sosial dan
didemonstrasikan saat bekerja. Pendidikan kejuruan
emosional untuk melakukan pekerjaan yang akan
adalah pendidikan yang mempersiapkan lulusannya
ataupun sedang digeluti secara profesional. Ketatnya
menguasai ilmu pengetahuan dan kompetensi sesuai
persaingan dalam memperoleh pekerjaan menuntut
bidangnya. Di sisi lain, ada sebagian siswa yang
sumber daya manusia memliki kompetensi atau
memiliki kompetensi keahlian sesuai dengan
keahlian sehingga memiliki kesiapan memasuki
jurusannya, namun tetap tidak mampu menembus
dunia kerja. Menurut Mulianti dan Rodesri Mulyadi
persaingan dunia kerja karena saat sekarang ini
(2018), indikator kompetensi yang harus dimiliki
lulusan SMK tidak cukup hanya menguasai hard
pada pendidikan vokasi yaitu :
skill saja, akan tetapi juga harus menguasai soft skill
a) Pengetahuan dan Pengalaman
sebagai pendukung hard skill agar lebih mampu
b) Aplikasi Pengetahuan dan Pengalaman
bekerja produktif dan berkualitas. Purwanto
c) Pengambilan Keputusan
(2008:13) mengemukakan bahwa kemampuan soft
d) Kemampuan Berkomunikasi
skills sangat dibutuhkan di dunia industri dan sangat
e) Kemampuan Belajar
menentukan untuk bisa diterima dalam dunia kerja.
f) Nilai
Kemampuan itu antara lain, kepemimpinan,
Siswa SMK ditempa keahliannya dalam setiap
kreativitas dan manajerial. Dengan demikian lulusan
praktik yang dilaksanakan di workshop ataupun di
SMK harus menguasai soft skills karena tuntutan
dunia usaha/dunia industri agar setelah
kerja dan tantangan kerja.
menyelesaikan pendidikannya siap untuk bekerja
Pemerintah menerapkan program Pendidikan Sistem
secara profesional di bidangnya.
Ganda (PSG) atau bisa juga disebut dengan Praktik
Agus Fitri Yanto (2006) ciri siswa yang telah
Kerja Industri (Prakerin) untuk meningkatkan
mempunyai kesiapan mental kerja yaitu siswa yang
kesiapan kerja siswa SMK. Namun pada
telah mempunyai pertimbangan-pertimbangan
kenyataanya kegiatan prakerin pun belum dapat
sebagai berikut:
dilaksanakan secara optimal karena kurangnya
kerjasama yang baik antara pemerintah, pihak 1) Mempunyai Pertimbangan yang Logis dan
sekolah maupun pihak industri. Kurangnya kontrol Objektif
dari pemerintah membuat sekolah seolah-olah hanya Siswa yang telah dewasa akan akan
memenuhi tuntutan kurikulum dalam menjalankan mempertimbangkan sesuatu dari banyak
prakerin sehingga banyak siswa yang melaksanakan sisi,dengan menghubungkan dengan hal lain atau
prakerin tidak sesuai dengan bidang keahliannya. Di melihat pengalaman orang lain.
sisi lain pihak industri juga masih banyak yang
kurang bekerja sama dengan sekolah dalam hal 2) Mempunyai Kemampuan dan Kemauan untuk
memberikan kesempatan siswa SMK untuk Bekerjasama dengan Orang Lain
melaksanakan magang. Hubungan dengan orang lain dibutuhkan dalam
Hasil observasi awal yang penulis lakukan di SMK bekerja untuk menjalin kerjasama. Di dunia kerja
Negeri 5 Padang, masih banyak siswa yang belum nantinya siswa dituntut untuk dapat berinteraksi
termotivasi untuk mencari informasi tentang dengan orang banyak
kesempatan kerja yang sesuai dengan jurusan
mereka masing-masing, siswa masih belum 3) Memiliki Sikap Kritis
mengetahui apa saja tanggung jawab yang harus Sikap kritis dibutuhkan untuk dapat mengoreksi
dipenuhi ketika bekerja di bidang jurusan masing- kesalahan kemudian mengambil tindakan
masing, siswa masih belum mengetahui apa saja solusinya. Tidak hanya mengkritisi diri sendiri
kompetensi yang harus dimiliki ketika bekerja di tapi juga lingkungan dimana mereka tinggal
bidang masing-masing, dan siswa belum memiliki sehingga memunculkan ide yang inisiatif.
informasi yang lengkap bagaimana kesejahteraan
orang yang bekerja pada industri. Kemudian 4) Mempunyai Kemampuan untuk Beradaptasi
berdasarkan data sekolah menyatakan, belum dengan Lingkungan Kerja
banyak mendeteksi jumlah siswa yang sudah Menyesuaikan diri dengan lingkungan terutama
bekerja, belum bekerja ataupun yang sudah bekerja lingkungan kerja dapat dilakukan dengan
namun di bidang yang tidak sesuai dengan jurusan mengikuti peraturan-peraturan baik yang tertulis
yang dipelajari di sekolah. Untuk angkatan 2014- maupun tidak tertulis yang telah ditetapkan di
2016 saja hanya sekitar 6% yang dapat diketahui lingkungan kerja. Kesadaran pentingnya norma,
sudah bekerja. Dan dari 6% siswa yang diketahui aturan, kepatuhan, dan ketaatan merupakan
sudah bekerja, 40% diantaranya bekerja pada bidang prasyarat kesuksesan seseorang.
yang tidak sesuai dengan jurusan ketika sekolah.
3
5) Memiliki Keberanian untuk Menerima Tanggung 5) Familiar dengan Dasar Proses Kerja dan Alat
Jawab secara Individual Kerja
Tanggung jawab sangat diperlukan dalam Menjadi terbiasa dan tidak asing dalam
melakukan setiap pekerjaan. Tanggung jawab menggunakan berbagai macam alat kerja yang
akan muncul dalam diri siswa ketika ia telah dipakai selama melakukan prakerin.
mencapai kematangan fisik dan mental disertai
6) Membangun Kebiasaan dan Kecakapan Kerja
dengan kesadaran yang timbul dari individu
tersebut. Membangun kebiasaan-kebiasaan kerja,
kecakapan-kecakapan kerja dan sikap-sikap yang
6) Mempunyai Ambisi untuk Maju dan Berusaha
diinginkan dalam situasi kerja dan memenuhi
Mengikuti Perkembangan Sesuai dengan Bidang
kebutuhan-kebutuhan akan bimbingan jabatan.
Keahliannya.
7) Mengembangkan Tanggung Jawab Sosial
Keinginan untuk maju dapat menjadi dasar
munculnya kesiapan mental kerja siswa Mengembangkan tanggung jawab sosial dan
karena terdorong untuk memperoleh yang sikap-sikap yang berhubungan dengan
produktivitas kejuruan dan kompetensi
lebih baik lagi. Usaha yang dilakukan salah
kewarganegaraan.
satunya dengan mengikuti perkembangan
bidang keahliannya.
2. Praktik Kerja Industri (Prakerin)
Prakerin merupakan suatu program dimana siswa 8) Menghargai Kerja dan Para Pekerja
dimagangkan di dunia usaha atau dunia industri Menghargai setiap pekerjaan yang dilakukan dan
sesuai waktu yang telah disepakati bersama oleh menghormati para pekerja lain di lapangan kerja
sekolah dan dunia usaha atau dunia industri untuk merupakan etika seorang pekerja yang baik.
lebih mematangkan ilmu yang didapatkan di
sekolah.Melalui prakerin, siswa diharapkan 3. Kemampuan Soft Skill
mendapatkan pengalaman yang sebanyak-banyaknya Soft skills merupakan kemampuan kepribadian
tentang dunia usaha atau dunia industri agar setelah seseorang, baik terhadap dirinya sendiri, maupun
tamat siswa sudah siap untuk bekerja secara orang lain dalam kehidupan bermasyarakat guna
profesional. untuk mengembangkan kemampuan hard skills
Indikator prakerin menurut Depdiknas 2008: 7 yaitu: menjadi sesuatu yang menghasilkan karya.
1) Pengalaman Praktis Survey National Association of Colleges and
Employee (NACE, 2002) dalam Elfindri dkk (2011:
Prakerin memberikan pengalaman-pengalaman 156), terdapat 19 kemampuan yang diperlukan di
secara konkrit dan realistis dimana siswa para pasar kerja, kemampuan yang diperlukan itu dapat
siswa bekerja dalam kehidupan yang dilihat dalam tabel berikut ini :
sesungguhnya.
Tabel 1. Kemampuan yang Diperlukan di Pasar
2) Kerja Produktif Kerja
Menimbulkan pengertian tentang pentingnya
Ranking Kemampuan Nilai Klasifikasi
kerja produktif baik bagi siswa maupun untuk Urgensi Skor Skills
kepentingan masyarakat. Perkembangan 1. Komunikasi 4,96 Soft skills
teknologi memerlukan peningkatan spesialisasi Kejujuran/
2. 4,59 Soft skills
yang lebih tinggi. integritas
3. Bekerjasama 4,54 Soft skills
3) Kesesuaian Pekerjaan 4. Interpersonal 4,5 Soft skills
Etos kerja yang
Yakni kesesuaian antara pekerjaan yang 5.
baik
4,46 Soft skills
dilakukan di dunia kerja dengan materi yang 6. Motivasi/inisiatif 4,42 Soft skills
telah diterima di sekolah. Mampu
7. 4,41 Soft skills
beradaptasi
4) Mempelajari Kecakapan Dasar Kognitif
8. Analitikal 4,36
Mempelajari kecakapan dasar sebagai landasan hard skilss
Psikomotor
untuk jabatan pekerjaan masa depan. Dan selain 9. Komputer 4,21
hard skilss
itu sebagai orientasi umum terhadap dunia 10. Organisasi 4,05 Soft skills
pekerjaan. Dan ini dapat dikembangkan apabila 11. Orientasi detail 4 Soft skills
program kerja direncanakan sebaik-baiknya. 12. Kepemimpinan 3,97 Soft skills
13. Percaya diri 3,95 Soft skills
14. Sopan/beretika 3,82 Soft skills
4
15. Bijaksana 3,75 Soft skills III. Hasil Penelitian dan Pembahasan
Indeks Prestasi Kognitif
16. 3,68 Analisis korelasi dan regresi ganda dilakukan setelah
>3,00 hard skilss
17. Kreatif 3,59 Soft skills uji prasyarat dipenuhi, yang hasilnya dapat diuraikan
18. Humoris 3,25 Soft skills sebagai berikut :
Kemampuan
19. 3,23 Soft skills
enterprenership 1. Hubungan Pengalaman Prakerin dengan
Kesiapan Kerja Siswa
Tabel di atas menunjukkan bahwa 16 dari 19
kemampuan yang diperlukan di pasar kerja adalah Hasil uji hipotesis pertama melalui analisis
aspek soft skills dan juga ranking 7 teratas ditempati korelasi yang memperoleh rx1y = 0,568 yang
oleh aspek soft skills. Berdasarkan kenyataan inilah diterima pada taraf signifikansi 5% dan rtabel =
mengapa soft skills sangat penting diberikan dalam 0,266. Karena 0,568>0,266 menunjukkan bahwa
proses pendidikan, terutama kepada siswa SMK pengalaman praktik kerja industri dapat
yang pada prinsipnya dipersiapkan untuk dapat meningkatkan kesiapan kerja siswa setelah lulus
bekerja pada dunia usaha/dunia industri. dari sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa
Seorang siswa dituntut memperoleh pengalaman semakin baik pengalaman praktik kerja industri,
dalam dunia kerja, salah satunya melalui prakerin. maka semakin besar kecenderungan siswa dapat
Tidak hanya itu, siswa juga harus menguasai meningkatkan kesiapan kerjanya. Hasil uji
kemampuan soft skills agar kemampuannya semakin hipotesis ini mendukung hasil pengujian yang
lengkap dan dapat memenuhi kebutuhan dunia dilakukan oleh Ridwan (2013) yang
industri. menunjukkan bahwa pada pelaksanaan prakerin
memberikan kontribusi terhadap kesiapan siswa
II. Metode Penelitian memasuki dunia sebesar 74.3%, atau koefisien
determinasi sebesar 0.743. Hal ini berarti
Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 1 Kota semakin tinggi pengalaman prakerin, maka
Padang dan SMK Negeri 5 Kota Padang yang kesiapan kerja cenderung meningkat.
merupakan SMK Negeri Bidang Teknologi dan
Rekayasa. Metode yang digunakan dalam penelitian 2. Hubungan Kemampuan Soft Skills dengan
ini adalah penelitian deskriptif dengan jenis Kesiapan Kerja Siswa
penelitian korelasi, dan menggunakan strategi Hasil uji hipotesis kedua melalui analisis korelasi
kuantitatif dalam pengaplikasian alat ukurnya.. yang memperoleh rx2y = 0,539 yang diterima
Populasi yang digunakan adalah siswa kelas XII pada taraf signifikansi 5% dan rtabel = 0,266.
SMK Negeri 1 Kota Padang dan SMK Negeri 5 Karena 0,539>0,266 menunjukkan bahwa
Kota Padang tahun pelajaran 2018/2019 sebanyak kemampuan soft skills dapat meningkatkan
123 siswa. Sampel sebesar 55 siswa yang diambil kesiapan kerja siswa setelah lulus dari sekolah.
dengan teknik simple random sampling. Selanjutnya Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik
kerangka konseptual penelitian adalah sebagai kemampuan soft skills, maka semakin besar
berikut : kecenderungan siswa dapat meningkatkan
kesiapan kerjanya. Hasil uji hipotesis ini
X1 mendukung hasil pengujian yang dilakukan oleh
Annisa Sri Restanti (2016) yang menunjukkan
Y
bahwa pada kemampuan soft skills memberikan
kontribusi terhadap kesiapan siswa memasuki
X2
dunia sebesar 46%, atau koefisien determinasi
Gambar 1. Kerangka Konseptual sebesar 0.460. Hal ini berarti semakin tinggi
kemampuan soft skills seseorang, maka kesiapan
Keterangan : kerja cenderung meningkat.
X1 : Pengalaman Prakerin
X2 : Kemampuan Soft Skills 3. Hubungan Pengalaman Prakerin dan
Y : Kesiapan Memasuki Dunia Kerja Kemampuan Soft Skills dengan Kesiapan Kerja
Siswa
Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan
data dengan metode angket dan dokumentasi. Hasil uji hipotesis ketiga melalui analisis korelasi
Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis berganda yang memperoleh rx2y = 0,616 yang
korelasi dan regresi ganda. Untuk keperluan analisis diterima pada taraf signifikansi 5% dan rtabel =
tersebut, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat 0,266. Karena 0,616>0,266 menunjukkan bahwa
analisis yaitu uji normalitas, linearitas dan uji pengalaman prakerin dan kemampuan soft skills
multikolinearitas. secara bersama-sama dapat meningkatkan
kesiapan kerja siswa setelah lulus dari sekolah.

5
Pengalaman yang tinggi sangat mendukung Validitas dan Reliabilitas Indikator. Jurnal
peningkatan keahlian karena orang yang Teknik Mesin, 18(1): 55-58.
memiliki pengalaman tinggi akan melaksanakan
Purwanto, Didik. 2008. Dibanding IPK Soft Skills
dan menyelesaikan pekerjaan dengan baik
Lebih Dibutuhkan Industri.
sehingga setelah lulus dari sekolah individu
Jakarta: Kedaulatan Rakyat. (12 September
tersebut bisa membawa pengalamannya untuk
2008)
siap memasuki dunia kerja sesuai bidang
keahlian masing-masing. Selain pengalaman Republik Indonesia. 1992. Peraturan Pemerintah
yang dapat meningkatkan kesiapan kerja siswa, Nomor 490/U/1992 tentang Tujuan Sekolah
faktor kemampuan soft skills juga dapat Menengah Kejuruan. Depdikbud. Jakarta.
mepengaruhi hal tersebut. Oleh karena itu, siswa _________________. 2003. Undang – Undang
juga dituntut untuk membentuk dan Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
meningkatkan kemampuan soft skills yang ada Pendidikan Nasional. Depdikbud. Jakarta.
pada dirinya. Dengan kemampuan soft skills
diharapkan siswa memiliki keyakinan yang tinggi Ridwan. 2013. “Pengaruh Pelaksanaan Praktek
bahwa segala sesuatu yang terjadi pada dirinya Kerja Industri terhadap Kesiapan Siswa
sebagian besar akan ditentukan oleh dirinya Memasuki Dunia Kerja Jurusan Teknik Mesin
sendiri. di SMK Negeri 1 Curup”. Skripsi tidak
Diterbitkan. Fakultas Teknik Universitas
IV. Kesimpulan Negeri Padang.
Hasil analisis data dan pembahasan di atas dapat Restanti, Anisa Sri. 2016. “Hubungan Antara Soft
disimpulkan sebagai berikut: (1) terdapat hubungan Skills dengan Kesiapan Kerja Mahasiswa
yang signifikan dengan arah hubungan positif Semester VI Prodi Ilmu Perpustakaan D3 UIN
pengalaman praktik kerja industri dengan kesiapan Sunan Kalijaga”. Tesis tidak Diterbitkan.
memasuki dunia kerja siswa jurusan Teknik Program studi Ilmu Perpustakaan D3 UIN
Pemesinan di SMK Bidang Teknologi dan Rekayasa Sunan Kalijaga Yogyakarta.
di Kota Padang (2) terdapat hubungan yang
signifikan dengan arah hubungan positif kemampuan
soft skill dengan kesiapan memasuki dunia kerja
siswa jurusan Teknik Pemesinan di SMK Bidang
Teknologi dan Rekayasa di Kota Padang (3) terdapat
hubungan yang signifikan dengan arah hubungan
positif pengalaman praktik kerja industri dan
kemampuan soft skills dengan kesiapan memasuki
dunia kerja siswa jurusan Teknik Pemesinan di SMK
Bidang Teknologi dan Rekayasa di Kota Padang.

Referensi
Badan Pusat Statistik. 2017. Survey Badan Pusat
Statistik. Jakarta: Badan Pusat Statistik
Depdiknas. 2008. ”Kamus Besar Bahasa Indonesia”.
http://www.slideshare.net/mobile/RianMaulan
a1/kamus-besar-bahasa-indonesia-depdiknas-
2008. Diakses 15 Desember 2017.
Elfindri. dkk. 2011. Soft Skills Untuk Pendidik.
Jakarta: Baduose Media.
Fitriyanto, Agus. 2006. Ketidakpastian Memasuki
Dunia Kerja Karena Pendidikan. Jakarta:
Rineka Cipta.
Melisa. 2013. Lulusan SMK Sulit Bersaing.
Jakarta: Kompas, hal 1.
Mulianti dan Rodesri Mulyadi. 2018. Kompetensi
Lulusan Pendidikan Vokasi: Analisis