Anda di halaman 1dari 13

1 Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2014

POLIKULTUR UDANG WINDU (Penaeus monodon), BANDENG (Chanos chanos),


NILA SRIKANDI (Oreochromis aureus x O. niloticus), DAN RUMPUT LAUT (Gracilaria
verrucosa) DI TAMBAK TANAH SULFAT MASAM (TSM)
Markus Mangampa
Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau
Jl. Makmur Dg. Sitakka No. 129, Maros 90512, Sulawesi Selatan
E-mail: mmangampa@yahoo.com

ABSTRAK

Polikultur adalah merupakan budi daya bersama dari berbagai spesies ikan dengan tingkat tropik yang
sama, di mana organisme tersebut secara bersama-sama melakukan proses biologi dan kimia dengan
beberapa keuntungan yang bersinergi dalam ekosistem. Budidaya sistem polikultur sudah lama dikenal
oleh pembudidaya tradisional, namun masih terbatas pada dua komoditas polikultur yaitu udang windu
dan bandeng. Polikultur udang windu, bandeng, nila srikandi dan rumput laut di tambak merupakan
kegiatan uji lapang hasil litbang perikanan budidaya air payau yang bertujuan mengubah pola pikir
pembudidaya tradisional dalam memanfaatkan potensi sumberdaya secara optimal sehingga dapat
meningkatkan produktivitas tambak tradisional (TSM dan tanah gambut), dan memberikan nilai tambah
bagi pembudidaya tambak. Kegiatan ini dilakukan di tambak pembudidaya kabupaten Luwu Timur, Sulawesi
Selatan, menggunakan 4 petak tambak dengan luasan 0,7-1,3 ha (total luasan ± 4,0 ha), dengan komoditas
dan kepadatan masing masing yaitu udang windu : 30.000 ekor/ha, bandeng 1500 ekor/ha, nila srikandi :
1500 ekor/ha, dan rumput laut 1500 kg/ha. Wakitu pemeliharaan ± 14 minggu. Hasil kegiatan diperoleh
produksi udang windu 118-280,6 kg/ha/musim, produksi bandeng 153,8-210 kg/ha/musim, produksi nila
srikandi 200-310 kg/ha/musim, dan produksi rumput laut 100-3.372 kg kering/ha. Profitabilitas polikultur
udang windu, bandeng, nila srikandi, dan rumput laut di Kabupaten Luwu Timur mencapai Rp 14.373.400
ha/musim (1 tahun = 2 musim) atau Rp 28.747.600/ha/tahun, dengan R/C ratio mencapai 1,55, dengan
asumsi apabila pembudidaya mengerjakan sendiri lahannya. Polikultur udang windu, bandeng, nila srikandi,
dan rumput laut di kabupaten Luwu Timur dapat meningkatkan produktivitas tambak tradisional (TSM)
kabupaten Luwu Timur, dan memberikan nilai tambah pembudidaya dari produksi bandeng, nila srikandi
dan rumput laut. .

KATA KUNCI: polikultur, udang windu, bandeng, nila srikandi, rumput laut, TSM

PENDAHULUAN
Budidaya sistem polikultur sudah lama dikenal oleh pembudidaya tradisional, namun masih
terbatas pada dua komoditas polikultur yaitu udang windu dan bandeng. Demikian pula sistem
monokultur udang windu sudah dilakukan sejak tahun 1970 dengan kepadatan rendah. Kedua sistem
budi daya ini pada awalnya masih mengandalkan pasokan benih dari alam, baik berupa nener bandeng
maupun benur windu (Poernomo, 1992). Sistem monokultur udang windu mengalami perkembangan
pesat pada tahun 1980-1990 sejak dikenalnya teknologi budi daya udang windu intensif yang dapat
meningkatkan produksi udang windu di tambak dan mencapai puncaknya pada tahun 1991-1994
(Poernomo, 2004). Kemajuan teknologi intensif dalam memacu produksi yang tinggi melebihi daya
dukung lahan dapat menciptakan sistem budi daya yang tidak ramah lingkungan. Penurunan produksi
disebabkan oleh kegagalan panen akibat penurunan kualitas lingkungan yang berdampak pada
timbulnya bermacam-macam penyakit, antara lain udang merah akibat Monodon Bacullo Virus (MBV),
udang bintik putih akibat White Spot Syndrome Virus (WSSV), dan udang ekor geripis akibat vibriosis
(Atmomarsono et al., 2004). Kondisi ini terjadi hampir menyeluruh di negara penghasil udang budi
daya. Sampai saat ini, masalah penyakit udang masih menjadi kendala utama, sedangkan cara
penanggulangan yang efektif belum ditemukan. Pada umumnya udang yang terserang penyakit di
tambak sulit diatasi sehingga harus panen paksa dan bahkan seringkali udang mengalami kematian
total. Penanggulangan penyakit udang hanya terbatas pada tingkat menghilangkan gejala klinis
Polikultur udang windu, bandeng, nila srikandi, dan ... (Markus Mangampa) 2

yang terjadi sesaat, misalnya dengan menggunakan dolomit, kaporit, saponin atau bahkan dengan
antibiotika seperti oxytetracyclie dan bahan kimia lainnya. Tindakan semacam ini memang ada kalanya
berhasil, namun efek lanjut dari tindakan tersebut yang seringkali kurang terpikirkan, misalnya dengan
munculnya bakteri Vibrio sp yang resisten terhadap obat-obatan (Atmomarsono, 2001). Di sisi lain,
kebutuhan konsumsi udang masyarakat internasional semakin meningkat, sehingga membuka peluang
yang baik bagi negara penghasil udang, khususnya Indonesia untuk kembali berusaha meningkatkan
produksi udangnya.
Berbagai upaya telah dilakukan, antara lain kebijakan pemerintah melalui program revitalisasi
perikanan budidaya yang menempatkan udang dan rumput laut sebagai komoditas unggulan. Salah
satu teknologi yang diharapkan dapat meningkatkan produksi tambak dan membangkitkan kembali
budidaya udang windu sebagai komoditas utama adalah teknologi polikultur. Teknologi polikultur
adalah cara budidaya bersama berbagai spesies ikan dengan relung ekologi yang berbeda, sehingga
dapat meningkatkan produktivitas tambak yang dikelola secara tradisional. Keunggulan teknologi
ini antara lain dapat meminimalkan risiko penyakit udang (mengurangi risiko kegagalan panen),
memperbaiki pertumbuhan komoditas yang dibudidayakan , menghasilkan produk makanan laut
berkualitas, dan memberikan nilai tambah pembudidaya ikan melalui diversifikasi produk budidaya.
Tujuan uji lapang ini adalah (1) penyebar luasan teknologi dan informasi dan percepatan
pemanfaatan hasil litbang sistem polikultur udang windu, bandeng, nila srikandi, dan rumput laut
oleh pembudidaya tambak, (2) mengubah pola pikir pembudidaya dalam memanfaatkan potensi
sumberdaya secara optimal sehingga dapat meningkatkan produktivitas tambak tradisional (TSM
dan tanah gambut), dan memberikan nilai tambah bagi pembudidaya tambak.
BAHAN DAN METODE
Uji lapang polikultur udang windu (Penaeus monodon, Farb), bandeng (Chanos chanos), nila srikandi
(Oreochromis niloticus x aereus), dan rumput laut (Glacilaria verrucosa), dilaksanakan di tambak
pembudidaya kelompok tani Mario Marennu (3 petak) desa Wewangru, kecamatan Malili, dan
kelompok tani Terampil (1 petak) desa Tampina, Kecamatan Ongkona, Kabupaten Luwu Timur.
Komoditas polikultur sebagai hewan uji dengan kepadatan masing masing : udang windu 30.000
ekor/ha, bandeng 1.500 ekor/ha, nila srikandi 1.500 ekor/ha, dan rumput laut 1.500 kg/ha. Waktu
pemeliharaan berlangsung ± 14 minggu.
Pelaksanaan kegiatan ini mengikuti Prosedur Operasinal sistem (POS) Polikultur udang windu,
bandeng, nila srikandi, dan rumput laut meliputi:
Persiapan Tambak
Persiapan tambak pada sistim polikultur udang windu, bandeng, nila srikandi, dan rumput laut
mengikuti SOP persiapan tambak budidaya udang dan ikan yaitu : pengangkatan lumpur dasar (kedok
teplok) pada bagian parit keliling, pengolahan tanah dasar meliputi pembalikan tanah dasar
menggunakan hand tractor/cangkul dan dilakukan 1 kali/ tahun pada pola tebar tertentu, pengeringan
tanah dasar sampai retak retak ± 2 minggu dan biasanya potensial redoks menunjukkan nilai positif.
Pengeringan ini diharapkan tanah dasar tidak berdebu, pencucian tanah dasar dan pemasangan
saringan pintu air, pemberantasan hama menggunakan saponin dengan dosis 15 ppm pada salinitas
>15 ppt dan 20 ppm pada salinitas <15 ppt dan dilakukan pagi hari pada kondisi cuaca cerah,
pengapuran menggunakan dolomit/ kaptan dengan dosis 500-800 kg/ha, pemupukan dengan pupuk
organik sebanyak 400 kg/ha dan pupuk anorganik yaitu urea 100 kg/ha, SP-36 : 50 kg/ha, pengisian
air penebaran setinggi 0,75-0,80 m, aplikasi probiotik dilakukan 1 minggu sebelum penebaran dengan
tujuan memperbaiki/ menstabilkan kualitas air utamanya pH air.
Penebaran

a. Rekomendasi Benih Udang, Ikan, dan Rumput Laut


Benih udang windu yang dikenal dengan benur windu ditebar dalam bentuk tokolan ukuran
PL.42- PL57 (0,15-0,2 g/ekor) diperoleh dari usaha pentokolan yaitu pembudidaya yang memelihara
3 Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2014

benur windu dari perbenihan udang (hatcheri) ukuran PL.12 ditokolkan dalam petakan tambak ukuran
kecil selama 30-45 hari (Mangampa et al., 2004). Diperlukan pengamatan kualitas tokolan udang
windu yaitu kondisi fisik (ukuran dan sifat biologis), dan pengamatan kesehatan udang windu dengan
PCR (Polimerase Chain Reaction) untuk melihat kontaminasi dengan virus WSSV dan TSV. Benih ikan
bandeng yang dikenal dengan nener ditebar dalam bentuk gelondongan yaitu nener yang
digelondongkan sampai dengan ukuran > 12 cm (> 50 g/ekor). Wadah pengelondongan ikan bandeng
menggunakan petakan tambak (wadah tanah) berkuran ± 500 m2/petak. Kepadatan nener 20-25
ekor/m2 dengan waktu pemeliharaan > 60 hari. Benih ikan Nila srikandi yang ditebar adalah
gelondongan berukuran > 8 cm (>25 g/ekor) yaitu benih nilah srikandi yang digelondongkan dari
ukuran ± 3 cm selama 30 hari. Wadah penggelondongan menggunakan hapa dari waring hijau
berukuran 4 x 5 m2 dengan kepadatan 200 ekor/m2. Benih rumput laut yang ditebar adalah benih
dengan thallus yang cukup panjang, berukuran besar dan tidak keriting
b. Jadwal Penebaran
Penebaran komoditas polikultur dirunut berdasarkan kebutuhan dan sifat biologis masing masing
komoditas. Penebaran dilakukan setelah kualitas air dalam kondisi optimun utamanya, pH 8,0-8,5;
salinitas 15-30 ppt, DO> 2 mg/L, suhu 27-29 oC, dan alkalinitas: 80-120 mg/L. Urutan penebaran
komoditas polikultur adalah rumput laut ditebar dengan sistem dasar yaitu merata didasar tambak,
diupayakan ditebar sebelum klekap atau lumut mulai tumbuh. Udang windu ditebar dalam bentuk
tokolan dan setelah rumput laut mulai tumbuh (± 1 minggu setelah penebaran rumput laut). Bandeng
dan nila srikandi ditebar secara bersamaan dalam bentuk gelondongan setelah udang windu sudah
teradaftasi (±1 minggu setelah penebaran udang windu).
Pemeliharaan
Selama pemeliharan sistim polikultur ini dilakukan : pergantian air 20-30% dengan frekuensi 4
kali dalam periode pasang, pengapuran, pemupukan susulan, aplikasi probiotik setiap 15 hari,
pemberian pakan udang dosis, 3-8% dari bobot biomassa dengan frekuensi 2 kali/hari setelah memasuki
bulan ke-2, dan pemberian pakan bandeng dan nila dosis 2-3%, dengan frekuensi 2 kali/hari setelah
memasuki pemeliharaan akhir bulan ke-2 atau awal bulan ke-3. Pengamatan kualitas air meliputi
suhu, pH, DO, salinitas, alkalinitas, nitrit, amoniak, BOT, pengamatan plankton dan pengamatan
pertumbuhan udang, ikan dan rumput laut setiap 15 hari. Pengamatan bakteri pada air tambak dan
sedimen setiap 15 hari dan pemantauan kesehatan udang dan ikan.
Panen
Panen dilakukan setelah ukuran udang dan ikan mencapai ukuran konsumsi/ pasar yaitu kurang
lebih 105-120 hari. Metode dan sistim panen diurut sebagai berikut: panen bandeng dengan
menggunakan jaring pukat (jaring insang), panen rumput laut; pada saat dilakukan pemanenan
rumput laut, air tambak tidak disurutkan dan menggunakan wadah perahu fiber glass. Sesudah
panen rumput laut air secepatnya dibuang dan dilakukan pengisian air. Dilakukan pengapuran untuk
menghindari kondisi udang yang stress (moulting) pada saat panen rumput laut. Dalam melakukan
pemanenan rumput laut sebaiknya dikondisikan dengan waktu pasang, sehingga mudah melakukan
pergantian air. Panen nila srikandi dan udang windu pemanenan nila srikandi tidak seperti halnya
dengan pemanenan bandeng yaitu menggunakan jaring insang. Nila srikandi memiliki sifat biologis
membenamkan diri di dasar atau kubangan pada saat ada rangsangan. Sehingga dilakukan pemanenan
bersama udang windu menggunakan jala buang atau jaring kantong yang dipasang di pintu air pada
saat membuang air.
Sintasan (Effendi 1997), rasio konversi pakan (Watanabe, 1988), produksi, dan analisis usaha
dihitung pada akhir penelitian data dianalisis secara deskriptif.
HASIL DAN BAHASAN
Hasil uji lapang kegiatan desiminasi polikultur udang windu, nila srikandi, bandeng dan rumput
laut di Kabupaten Luwu Timur memperlihatkan hasil yang bervariasi pada masing masing unit
kegiatan.
Polikultur udang windu, bandeng, nila srikandi, dan ... (Markus Mangampa) 4

Pertumbuhan, Sintasan, Produksi, dan Rasio Konversi Pakan (RKP)


Pertumbuhan, sintasan, produksi, dan RKP udang windu, bandeng, nila srikandi, dan rumput
laut, pada uji lapang polikutur ini memperlihatkan sebaran hasil yang bervariasi untuk masing masing
petakan tambak pembudidaya (Tabel 1).

Tabel 1. Pertumbuhan, sintasan,produksi dan RKP udang windu, bandeng, nila srikandi, dan
rumput laut di tambak selama 14 minggu pemeliharaan

Komoditas Pembudidaya
Parameter
Polikultur A B C D
Jumlah/Luas Petak (ha) 1 (1,0) 1 (1,30) 1 (1,0) 1 (0,70)
Udang Windu 30 30 30 30
Kepadatan (ekor, kg Bandeng 1,5 1,5 1,5 1,5
basah/ha) Nila Srikandi 1,5 1,5 1,5 1,5
Rumput Laut 1,5 1,5 1,5 3
Udang Windu 0,16±0,04 0,16±0,04 0,16±0,04 0,16±0,04
Bobot awal (g) Bandeng 25,75±6,45 25,75±6,45 25,75±6,45 25,75±6,45
Nila Srikandi 28,51±3,50 28,51±3,50 28,51±3,50 28,51±3,50
Udang Windu 25,62±3,45 23,7±4,15 19,23± 6,8 16,67±6,42
Bobot Akhir (g) Bandeng 208,1±25,5 173,3±24,5 125±27,05 222,5±68,8
Nila Srikandi 285,7±19,4 222,2±6914 216,7±33,6 250±17,52
Udang Windu 37,18 32,46 31,20 23,60
Bandeng 60,7 65,94 82,03 63,0
Sintasan (%)
Nila Srikandi 72,3 72,0 61,53 55,95
Rumput Laut -- -- -- --
Udang Windu 286,0 230,8 180 118
Produksi (kg/ha , kg Bandeng 189,5 171,4 153,8 210,0
kering/ha) Nila Srikandi 310,0 240,0 200 209,8
Rumput Laut 1,598 100 100 3,372
Udang Windu 1,66 2,06 2,64 2,85
Rasio Konversi Pakan
Bandeng 1 1,22 1,41 1,26
(RKP)
Nila Srikandi 1,0 1,22 1,41 1,26
A : Kelompok pembudidaya Mario Marennu (Zulkifli)
B : Kelompok pembudidaya Mario Marennu (H.Sampe B))
C : Kelompok pembudidaya Mario Marennu (M Agus)
D : Kelompok pembudidaya Terampil (H Wafid Siddik)

Pertumbuhan udang windu lebih tinggi pada petak A dan B masing masing 25,62±3,45 dan
23,7±4,15 g/ekor dibandingkan dengan petak C dan D yaitu 19,23± 6,8 dan 16,67±6,42 g/ekor
(Gambar 1). Pertumbuhan yang rendah disebabkan oleh pola pikir pembudidaya (D) yang tidak
mengikuti SOP, yaitu menambahkan kepadatan rumput laut yang tidak sesuai dengan padat tebar
yang optimal yang telah ditetapkan (dihibahkan). Sehingga pakan udang windu yang diberikan tidak
termanfaatkan dengan baik, akibatnya pertumbuhan udang windu lambat. Sedangkan pada petak C
disebabkan oleh pembudidaya tidak disiplin dalam pemeliharaan sehingga ditemukan hama penyaing
berupa ikan mujair. Pertumbuhan bandeng dan nila srikandi memperlihatkan pola pertumbuhan
yang relatif sama, namun laju pertumbuhan bandeng lebih rendah yaitu 1,76-2,4% dibandingkan
dengan laju pertumbuhan nila srikandi 2,25-2,56% (Gambar 2). Rendahnya pertumbuhan bandeng
utamanya pada petak B dan C selain disebabkan oleh fluktuasi dan nilai salinitas yang rendah, juga
disebabkan oleh ukuran gelondongan bandeng yang ditebar
5 Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2014

30

Pertumbuhan udang windu (g)


25

20

15

10

0
0 15 30 45 60 75 90

Waktu pemeliharaan (hari)

A : KT Mario Marennu (Zulkifli) B : KT Mario Marennu (H.Sampe B)


C : KT Mario Marennu (M Agus) D : KT Terampil (H.Wafid Siddik)

Gambar 1. Pertumbuhan udang windu selama pemeliharaan

SOP penebaran bandeng pada sistem polikultur menetapkan ukuran gelondongan >50 g, agar
pemanenan bandeng dapat mencapai ukuran konsumsi dan dilakukan bersamaan dengan pemanenan
udang windu. Namun pada saat kegiatan dimulai gelondongan yang ada di wilayah hamparan tambak
desa Wewangroe hanya mencapai 25,75± 6,45 g, sedangkan untuk mendatangkan dari luar sangat
berisiko dalam hal pengangkutan.
Sintasan udang windu relatif rendah untuk semua petakan yaitu: 23,60-37,18%. Hal yang sama
juga ditemukan pada polikultur udang windu, bandeng, nila merah dan rumput laut di kabupaten
Pangkep yaitu 13,52 - 52,18% (Mangampa et al., 2012). Faktor yang berpengaruh terhadap sintasan
diduga karena kondisi kadar garam yang relatif rendah < 15 ppt pada kedua lokasi ini. Sintasan
bandeng dan nila srikandi relatif tinggi dan pola penyebarannya relatif sama untuk semua petakan
yaitu sintasan bandeng 60,7-82,03% dan sintasan nila srikandi 55,95-72,3%. Dalam budidaya sistem
polikultur dengan menngunakan komoditas nila, salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian
adalah aspek sosial (keamanan). Hal ini berdampak rendahnya sintasan nila srikandi petak D yaitu
55,95%.

250 300
A : KT Mario Marennu (Zulkifli)
Pertumbuhan nila skrikandi (g)

A : KT Mario Marennu (Zulkifli)


Pertumbuhan bandeng (g)

B : KT Mario Marennu (H.Sampe B) 250 B : KT Mario Marennu (H.Sampe B)


200
C : KT Mario Marennu (M Agus) C : KT Mario Marennu (M Agus)
D : KT Terampil (H.Wafid Siddik) 200 D : KT Terampil (H.Wafid Siddik)
150
150
100
100

50
50

0 0
0 15 30 45 60 75 90 0 15 30 45 60 75 90
(A) (B)
Waktu pemeliharaan (hari) Wakt pemeliharaan (hari)

Gambar 2. Pertumbuhan bandeng (A) dan nila srikandi (B) selama 90 hari pemeliharaan

Produksi merupakan resultante antara sintasan udang dengan bobot akhir rata-rata Produksi udang
windu lebih tinggi pada petak A yaitu 286,0 kg/ha, menyusul petak B dan C masing masing 230,8
dan 180,0 kg/ha, dan produksi rendah pada petak D yaitu 118,0 kg/ha (Gambar 3). Namun masih
lebih tinggi jika dibandingkan dengan kondisi eksisting produksi udang windu di kabuapten Luwu
Timur yaitu 50-80 kg/ha/tahun. Produksi yang rendah ini selain disebabkan oleh sintasan yang rendah,
juga sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan yang lambat akibat menebar rumput laut melebihi
kepadatan optimun untuk sistem polikultur. Produksi bandeng lebih tinggi pada petak D (209,8 kg/
ha) menyusul petak A (189,5 kg/ha), dan yang paling rendah adalah petak B dan C masing masing
Polikultur udang windu, bandeng, nila srikandi, dan ... (Markus Mangampa) 6

171,4 dan 153,8 kg/ha. Produksi bandeng rata rata di kabupaten Luwu Timur lebih tinggi yaitu
mencapai 400-500 kg/ha/tahun dengan sistem monokultur bandeng. Rendahnya produksi bandeng
pada petak B dan C disebabkan oleh kondisi salinitas yang rendah dengan fluktuasi yang kecil,
bahkan pada akhir pemeliharaan salinitas semakin menurun mencapai 2 ppt. Produksi rumput laut
pada kegiatan ini dalah 1600 - 3372 kg/ha/musim, sedangkan kondisi existing adalah 1500-2.000
kg/ha tahun, tanpa bandeng dan udang. Pada kedua petak B dan C, rumput laut tidak dapat tumbuh,
akibat salinitas rendah sampai akhir pemeliharan

350 4000
Udang windu
300 3500 Produksi rumput laut (kg kering/ha)

Produksu rumput laut


Bandeng
3000
Produksi (kg/ha)

(kg kering/ha)
250 Nila srikandi
2500
200
2000
150
1500
100
1000
50 500
0 0

(A) A B C D (B) A B C D

Petakan tambak pembudidaya Petakan tambak pembudidaya

Gambar 3. Produksi udang windu, bandeng, dan nila srikandi (A) dan produksi rumput laut (B)

Kualitas Air
Kualitas air merupakan faktor penentu keberhasilan budidaya tambak. Kualitas air yang baik
adalah jika dapat mendukung kehidupan organisme akuatik dan jasad pakannya. Kondisi inilah yang
berusaha dipertahankan atau diminimalkan perubahannya selama budidaya. Selama pemeliharaan
kualitas air dapat berubah akibat faktor internal dan eksternal lingkungan tambak, sehingga upaya
pengelolaan air yang tepat harus dapat dilaksanakan untuk mempertahankan kualitas air tetap baik.
Pada uji lapang sistem polikultur beberapa parameter kualitas air seperti suhu, pH oksigen terlarut
(DO), nitrit, nitrat, fosfat, dan BOT memperlihatkan kisaran yang masih layak untuk kehidupan udang
windu, bandeng, nila srikandi, dan rumput laut dan sebarannya relatif sama pada keempat petak
tambak (Tabel 2). Namun demikian kualitas air yang lain seperti salinitas, alkalinitas, dan bahan
organik total (BOT) merupakan faktor pembatas pada kegiatan ini.
Setiap komoditas polikultur memiliki kesesuaian salinitas yang bervariasi. Udang windu,dan
bandeng memiliki toleransi yang luas terhadap salinitas. Toleransi salinitas nila srikandi 0-30 ppt,
berbeda dengan spesies nila lain seperti nila gesit 0-22 ppt, nila merah 0- 40 ppt. dan rumput laut
15-30 ppt. Walaupun udang windu memiliki toleransi salinitas yang luas, namun apabila pemeliharan
pada kondisi salinitas rendah, memerlukan pergantian air optimal 20-30% dengan ferkuensi 3-4 kali
setiap periode pasang. Kisaran salinitas setiap petakan pada lokasi kegiatan bervariasi sesuai dengan
jarak lokasi dari sumber air laut dan pengaruh keberadaan sungai malili yang dipengaruhi oleh
pasok air tawar dari hulu, terutama pada saat kondisi musim hujan (Gambar 4). Kisaran rendah ini
berlangsung sepanjang pemeliharaan bulan pertama, sehingga salah satu faktor menyebabkan
rendahnya sintasan udang windu, disamping menyebabkan rumput laut tidak dapat tumbuh dengan
baik, sedangkan hydrilla tumbuh lebat.
Kisaran alkalinitas awal pemeliharaan pada ke 4 petak tambak cukup baik dengan konsentrasi
yang optimun yaitu 100,28-120,48 mg/L. Kondisi ini berlangsung sampai akhir pemeliharaan bulan
pertama, dan setelah memasuki bulan kedua beberapa petak yaitu petak B dan C mengalami penurunan
sampai akhir pemeliharaan yaitu akhir bulan ketiga dengan konsentrasi alkalinitas pada petak B dan
C masing masing 60,6 dan 50,6 mg/L, walapun tetap rutin dilakukan pengapuran susulan dengan
kapur dolomit. Sedangkan petak A dan D, kisaran alkalinitas tetap berada pada kondisi yang optimun
sampai akhir pemeliharaan yaitu masing masing 120,48 dan 149,68 mg/L. Rendahnya alkalinitas
pada petak B dan C disebabkan luapan air tawar dari sungai malili, masuk ke saluran tambak. Akibatnya
salinitas semakin menurun mencapai 2 ppt.
7 Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2014

Tabel 2. Kisaran parameter kualitas air tambak polikultur udang windu, bandeng, nila srikandi
dan rumput laut di tambak pembudidaya kab. Luwu Timur

Parameter Petakan tambak pembudidaya


kualitas air A B C D
28,55±3,47 29,3±1,41 29,2±0,99 31,37±2,26
Suhu
(26,1-31,0) (28,3-30,3) (28,5-29,9) (29,2-33,7)
7,8±0,3 7,4±0,2 7,4±0,3 8,3±0,2
pH
(7,4-8,0) (7,2-7,5) (7,0-7,6) (8,0-8,5)
5,4±2,1 5,1±0,9 6,7±2,3
DO 4,4±0,6(3,9-4,8)
(3,9-6,9) (4,4-5,7) (4,8-9,3)
9,8±1,7 4,8±0,9 3,5±1,3 10,8±2,2
Salinitas (ppt)
(8,0-12) (3,0-5,0) (2,0-5,0) (8-13,0)
0,02±0,011 0,04±0,052 0,02±0,019 0,01±0,001
Nitrit, NO2-N
(0,01-0,027) (0,0-0,099) (0,02-0,019) (0,009-0,01)
0,13±0,098 0,26±0,21 0,16±0,022 0,10±0,035
Nitrat, NO3-N
(0,06-0,24) (0,11-0,41) (0,14-0,18) (0,07-0,014)
0,21±0,208 0,21±0,208 0,21±0,208 0,21±0,208
Amonia, NH 3-N
(0,07-0,45) (0,07-0,45) (0,07-0,45) (0,07-0,45)
0,35±0,338 0,35±0,338 0,35±0,338 0,35±0,338
Fosfat, PO4-P
(0,05-0,78) (0,05-0,78) (0,05-0,78) (0,05-0,78)
108,1±9,719 81,45±21,805 87,83±43,438 161,78±33,146
Alkalinitas
(98,68-120,68) (60,6-100,28) (56,56-143,88) (120,5-189,68)
42,70±8,74 50,32±3,37 45,70±5,53 27,51±2,64
BOT
(32,9-49,52) (47,9-54,12) (39,7-50,67) (24,8-30,07)

A : Zulkifli (KP Mario Marennu)


14 B : H.Sampe B (KP Mario Marennu)
C : M Agus (KP Mario Marennu)
12
D : H.Wahid Siddik (KP Terampil)
10
Salinitas (ppt)

0
0 30 60 90
Waktu pemeliharaan (hari)
Gambar 4. Kisaran salinitas (ppt) air tambak polikultur selama
pemeliharaan di tambak.

BOT menggambarkan kandungan bahan organik total suatu perairan yang terdiri atas bahan
organik terlarut, tersuspensi dan koloid. Pola sebaran BOT ke-4 petak tambak kegiatan polikultur
relatif sama dan tidak memperlihatkan kenaikan yang signifikan seiring dengan masa pemeliharaan,
terkecuali petak D yang mengalami penurunan yaitu kandungan BOT awal pemeliharan 30,07 mg/L,
Polikultur udang windu, bandeng, nila srikandi, dan ... (Markus Mangampa) 8

A : Zulkifli (KP Mario Marennu) B : H.Sampe B (KP Mario Marennu)


C : M Agus (KP Mario Marennu) D : H.Wahid Siddik (KP Terampil)
200
180
160
Alkalinitas (mg/L)

140
120
100
80
60
40
20
0
0 30 60 90
Waktu pemeliharaan (hari)
Gambar 5. Kisaran alkalinitas (mg/L) air tambak polikultur selama
pemeliharaan di tambak.

menjadi 24,9 mg/L (Gambar 6). Kisaran BOT pada masing masing petakan adalah petak A 42,70±8,74
(32,9-49,52), petak B 50,32±3,37 (47,9-54,12), petak C 45,70±5,53 (39,7-50,67), dan petak D :
27,51±2,64 (24,8-30,07) mg/L. Kisaran ini tergolong layak untuk budidaya udang dan ikan. Adiwijaya
et al. (2003) melaporkan bahwa kisaran optimal bahan organik budidaya udang vaname< 55 mg/L
Hal ini disebabkan oleh ketersediaan oksigen terlarut yang cukup dan pemberian probiotik yang
bertujuan untuk membantu aktifitas bakteri dalam penguraian bahan organik menjadi senyawa
sederhana (Poernomo, 2004). Menurut Boyd (1990), kandungan bahan organik terlarut suatu perairan

60,00
Bahan organik total (mg/L)

50,00

40,00

30,00

20,00

10,00

0,00
0 30 60 90
Waktu pemeliharaan (hari)
A : Zulkifli (KP Mario Marennu) B : H.Sampe B (KP Mario Marennu)
C : M Agus (KP Mario Marennu) D : H.Wahid Siddik (KP Terampil)

Gambar 6. Kisaran bahan organik total (mg/L) air tambak polikultur


selama pemeliharaan

normal adalah maksimum 15 mg/l, kandungan bahan organik terlarut tinggi maka dapat menurunkan
kandungan oksigen terlarut dalam air sehingga menurunkan daya tahan udang.
Plankton
Kelimpahan fitoplankton pada bulan pertama relatif kurang dan mempunyai pola penyebaran
selama pemeliharaan hampir sama untuk semua petak kegiatan, yaitu pada bulan kedua kelimpahan
9 Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2014

meningkat dan sangat kurang pada akhir pemeliharaan (bulan ketiga). Hal ini sangat nyata kelihatan
pada petak A dan B, sedangkan pada petak C dan D relatif kurang mulai dari bulan pertama samapai
akhir pemeliharaan (Gambar 7A). Fluktuasi ini disebabkan oleh curah hujan yang semakin tinggi
sampai akhir pemeliharaan, sehingga penetrasi cahaya matahari untuk pertumbuhan fitoplankton
relatif kurang. Berbeda dengan zooplankton, pada bulan pertama memperlihatkan kelimpahan yang
bervariasi pada masing masing petak kegiatan (Gambar 7B).

2000 1400
1200

Zooplankton (sel/mL)
Fitoplankton (sel/mL)

1500 1000
800
1000
600
400
500
200

0 0
0 30 60 90 0 30 60 90
(A) (B) Waktu pemeliharaan (hari)
Waktu pemeliharaan (hari)
A : Zulkifli (KP Mario Marennu) B : H.Sampe B (KP Mario Marennu) A : Zulkifli (KP Mario Marennu) B : H.Sampe B (KP Mario Marennu)
C : M Agus (KP Mario Marennu) D : H.Wahid Siddik (KP Terampil) C : M Agus (KP Mario Marennu) D : H.Wahid Siddik (KP Terampil)

Gambar 7. Kelimpahan fitoplankton (sel/mL) (A) dan zooplankton (sel/mL) (B)

Pada bulan pertama awal pemeliharaan, kelimpahan yang tinggi pada petak A menurun sampai
akhir pemeliharaan. Sedangkan pada petak B pada awal pemeliharan zooplankton kurang dan semakin
meningkat sampai akhir pemeliharaan. Sedangkan petak C dan D kelimpahan plankton rendah sejak
awal sampai akhir pemeliharaan.
Bakteri
Total bakteri dalam air tambak pada 4 petak kegiatan memperlihatkan populasi yang masih rendah
dan relatif stabil selama pemeliharaan yaitu 3,8451-5,6222 cfu/mL, demikian pula total vibrioi di
dalam air tambak memperlihatkan populasi yang masih layak.yaitu 1,0- 2,9096 cfu/mL. Hal ini
disebabkan aplikasi probiotik dengan teratur setiap minggu selama pemeliharaan. Probiotik dapat
menghambat perkembangan vibrio dalam air tambak.

3,5 6
Total pop bakteri (cfu/mL)

3 5
Total vibrio (cfu/mL)

2,5
4
2
3
1,5
1 2

0,5 1
0 0
(A) 0 30 60 90 (B) 0 30 60 90
Waktu pemeliharaan (hari) Waktu peneliharaan (hari)
A : Zulkifli (KP Mario Marennu) B : H.Sampe B (KP Mario Marennu) A : Zulkifli (KP Mario Marennu) B : H.Sampe B (KP Mario Marennu)
C : M Agus (KP Mario Marennu) D : H.Wahid Siddik (KP Terampil) C : M Agus (KP Mario Marennu) D : H.Wahid Siddik (KP Terampil)

Gambar 8. Total vibrio (cpu/mL) (A) dan total bakteri (cpu/mL) (B) dalam air tambak

Analisis Usaha
Suatu teknologi dapat dikatakan berhasil apabila teknologi tersebut secara biologis dapat diatasi,
secara teknis dapat memungkinkan untuk dilaksanakan, dan secara ekonomis dapat menguntungkan.
Secara ekonomis, analisis usaha yang merupakan penghitungan keuangan perlu dilakukan untuk
mengetahui modal atau investasi yang diperlukan untuk operasional suatu usaha serta mengetahui
kelayakan usaha yang akan dilakukan atau mengetahui keberhasilan usaha yang telah dicapai selama
Polikultur udang windu, bandeng, nila srikandi, dan ... (Markus Mangampa) 10

usaha itu berlangsung. Berbagai perhitungan dilakukan dalam analisis kegiatan ini seperti pendapatan
kotor, keuntungan operasional, keuntungan bersih, rasio penerimaan dan biaya (R/C ratio), titik impas
(BEP) dan masa pengembalian modal, pay back period (Gitinger, 2008). Salah satu analisis usaha yang

Tabel 3. Investasi: sewa lahan, sarana peralatan, konstruksi dan bgn.


Gedung

Uraian Unit Unit Cost (Rp) Harga (Rp)


Sewa tambak (ha/5
1 12.500.000 12.500.000
tahun)
Pintu air kayu/Pipa
1 5.000.000 5.000.000
pralon 10 inch
Hapa (3x4) /waring 4 250 1.000.000
Jala lempar 1 1.000.000 1.000.000
Rumah Jaga 1 7.500.000 7.500.000
Investasi 27.000.000

Tabel 4. Biaya Tetap (Fixed Cost) per tahun (2 musim)

Investasi Usia Eko Fixced Cost Fixced Cost


Uraian Unit
(Rp) (thn) (Rp/th) (Rp/msm)
Sewa tambak (ha/5 tahun) 1 12.500.00 5 2.500.000 1.250.000
Pintu air kayu/Pipa pralon
1 5.000.000 5 1.000.000 500
10 inc
Hapa (3x4) 4 1.000.000 2 500 250
Jala lempar 1 1.000.000 2 500 250
Rumah Jaga 1 7.500.000 5 1.500.000 750
Bunga investasi (12%) 3.240.000 3.240.000 1.620.000
Total Fixed Cost 30.240.00 4.620.000

penting adalah dengan menghitung R/C ratio yaitu kelayakan suatu usaha, yaitu apabila lebih besar
sari 1 maka usaha sudah layak dan sebaliknya.
Analisis ekonomi polikultur udang windu, nila srikandi, bandeng, dan rumput laut di kab. Luwu
Timur dari salah satu petak ( A1) dengan produksi yang optimal. Usaha polikultur pada petak ini
membutuhkan biaya investasi sebesar Rp 27.000.000 (Tabel 3) Biaya tetap dan biaya operasional 1
siklus membutuhkan Rp 4.620.000 (Tabel 4) dan Rp 21.438.500 (Tabel 5).
Keuntungan bersih usaha usaha polikultur udang windu, nila srikandi, bandeng dan rumput laut
pada petakan ini mencapai Rp 14.373.400/ha/musim (1 tahun = 2 musim) atau Rp 28.747.600/ha/
tahun (Tabel 6). R/C ratio mencapai 1,55 yang berarti usaha polikultur udang windu, nila srikandi,
bandeng dan rumput laut layak untuk dijalankan, di mana setiap pengeluaran biaya Rp 1,00 akan
mendapatkan penerimaan sebesar Rp 1,55. BEP tercapai pada hasil penjualan sebesar Rp 26.057.529
yang berarti pelaku usaha mengalami impas, tidak untung dan tidak rugi. Modal yang dikeluarkan
dapat seluruhnya diperoleh kembali pada 3 siklus atau 1,2 tahun budi daya polikultur udang windu,
nila srikandi, bandeng dan rumput laut (Tabel 6).
KESIMPULAN
Polikultur udang windu, bandeng, nila srikandi, dan rumput laut dengan udang windu sebagai
komoditas utama, dapat meningkatkan produktivitasi tambak dengan produksi udang windu 118-
280,6 kg/ha/musim dari kondisi existing yaitu 50-80 kg/ha/tahun (produksi udang windu di Kabupaten
11 Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2014

Tabel 5. Biaya variabel (Variable cost) per musim

Uraian Unit Unit Cost (Rp) Harga (Rp)


Tokolan udang windu 30 50 1500000
Gelondongan nila srikandi 1500 350 525000
Gelondongan bandeng 1500 300 450000
Benih rumput laut 1500 1,5 2250000
Pakan udang 475 12 5700000
Pakan ikan 500 7 3500000
Pupuk anorganik Urea 200 2,5 500000
Pupuk anorganik SP-36 100 3 300000
Pupuk organik 400 1 400000
Pupuk organik cair 5 40 200000
Probiotik 4 50 200000
Saponin 100 7 700000
Kapur dolomit 1 1,5 1500000
Pemeliharaan tambak 1 500 500000
Angkutan 2 350 700000
Biaya panen 1 800 800000
Lain lain (seser,senter,
1 500 500000
timbangan dll)
Bunga Bank Biaya
1 1.213.500 1.213.500
variabel/musim(12%)
Total Biaya Variabel 21.438.500

Tabel 6. Analisis usaha polikultur udang windu, bandeng, nila srikandi,


dan rumput laut

Harga Satuan Total


Variabel Jumlah
(Rp) (Rp)
Revenue (Rp.) 40.432.300
Udang windu (kg) 286 70 20020000
Rumput laut 1,598 7,6 12144800
Nila srikandi 310 17,5 5425000
Bandeng 190 15 2842500
Total Cost (Rp.) 26.058.500
Variable Cost (Rp.) 21.438.500
Fixced Cost (Rp.) 4.620.000
Profit (Rp) :
Tahun 14.373.800
Musim 28747600
R/C Ratio 1,55
BEP (Rp.) 26.057.529
Pay Back Period :
Tahun 1,2
Musim 3
Polikultur udang windu, bandeng, nila srikandi, dan ... (Markus Mangampa) 12

Luwu Timur). Profitabilitas polikultur udang windu, bandeng, nila srikandi, dan rumput laut di
Kabupaten Luwu Timur mencapai Rp 14.373.400/ha/musim (1 tahun = 2 musim) atau Rp 28.747.600/
ha/tahun, dengan R/C ratio mencapai 1,55, apabila pembudidaya mengerjakan sendiri lahannya.
DAFTAR ACUAN
Adiwijaya, D., Sapto P.R., Sutikno.E, Sugeng dan Subiyanto, 2003. Budidaya udang vaname (Litopenaeus
vannamei) sistem tertutup yang ramah lingkungan. Departemen Kelautan dan Perikanan. Balai
Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara. 29 hlm.
Atmomarsono. 2001. Penaggulangan Penyakit Udang secara Utuh dan Terpadu. Prosiding Seminar
Hasil Penelitian. Bogor 2001. 8 hal.
Atmomarsono. 2004. Pengelolaan kesehatan udang windu, Penaeus monodon di tambak. Aquacultura
Indonesiana, 5(2) :73-78.
Boyd, C.E. 1990. Water Quality in Ponds for Aquaculture. Alabama Agricultural Experiment Station,
Auburn University, Alabama. 482 pp
Boyd, C.E. dan Fast. A.W, 1992. Pond monitoring and management. Marine Shrimp Culture Principles
and Practices. Elsevier Science Publishing Comp. Inc, New York.p. 497-513
Burhanuddin, 2009. Peningkatan produktivitas tambak budidaya ikan badeng (Chanos chanos Fork)
secara tradisional pluss. Prosiding Seminar Nasional Tahunan VI Hasil Penelitian Perikanan dan
Kelautan. Jurusan Perikanan danKelautan , Fakultas Pertanian UGM. ISBN 978-979-19942-1. 6 hal
Efendie, M.I., 1979. Biologi Perikanan. Pustaka Nusatama, Yogyakarta. 163p.
Gittinger, J.P. 2008. Analisa Ekonomi Proyek-Proyek Pertanian. UI Press, Jakarta. 579 hlm.
Mangampa, M., Suharyanto, E. A.Hendradjat dan E.Susianingsih, 2012. Optimasi kepadatan udang
windu yang dipolikultur dengan nila merah, bandeng dan rumput laut. Aplikasi Teknologi Terapan
untuk Mendukung Industrialisasi Perikanan Indonesia. Prosiding Seminar Nasional Perikanan, STP
Jakarta, 2012, 8 hlm
Poernomo, A. 1992. Pembuatan Tambak Udang di Indonesia. Seri Pengembangan No.7 Balai Penelitian
Perikanan Budidaya Pantai, Maros. 40 hlm.
Poernomo, A. 2004. Teknologi Probiotik Untuk Mengatasi Permasalahan Tambak udang dan Lingkungan
Budidaya. Makalah disampaikan pada Simposium Nasional Pengembangan Ilmu dan Inovasi
Teknologi dalam Budidaya. Semarang , 27 – 29 Januari. 2004. 24 hal.
Watanabe, T. 1988. Fish nutrition and mariculture, JICA textboox. The General Aquaculture Course,
Japan. 233pp
13 Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2014

DISKUSI

Nama Penanya:
Husein

Pertanyaan:
Bagaimana membedakan nila srikandi dengan merah secara visual. Manakah yang lebih bagus?

Tanggapan:
Lebih bagus nila srikandi. Dan kegiatan penyebaran akan terus dilakukan.

Anda mungkin juga menyukai