Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

OKSIGENASI

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keterampilan Dasar Klinik 1 (KDK 1)

Kelompok 1
1. Diah Ayu Sugita (16.14.02.009)
2. Fepy Sisiliay (16.14.02.011)
3. Fransiska Iga W. U. (16.14.02.013)
4. Kholifah Anggraeni (16.14.02.015)
5. Ni Ayang Wahyunata (16.14.02.0.20)
6. Pasih Paulina (16.14.02.024)
7. Putri Mega Jayanti (16.14.02.025)
8. Rizki Olivia Dela M (16.14.02.029)
9. Surya Indah Pradina (16.14.02.033)
10. Wildha Adhita P (16.14.02.039)

AKADEMI KEBIDANAN PAMENANG PARE

KEDIRI

2016

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah Yang Mahaesa atas limpahan rahmat dan
hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “KEBUTUHAN
OKSIGENASI”.
            Perkenankanlah kami menyampaikan terima kasih kepada : Ibu Dosen mata kuliah
Kebutuhan Dasar Kebidanan I atas tugas yang diberikan sehingga menambah wawasan
kami,demikian pula kepada teman-teman yang turut memberi sumbang saran dalam penyelesaian
makalah sebagaimana yang kami sajikan.
            Kami menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan
dan kesalahan, untuk itu dari lubuk hati kami yang paling dalam memohon saran dan kritik yang
sifatnya membangun dan mendorong membuka cakrawala pemahaman tentang tumbuhan
terkhususnya pada nidasi.
            Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita dan selalu menginspirasi kita untuk
mendalami ilmu Kebutuhan Oksigenasi

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Oksigenasi merupakan kebutuhan dasar yang paling vital dalam kehidupan manusia.
Dalam tubuh, oksigen berperan penting di dalam proses metabolisme sel. Kekurangan
oksigen akan berdampak yang bermakna bagi tubuh, salah satunya kematian. Karenanya,
berbagai upaya perlu dilakukan untuk menjamin agar kebutuhan dasar ini terpenuhi dengan
baik. Pemenuhan kebutuhan oksigen sangat ditentukan oleh keadekuatan system pernapasan
dan system kardiovaskuler. Gangguan pada kedua system tersebut menyebabkan gangguan
dalam pemenuhan oksigenasi.
Oksigen harus secara adekuat diterima dari lingkungan kedalam paru-paru,pembuluh
darah,dan jaringan. Pada beberapa titik dalam kehidupannya,klien beresiko untuk tidak dapat
memenuhi kebutuhan oksigen mereka. Kebutuhan tersebut mungkin akut, seperti pada henti
jantung,atau kronik, seperti pada penyakit emfisema. Pemenuhan oksigen akan mengurangi
kebutuhan miokardium akan oksigen dan membantu memenuhi kebutuhan oksigen tubuh.
Berdasarkan hal-hal tersebut, penulis membuat makalah tentang oksigenasi.

1.2 Rumusan Makalah


1. Bagaimana konsep kebutuhan oksigenasi?
2. Bagaimana anatomi dan fisiologi system pernapasan?
3. Apa saja masalah yang berhubungan dengan kebutuhan oksigenasi?
4. Bagaimana tindakan tenaga medis (bidan) apabila pasien mengalami kekurangan
oksigen?
5. Bagaimana cara memberikan oksigen menggunakan kanu dan sungkup?
6. Apa saja kegiatan yang berguna untuk memenuhi oksigen?

1.3 Tujuan
a. Tujuan Umum
Tujuan secara umum dar penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas
terstruktur dari mata kuliah Konsep Dasar Kebidanan 1 (KDK 1).

3
b. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui konsep kebutuhan oksigenasi.
2. Dapat menyebutkan dan menjelaskan anatomi dan fisiologi system pernapasan.
3. Untuk mengetahui masalah-masalah yang berhubungan dengan kebutuhan oksigenasi.
4. Untuk mengetahui tindakan tenaga medis (bidan) apabila pasien mengalami
kekurangan oksigen.
5. Untuk mengetahui cara memberikan oksigen menggunakan kanul dan sungkup.
6. Dapat menjelaskan kegiatan-kegiatan yang berguna untuk memenuhi oksigen.

4
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Konsep Oksigenasi
Oksigenisasi adalah suatu komponen gas dan unsure vital dalam proses metabolisme
untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel-sel tubuh. Secara normal elemen ini
di peroleh dengan menghirup O2 setiap kali bernafas. Masuknya oksigen kejaringan tubuh
ditentukan oleh system respirasi kardiovaskuler dan keadaan hematologi. Tujuan pemberian
oksigenasi adalah :
a. Untuk mempertahankan oksigen yang adekuat pada jaringan
b. Untuk menurunkan kerja paru-paru
c. Untuk menurunkan kerja jantung
Oksigen adalah salah satu kebutuhan yang paling vital bagi tubuh. Otak masih mampu
mentoleransi kekurangan oksigen antara 3-5 menit. Apabila kekurangan oksigen berlangsung
lebih dari 5 menit, maka terjadi kerusakan sel otak secara permanen.. Selain itu oksigen
digunakan oleh sel tubuh untuk mempertahankan kelangsungan metabolisme sel. Oksigen
akan digunakan dalam metabolisme sel membentuk ATP (Adenosin Trifosfat) yang
merupakan sumber energi bagi sel tubuh agar berfungsi. Kebutuhan oksigenasi berhubungan
erat dengan fungsi sirkulasi udara yang ada pada tubuh manusia. Fungsi sirkulasi udara ini
biasanya disebut juga dengan istilah respirasi atau pernafasan.
2.2 Anatomi dan Fisiologi Sistem Pernapasan
1. Anatomi Sistem Pernapasan
Pernafasan/respirasi adalah pertukaran gas dimana oksigen masuk kedalam tubuh
untuk metabolisme, sedangkan karbondioksida sebagai hasil metabolisme dikeluarkan
oleh tubuh.

5
Anatomi sistem pernafasan terdiri dari :

1. Hidung
Pertama kali udara masuk dalam tubuh akan melalui lubang hidung. Pada beberapa
alternatif udara dapat melewati mulut. Pada saat udara melewati hidung maka udara akan
disaring, dihangatkan dan dilembabkan.
2. Pharing
Udara inspirasi dari hidung pada saat mencapai pharing hampir bebas debu.
Pharing dibagi menjadi tiga bagian yaitu :
-Naso pharing
-Oro pharing
-Laryngo pharing

3. Larynx

Larynx terdiri dari satu seri tulang rawan. Pada waktu menelan larynx akan bergerak ke
atas dan glotis menutup jalan nafas epiglotis yang membentuk seperti daun mempunyai
gerakan seperti pintu pada pintu masuk larynx, sehingga makanan tidak dapat masuk
kedalam esophagus.

Refleks saluran ini tergantung pada koordinasi neuromakuler yang kemungkinan tidak
bekerja secara penuh pada bayi, sehingga mengarah pada spasme. Kondisi yang dapat
mempengaruhi larynx terbagi dalam tiga bagian:

-Abnormalitas kongenital

-Cidera benda asing

-Infeksi

4. Trachea

Bagian saluran pernafasan yang bentuknya seperti tabung dan merupakan lanjutan larynx.
Lapisan terdalam dinding trachea terdiri dari lapis mucosayang mengandung kelenjar-
kelenjar mucosa yang mengsekret mukus/lendir.

6
5. Bronchus

Pada bagian akhir trachea, maka akan bercabang menjadi dua yaitu bronchus kiri dan
kanan. Bronchus kanan lebih besar, lebih tegak dan lebih pendek.

Bronchus kemudian terlihat masuk ke masing-masing paru-paru. Pada saat masuk


kedalam paru-paru bronchus bercabang menjadi bronchiolus (bronchus kanan menjadi
tiga cabang dan bronchus kiri dua cabang) sesuai pada lobus paru-paru.

Bronchus kemudian melanjutkan dengan bercabang lagi hingga pada ujung bronchiolus
yang paling kecil berhubungan dengan kantong-kantong udara atau alveoli. Dimana
alveoli merupakan tempat terjadi pertukaran gas O2 dan CO2 melalui proses difusi antara
sel-sel gepeng alveoli dengan butir-butir darah dari kapiler-kapiler paru-paru.

6. Alveolus

7
Dinding alveolus merupakan membran tempat pertukaran oksigen dari luar dengan
karbondioksida dari sistem sirkulasi sebagai hasil metabolisme tubuh. Diantara alveolus
terdapat cairan dan apabila cairan ini berkurang maka dapat menimbulkan atelektasis.

7. Paru-paru

Paru-paru merupakan alat pernafasan utama respirasi. Paru-paru terletak didalam rongga
dada sebelah kanan dan sebelah kiri. Tiap lobus membentuk lobulus. Paru dibungkus oleh
pluera. Pluera terdiri dari dua lapis yaitu pluera vecerlalis yang membungkus paru-paru
secara keseluruhan dan pluera parietalis yang menyelimuti thoraks. Diantara kedua pluera
itu terdapat suatu rongga yang dinamakan cavum pluera dan keadaanya hampa udara,
sehingga memudahkan paru-paru bergerak bebas. Bila cavum ini berisi udara atau cairan
maka dapat menghalangi berkembangnya paru-paru, sehingga menyebabkan gangguan
fungsi pernapasan.

Secara ringkas gambaran antomi fisiologi pernapasan :

Udara masuk melewati :

Hidung->Pharing->Laring->Trakea->Bronkus->

Bronchiolus->Alveoli->Alveolus

2. Fisiologi Sistem Pernapasan

Proses fisiologis respirasi di mana oksigen dipindahkan dari udara kedalam


jaringan-jaringan, dan karbondioksida dikeluarkan keudara ekspirasi dapat dibagi
menjadi tiga stadium.

1. Stadium pertama adalah ventilasi, yaitu masuknya campuran gas-gas kedalam


dan keluar paru-paru.
2. Stadium kedua, transportasi, yang terdiri dari beberapa aspek :
a. Difusi gas-gas antara alveolus dan kapiler paru-paru (respirasi eksterna) dan
antara darah sistemik dan sel-sel jaringan.
b. Distribusi darah dalam sirkulasi pulmoner dan penyesuaiannya dengan
distribusi udara dalam alveolus-alveolus.

8
c. Reaksi kimia dan fisik dari oksigen dan karbondioksida dengan darah.
3. Respirasi sel atau respirasi interna merupakan stadium akhir dari respirasi. Selama
respirasi ini metabolitdioksidasi untuk mendapatkan energi, dan karbondioksida
terbentuk sebagai sampah proses metabolisme sel dan dikeluarkan oleh paru-paru.
a. VENTILASI
Udara bergerak masuk dan keluar dari paru-paru karena selisih tekanan yang
terdapat antara atmosfer dan alveolus oleh kerja mekanik otot-otot.
b. DIFUSI
Stadium kedua proses respirasi mencakup proses difusi gas-gas melintasi
membrane antara alveolus-kapiler yang tipis (tebalnya kurang dari 0.5 um).
Kekuatan pendorong untuk pernindahan ini adalah selisih tekanan parsial
antara darah dan fase gas.

2.3 Masalah yang Berhubungan dengan Oksigenasi


Gangguan Oksigenasi adalah kebutuhan oksigenasi berhubungan erat dengan
fungsi sirkulasi udara yang ada pada tubuh manusia. Fungsi sirkulasi udara ini biasanya
disebut juga dengan istilah respirasi atau pernafasan. Definisi respirasi atau pernafasanya
itu suatu aktivitas yang berperan dalam proses suplai O2 keseluruh tubuh dan
pembuangan CO2 (hasil pembakaran sel). Adapun fungsi dari respirasi adalah menjamin
ketersediaan O2 untuk kelangsungan metabolism sel-sel tubuh serta mengeluarkan CO2
hasil metabolism sel secara terus menerus (Soemantri, 2009).
Adapun faktor-faktor yang menyebabkan klien mengalami gangguan oksigenasi
menurut NANDA (2011),yaitu hiperventilasi, hipoventilasi, deformitas tulang dan
dinding dada, nyeri,cemas, penurunan energy,/kelelahan, kerusakan neuromuscular,
kerusakan muskoloskeletal, kerusakan kognitif/persepsi, obesitas, posisi tubuh, imaturitas
neurologis kelelahan otot pernafasan dan adanya perubahan membrane kapiler-alveoli.
Menurut fundamental perawatan pada tahun 2006 faktor yang mempengaruhi
oksigenasi yaitu, keadekuatan sirkulasi; ventilasi, perkusi, dan transport gas-gas
pernafasan kejaringan dipengaruhi oleh empat tipe faktor:
1. Faktor Fisiologis
a. Penurunan kapasitas pembawa oksigen

9
b. Penurunan konsentrasi pembawa oksigen yang diinspirasi
c. Hipovolemia
d. Peningkatan laju metabolism
e. Kondisi yang mempengaruhi gerak dinding dada
2. Faktor Perkembangan
Tahap perkembangan klien dan proses penuaan yang normal mempengaruhi
oksigenisasi jaringan,:
a. Bayi prematrur
Bayi premature beresiko terkena membrane hialin, yang di duga
disebabkan oleh defesiensi surfaktan. Kemampuan paru untuk mensintesis
surfaktan berkembang lambat pada masa kehamilan, yakni pada sekitar bulan
ketujuh, dan demikian bayi premature tidak memiliki surfaktan.
b. Bayi dan todler
Beresiko mengalami infeksi saluran nafas atas sebagai hasil pernafasan
yang sering pada anak-anak lain dan pernafasan dari asap rokok yang dihisap
orang lain
c. Anak usia sekolah dan remaja
Anak usia sekolah dan remaja terpapar pada infeksi pernafasan dan faktor-
faktor resiko pernafasan. Misalnya menghisap rokok dan merokok. Anak sehat
biasanya tidak mengalami efek merugikan akibat infeksi pernafasan. Namun,
individu yang mulai merokok pada usia remaja dan meneruskannya sampai usia
dewasa pertengahan mengalami peningkatan resiko penyakit kardiopulmonar dan
kangker paru.
d. Dewasa muda dan dewasa pertengahan
Terpapar dalam resiko penyakit kardiopulmonar seperti: diet yang tidak
sehat, kurang latihan fisik, obat-obatan dan merokok.
e. Lansia
System pernafasan dan system jantung mengalami perubahan sepanjang
proses penuaan. Pada system arteria, terjadi plak aterosklerosis sehingga tekanan
darah meningkat.
3. Faktor Perilaku

10
Perilaku atau gaya hidup, baik secara langsung maupun tidak langsung
mempengaruhi kemampuan tubuh dalam memenuhi kebutuhan oksigenisasi. Faktor-
faktor gaya hidup yang mempengaruhi pernafasan hidup meliputi : nutrisi, latihan
fisik, merokok, penyalah gunaan substansi dan stress.
4. Faktor Lingkungan
Lingkungan juga mepengaruhi oksigenisasi. Insiden penyakit paru terjadi
didaerah yang berkabut dan didaerah perkotaan dari pada di daerah pedesaan.
5. Gangguan jantung, meliputi : ketidakseimbangan jantung meliputi ketidakseimbangan
konduksi, kerusakan fungsi valvular, hipoksia miokard, kondisi-kondisi
kardiomiopati, dan hipoksia jaringan perifer.
6. Gangguan pernapasan meliputi hiperventilasi, hipoventilasi dan hipoksia.

2.4 Tindakan Tenaga Medis Apabila Pasien Mengalami Kekurangan


Oksigen
1. Latihan napas
Latihan napas merupakan cara bernapas untuk memperbaiki ventilasi alveoli
atau memelihara pertukaran gas, mencegah atelektaksis, meningkatkan efisiensi
batuk, dan dapat mengurangi stress.
Prosedur Kerja :
a. Cuci tangan
b. Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
c. Atur posisi pasien untuk duduk atau telentang
d. Anjurkan pasien untuk mulai latihan dengan cara menarik napas terlebih
dahulu melalui hidung dengan mulut tertutup
e. Kemudian anjurkan pasien untuk menahan napas sekitar 1-1,5 detik dan
disusul dengan menghembuskan napas melalui bibir dengan bentuk mulut
seperti orang meniup
f. Catat respon pada pasien yang terjadi
g. Cuci tangan anda
2. Latihan batuk efektif

11
Latihan batuk efektif merupakan cara melatih pasien yang tidak memiliki
kemampuan batuk secara efektif untuk membersihkan jalan napas (laring, trachea, dan
bronkhiolus) dari secret atau benda asing.

Prosedur Kerja :

a. Cuci tangan
b. Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
c. Atur posisi pasien dengan duduk di tepi tempat tidur dan membungkuk ke
depan
d. Anjurkan pasien untuk menarik napas, secara pelan dan dalam, dengan
menggunakan pernapasan diafragma
e. Setelah itu minta pasien menaahan napas selama ± 2 detik
f. Batukkan pasien 2 kali dengan mulut terbuka
g. Minta pasien melakukan Tarik napas dengan ringan
h. Istirahat
i. Catat respons yang terjadi pada pasien
j. Cuci tangan anda
3. Pemberian oksigen
Pemberian oksigen merupakan tindakan memberikan oksigen kedalam
paru-paru melalui saluran pernapasan dengan alat bantu oksigen. Pemberian oksigen
pada pasien dapat melalui tiga cara yaitu, : melalui kanula, nasal, dan masker.

Tujuan pemberian oksigen adalah :

a. Memenuhi kebutuhan oksigen


b. Mencegah terjadinya hipoksia
c. Membantu kelancaran metabolisme
d. Sebagai tindakan pengobatan
e. Mengurangi beban kerja alat nafas dan jantung

12
Persiapan Alat dan Bahan :

a. Tabung oksigen lengkap dengan flowmeter dan humidifier


b. Nasal kateter, kanula, atau masker
c. Vaselin,/lubrikan atau pelumas (jelly)
Prosedur Kerja :

a. Cuci tangan
b. Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
c. Cek flowmeter dan humidifier
d. Hidupkan tabung oksigen
e. Atur posisi semifowler atau posisi yang telah disesuaikan dengan kondisi
pasien
f. Berikan oksigen melalui kanula atau masker
g. Apabila menggunakan kateter, ukur dulu jarak hidung dengan telinga,
setelah itu berikan lubrikan dan masukkan
h. Catat pemberian dan lakukan observasi pada pasien
4. Fisioterapi dada
Fisioterapi dada merupakan tindakan melakukan postural drainage,
clapping, dan vibrating pada pasien dengan gangguan system pernapasan untuk
meningkatkan efisiensi pola pernapasan dan membersihkan jalan napas. Tujuan
fisioterapi dada adalah :
a. Meningkatkan efisiensi pola pernafasan
b. Membersihkan jalan nafas
Persiapan Mat dan Bahan :

a. Pot sputum berisi desinfektan


b. Kertas tisu
c. Dua balok tempat tidur (untuk postural drainage)

13
d. Satu bantal (untuk postural drainage)
Prosedur Kerja fisioterapi dada antara lain sebagai berikut :

1. Postural drainage
Merupakan tindakan dengan menempatkan pasien dalam berbagai posisi untuk
mengalirkan sekret di saluran pernafasan. Tindakan postural drainase diikuti dengan
tindakan clapping (penepukan) dan vibrating (vibrasi/getaran).
a. Cuci tangan
b. Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilaksanakan
c. Miringkan pasien kekiri (untuk membersihkan bagian paru-paru kanan)
d. Miringkan pasien kekanan (untuk membersihkan badian paru-paru kiri)
e. Miringkan pasien ke kiri dengan tubuh bagian belakang kanan disokong
satu bantal (untuk membersihkan bagian lobus tengah)
f. Lakukan postural drainage ± 10-15 menit
g. Observasi tanda vital selama prosedur
h. Setelah pelaksanaan postural drainage, dilakukan clapping, vibrating, dan
suction
i. Lakukan hingga lender bersih
j. Catat respon yang terjadi pada pasien
k. Cuci tangan
Untuk posisi ini, pasien berbaring tengkurap di tempat tidur datar atau meja. Dua
bantal harus ditempatkan di bawah pinggul.Pengasuh Perkusi dan bergetar atas
bagian bawah tulang belikat, di kedua sisi kanan dan kiri tulang belakang,
menghindari perkusi langsung atau getaran selama tulang belakang itu sendiri.
2. Clapping (penepukan)
Clapping dilakukan dengan menepuk dada posterior dan
memberikan getaran (vibrasi) tangan pada daerah tersebut yang dilakukan pada saat
pasien ekspirasi
a. Cuci tangan

14
b. Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilaksanakan
c. Atur posisi pasien sesuai dengan kodisinya
d. Lakukan clapping dengan cara kedua tangan perawat menepuk punggung
pasien secara bergantian hingga ada rangsangan batuk
e. Bila pasien sudah batuk, berhenti sebentar dan anjurkan untuk
menampung sputum pada pot sputum
f. Lakukan hingga lendir bersih
g. Catat respon yang terjadi  pada pasien
h. Cuci tangan
3. Vibrating (menggetarkan)
Suatu tindakan yang diberikan kepada penderita dengan jalan
latihan bernapas, menggetarkan daerah dinding dada

a. Cuci tangan
b. Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilaksanakan
c. Atur posisi pasien sesuai dengan kondisinya
d. Lakukan vibrating dengan menganjurkan pasien untuk menarik napas
dalam dan meminta pasien untuk mengularkan napas perlahan-lahan.
Untuk itu, letakkan kedua tangan diatas bagian samping depan dari
cekungan iga dan getarkan secara perlahan-lahan.hal tersebut dilakukan
secara berkali-kali hingga pasien ingin batuk dan mengeluarkan sputum
e. Bila pasien sudah batuk, berhenti sebentar dan anjurkan untuk
menampung sputum di pot sputum
f. Lakukan hingga lendir bersih
g. Catat respon yang terjadi pada pasien
h. Cuci tangan
Gambar clapping dan vibrating
5. Pengisapan lender

15
Pengisapan lender (suction) merupakan tindakan perawatan yang dilakukan
pada yang tidak mampu mengeluarkan secret dan lendir secara mandiri dengan
mnggunakan alat penghisap.
Tujuan pengisapan lendir :

a. Membersihkan jalan nafas


b. Memenuhi kebutuhan oksigen
Persiapan Mat dan Bahan :

a. Mat pengisap lendir dengan botol yang berisi larutan desinfektan


b. Kateter pengisap lendir
c. Pinset steril
d. Dua kom berisi laturan akuades/NaC1 0,9% dan larutan desinfektan
e. Kasa steril
f. Kertas tisu

Prosedur Kerja :

a. Cuci tangan
b. Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan diaksanakan
c. Atur pasien dalam posisi telentang dan kepala miring kearah perawat
d. Gunakan sarung tangan
e. Hubungakan kateter penghisap dengan selang penghisap
f. Hidupkan mesin penghisap
g. Lakukan penghisapan lendir dengan memasukkna kateter pengisap ke
dalam kom berisi akuades atau NaC1 0,9% untuk mencegah trauma
mukosa
h. Masukkan kateter pengisap dalam keadaan tidak mengisap
i. Tarik lendir dengan memutar kateter pengisap sekitar 3-5 detik

16
j. Bilas kateter dengan akuades atau NaC1 0,9%
k. Lakukan hingga lendir bersih
l. Catat respon yang terjadi
m. Cuci tangan
2.5 Cara Memberikan Oksigen Menggunakan Kanul dan Sungkup

A. Pemberian Oksigen Melalui Kanula Nasal


Kanula nasal adalah memberikan oksigen dengan kosentrasi rendah (24-
40%) dengan kecepatan aliran 2-4 liter/menit.

1. Indikasi
Pasien yang bernapas spontan tetapi membutuhkan alat bantu kanula
untuk memenuhi kebutuhan oksigen (pasien dapat dalam keadaan sesak atau
tidak sesak).

2. Prinsip
a. Kanula nasal untuk mengalirkan oksigen dengan aliran ringan/rendah
biasanya hanya 2-3 liter/menit.
b. Membutuhkan pernapasan hidung.
c. Tidak dapat mengalirkan oksigen dengan konsentrasi > 40 %.
3. Persiapan Alat
a. Kanula nasal
b. Selang oksigen
c. Humidifier
d. Cairan steril
e. Tabung oksigen dengan flowmeter.
f. Plester
4. Prosedur
a. Periksa program terapi medik
b. Ucapkan salam terapeutik.
c. Lakukan evaluasi/validasi.

17
d. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
e. Cuci tangan
f. Persiapkan alat
g. Kaji adanya tanda dan gejala hipoksia dan sekret pada jalan napas.
h. Sambungkan kanula nasal ke selang oksigen dan ke sumber oksigen.
i. Berikan aliran oksigen sesuai dengan kecepatan aliran pada program
medis dan pastikan berfungsi dengan baik.
j. Selang tidak tertekuk dan sambungan paten.
k. Ada gelembung udara pada humidifier.
l. Terasa oksigen keluar dari kanula.
m. Letakkan ujung kanula pada lubang hidung pasien.
n. Atur pita elastik atau selang plastik ke kepala atau ke bawah dagu
sampai kanula pas dan nyaman.
o. Beri plester pada kanula di kedua sisi wajah.
p. Periksa kanula setiap 8 jam.
q. Pertahankan batas air pada botol humidifier setiap waktu.
r. Periksa jumlah kecepatan aliran oksigen dan program terapi setiap 8
jam.
s. Kaji membran mukosa hidung dari adanya iritasi dan beri jelly untuk
melembapkan membran mukosa jika diperlukan.
t. Cuci tangan.
u. Evaluasi respon pasien.
v. Catat hasil tindakan yang telah dilakukan dan hasilnya.

NB : Batas cairan pada botol humidifier tidak boleh dilampaui.

B. Pemberian Oksigen Melalui Masker Oksigen ( Face Mask)

Memberikan oksigen dengan kosentrasi dan kecepatan aliran lebih tinggi dari kanula
nasal, 40-60% pada kecepatan 5-8 liter/menit.

1. Prinsip

18
Face mask/ masker untuk mengalirkan oksigen tingkat sedang dar hidung ke mulut,
dengan kosentrasi oksigen 40-60%.

2. Persiapan Alat
a. Face mask, sesuai dengan kebutuhan dan ukuran pasien
b. Selang oksigen dan tabung oksigen dengan folwmeter
c. Hunidifier dan cairan steril.
d. Pita/tali elastik.
3. Prosedur
a. Lakukan prosedur 1-7 seperti pada pemberian oksigen melalui kanula nasal.
b. Sambungan masker ke selang dan ke sumber oksigen
c. Atur pita elastik ke telinga sampai masker terasa pas dan nyaman
d. Berikan aliran oksigen sesuai dengan kecepatan aliran.
e. Periksa masker, aliran ksigen setap 2 jam atau lebih cepat, tergantung kondisi dan
keadaan umum pasien.
f. Lalukan prosedur 14-19 seperti pada pemberian oksigen melalui kanula nasal.
2.6 Kegiatan yang Berguna untuk Memenuhi Oksigen

1. Olah Napas dan Kesehatan

Olah napas bisa dilakukan oleh siapa saja tanpa memandang usia, dengan olah
napas kita bisa menjadi dokter bagi diri kita sendiri. Beberapa penyakit rutin seperti
flu, batuk, dan masuk angin bisa sembuh tanpa obat dan sulit untuk kambuh lagi.
Tingkat kesehatan tubuh meningkat yang ditandai dengan meningkatnya kebugaran
tubuh dan tenaga fisik. Stress hilang, fisik dan mental menjadi lebih rileks, lebih
sabar, tenang, mudah mengendalikan emosi dan mudah berkonsentrasi. Gairah
seksual meningkat, daya tahan terhadap berbagai penyakit meningkat, metabolisme
tubuh membaik, kadar kolesterol dan gula darah menjadi normal dan pada tingkat
selanjutnya bisa mengatasi tekanan darah rendah atau tinggi.

Sistem pernapasan yang buruk menyebabkan tubuh menjadi lemah dan rentan
terhadap berbagai penyakit. Seluruh organ tubuh tidak bekerja dengan baik sehingga
menimbulkan ketidak selarasan dan ketidak harmonisan pada system tubuh. Jika tidak

19
segera diperbaiki dalam jangka panjang hal tersebut dapat menyebabkan kekacauan
pada metabolism tubuh dan berlanjut dengan timbulnya berbagai kerusakan pada
organ tubuh. Pada usia paruh baya berbagai penyakit mulai datang menyerang,
kolesterol tinggi, diabetes, tekanan darah tinggi atau rendah, asam urat, cepat lelah,
sering pusing, mudah terkena penyakit harian seperti flu, batuk, masuk angin.
Menurunnya daya tahan tubuh menyebabkan banyak pekerjaan yang tidak mampu
diselesaikan dengan baik. Emosi juga jadi tidak stabil mudah marah, kecewa, dan
stress.

2. Tehnik pengolahan napas yang sehat

Sejak ribuan tahun berbagai perguruan silat dan seni beladiri didunia, guru
meditasi, guru yoga, para pendeta di India dan China telah mengenalkan tehnik
pernapasan yang baik kepada para muridnya. Tehnik pernapasan tersebut terus
dikembangkan dan dipelajari banyak orang hingga saat ini. Di Indonesia berkembang
tehnik seni pernapasan yang fokus pada peningkatan kesehatan seperti Satria
Nusantara, Mahatma, Senam tera, Thai chi dan lain lain. Pada beberapa perguruan
silat dan seni bela diri, olah napas digunakan untuk membangkitkan kekuatan tenaga
dalam, hingga mampu memecahkan benda keras seperti balok es, tumpukan bata,
gagang pompa dragon, besi kikir, balok kayu hanya dengan sekali pukulan tangan
saja, serta mampu menahan tusukan benda tajam atau pukulan benda keras.

Kalau zaman dahulu olah napas ini cenderung digunakan untuk meningkatkan
kekuatan tenaga dalam oleh para jawara dan pesilat untuk membela diri atau
bertarung mengalahkan musuh. Dengan adanya perubahan zaman dimana orang
sudah tidak memerlukan kekuatan fisik dan pertarungan lagi untuk mempertahankan
hidup, maka dewasa ini orang lebih menyukai tehnik pengolahan napas digunakan
untuk meningkatkan kesehatan dan kebugaran tubuh. Secara umum kita mengenal 4
macam cara bernapas, yaitu pernapasan perut, pernapasan dada, pernapasan pundak
dan pernapasan sempurna atau gabungan.

20
3. Pernapasan perut

Duduk tegak sambil bersila atau duduk tegak diatas kursi dengan kedua kaki
terjuntai menyentuh lantai, kedua tangan diletakan diatas lutut. Tarik napas
sedalam mungkin hingga memenuhi rongga paru paru. Perhatikan perut anda saat
bernapas. Ketika menarik napas, perut akan menggembung dan saat
menghembuskan napas, perut mengempis. Kebiasaan yang sering dilakukan tanpa
kita sadari adalah ketika menarik napas justru perut mengempis dan sebaliknya
pada saat menghembuskan napas perut menggembung. Lakukan pernapasan perut
ini beberapa kali hingga anda terbiasa. Lakukan penarikan napas dengan perlahan
dan panjang dan hembuskan dengan cara perlahan dan panjang pula sampai
beberapa kali. Kemudian lakukan pula penarikan dan penghembusan napas
dengan cara yang agak cepat, beberapa kali.

Ketika baru mulai mungkin anda akan merasa janggal karena anda tidak
terbiasa dengan cara bernapas seperti ini, tanpa anda sadari selama ini anda telah
bernapas dengan cara yang keliru. Perhatikan anak bayi, mereka bernapas dengan
pernapasan perut, ketika menarik napas perut menggembung dan ketika
menghembuskan napas perut mengempis. Itulah pernapasan yang baik, namun
entah bagaimana setelah dewasa cara seperti itu pelan – pelan ditinggalkan.

4. Pernapasan Dada

Caranya sama seperti diatas, hanya perhatian anda diarahkan kearah dada.
Pada saat menarik napas, dada dikembangkan dan saat menghembuskan napas
perut dikempiskan. Ulang cara bernapas seperti ini hingga beberapa kali hingga
anda merasa biadsa. Tanpa disadari sebenarnya kebanyakan orang bernapas
dengan cara seperti ini, hanya saja dilakukan dengan menarik dan
menghembuskan napas secara pendek dan cepat.

5. Pernapasan Pundak

21
Cara dan sikap duduk sama seperti pernapasan perut dan dada, hanya
perhatian anda diarahkan kearah pundak. Saat menarik napas bawalah udara
sampai kebagian pundak atau dada bagian atas, sehingga pundak akan naik. Saat
menghembuskan napas pundak diturunkan kembali keposisi biasa. Lakukan cara
bernapas seperti ini hingga anda merasa biasa.

6. Pernapasan gabungan atau sempurna

Pada pernapasan perut ada kelemahan yaitu udara hanya memenuhi bagian
bawah dari paru paru sedangkan bagian atas masih kosong. Sebaliknya pada
pernapasan dada atau pundak udara hanya memenuhi bagian atas paru paru
sedang bagian bawahnya masih kosong. Agar udara masuk dengan sempurna dan
memenuhi seluruh ruang didalam paru paru maka dilakukanlah pernapasan
gabungan yaitu dengan menggabungkan tehnik pernapasan perut, dada dan
pundak sekaligus pada saat bersamaan.

Ambil sikap duduk seperti ketiga cara pernapasan diatas. Tarik napas sedalam
mungkin dimulai dengan menggembungkan perut, kemudian dada dikembangkan
dan pundak diangkat keatas. Kemudian hembuskan napas dimulai dengan
mengempiskan perut dilanjutkan dengan menurunkan dada dan pundak. Ketika
menarik napas anda akan merasakan bahwa seluruh ruang paru-paru anda
dipenuhi oleh udara, dan sebaliknya ketika menghembuskan napas paru – paru
anda akan dikosongkan dengan sempurna. Inilah cara bernapas yang baik dan
sempurna, lakukan ini dengan berulang-ulang hinga anda merasa biasa. Lakukan
penarikan dan penghembusan napas secara perlahan dan pajang beberapa kali.
Kemudian lakukan pula hal yang sama untuk penarikan dan menghembuskan
napas secara cepat.

7. Tempo menarik dan menghembuskan napas

Agar energy yang didapat dari bernapas bisa betul- betul maksimal,
dibutuhkan kontak yang baik dan sempurna antara darah dengan oxygen yang
masuk kedalam paru paru. Dalam tehnik olah napas kita mengenal pernapasan

22
kontinu atau berkesinambungan dan pernapasan terputus. Pada pernapasan
kontinu, menarik dan menghembuskan napas dilakukan secara kontinu dan
berkesinambungan tidak boleh terhenti oleh penahanan napas. Pernapasan kontinu
ini biasa di temukan pada olah raga pernapasan Thai chi dan Meditasi. Napas
ditarik dan dihembuskan dengan halus dan perlahan, sehingga kontak antara darah
dan oxygen diparu paru bisa berlangsung dengan sempurna.

Sebaliknya pada pernapasan terputus, antara menarik dan menghembuskan


napas diselingi dengan jedah waktu menahan napas. Menahan napas dilakukan
pada saat paru paru telah dipenuhi udara atau pada saat udara didalam paru paru
telah kosong sempurna. Napas ditarik dengan halus dan perlahan selama beberapa
hitungan hingga udara memenuhi seluruh ruangan paru paru, kemudian ditahan
selama beberapa hitungan, selanjutnya dihembuskan dengan halus dan perlahan
selama beberapa hitungan, dan ditahan dalam keadaan paru paru kosong selama
beberapa hitungan pula, demikian selanjutnya kembali pada penarikan napas
seperti semula. Lama penahanan napas biasanya separuh waktu yang digunakan
untuk menarik dan menghembuskan napas. Misalnya menarik dan
menghembuskan napas selama 10 hitungan maka lama menahan napas adalah
selama 5 hitungan. Cara seperti ini biasa dilakukan pada latihan yoga, meditasi
dan silat untuk membangkitkan tenaga dalam.

23
DAFTAR PUSTAKA

Andarmoyo, Sulistyo. 2012. Kebutuhan Dasar Manusia (Oksigenasi). Yogyakarta: Euko


Jambusari No 7A.

Bachtiar, Arif, dkk. 2015. Pelaksanaan Pemberian Terapi Oksigen pada Pasien Gangguan
Sistem Pernafasan. Jurnal Keperawatan Terapan, Vol. 1 No. 2, September 2015: 48-52.
http://jurnal.poltekkes-malang.ac.id/berkas/d96f-48-52.pdf (Diakses pada tanggal 15
September 2016).

Harahap. 2005. Oksigenasi Dalam Suatu Asuhan Keperawatan. Jurnal Keperwatan. Sumatera
Utara Volume 1.

Mariyam, dkk. 2013. Aplikasi Teori Konservasi Levine pada Anak dengan Gangguan
PEmenuhan Kebutuhan Oksigenasi di Ruang Perawatan Anak. Semarang : Jurnal
Keperawatan Anak, Vol. 1 No. 2, November 2013; 104-112. (Diakses pada tanggal 15
September 2016).

Muttaqin. (2005). Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Pernafasan. Jakarta: Salemba
Medika.

Potter and Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses Penyakit (4th ed).
Ester, M(alih bahas). Jakarta: EGC.

Saifudin. 2009. Fisiologi Organ Tubuh Manusia. Jakarta: Salemba Medika.

Udjianti, W.J. (2010). Keperawatan kardiavaskular. Jakarta: Salemba Medika.

Wartonah dan Tarwoto. 2006. Kebutuhan Dasar Manusia & Proses Keperawatan. Jakarta:
Salemba Medika.

24
25