Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH

BIOLOGI DASAR DAN PERKEMBANGAN


“SISTEM PERKEMIHAN”

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Biologi Dasar dan Perkembangan

Kelompok 4 :
1. Fepy Sisiliay (16.14.02.011)
2. Grenadia Dwi Putri Agustin P. (16.14.02.014)
3. Maria Dian Kurniawati (16.14.02.018)
4. Novita Budiarti (16.14.02.022)
5. Rizki Olivia Dela Meinalti (16.14.02.029)

AKADEMI KEBIDANAN PAMENANG

JL. SOEKARNO HATTA NO. 15 BENDO PARE KEDIRI

TELEPON (0354) 393102

TAHUN 2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah Yang Maha Esa atas limpahan

rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul

“ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM PERKEMIHAN”.

Perkenankanlah kami menyampaikan terima kasih kepada : Ibu Dosen mata

kuliah Biologi Dasar dan Perkembangan atas tugas yang diberikan sehingga

menambah wawasan kami,demikian pula kepada teman-teman yang turut memberi

sumbang saran dalam penyelesaian makalah sebagaimana yang kami sajikan.

Kami menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak terdapat

kekurangan dan kesalahan, untuk itu kami yang memohon saran dan kritik yang

sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat

bermanfaat bagi kita semua.

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia, seperti makhluk hidup lainnya, berusaha untuk mempertahankan

homeostasis, yang berarti keseimbangan. . Mengingat bahwa organisme hidup

harus mengambil nutrisi dan air, satu fungsi homeostatis penting adalah eliminasi,

atau kemampuan untuk mengeluarkan bahan kimia dan cairan, sehingga dapat

menjaga keseimbangan internal. Kelangsungan hidup sel juga bergantung pada

pengeluaran secara terus menerus zat-zat sisa metabolism toksik dan dihasilkan

oleh sel pada saat melakukan berbagai reaksi semi kelangsungan hidupnya.

Sistem perkemihan merupakan system yang terdiri dari organ-organ dan

struktur-struktur yang menyalurkan urin dari ginjal ke luar tubuh. Ginjal berperan

penting mempertahankan homeostasis dengan mengatur konsentrasi banyak

konstituen plasma, terutama elektrolit dan air dan dengan mengeliminasi semua

zat sisa metabolisme. Sistem urin adalah bagian penting dari tubuh manusia yang

terutama bertanggung jawab untuk menyeimbangkan air dan elektrolit tertentu

seperti kalium dan natrium, membantu mengatur tekanan darah dan melepaskan

produk limbah yang disebut urea dari darah. Oleh karena pentingnya fungsi

tersebut, di dalam makalah ini akan membahas tentang anatomi dan fisiologi

sistem perkemihan pada manusia.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan sistem perkemihan?

2. Bagaimana anatomi sistem perkemihan?

3. Bagaimana fisiologi sistem perkemihan?

4. Bagaimana pengaturan cairan tubuh pada sistem perkemihan?

5. Bagaimana proses pembentukan urine?

6. Bagaimana pengaruh hormone terhadap sistem perkemihan?

7. Apa fungsi ginjal bagi tubuh?

8. Apa gangguan (penyakit) yang berhubungan dengan sistem perkemihan?


1.3 Tujuan

a. Tujuan Umum

Tujuan umum penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas terstruktur

dari mata kuliah Biologi Dasar dan Perkembangan Manusia.

b. Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui definisi dari sistem perkemihan.

2. Untuk mengatahui anatomi sistem perkemihan.

3. Untuk mengetahui fisiologi sistem perkemihan.

4. Untuk mengetahui pengaturan cairan tubuh pada sistem perkemihan.

5. Untuk mengetahui proses pembentukan urine.

6. Untuk mengetahui pengaruh hormone terhadap sistem perkemihan.

7. Untuk mengetahui fungsi ginjal bagi tubuh.

8. Untuk mengetahui gangguan (penyakit) yang berhubungan dengan sistem

perkemihan.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi Sistem Perkemihan

Sistem perkemihan atau sistem urinaria, adalah suatu sistem dimana

terjadinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang

tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih di pergunakan

oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh larut dalam air dan

dikeluarkan berupa urin (air kemih). Sistem perkemihan atau biasa juga disebut

Urinary System adalah suatu sistem kerjasama tubuh yang memiliki tujuan utama

mempertahankan keseimbangan internal atau Homeostatis yang fungsi lainnya

adalah untuk membuang produk-produk yang tidak dibutuhkan oleh tubuh.

2.2 Anatomi Sistem Perkemihan

1. Ginjal

Ginjal adalah organ berbentuk seperti kacang berwarna merah tua,

panjangnya sekitar 12,5 cm dan tebalnya 2,5 cm (kurang lebih sebesar

kepalan tangan). Setiap ginjal memiliki berat antara 125 gr sampai 175 gr

pada laki-laki dan 115 gr sampai 155 gr pada perempuan. Ginjal terletak di

area yang tinggi, yaitu pada dinding abdomen posterior yang berdekatan

dengan dua pasang iga terakhir dan berfungsi sebagai organ yang

memproduksi urine. Secara anatomi ginjal terdiri dari bagian-bagian :

• Nefron : merupakan unit pembentuk urine, setiap nefron memiliki satu

komponen vaskular (kapiler) dan satu komponen tubular.

• Glomerulus : merupakan gulungan kapilar yang dikelilingi kapsul epitel

berdinding ganda yang disebut kapsula bowman.

• Kapsula Bowman: merupakan ujung nefron yang melebar.

• Arteriol Aferen : merupakan kapiler yang masuk ke dalam kapsula

bowman.
• Arteriol Aferen : adalah kapiler yang keluar dari kapsula bowman

• Tubulus Kontortus Proksimal : panjangnya mencapai 15 mm dan sangat

berliku. Pada permukaan yang menghadap lumen tubulus ini terdapat sel-

sel epitel kuboid yang kaya akan mikrovilus.

• Tubulus Kontortus Distal : bagiannya juga berliku, memiliki panjang

sekitar 5 mm dan merupakan segmen terakhir pembentuk nefron.

• Ansa Henle (Lengkung Henle) : adalah bagian yang masuk ke dalam

medula, membentuk lengkungan jepit yang tajam (lekukan) dan membalik

ke atas membentuk tungkai ascenden ansa henle.

Tubulus dan Duktus Pengumpul : adalah duktus pengumpul yang

membentuk tuba yang lebih besar yang mengalirkan urine ke dalam kaliks

mayor.

2. Ureter

Ureter adalah perpanjangan tubular yang berpasangan dan berotot dari

pelvis ginjal yang merentang sampai kandung kemih. Ureter memiliki panjang

antara 25 cm sampai 30 cm dan berdiameter 4 mm sampai 6 mm. Dinding

ureter terdiri dari 3 lapisan jaringan yaitu :

- Lapisan terluar yang disebut fibrosa.

- Lapisan tengah yang disebut muskularis longitudinal (mengarah ke dalam)

dan otot polos sirkulat (mengarah ke luar).

- Lapisa terdalam yang disebut epitelium mukosa yang mensekresi selaput

mukus pelindung.

Ketiga lapisan di atas memiliki aktivitas peristaltik intrinsik yang

mengalirkan urine dari kandung kemih keluar tubuh.

3. Kandung Kemih

Kandung kemih adalah organ muskular berongga yang berfungsi sebagai

kantong atau kandung atau kontainer penyimpan urine. Pada laki-laki

kandung kemih terletak tepat di depan rektum sedangkan pada perempuan


organ ini terletak agak di bawah uterus di depan vagina. Kandung kemih

ditopang oleh rongga pelvis dan lipatan peritonium yang terdiri atas :

a. Dinding

- Selosa yang merupakan lapisan terluar

- Otot detrusor yang merupakan bagian tengah

- Submukosa yaitu lapisan jaringan ikat yang terletak di bawah mukosa

- Mukosa yaitu lapisan terdalam

b. Trigonum adalah area halus,triangular, dan relatif tidak dapat

berkembang.

4. Uretra

Uretra adalah bagian yang mengalirkan urine dari kandung kemih ke

bagian eksterior tubuh. Pada laki-laki uretra membawa cairan semen dan urine

tetapi tidak pada waktu yang bersamaan. Uretra laki-laki panjangnya

mencapai 20 cm dan melalui kelenjar prostat dan penis. Sedangkan uretra

pada perempuan berukuran pendek yakni 3,75 cm saluran ini membuka keluar

tubuh melalui orifisium uretra eksternal yang terletak dalam vestibulum antara

klitoris dan mulut vagina.

2.3 Fisiologi Sistem Perkemihan

1. Saluran Kemih Atas

Ginjal adalah sepasang organ retroperitoneal yang integral dengan

homeotasis tubuh dalam mempertahankan keseimbangan, termasuk

keseimbangan fisika dan kimia. Ginjal menyekresi hormon dan enzim yang

membantu pengaturan produksi eritosit, tekanan darah, serta metabolisme

kalsium dan fosfor. Ginjal membuang sisa metabolisme dan menyesuaikan

ekskresi air dan pelarut. Ginjal mengatur volume cairan tubuh, asiditas, dan

elektrolit sehingga mempertahankan komposisi cairan yang normal.

Ginjal terletak dibelakang peritoneum parietal (retro-peritoneal), pada

dinding abdomen posterior. Ginjal juga terdapat pada kedua sisi aorta

abdominal dan kava inferior. Hepar menekan ginjal kanan kebawah sehingga

kanan rendah daripada ginjal kiri. Setiap ginjal dikelilingi dengan


lemakperinefrik yang dapat melindungi ginjal dari trauma. Dibagian atas

setiap ginjal terdapat kelenjar adrenal. Renal fasia dan organ sekitar

membantu mempertahankan ginjal pada tempatnya. Pada bagian medial setiap

ginjal, terdapat cekungan yang disebut hilum. Arterial renal dan saraf

memasuki ginjal melalui hilum, sedangkan vena renal, saluran limfa, dan

ureter keluardari ginjal juga melalui hilum.

Nefron merupakan unit fungsional ginjal. Setiap ginjal berisi sekitar satu

juta nefron. Terdapat dua macam nefron, yaitu kortikal dan juksta medular.

Delapan puluh lima persen dari semua nefron terdiri atas nefron nefron

kortikal, sedangkan 15% terdiri atas nefron juksta medular. Kedua macam

nefron ini diberi nama sesuai dengan letak glomerulusnya dalam renal

parenkim.

a. Filtrasi Glomerulus

Kapiler glomerulus secara relative bersifat impermeable terhadap

protein plasma yang lebih besar dan permeable terhadap air dan larutan

yang lebih kecil seperti elektrolit, asam amino, glukosa, dan sisa nitrogen.

Glomerulus mengalami kenaikan darah 90 mmHg. Kenaikan ini

terjadi karena arteriola aferen yang mengarah ke glomerulus mempunyai

diameter lebih besar dan memberikan sedikit tekanan dari kapiler yang

lain. Tekanan darah terhadap dinding pembuluh ini disebut tekanan

hidrostatik. Gerakan masuknya ke dalam kapsula bowman disebut sebagai

filtrasi glomerulus. Tiga faktor dalam proses filtrasi dalam Kapsula

Bowman menggambarkan integrase ketiga factor tersebut, yaitu :

1. Tekanan osmotic (TO) : Tekanan yang dikeluarkan oleh air (sebagai

pelarut)pada membrane semipermeable sebagai usaha untuk menembus

membrane semipermeable ke dalam area yang mengandung lebih banyak

molekul yang dapat melewati membrane semipermeable. Pori-pori dalam

kapiler glomerulus membuat membrane semipermeable mungkin untuk

dilewati yang molekul lebih kecil dan air mencegah molekul yang lebih

besar, misalnya protein plasma.


2. Tekanan hidrostatik (TH) : sekitar 15 mmHg dihasilkan oleh adanya

filtrasi dalam Kapsula dan berlawanan dengan tekanan hidrostatik darah.

Filtrasi juga mengeluarkan tekanan osmotic 1-3 mmHg yang berlawanan

dengan osmotik darah.

3. Perbedaan tekanan osmotic plasama dengan cairan dalam kapsula

bowman mencerminkan perbedaan konsentrasi protein. Perbedaan ini

menimbulkan pori-pori kapiler mencegah protein plasma untuk difiltrasi.

Tekanan hidrostatik plasma dan tekanan osmotik filtrate kapsula

Bowman bekerja sama untuk meningkatkan gerakan air. Molekul

permeable kecil dari plasma masuk ke dalam Kapsula Bowman. Tekanan

hidrostatik dan tekanan osotik filtrate dalam kapsula bowman bersama-

sama mempercepat gerakan air dan molekul permeable dari kapsula

bowman masuk ke kapiler. Jumlah tekanan (90 - 3) - (32 - 15) = 70

mmHg, akan mempermudah pemindahan filtrate dari aliran darah ke

dalam kapsula Bowman. Laju ini dinamakan laju filtrasi glomerulus

(LFG).

Pada orang sehat jumlah pertukanan filtrasi per menit 125 ml. Factor

klinik yang memengaruhi LFG adalah tekanan hidrostatik, dan tekanan

osmotic filtrate. Hipoprotein terjadi pada kelaparan akan menurunkan

tekanan osmotic dan meningkatkan LFG.

b. Reabsorbsi dan Sekresi Tubulus

Kurang lebih 80% filtrate dikembalikan ke aliran darah melalui

reabsorpsi pada tubulus proksimal. Pada orang normal, semua glukosa,

asam amino, natrium klorida, dan elektrolit difiltrasi dan direabsorpsi

disini. Sel-sel tubulus proksimal juga menyekresi urea, kreatini, hydrogen,

dan ammonia bercampur dengan urine. ekskresi urin adalah hasil filtrasi

glomerulus dikurangi reabsorpsi tubulus ditambah sekresi tubulus. Untuk

lebih lengkapnya penjelasannya adala sebagai berikut :


 Reabsopsi tubulus proksimal

Secara normal sekitar 65% dari muatan natrium dan air yang difiltrasi

dan nilai persentase terendah dari klorida akan diabsorpsi oleh tubulus

proksimal sebelum filtrate mencapai ansa Helen. Persentase ini dapat

meningkat atau menurun dalam berbagai kondisi fisiologis.

Sel tubulus proksimal mempunyai banyak sekali brush border,

permukaan membrane epitel bursh border dimuati molekul protein yang

mentranspor ion natrium melewati membrane lumen yang bertalian

dengan mekanisme transport nutrient organic (asam amino dan glukosa).

Tubulus proksimal merupakan tempat penting untuk sekresi asam dan

basa organic seperti garam empedu, oksalat, urat dan katekolamin.

 Transport zat dalam Ansa Henle

Bagian desenden mempunyai segmen tipis, sangat permeable terhadap

air dan sedikit zat terlarut, termasuk ureum dan natrium yang

memungkinkan difusi zat-zat secara sederhana melalui dindingnya.

Segmen tebal ansa Henle dimulai separuh lengkung bagian atas asenden,

mempunyai sel epitel yang tebal, mempunyai aktivitas metabolisme yang

tinggi dan sanggup melakukan reabsorpsi aktif natrium dan klorida.

Suatu komponen penting dari reabsorsi zat terlarut dalam lengkung

tebal asenden adalah pompa natrium ATP-ase pada membrane sel epitel

tebal asenden. Pergerakan natrium klorida dan kalium dengan

menggunakan energy potensial yang dilepas oleh difusi, masuk ke dalam

sel untuk mengendalikan reabsorpsi kalium ke dalam sel melawan suatu

gradient konsentrasi. Lengkung tebal asenden memiliki mekanisme

transport imbangan natrium hydrogen dalam sel yang memperantai

reabsorpsi natrium dan sekresi hydrogen dalam segmen ini.

 Reabsorpsi tubulus distal

Bagian awal dari tubulus distal berkelok-kelok dan mempunyai

banyak ciri reabsorpsi yang sama dengan bagian tebal asenden ansa

Henle. Bagian ini banyak mengabsorpsi ion-ion natrium, kalium, dan


klorida tetapi tidak permeable terhadap air ureum. Bagian ini disebut

segemen pengencer karena mengencerkan cairan tubulus.

 Reabsorpsi tubulus koligentes

Separuh bagian dari tubulus distal dan tubulus koligentes kortikalis

mempunyai ciri-ciri fungsional yang sama secara anatomis. Terdiri dari

dua tipe sel yang berbeda, sel-sel prinsipalis dan sel-sel intekolat.yang

mengabsorpsi natrium dan air dari lumen dan menyekresi ion-ion kalium

ke dalam lumen tubulus.

 Ductus koligentes kortikalis

Reabsorpsi natrium dan kalium tergantung pada aktivitas pompa

natrium dan kalium ATP-ase dalam masing-masing membrane sel. Pompa

ini mempertahankan konsentrasi ion-ion yang rendah dalam sel untuk

membantu natrum berdifusi melalui saluran yang khusus.

Hydrogen dihasilkan dalam sel-sel ini melalui kerja karbonim-hidrase

terhadap air dan karbondioksida untuk membentuk asam karbonat.

Kemudian berdisosiasi menjadi ion-ion hydrogen dan ion-ion karbonat,

ion-ion hydrogen kemudian disekresilan ke dalam lumen tubulus untuk

diabsorpsi melewati membrane basolateral.

 Ductus koligentes medulla

Walaupun ductus koligentes bagian medulla mengabsorpsi kurang dari

10% air dan natrium yang difiltrasi ductus ini, bagian akhir dari

pemrosesan urine dan mempunyai fungsi yang sangat penting dalam

menentukan keluaran akhir dari air dan zat terlarut dalam urine. sel epitel

ductus koligentes mendekati bentuk kuboid dengan permukaan yang

sangat halus dan relative sedikit mitokondria. Permeabilitas ductus

koligentes bagian medulla dikontrol oleh ADH, bersifat permeable

terhadap ureum dan membantu meningkatkan osmolitas daerah ginjal

untuk membentuk urine yang pekat.


Table berikut adalah ringkasan transportasi tubulus proksimal dan distal

Tubulus Reabsorpsi Sekresi

Tubulus  67% Na difiltrasi secara aktif Sekresi H+ bervariasi

proksimal direbsorpi, tidak dibawah control Cl tergantung pada status

mengikuti secara pasif. asam basa tubuh sekresi

 Semua glukosa dan asam amino yang ion organic bergantung

difltrasi oleh transportasi aktif pada asam basa yang

sekunder PO4 dan elektrolik lainnya gawat

yang difiltrasi, direabsorpsi 65 %

H2O yang difiltrasi secara osmotic,

tidak berada di bawah control.

Tubulus  Reabsorpsi Na+ bervariasi, dikonrol  Sekresi H+ bervariasi

distal oleh aldosterone, Cl- mengikuti secara tergantung pada status

pasif. asam basa tubuh.

 Reabsorpsi H2O bervariasi, dikontrol  Sekresi K+ bervariasi

oleh vasopressin aldosteron. dikontrol oleh saraf.

Ductus Reabsorsi H2O bervariasi dikontrol oleh Sekresi H+ bervariasi

pengumpul vasopressin tergantung pada status asam

basa tubuh.

2. Saluran Perkemihan Bawah

Kandung kemih yang terletak dibelakang simfisis pubis mengumpulkan

urine. Membran mukus yang melapisi kandung kemih tersusun berlipat dan

disebut rungae. Dinding otot kandung kemih yang elastis bersama dengan

rungae dapat membuat kandung kemih berdistensi untuk menampung jumlah

urine yang cukup banyak.


2.4 Pengaturan Cairan Tubuh

a. Pengaturan Volume Cairan

Kelebihan air dalam tubuh akan diekskresikan oleh ginjal sebagai urine

(kemih) yang encer dalam jumlah besar. Kekurangan air karena kelebihan

keringat menyebabkan urine berkurang dan konsentrasinya lebih pekat

sehingga susunan dan volume cairan tubuh dapat dipertahankan relative

normal. Ginjal mengatur keseimbangan osmotic dan mempertahankan

keseimbangan ion yang optimal dalam plasma (keseimbangan elektrolit). Bila

terjadi pemasukan/pengeluaran yang abnormal ion-ion akibat pemasukan

garam yang berlebihan/penyakit pendarahan (diare, muntah) ginjal akan

meningkatkan ekskresi ion-ion yang penting (missal : NA, K, CL, CA, dan

fosfat).

b. Pengaturan keseimbangan Asam Basa

Bergantung pada apa yang dimakan, campuran makanan menghasilkan

urine yang bersifat agak asam , pH kurang dari 6, ini disebabkan hasil akhir

metabolisme protein. Apabila banyak makan sayur-sayuranurine akan bersifat

basa. pH urine bervariasi antar 4,8-8,2. Ginjal mengontrol keseimbangan

asam basa dengan mengeluarkan urine yang asam atau yang basa.

Pengeluaran urine asam akan mengurangi jumlah asam dalam cairan

ekstraseluler sedangkan pengeluaran urine basa berarti menghilangkan basa

dari cairan ekstraseluler. Mekanisme ekskresi asam atau basa oleh ginjal

adalah sejumlah besar ion berkabonat disaring secara terus menerus kedalam

tubulus dan ion-ion berkabonat diekskresi kedalam urine keadaan ini

menghilangkan basa dari darah. Sebaliknya sejumlah ion hydrogen juga di

sekresi ke dalam lumen tubulus oleh sel-sel epitel tubulus sehingga

menghilangkan asam dari darah.

Bila lebih banyak ion hydrogen disekresikan daripada ion bikarbonat yang

disaring ,akan terdapat kehilangan asam dari cairan ekstraseluler. Sebaliknya

bila lebih banyak bikarbonat disaring daripada hydrogen yang di sekresikan,

akan terdapat kehilangan basa. Pada asidosis ginjal tidak mengekskresikan


bikarbonat kedalam urine tetapi mengabsorsi. Semua bikarbonat yang

disaring dan menghasilkan bikarbonat baru yang ditambah kembali ke cairan

ekstraseluler. Hal ini mengurangi konsentrasi ion hydrogen cairan

ekstraseluler kembali menuju normal. Alkalosis terjadi sebagai akibat terlalu

sedikit ion-ion hydrogen atau terlalu banyak ion-ion bikarbonat. Untuk

mengompensasi tubuh menghemati ion-ion hydrogen. Pada kompensasi ginjal

terhadap alkalosis, reabsorsi ion-ion hydrogen tubular meningkat dan

sekresinya menurun, sehingga meningkatkan konsentrasi ion hydrogen cairan

ekstraseluler dan menurunkan alkalosis.

Pada keaadaan normal, tubulus ginjal harus menyekresi sejumlah ion

hydrogen yang cukup untuk mengabsorsi hampir semua bikarbonat yang

disaring, harus terdapat sisa ion hydrogen yang cukup untuk di ekskresi

sebagai asam terfiltrasi atau NH4 untuk membersihkan tubuh dari asam –

asam yang tidak menguap dan di produksi setiap hari dari metabolism.

Pada alkalosis, sekresi ion hydrogen oleh tubulus harus dikurangi sampai

batas yang sangat rendah sehingga tidak terjadi reabsorsi bikarbonat lengkap

yang membuat ginjal mampu meningkatkan ekskresi bikarbonat. Pada

kaadaan ini asam terfiltrasi dan amonia tidak diekskresikan karena tidak ada

kelebihan ion hydrogen yang tersedia untuk bergabung dengan penyangga

non-karbohidrat sehingga tidak ada bikarbonat baru yang di tambahkan

kedalam urine. Pada asidosis, sekresi ion hydrogen tubulus harus cukup di

tingkatkan untuk mengabsorsi semua bikarbonat yang disaring tetap

mempunyai ion hydrogen yang cukup untuk menyekresi sejumlah besar NH4

dan asam terfiltasi, sehingga menambah sejumlah besar ion bikarbonat baru

kedalam darah. Faktor yang dapat meningkatkan sekresi ion hydrogen adalah

sekresi aldosteron yang berlebihan kedalam cairan tubulus sehingga

peningkatan jumlah bikarbonat kembali ke darah.


2.5 Proses Pembentukan Urine

a. Tahap Pembentukan Urine

Glomerulus berfungsi sebagai ultrafiltrasi pada kapsula Bowman, untuk

menampung hasil filtarsi dari glomerulus. Pada tubulus ginjal akan terjadi

penyerapan kembali zat-zat yang sudah disaring pada glomerulus dan sisa

cairan akan diteruskan ke piala ginjal kemudian di kelurkan melalui uretra.

1. Proses filtrasi

Pembentukan urine dimulai dengan filtrasi sejumlah besar cairan yang

bebas protein dari kapiler glomerulus ke kapsula Bowman. Proses filtrasi

(ultrafiltrasi) terjadi pada glomerulus. Proses ini terjadi karena permukaan

aferen lebih besar daripada permukaan eferen sehingga terjadi penyerapan

darah. Setiap menit kira-kiran 1.200 ml darah, terdiri dari 450 ml sel darah

dan 660 ml plasma masuk ke dalam kapiler glomerulus. Untuk proses

filtrasi diperlukan tekanan filtrasi untuk mendapatkan hasil urine :

 Tekanan yang menyebabkan filtrasi, merupakan hasil kerja jantung.

Tekanan hidrostatik kapiler glomerulus sekitar 50 mmHg, tekanan ini

cenderung mendorong air dan garam melalui glomerulus.

 Tekanan yang melawan filtrasi. Tekanan hidrostatik di dlam kapsula

Bowman kira-kira 5 mm Hg. Tekanan osmotic koloid protein kira-kira

30 mmHg yang cenderung menarik air dan garam ke dalam pembuluh

kapiler.

 Tekanan akhir menyebabkan akhir menyebabkan filtrasi adikurangi

tekanan yang melawan filtrasi sama dengan filtrasi aktif (50-30 + 5

mmHg = 25 mmHg). Kira-kira 120 ml plasma difiltrasi setiap menit.

Pada glomerulus membrane filtrasi hanya dapat dilalui oleh plasma,

garam, glukosa, dan molekul kecil lainnya. Sel darah dan plasma

terlalu besar untuk difiltrasi dengan cara ini.

Susunan cairan filtrasi sama seperti susunan plasma darah tetapi tidak

ada proteinnya. Membrane glomerulus bekerja sebagai suatu saringan

biasa dan tidak memerlukan energy untuk proses ini. Pembentukan urine
dimulai dengan filtrasi sejumlah besar cairan yang bebas protein dari

kapiler glomerulus ke kapsula Bowman.

Kebanyakan zat dalam plasma difiltrasi secara bebas kecuali protein

sehingga filtrate glomerulus dalam Kapsula Bowman hamper sama

dengan plasma. Cairan diubah oleh reabsorpsi air dan zat terlarut spesifik

kembali ke dalam darah atau oleh sekresi zat lain dari kapiler perifubulus

ke dalam tubulus.

2. Proses absorbsi

Penyerapan kembali sebagian besar terhadap glukosa, natrium,

klorida, fosfat dan ion bikarbonat. Proses ini terjadi secara pasif yang

dikenal dengan obligator reabsorsi dan terjadi pada tubulus atas. Dalam

tubulus ginjal cairan filtrasi dipekatkan dan zat yang penting bagi tubuh

direabsorbsi.

Air diserap dengan jumlah yang banyak. Zat esensial yang mutlak

diperlukan (misal : glukosa, NaCl, dan garam) direabsorpsi dengan

sempurna ke dalam kapiler peritubular, kecuali kadarnya melebihi ambang

batas ginjal.zat yang hanya direabsorpsi dalam jumlah kecil dari hasil

metabolism, misalnya ureum, fosfat, dan asam urat. Sedangkan zat yang

sama sekali tidak direabsorpsi dan tidak dapat disekresi oleh tubulus

adalah kreatinin.

Jumlah total air lebih kurang 120 ml/menit, 70-80% direabsorpsi oleh

tubulus proksimal (reabsorpsi obligatori) sisanya direabsorpsi secara

kumulatif dengan bantuan hormone vasopressin (ADH) di tubulus distal.

Sisanya direabsorpsi pada ductus koligen yaitu saluran bermuaranya

tubulus distal.

3. Proses sekresi

Tubulus ginjal dapat mensekresi atau menambah zat-zat ke dalam

cairan filtrasi selama metabolism sel-sek membentuk asam dalam jumlah

besar. Namun pH darah dan cairan tubuh dapat dipertahankan sekitar 7.4

(alkalis). Sel tubuh membentuk amoniak yang bersenyawa dengan asam


kemudian di sekresi sebagai ammonium supaya pH darah dan cairan tubuh

tetap alkalis.

b. Berkemih

1. Refleks berkemih

Ketika kandung kemih terisi banyak urine, tekanan kandung kemih

menjadi lebih tinggi. Sinyal sensorik dan reseptor kandung kemih

dihantarkan ke segmen sacral medulla spinalis melalui nervus pelvikus,

kemudian secara spontan berelaksasi. Setelah beberapa detik otot detrusor

berhenti berkontraksi dan tekanan turum kembali ke garis basal.

Jika kandung kemih terus terisi, reflex berkemih menjadi bertambah

sering dan menyebabkan kontraksi otot detrusor lebih kuat. Pada saat

berkemih menjadi cukup kuat menimbulkan reflex lain yang berjalan

melalui nervus pepundal ke sfingter eksternus untuk menghambatnya.

2. Perangsangan berkemih

Refleks berkemih adalah refleks medulla spinalis. Seluruhnya bersifat

automatic, tetapi dapat dihambat atau dirangsang oleh pusat otak. Pusat ini

antara lain :

a. Pusat perangsang dan penghambat kuat dalam batang otak, terletak di

pons ravoli.

b. Beberapa pusat yang terletak di korteks serebral, terutama bekerja

sebagai penghambat tetapi dapat menjadi perangsang.

Jika tiba waktu untuk berkemih, pusat kortikal dapat merangsang pusat

berkemih sakral untuk membantu mencetuskan refleks berkemih. Dalam

waktu bersamaan menghambat sfingter eksternus kandung kemih

sehingga peristiwa berkemih dapat terjadi.

3. Transport urine pada berkemih

Urine mengalir dari ductus koligentes masuk ke kalik renalis,

meregangkan kalik renalis, meningkatkan aktivitasnya, yang kemudian

mencetuskan kontraksi peristaltic menyebar ke pelvis renalis kemudian

turun sepanjang ureter. Dinding ureter terdiri dari otot polos dan
dipersarafi oleh saraf parasimpatis dan dihambat oleh perangsangan

simpatis.

Ureter memasuki kandung kemih menembus otot detrusor di daerah

trigonum kandung kemih sepanjang beberapa sentimeter menembus

dinding kandung kemih. Dinding kansung kemih cenderung menekan

ureter dengan demikian mencegah aliran balik urine dari kandung kemih

sewaktu terjadi kompresi kandung kemih. Setiap gelombang paristaltik

yang terjadi sepanjang ureter akan meningkatkan tekanan dalam ureter,

sehingga bagian yang menembus dinding kandung kemihmembuka dan

memberikan kesempatan urine mengalir ke dalam kandung kemih.

2.6 Pengaruh Hormone

Pengaturan final urine juga diatur oleh hormone. Oleh karena itu pentingnya

untuk mempertahankan suatu keseimbangan yang tepat antara reabsorpsi, tubulus

dan filtrasi glomerulus, mekanisme sistem saraf. faktor hormonal, dan kontrol

setempat meregulasi reabsorpsi tubulus untuk pengaturan filtrasi glomerulus.

Reabsorpsi beberapa zat terlarut dapat diatur secara bebas terpisah dari yang lain

terutama melalui mekanisme pengontrolan hormonal. Berikut adalah hormone

yang membantu sistem perkemihan :

a. ADH (Anti-Diuretic Hormone)

Anti-Diuretic Hormone (ADH) meningkatkan system permeabilitassel

tubulus koregentes terhadap air sehingga cairan ekstraselusernya (CES)

kembali normal. ADH mempengaruhi konsentrasi urine adalah renin. Jika laju

filtrasi glomerulus (LFG) turun karena dehidrasi atau kehilangan darah, kadar

natrium, kadar natrium dibawah normal pada filtrasi pada filtrasi, yang

merangsang sekresi renin. Renin mengubah angiostensin yang disekresi hati

menjadi angiostensin I.

Sel kapiler paru selanjutnya mengubah angiostensin I menjadi

angiostensin II, Angiostensi II mengonsentrasi oto polos sekeliling arteriola.

Hal ini mengingkatkan tekanan darah, selanjutnya meningkatkan laji filtrasi


glomerulus (LFG). Angiostensin II juga mendorong sekresi aldosterone,

hormone ketiga yang memengaruhi osmoritas urine.

Korteks adrenal jika diransang oleh angiostensi II menyekresi aldosterone

dengan meningkatkan resopsi air di ginjal, meningkatan tekanan darah dan

menurunkan osmolitas serum. Adosteron juga menrespon terhadap kadar

abnormal natrium darah.

b. Hormone Aldosteron

Hormone aldosterone dihasilkan oleh korteks adrenal. Hormone ini

mengeluarkanefek dalam sekresi natrium oleh ginjal. Saat sekresi aldosterone

meningkatkan aktivitas pompa natrium diserap dari urine yang dibentuk

dalam tubulus distal ke dalam aliran darah.

Sekresi aldosterone dirangsang oleh turunnya konsentrasi natrium darah.

Perubahan ini dideteksi oleh reseptor dalam ginjal (Aparatus juksta

glomerulus) yang melepaskan substansi renin dalam darah, diubah menjadi

angiostensin. Angiostensi bekerja pada korteks adrenal. Pada saat pasien

mengonsumsi diet bebas natrium, urinenya tidak mengandung natrium.

Kehilangan natrium dapat terjadi bila berkeringatbanyak karena aktivitas

fisik, dalam kondisi panas, saat muntah dan diare.

Penurunan konsentrasi natrium cairan ekstraselular akan merangsang

aldosterone secara langsung dari korteks adrenal, menyebabkan penurunan

natrium tubular. Hal ini merangsang resorpsi natrium dari tubulus distal.

Ginjal juga berfungsi dalam homoestasis kadar kalium plasma. Bila terjadi

peningkatan kalium dan kadar natrium normal, tubulus distal dan tubulus

kolegentes dengan aktif menyekresi khusus ion divalent seperti kalsium,

magnesium, dan fosfat, serta mengatur konsentrasi pada plasma dari ion-ion.

2.7 Fungsi Ginjal bagi Tubuh

a. Berikut adalah fungsi ginjal bagi tubuh secara umum, yaitu :

1. Ultrafiltrasi

Ultrafilrasi adalah proses ginjal dalam menghasilkan urine. Filtrasi plasma

terjadi ketika darah melewati kapiler dari glomerulus. Ultrafiltrasi diukur


sebagai laju filtrasi glomerulus (glomerular filtration rate, GFR). Kedua ginjal

menerima sekitar 20% dari curah jantung yang dapat membuat kecepatan

aliran darah ginjal sebanyak 1.200 ml per menit. Aliran darah yang sangat

cepat ini memang melampaui kebutuhan oksigen dan metabolik ginjal.

Kemampuan ginjal untuk mempertahankan air dan elektrolit (melalui

reabsorpsi) juga sangat penting dalam kelangsungan hidup seseorang. Tanpa

kemampuan ini, seseorang dapat mengalami kekurangan air elektrolit dalam

3-4 menit.

Ginjal mempertahankan keseimbangan fisiologis dengan mangatur

komposisi cairan dan pelarutdalam darah. Ginjal memakai tiga proses yang

kompleks, yaitu proses filtrasi, proses reabsorpsi, dan proses sekresi.

2. Eritropoiesis

Ginjal mempunyai peranan yang sangat penting dalam factor

memproduksi eritrosit. Ginjal memproduksi enzim yang disebut factor

eritropoietin yang mengaktifkan eritropoietin, hormone yang dihasilkan hepar.

3. Regulasi Kalsium dan Fosfor

Salah satu fungsi penting ginjal adalah mengatur kalsium serum dan

fosfor. Kalsium sangat penting untuk pembentukan tulang, pertumbuhan sel,

pembekuan darah, resprons hormon. Ginjal melakukan hal ini dengan

mengubah vitamin D dalam usus (dari makanan) ke bentuk yang lebih aktif.

4. Regulasi Tekanan Darah

Ginjal mempunyai peranan aktif dalam pengaturan tekanan darah,

terutama dengan mengatur volume plasma dan tonus vascular (pembuluh

darah). Modifikasi tonus vascular oleh ginjal dapat juga mengatur tekanan

darah. Hal ini dilakukan terutama oleh system reninangiotensin aldosteron.

5. Ekskresi Sisa Metabolik dan Toksin

Sisa metabolik dieksresikan dalam filtrate glomerular. Kreatinin

disekresikan kedalam urine tanpa diubah. Sisa yang lain seperti urea,

mengalami reabsorpsi waktu melewati nefron. Biasanya dikeluarkan melalui

ginjal atau diubah dulu di hepar dalam bentuk inaktif, kemudian diekskresi
oleh ginjal. Oleh karena itu ginjal berperan dalam ekskresi obat, ada obat yang

dikontraindikasi apabila fungsi ginjal mengalami gangguan.

6. Miksi

Miksi (mengeluarkan urine) adalah suatu proses sensorimotorik yang

kompleks. Urine mengalir dari pelvis ginjal, kemudian kedua ureter dengan

gerakan peristaltis. Saat dinding kandung kemih mengencang, baroaseptor

akan membuat kandung kemih berkontraksi.

b. Fungsi ginjal secara spesifik untuk membantu homeostasis, yaitu :

1. Fungsi regulasi

a. Ginjal mengatur jumlah dsn konsentrasi sebagian besar elektrolit CES

termasuk elektrolit-elektrolit yang penting untuk eksitabilitas

neuromaskulus.

b. Ginjal berperan mempertahankan pH yang sesuai dengan mengeliminasi

kelebihan H+ (asam) atau HCO3 (basa)dalam urine.

c. Ginjal membantu mempertahankan volume plasma yang sesuai, yang

penting untuk pengaturan jangka panjang tekanan darah arteri, dengan

mengontrol keseimbangan garam dalam tubuh. Volume CES termasuk

volume plasma, adalah cerminan dari beban garam total dalam CES,

karena Na+ dan anion penyertaannya CI- merupakan penentuan lebih dari

90% aktivitas osmotik (menahan air) CES.

d. Ginjal mempertahankan keseimbangan air dalam tubuh, yang penting

untuk mempertahankan osmolaritas (konsentrasi zat terlarut) CES yang

sesuai. Peran ini penting untuk mempertahankan stabilitas volume sel

dengan mencegah sel membengkak atau menciut akibat masuk dan

keluarnya air secara osmosis berturut-turut.

2. Fungsi ekskresi

a. Ginjal mengekskresi produk-produk akhir metabolisme dalam urine. Zat-

zat sisa ini bersifat toksik bagi tubuh apabila tertimbun.

b. Ginjal juga mengekskresi banyak senyawa asing yang masuk kedalam

tubuh.
3. Fungsi hormonal

a. Ginjal menyekresi eritropoietin, hormone yang merangsang produksi sel

darah merah oleh sumsum tulang. Fungsi ini berperan dalam homeostasis

dengan membantu mempertahankan kandungan O2 yang optimal didalam

darah. Lebih dari 98% O2 dalam darah terkait ke hemoglobin di dalam sel

darah merah.

b. Ginjal menyekresi renin, hormone yang mengawali jalur renin-

angiotensin-aldosteron untuk mengontrol reabsorpsi Na+ oleh tubulus,

yang penting dalam pemeliharaan jangka panjang volume plasma dan

tekanan darah arteri.

4. Fungsi metabolisme

Ginjal membantu mengubah vitamin D menjadi bentuk aktifnya. Vitamin

D penting untuk penyerapan Ca2+ dari saluran pencernaan. Kalsium

sebaliknya memiliki banyak fungsi homeostatic.

2.8 Gangguan atau Penyakit pada Sistem Perkemihan

Gangguan yang terjadi pada system perkemihan biasanya terjadi karena

infeksi saluran urogenital. Infeksi urogenital umunya disebabkan oleh bakteri

Escherichia coli, dapat pula disebabkan oleh proteus, klebsiella, dan

staphylococcusnterutama bila sedang terpasang kateter. Pada saluran urogenital

ini dapat terjadi penyakit seperti :

1. Sistisi

Sistisi adalah infeksi saluran kemih yang lebih banyak menyerang wanita

daripada pria karena pada wanita muara uretra dan vagina dekat dengan

daerah anal.

2. Glomerulone Fritis

Glomerulone fritis adalah proses inflamasi pada glumeruli dengan etilogi,

patagenesis, perubahan-perubahan histology pada ginjal berlainan tetapi

dengan presentasi klinis seragam.


3. Sindrom Nefrotik

Sindrom nefrotik adalah kelainan pada system perkemihan lurinary yang

ditandai dengan adanya peningkatan protein dalam urine (proteinuria)

penurunan albumin dalam darah, dan adanya edema.

4. Gagal Ginjal Kronik

Gagal ginjal kronik adalah suatu keadaan klinis yang ditandai dengan

penurunan fungsi ginjal yang irreversible sehingga tubuh gagal untuk

mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit pada

suatu derajat yang memerlukan terapi penganti ginjal yang tetap, berupa

dialysis atau transplantasi ginjal. Pasien bisa bertahan hidup dengan menjalani

terapi hemodialisa, namun masih menyisakan sejumlah persoalan penting

sebagai dampak dari terapi hemodialisa.


BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1. Sistem perkemihan atau sistem urinaria, adalah suatu sistem dimana

terjadinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang

tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih di

pergunakan oleh tubuh.

2.

3. Glomerulus berfungsi sebagai ultrafiltrasi pada kapsula Bowman, untuk

menampung hasil filtarsi dari glomerulus. Pada tubulus ginjal akan terjadi

penyerapan kembali zat-zat yang sudah disaring pada glomerulus dan sisa

cairan akan diteruskan ke piala ginjal kemudian di kelurkan melalui uretra.

4. Untuk mempertahankan suatu keseimbangan yang tepat antara reabsorpsi,

tubulus dan filtrasi glomerulus, mekanisme sistem saraf. faktor hormonal, dan

kontrol setempat meregulasi reabsorpsi tubulus untuk pengaturan filtrasi

glomerulus.

5. Gangguan yang terjadi pada system perkemihan biasanya terjadi karena

infeksi saluran urogenital. Infeksi urogenital umunya disebabkan oleh bakteri

Escherichia coli, dapat pula disebabkan oleh proteus, klebsiella, dan

staphylococcusnterutama bila sedang terpasang kateter. Misalnya sistisi,

glomelurone fritis, sindrom nefrotik, gagal ginjal kronik.

3.2 Saran

Ginjal memiliki peranan yang penting bagi tubuh. Untuk mengingat

pentingnya peranan ginjal, sudah seharusnya ginjal dalam tubuh dijaga dengan

sebaik-baiknya yaitu dengan minum air putih 8 gelas setiap hari dan makan

sayuran serta buah-buahan.

Sebagai seorang bidan sudah sewajibnya menjalankan praktek sesuai dengan

standar pelayanan kebidanan, oleh karena itu makalah ini dapat dijadikan sebagai
salah satu bahan rujukan untuk mengetahui anatomi dan fisiologi sistem

perkemihan.
DAFTAR PUSTAKA

Baradero, dkk. 2009. Seri Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Ginjal. Jakarta :

buku kedokteran (EGC).

Prayitno, Intan P. 2010. Hubungan Penyakit Diabetes Melitus dengan Angka

Kejadian Infeksi Saluran Kemih pada Penderita Rawat Inap dengan Diabetes

Mellitus pada Instalasi Penyakit dalam RSUD Dr. Hi. Abdul Moeloek Bandar

Lampung. Lampung : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.

Siregar, T & Butar-Butar, A. 2012. Karakteristik Pasien dan Kualitas Hidup Pasien

Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Terapi Hemodialisis. Medan : Departemen

Keperawatan Dasar dan Medikal Bedah Fakultas Keperawatan, Universitas

Sumatera Utara.

Soemarko. 2004. Hubungan Peningkatan Tekanan Intravesika Urinaria dengan

Perdarahan Intraperitoneal Akibat Trauma Tumpul Abdomen. Jurnal Kedokteran

Brawijaya Volume XX Nomor 1, April 2004. Malang : Lab/SMF Bedah Fakultas

Kedokteran Universitas Brawijaya / RSU dr. Saiful Anwar Malang.

Syaifuddin. 2011. Anatomi Fisiologi. Jakarta : Buku Kedokteran (EGC).

_________. 2011. Anatomi Tubuh Manusia untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta :

Salemba Medika.