Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

“Perkembangan pendidikan kebidanan di Indonesia”

Kelompok 1 :
Aprilia eka pratiwi
Dwi Novita sari
Diah ayu sugita
Elysa safitri
Fepy sisiliay
Fransiska iga wahyu utama
Grenadia dwi putri a.p
Kholifah anggraeni
Maria dian kurniawati
Nanik suryani
Ni ayang wahyunata
Nur laili rohmah
Pasih paulina
Putri mega jayanti
Refita setyafani putri
Riska presti oktaviyanty
Rizki Olivia della meinalti
Silfana rahma wati
Sofa ahya s.h
Sonia kusdwiyani
Surya indah pradina
Yesi diah kristiasari
Zai’matun niswah
Wilda adita primaningsih

AKADEMI KEBIDANAN PAMENANG


JL. SOEKARNO HATTA NO. 15 BENDO PARE KEDIRI
TELEPON (0354) 393102
TAHUN 2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah Yang Maha Esa atas

limpahan rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah

yang berjudul “Perkembangan Pendidikan Bidan di Indonesia”.

            Perkenankanlah kami menyampaikan terima kasih kepada : Ibu Dosen

mata kuliah Konsep Kebidanan atas tugas yang diberikan sehingga menambah

wawasan kami,demikian pula kepada teman-teman yang turut memberi sumbang

saran dalam penyelesaian makalah sebagaimana yang kami sajikan.

            Kami menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak

terdapat kekurangan dan kesalahan, untuk itu kami yang memohon saran dan

kritik yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini. Semoga

makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Penyusun
DAFTAR ISI

Kata Pengantar

Daftar Isi

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1LatarBelakang.............................................................................

1.2Rumusan Masalah......................................................................

1.3TujuanPenulisan..........................................................................

BAB 2 PEMBAHASAN

2.1 Sejarah perkembangan pendidikan bidan di dalam negeri (di

Indonesia)..........................................................................................

2.2 Sejarah Perkembangan Pelayanan Kebidanan

diIndonesia.........................................................................................

BAB 3

PENUTUP

3.1 Kesimpulan..................................................................................

3.2 Saran.............................................................................................
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sebagai seorang bidan, belajar sejarah merupakan hal yang penting yang

tidak boleh ditinggalkan karena belajar sejarah bidan akan mengenal

keberhasilan dan kegagalan pemimpin, dengan sejarah bidan juga dapat

mempelajari latar belakang, alasan, pengaruh filsafat social, teknologi, serta

sudut pandang budaya tentang pelayanan kebidanan. Dengan belajar sejarah,

bidan padat melakukan analisis tentang perkembangan pelayanan dan

pendidikan kebidanan sehingga dapat merenungkan dan semakin bijaksana

dala memberikan asuhan (Take the positive things buts don’t repeat the

mistaken from our past).

Sejarah pelayanan kebidanan di Indonesia terjadi secara tidak langsung

melalui usaha mengurangi angka kematian karena cacar. Pencacaran pertama

di Indonesia dilakukan sekitar 1804, setelah Yenner di Inggris menemukan

vaksin cacar tahun 1798.

Pada awalnya, sangat dibutuhkan tenaga untuk pencacaran dan

penanggulangan penyakit pes yang menakutkan. Sebelumnya, tenaga seperti

ini didatangkan dari Belanda yang jaraknya sangat jauh dan mahal. Dengan

mempertimbangankan itu, didirikanlah Sekolah Dokter Jawa pada tahun 1851

dengan masa pendidikan hanya dua tahun. Pada tahun 1889, kuliah Ilmu

Kebidanan mulai diberikan oleh dr. Straats.


1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana perkembangan pelayanan bidan di Indonesia?

2. Bagaimana perkembangan pendidikan bidan di Indonesia?

1.3 Tujuan

a. Tujuan Umum

Tujuan umum menulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas

terstruktur Mata Kuliah Konsep Kebidanan.

b. Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui perkembangan pelayanan bidan di Indonesia

2. Untuk mengetahui perkembangan pendidikan bidan di Indonesia


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sejarah perkembangan pendidikan bidan di dalam negeri (di Indonesia

Perkembangan pendidikan bidan berhubungan dengan perkembangan

pelayanan kebidanan.

1. Tahun 1851 seorang dokter militer Belanda (DR. W. Bosch) membuka

pendidikan bidan bagi wanita pribumi di Batavia (tidak bertahan lama).

Tahun 1902 pendidikan bidan dibuka kembali bagi wanita pribumi di

rumah sakit militer di Batavia

2. Tahun 1904 pendidikan bidan bagi wanita Indonesia dibuka di Makasar.

Bersedia ditempatkan di mana saja, mendapat tunjangan dari pemerintah

15-25 Gulden/bulan.

3. Tahun 1911/1912 dimulai pendidikan tenaga keperawatan selama 4 tahun

di BZ (RSUP/RSCM) Semarang dan Batavia calon yang diterima dan

lulus HIS (sd 7 tahun) peserta didiknya pria. Tahun 1914 diterima peserta

didik wanita yang di mana mereka setelah mengikuti ini dapat melanjutkan

ke sekolah bidan.

4. Tahun 1935-1938 Pemerintah Belanda mendirikan sekolah bidan lulusan

MULO (setara SLTP) . Tahun 1935-1938 dibuka sekolah bidan (RS Budi

kemuliaan) oleh pribumi. Bidan Palang-Palang di Jakarta dan

Mardiwaluyo di Semarang. Bidan MULO bidan kelas I dan bidan kelas II.

5. Tahun 1950-1953 dibuka sekolah bidan dari lulusan SMP minimal 17

tahun. Lama pendidikan 3 tahun, juga dibuka pendidikan pembantu bidan


dari lulusan SMP penjenjangan kesehatan E pada tahun 1976 setelah itu

ditutup.

6. Tahun 1955 dibuka kursus tambahan bidan (KTB) di Yogyakarta 7 s.d. 12

minggu. Tahun 1960 KTB dipindahkan ke Jakarta tujuan ini untuk

memperkenalkan kepada lulusan bidan mengenai perkembangan program

KIA sebelum terjun ke masyarakat. Tahun 1967 KTB ditutup. Pada tahun

1954 dibuka pendidikan guru, bidan, guru bidan dan guru perawat dan

guru kesehatan masyarakat di Bandung. Lama pendidikana 1 tahun.

Kemudian menjadi 2 tahun dan terakhir menjadi 2 tahun.

7. Tahun 1972 pendidikan ini dilebur menjadi sekolah perawat (SPG). Tahun

1970 dibuka program pendidikan kebidanan menerima lulusan di sekolah

pengatur perawat ditambah 2 pendidikan lanjutan jurusan kebidanan

(SPLJK). Tahun 1974 sekolah bidan ditutup dan dibuka sekolah perawat

kesehatan (SPK). Tahun 1981 untuk meningkatkan kemampuan lulusan

SPK maka dibuka D1 kesehatan ibu dan anak, hanya 1 tahun saja.

8. Tahun 1985 dibuka lagi program pendidikan bidan menerima dari lulusan

SPK, SPR lama pendidikan 1 tahun. Tahun 1989 dibuka cash program

pendidikan bidan secara nasional menerima dari lulusan SPK yang dikenal

dengan PPBA lama pendidikan 1 tahun. Tahun 1996 status bidan di desa

sebagai PNS berubah menjadi PTT (pegawai tidak tetap).

9. Tahun 1993 dibuka program pendidikan bidan program B yang perserta

didiknya dari lulusan akper dengan lamanya pendidikan 1 tahun. Tahun

1993 juga dibuka program pendidikan bidan yang menerima lulusan dari

SMP pada 11 provinsi lama pendidikan 6 semester.


10. Tahun 1994-1995 berdiri pendidikan bidan jarak jauh yaitu di Jabar,

Jateng, Jatim.

11. Dilat jarak jauh di provinsi dua tujuan untuk meningkatkan pengetahuan,

sikap, dan keterampilan. Dikoordinir oleh Pusdiklat oleh Pusdiklat

Depkes. Tahun 1994 juga dilaksanakan pelatihan pelayanan

kegawatdaruratan metrnal dan neonatal (LSS: Life saving skill).

12. Tahun 1996 IBI bekerja sama dengan Depkes dan American Collegeof

Nurse Midwife (ACNM) dan RS swasta mengadakan training of trainer

kepada anggota IBI sebanyak 8 orang. Tahu 2000 telah ada tim pelatih

asuhan persalinan normal yang dikoordinasi oleh maternal neonatal health

(MNH).

Sejarah pendidikan kebidanan di Indonesia pada era tahu 2000, dalam

mengantisipasi tingkat kebutuhan masyarakat yang semakin bermutu terhadap

pelayanan kebidanan, perubahan-perubahan yang cepat dalam pemerintahan

maupun dalam masyarakat dan pengembangan IPTEK serta persaingan yang

ketat di era global ini diperlukan tenaga kesehatan khususnya tenaga bidan

yang berkualitas baik tingkat pengetahuan, keterampilan dan sikap

profesionalisme.

Pengembangan pendidikan kebidanan seyogyanya dirancang secara

berkesinambungan, berjenjang dan berlanjut sesuai dengan prinsip belajar

seumur hidup bagi bidan yang mengbdi di tengah-tengah masyarakat.

Pendidikan yang berkelanjutan ini bertujuan untuk mempertahankan

profesionalisme bidan baik melalui pendidikan formal maupun pendidikan


non formal. Namun IBI dan pemerintah menghadapi berbagai kendala untuk

memulai penyelenggaraan program pendidikan tersebut.

Pendididkan formal yang telah dirancang dan diselenggarakan oleh

pemerintah dan swasta dengan didukung IBI adalah program D III dan D IV

kebidanan. Pemerintah telah berupaya untuk menyediakan dana bagi bidan di

sektor pemerintah melalui pengirim tugas belajar ke luar negeri.

Di samping itu IBI mengupayakan adanya badan-badan swasta dalam dan

luar negri untuk meningkatkan pendidikan bidan dalam dan luar negri khusus

untuk program jangka pendek. Disamping itu IBI telah mendorong

anggotanya untuk meningkatkan pendidikan melalui kerjasama dengan

universitas dalam negeri. Dewasa ini ada 40 orang yang sedang mengikuti

pendidikan disalah satu universitas swasta diJakarta (Universitas

Muhamadiyah Jakarta) dengan program pilihan yang mendukung peningkatan

kualitas dan wawasan bidan.

Pendidikan non formal telah dilaksanakan melalui program pelatihan,

magang, seminar/lokakarya. Dengan bekerjasama antara IBI dengan lembaga

internasional telah telah pula dilaksanakan berbagai program non formal

dibeberapa provinsi. Semua upaya tersebut bertujuan meningkatkan kinerja

bidan dalam memberikan pelayanan kebidanan yang berkualitas. IBI juga

telah mengembangkan suatu program mentorsip bidan senior membimbing

bidan junior dalam konteks profesionalisme kebidanan.

Dengan mempertimbangkan jumlah anggota IBI yang cukup besar dan

dibandingkan dengan kemampuan pengadaan program pendidikan formal


dengan sistem klasikal,maka diasumsikan bahwa kurang lebih 32 tahun baru

seluruh anggota IBI dapat mengikuti pendidikan kejenjang yang lebih tinggi.

Disamping itu pula disepakati antara IBI dan pemerintah bahwa masa transisi

dalam upaya peningkatan kualitas bidan melalui pendidikan formal akan

berlangsung 10 tahun (2010), oleh karena itu IBI bersama pemerintah dalam

hal ini Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial dan Departemen

Pendidikan mencoba untuk mencari jalan keluar melalui sistem pendidikan

yang mengakui berbagai pengalaman bidan dalam melayani masyarakat

Pengakuan/penghargaan terhadap pengalaman bidan (recognition of

priolearning) ini diharapkan akan dapat lebih mempercepat upaya peningkatan

kualitas bidan melalui pendidikan formal tanpa mengabaikan apa yang telah

dimilikin oleh para bidan.

Pola pendidikan ini masih dalam tahap penjajakan dan perencanaan .

Diharapkan dalam waktu yang tidak terlalu lama penatalaksanaan sistem

pendidikan ini telah selesai dan dapat diterapkan di Indonesia. Pola

pengembangan pendidikan berkelanjutan bidan mengacu pada peningkatan

kualitas bidan sesuai dengan kebutuhan pelayanan. Materi pendidikan

berkelanjutan meliputi aspek klinik dan non klinik.

2.2 Sejarah Perkembangan Pelayanan Kebidanan di Indonesia

1. Tahun 1851-1889

Perkembangan pelayanan kebidanan di Indonesia terjadi secara tidak

langsung. Pada awalnya, sangat dibutuhkan tenaga untuk pencacaran dan

penanggulangan penyakit pes yang menakutkan. Sebelumnya, tenaga


seperti ini didatangkan dari Belanda yang jaraknya sangat jauh dan mahal.

Dengan pertimbangan itu, dididrikanlah Sekolah Dokter Jawa pada tahun

1851 dengan masa pendidikan hanya dua tahun. Pada tahun 1889, kuliah

Ilmu Kebidanan mulai diberikan oleh ahli Kebidanan dari Australia, dr.

Streats.

2. Tahun 1890-1897

Jika dibandingkan, ternyata angka kematian maternal dan perinatal

akibat dari pertolongan oleh dukun jauh lebih banyak daripada angka

kematian akibat penyakit cacar dan penyakit pes. Oleh karena itu,

didirikan kursus bidan pada tahun 1890 oleh seorang bidan VOC dari

negeri Belanda. Sekolah ini hanya berlangsung beberapa tahun saja dan

akhirnya ditutup karena kesulitan biaya. Sekolah bidan resmi dibuka

kembali dibawah pimpinan Prof.Boerma, 1897. Sekolah ini berhasil

menamatkan beberapa bidan saja sebelum akhirnya ditutup karena

kekurangan biaya.

3. Tahun 1920

Remmeltz pernah melaporkan bahwa angka kematian maternal adalah

1.600/100.000 persalinan hidup dan kematian perinatal adalah sekitar

30%. Oleh karena itu, lembaga swasta pun ikut serta mendirikan Sekolah

Bidan, seperti missi Katolik di Cideres Jawa Barat dan Pearaja di Sumatra.

Pada tahun 1920, dr.Piverelli mendirikan consultative Bureau Moeder en

kind di Jakarta dengan tujuan menambah pengetahuan masyarakat.

4. Tahun 1938
Di Jawa Barat, dr. Poerwosoewardjo dan dr. Soemeroe

mengikutsertakan dukun dalam pendidikan, sehingga pendidikan, sehingga

pendidikan mereka dianggap sebagai cikal bakal pendidikan dukun di

Indonesia. Pada tahun 1938, hanya terdapat 376 bidan di seluruh Indonesia

dan sebagian besar berdomisili di kota, sehingga pelayanan persalinan

kepada masyarakat masih tetap dilakukan oleh dukun. Dengan pertolongan

“dukun atau peraji”, sudah dapat dibayangkan bahwa kematian maternal

dan perinatal sangat tinggi.

Tiga serangkai ahli Obstetri dan Ginekologi Indonesia, Prof. DR.dr.

Sarwono Prawirohardjo (Jakarta-UI), Prof.dr.M.Toha (Surabaya-

Airlangga), dan Prof.dr.Makalew (Makassar – Hassanuddin) menamatkan

pendidikan hamper bersamaan pada tahun 1937-1938. Setelah

menamatkan pendidikan, sebelum ke Surabaya, dr.M.Toha mendapatkan

tugas diCirebon dan beliau secara langsung melihat penderitaan rakyat

akibat pertolongan persalinan oleh dukun. Oleh karena itu, beliau meminta

ijin agar diperkenankan mendirikan “Sekolah Bidan” di Cirebon pada

sekitar 1938. Sayangnya, karena terjadi perang dunia pertama, gagasan

beliau tidak terlaksana.

Gagasan untuk mendirikan Sekolah Bidan di Cirebon akhirnya

diteruskan oelh penggantinya, dr.Soetomo Joedosapoetra akhirnya

dipanggil untuk membantu Prof.dr.M.Toha di Fakultas Kedokteran

Surabaya.
5. Tahun 1948

Di Sumatra, pada tahun 1948, dr.H.Sinaga telah membuat stensilan

tentang pendidikan bidan di Tarutung. Dalam tahun yang sama. dr. S. A

Goelam telah mengeluarkan Buku Ajar Kebidanan, Ilmu Kebidanan I

Bagian Fisiologi dan Ilmu Kebidanan Bagian II Patologi.

6. Tahun 1950

Pada tahun 1950, saat pusat pemerintahan Republik Indonesia berada

di Yogyakarta, dr. Mochtar dan dr. Soelijanti membentuk sub bagian KIA

di Departemen Kesehatan RI. Selanjutnya, subbagian ini dikembangkan

berbagai daerah dengan sebutan BKIA (Balai Kesehaan Ibu dan Anak),

yang di dalam perkembangannya menjadi cikal bakal puskesmas, dengan

tetap mempertahankan KIA sebagai bagian yang sangat penting.

7. Tahun 1978

Data Departemen Kesehatan tahun 1978 mencatat informasi sebagai

berikut :

a. Pertolongan persalinan oleh dukun 90-92%

b. Pertolongan persalinan oleh bidan sekitar 6%

c. Pertolongan persalinan oleh dokter sekitar 1%

d. Pelatihan dukun sekitar 110.000 orang

e. Jumlah dokter spesialis 115 orang

f. Jumlah dokter umum 8.000 orang

g. Jumlah bidan 16.888 orang.

8. Tahun 1995
Mengingat luasnya wilayah negara Republik Indonesia, ditetapkan

gagasan politik untuk menempatkan seorang bidan di setiap desa. Gagasan

dan ketatpan politik ini sangat mulia, tetapi memerlukan biaya dan tenaga

yang besar. Gagasan tersebut dicanangkan oleh Presiden Soeharto pada

pembukaan World Congress of Human Reproduction di Nusa Dua Bali

pada tahun 1995. Diharapkan Bidan mampu meningkatkan partisipasi

masyarakat pedesaan untuk ikut serta membangun Polindes (Pondok

Bersalin Desa).

Selain itu, sebagai narasumber pembangunan kesehatan terdepan di

pedesaan, bidan diharapkan juga dapat menjadi pembaru dalam bidang

kesehatan umum. Penulis ikut serta mendukung rencana pendidikan bidan

dengan mengeluarkan buku ajar khusus untuk bidan, yaitu “ Ilmu

Kebidanan , Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk

Pendidikan Bidan “ yang dicetak oleh penerbit Buku Kedokteran EGC

Jakarta.

9. Tahun 2010

Kini pelayanan kebidanan telah maju, dengan pendidikan spesialis

kebidanan di sebelas pusat pendidikan. Dalam rangka menyongsong arus

globalisasi, bangsa Indonesia diharapkan telah mampu mencukupi jumlah

ahli yang diperlukan pada tahun 2010, sehingga pelayanan kebidanan dan

penyakit kandungan menjadi lebih mantap. Harapan tersebut harus

terpenuhi mengingat keinginan untuk menurunkan angka kematian ibu

yang sebesar 390/100.000 persalinan menjadi setengahnya.


BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Pelayanan kebidanan di Indonesia perlu ditingkatkan mengingat masih

tingginya angka kematian ibu dan anak (AKIA). Perubahan-perubahan yang

dilakukan dalam pelayanan kebidanan zaman dahulu dengan pelayanan

kebidanan zaman sekarang merupakan wujud pelayanan kebidanan. Tetapi

dalam melakukan perubahan tersebut tidaklah mudah, butuh proses dan waktu

yang tidak singkat mewujudkan pelayanan kebidanan yang berkualitas.

Dari uraian diatas pula, maka dapat diambil kesimpulan yakni sejarah

perkembangan masing-masing negara jelas memiliki perbedaan. Baik itu

dalam perkembangan pelayanan, maupun pendidikan kebidanannya.

3.2 SARAN

Mengingat perkembangan pendidikan dan pelayanan kebidanan saat ini,

kami menyarankan agar setiap orang lebih memahami sejarah perkembangan

kebidanan tidak hanya di dalam negeri saja melainkan diluar negeri juga.

Dengan itu, kita akan dapat membandingkan dan dapat ditela`ah mengenai hal

positif dan hal negatif perbedaan tersebut. Dengan penulisan makalah ini

penulis berharap lembaga kesehatan dalam hal ini para bidan mampu

meningingkatkan pelayanan kebidanan guna membangun generasi muda dan

generasi penerus bangsa menjadi manusia yang sehat.


DAFTAR PUSTAKA

Manuaba. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana

untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : Buku Pedokteran (EGC).

Manuaba, dkk. 2007. Pengantar Ilmu Obstetri. Jakarta : Buku Kedokteran (EGC).

Nurrobikha, dkk. 2015. Buku Ajar Konsep Kebidanan. Yogyakarta : Deepublish.

Sujudi, Achmad. 2002. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

900 Tahun 2002/MENKES/SK/VII/2002 Tentang Registrasi dan Praktik

Bidan. Jakarta : Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

Yuslifah dan Surachmindari. 2014. Konsep Kebidanan untuk Pendidikan

Kebidanan. Jakarta : Salemba Medika.