Anda di halaman 1dari 3

SKIZOFRENIA RESIDUAL PADA PASIEN DENGAN PENOLAKAN KELUARGA

Abstrak Gangguan jiwa merupakan gangguan pada pikiran, perasaan, atau perilaku yang mengakibatkan penderitaan dan terganggunya fungsi sehari-hari. Skizofrenia adalah sekelompok gangguan psikotik dengan gangguan dasar pada kepribadian, distorsi khas proses pikir, kadang-kadang mempunyai perasaan bahwa dirinya sedang dikendalikan oleh kekuatan dari luar dirinya, waham yang kadang-kadang aneh, gangguan persepsi, afek abnormal yang terpadu dengan situasi nyata atau sebenarnya, dan autisme. Meskipun demikian, kesadaran yang jernih dan kapasitas intelektual biasanya tidak terganggu. Kata kunci: gangguan jiwa, skizofrenia, skizofrenia residual

Kasus Sdr S, 34 tahun, diantar ke RSJP Prof. Soeroyo oleh keluarganya karena bicara sendiri dan tidak bisa tidur. Menurut keluarga pasien juga sering tampak murung. Pada tahun 1998, saat pasien berusia 13 tahun, ayah pasien yang telah lama menderita stroke meninggal dunia. Sejak saat itu ibu pasien menjadi kepala keluarga. Kejadian tersebut membuat ibu pasien harus berperan sebagai tulang punggung keluarga sehingga intensitas pertemuan dengan pasien menjadi sangat terbatas. Hal ini mengakibatkan pasien kehilangan sosok ibu sebagai tempat berbagi. Selain itu pasien juga merupakan pribadi yang cebderung tertutup dan kurang bisa mengungkapkan apa yang sedang diarasakannya. Namun pasien tidak dilaporkan mengalami perubahan, terutama tingkah laku. Tahun 1994 setelah tamat SMA, pasien gagal diterima di program studi Biologi UGM. Sedangkan pacar dan teman-temannya yang lain dapat diterima di UGM. Pasien merasa kecewa dan kurang bisa menerima kenyataan. Pasien mulai gampang tersinggung, lekas marah, dan sering bertengkar dengan kakak-kakaknya. Pasien juga menjadi malas bersosialisasi, lebih senang berdiam diri di rumah. Tahun 2001 pasien mulai menunjukkan gejala-gejala aneh, misalnya bicara sendiri, tertawa sendiri, malas mandi, dan tidak tidur. Pasien juga sering mendengar suara-suara dari makhluk halus dan merasa dirinya dikendalikan oleh kekuatan gaib. Pasien jadi tampak bingung, susah diajak berkomunikasi, dan puncaknya pasien mengamuk. Pasien kemudian dibawa ke RSJ di Yogyakarta. Sejak saat itu pasien sering keluar masuk RSJ. Pasien dipulangkan karena dianggap sudah mampu menjalani rawat jalan. Pasien kemudian tinggal di Gunung Kidul bersama kerabat yang dikaryakan keluarga untuk merawat pasien. Namun ketika telah berada di rumah menurut kerabat yang merawat, pasien menjadi sangat manja dan malas beraktivitas sehingga pasien kembali dibawa ke RSJ. Bulan Pebruari 2009, pasien sudah mondok di RSJP Prof. Soeroyo sebanyak 3 kali. Terakhir keluar tanggal 10 Maret 2009. Namun satu hari setelahnya pasien kembali dibawa ke RSJP Prof. Soeroyo karena tidak tidur dan bicara sendiri. Keadaan umum baik, tampak tenang, dan cenderung diam. Tanda-tanda vital: tekanan darah 130/90 mmHg, nadi 80 /menit, respirasi 16/menit, suhu 36,7 C. Kepala mesocephal, Mata sklera tidak ikterik, konjungtiva tidak anemis, pupil ishokor, Leher limfonodi tidak teraba, Thoraks suara paru vesikuler, suara jantung regular tidak terdapat bising jantung. Abdomen cembung, peristaltic normal, supel, hepar/lien tidak teraba, turgor kulit normal. Ekstremitas tonus dan pergerakan normal, tidak edema. Pemeriksaan nervi cranialis dalam batas normal. Pemeriksaan status mental: laki-laki sesuai umur, kesadaran composmentis, kontak mata cukup, perawatan diri cukup, status gizi baik, perilaku dan aktivitas psikomotor hipoaktif, pembicaraan cukup, bicara spontan dengan volume suara yang cukup, dan kooperatif. Mood eutimik, afek inappropriate, roman muka sedikit mimik. Isi pikir terdapat waham nihilistik, waham bersalah, waham kejar. Sindrom yang didapat adalah sindrom skizofrenia yaitu riwayat waham bizarre (sisip pikir dan siar pikir), waham nonbizarre (waham kebesaran), halusinasi auditorik yang kadang-kadang muncul, dan riwayat ilusi. Selain itu juga didapat sindrom depresi yaitu merasa malas/kurang bersemangat untuk beraktivitas, sedikit mimik, dan hipoaktif.

Diagnosis Aksis I Aksis II Aksis III Aksis IV : Skizofrenia Residual (F20.5) : kepribadian introvert : Diabetes Mellitus Tipe II terkontrol : penolakan keluarga secara tidak langsung

Aksis V baik.

: 70 61: beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan dalam fungsi, secara umum masih

Terapi Pasien mendapat terapi antipsikotik atipikal yaitu Risperidone 2 mg diberikan 2 kali sehari, risperidon diberikan selama masih didapatkan gejala positif pada pasien, dosis risperidon dapat diturunkan sampai gejala pada pasien hilang. Pemberian risperidone juga bisa diganti jika tidak efektif menurunkan gejala. Selain itu diberikan juga Antidepresan berupa amitriptyline 25 mg satu kali sehari pada malam hari. Karena pasien juga menderita DM tipe II pasien juga diterapi dengan OAD yaitu metformin 3 kali 1000 mg sehari dan glimepiride 1 mg sekali sehari tiap pagi.

Diskusi Untuk menentukan diagnosis pasien dengan gangguan jiwa, maka digunakan PPDGJ. Berdasarkan gejala yang didapat maka dapat dibuat suatu diagnosis banding, diantaranya: 1. Depresi pasca skizofrenia (20.4)

No 1

Kriteria diagnosis Pasien telah menderita skizofrenia (yang memenuhi kriteria umum skizofrenia) selama 12 bulan terakhir. Beberapa gejala skizofrenia masih tetap ada (tetapi tidak lagi mendominasi gambaran klinisnya) Gejala-gejala depresif menonjol dan mengganggu, memenuhi paling sedikit kriteria untuk episode depresif (F32.-) dan telah ada dalam kurun waktu paling sedikit 2 minggu. Apabila pasien tidak lagi menunjukkan gejala skizofrenia, diagnosis menjadi Episode Depresif (F32.-). Bila gejala skizofrenia masih jelas dan menonjol, diagnosis harus tetap salah satu dari subtipe skizofrenia yang sesuai (F20.0 F20.3)

Pada pasien

Terpenuhi Terpenuhi

Tidak Terpenuhi

Tidak Terpenuhi

2.

Skizofrenia Residual (F20.5)

Kriteria Diagnosis Gangguan Skizoafektif tipe manik (F 25.0)

No 1

Kriteria diagnosis Gejala Negatif dari skizofrenia yang menonjol misalnya perlambatan psikomotorik, aktifitas menurun, afek yang menumpul, sikap pasif dan ketidak adaan inisiatif, kemiskinan dalam kuantitas atau isi pembicaraan, komunikasi non verbal yang buruk, seperti ekspresi muka, kontak mata, modulasi suara, dan posisi tubuh, perawatan diri, dan kinerja sosial yang buruk.

Pada pasien

Terpenuhi

Sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik yang jelas dimasa lampau yang memenuhi kriteria untuk diagnosa skizofrenia Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu satu tahun dimana intensitas dan frekuensi gejala yang nyata seperti waham dan halusinasi telah sangat berkurang (minimal) dan telah timbul sindrom negatif dari skizofrenia

Terpenuhi

Terpenuhi

Tidak terdapat dementia, atau penyakit/gangguan otak organik lainnya, depresi kronis atau institusional yang dapat menjelaskan disabilitas negatif tersebut.

Terpenuhi

Dari kedua diagnosis banding, maka kriteria yang semua terpenuhi adalah skizofrenia residual (F20.5). Hal ini sesuai dengan perjalan penyakit dari pasien. Pada pasien ini terdapat faktor pencetus yang jelas, setelah kejadian tersebut pasien mulai menunjukkan perubahan tingkah laku ke arah skizofrenia. Setelah beberapa kali mondok di RSJ gejala yang kemudian menonjol adalah gejala negatif. Sehingga menurut PPDGJ III pasien didiagnosis menderita skizofrenia residual (F20.5). Pasien mendapat terapi antipsikotik atipikal yaitu Risperidone 2 mg diberikan 2 kali sehari, risperidon diberikan selama masih didapatkan gejala positif pada pasien, dosis risperidon dapat diturunkan sampai gejala pada pasien hilang. Pemberian risperidone juga bisa diganti jika tidak efektif menurunkan gejala. Selain itu diberikan juga Antidepresan berupa amitriptyline 25 mg satu kali sehari pada malam hari. Karena pasien juga menderita DM tipe II pasien juga diterapi dengan OAD yaitu metformin 3 kali 1000 mg sehari dan glimepiride 1 mg sekali sehari tiap pagi.

Kesimpulan Pada pasien ini terdapat faktor pencetus yang jelas, setelah kejadian tersebut pasien mulai menunjukkan perubahan tingkah laku ke arah skizofrenia. Setelah beberapa kali mondok di RSJ gejala yang kemudian menonjol adalah gejala negatif. Sehingga menurut PPDGJ III pasien didiagnosis menderita skizofrenia residual (F20.5).