Anda di halaman 1dari 16

DAERAH DALAM KERANGKA NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA

A. Daerah dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia


1. Memaknai Daerah dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia
Memahami keberadaan derah dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik
Indonesia dapat dirunut dari alinea ketiga dan keempat Pembukaan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Alinea ketiga memuat
pernyataan kemerdekaan bangsa Indonesia. Sedangkan alinea keempat memuat
pernyataan bahwa setelah menyatakan kemerdekaan, yang pertama kali
dibentuk adalah Pemerintah Negara Indonesia yaitu Pemerintah Nasional yang
bertanggung jawab mengatur dan mengurus bangsa Indonesia. Lebih lanjut
dinyatakan bahwa tugas Pemerintah Negara Indonesia adalah melindungi
seluruh bangsa dan tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum
dan mencerdaskan kehidupan bangsa serta ikut memelihara ketertiban dunia
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Selanjutnya Pasal 1 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 menyatakan bahwa Negara Indonesia adalah negara kesatuan yang
berbentuk republik. Konsekuensi logis sebagai Negara kesatuan adalah
dibentuknya pemerintah Negara Indonesia sebagai pemerintah nasional untuk
pertama kalinya dan kemudian pemerintah nasional tersebutlah yang kemudian
membentuk Daerah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Kemudian
pada Pasal 18 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
ditegaskan tentang keberadaan daerah dan Pemerintahan Daerah.
Silahkan kamu buku UUD 1945 pasal 18 ! Intisari dari pasal-pasal tersebut
adalah sebagai berikut:
a. Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan
daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota, yang tiap-tiap provinsi,
kabupaten, dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah, yang diatur
dengan undang-undang [Pasal 18 (1)]
b. Mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi
dan tugas pembantuan [Pasal 18 (2)] anggota DPRD dipilih melalui pemilu
[Pasal 18 (3)]
c. Gubernur, Bupati, dan Walikota masing-masing sebagai kepala daerah
provinsi, kabupaten dan kota dipilih secara demokratis (UUD NRI 1945
pasal 18 ayat (4).

1
d. Kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih dalam satu pasangan calon
yang dilaksanakan secara demokratis berdasarkan asas langsung, umum,
bebas, rahasia, jujur, dan adil (UU RI No.32/2004 pasal 56 ayat (5).
e. Berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturan-peraturan lain untuk
melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan [Pasal 18 (6)]
Berdasarkan isi pasal 18 di atas dapat kita sarikan sebagai berikut.
a. Adanya pembagian daerah otonom yang bersifat berjenjang (Provinsi dan
Kabupaten/ kota;
b. Daerah otonom mengatur dan mengurus urusan pemerintahan menurut asas
otonomi dan tugas pembantuan;
c. Secara eksplisit tidak disinggung mengenai asas dekonsentrasi;
d. Pemerintah daerah otonom memiliki DPRD yang anggota-anggotanya
dipilih secara demokratis;
e. Kepala daerah dipilih secara demokratis;
f. Pemerintah daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan
pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan
pemerintah pusat.

Pemberian otonomi yang seluas-luasnya kepada Daerah diarahkan untuk


mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan
pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat. Di samping itu melalui
otonomi luas, dalam lingkungan strategis globalisasi, Daerah diharapkan
mampu meningkatkan daya saing dengan memperhatikan prinsip demokrasi,
pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan serta potensi dan
keanekaragaman Daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pemberian otonomi yang seluas-seluasnya kepada Daerah dilaksanakan
berdasarkan prinsip negara kesatuan. Dalam negara kesatuan kedaulatan hanya
ada pada pemerintahan negara atau pemerintahan nasional dan tidak ada
kedaulatan pada Daerah. Oleh karena itu, seluas apa pun otonomi yang diberikan
kepada Daerah, tanggung jawab akhir penyelenggaraan Pemerintahan Daerah
akan tetap ada ditangan Pemerintah Pusat. Untuk itu Pemerintahan Daerah
pada negara kesatuan merupakan satu kesatuan dengan Pemerintahan Nasional.
Sejalan dengan itu, kebijakan yang dibuat dan dilaksanakan oleh Daerah
merupakan bagian integral dari kebijakan nasional. Pembedanya adalah terletak
pada bagaimana memanfaatkan kearifan, potensi, inovasi, daya saing, dan

2
kreativitas Daerah untuk mencapai tujuan nasional tersebut di tingkat lokal yang
pada gilirannya akan mendukung pencapaian tujuan nasional secara keseluruhan.
Daerah sebagai satu kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai
otonomi berwenang mengatur dan mengurus Daerahnya sesuai aspirasi dan
kepentingan masyarakatnya sepanjang tidak bertentangan dengan tatanan
hukum nasional dan kepentingan umum. Dalam rangka memberikan ruang
yang lebih luas kepada Daerah untuk mengatur dan mengurus kehidupan
warganya maka Pemerintah Pusat dalam membentuk kebijakan harus
memperhatikan kearifan lokal dan sebaliknya Daerah ketika membentuk
kebijakan Daerah baik dalam bentuk Perda maupun kebijakan lainnya
hendaknya juga memperhatikan kepentingan nasional. Dengan demikian akan
tercipta keseimbangan antara kepentingan nasional yang sinergis dan tetap
memperhatikan kondisi, kekhasan, dan kearifan lokal dalam penyelenggaraan
pemerintahan secara keseluruhan.
Pada hakikatnya Otonomi Daerah diberikan kepada rakyat sebagai satu
kesatuan masyarakat hukum yang diberi kewenangan untuk mengatur dan
mengurus sendiri Urusan Pemerintahan yang diberikan oleh Pemerintah Pusat
kepada Daerah dan dalam pelaksanaannya dilakukan oleh kepala daerah dan
DPRD dengan dibantu oleh Perangkat Daerah. Urusan Pemerintahan yang
diserahkan ke Daerah berasal dari kekuasaan pemerintahan yang ada ditangan
Presiden. Konsekuensi dari negara kesatuan adalah tanggung jawab akhir
pemerintahan ada ditangan Presiden. Agar pelaksanaan Urusan Pemerintahan
yang diserahkan ke Daerah berjalan sesuai dengan kebijakan nasional maka
Presiden berkewajiban untuk melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap
penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.
Presiden sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan dibantu oleh menteri
negara dan setiap menteri bertanggung atas Urusan Pemerintahan tertentu
dalam pemerintahan. Sebagian Urusan Pemerintahan yang menjadi tanggung
jawab menteri tersebut yang sesungguhnya diotonomikan ke Daerah.
Konsekuensi menteri sebagai pembantu Presiden adalah kewajiban menteri atas
nama Presiden untuk melakukan pembinaan dan pengawasan agar
penyelenggaraan Pemerintahan Daerah berjalan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan. Agar tercipta sinergi antara Pemerintah Pusat dan
Daerah, kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian berkewajiban
membuat norma, standar, prosedur, dan kriteria (NSPK) untuk dijadikan

3
pedoman bagi Daerah dalam menyelenggarakan Urusan Pemerintahan yang
diserahkan ke Daerah dan menjadi pedoman bagi kementerian/lembaga
pemerintah nonkementerian untuk melakukan pembinaan dan pengawasan.
Presiden melimpahkan kewenangan kepada Menteri sebagai koordinator
pembinaan dan pengawasan yang dilakukan oleh kementerian/lembaga
pemerintah nonkementerian terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.
Kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian melakukan pembinaan dan
pengawasan yang bersifat teknis, sedangkan Kementerian melaksanakan
pembinaan dan pengawasan yang bersifat umum. Mekanisme tersebut
diharapkan mampu menciptakan harmonisasi antar kementerian/lembaga
pemerintah nonkementerian dalam melakukan pembinaan dan pengawasan
penyelenggaraan Pemerintahan Daerah secara keseluruhan.
Terkait otonomi daerah pemerintah telah mengeluarkan Undang-Undang No
23 Tahun 2014 jo UUNo 2 Tahun 2015 dan UU No. 9 Tahun 2015 tentang
Pemerintahan Daerah. Dalam UU tersebut dinyatakan otonomi daerah adalah
hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus
sendiri Urusan Pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat dalam
sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia, sedangkan Pemerintahan Daerah
adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan
dewan perwakilan rakyat daerah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan
dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara
Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Berkaitan dengan pemerintah daerah ada beberapa konsep yang perlu kita
ketahui diantaranya:
1) Pemerintah Pusat adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang
kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia yang dibantu oleh
Wakil Presiden dan menteri sebagaimana dimaksud dalam Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
2) Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh
pemerintah daerah dan dewan perwakilan rakyat daerah menurut asas
otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya
dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945.

4
3) Pemerintah Daerah adalah kepala daerah sebagai unsur penyelenggara
Pemerintahan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan
yang menjadi kewenangan daerah otonom
4) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD
adalah lembaga perwakilan rakyat daerah yang berkedudukan sebagai
unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah. Di daerah ada 2 jenis DPRD
yakni DPRD Kabupaten/Kota dan DPRD provinsi. DPRD kabupaten/kota
mempunyai tugas dan wewenang: a) membentuk Perda Kabupaten/Kota
bersama bupati/wali kota; b) membahas dan memberikan persetujuan
rancangan Perda mengenai APBD kabupaten/kota yang diajukan oleh
bupati/wali kota; c) melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan
Perda dan APBD kabupaten/kota; d) memilih bupati/wali kota; e)
mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian bupati/wali kota kepada
Menteri melalui gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat untuk
mendapatkan pengesahan pengangkatan dan pemberhentian. f) memberikan
pendapat dan pertimbangan kepada Pemerintah Daerah kabupaten/kota
terhadap rencana perjanjian international di Daerah; g) memberikan
persetujuan terhadap rencana kerja sama internasional yang dilakukan oleh
Pemerintah Daerah kabupaten/kota; h) meminta laporan keterangan
pertanggungjawaban bupati/wali kota dalam penyelenggaraan Pemerintahan
Daerah kabupaten/kota;
5) Sedangkan DPRD provinsi mempunyai tugas dan wewenang: a)
membentuk Perda Provinsi bersama gubernur; b) membahas dan
memberikan persetujuan Rancangan; Perda Provinsi tentang APBD
Provinsi yang diajukan oleh gubernur; c) melaksanakan pengawasan
terhadap pelaksanaan Perda Provinsi dan APBD provinsi; d) memilih
gubernur; e) mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian gubernur
kepada Presiden melalui Menteri untuk mendapatkan pengesahan
pengangkatan dan pemberhentian; f) memberikan pendapat dan
pertimbangan kepada Pemerintah Daerah provinsi terhadap rencana
perjanjian internasional di Daerah provinsi; g) memberikan persetujuan
terhadap rencana kerja sama internasional yang dilakukan oleh
Pemerintah Daerah provinsi; h) meminta laporan keterangan
pertanggungjawaban gubernur dalam penyelenggaraan Pemerintahan
Daerah provinsi; i) memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama

5
dengan Daerah lain atau dengan pihak ketiga yang membebani
masyarakat dan Daerah provinsi; dan j) melaksanakan tugas dan
wewenang lain yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-
undangan.
6) Urusan Pemerintahan adalah kekuasaan pemerintahan yang menjadi
kewenangan Presiden yang pelaksanaannya dilakukan oleh kementerian
negara dan penyelenggara Pemerintahan Daerah untuk melindungi,
melayani, memberdayakan, dan menyejahterakan masyarakat.
7) Otonomi Daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom
untuk mengatur dan mengurus sendiri Urusan Pemerintahan dan
kepentingan masyarakat setempat dalam sistem Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
8) Asas Otonomi adalah prinsip dasar penyelenggaraan Pemerintahan
Daerah berdasarkan Otonomi Daerah.
9) Desentralisasi adalah penyerahan Urusan Pemerintahan oleh Pemerintah
Pusat kepada daerah otonom berdasarkan Asas Otonomi.
10) Dekonsentrasi adalah pelimpahan sebagian Urusan Pemerintahan yang
menjadi kewenangan Pemerintah Pusat kepada gubernur sebagai wakil
Pemerintah Pusat, kepada instansi vertikal di wilayah tertentu, dan/atau
kepada gubernur dan bupati/wali kota sebagai penanggung jawab urusan
pemerintahan umum.
11) Instansi Vertikal adalah perangkat kementerian dan/atau lembaga
pemerintah nonkementerian yang mengurus Urusan Pemerintahan yang
tidak diserahkan kepada daerah otonom dalam wilayah tertentu dalam
rangka Dekonsentrasi.
12) Tugas Pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah Pusat kepada
daerah otonom untuk melaksanakan sebagian Urusan Pemerintahan yang
menjadi kewenangan Pemerintah Pusat atau dari Pemerintah Daerah
provinsi kepada Daerah kabupaten/kota untuk melaksanakan sebagian
Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah provinsi.
13) Daerah Otonom yang selanjutnya disebut Daerah adalah kesatuan
masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang
mengatur dan mengurus Urusan Pemerintahan dan kepentingan
masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi
masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

6
14) Wilayah Administratif adalah wilayah kerja perangkat Pemerintah Pusat
termasuk gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat untuk
menyelenggarakan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan
Pemerintah Pusat di Daerah dan wilayah kerja gubernur dan bupati/wali
kota dalam melaksanakan urusan pemerintahan umum di Daerah.
15) Urusan Pemerintahan Wajib adalah Urusan Pemerintahan yang wajib
diselenggarakan oleh semua Daerah.
16) Urusan Pemerintahan Pilihan adalah Urusan Pemerintahan yang wajib
diselenggarakan oleh Daerah sesuai dengan potensi yang dimiliki Daerah.
17) Pelayanan Dasar adalah pelayanan publik untuk memenuhi kebutuhan dasar
warga negara.
18) Standar Pelayanan Minimal adalah ketentuan mengenai jenis dan mutu
Pelayanan Dasar yang merupakan Urusan Pemerintahan Wajib yang
berhak diperoleh setiap warga negara secara minimal.
19) Forum Koordinasi Pimpinan di Daerah yang selanjutnya disebut
Forkopimda adalah forum yang digunakan untuk membahas
penyelenggaraan urusan pemerintahan umum.
20) Daerah Provinsi yang Berciri Kepulauan adalah Daerah provinsi yang
memiliki karakteristik secara geografis dengan wilayah lautan lebih luas
dari daratan yang di dalamnya terdapat pulau-pulau yang membentuk
gugusan pulau sehingga menjadi satu kesatuan geografis dan sosial
budaya.
21) Pembentukan Daerah adalah penetapan status Daerah pada wilayah tertentu.
22) Daerah Persiapan adalah bagian dari satu atau lebih Daerah yang
bersanding yang dipersiapkan untuk dibentuk menjadi Daerah baru.
23) Cakupan Wilayah adalah Daerah kabupaten/kota yang akan menjadi
Cakupan Wilayah Daerah provinsi atau kecamatan yang akan menjadi
Cakupan Wilayah Daerah kabupaten/kota.
24) Perangkat Daerah adalah unsur pembantu kepala daerah dan DPRD
dalam penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan
Daerah.
25) Kecamatan atau yang disebut dengan nama lain adalah bagian wilayah
dari Daerah kabupaten/kota yang dipimpin oleh camat.
26) Peraturan Daerah yang selanjutnya disebut Perda atau yang disebut dengan
nama lain adalah Perda Provinsi dan Perda Kabupaten/Kota.

7
27) Peraturan Kepala Daerah yang selanjutnya disebut Perkada adalah peraturan
gubernur dan peraturan bupati/wali kota.
28) Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah yang selanjutnya
disingkat RPJPD adalah dokumen perencanaan Daerah untuk periode 20
(dua puluh) tahun.
29) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah yang selanjutnya
disingkat RPJMD adalah dokumen perencanaan Daerah untuk periode 5
(lima) tahun.
30) Rencana Pembangunan Tahunan Daerah yang selanjutnya disebut
Rencana Kerja Pemerintah Daerah yang selanjutnya disingkat RKPD
adalah dokumen perencanaan Daerah untuk periode 1 (satu) tahun.
31) Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah adalah suatu
sistem pembagian keuangan yang adil, proporsional, demokratis,
transparan, dan bertanggung jawab.
32) Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang selanjutnya disingkat
APBN adalah rencana keuangan tahunan Pemerintah Pusat yang
ditetapkan dengan undang-undang.
33) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang selanjutnya disingkat
APBD adalah rencana keuangan tahunan Daerah yang ditetapkan dengan
Perda.
34) Kebijakan Umum APBD yang selanjutnya disingkat KUA adalah
dokumen yang memuat kebijakan bidang pendapatan, belanja, dan
pembiayaan serta asumsi yang mendasarinya untuk periode 1 (satu) tahun.
35) Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara yang selanjutnya disingkat
PPAS adalah program prioritas dan patokan batas maksimal anggaran yang
diberikan kepada Perangkat Daerah untuk setiap program sebagai acuan
dalam penyusunan rencana kerja dan anggaran satuan kerja Perangkat
Daerah.
36) Pendapatan Daerah adalah semua hak Daerah yang diakui sebagai
penambah nilai kekayaan bersih dalam periode tahun anggaran yang
bersangkutan.
37) Belanja Daerah adalah semua kewajiban Daerah yang diakui sebagai
pengurang nilai kekayaan bersih dalam periode tahun anggaran yang
bersangkutan.

8
38) Pembiayaan adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali
dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun
anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran
berikutnya.
39) Pinjaman Daerah adalah semua transaksi yang mengakibatkan Daerah
menerima sejumlah uang atau menerima manfaat yang bernilai uang
dari pihak lain sehingga Daerah tersebut dibebani kewajiban untuk
membayar kembali.
40) Barang Milik Daerah adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas
beban APBD atau berasal dari perolehan lainnya yang sah.
41) Badan Usaha Milik Daerah yang selanjutnya disingkat BUMD adalah
badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh
Daerah.
42) Partisipasi Masyarakat adalah peran serta warga masyarakat untuk
menyalurkan aspirasi, pemikiran, dan kepentingannya dalam
penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.
43) Kawasan Khusus adalah bagian wilayah dalam Daerah provinsi dan/atau
Daerah kabupaten/kota yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat untuk
menyelenggarakan fungsi pemerintahan yang bersifat khusus bagi
kepentingan nasional yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-
undangan.
44) Desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain,
selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang
memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus
Urusan Pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan
prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui
dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
45) Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan
dalam negeri.
46) Kementerian adalah kementerian yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan dalam negeri.
47) Aparat Pengawas Internal Pemerintah adalah inspektorat jenderal
kementerian, unit pengawasan lembaga pemerintah nonkementerian,
inspektorat provinsi, dan inspektorat kabupaten/kota.

9
48) Dana Alokasi Umum yang selanjutnya disingkat DAU adalah dana
yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan
tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar-Daerah untuk mendanai
kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi.
49) Dana Alokasi Khusus yang selanjutnya disingkat DAK adalah dana
yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada
Daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan
khusus yang merupakan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan
Daerah.
50) Dana Bagi Hasil yang selanjutnya disingkat DBH adalah dana yang
bersumber dari pendapatan tertentu APBN yang dialokasikan kepada
Daerah penghasil berdasarkan angka persentase tertentu dengan tujuan
mengurangi ketimpangan kemampuan keuangan antara Pemerintah Pusat
dan Daerah.
2. Karakteristik Daerah Tempat Tinggalnya Sebagai Bagian Utuh Dari Negara
Kesatuan Republik Indonesia
Apakah Kamu ingin tahu karakteristik daerah tempat tinggalmu. Berikut
admin berikan link karakteristik masing-masing propinsi di Indonesia.
1) Provinsi Nanggro Aceh Darussalam yang beribukota di Kota Banda Aceh.
https://id.wikipedia.org/wiki/Aceh
2) Provinsi Sumatera Utara yang beribukota di Kota Medan
https://id.wikipedia.org/wiki/Sumatera_Utara
3) Provinsi Sumatera Barat yang beribukota di Kota Padang
https://id.wikipedia.org/wiki/Sumatera_Barat
4) Provinsi Riau yang beribukota di Kota Pekan Baru
https://id.wikipedia.org/wiki/Riau
5) Provinsi Kepulauan Riau yang beribukota di Kota Tanjung Pinang
https://id.wikipedia.org/wiki/Kepulauan_Riau
6) Provinsi Jambi yang beribukota di Kota Jambi
https://id.wikipedia.org/wiki/Jambi
7) Provinsi Sumatera Selatan yang beribukota di Kota Palembang
https://id.wikipedia.org/wiki/Sumatera_Selatan
8) Provinsi Bangka Belitung yang beribukota di Kota Pangkal Pinang
https://id.wikipedia.org/wiki/Kepulauan_Bangka_Belitung
9) Provinsi Bengkulu yang beribukota di Kota Bengkulu

10
https://id.wikipedia.org/wiki/Bengkulu
10) Provinsi Lampung yang beribukota di Kota Bandar Lampung
https://id.wikipedia.org/wiki/Lampung
11) Provinsi DKI Jakarta yang beribukota di Kota Jakarta
https://id.wikipedia.org/wiki/Daerah_Khusus_Ibukota_Jakarta

12) Provinsi Jawa Barat yang beribukota di Kota Bandung


https://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Barat
13) Provinsi Banten yang beribukota di Kota Serang
https://id.wikipedia.org/wiki/Banten
14) Provinsi Jawa Tengah yang beribukota di Kota Semarang
https://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Tengah
15) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang beribukota di Kota Yogyakarta
https://id.wikipedia.org/wiki/Daerah_Istimewa_Yogyakarta
16) Provinsi Jawa Timur yang beribukota di Kota Surabaya
https://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Timur
17) Provinsi Bali yang beribukota di Kota Denpasar
https://id.wikipedia.org/wiki/Bali
18) Provinsi Nusa Tenggara Barat yang beribukota di Kota Mataram
https://id.wikipedia.org/wiki/Nusa_Tenggara_Barat
19) Provinsi Nusa Tenggara Timur yang beribukota di Kota Kupang
https://id.wikipedia.org/wiki/Nusa_Tenggara_Timur
20) Provinsi Kalimantan Barat yang beribukota di Kota Pontianak
https://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Barat
21) Provinsi Kalimantan Tengah yang beribukota di Kota Palangkaraya
https://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Tengah
22) Provinsi Kalimantan Selatan yang beribukota di Kota Banjarmasin
https://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Selatan
23) Provinsi Kalimantan Timur yang beribukota di Kota Samarinda
https://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Timur
24) Provinsi Kalimantan Utara yang beribukota di Kota Tanjung Selor
https://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Utara
25) Provinsi Sulawesi Utara yang beribukota di Kota Manado
https://id.wikipedia.org/wiki/Sulawesi_Utara
26) Provinsi Sulawesi Barat yang beribukota di Kota Mamuju

11
https://id.wikipedia.org/wiki/Sulawesi_Barat
27) Provinsi Sulawesi Tengah yang beribukota di Kota Palu
https://id.wikipedia.org/wiki/Sulawesi_Tengah
28) Provinsi Sulawesi Tenggara yang beribukota di Kota Kendari
https://id.wikipedia.org/wiki/Sulawesi_Tenggara
29) Provinsi Sulawesi Selatan yang beribukota di Kota Makassar
https://id.wikipedia.org/wiki/Sulawesi_Selatan
30) Provinsi Gorontalo yang beribukota di Kota Gorontalo
https://id.wikipedia.org/wiki/Gorontalo
31) Provinsi Maluku yang beribukota di Kota Ambon
https://id.wikipedia.org/wiki/Maluku
32) Provinsi Maluku Utara yang beribukota di Kota Ternate
https://id.wikipedia.org/wiki/Maluku_Utara
33) Provinsi Papua Barat yang beribukota di Kota Kota Manokwari
https://id.wikipedia.org/wiki/Papua_Barat
34) Provinsi Papua yang beribukota di Kota Jayapura
https://id.wikipedia.org/wiki/Papua

B. Peran Daerah dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia


1 Peran Daerah dalam Perjuangan Kemerdekaan
Kondisi kemiskinan, penderitaan dan keterbelakangan bangsa Indonesia
akibat penjajahan telah mendorong dan melahirkan putra-putri daerah dari Sabang
sampai Merauke untuk memperjuangkan dan mengembalikan kemerdekaan
melalui pemberontakan terhadap pemerintah kolonial. Untuk mengabadikan
semangat perjuangan putra-putri bangsa, pemerintah telah menetapkan para
pejuang sebagai pahlawan bangsa seperti Sultan Iskandar Muda, Tjut Nyak Dien
(Aceh), Si Singa Mangaraja (Batak- Sumatra Utara), Imam Bonjol (Minangkabau-
Sumatra Barat), Sultan Ageng Tirtayasa (Banten), Sultan Agung (Jawa Tengah),
Untung Suropati (Jawa Timur), Jalantik (Bali), Anak Agung Gede (lombok),
Pangeran Antasari (Kalimantan), Sultan Hasanudin (Makasar Sulawesi Selatan),
Pattimura (Ambon- Maluku) dan sebagainya.
Perjuangan dan pemberontakan putra-putri daerah untuk mengusir penjajah
di atas mengalami kegagalan, namun semangatnya tidak pernah padam seperti
maksud peribahasa “Patah tumbuh hilang berganti ; Mati satu tumbuh seribu”.

12
Ditilik dari sisi ketahanan nasional, kegagalan perjuangan tersebut disebabkan oleh
kombinasi dari faktor-faktor berikut :
a. Pemerintah kolonial menerapkan politik pemecah-belahan terhadap rakyat
(devide et impera)
b. Perjuangan dan pemberontakan bersifat kedaerahan atau lokal sehingga
mudah dipatahkan oleh pemerintah kolonial
c. Para pejuang kalah dalam sistem persenjataan baik sistem senjata
tehnologi/fisik (SISTEK) maupun sistem senjata sosial/psikologi (SISSOS).
d. Pemerintah kolonial melakukan tipu muslihat (politicking ; politik curang)
melalui janji-janji perundingan tetapi justru digunakan untuk menjerat dan
menangkap para pejuang

Kegagalan perjuangan putra-putri daerah tersebut telah mengilhami adanya


pemikiran baru dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui jalur
nonfisik yang dipelopori oleh Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908. Ide dasar
Budi Utomo adalah memajukan bangsa dan menumbuhkan semangat nasionalisme
melalui jalur pendidikan sehingga bangsa Indonesia mampu mengurus negara yang
merdeka dengan kekuatan sendiri. Gagasan Budi Utomo selanjutnya menggugah
dan mendorong lahirnya berbagai organisasi politik seperti Sarikat Islam, NU,
Muhammadiyah, PNI, Parkindo dan sebagainya. Perjuangan baru/nonfisik yang
dirintis Budi Utomo tersebut selanjutnya dikenang dan diabadikan sebagai
Angkatan 08 Atau Angkatan Perintis, yang setiap tahun diperingati sebagai hari
Kebangkitan Nasional.
Berdirinya organisasi sosial politik pasca Budi Utomo meskipun azasnya
berbeda-beda, namun seluruhnya memiliki tujuan dan tekad yang sama yaitu
mencapai kemerdekaan Indonesia. Perwujudan rasa persatuan dan kesatuan
sebangsa setanah air mencapai puncaknya pada Kongres Pemuda yang
menghasilkan Ikrar Pemuda atau Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.
Kongres Pemuda yang merupakan upaya mempersatukan pemuda dari berbagai
daerah menghasilkan keputusan penting bagi kelanjutan perjuangan dan berdirinya
NKRI sebagaimana yang dinikmati bangsa Indonesia sekarang ini. Keputusan
dikenal dengan Sumpah Pemuda yang berisi pernyataan : Kami Putra-Putri
Indonesia, mengaku :
a. Bertumpah darah yang satu tanah (air) Indonesia
b. Berbangsa satu bangsa Indonesia

13
c. Menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia

Pada saat itu pula, untuk pertama kali dikumandangkan Lagu Kebangsaan
Indonesia Raya ciptaan W.R. Supratman, yang selanjutnya ditetapkan sebagai Lagu
Kebangsaan Indonesia
Kongres Pemuda 28/10/’28 dalam hukum dan ketata negaraan Indonesia
mempunyai kedudukan yang sangat penting dan sebagai tonggak perjuangan
strategis dalam mewujudkan Integrasi Nasional sehingga Sumpah Pemuda
memiliki kekuatan yang mengikat bagi segenap komponen bangsa untuk
mempertahankan dan mengamankannya selama mungkin. Jika dicermati secara
teliti dan hati-hati, maka inti Kongres Pemuda adalah tuntutan Indonesia merdeka,
berparlemen dan berpemrintahan sendiri. Untuk mengenang sumpah pemuda
tersebut maka tonggak sejarah tersebut dinamakan Angkatan Penegas Atau
Angkatan 28.
Kedatangan Jepang pada tahun 1942, yang pada awalnya dianggap sebagai
saudara tua dan juru selamat, ternyata yang terjadi justru sebaliknya. Pemerintah
dan tentara Jepang bertindak kejam, bengis dan keji terhadap rakyat Indonesia.
Sekali lagi bangsa Indonesia dimatangkan oleh sejarah, di mana penjajahan selalu
menyebabkan kehidupan bangsa menjadi tertindas, menderita, sengsara, miskin,
melarat, terbelakang dan dinistakan. Belajar dari pengalaman dijajah Belanda dan
Jepang tersebut maka semangat dan tekad bangsa Indonesia semakin mengkristal
sehingga pemberontakan terjadi di berbagai daerah, seperti pemberontakan PETA
di Tasikmalaya dan Blitar. Kedatangan Jepang semakin memantapkan nasionalitas
dan nasionalisme bangsa, serta perjuangan fisik dan nonfisik untuk menyiapkan
berbagai perangkat menuju Indonesia merdeka. Dengan berakhirnya perang dunia
II, Jepang mengalami kekalahan besar dan takluk kepada sekutu sehingga
Indonesia mengalami kevakuman pemerintahan. Kondisi ini segera dimanfaatkan
oleh Ir Soekarno (Bung Karno) dan Drs. Muhammad Hatta (Bung Hatta), untuk
memproklamasikan kenerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.

2 Peran Daerah dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia Saat Ini
Masih ingat Kamu akan unsure-unsur negara yag menjadi syarat berdiri
suatu Negara? Menurut Konvensi Montevideo tahun 1933 yang diselenggarakan
oleh negara-negara Pan-Amerika di Kota Montevideo, bahwa suatu negara harus

14
mempunyai unsur-unsur : a) penduduk yang tetap, b) wilayah/daearah tertentu, c)
pemerintah, dan d) kemampuan mengadakan hubungan dengan negara lain.
Sedangkan Oppenheim-Lauterpacht berpandangan bahwa unsur-unsur pembentuk
(unsur konstitutif ) negara adalah a) harus ada rakyat, b) harus daerah (wilayah),
dan c) pemerintah yang berdaulat. Selain unsur tersebut ada unsur lain yaitu adanya
pengakuan oleh negara lain sebagai unsur deklaratif .
Terbentuknya suatu negara akan didahului oleh terbentuknya suatu daerah.
Oleh karena itu, terdapat suatu keterkaitan yang erat antara Negara dan Daerah.
Berdasarkan hal tersebut, maka kedudukan daerah adalah sebagai cikal bakal bagi
terbentuknya Negara sekaligus sebagai satuan territorial dan satuan pemerintahan
yang terbawah, termasuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kenyataan
yang terjadi adalah, pengaturan dalam Konstitusi hanya membagi NKRI yang
terbagi atas daerah provinsi dan kabupaten/kota, sedangkan didalam pemerintahan
kabupaten/kota terdapat pemerintahan desa. Hal tersebut membuat kedudukan desa
dalam NKRI menjadi tidak jelas.
Bukti bahwa kedudukan daerah adalah sebagai cikal bakal bagi terbentuknya
Negara adalah ketika PPKI pada tanggal 19 Agustus 1945 yang menetapkan
pembagian wilayah pemerintaan Republik Indonesia di daerah dalam susunan
teritorial yang terdiri dari Provinsi, Keresidenan, Kotapraja (Swapraja), dan Kota
(Gemeente) sebagai berikut: 1) Daerah Republik Indonesia dibagi atas 8 (delapan)
Provinsi, yaitu; Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, Kalimantan,
Sulawesi, Maluku, dan Sunda Kecil; 2) Provinsi dibagi kedalam Keresidenan-
keresidenan; 3) Kedudukan Kooti dan Kota diteruskan sesuai keadaan saat itu.
Adapun pembagian wilayah Negara Republik Indonesia saat berdasarkan Undang-
undang Nomor 5 Tahun 1974 yakni 1) Propinsi; 2) Kabupaten/Kota
(administrative), 3) Kecamatan dan 4) Desa.
Kemajuan daerah berpengaruh postif bagi kemajuan bangsa. Itulah sebabnya
melalui Undang Undang Pemerintah Daerah, negara menerapkan asas
desentralisasi dan otonomi kepada daerah. Pemberian desentralisasi dan otonomi
kepada daerah, memungkinkan setiap daerah untuk berkembangnya
keberagaman daerah sesuai dengan potensi, budaya dan kekayaan yang
dimiliki daerah masing-masing yang berdampak bagi peningkatan kesejahteraan
masyarakat yang ditandai dengan peningkatan indeks pembangunan manusia dan
peningkatan kesehatan, pendidikan dan pendapatan masyarakat.

15
Agar pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah ini berhasil dengan
baik, selanjutnya Litvack & Seddon (dalam Wasistono 2002:19) diperlukan adanya
lima kondisi, yaitu:
a. Kerangka kerja desentralisasi harus memperlihatkan kaitan antara
pembiayaan lokal dan kewenangan fiskal dengan fungsi dan tanggungjawab
pemberian pelayanan oleh Pemerintah Daerah.
b. Masyarakat setempat diberi informasi mengenai kemungkinan-kemungkinan
biaya pelayanan serta sumber-sumbernya, dengan harapan keputusan yang
diambil oleh Pemerintah Daerah menjadi lebih bermakna.
c. Masyarakat memerlukan mekanisme yang jelas untuk menyampaikan
pandangannya sebagai upaya mendorong partisipasinya
d. Harus ada sistem akuntabilitas yang berbasis publik dan informasi yang
tranparan yang memungkinkan masyarakat memonitor kinerja Pemerintah
Daerah
e. Harus didesain instrumen desentralisasi seperti kerangka kerja institusional,
struktur tanggungjawab pemberian pelayanan dan sistem fiskal antara
pemerintah.

16