Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENGUKURAN CONNECTING ROD 1.1 DASAR TEORI 1.1.1.

Pengertian Pengukuran Linear Perkembangan komponen industri dalam bidang permesinan pada era industrialisasi saat ini berkembang dengan cepat yang ditandai dengan munculnya komponen-komponen baru. Oleh karena itu dibutuhkan alat yang mampu untuk mengukur suatu komponen dengan sangat teliti, mudah untuk menggunakannya, dan menghasilkan hasil pengukuran yang akurat. Sebelum membahas lebih jauh tentang pengukuran baiklah terlebih dahulu dijelaskan istilah-istilah yang sering digunakan dalam metrologi (ilmu pengukuran). - Kemampubacaan (readability) adalah menunjukan berapa teliti skala suatu instrumen dapat dibaca. - Cacah terkecil (least count) adalah beda terkecil antara dua penunjukan yang dapat dideteksi (dibaca) pada skala instrumen. - Ketelitian (accuracy) instrumen menunjukan deviasi atau penyimpangan terhadap masukan yang diketahui. - Ketepatan atau presisi suatu instrumen adalah menunjukan kemampuan instrumen itu menghasilkan kembali bacaan tertentu dengan ketelitian yang diketahui. - Histerisis adalah perbedaan yang timbul sewaktu dilakukan pengukuran secara berkesinambungan dari dua arah yg berlawanan Hal yang berkaitan dengan permasalahan pengukuran aspek geometri bagi suatu benda ukur yang meliputi : - Satuan pengukuran dan besaran standar panjang; termasuk pendefinisian dan pengkalibrasian standar panjang praktis. - Jenis dan cara pengukuran; termasuk pembahsan mengenai klasifikasi umum alat ukur.

- Kontruksi umum alat ukur; mengenai komponen komponen utama yang membentuk alat ukur atau ulasan mengenai prinsip kerja alat ukur secara umum. - Beberapa definisi istilah yang penting mengenai sifat sifat alat ukur. - Penyimpangan yang dapat terjadi sewaktu proses pengukuran berlangsung. - Analisis dari pengukuran dengan metoda statistik; untuk menganalisis data hasil pengukuran sehingga mempunyai arti yang jelas, atau bagaimana data pengukuran diolah sehingga memperoleh informasi sebagai kesimpulan yang dianggap paling baik. (Taufiq Rochim hal.77 , Spesifikasi, Metrologi Industri dan Kontrol Kualitas,2001) 1.1.2. Jenis-jenis Alat Ukur Linear Alat ukur yang sering digunakan untuk melakukan pengukuran Connecting Rod yaitu: a. Vernier Caliper / Jangka Sorong / Mistar Ingsut

Gambar.2.1. Vernier Caliper / Jangka Sorong b. Coordinate Measuring Machine (CMM)

Gambar.2.2. Mesin CMM

1.1.3. Cara Menggunakan Macam-Macam Alat Ukur Linear a. Vernier Caliper / Jangka Sorong / Mistar Ingsut Digunakan untuk mengukur dimensi bagian dalam dan luar suatu benda. Vernier terdiri dari bilah utama dan bilah pembantu. Bilah Utama dibagi dalam milimeter. Bilah pembantu dibagi 100. 100 garis pada bilah pembantu sama dengan 49 milimeter pada bilah utama. Jadi panjang satu garis pada bilah pembantu adalah = 100/49 mm. Bila suatu garis bilah pembantu berhimpit dengan suatu tanda pada skala utama, maka harga ukurnya adalah jumlah skala dihitung dari angka 0 x 0,02 mm. Cara penggunaan Vernier Caliper yaitu: a. Membuka pengunci ke kanan b. Menggeser rahang gerak sesuai dengan ukuran benda c. Mencekamkan rahang gerak pada benda ukur kemudian mengunci Vernier Caliper dengan memutar pengunci ke kiri. d. Membaca skala yang ditunjukkan oleh skala utama yang berhimpit dengan angka nol, kemudian membaca skala noniusnya.

Gambar.2.3. Gambar dan bagian-bagian dari vernier caliper (Sumber: Diktat Kuliah Alat Bantu dan Alat Ukur, Univ.Darma Persada Jakarta)

Skala Utama

Skala Nonius

Skala Nonius

Gambar.2.4. Cara pembacaan Skala Utama dan skala Nonius pada Vernier Caliper (Sumber: Diktat Kuliah Alat Bantu dan Alat Ukur, Univ.Darma Persada Jakarta) 1.1.4. Aplikasi Alat Ukur Linear Dalam Bidang Industri/Kehidupan Seharihari 1.1.5. Jenis-Jenis Alat Ukur Sudut Alat ukur yang sering digunakan untuk melakukan pengukuran sudut yaitu: a. Busur Bilah skala nonius (Bevel Protactor) Busur Bilah (Bevel Protactor) merupakan alat yang digunakan dalam pengukuran sudut yang memiliki tingkat ketelitian yang tinggi.

Gambar 2.5. Busur Bilah skala nonius Busur baja merupakan alat untuk mengukur sudut yang sering digunakan. Alat ini mempunyai kecermatan sebesar 1o. alat ini terbuat dari baja. Terdapat bagian busur dan cantilever. b. Batang Sinus (since bar) Digunakan untuk mengukur sudut dengan teliti atau untuk mengukur kedudukan benda kerja. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan azas

trigonometri. Hasil ukur dicari dengan menggunakan rumus : sn = (h1-h2)/L Tinggi h1 dan h2 diukur dengan balok ukur. Balok ukur berbentuk persegi panjang, bulat atau persegi empat, mempunyai dua sisi sejajar dengan ukuran yang tepat. Dibuat dari baja perkakas, baja khrom, baja tahan karat, khrom karbida atau karbida tungsten. Digunakan sebagai pembanding pengukur teliti untuk mengukur perkakas, pengukur dan die dan sebagai standar laboratorium induk untuk mengukur ukuran selama produksi. Ukuran blok ukur karbida yang terdiri dari 88 blok : - 3 blok : 0,5; 1,00; 1,0005 mm - 9 blok dengan imbuhan sebesar 0,001 mm mulai dari 1,001 hingga 1,009 - 49 blok dengan imbuhan sebesar 0,01 mm dari 1,01 hingga 1,49 mm - 17 blok dengan imbuhan sebesar 0,5 mm dari 1,5 hingga 9,5 mm - 10 blok dengan imbuhan sebesar 10 mm dari 10 hingga 100 mm. (Arifin, Syamsul. 1981. Alat Alat Ukur dan Mesin Mesin Perkakas.Jakarta: Yudhistira.)

Gambar. 2.6. Batang Sinus (Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki) c. Coordinat Measuring Machine (CMM) Merupakan alat ukur geometrik modern dengan memanfaatkan computer untuk mengontrol gerakan sensor relatif terhadap benda ukur serta

untuk menganalisis data pengukuran. CMM merupakan Instalasi untuk mengukur macam-macam jenis pengukuran dengan menggunakan arah X, Y dan Z. Secara garis besar, konstruksi CMM dibagi menjadi 3 bagian: Unit mesin Instalasi pengolah data (PC/Softwear) Probe (touch probe, copy probe, un-direct probe, dsb)

Gambar. 2.7. Coordinate Measuring Machne (CMM) (Sumber: Laboratorium Metrologi Industri) 1.1.6. Cara Menggunakan Macam-Macam Alat Ukur a. Busur Bilah Tiga hal penting yang harus diperhatikan dalam penggunaan busur bilah adalah: 1. Permukaan benda ukur dan permukaan kerja dari busur bilah harus bersih. Adanya debu atau geram dapat menyebabkan kesalahan pengukuran ataupun dapat merusakkan busur bilah. Aturlah kedudukan dari bilah utama dengan memakai kunci bilah. 2. Bidang dari busur bilah harus berimpit atau sejajar dengan bidang dari sudut yang diukur (bidang normal). Apabila kondisi ini tidak dipenuhi , maka harga sudut yang dibaca pada busur bilah mungkin lebih kecil dari sudut benda ukur.

3. Sisi kerja dari pelat dasar dan salah satu sisi dari bilah utama harus betulbetul berimpit dengan permukaan benda ukur, tidak boleh ada celah. Dikunci kemudian kita baca hasilnya. (Diktat Kuliah Alat Bantu dan Alat Ukur Univ. Darma Persada Jakarta,2005) b. Batang Sinus (Sinus Bar) Batang sinus berupa suatu batang baja dengan dua buah rol yang dilekatkan pada kedua ujungnya pada sisi bawah. Batang dan rol tersebut dikeraskan dan diasah halus pada permukaannya yang penting. Kedua rol mempunyai kesamaan diameter dan kesilindrisan dengan toleransi sekitar 0,003mm. (Wikipedia.com) Batang sinus diletakkan pada meja rata, kemudian denda ukur diletakkan dipermukaan atas dan menempel pada sisi penahan. Ujung dari batang sinus yang tidak berpenahan diangkat dan diberi suatu blok ukur dengan tinggi yang sudah diketahui tepat dibawah ujung tersebut. Sebelum pengukuran dimulai maka tinggi dari blok ukur harus benar-benar sudah diketahui, kemudian dengan mengukur sudut menggunakan busur bilah. Setelah didapat harga sinusnya maka dapat dicari panjang masing-masing komponen.

Gambar. 2.8. Proses pengukuran dengan batang sinus Dengan menggunakan jam ukur, ini digunakan untuk mengukur dari kesejajaran benda kerja terhadap meja kerja. Apabila terdapat kesalahan maka

tinggi dari blok harus dipertimbangkan lagi karena tinggi yang sebenarnya sudah berubah. Perubahannya dapat dicari : y= d x L/I ; dimana : y = perubahan tinggi d = harga yang ditunjukkan dari jam ukur L = jarak antara center nol I = jarak pergeseran jam ukur. Dan tingginya harus ditambah dengan hasil perhitungan diatas (H Y). Jika dalam pengukuran linier kita kenal standard panjang yaitu blok ukur, maka dalam pengukuran sudut dibuat suatu alat ukur standard sudut yang disebut blok sudut. Dimensi setiap blok sudut kurang lebih mempunyai panjang dan lebar sebesar 76 x 16 mm. dibuat dari baja yang dikeraskan dan mempunyai kstabilan dimensi yang baik. Satu set blok sudut biasanya terdiridari 13 buah dengan berbgai ukuran sudut. Beberapa blok sudut dapat disusun sehingga didapat 2 permukaan yang mempunyai sudut tertentu sesuai dengan yang dikehendaki. Dari ke-13 blok tersebut, hampir semua sudut yang dikehendaki dapat dibuat, hal ini disebabkan karena kita dapat mencapainya dengan pengurangan dan penjumlahan. Balok ukur berbentuk persegi panjang, bulat atau persegi empat, mempunyai dua sisi sejajar dengan ukuran yang tepat. Dibuat dari baja perkakas, baja khrom, baja tahan karat, khrom karbida atau karbida tungsten. Digunakan sebagai pembanding pengukur teliti untuk mengukur perkakas, pengukur dan die dan sebagai standar laboratorium induk untuk mengukur ukuran selama produksi. Ukuran blok ukur karbida yang terdiri dari 88 blok : - 3 blok : 0,5; 1,00; 1,0005 mm - 9 blok dengan imbuhan sebesar 0,001 mm mulai dari 1,001 hingga 1,009 - 49 blok dengan imbuhan sebesar 0,01 mm dari 1,01 hingga 1,49 mm

- 17 blok dengan imbuhan sebesar 0,5 mm dari 1,5 hingga 9,5 mm - 10 blok dengan imbuhan sebesar 10 mm dari 10 hingga 100 mm. (Arifin, Syamsul. 1981. Alat Alat Ukur dan Mesin Mesin Perkakas.Jakarta: Yudhistira.)

Gambar 2.9. Blok ukur Pada setiap blok sudut selain dicantumkan harga nominal sudutnya maka dituliskan pula 2 buah tanda (+) dan () pada kedua sisinya atau tanda sudut (<) pada salah satu sisinya, guna mempermudah penyusunan (penambahan atau pengurangan). Benda ukur diletakkan diatas meja rata sisi atas, sudut antara salah satu permukaan benda ukur terhadap meja rata atau bidang dasar dapat ditentukan dengan cara menyusun blok sudut dan kemudian diletakkan disamping benda ukur. Harga sudut benda ukur terlebih dahulu diperkirakan dengan memakai busur bilah (sampai kecermatam 5). Tinggi permukaan benda ukur dengan muka ukur yang teratas dari blok sudut diatur supaya berimpit dengan cara menggeserkan susunan blok sudut atau dengan bantuan blok ukur untuk mempertinggi salah satu permukaan yang dibandingkan. Kemudian kesejajaran anatara permukaan benda ukur dengan muka ukur dari blok sudut yang teratas diperiksa dengan pisau lurus (straight edge). Apabila masih terlihat adanya celah ,maka susunan blok sudut harus diubah dan pemeriksaan kesejajaran diulangi lagi sampai tidak terjadi celah. (Diktat Kuliah Alat Bantu dan Alat Ukur Univ. Darma Persada Jakarta,2005)

c. Coordinate Measuring Machne (CMM) Cara mengukur sudut dengan Coordinate Measuring Machine (CMM) adalah 1. Nyalakan Coordinate Measuring Machine (CMM) 2. Pilih F8 untuk menu pengukuran sudut 3. Kenakan sensor CMM ke 4 titik 2 1 4 3

Gambar 2.10. pengukuran Benda Kerja CMM 4. Hasil akan keluar otomatis di layar CMM d. Rumus Perhitungan Pengukuran Sudut = 1800 ( + ) ... (1) = (1800 ) .. (2) H = L.sin ... (3) Y = d x L/I... (4) = arc sin (H/L) . (5) (Sumber: Modul Praktikum Metrologi Industri, Univ.Diponegoro Semarang)

1.1.7. Aplikasi Alat Ukur Sudut Dalam Bidang Industri \ Kehidupan Seharihari. 1.1.8. Pengertian CMM Merupakan alat ukur geometrik modern dengan memanfaatkan computer untuk mengontrol gerakan sensor relatif terhadap benda ukur serta untuk menganalisis data pengukuran. CMM merupakan Instalasi untuk mengukur macam-macam jenis pengukuran dengan menggunakan arah X, Y dan Z. Secara garis besar, konstruksi CMM dibagi menjadi 3 bagian: Unit mesin Instalasi pengolah data (PC/Softwear) Probe (touch probe, copy probe, un-direct probe, dsb) (http://en.wikipedia.org/wiki/CMM ) 1.1.9. Pengertian dan Fungsi Conecting Rod A. Pengertian Connecting Rod Connecting Rod adalah batang yang menghubungkan piston dengan crankshaft dan membentuk mekanisme sederhana yang mengubah gerakan linier ke gerakan berputar B. Fungsi Connecting Rod Batang piston berfungsi menghubungkan piston dengan poros engkol, sehingga gerak bolak-balik piston dapat diubah menjadi gerak putar oleh poros engkol. 1.2. TUJUAN PENGUKURAN CONNECTING ROD 1.2.1. Tujuan Umum a. Mengetahui cara atau teknik mengukur diameter dalam dan luar b. Mengetahui jenis-jenis alat ukur. 1.2.2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui jenis-jenis alat ukur linier. b. Mampu memilih atu menetapkan serta menggunakan beberapa alat ukur pada suatu proses pengukuran. c. Membandingkan hasil pengukuran dari beberapa alat ukur linear. 1.3 PERALATAN DAN BENDA UKUR 1.3.1. Gambar Alat dan Benda Ukur a. Vernier Caliper / Jangka Sorong / Mistar Ingsut (kecermatan 0,02 mm).

Gambar 2.11. Vernier Caliper / Jangka Sorong b. Coordinate Measuring Machine (CMM) (kecermatan 0,001 mm).

Gambar. 2.12. Coordinate Measuring Machine (CMM) c. Benda Ukur Praktikum

Gambar 2.13. Connecting Rod 3D

Gambar 2.14. Connecting Rod 2D 1.3.2. Prosedur Kalibrasi dan Perawatan Alat Ukur A. Prosedur Kalibrasi a) Vernier Caliper Dengan menghimpitkan rahang gerak dan rahang tetap, kemudian lihat skala utama dan nonius harus berimpit dititik nol. b) CMM Kalibrasi CMM dapat dilakukan dengan cara setting nol, yaitu dengan melakukan pengukuran pada bola pejal yang sudah diketahui dimensinya (X=300, Y=500, Z=300). Apabila skala yang tertera pada layar digital CMM sama dengan ukuran bola pejal (yang telah diketahui dimensinya) maka CMM tersebut telah dikalibrasi. B. Perawatan Alat Ukur 1. Membersihkan alat ukur dan peralatan lainnya 2. Melapisi alat ukur, benda kerja dan peralatan lainnya yang cenderung dapat berkarat dengan vaselin 3. Menyimpan peralatan praktikum pada tempatnya

4. Meminta asisten praktikum untuk memeriksa kelengkapan alat dan membubuhkan tanda tangan pada kartu alat 5. Merapikan dan membersihkan ruangan/tempat praktikum sebelum meninggalkan ruangan praktikum 1.3.3. Prosedur Pengukuran Connecting Rod A. Persiapan Pengukuran 1. Mempersiapkan tempat pengukuran 2. Menuliskan data ruangan pada lembar kerja, tabel 1. Data tersebut meliputi: temperature awal dan kelembaman ruangan. 3. Memeriksa keberadaan alat sesuai dengan daftar pada kartu alat. Melengkapi kartu alat, bila alat ukuryang ada tidak sesuai dengan yang terdaftar pada kartu alat segera menghubungi asisten praktikum 4. Bersihkan semua alat ukur dengan menggunakan kertas pembersih yang dibasahi dengan bensin pencuci. B. Pengukuran dengan Vernier Caliper ( jangka sorong ) 1. Mempelajari cara penggunaan Vernier Caliper yang digunakan. 2. Menuliskan data Vernier Caliper yang digunakan pada lembar kerja, tabel 2. Data meliputi merk, kecermatan, dan kapasitas ukur Vernier Caliper 3. Mempelajari fungsi masin masing bagian dari Vernier Caliper (khususnya kemampuan masing masing Vernier Caliper dalam mengukur obyek ukur. 4. Mempelajari gambar benda kerja pada gambar 1. Melakukan proses pengukuran berdasarkan bimbingan dari asisten. 5. Menulis hasil pengukuran pada lembar kerja.

1.4 PEMBAHASAN Tabel 1. Data Praktikum Tanggal : 29 Mei 2011 Temperatur Awal : 20oC Kelembaban : Tabel 2. Data Alat Ukur Nama Alat Ukur 1. Vernier caliper 2. Outside Micrometer 3. Steel rule 4. CMM 353 Mitutoyo Vogel MERK Kecermatan ( mm ) 0.02 0.01 1 0.0001 Kapasitas Ukur ( mm ) 0-150 0-25 0-500 X=300 Y= 500 Z= 300 Waktu Temperatur Akhir : Pagi : 20oC

1.4.1. Data Pengukuran Linier Tabel 3. Data Pengukuran Connecting Rod Pengukuran dengan Vernier Caliper (mm)
Objek Ukur A B C D E F G H I 1 125,44 96,24 34.62 4,42 2,72 22,90 26 18,12 13,94 Hasil Pengukuran 2 125.46 96,23 34,64 4,42 2,74 22,88 26 18,10 13,94 3 125,44 96.10 34,64 4,44 2,74 22,90 26.02 18,12 13,92

(mm)

J K

6,62 13,94

6,64 13,94

6,60 13,92

Pengukuran dengan Steel Ruler


Objek Ukur A B C D E F G H I J K 1 125 96,5 34 4 2 23 27 18 14 7 14

(mm)
3 126 97 34 5 2 23 26 18 14 7 14

Hasil Pengukuran 2 125 96,5 34 4 2 22 26 19 14 7 14

Pengukuran dengan Mikrometer Sekrup (mm)


Objek Ukur A B C D E F G H I J K 1 125,59 96,66 34,69 4,78 3,13 23,12 25,13 16,91 13,97 6,60 14,20 Hasil Pengukuran 2 125,60 96,66 34,70 4,77 3,13 23,12 25,16 16,91 13,96 6,75 14,22 3 125,60 96,67 34,70 4,78 3,12 23,11 25,14 16,87 13,96 6,74 14,21

Pengukuran dengan CMM Obyek Ukur A B C D E F G Hasil Pengukuran (mm) 125,2124 96,6814 34,7576 4,0084 2,3542 23,2532 26,0886

H I J K

18,0324 14,1110 6,9010 14,0822

1.4.2. Analisis 1. a) Alat ukur yang mempunyai kecermatan adalah alat ukur yang mampu mengukur benda ukur pada kecermatan tertentu sesuai dengan skala terkecil pada suatu alat ukur. b) Alat yang paling cermat yaitu Coordinate Measuring Machine (CMM) karena memiliki nilai kecermatan yang tinggi dibandingkan alat ukur linear yang lainnya. c) Alat ukur yang paling tidak cermat yaitu Mistar ukur / penggaris d) Alat ukur yang digunakan adalah mistar ingsut/vernier caliper, dan Coordinate Measuring Machine (CMM). 2. Perbandingan hasil jumlah B+C+D+E+F dengan besarnya A terjadi selisih panjang/dimensi pada tiap pengukuran menggunakan alat ukur linear yang berbeda-beda.. Pengukuran pada A lebih mudah dan tidak serumit pada B,C,D,E,dan F sehingga setiap obyek yang diukur memungkinkan terjadinya kesalahan (error). Dan selisih tersebut merupakan error yang terjadi dalam pengukuran. 3. Untuk pengukuran dengan menggunakan CMM terjadi penyimpangan pengukuran antara dimensi A dengan dimensi B,C,D,E dan F. Hali ini dikarenakan penyentuhan jarum sensor pada benda ukur tidak tepat. Kemungkinan kesalahan terbesar terjadi saat pengukuran lingkaran. Selain itu, penyimpangan hasil dapat disebabkan oleh fungsi formulasi yang digunakan

Jenis Alat Ukur Vernier Caliper / Mistar ingsut

Keuntungan dan Kerugian Alat Ukur Kecermatan Keuntungan 0,02 mm 1. Mudah Penggunaanya 2. Mampu mengukur obyek dengan bentuk rumit Paling teliti Mudah digunakan dan dibaca 3. Mampu melakukan berbagai macam pengukuran

Kerugian 1.Kurang cermat

CMM

0,0001 mm

1. 2.

1. 2.

Harga yang Sulit dibawa

mahal kemana-mana

1.5 KESIMPULAN DAN SARAN 1.5.1. Kesimpulan Perbandingan dari hasil-hasil pengukuran yang didapat adalah masingmasing alat ukur mempunyai kekurangan dan kelebihannya masing-masing, sehingga hasil ukurnya bervariasi walaupun perbedaan itu tidak terlalu mencolok. Pada penggunaan alat otomatis (CMM) cenderung lebih cermat dibanding dengan penggunaan peralatan manual (mistar ingsut, mikrometer, dan mistar ukur/penggaris). Keakuratan pada penggunaan mesin CMM lebih cermat dibanding dengan penggunaan mistar ingsut.. Alat ukur dari yang kecermatannya rendah ke kecermatannya tinggi yaitu vernier caliper, dan CMM. Penggunaan mesin CMM dengan kalibrasi yang tepat ataupun mendekati juga turut andil dalam menentukan keakuratan dalam pengukuran.

Pada penggunaan alat-alat ukur, kecermatan hasil ukuran tergantung dari keadaan alat ukur yang digunakan . Tetapi jika dibandingkan, penggunaan msin CMM dapat dikatakan sebagai alat yang paling cermat karena dengan mesin yang sudah mutakhir akan diperoleh hasil yang lebih tepat dengan catatan kalibrasi alat yang tepat dan benda yang diukur tak mngalami pergeseran Mistar ingsut dan CMM dapat digunakan untuk mengukur seluruh profil yang ada pada benda kerja. Sedangkan Mikrometer memiliki keterbatasan dalam mengukur profil D,F,dan H. 1.5.2. Saran 1. Agar hasil pengukuran memuaskan, sebaiknya alat ukur harus dirawat dengan baik agar tetap valid. 2. Praktikan sebaiknya lebih teliti dan serius dalam membaca dan mengukur dalam pengukuran sehingga kesalahan dalam pembacaan skala dapat dikurangi. 3. Sebaiknya asisten selalu mendampingi praktikan agar pengukuran dapat berjalan cepat, lancar, dan efisien. DAFTAR PUSTAKA Diktat Kuliah Alat Bantu dan Alat Ukur, Univ. Darma Persada Jakarta, 2005) Rochim, Taufiq & Wirjomartono, S.H. 2001. Spesifikasi Geometris Metrologi Industri & Kontrol Kualitas.Bandung: ITB Press. http://en.wikipedia.org/wiki/Caliper http://wikimediafoundation.org/