Anda di halaman 1dari 19

EVALUASI KINERJA SAHAM INDUSTRI PERTAMBANGAN ( Oleh : Aryo Dwiatmojo Raksa Buana / Universitas Mataram ) 1.1.

. Latar Belakang Keputusan Investasi (Decision Investment) di pasar modal merupakan suatu Keputusan yang membutuhkan analisis matang dalam penerapannya. Investor memiliki dua opsi dalam menilai kelayakan investasi di pasar modal. Opsi pertama yaitu menggunakan Pendekatan fundamental, baik yang sifatnya makro maupun yang bersifat mikro, pendekatan Fundamental cenderung mengarahkan analisisnya berdasarkan pada situasi dan

kondisi ekonomi, politik dan keamanan secara global dan juga tiap-tiap negara yang mengeluarkan Index Saham (Vibiznews.com), sementara

opsi kedua yaitu menggunakan pendekatan tekhnikal yang cenderung melihat volatilitas data histories yang kemudian dapat dijadikan acuan dalam memproyeksi harga sekuritas-sekuritas di pasar modal. Kedua pendekatan ini sangat membantu investor dalam menilai kelayakan investasi sekuritas di Pasar modal. Di dalam Pasar Modal salah satu Industri yang bermain di Pasar modal adalah Industri Pertambangan. Idustri Pertambangan memiliki prospek Investasi bagi Investor yang cukup menjanjikan. Karena Kinerja Industri ini cukup menggembirakan. Adapun Indikator yang dapat memberikan informasi terhadap Investor yang melirik Industri ini sebagai alternatif portofolio adalah sebagai berikut.

Sumber : Idx.co.id Berdasarkan grafik diatas terlihat bahwa sektor pertambangan di indonesia mengalami peningkatan beberapa tahun terakhir, grafik menunjukan adanya pergerakan harga saham-saham pertambangan yang menyebabkan indeks sektoral pertambangan terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2007 indeks berada pada level tertinggi 3.270,29, dan tahun 2008 mengalami penurunan pada level 887,68. pada tahun 2007 rata-rata transaksi mencapai angka diatas 4,3 triliun perhari, bahkan pada tahun 2008 sampai dengan semester pertama rata-rata transaksi harian meningkat

menjadi Rp.5,6 triliun. Meskipun pada semester II terjadi penurunan karena ada krisis suprime di Amerika yang mempengaruhi semua bursa didunia tidak terkecuali indonesia. Akan tetapi rata-rata transaksi di tahun 2008 masih lebih tinggi dibandingkan tahun 2007 yaitu sekitar 4,5 triliun. Dengan kondisi tersebut, signal yang dikirimkan kepada investor melalui Indeks harga saham Industri Pertambangan yang terus mengalami penguatan adalah suatu informasi yang dapat menjadi acuan dasar dalam memilih sektor pertambangan sebagai salah satu industri alternatif untuk berinvestasi di industri pertambangan bagi Investor. Disisi lain juga salah satu subindustri pertambangan yang cukup menggembirakan dan Prospektif adalah Industri batu bara. IEA memproyeksikan permintaan energi dunia akan meningkat sebesar 45% selama periode 2006-2030. Batubara akan menduduki posisi kedua terpenting sebagai pemasok sumber energi setelah minyak dan mengalami peningkatan permintaan hingga tiga kali lipat pada 2030. Sebesar 97% pemakaian batubara akan berasal dari negara negara non OECD (Organization For Economic Cooperation and Development) dimana dua pertiganya dikonsumsi oleh China. Meningkatnya peran batubara sebagai sumber energi sejalan dengan meningkatnya permintaan pembangunan pembangkit listrik di sejumlah kawasan yang didorong oleh pertumbuhan ekonomi dan pendapatan ( Economic Review, no 214 : 2008)

Dari grafik diatas terlihat bahwa Peran China sebagai negara pengekspor batubara mengalami penurunan yang cukup signifikan yakni dari 94 juta ton pada 2003 menjadi hanya 54 juta ton pada 2007 yang disebabkan meningkat tajamnya kebutuhan batubara domestik China. Sementara itu menurut Majalah Economic Review (2008) Dalam beberapa tahun terakhir, batubara telah memainkan peran yang cukup penting bagi perekonomian Indonesia. Sektor ini memberikan sumbangan yang cukup besar terhadap penerimaan negara yang jumlahnya meningkat setiap tahun. Pada 2004 misalnya, penerimaan negara dari sektor batubara ini mencapai Rp 2,57 triliun, pada 2007 telah meningkat menjadi Rp 8,7 triliun, dan diperkirakan mencapai Rp 10,2 triliun pada 2008 dan lebih dari Rp 20 triliun pada 2009. Sementara itu, perannya sebagai sumber energi pembangkit juga semakin besar. Saat ini sekitar 71,1% dari konsumsi batubara domestik diserap oleh

pembangkit listrik, 17% untuk industri semen dan 10,1% untuk industri tekstil dan kertas. Walaupun Kondisi yang cukup menggembirakan ini adalah signal yang baik bagi investor, akan tetapi bervariasinya Sub Industri seperti : Sub industri Pertambangan batu bara, sub Industri pertambangan minyak dan gas Bumi, Sub Pertambangan logam dan mineral lainnya, sub pertambangan Bebatuan, dan sub-sub industri lainnya, serta banyaknya Emiten yang bergerak dalam Industri pertambangan yang sama, menyebabkan Investor perlu mempertimbangkan Emiten mana serta di sub industri mana yang pantas untuk menanamkan investasi tidak langsungnya berupa pembelian saham-saham di sektor pertambangan. Oleh karena informasi berupa kondisi Ekonomi yang baik tidak cukup untuk menilai kelayakan investasi saham di sektor pertambangan, maka analisis Fundamental mikro perlu dilakukan untuk melihat pada Sub Industri mana serta Emiten mana keputusan Investasi itu akan dilakukan. Tulisan ini mencoba menilai kelayakan Investasi saham-saham di sektor pertambangan, dengan menggunakan tehnik fundamental yanitu Mv Model, dan Single Indeks model yang bertujuan untuk memberikan informasi bagi Investor apakah saham tersebut sebaiknya di portofolio atau tidak. 1.2. Perumusan Masalah Mengacu pada latar Belakang diatas, maka yang menjadi substansi permaslahan dalam tulisan ini adalah Saham-Saham manakah di Sektor Pertambangan yang layak menjadi pilihan Investasi berdasarkan penilaian saham secara individu, maupun portofolio

1.3.

Batasan Masalah Adapun batasan masalah dalam Penulisan ini yaitu : Ri = Captal gain/ Capital Loss. Artinya Ri (Return) diasumsikan sama dengan Capital gain/ capitall loss, karena pada dasarnya dalam Penilaian kinerja harian saham, Deviden yield tidak bisa dimasukan dalam perhitungan Ri (return) karena pembagian deviden berlangsung dalam kurun waktu tahunan. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode Ex-Post dimana E(Ri) (Ekspektasi Return) diukur berdasarkan return historisnya (Ri).

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teori Investasi Menurut Sunariyah (2003) investasi adalah penanaman modal untuk satu atau lebih aktiva yang dimiliki dan biasanya berjangka waktu lama dengan harapan mendapatkan keuntungan dimasa yang akan datang. Menurut Abdul Halim (2005), investasi merupakan penempatan sejumlah dana pada saat ini dengan harapan untuk memperoleh keuntungan dimasa mendatang Pengorbanan terjadi saat sekarang dan memiliki kepastian, sedangkan hasil baru akan diperoleh dikemudian hari dan besarnya tidak pasti. Umumnya investasi dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu investasi pada aset-aset finansial (financial assets) dan investasi pada asetaset riil (real assets). Investasi pada aset-aset finansial dilakukan dipasar

uang, misalnya berupa sertifikat deposito, commercial paper, surat berharga pasar uang dan lainya. Investasi dapat juga dilakukan di pasar modal, misalnya berupa saham, obligasi, waran, opsi dan lain-lain. Sedangkan investasi pada aset-aset riil dapat berbentuk pembelian aset produktif, pembelian pabrik, pembukuan pertambangan, pembukuan perkebunan dan lain-lain. Menurut Abdul Halim (2003), proses investasi menunjukkan bagaimana seorang investor membuat keputusan investasi pada efek-efek yang dapat dipasarkan dan kapan dilakukan, untuk itu diperlukan tahapan investasi sebagai berikut : (1). Menentukan tujuan investasi, (2) Melakukan analisa sekuritas, (3) Membentuk portofolio, (4) Mengevaluasi kinerja portofolio, dan (5) Merevisi kinerja portofolio Ada hubungan yang positif antara resiko dan keuntungan investasi. Pemodal yang bersedia menanggung resiko yang lebih besar akan mengalokasikan dananya pada sebagian besar sekuritas yang lebih beresiko. Jumlah dana yang akan diinvestasikan pun mempengaruhi keuntungan yang diharapkan dan resiko yang ditanggung. Pemodal yang meminjam dana dan menginvestasikannnya pada berbagai saham akan menanggung resiko yang lebih tinggi daripada pemodal yang menggunakan seratus persen modal sendirinya. 2.2 Return Realisasi (realized realisasi) Return Realisasi (realized realisasi) merupakan return yang telah terjadi (Jogiyanto;2003;109). Return realisasi dihitung berdasarkan data historis. Return realisasi penting karena digunakan sebagai pengukur kinerja dari perusahaan. Return historis juga berguna sebagai dasar penentuan return ekspektasi (expected return) dan resiko dimasa datang. Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut : Rit =
pt pt 1 pt i

Keterangan : Rit = Tingkat keuntungan Pt = Harga investasi sekarang Pt-1 = Harga investasi periode lalu 2.3 Return Ekspektasi (expected return) Return ekspektasi atau tingkat pengembalian yang diharapkan (expected return-ER) adalah rata-rata tertimbang dari berbagai pengembalian historis (Abdul Halim;2003;36) secara matematis ditulis sebagai berikut : E(Ri) =

( R
j =i

ij

N Dimana N adalah periode pengamatan


2.4 Resiko Resiko pengembalian merupakan besarnya penyimpangan yang diharapkan (Expected Return-ER) antara dengan tingkat tingkat

pengembalian aktual (actual return) semakin besar penyimpangan berarti semakin besar tingkat resikonya. (Abdul Halim;2003;42). Sedangkan menurut Suad Husnan (2003;48) resiko diartikan sebagai kemungkinan tingkat keuntungan yang diperoleh menyimpang dari tingkat keuntungan yang diharapkan. Resiko mempunyai dua dimensi, yaitu menyimpang lebih besar maupun lebih kecil dari yang diharapkan. Resiko dapat disimbolkan dengan deviasi standar atau dengan apabila dinyatakan dalam bentuk kuadrat disebut sebagai varian ( 2). Dengan rumus :
i 2

( Rij E ( Ri ) 2
j= 1

atau

i=

R
j =i

ij

E ( Ri ) 2 N

2.6 Jenis Resiko Menurut Abdul Halim (2003;42) Dikaitkan dengan tingkat preferensi investor terhadap resiko maka resiko dibedakan menjadi : 1. Investor yang menyukai resiko (risk seeker) 2. Investor yang netral terhadap resiko (risk neutral) 3. Investor yang tidak menyukai resiko atau menghindari resiko (risk averter) Investor yang menyukai resiko umumnya adalah investor yang apabila dihadapkan pada dua pilihan investasi yang memberikan tingkat pertumbuhan yang sama dengan resiko yang beda, maka investor akan lebih suka mengambil investasi dengan resiko yang lebih tinggi. Biasanya investor bersikap agresif dan spekulatif dalam mengambil keputusan karena mereka tahu bahwa hubungan tingkat pengembalian dan resiko adalah positif. Investor yang netral merupakan investor yang akan meminta kenaikan tingkat pengembalian yang sama untuk setiap kenaikan resiko. Investor jenis ini umumnya cukup fleksibel dan bersikap hati-hati (prudent) dalam mengambil keputusan investasi. Sedangkan investor yang tidak menyukai resiko atau biasanya investor ini lebih menghindari resiko dimana apabila dihadapkan pada dua pilihan investasi yang memberikan tingkat pengembalian yang sama dengan yang berbeda. Investor cenderung mengambil resiko yang lebih rendah dengan mempertimbangkan pengaruh invetasinya secara matang dan terencana. Sementara itu dalam konteks portofolio, resiko dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu : 1. Resiko Sistematik (Systematic Risk) 2. Resiko Tidak Sistematik (Unsystematic Risk) Resiko Sistematik merupakan esiko yang tidak dapat dihilangkan dengan melakukan diversifikasi, karena fluktuasi resiko ini dipengaruhi oleh faktor-faktor makro yang dapat mempengaruhi pasar secara keseluruhan. Misalnya perubahan tingkat bunga, kurs valuta asing dan kebijakan pemerintah Resiko ini bersifat umum dan berlaku bagi semua saham dalam bursa saham yang bersangkutan. Resiko ini juga disebut resiko yang tidak dapat didiversifikasi (undiversifiable risk) atau resiko pasar (market risk), atau resiko umum (general risk). Resiko tidak sistematik merupakan resiko yang dapat dihilangkan dengan melakukan diversifikasi, karena resiko ini hanya ada dalam satu

perusahaan atau industri tertentu. Resiko ini unik untuk suatu perusahaan, yaitu hal yang buruk terjadi disuatu perusahaan dapat diimbangi dengan hal yang baik terjadi diperusahaan lain, maka resiko ini dapat didiversifikasi dengan membentuk portofolio.Fluktuasi resiko ini besarnya berbeda-beda antara satu saham dengan saham yang lain. Karena perbedaan itulah maka masing-masing saham memiliki tingkat sensitivitas yang berbeda terhadap setiap perubahan pasar. Misalnya faktor struktur modal, sturktur aset, pemogokan buruh, tingkat likuiditas, tingkat keuntungan,tuntutan oleh pihak lain dan lain sebagainya. Resiko ini juga disebut sebagai resiko yang dapat didiversifikasi (diversifiable risk) atau resiko perusahaan (company risk), atau resiko spesifik (spesific risk) atau resiko unik (unique risk). 2.7. Single Index Model (Model Indeks Tunggal) Single index model didasarkan pada pengamatan bahwa harga dari suatu sekuritas berfluktuasi dengan indeks harga pasar. Secara khusus dapat diamati bahwa kebanyakan saham cenderung mengalami kenaikan harga jika indeks harga saham naik. Kebalikannya juga benar yaitu jika indeks harga saham turun, kebanyakan saham mengalami penurunan harga. Hal ini menyarankan bahwa return-return dari sekuritas mungkin berkorelasi karena adanya reaksi umum (common respons) terhadap perubahan-perubahan nilai pasar. (Jogiyanto;2003;231). Return dari sekuritas dapat dihubungkan secara linear dengan return dari indeks pasar yaitu (Jogiyanto; 2003; 232) E(Ri) = i + i.(Rm) Dimana : E(Ri) = Return ekspektasi sekuritas ke-i i = nilai ekspektasi dari return sekuritas yang independen terhadap return pasar i = Beta yang merupakan koefisien yang mengukur perubahan Ri akibat dari perubahan Rm Rm = Tingkat return dari indeks pasar, juga merupakan suatu variabel acak Model indeks tunggal membagi return dari suatu sekuritas kedalam dua komponen, yaitu : 1. Komponen return yang unik diwakili oleh yang independen terhadap return pasar 2. Komponen return yang berhubungan dengan return pasar yang diwakili oleh i . Rm. Bagian return yang unik ( i) hanya berhubungan dengan peristiwa mikro (micro event) yang mempengaruhi perusahaan tertentu saja, tetapi tidak mempengaruhi semua perusahaan-perusahaan secara umum. Misalnya pemogokkan karyawan, kebakaran, penemuan-penemuan dan lain sebagainya. Bagian return yang berhubungan dengan return pasar ditujukan oleh beta ( i) yang merupakan sensitivitas return suatu sekuritas terhadap return dari pasar. 2.7.1 Asumsi-asumsi Single Index Model

Menurut Jogiyanto (2003;235) asumsi-asumsi Single index Model adalah sebagai berikut : 1. Kesalah residu dari sekuritas ke-i tidak berkovari dengan kesalahan residu sekuritas ke-j atau ei tidak berkovari (berkorelasi) dengan ej untuk semua nilai dari i dan j. Secara metematis dapat ditulis sebagai berikut : Cov(ei,ej) = 0 2. Return indeks pasar (Rm) dan kesalah residu untuk tiap-tiap sekuritas (ei) merupakan varuabel-variabel acak. Oleh karena itu, diasumsikan bahwa ei tidak berkovari dengan return indeks pasar Rm. Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut: Cov(ei.Rm) = 0 2.7.2 Karakteristik Single Index Model Menurut Abdul Halim (2005;82-84), Single Index Model (Model Indeks Tunggal) mempunyai beberapa karakteristik antara lain : 1. Untuk efek individual a. E(Ri) = i + i (Rm) +ei Keterangan : E(Ri) = Tingkat pengembalian yang diharapkan (ER) atas efek i i = Bagaian dari tingkat pengembalian efek i yang tidak terpengaruh oleh perubahan pasar (konstana) i = Kepekaan tingkat pengembalian efek i terhadap tingkat pengembalian indeks pasar (parameter yang mengukur perubahan yang diharapkan pada Ri jika terjadi perubahan pasa Rm) Rm = Tingkat pengembalian dari indeks pasar ei = Faktor pengganggu yang tidak dimasukkan dalam model (residual error) b. i2 = i2 ( m2) + ei2
( Rmi Rm) Varian Rm = = N i= 1 (i, m)( )( ) i m Resiko pasar = i =
2 m
n 2

c. d.

Kovarians (i,j)

( )( )( ) i j m (i,j) = ()( ) i j
2

= ( i)( j)(

2 m

2. Untuk portofolio a. E(Rp) = p + p(Rm) Keterangan :


p

= =

X ( )
I i

X ()
I i i= 1
i 2

i= 1 n

p2 = Keterangan :

b.

2 m

) +Xi

ei

ei

(ei ) 2 = N i =1

III. Penentuan Sampel Penentuan sample dalam penelitian ini adalah dengan menggunkan metode non probability sampling ( metode purposive sampling ). Pada metode purposive sampling atau dapat juga disebut sebagai judgement sampling peneliti menghubungi dan mengumpulkan data atas dasar strategi dan kecakapan semata. (M. Teguh, 2001;157), sampel dalam penelitian ini adalah 5 emiten yang yang aktif dalam transaksi jual beli sahamnya, adapun 5 emiten dari Industri Pertambangan yang diambil adalah Emiten (RUIS) Radiant Utama Interinsco Tbk, (GTBO) Garda Tujuh Buana Tbk, (CNKO) Central Korporindo International Tbk, (ATPK) ATPK Resources Tbk, dan (KKGI) Resource Alam Indonesia Tbk. IV. ANALISIS/ HASIL 4.1. Penilaian Saham Individual 4.1.1. Perbandingan kinerja masing-masing Saham Emiten di Industri Pertambangan Tiap Emiten memiliki Kinerja yang berbeda dalam tiap priode penelitian. Terutama jika mengacu pada pembagian priode penelitian ini, dimana priode I yaitu pada triwulan IV tahun 2009, dan priode ke II pada triwulan I tahun 2010. maksud dari pembagian jumlah data ini adalah untuk mengetahui kinerja masing-masing saham Emiten setiap priode 3 bulan diakhir tahun 2009 dan 3 bulan diawal tahun 2010. adapun hasil perhitungannya adalah sebagai berikut : Tabel 1. Kinerja Kode Emiten RUIS triwulan IV tahun 2009, dan triwulan I tahun 2010, dengan melihat ekspektasi return, deviasi standar dan Koofesien variasi.
Perusahaan Tahun Return yang diharapkan E(Ri) Deviasi Standar (SD) Koofesien variasi (CV) RUIS 2009 0.00733735 8 0.05332726 7 7.2679113 23 2010 0.00747819 1 0.04315996 5 5.7714447 88

Sumber : Data diolah Berdasarkan tabel diatas, yang diperoleh dari hasil perhitungan lampiran III, maka kinerja saham kode Emiten RUIS pada triwulan IV tahun 2009 menunjukan hasil yang kurang baik, hal ini tercermin oleh nilai harapan penghasilan (return) yang bertanda negatif, yang artinya adalah bahwa saham emiten menunjukan terjadinya capital loss/ kerugian bagi investor jika menanamkan investasinya pada saham tersebut. Pilihan bagi investor pada kondisi ini adalah mencari nilai E(Ri)/ Ekspected return dari saham Emiten

yang memilki nilai negatif terkecil, yang tujuannya adalah untuk memperkecil resiko. Sementara itu jiak dilihat kembali pada tabel diatas, nampak bahwa konerja Kode emiten RUIS pada triwulan I ditahun 2010 menunjukan peningkatan yang cukup signifikan, hal ini diindikasikan oleh nilai ekspected return E(Ri) yang bertanda positif, serta deviasi standar yang semakin menurun, serta Koofesien variasi yang cenderung menurun pula. Arti kondisi tersebut adalah bahwa harapan akan keuntungan akan semakin besar atau dengan kata lain saham tersebut memperoleh Capital gain, disisi lain standar deviasi yang cenderung menurun yang awalnya adalah sebesar 5 % menurun menjadi 0,4, hal ini berarti kinerja perusahaan dengan Kode emiten RUIS memperlihatkan peningkatan. Atau dengan kata lain tingkat resiko pada triwulan pertama di tahun 2010 mengalami penurunan.

Tabel 2. Kinerja Kode Emiten GTBO triwulan IV tahun 2009, dan triwulan I tahun 2010, dengan melihat ekspektasi return, deviasi standar dan Koofesien variasi
Perusahaan Tahun Return yang diharapkan E(Ri) Deviasi Standar (SD) Koofesien variasi (CV) GTBO 2009 0.00404704 2 0.03896524 5 9.6280799 54 2010 0.00022337 6 0.03678356 2 164.67107 48

Sumber : Data diolah Berdasarkan tabel 2 diatas, yang diperoleh dari hasil perhitungan lampiran III, maka kinerja saham kode Emiten GTBO pada triwulan IV tahun 2009 menunjukan hasil yang kurang baik, hal ini tercermin oleh nilai harapan penghasilan (return) yang bertanda negatif pula, yang artinya adalah bahwa saham emiten menunjukan terjadinya capital loss/ kerugian bagi investor jika menanamkan investasinya pada saham tersebut. Standar Deviasinyapun cukup besar yaitu 3,8 % jika dibandingkan dengan kinerja tahun 2010 yang hanya 3,6 %. Sementara itu jika diperhatikan dengan seksama, ternyata kinerja Kode emiten GTBO pada triwulan I ditahun 2010 menunjukan peningkatan yang cukup baik, hal ini tercermin ari nilai ekspected return E(Ri) yang bertanda positif, serta deviasi standar yang semakin menurun,. Arti kondisi tersebut adalah bahwa harapan akan keuntungan akan semakin meningkat atau dengan kata lain saham tersebut mampu memperoleh keuntungan dari transaksi yang pernah dilakukannya, sementara itu, standar deviasi yang cenderung menurun yang awalnya adalah sebesar 3,8 % menurun menjadi 3,6 %, hal ini berarti kinerja perusahaan dengan Kode emiten GTBO memperlihatkan peningkatan.

Tabel 3. Kinerja Kode Emiten GTBO triwulan IV tahun 2009, dan triwulan I tahun 2010, dengan melihat ekspektasi return, deviasi standar dan Koofesien variasi
Perusahaan Tahun Return yang diharapkan E(Ri) Deviasi Standar (SD) Koofesien variasi (CV) CNKO 2009 2010 0.00409509 0.00424266 8 3 0.03115274 11.6619037 3 9 7.6073246 2748.7224 46 78

Sumber : Data diolah Mengacu pada hasil perhitungan yang ada pada tabel 3 diatas menunjukan bahwa hampir sebagian besar Emiten menderita capital loss, hal ini menyebabkan nilai E(Ri) menjadi negatif pada triwulan IV tahun 2009. standar deviasi sebagai ukuran tingkat resiko menunjukan hal yang serupa, dimana nilai Standar Deviasi di tahun 2009 cenderung lebih tinggi dibandingkan tahun 2010 triwulan I. Sementara itu di tahun 2010 pada triwulan I memperlihatkan kondisi yang lebih menggembirakan, dimana tingkat penghasilan E(Ri) menjadi postif, yang walaupun nilainya hanya 0,4 %, sedangkan standar deviasi sebagai barometer tingkat resiko saham individu cenderung mengalami peningkatan dari yang awalnya 3,,1 % menjadi 11,66 persen, yang artinya pada tahun 2010 akan beresiko jika menanamkan investasi pada saham GTBO Tabel 4. Kinerja Kode Emiten ATPK triwulan IV tahun 2009, dan triwulan I tahun 2010, dengan melihat ekspektasi return, deviasi standar dan Koofesien variasi
Perusahaan Tahun Return yang diharapkan E(Ri) Deviasi Standar (SD) Koofesien variasi (CV) ATPK 2009 2010 0.00067415 0.00201299 8 2 0.36264828 0.03001256 8 4 537.92786 14.909430 34 11

Sumber : Data diolah Berdasarkan hasil perhitungan pada lampiran I menunjukan bahwa pada triwulan ke IV tahun 2009 menunjukan hasil E(Ri) sebesar -0,06 persen, standar deviasi 36,2 %, Jika dibandingkan dengan E(Ri) pada triwulan I tahun 2010 adalah sebesar 0,2 %, standar deviasi 3%, Kondisi ini menggambarkan suatu keadaan dimana pada triwulan ke IV tahun 2009 harapan return cenderung mengalami capitall loss/ kerugian, kemudian standar deviasi sebagai ukuran tingkat resiko menunjukan kinerja yang lebih baik

10

dibandingkan tahun 2010 diamana nilainya mengalami penurunan dari yang awalnya sebesar adalah sebesar 36,2 % menjadi 3 %. pada triwulan I tahun 2010 kinerja saham Emiten ATPK tetap mengalami kerugian E(Ri) yang negatif, dimana kondisi ini memberikan makna bahwa Emiten mengalami Capital loss sebesar 0,2 %, sementara itu deviasi standar sebagai tolak ukur resiko investasi mengalami penurunan yang awalnya sebesar ,36,2 % menjadi 3%. Hal ini berarti bahwa terjadi peningkatan kinerja pada saham emiten ATPK pada tingkat resiko investasi yang ditunjukan dengan Standar deviasi pada triwulan I tahun 2010 Hal ini cukup menggembirakan, kondisi ini diikuti juga nilai koofesien variasinya cenderung mengalami penurunan. Tabel 5. Kinerja Kode Emiten KKGI triwulan IV tahun 2009, dan triwulan I tahun 2010, dengan melihat ekspektasi return, deviasi standar dan Koofesien variasi
Perusahaan Tahun Return yang diharapkan E(Ri) Deviasi Standar (SD) Koofesien variasi (CV) KKGI 2009 0.00171965 7 0.04904632 6 28.520993 72 2010 0.00988568 2 0.13301629 7 13.455449 82

Sumber : Data diolah Mengacu pada hasil perhitungan lampiran I diatas nampak bahwa terjadi kondisi yang dramatis dalam kinerja saham Emiten KKGI, hal ini ditujukan dengan nilai E(Ri) yang negatif, yang berarti terjadi capitall loss, di tahun 2009 pada triwulan IV, nilai E(Ri) adalah sebesar -0,1 % ditahun 2010 triwulan I nilai E(Ri) terus mengalami kemerosotan dengan capitall loss sebesar -,09 %, cukup ekstrim untuk menunjukan kinerja yang buruk. Begitu juga dengan nilai deviasi standar sebagai ukuran tingkat resiko yang mungkin terjadi, yaitu dimana tahun 2009 triwulan IV nilai Deviasi standar saham KKGI adalah sebesar 4,9 %, yang secara ekstrim meningkat tajam menyentuh angka 13,3 %. Hal ini cukup memberikan informasi bagi calon investor bahwa kinerja saham Emiten KKGI sangat buruk, baik ditahun 2009 maupun 2010. 4.1.2. Kinerja 5 Saham Emiten triwulan IV tahun 2009 Berdasarkan hasil Olahan data pada 5 emiten di Industri Pertambangan, maka diperoleh hasil perhitungan Expected return, resiko investasi, serta koofesien variasi dari setiap emiten. Dimana data tersebut diperoleh dengan mengambil data transaksi penjualan saham selama 3 bulan terakhir pada triwulan ke IV ditahun 2009, dan 3 bulan pertama pada triwulan I ditahun 2010. adapun hasil perhitungannya adalah sebagai berikut : Tabel 6. Hasil perhitungan Ekspected Return, Deviasi Standar, dan Koofesien variasi dari 5 Emiten di Industri pertambangan Triwulan IV tahun 2009

11

Perusahaan Return yang diharapkan E(Ri) Deviasi Standar (SD) Koofesien variasi (CV)

RUIS 0.00733735 8 0.05332726 7 7.2679113 23

GTBO 0.0040470 42 0.0389652 45 9.6280799 54

CNKO 0.0041 0.0311 53 7.607 32

ATPK 0.0006 7 0.3626 48 537.9 28

KKGI 0.001719 7 0.049046 33 28.5209 94

Sumber : Data diolah Berdasarkan tabel hasil perhitungan menggunakan metode Eks-Post diatas terlihat bahwa Ekspected Return E(Ri) dari 5 Saham Emiten pada Triwulan 4 tahun 2009 menunjukan hasil yang negatif. Secara teoritis syarat untuk menanamkan Investasi pada sekuritas adalah, investor sebaiknya menanamkan sahamnya pada saham Emiten yang memilki ekspektasi Return E(Ri) bernilai positif dan memiliki nilai yang paling besar. Akan tetapi indikator tersebut bukanlah indikator mutlak untuk segera mengambil keputusan, investor perlu memperhitungkan tingkat resiko yang diukur dengan deviasi standar. Disisi lain hasil yang negatif, tersebut terjadi akibat penilaian yang dilakukan tidak menggunakan deviden yield, karena pada dasarnya perhitungan menggunakan metode ekspost disini, hanya menilai kinerja saham secara harian. Oleh karena itu nilai dari return harapan bernilai negatif. Akibat dari Kondisi ini maka Investor harus jeli melihat Saham Emiten mana yang memiliki resiko terendah, yang di refleksikan dengan Standar Deviasi yang paling kecil. Berdasarkan hasil perhitungan saham secar individu tersebut menunjukan bahwa Saham Emiten RUIS memiliki tingkat resiko yang paling kecil dengan tingkat return harapan yang memilki kecenderungan tidak begitu merugikan dibandingkan saham emiten lainnya, yaitu dengan nilai Deviasi standar = 5,3 % dan E(Ri) = -0,7%. kondisi ini merefleksikan bahwa jika investor rasional, maka investor sebaiknya memilih saham Emiten CNKO sebagai alternatif investasi. karena pada dasarnya tingkat kurugian akibat return yang bertanda negatif pada saham emiten CNKO cenderung stabil dengan tingkat resiko terendah yang akan dialaminya. Indikator yang paling baik memberikan informasi adalah bahwa Koofesien Variasi kode Emiten RUIS adalah yang terkecil, yaitu -7,6 %. 4.1.3. Kinerja 5 saham Emiten triwulan I tahun 2010 Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunkan metode Eks-Post untuk menilai kinerja Saham 5 Emiten yang diteliti maka tabel di bawah ini akan memberikan informasi sebagai berikut :

Tabel 7. Hasil perhitungan Ekspected Return, Deviasi Standar, dan Koofesien variasi dari 5 Emiten di Industri pertambangan Triwulan I tahun 2010
Perusahaan Return yang diharapkan E(Ri) RUIS 0.00747819 1 GTBO 0.00022337 6 CNKO 0.0042 43 ATPK 0.0020 1 KKGI 0.00988 57

12

Deviasi Standar (SD) Koofesien variasi (CV)

0.04315996 5 5.7714447 88

0.03678356 2 164.67107 48

11.661 9 2748. 722

0.0300 13 14.90 94

0.13301 63 13.4554 5

Sumber : data diolah Berdasarkan tabel hasil perhitungan menggunakan metode Eks-Post diatas terlihat bahwa Ekspected Return E(Ri) dari 5 Saham Emiten pada Triwulan I tahun 2010 menunjukan hasil yang dimana salah satu saham yaitu ATPK mengalami kerugian sebesar 2%, dengan tingkat resiko sebesar 3%. Mengacu pada hasil perhitungan diatas yang menggunkan metode ekspost, maka jika kita melihat berdasarkan tingkan return ekspektasinya, maka Emiten RUIS adalah emiten yang dapat menghasilkan tingkat return yang tertinggi no 2 jika dilihat berdasarkan nilai E(ri) nya setelah Emiten KKGI, akan tetapi jika dilihat berdasarkan Koofesien variasinya maka Saham Emiten RUIS adalah pilihan yang baik untuk berinvestasi, dibandingkan saham Emiten lainnya. Hal ini diperkuat oleh hasil Koofesien yang dimiliki RUIS adalah yang terkecil, dengan tingkat E(Ri) sebesar 7% dan tingkat resikonya sebesar 4,3 %. Jika kita melihat dengan seksama perbandingan tabel diatas maka sebaiknya Investor yang rasional lebih memilih saham dari Emiten RUIS. Hal ini karena Saham Emiten RUIS adalah saham yang memiliki tingkat resiko Investasi yang walaupun tidak memiliki nilai terkecil, akan tetapi resiko Investasi yang ditanggung oleh emiten tersebut akan tertupi dengan tingkat ekspected Return E(Ri) yang proporsional jika dibandingkan dengan Emiten lainnya. 4.2 Penilaian dengan Portofolio 4.2.1. Portofolio 5 saham Emiten pada triwulan IV tahun 2009 Pada bagian ini akan dianalisis mengenai bagaimana dampak jika kita mendiversifikasi saham ke dalam 10 bentuk portofolio. Adapun hasil perhitungannya dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 8. Hasil Perhitungan Portofolio 5 Saham Emiten Triwulan IV 2009
SAHAM PORTOFOLIO KET E(Rp) (p) Korelasi AB 0.60212 3 0.03844 3 0.21 AC 0.63646 8 0.03926 7 0.09 AD 0.5338 4 0.0411 35 0.01 _ AE 0.56520 5 0.04100 7 0.07 _ BC 0.40662 6 0.02962 8 0.30 _ BD 0.26978 9 0.03637 2 0.06 _ BE 0.31160 9 0.03194 3 0.10 _ CD 0.30688 2 0.03074 1 0.06 _ CE 0.33824 7 0.02610 4 -0.02 _ DE 0.10923 6 0.04331 6 0.08 _ TOTAL ABCDE _ _ _ 0.002626 266

(p) _ _ Sumber : Data diolah

Berdasarkan hasil Pengolahan data pada lampiran II, maka tabel diatas merupakan informasi yang sangat berguna bagi investor. Karena pada tabel diatas menunjukan bahwa ke 5 saham Emiten pertambangan, telah didiversifikasi ke dalam 10 vaiasi, yang tujuannya adalah untuk meminimalisisr resiko dalam berinvestasi. Ke sepeluh variasi, atau bentuk portofolio saham diatas, pada hakekatnya telah mempertimbangkan dengan teliti, berapa proporsi dana yang pantas untuk dialokasikan pada masing-masing portofolio saham

13

tersebut, adapun pertimbangan dalam menentukan proporsi dana adalah bahwa penentuannya didasarkan pada kinerja saham individu yang dinilai berdasarkan pendekatan ekspost pada penilaian saham individu. Kembali pada tampilan tabel 8 diatas, menunjukan bahwa baik secara individu, maupun portofolio, ternyata resiko investasi tetap bernilai sama, dengan ekspektasi penghasilan yang relatif sama juga dengan saham individu. Hal ini dapat terlihat dari nilai E(Ri) atau capitall loss yang akan diperoleh investor jika mendiversifikasi sahamnya bahkan melebihi kerugian jika investor menanamkan sahmnya secara individu. Karena nilai minus pada (Eri) dengan cara portofolio ternyata sampai menembuas angka sebesar -0,63 % > 0,7% (angka tertinggi E(Ri) di triwulan IV tahun 2009). Hal ini cukup dramatis bagi sebuah ukuran kerugian bagi seorang investor. Portofolio pada kondisi ini ternyata tidak membuahkan hasil apa-apa, dan yang terjadi malah kondisi sebaliknya, yaitu resiko yang ditanggung oleh pihak investor cenderung tetap sama seperti jika investor menanamkan sahamnya secara individu di Emiten-Emiten tersebut. Secara Metodologis kondisi ini terjadi karena ternyata tiap korelasi dalam portofolio tersebut atas dua jenis saham, menunjukan hubungan yang lemah, den cenderung nilainya positif. Secara teoritis jika koofesien korelasi berslope positif berarti jika terjadi isu-isu strategis dipasar maka resiko terhadap saham emiten-emiten dipertambangan akan semakin besar dan sangat merugikan. Kondisi tersebut merupakan salah satu penyebab mengapa dengan cara diversifikasi/ portofolio ternyata E(Ri) tidak dapat meningkat dan resiko dapat dikurangi. Akan tetapi jika kita perhatikan kembali ternyata jika Investor memportofolio ke 5 sahamnya secara sekaligus, ternyata mampu menurunkan tingkat resiko, hal ini ditunjukan oleh nilai resiko portofolio yang digambarkan oleh varian ABCDE sebesar 0,2 %. Kondisi tersebut bermakna bahwa ternyata jika investormendiversifikasi sahamnya secara sekaligus maka resiko yang dihadapi akan berkurang. Grafik 1. Kurva Pergerakan E(Ri) dan Resiko Portofolio triwulan IV 2009
K R A E G R K N A T R ER DN A RS OP R O O IO2 0 U V P R E A A N A A ( i E G N E IK O T F L ) 09 1 2 3 4 5 6 7 8 0 .1 0 -0 .1 -0 .2 -0 .3 -0 .4 -0 .5 -0 .6 -0 .7 Sumber : Data diolah Grafik diatas merupakan gambaran apa yang sebenarnya telah tergambarkan pada tabel 8 sebelumnya, dimana garis berwarna merah 9 1 0

S rie 1 e s S rie 2 e s

e l t T s i x A

14

menunjukan Resiko Portofolio, dan garis biru menunjukan tingkat harapan hasil E(Ri). Berdasarkan grafik diatas terlihat bahwa dengan memportofolio saham D dan E atau DE ( ATPK dan KKGI) maka portofolio tersebut mencapai garis optimalnya, karena walaupun tingkat resikonya berada pada angka 0,4 %, akan tetap tingkat kerugian yang dialaminya adalah paling kecil dengan angka sebesar -0,10 %. Makin berhimpitnya antara garis resiko dengan garis E(Ri) menandakan bahwa dilokasi tersebutlah, titik optimal sebuah diversifikasi/ portofolio akan menurunkan resiko investasi. 4.2.2. Portofolio 5 saham Emiten pada triwulan Itahun 2010 Berdasarkan hyasil pengolahan data pada lampiran II maka hasil dibawah ini akan dapat memberikan informasi sebagai berikut : Tabel 9. Hasil Perhitungan Portofolio 5 Saham Emiten Triwulan 1 2010
SAHAM PORTOFOLIO KET E(Rp) (p) Korelas i (XY) (p) AB 0.4576 26 0.0286 83 -0.08 _ AC 0.386335 0.117289 0.05 _ AD 0.4630 84 0.0387 19 0.04 _ AE 0.2269 03 0.0563 62 0.06 _ BC 0.1831 09 0.0265 58 0.01 _ BD 0.06711 7 0.02702 6 0.07 _ BE 0.38202 5 0.05943 9 0.06 _ CD 0.2365 97 0.1207 46 0.09 _ CE 0.00041 6 0.16435 34 0.04 _ DE 0.51620 7 0.05348 8 -0.15 _ TOTAL ABCDE _ _ _ 12.29280 857

Sumber : Data diolah Berdasarkan pada tabel 9 diatas menunjukan bahwa antara kinerja pada triwulan IV tahun 2009 dengan Kinerja Saham triwulan I tahun 2010 menunjukan hasil yang berbeda secara signifikan. Pada tahun 2010 dengan memportofolio saham sebanyak 5 pasangan, ternyata membuahkan hasil. Dimana nilai tertinggi dengan hasil E(Ri) yang positif menunjukan bahwa setiap emiten pada triwulan I tahun 2010 telah menikmati capital gain. Nilaia Ekspektasi retirn menembus angka 0,46 % dengan tingkat resiko terendah menyentuh angka 0,2 %. Hal ini berarti dengan mendiversifikasi saham tternyata mampu menurunkan tingkat resiko sampai pada angka 0,2 %. Hal ini cukup menggembirakan. Dan jika dibandingkan dengan tidak memportofolio saham, maka memportofoliokan saham akan jauh lebih menurunkan resiko dibandingkan jika investor memilih untuk menanamkan sahamnya secara individual. Adapun lebih jelasnya grafik dibawah ini akan memberikan informasi mengenai optimalnya sebuah portofolio saham : Grafik 1. Kurva Pergerakan E(Ri) dan Resiko Portofolio triwulan I 2010

15

K r a egr k n naa ( i)dna Rsk uv Pr ea a A t r ER e gn ei o Proo o 00 ot f li 21


0 . 6 0 . 4 0 . 2 0 -0 . 2 -0 . 4 -0 . 6 Ai Tl x ie st 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 Sre1 ei s Sre2 ei s

Sumber : Data diolah Berdasarkan grafik diatas, terlihat bahwa dengan mendiversifikasi saham ternyata tingkat resiko dapat ditekan. Garis merah adalah garis tingkat resiko portofolio, sedangkan garis biru adalah garis ekpektasi return. Dalam gambar grafik tersebut terlihat bahwa E(Ri) telah berubah positif artinya Kinerja Emiten Pertambangan di tahun 2010 triwulan I menuncukan perubahan yang cukup signifikan. Atau dengan kata lain saham EmitenEmiten tersebut hampir sebagian besar menunjukan terend E(Ri) yang positif artinya Emiten memperoleh Capital Gain. Walaupun terdapat beberapa jenis diversifikasi yang menunjukan nilai negatif atau menderita kerugian. Pada grafik diatas juga investor dapat dengan mudah menilai portofolio saham mana yang paling efisien. Secara teoritis jika nilai E(Ri) positif maka pilihan investor sebaiknya berada pada nilai E(Ri) positif dan terbesar. Kemudian untuk resiko portofolio maka sebaiknya Investor memilih Resiko yang memiliki nilai varian terendah, artinya investasi tersebut adalah investasi yang memiliki tingkat resiko terendah. Berdasrkan grafik diatas maka sebaiknya Investor memilih portofolio saham AD ( RUIS dan ATPK) karena nilai E(Ri)nya positif terbesar yaitu 0,46%, dengan nilai resiko portofolio optimal yaitu sebesar 3,8 %. Kondisi ini dikatakan optimal karena nilai perolehan antara E(Ri) dan resiko portofolionya adalah yang paling efisien 4.3. Metode Indeks Tunggal Model Indeks tunggal adalah model yang mampu membaca nilai resiko total pasar oleh karena model ini mensyaratkan beta pasar sebagai ukuran resiko. Adapun hasil pengolahan yang diperoleh yaitu : Tabel 10 Ekpektasi E(RA) dan nilai Resiko Total Triwulan IV tahun 2009
KETERANGAN E(Ri) RESIKO TOTAL A -0.7 % 1.4 % B -0.3% 4.4 % C -0 % 3% D 0% 4.4 % E -0.17 % 4%

Sumber : Data diolah Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa model indeks Tunggal yang menekankan faktor beta pasar sebagai variabel independen, menunjukan perolehan yang sangat memberikan informasi bagi Investor di pasar. Niliai Koofesien yang bertanda 1 pada pendekatan ini bermakna bahwa saham emiten tersebut adalah normal, koofesien bertanda > 1 berarti saham Emiten tersebut sangat bereaksi terhadap perubahan pasar, sementara jika nilai

e l t T s i x A

16

koofesien < 1 hal ini berarti bahwa saham emiten tersebut kurang sensitif terhadap perubahan pasar. Apapun yang terjadi saham tersebut tidak sensitif. Sementara itu jika kita melihat tabel diatas dan dibandingkan dengan pendekatan MV Model, maka nilai ekspektasi ke 5 saham Emiten ditahun 2009 mengalami capitall loss, artinya Emeiten mengalami kerugian, hal ini ditunjukan oleh tanda minus dalm E(Ri). Kondisi ini menggambarkan ternyata dengan model apapun pada dasarnya saham emiten di Sektor Pertambangan memang mengalami kerugian (Capitall loss). Jika dibandingkan dengan MV Model yang telah dibahas sebelumnya maka ekspektasi return tersebut pada tabel tersebut yang paling menguntungkan adalah pilihan akan saham emiten Saham RUIS (A) hal ini Konsisten juga dengan yang terjadi pada penilaian dengan menggunakan MV Model. Artinya dua Model ini ternyata memproyeksi dengan hasil yang hampir sama. Saham memiliki E(RA) sebesar 0, 7 % artinya jika investor menanmkan sahamnya pada saham Emiten RUIS maka Investor akan mengalami kerugian sebesar 0, 7%, dengan tingkat resiko yang paling kecil yang mungkin di hadapi Investor. Nilai resiko pada saham RUIS adalah nilai resiko terkecil dibandingkan saham emiten lainnya, dimana nilainya adalah 1,4 %. Hal ini berarti Saham Emiten RUIS adalah Saham yang paling baik dibandingkan saham emiten lainnya. Dapun hasil Perhitungan pada Tabel 11 dibawah ini mengenai Kinerja 5 Saham Emiten Pertambangan tahun 2010 Triwulan I yaitu : Tabel 11 Ekpektasi E(RA) dan nilai Resiko Total Triwulan I tahun 2010
KETERANGAN E(Ri) RESIKO TOTAL A 0.79 3.1 B -0.03 3.1 C -0.4 3 D -0.2 0 E 1.1 0.13

Sumber : Data diolah Berdasarkan tabel 11 diatas terlihat bahwa Kinerja Emiten Pertambangan mulai membaik, hal ini ditunjukan dengan nilai E(Ri) yang bertanda positif. Saham emiten Yang paling baik untuk melakukan investasi adalah pada saham emiten E yaitu (KKGI) karena tingkat Pengembalian hasil E(Ri) bernilai paling besar dibandingkan saham Emiten Lainnya. Nilai dari E(RE) adalah sebesar 1,1 % dengan tingkat resiko sebesar 0,13 %. Hal ini menunjukan bahwa saham tersebut adalah saham yang layak untuk dipilih sebagai alternatif investasi yang paling baik. Disisi lain Saham emiten A (RUIS ) juka menunjukan tingkat pengembalian hasil yang positif, sama halnya dengan saham emiten KKGI, hal ini berarti pilihan investasi bagi investor terdiri atas beberapa Saham yang menguntungkan, karena saham RUIS nilai E(RA) adalah sebesar 0,79 persen dengan tingkat resiko pasar sebesar 3,1 %. Akan tetapi jika di bandingkan dengan kinerja Tahun 2009, secara Konsisten Saham Emiten RUIS cenderung menunjukan hasil yang selalu sama, hal ini berarti investor harus berhati-hati dalam mengambil keputusan, karena pada dasarnya Saham Emiten RUIS menunjukan kinerja yang konsisten baik pada tahun 2009 triwulan IV, maupun pada tahun 2010 pada triwulan I. V. PENUTUP 5.1 Kesimpulan

17

Berdasarkan hasil Analisis diatas maka ada beberapa Informasi yang substansial dalam kajian tulisan ini diantaranya : 1. Secara Individual dengan menggunkan Pendekatan MV Model pada pembahasan I, ternyata emiten RUIS adalah emiten yang paling baik dalam kinerja sahamnya, baik pada triwulan IV tahun 2009, maupun tahun 2010 pada Triwulan I. 2. Sementara itu jika berdasarkan hasil portofolio 5 saham menjadi 10 portofolio, ternyata menunjukan bahwa di tahun 2009 triwulan ke IV, portofolio saham ATPK dan KKGI (DE) adalah portofolio yang optimal karena mampu mengurangi resiko, yang walaupun jika dibandingkan dengan MV Model ternyata dengan berinvestasi pada saham Individual ternyata resiko bagi Investor menjadi Lebih kecil dibandingkan Portofolio saham. 3. Di tahun 2010 triwulan I ternyata dengan memportofolio saham-saham tersebut, menunjukan bahwa portofolio yang paling efisien adalah portofolio AD ( Saham RUIS dan ATPK). Saham tersebut adalah saham yang paling optimal jika di portofolio. 4. Disisi lain Penilaian menggunakan Pendekatan Single Indeks Model secara Konsisten menunjukan Bahwa Saham RUIS adalah saham yang paling baik atau paling layak untuk dijadikan alternatif utama dalam berinvestasi bagi Investor, karena Saham tersebut adalah saham yang memiliki nilai E(Ri) yang paling baik berdasarkan kinerja tahun 2009 Triwulan IV, maupun di tahun 2010 Triwulan I. 5.2. Saran Berdasarkan Hasil Kesimpulan diatas maka bahan pertimbangan yang mungkin bermanfaaat bagi investor yang dapat disarankan penulis adalah : Sebaiknya Investor memutuskan pilihan Investasinya pada Saham Emiten (RUIS) Radiant Utama Interinsco Tbk. Karena kinerja Sahamnya berdasarkan penilaian menggunakan metode single indeks model dengan pendektan Ekspost cukup baik dan prospektif.

DAFTAR PUSTAKA Ermina Miranti, Desember 2008. Econimic Review Prospek Industri Batu Bara di Indonesia. No 214. Jakarta
Halim, Abdul (2005), Analisis Investasi Edisi kedua Jakarta Salemba Empat,

Husnan, Suad, 2003, Dasar-Dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas, Edisi Ketiga, UPP AMP YKPN. Yogyakarta Jogiyanto, H. M, 2003, Teori Portofolio dan Analisis Investasi, Edisi ketiga, BPFE, Yogyakarta

18

Sunariyah (2003), Pengantar Pengetahuan Pasar Modal, Edisi ketiga, UPP AMPK YKPN, Yogyakarta Teguh, M, 2001 Metodelogi Penelitian Ekonomi, Teori dan Aplikasi. Rajawali Pers, Jakarta Vibiznews.com

19