Anda di halaman 1dari 8

1 SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP

NOMOR 12 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN


PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA DI DAERAHMENTERI
NEGARA LINGKUNGAN HIDUP

, Menimbang:a.bahwa kualitas udara ambien semakin menurunakibat


peningkatan sumber pencemar udara oleh kegiatan manusia sehingga perlu
dilakukan upaya pengendalian pencemaran udara; b.bahwa pemerintah
daerah dalam menyelenggarakan pengendalian pencemaran udara yang
menjadi kewenangannya berdasarkan ketentuan Pasal 9 Peraturan Pemerintah
Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara
Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah
Kabupaten/Kota, dilakukan sesuai dengan norma, standar, prosedur, dan
kriteria yang ditetapkan oleh Menteri yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup;
c.bahwaberdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan
huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup
tentang Pelaksanaan Pengendalian Pencemaran Udara di Daerah; Mengingat:
1.Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah
beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun
2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4844);
2 2.Undang-Undang Nomor 32Tahun 2009tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5059); 3.Peraturan Pemerintah Nomor 41Tahun 1999 tentang
Pengendalian Pencemaran Udara (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1999 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3853); 4.Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang
Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah
Provinsi, Dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4737);5.Peraturan Pemerintah Nomor41 Tahun
2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4741); MEMUTUSKAN:Menetapkan:

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG


PELAKSANAAN PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA DI
DAERAH. BAB I KETENTUAN UMUM

Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan : 1.Pencemaran


udara adalah masuknya atau dimasukkannya zat, energi, dan/atau komponen
lain ke dalam udara ambien oleh kegiatan manusia, sehingga melampaui baku
mutu udara yang telah ditetapkan. 2.Pengendalian pencemaran udara adalah
upaya pencegahan dan/atau penanggulangan pencemaran udara serta
pemulihan mutu udara. 3.Sumber pencemar adalah setiap usaha dan/atau
kegiatan yang mengeluarkan bahan pencemar ke udara yang menyebabkan
udara tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. 4.Udara ambien adalah
udara bebas dipermukaan bumi pada lapisan troposfir yang berada di dalam
wilayah yurisdiksi Republik Indonesia
3 yang dibutuhkan dan mempengaruhi kesehatan manusia, makhluk hidup
dan unsur lingkungan hidup lainnya. 5.Mutu udara ambien adalah kadar zat,
energi, dan/atau komponen lain yang ada di udara bebas.6.Status mutu udara
ambien adalah keadaan mutu udara di suatu tempat pada saat dilakukan
inventarisasi. 7.Baku mutu udara ambien adalah ukuran batas atau kadar zat,
energi, dan /atau komponen yang ada atau yang seharusnya ada dan/atau
unsur pencemar yang ditenggang keberadaanya dalam udara ambien. 8.Emisi
adalah zat, energi dan/atau komponen lain yang dihasilkan dari suatu
kegiatan yang masuk dan/atau dimasukkanya ke dalam udara ambien yang
mempunyai dan/atau tidak mempunyai potensi sebagai unsur pencemar.
9.Sumber emisi adalah setiap usaha dan/atau kegiatan yang mengeluarkan
emisi dari sumber bergerak, sumber bergerak spesifik, sumber tidak bergerak,
maupun sumber tidak bergerak spesifik. 10.Sumber bergerak adalah sumber
emisi yang bergerak atau tidak tetap pada suatu tempat yang berasal dari
kendaraan bermotor. 11.Sumber tidak bergerak adalah sumber emisi yang
tetap pada suatu tempat. 12.Baku mutu emisi sumber tidak bergerak adalah
batas kadar maksimum dan/atau beban emisi maksimum yang diperbolehkan
masuk atau dimasukkan ke dalam udara ambien. 13.Baku mutu emisi gas
buang kendaraan bermotor adalah batas maksimum zat atau bahan pencemar
yang boleh dikeluarkan langsung dari pipa gas buang kendaraan bermotor.
14.Kendaran bermotor adalah kendaraan yang digerakkan oleh peralatan
teknik yang berada pada kendaraan itu. 15.Kendaraan bermotor lama adalah
kendaraan yang sudah diproduksi, dirakit atau diimpor dan sudah beroperasi
di jalan wilayah Republik Indonesia. 16.Inventarisasi adalah kegiatan untuk
mendapatkan data dan informasi yang berkaitan dengan mutu udara.
17.Menteri adalah Menteri yang menyelenggarakan urusanpemerintahan di
bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
4 Pasal 2 Peraturan Menteri ini bertujuan untuk memberikan pedoman bagi
pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota dalam melaksanakan
pengendalian pencemaran udara. Pasal 3 Ruang lingkup pengendalian
penceman udara yangdiatur dalam Peraturan Menteri ini meliputi :
a.penetapan baku mutu udara ambien; b.penetapan status mutu udara ambien
daerah; c.penetapan baku mutu emisi, baku mutu emisi gas buang, dan baku
mutu gangguan; d.pelaksanaan koordinasi operasional pengendalian
pencemaran udara; dan e.koordinasi dan pelaksanaan pemantauan kualitas
udara.

BAB II PENETAPAN BAKU MUTU UDARA AMBIEN

Pasal 4 (1)Gubernur menetapkan baku mutu udara ambien daerah


berdasarkan pertimbangan : a.status mutu udara ambien di daerah yang
bersangkutan; dan b.baku mutu udara ambien nasional. (2)Baku mutu udara
ambien daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan
ketentuan sama dengan atau lebih ketat dari baku mutu udara ambien
nasional. (3)Penetapan baku mutu udara ambien daerah sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukansesuai dengan pedoman teknis penetapan
baku mutu udara ambien sebagaimana tercantum dalam Lampiran I yang
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

BAB III PENETAPAN STATUS MUTU UDARA AMBIEN DAERAH

Pasal 5 (1)Gubernur menetapkan status mutu udara ambien daerah


berdasarkan : a.inventarisasi dan/atau penelitian terhadap mutu udara ambien,
potensi sumber pencemar udara, kondisi meteorologis dan geografis, serta
tata guna lahan; dan
5 b.pedoman teknis penetapan status mutu udara ambien. (2)Inventarisasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilaksanakan sesuai dengan
pedoman teknis inventarisasi sebagaimana tercantum dalam Lampiran II
yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
(3)Pedoman teknis penetapan status mutu udara ambien sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf b tercantum dalam Lampiran III yang
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

BAB IV PENETAPAN BAKU MUTU EMISI, BAKU MUTU EMISI GAS


BUANG, DAN BAKU MUTU GANGGUAN

Pasal 6 (1)Gubernur dapat menetapkan baku mutu emisi sumber tidak


bergerak dengan ketentuan sama dengan atau lebih ketat dari baku mutu
emisi sumber tidak bergerak nasional. (2)Penetapan baku mutu emisi sumber
tidak bergerak sebagaimana dimaksud padaayat (1) dilakukan sesuai
denganpedoman teknis penetapan baku mutu emisi sumber tidak bergerak
sebagaimana tercantum dalam Lampiran IV yang merupakan bagian yang
tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini. Pasal 7 (1)Gubernur dapat
menetapkan baku mutu emisi gas buang kendaraan bermotor lama dengan
ketentuan sama dengan atau lebih ketat dari baku mutu emisi gas buang
kendaraan bermotor nasional. (2)Penetapan baku mutu emisi gas buang
kendaraan bermotor lama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)dilakukan
sesuai denganpedoman teknis penetapan baku mutu emisi gas buang
kendaraan bermotor lama sebagaimana tercantum dalam Lampiran V yang
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini. Pasal 8
(1)Gubernur dapat menetapkan baku mutu kebisingan, getaran, dan kebauan
sumber tidak bergerak, dan baku mutu kebisingan sumber bergerak.
(2)Ketentuan mengenai pedomanpenetapan baku mutu kebisingan, getaran,
dan kebauan sumber tidak bergerak, dan baku mutu kebisingan sumber
bergerak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan
Menteri.
6 (3)Dalam hal pedoman sebagaimana dimaksud pada ayat (2) belum
ditetapkan, gubernur dapat menetapkan baku mutu kebisingan, getaran, dan
kebauan sumber tidak bergerak, dan baku mutu kebisingan sumber bergerak
dengan persetujuan Menteri.
BAB V PELAKSANAAN KOORDINASI OPERASIONAL
PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA

Pasal 9 (1) Gubernur melaksanakan koordinasi operasional pengendalian


pencemaran udara. (2) Bupati/walikota melaksanakan
operasionalpengendalian pencemaran udara (3)Pelaksanaan
operasionalpengendalian pencemaran udara sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) terdiri atas: a.penetapan kebijakan pengendalian pencemaran udara;
b.penetapan program kerja; c.penyusunan rencana kerja; d.pelaksanaan
rencana kerja; dan e.evaluasi hasil pelaksanaan rencana kerja.

BAB VI KOORDINASI DAN PELAKSANAAN PEMANTAUAN


KUALITAS UDARA

Pasal 10 (1)Gubernur melaksanakan koordinasi dan pemantauan kualitas


udara ambien skala provinsi. (2)Koordinasi pemantauan kualitas udara
ambien skala provinsi terdiri atas: a.penyusunan rencana pemantauan kualitas
udara ambien di masing-masing kabupaten/kota; b.pelaksanaan pemantauan
kualitas udara ambien oleh bupati/walikota; dan c.evaluasi hasil pemantauan
kualitas udara ambien di kabupaten/kota. (3)Gubernur melaporkan hasil
pemantauan kualitas udara ambien skala provinsi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dan ayat (2) kepada Menteri paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1
(satu) tahun.
7 Pasal 11 (1)Bupati/walikota melaksanakan pemantauan kualitas udara
ambien di wilayahnya. (2)Pemantauan kualitas udara ambien sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) meliputi: a.perencanaan; b.persiapan; c. pelaksanaan;
dan d. evaluasi. (3)Pemantauan kualitas udara ambien sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan pedoman teknis pemantauan kualitas
udara ambien sebagaimana tercantum dalam Lampiran VI yang merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini. (4)Bupati/walikota
melaporkan hasil pemantauan kualitas udara ambien sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) kepada gubernur dengan tembusan kepada Menteri paling
sedikit 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun.

BAB VII PEMBINAAN DAN PENGAWASAN


Pasal 12 (1)Gubernur melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap
bupati/walikota dalam pelaksanaan: a.pengendalian pencemaran udara dari
sumber bergerak; dan b.pengendalian pencemaran udara dari sumber tidak
bergerak. (2)Pembinaan pelaksanaan pengendalian pencemaran udara dari
sumber bergerak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilaksanakan
sesuai dengan pedoman teknis pembinaan dan pengawasan baku mutu emisi
gas buang kendaraan bermotor lama sebagaimana tercantum dalam Lampiran
VII yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri
ini. Pasal 13 (1)Gubernur melakukan pengawasan penaatan penanggung
jawab usaha dan/atau kegiatan dari sumber tidak bergerak yang lokasi
dan/atau dampaknya lintas kabupaten/kota terhadap peraturan perundangan di
bidang pengendalian pencemaran udara. (2) Pengawasan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan pedoman teknis pengawasan
pengendalian pencemaran
8 udara sumber tidak bergerak sebagaimana tercantum dalam Lampiran VIII
yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
Pasal 14 (1)Bupati/walikota melakukan pengawasan penaatan penanggung
jawab usaha dan/atau kegiatan dari: a. sumber bergerak; dan b. sumber tidak
bergerak yang lokasi dan/atau dampaknya skala kabupaten/kota terhadap
peraturan perundang-undangan di bidang pengendalian pencemaran udara.
(2)Pengawasan penaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dari
sumber bergerak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilakukan
sesuai dengan pedoman teknis pembinaan dan pengawasan baku mutu emisi
gas buang kendaraan bermotor lama sebagaimana tercantum dalam Lampiran
VII. (3) Pengawasan penaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan
dari sumber tidak bergerak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
dilakukan sesuai dengan pedoman teknis pengawasan pengendalian
pencemaran udara sumber tidak bergerak sebagaimana tercantum dalam
Lampiran

VIII. BAB VIII PEMBIAYAAN

Pasal 15 (1)Pembiayaan atas pelaksanaan pengendalian pencemaran udara di


daerah provinsi dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
Provinsi. (2)Pembiayaan atas pelaksanaan pengendalian pencemaran udara di
daerah kabupaten/kota dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah Kabupaten/Kota.
BAB IX PENUTUP

Pasal 16 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.


Ditetapkan di Jakarta pada tanggal: 26 Maret 2010

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,

ttd PROF. DR. IR. GUSTI MUHAMMAD HATTA, MS


Salinan sesuai dengan aslinya Deputi MENLH Bidang Penaatan Lingkungan, ttd
Ilyas Asaad.
1 Lampiran I Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 12
Tahun 2010 Tanggal : 26 Maret 2010

PEDOMAN TEKNIS PENETAPAN BAKU MUTU UDARA AMBIEN


DAERAH

I.PENDAHULUAN

Dalam Pasal 20 ayat (4) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang


Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dinyatakan bahwa
ketentuan mengenai baku mutu lingkungan hidup diatur dengan Peraturan
Pemerintah. Untuk memenuhi amanat Undang-undang Nomor 32 tahun 2009
tersebut, Pemerintah telah menetapkan baku mutu udara ambien sebagaimana
diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 tentang
Pengendalian Pencemaran Udara (selanjutnya disebut PP. No. 41 Tahun
1999). Baku mutu udara ambien nasional diatur dalam Pasal 4, sedangkan
baku mutu udara ambien daerah ditetapkan oleh gubernur sesuai ketentuan
yang diatur dalam Pasal 5 PP. No. 41 Tahun 1999. Baku mutu udara ambien
(selajutnya disingkat BMUA) merupakan ukuran batas atau kadar zat, energi,
dan/atau komponen yang ada atau seharusnya ada dan/atau unsur pencemar
yang ditenggang keberadaannya dalam udara ambien. BMUA nasional
ditetapkan sebagai batas maksimum kualitas udara ambien nasional yang
diperbolehkan untuk di semua kawasan di seluruh Indonesia. Arah dan tujuan
dari penetapan baku mutu udara ambien nasional adalah untuk mencegah
pencemaran udara dalam rangka pengendalian pencemaran udara nasional.
Penetapan angka BMUA bertujuan untuk melindungi kesehatan manusia
termasuk kesehatan terhadap populasi yang sensitif seperti penderita asthma,
anak balita dan kelompok orang lanjut usia. Dengan fokus utama pada
kesehatan manusia, maka nilai ambang batas perlu ditetapkan berdasarkan
informasi dari studi hubungan dosis-response, yang menghubungkan
penyakit dengan level pajanan/konsentrasi pencemar pada periode waktu
yang sama. Walaupun kesehatan manusia merupakan fokus utama dari
penetapan BMUA, pencemaran udara juga dapat menimbulkan
2 dampak merugikan terhadap lingkungan dan ekosistem yang selanjutnya
akan berpengaruh terhadap kesejahteraan manusia. Pedoman ini bertujuan
untuk memberikan acuan bagi gubernur dalam menetapkan BMUA daerah.

II.PROSEDUR PENYUSUNAN BAKU MUTU UDARA AMBIEN


DAERAH BMUA

daerah ditetapkan dengan ketentuan sama dengan atau lebih ketat dari
BMUA nasional serta berdasarkan pertimbangan status mutu udara ambien di
daerah yang bersangkutan. Dalam Pasal 5 PP. No. 41 Tahun 1999 dinyatakan
bahwa daerah dapat menetapkan BMUA daerah berdasarkan status mutu
udara ambien di daerah yang bersangkutan melalui keputusan gubernur.
BMUA daerah ditetapkan sebagai batas maksimum kualitas udara ambien
daerah yang diperbolehkan dan berlaku diseluruh wilayah udara di atas batas
administrasi daerah, dengan ketentuan sama dengan atau lebih ketat dari baku
mutu udara ambien nasional. Tabel di bawah ini menunjukkan BMUA
sebagaimana tercantum dalam Lampiran PP. No. 41 Tahun 1999. Tabel
BMUA Nasional No.Parameter Waktu Pengukuran Baku Mutu 1.Sulfur
Dioksida (SO2)1 jam900 ug/Nm324 jam365 ug/Nm31 tahun60
ug/Nm32.Karbon Monoksida (CO)1 jam30000 ug/Nm324 jam10000 ug/Nm31
tahun-3.Nitrogen Dioksida (NO2)1 jam400 ug/Nm324 jam150 ug/Nm31
tahun100 ug/Nm34.Oksidan (O3)1 jam235 ug/Nm324 jam-1 tahun50
ug/Nm35.Hidro Karbon (HC)3 jam160 ug/Nm36.Partikulat < 10 um (PM10)1
jam-24 jam150 ug/Nm31 tahun-Partikulat < 2,5 um (PM2,5)1 jam-24 jam66
ug/Nm31 tahun15 ug/Nm3 7.Debu (TSP)1 jam-

Anda mungkin juga menyukai