Anda di halaman 1dari 48

SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN

A. SPESIFIKASI UMUM

1. PETUNJUK DAN URAIAN UMUM

1.1 Dalam Specifikasi Teknis pekerjaan ini diuraikan tentang lingkup pekerjaan, bahan,
peralatan , peraturan dan tata cara kerja serta lain- lain yang dianggap perlu.

1.2 Pemborong di wajibkan mempelajari seluruh isi bestek dan gambar rencana.

1.3 Pemborong di wajibkan menyesuaikan antara bestek, gambar rencana dengan


kondisi lapangan pekerjaan.

1.4 Bila perbedaan antara gambar rencana dan bestek serta antara gambar rencana,
bestek dengan lapangan, maka kontraktor diwajibkan untuk melapor dan
mengkonsultasi dengan pengawas atau Direksi.

1.5 Bestek dan gambar rencana merupakan suatu kesatuan dengan kontrak yang
merupakan lampiran.

2. LINGKUP PEKERJAAN
Meliputi pekerjaan :
4.1. Pekerjaan Persiapan
4.2. Pekerjaan Tanah dan Pondasi
4.3. Pekerjaan Beton Bertulang
4.4. Pekerjaan Pasangan dan Plasteran
4.5. Pekerjaan Lantai
4.6. Pekerjaan Atap
4.7. Pekerjaan Plafond
4.8. Pekerjaan Kusen Dan Almunium UPVC
4.9. Pekerjaan Pengecatan
4.10. Pekerjaan Listrik
4.11. Pekerjaan Sanitair

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


1
3. PERATURAN TEKNIS BANGUNAN YANG DIGUNAKAN

Kecuali ditentukan lain dalam syarat teknis ini, berlaku dan mengikat ketentuan-
ketentuan tersebut di bawah ini termasuk segala perubahan dan tambahannya:

2.1. Perpres No. 70 tahun 2012 beserta penjelasannya.

2.2. Peraturan-Peraturan umum mengenai pelaksanaan pembangunan di indonesia atau


Algene voor warder voor de uitvoerig bij aanneming van openbare werken (AV)
1941.

2.3. Keputusan Dirjen Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum No. 295/KPTS/
CK/1997 tanggal 1 April 1997 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan
Gedung Negara.

2.4. Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI 1991), SK SNI T-15. 1919.03.

2.5. Tata Cara Pengadukan dan Pengecoran Beton SNI 03-3976-1995.

2.6. Peraturan Muatan Indonesia NI. 8 dan Indonesia Loading Code 1987 (SKBI -
1.2.53.1987).

2.7. Ubin Lantai Keramik, Mutu dan Cara Uji SNI 03-3976-1995.

2.8. Ubin Semen Polos SNI 03-0028-1987.

2.9. Peraturan Konstruksi Kayu di Indonesia (PPKI) NI 5.

2.10. Mutu Kayu Bangunan SNI 03-3527-1984.

2.11. Mutu Sirap SNI 03-3527-1984.

2.12. Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL) SNI 04-0225-1987.

2.13. Tata Cara Perencanaan Tangki Septick SNI 032398-1991.

2.14. Peraturan Umum Keselamatan Kerja dari Departemen Tenaga Kerja.

2.15. Peraturan Semen Portland Indonesia NI 8 tahun 1972.

2.16. Peraturan Bata Merah Sebagai Bahan Bangunan NI 10.

2.17. Peraturan Plumbing Indonesia.

2.18. Tata Cara Pengecatan Kayu untuk rumah dan Gedung SNI 03-2407-1991.

2.19. Tata Cara Pengecatan Dinding Tembok dengan Cat Emulsi SNI-03-2410-1991.

2.20. Peraturan dan ketentuan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah setempat yang
bersangkutan dengan permasalahan bangunan.

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


2
Apabila penjelasan dalam Syarat-syarat Teknis tidak sempurna atau belum lengkap
sebagaimana ketentuan dan syarat dalam peraturan diatas, maka Kontraktor wajib
mengikuti ketentuan peraturan-peraturan yang disebutkan di atas.

4. PEKERJAAN PERSIAPAN

4.1. Lingkup Pekerjaan

Meliputi pekerjaan :

4.1.1 Pembersihan lapangan sekeliling bangunan.

4.1.2 Pembongkaran gedung lama bila ada.

4.1.3 Pengukuran dan Pemasangan bouwplank.

4.1.4 Papan Nama Proyek

4.1.4 Pondok Kerja (Sewa).

4.1.4 Pengadaan air untuk pelaksanaan pekerjaan.

4.2. Persyaratan Bahan

4.2.1 Untuk Pengukuran bahan-bahan dan peralatan : meteran, water pass serta peralatan
dan patok-patok yang kuat yang diperlukan untuk pengukuran. Semua peralatan ini
harus dimiliki Pemborong dan harus selalu ada apabila sewaktu-waktu memerlukan
pemeriksaan.

4.2.1 Bahan bouwplank dipakai tiang kayu 5/7 cm dan papan ukuran 2/20 cm.

4.2.2 Papan Nama Proyek dipasang harus mengikuti peraturan-peraturan pemerintah


setempat, sepenuhnya menjadi beban Pelaksana.

4.2.3 Untuk menampung air kerja disiapkan drum penampung, air harus memenuhi
kualitas yang ditentukan dalam SK SNI T- 15.1991.03.

4.3. Tata Cata Kerja Pelaksanaan

4.3.1 Pembersihan Lapangan

Pembersihan sekeliling bangunan dan pembongkaran gedung lama meliputi


pembersihan semua tanaman yang tumbuh termasuk pembongkaran akar-akar
pohon yang diseluruh luas site (lokasi pekerjaan), peralatan tanah /pembuatan
terasering jika diperlukan. Untuk pembongkaran gedung ditujukan khusus ruangan
yang terkena bongkaran sesuai dengan gambar bestek, Hasil bongkaran termasuk
diatas dibuang keluar lokasi pekerjaan.

4.3.2 Pengukuran

Penentuan lokasi bangunan atau penentuan duga/patok, bangunan, jalan, land


scaping dan lain-lain
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)
3
4.3.3 Pemasangan Bouwplank

Tiang Bouwplank harus terpasang kuat, Papan ditekan lurus dan pada sisi atasnya
dipasang waterpass (timbang air) dengan sudut-sudutnya harus siku.

4.3.4 Pondok Kerja.

Untuk gudang dan bangsal kerja disewa sekitar lokasi pekerjaan. Pengadaan air
untuk melaksanakan pekerjaan.

4.3.5 Pengadaan air untuk melaksanakan pekerjaan diambil dari sumber air terdekat,
kemudian ditampung dalam drum-drum yang telah disediakan. Kebutuhan air ini
harus disediakan dalam jumlah cukup selama melaksanakan pekerjaan. Air harus
memenuhi syarat yang tercantum dalam PBI 1971 NI.2.

B. SPESIFIKASI TEKNIS

1. PEKERJAAN TANAH GALIAN / URUGAN

1.1 Lingkup Pekerjaan

Lingkup pekerjaan yang akan dilaksanakan pada pekerjaan sudah harus


diperhatikan jenis tanah yang dijumpai di lapangan seperti : tanah pasir, tanah
gambut, tanah keras (batuan), tanah liat dan lain sebagainya, yaitu :

1.1.1 Galian tanah untuk pekerjaan substruktur (pondasi dan saluran keliling bangunan)

1.1.2 Timbunan kembali galian tanah pondasi

1.1.3 Timbunan tanah dan pasir bawah lantai, pondasi dan saluran termasuk
pemadatannya.

1.1.4 Perataan tanah sekeliling bangunan

1.1.5 Urugan tanah diluar bangunan untuk mendapatkan peil lantai yang disyaratkan.

1.2 Persyaratan Bahan

1.2.1 Dasar galian tanah sesuai dengan gambar atau sampai mencapai tanah keras.

1.2.2 Untuk timbunan bekas galian pondasi, digunakan tanah bekas galian pondasi.

1.2.3 Untuk timbunan bawah lantai digunakan tanah dan pasir pasang kualitas baik.

1.2.4 Tanah timbunan dan pasir urugan harus bersih dari kotoran-kotoran dan akar-akar
kayu, serta sampah lainnya.

1.2.5 Pengurugan dengan tanah timbun dilaksanakan lapis demi lapis supaya padat.

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


4
1.3 Tata Cara Kerja Pelaksanaan

1.3.1 Sebelum digali pondasi buat tanda sesuai dengan petunjuk gambar.

1.3.2 Kemudian gali tanah dengan menggunakan alat atau sekop dan cangkul hingga
mencapai kedalaman yang telah ditentukan.

1.3.3 Bila keluar air pada lobang galian pondasi harus dipompa keluar dengan
menggunakan mesin pompa air.

1.3.4 Tanah urug ditimbun lapis demi lapis serta dipadatkan dengan Vibrator Stempler.

1.3.5 Bila tanah urug sudah mencapai peil ketinggian yang diinginkan maka tanah
tersebut harus diratakan.

2. PEKERJAAN PONDASI

2.1 Lingkup Pekerjaan

Meliputi pekerjaan seluruh bangunan, terdiri dari :

2.1.1 Pondasi pasangan batu kali/belah.

2.1.2 Pondasi rollag/ batu bata transram

2.1.3 Pondasi Tapak.

2.2 Persyaratan Bahan

2.2.1 Peraturan yang dipedomani adalah Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI
1991), SK SNI T-15. 1919.03.

2.2.2 Untuk Pekerjaan Pondasi Tapak dilakukan dengan beton bertulang Mutu K-250 kg
/cm2.

2.2.3 Untuk pasangan batu kali/belah digunakan batu kali/ belah yang berukuran
maksimum 10 cm –15 cm, berwarna abu – abu hitam dan tidak berpori.

2.2.4 Untuk pondasi rollag bata/transram digunakan jenis bata merah setempat yang
berkualitas baik.

2.3 Tata Cara Kerja Pelaksanaan

2.3.1 Sebelum pondasi dipasang terlebih dahulu diadakan pengukuran-pengkuran dari as


ke as pondasi sesuai dengan gambar konstruksi dan dimintakan persetujuan Direksi
tentang kesempurnaan galian.

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


5
2.3.2 Di dasar pondasi diurug dengan pasir pasang setebal 5-10 c, sebagai lantai kerja. Di
atas pasir, dipasang aanstamping, untuk pondasi batu kali/batu belah. Lapisan ini
juga harus dipadatkan, dengan menyiram air di atasnya, sehingga pasir-pasir akan
mengisi rongga-rongga batu kali tersebut. Tebal lapisan dibuat sesuai dengan
gambar detail pondasi.

2.3.3 Beton cor lantai kerja dibuat dengan perbandingan 1 PC : 3 PS : 5 KR dengan tebal
5 – 10 cm. (atau sesuai gambar bestek)

2.3.4 Untuk tanah berdaya dukung lebih kecil 0,5 kg/cm2, dibawah pondasi dipasang
cerucuk kayu gelam bakau atau sejenisnya yang ditumbuk hingga mencapai
kedalam tanah keras.

2.3.5 Untuk pondasi dilaksanakan dengan ukuran sesuai gambar kerja dan gambar detail.
Campuran yang digunakan: Pondasi beton cyclopen dibuat dengan campuran 1 Pc :
3 Ps : 5 Kr yang diisi 30 % batu kali. Pondasi batu kali/belah dipasang dengan
perekat 1 Pc : 3 Ps, Pondasi tapak dibuat sesuai mix design atau mutu beton K-225
kg/ cm2. pondasi batu bata dipasang dengan perekat 1 Pc : 4 Ps dan pada bagian
sisi diplester kasar dengan campuran 1 Pc : 3 Ps.

2.3.6 Angker harus dipasang Ø 12 mm sejauh 0,75 m pada permukaan pasangan batu
gunung.

.
3. PONDASI BERTULANG

3.1 Lingkup Pekerjaan


1 Menyediakan semua tenaga, material dan equipment yang diperlukan untuk
menyelesaikan Pondasi Tapak seperti tercantum dalam gambar dan spesifikasi ini.
2. Material
a) Bahan-Bahan

Harus memenuhi syarat-syarat yang tercantum dalam code P.B.I 1971 dan SK-
SNI T-15-1991-03.

 Portland Cement

Digunakan portland Cement yang memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam NI-
8 atau minimal memenuhi S.400 menurut ketentuan yang digariskan oleh Asosiasi
Semen Indonesia. Semen yang digunakan harus dalam keadaan fresh dan tidak
terdapat gumpalan-gumpalan. Merek yang dipakai tidak boleh ditukar-tukar kecuali
mendapat persetujuan dari Konsultan Pengawas / Konsultan Perencana.

 Agregat

Agregates kasar batu pecah (split) dengan diameter max. 4cm. Agregates halus
pasir beton biasa dengan kebersihan yang memenuhi ketentuan P.B.I. 71 dan SNI
Dalam hal gradasi, dapat sedikit menyimpang dari kriteria normal menurut P.B.I 71
dengan catatan beton harus massif (padat, tanpa rongga / pori-pori).
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)
6
 Besi Beton

Besi beton biasa (normal round steel bars), Jenis BJTD-40 untuk diameter 13 mm
dan yang lebih besar dan BJTP-24 untuk diameter 8 mm dan 10 mm dan dalam
percobaan lengkung 180 tidak menunjukkan tanda-tanda getas. Pelaksana
Pekerjaan / Pemborong harus melaksanakan pengujian tarik dan lengkung untuk
setiap 20 ton besi di laboratorium yang disetujui oleh Konsultan Pengawas.
Disamping hasil pengujian dari laboratorium Pelaksana Pekerjaan / Pemborong
harus menyerahkan jaminan / sertifikat kwalitas besi yang dikeluarkan oleh pabrik
pembuat besi beton yang bersangkutan.

3.2. Penggalian telapak

a) Sebelum pelaksanaan pekerjaan penggalian Pemborong harus menyampaikan


usulan teknis kepada Konsultan Pengawas untuk mendapatkan persetujuan. Usulan
teknis pelaksanaan pembuatan Pondasi telapak minimal harus mencakup:

 Pengaturan lokasi kerja

 Pengaturan lalulintas / traffic management.

 Metoda kerja dan urutan pelaksanaan

 Urutan penggalian berikut penomoran titik pondasi

 Cara / metoda quality control yang akan diterapkan

 Batasan-batasan toleransi pelaksanaan

 Dimana tanah hasil penggalian ditampung.

b) Sebelum penggalian Puer dilakukan titik pondasi harus dichek kembali ketepatan
koordinatnya.

c) Berdasarkan data-data karakteristik tanah bawahan yang ada, lapis tanah yang
cukup baik untuk bearing layer adalah pada kedalaman 2s/d 3 m dari muka tanah,
Podasi harus masuk minimal 1.0 m kedalam tanah keras dengan nilai SPT >30

d) Pelaksana Pekerjaan / Pemborong harus memberikan jaminan dengan cara yang


menyakinkan bahwa ketentuan tersebut pada butir diatas telah dipenuhi, antara lain
dengan memberi contoh hasil penggalian yang diambil masing-masing pada :

 Setiap perubahan lapisan tanah

 Ujung penggalian

 0.5 meter sebelum ujung

 1 meter sebelum ujung

e) Penghentian penggalian dilakukan pada kedalaman yang menyakinkan Tenaga Ahli


Supervisi Pelaksana Pekerjaan / Pemborong Spesialis dan Tenaga Ahli Konsultan
Pengawas, berdasarkan data tanah yang diberikan dan data tanah tambahan (jika
Pemborong melakukan penyelidikan tanah tambahan). Jika salah satu belum
meyakinkan, penggalian harus diteruskan.

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


7
f) Untuk pengamanan galian dari kelongsoran harus dipasang casing pengaman dari
buis beton. Pemasangan buis beton harus dilakukan sejalan dengan proses
penggalian.

g) Berdasarkan data tanah setempat kedalaman muka air tanah pada kedalaman 2.00
m dari muka tanah setempat. Oleh sebab itu selama proses penggalian dan
pembersihan lubang hingga pengecoran perlu dilakukan dewatering untuk menjaga
lubang agar tetap kering.

h) Sebelum pembesian dimasukkan dasar lubang harus dibersihkan dari endapan


lumpur / sedimen.

i) Segera setelah dilakukan cleaning, pembesian harus dimasukkan pada posisi yang
tepat. Jika panjang lubang lebih besar dari panjang besi, harus disiapkan besi
penggantung. Untuk menjaga centrisnya pembesian harus disiapkan guide yang
dipasang pada sisi luar keranjang besi.

j) Sebelum pengecoran dilaksanakan perlu dichek kembali ketebalan endapan lumpur /


sedimen pada dasar lubang. Jika ketebalan endapan melampaui 20 cm, harus
dilakukan cleaning ulang dengan mengangkat kembali pembesian. Pelaksana
Pekerjaan / Pemborong harus dapat melakukan cara lain yang dapat disetujui
Konsultan Pengawas / Konsultan Perencana jika pengangkatan kembali pembesian
ternyata tidak praktis.

k) Kedudukan Pondasi Telapak harus vertikal dengan toleransi sebagai berikut :

 Toleransi lokasi maksimum 10 cm dari lokasi yang ditentukan (pada posisi cut-off
level)

 Toleransi vertikal maksimum 1 : 80

l) Kuwalitas beton yang digunakan K250 ( kuat tekan karakteristik 250 kg/cm2) atau
fc’=25MPa dan harus Readymix, Pelaksana Pekerjaan / Pemborong harus
melakukan desain mix dan hasilnya harus mendapat persetujuan dari Konsultan
Pengawas.

4. Pelaksanaan Pembetonan

a) Sebelum pembetonan dimulai dasar lubang harus dibersihkan dari lumpur dan sisa-
sisa penggalian serta mendapat persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas.
Lubang yang telah dibersihkan harus segera dicor (maximum 20 menit setelah
cleaning).

b) Pembetonan harus dilakukan dengan sistem tremi, sebelum pembetonan dimulai


tremi harus bersih. Untuk mencegah tercucinya beton pada saat pertama beton
diturunkan harus dipergunakan pembatas antara beton dengan air ( bola plastic,
stereo foam ) yang akan naik kembali kepermukaan air setelah melewati lubang
tremi.

c) Slump beton disekitar 16-18cm diperlukan untuk memperoleh masa homogen tanpa
penggetar. Penggunaan vibrator tidak diperkenankan. Untuk memungkinkan slump
besar tersebut harus digunakan kadar semen 400 kg/m3 beton dan harus memenuhi
syarat kuat tekan minimal 250 kg/cm2.

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


8
d) Kedudukan ujung pipa tremi maximum 5cm diatas dasar galian sebelum beton
dilepaskan dari dasar tremi. Kedudukan tremi terhadap muka beton pada setiap
phase pembetonan minimum 200 cm. Pembetonan harus dilaksanakan tanpa
interupsi (harus dilakukan secara kontinyu) hingga pembetonan selesai.
Pembetonan dan pembesian harus ditambah minimal 80 cm diatas Cut-off level (lihat
gambar detail Pondasi sumuran).

e) Jika pada pelaksanaan pembetonan terjadi kemacetan pada pipa tremi, atau pipa
tremi tidak bisa dicabut / terjepit lonsoran , maka pondasi telapak yang bersangkutan
dianggap gagal dan harus diganti dengan satu pondasi telapak atau lebih pada
posisi yang ditentukan oleh Konsultan Perencana. Telapak pengganti ini berikut
konsekwensi penambahan volume pilecaps manjadi tanggungan Pelaksana
Pekerjaan / Pemborong

 Pelaksana Pekerjaan / Pemborong harus menjamin kesempurnaan pembetonan


dan menjamin dicapainya kapasitas yang diperlukan yang dinyatakan dalam
ketentuan.

 3 (tiga) jam setelah pengecoran, lubang dibagian atas beton harus diurug
kembali dengan pasir urug dan dipadatkan.

 Tanah / lumpur hasil pengeboran harus ditampung dan dialirkan pada bak
penampungan untuk selanjutnya dibuang keluar site yang biayanya sudah
termasuk dalam penawaran harga.

3.3. Tanggung Jawab Pelaksana Pekerjaan / Pemborong.

a) Pelaksana Pekerjaan/ Pemborong bertanggung jawab atas tercapainya

b) kwalitas dan Kapasitas tiang pancang bor pile seperti yang dipersyaratkan dalam
specifikasi ini yang tidak terbatas pada masa pemeliharaan.

c) Semua tiang yang dinyatakan gagal oleh pengawas, harus diganti dengan
tiang baru atas biaya Pelaksana pekerjaan. Posisi
tiang pengganti harus mendapat persetujuan KonsultanPerencana.

a. Jika setelah diadakan ekskavasi dan pembobokan untuk pembuatan pile caps
ternyata posisi as sumuran melampaui batas toleransi yang diperkenankan,
maka segala konsekwensi biaya untuk mengatasi hal tersebut diatas tetap menjadi
tanggung jawab Pelaksana Pekerjaan/ Pemborong.

4.1 Pekerjaan Beton Bertulang Biasa

1. Lingkup Pekerjaan

Melengkapi semua tenaga, equipment dan bahan untuk menyelesaikan semua pekerjaan
beton sesuai dengan dokumen tender.

2. Pedoman Pelaksanaan
Kecuali ditentukan lain dalam ketentuan ketentuan berikut ini, maka sebagai dasar
code P.B.I.1971 dan PB 88 tetap digunakan.

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


9
3. Bahan dan Cara Pelaksanaan
a) Portlan cement

Digunakan portland cement jenis II menurut N.I.8 type I menurut A.S.T.M.“ memenuhi S
400“ menurut standar Cement Portland yang digariskan oleh Assosiasi Cement
Indonesia. Merk yang dipilih tidak dapat ditukar-tukar dalam pelaksanaan kecuali
dengan persetujuan tertulis Konsultan Pengawas / Perencana. Pertimbangan hanya
dapat dilakukan dalam keadaan :

 Tidak adanya stock dipasaran dari brand yang tersebut diatas.


 Pemborong memberikan jaminan data-data teknis bahwa mutu
semen penggantiannya adalah dengan kualitas yang setara dengan mutu
cement yang tersebut diatas.
Batas-Batas pembetonan dari penggunaan cement berlainan merk harus
disetujui oleh Konsultan Pengawas.
b) Agregat.
Kualitas aggregates harus memenuhi syarat-syarat P.B.I. 1971 PB.88.“ dan SNI
untuk bahan terkait
 Aggregates kasar berupa koral atau crushed stones yang
mempunyai susunan gradasi yang baik, cukup syarat kekerasannya dan
padat (tidak porous). Kadar lumpur tidak boleh melebihi dari 1% berat
kering.
 Dimensi maximum dari aggregates kasar tidak lebih dari 2,5 cm dan tidak
lebih dari seperempat dimensi
beton yang terkecil dari bagian konstruksi yang bersangkutan. Khusus
untuk pile caps, diluar lapis pembesian yang berat, batas maximum tersebut
3 cm dengan gradasi baik.
 Untuk bagian dimana pembesian cukup berat (cukup ruwet)
dapat digunakan koral gundu.

 Agregat halus berupa pasir beton baik berupa pasir alam maupun pasir
buatan yang dihasilkan alat pemecah batu dan berbutir keras
 Agregat halus harus memenuhi pasal 3.3 PBI 1971
 Kadar lumpur maximum adalah 4 % dari berat kering.

c) Besi beton

Kecuali ditentukan lain dalam gambar, digunakan besi beton polos untuk diameter
6,8,12 digunakan besi polos dari U - 24.Untuk mendapatkan jaminan atas kualitas besi
yang diminta, maka disamping adanya certificate dari pabrik (melalui suppliers), juga
harus ada/dimintakan certificate dari laboratorium baik pada saat pemesanan maupun
secara periodik minimum 2 contoh percobaan (stress-strain) dan pelengkungan untuk
setiap 20 ton besi.

d) Admixture ( additive)

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


10
1. Untuk pembetonan pada harus digunakan Plastisizer yang
bersifat mereduksi pemakaian air, meningkatkan slump tanpa penambahan
air, memperlambat setting time , memperkecil peningkatan temperatur dan
meningkatkan kekuatan akhir beton.Additive tidak boleh mengandung
Cloride dan bahan lain yang menghasilkan lapisan film additive yang bisa
digunakan antara lain Rheobuild 716 (dosis:0,80 liter per 100 kg cement) ,
tricosal VZ 020 ( dosis : 0.3 % berat cement).

2. Cara penggunaan additive harus sesuai dengan petunjuk-petunjuk dari


produsen bahan-bahan tersebut. Penyimpangan dari ketentuan diatas harus
dengan persetujuan Konsultan Perencana.

e) Penyimpanan bahan

 Pengiriman dan penyimpanan bahan-bahan, pada umumnya harus sesuai


dengan waktu dan urutan pelaksanaan.

 Semen harus didatangkan dalam zak yang tidak pecah (utuh), tidak terdapat
kekurangan berat dari apa yang tercantum pada zak, segera
setelah diturunkan disimpan dalam gudang yang kering, terlindung dari
pengaruh cuaca, berventilasi secukupnya dan lantai
yang bebas dari tanah. Semen harus masih dalam keadaan fresh (belum
mulai mengeras). Jika ada bagian yang mulai mengeras,
bagian tersebut masih harus dapat ditekan hancur dengan tangan bebas,
dan jumlahnya tidak boleh melebihi 5% berat, dan kepada
campuran tersebut diberi tambahan cement baik dalam jumlah yang sama.
Semuanya dengan catatan, kualitas beton sesuai dengan yang diminta
perencana

 Penyimpanan besi beton harus bebas dari tanah dengan menggunakan


bantalan-bantalan kayu dan bebas dari lumpur atau zat-zat asing lainnya
(misal: minyak dan lain-lainnya).

 Aggregates harus ditempatkan dalam bak-bak yang terpisah satu dan lain
gradasinya dan diatas lantai kerja ringan untuk meghindari
tercampurnya dengan tanah.

f) Bekisting

 Type bekisting.
Bekisting yang digunakan dalam bentuk beton, baja, pasangan batu kali
diplester atau kayu. Khusus untuk bagian-bagian yang terlihat harus
digunakan type bekisting yang menghasilkan permukaan yang rata ( fair
finish ,

 Perencanaan.

- Bekisting harus direncanakan sedemikian rupa sehingga tidak ada


perubahan bentuk yang nyata dan cukup dapat menampung beban- beban
sementara sesuai dengan jalannya kecepatan pembetonan. Semua
bekisting harus diberi penguat datar dan silangan sehingga bergeraknya
bekisting selama pelaksanaan dapat ditiadakan, juga harus cukup rapat untuk
menghindarkan keluarnya adukan. Susunan bekisting dan penunjangnya
harus teratur, sehingga memudahkan pemeriksaan.

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


11
 Pada bagian terendah (dari setiap phase pegecoran) dari bekisting kolom
atau dinding harus ada bagian yang mudah dibuka untuk inspeksi dan
pembersihan.

 Kayu bekisting harus bersih dan dibasahi terlebih dahulu sebelum


pengecoran. Adakan tindakan untuk meghindarkan mengumpulnya air pada
sisi bawah.

 Pembongkaran bekisting.
Bekisting/cetakan beton harus dipertahankan hingga beton berumur 14
hari dan mencapai kuat tekan karakteristik minimal 225 kg/cm2.

g) Perancah

 Perancah harus dibuat sedemikian rupa sehingga memudahkan pemeriksaan.

 Perancah harus dibuat diatas pondasi yang kuat dan kokoh terhindar dari bahaya
penggerusan dan penurunan.

 Konstruksinya harus kokoh terhadap pembebanan yang akan dipikulnya.

 Pemborong harus memperhitungkan dan membuat langkah-langkah


persiapan yang perlu, sehubungan dengan pelendutan perancah.

 Permukaan dan bentuk konstruksi beton sesuai dengan kedudukan (peil) dan bentuk
yang seharusnya (menurut gambar rencana).

 Perancah harus dibuat dari baja atau kayu. Pemakaian bambu untuk hal ini tidak
diperbolehkan.

 Bila perancah itu sebelum atau selama pekerjaan pengecoran beton berlangsung
menunjukan tanda-tanda adanya penurunan sehingga menurut pendapat Konsultan
Pengawas hal itu akan menyebabkan kedudukan (peil) akhir tidak akan dapat
dicapai sesuai dengan gambar rencana atau penurunan tersebut akan sangat
membahayakan dari segi konstruksi, maka Konsultan Pengawas dapat
memerintahkan untuk membongkar pekerjaan beton yang sudah dilaksanakan dan
mengharuskan Pemborong untuk memperkuat perancah tersebut sehingga
dianggap cukup kuat. Akibat dari semua ini menjadi tanggung jawab pemborong.

 Gambar rencana perancah dan sistim pondasinya, secara detail harus diserahkan
kepada Konsultan Pengawas untuk diperiksa dan disetujui.

 Pekerjaan pengecoran beton tidak boleh dilakukan sebelum


gambarrencana tersebut disetujui serta perancah telah dianggap cukup kuat
dan kokoh untuk dapat dipergunakan.

 Setelah mutu beton memenuhi dan umur beton tercapai (persetu juan dari Konsultan
Pengawas) perancah harus dibongkar

 Kegagalan pelaksanaan kostruksi perancah, seluruhnya tanggung jawab


Pemborong.

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


12
h) Pemasangan Pipa - Pipa
Pemasangan pipa dalam beton tidak boleh sampai merugikan
kekuatan konstruksi, untuk itu lihat pasal 5.7. ayat 1 dari P.B.I. 1971.

i) Kualitas Beton

 Seluruh struktur beton bertulang biasa menggunakan kuat tekan beton minimal K
250 (kuat tekan karakteristik pada umur 28 hari untuk kubus 15 x 15 x 15
adalah 250 kg/cm2 atau kuat tekan Cylinder fc’= 25 Mpa, dengan derajat
konvidensi0,95). Evaluasi penentuan karakteristik ini didalam ketentuan-ketentuan
yang terdapat dalam P.B.I. 1971 dan SNI

Sebagai pegangan dalam pelaksanaan diberikan korelasi kuat tekan beton terhadap
umur beton sebagai berikut

Umur beton Kuat tekan

3 hari 40%

7 hari 65%

14 hari 88%

21 hari 95%

28 hari 100%

 Pelaksana pekerjaan harus memberikan jaminan atas kemampuannya membuat


kualitas beton ini dengan memperhatikan data- data pelaksanaan dilain tempat atau
dengan mengadakan trial-mixes. Dalam hal digunakan beton ready mix,
maka Pemborong harus mengajukan kepada Konsultan Pengawas komposisi
campuran beton yang akan digunakanselambat lambatnya dua minggu sebelum
pekerjaan beton dimulai. Dalam kaitan ini jumlah semen minimum menurut
ketentuan pasal i.6a tetap tidak boleh dikurangi

 Selama pelaksanaan harus dibuat benda-benda uji menurut ketentuan-ketentuan


yang disebut dalam pasal 4.7 dan 4.9 dari PBI. 1971, mengingat bahwa W/C
faktor yang sesuai disini adalah sekitar 0,50 - 0,55
maka pemasukan adukan kedalam cetakan benda uji dilakukan menurut pasal
4,55 ayat 3 PBI. 1971 tanpa menggunakan penggetar. Pada masa-masa
pembetonan pendahuluan harus dibuat minimum 1 benda uji per 1 1/2 M3 beton
hingga dengan cepat diperoleh 20 benda uji yang pertama.
Untuk selanjutnya diambil satu sample untuk setiap truck mixer.

 Pemborong harus membuat laporan tertulis atas data-data kualitas beton yang
dibuat dengan disahkan oleh Konsultan Pengawas. Laporan tersebut harus
dilengkapidengan harga karakteristiknya.

 Selama pelaksanaan harus ada pengujian slump, minimum 7.5 cm, maximum 12
cm. Khusus untuk water tigh concrete dengan system water proofing integral , slump
awal 17-18 cm sebelum dicampur water proofing. Dalam hal digunakan Concrete
Pump besarnya slump boleh dinaikkan sampai dengan 15 cm, dengan catatan dari
segi kwalitas beton tidak boleh berkurang. Cara pengujian slump adalah sebagai
berikut Contoh Beton diambil tepat sebelum dituangkan kedalam cetakan beton
(bekisting), cetakan slump dibasahkan dan ditempatkan diatas kayu yang rata
atau plat beton. Cetakan diisi sampai kurang lebih 1/3 nya.Kemudian adukan
tersebut ditusuk-tusuk 25 kali dengan besi 16mm panjang 30 cmm
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)
13
dengan ujungnya yang bulat (seperti peluru). Pengisian dilakukan dengan
cara serupa untuk dua lapisan berikutnya. Setiap lapis ditusuk-tusuk 25 kali dan
setiap tusukan harus masuk dalam satu lapis yang dibawahnya. Setelah atasnya
diratakan, segera cetakan diangkat perlahan-lahan, dan diukur penurunannya
(slumpnya).

 Jumlah semen minimum 360 kg per m3 beton, khusus pada pondasi. jumlah semen
tersebut dinaikkan menjadi 375 kg/m3 beton. Dalam kaitan ini baik jumlah semen
minimum maupun kwalitas beton adalah mengikat.

 Pengujian kubus percobaan harus dilakukan di laboratorium yang disetujui oleh


Konsultan Pengawas.

 Perawatan kubus percobaan tersebut adalah dalam pasir basah tapi tidak tergenang
air, selama 7 hari dan selanjutnya dalam udara terbuka.

 Jika perlu maka digunakan juga pembuatan kubus percobaan untuk umur 7 hari
dengan ketentuan hasilnya tidak boleh kurang 65% kekuatan yang diminta pada 28
hari. Jika hasil kuat tekan benda-benda uji tidak memberikan angka kekuatan yang
diminta, maka harus dilakukan pengujian beton ditempat dengan cara-cara seperti
ditetapkan dalam P.B.I. 1971 dengan tidak menambah beban biaya bagi
pemilik bangunan (beban pemborong).

 Pengadukan beton dalam mixer tidak boleh kurang dari 75 detik terhitung setelah
seluruh komponen adukan masuk kedalam mixer

j) Pengecoran

 Sebelum pengecoran kontraktor harus mengajukan ijin cor kepada Konsultan


Pengawas dengan melampirkan volume pengecoran, mutu beton dan jenis peralatan
yang akan digunakan.

 Penyampaian beton (adukan) dari mixer ketempat pengecoran harus dilakukan


dengan cara yang tidak mengakibatkan terjadinya segragasi komponen-komponen
beton. Untuk bagian komponen yang tinggi seperti kolom dan dinding harus
digunakan tremi/ corong.

 Harus digunakan vibrator untuk pemadatan beton. Ukuran dan jumlah vibrator
harus disesuaikan dengan kondisi bagian yang dicor dan kecepatan pembetonan.

 Harus disediakan terpal jika diperkirakan akan terjadi hujan.

k) Siar – Siar Konstruksi Dan Pembongkaran Bekisting.

Pembongkaran bekisting dan penempatan siar-siar pelaksanaan, sepanjang


tidak ditentukan lain dalam gambar, harus mengikuti pasal 5.8 dan 6.5. dari code
P.B.I. 1971. Siar-Siar tersebut harus dibasahi lebih dahulu dengan
air cement tepat sebelum pengecoran lanjutan dimulai. Letak siar-
siar tersebut harus disetujui oleh Konsultan Pengawas.Khusus untuk pekerjaan
basement, pada bagian bagian yang dipersyaratkan kedap air, pemberhentian
pengecoran harus diakhiri dengan pemasangan water stop dari jenis PVC.

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


14
l) Penggantian Besi

 Pemborong harus mengusahakan agar besi yang dipasang adalah sesuai dengan
apa yang tertera pada gambar

 Jika Pemborong tidak berhasil mendapatkan diameter besi yang sesuai dengan
yang ditetapkan dalam gambar, maka dapat dilakukan penukaran diameter
besi dengan diameter yang terdekat dengan catatan :

- Harus ada persetujuan dari Konsultan Pengawas

- Jumlah besi per-satuan panjang atau jumlah besi di tempat tersebut


tidak boleh kurang dari yang tertera dalam gambar (dalam hal ini yang
dimaksudkan adalah jumlah luas).

- Penggantian tersebut tidak boleh mengakibatkan keruwetan pembesian ditempat


tersebut atau didaerah overlapping yang dapat menyulitkan pembetonan atau
penyampaian penggetar

m) Toleransi Besi

Diameter, Variasi Toleransi


berat diameter_

Dibawah 10 mm max. 7% max. 0,4 mm


10 mm - 16 mm max. 5% max. 0,4 mm
16 mm - 28 mm max. 5% max. 0,5 mm
28 mm - 32 mm max. 4% max. 0,5 mm

n) Perawatan Beton

Beton harus dilindungi dari pengaruh panas matahari,sehingga tidak terjadi


penguapan yang cepat. Untuk itu beton harus dibasahi terus menerus
paling sedikit 10 hari setelah pengecoran. Persiapan perlindungan atas
kemungkinan datangnya hujan, harus diperhatikan. Siapkan tenda-tenda untuk
keperluan tersebut.

n) Penyambung Besi.
Kecuali ditentukan dalam gambar, maka penyambungan besi harus mengikuti
ketentuan dari PBI 1971 dan PB 88 Khusus untuk besi kolom yang menggunakan
diameter 32mm atau lebih, harus digunakan sambungan mekanis dengan persyaratan
sbb:

 Kuat tarik dari besi sambungan harus lebih besar dari besi yang disambung.

 Penyambungan tidak boleh dilakukan disatu tempat.

 Pemborong harus mengajukan contoh dari besi sambungan berikut specikasi teknis
dari bahan tersebut kepada Konsultan perencana untuk mendapatkan persetujuan.

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


15
o) Pekerjaan metal deck

Bahan metal deck dapat dipilih dari dua produk berikut ini : Planja Combidex, Alcadex

 Ketebalan minimium 0.75 mm

 Luas penampang /m’ 8.70 cm2

 Tinggi gelombang 45 mm

 Tegangan leleh minimal 3200 kg/cm2.

 Metal deck harus digalvanize sesuai

 Metal deck harus masuk minimal 2.50 cm kedalam balok.

 Bagian ujung metal deck harus dipasang stopper sehingga tidak terjadi kebocoran
pada saat pengecoran

 Jarak support maximum 1.50 m.

 Daya dukung ijin satu support minimal 900 kg.

 Support boleh dibongkar jika beton telah mencapai kuat tekan minimal 225 kg/cm2
dan umur beton tidak kurang dari 7 hari.

 Sebelum pelaksanaan kontraktor harus mengajukan shop drawing penempatan dan


pemotongan metal deck untuk mendapatkan persetujuan konsultan Manajemen
Konstruksi.

 Stoper harus dibuka pada saat pembongkaran bekisting balok.

4. Tanggung Jawab Pemborong

Pemborong bertanggung jawab penuh atas kualitas konstruks sesuai dengan ketentuan-
ketentuan yang tercantum dalam specikasi ini dan sesuai dengan gambar- gambar
konstruksi yang diberikan. Adanya atau kehadiran Konsultan Pengawas selaku wakil
pemberi tugas atau perencana yang sejauh mungkin melihat / mengawasi menegur atau
memberi nasihat tidaklah mengurangi tanggung jawab penuh tersebut diatas.

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


16
5 Pekerjaan Struktural

5.1. Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan meliputi penyediaan semua tenaga kerja, bahan instalasi konstruksi dan
perlengkapan untuk pembuatan (dengan mesin)
pembangunan dan pengecatan semua pekerjaan baja strukturil,
termasuk pemasangan alat-alat fixing dan benda-benda yang terlekat sesuai dengan
dokumen tender.

5.2. Keahlian dan Pertukangan

Semua pekerja yang diterima untuk melakukan pekerjaan harus ahli (tukang-tukang)
yang berpengalaman dan mengerti benar pekerjaannya.
Welder yang mengerjakan pekerjaan pengelasan harus mempunyai welder
qualification G2 yang dikeluarkan oleh badan resmi. Segala hasil
pekerjaan mutunya sebanding dengan standard hasil pekerjaan ahli/ pertukangan
internasional yang baik.

5.3. Bahan-bahan

a) Baja yang dipakai harus sesuai dengan standart internasional yang disetujui.Untuk
seluruh sturuktur baja baja dengan tegangan putus minimal 3700 kg/cm2. Untuk
mendapatkan jaminan kwalitas baja yang digunakan Pemborong harus mengajukan
certifikat yang dikeluarkan oleh pabrik baja yang bersangkutan. Setiap perubahan
pemakaian kwalitas baja harus dengan persetujuan Konsultan Perencana.

b) ii. Digunakan baut dari jenis baut HTB yang sesuai ASTM A-325 ,tidak
berkarat dan dilindungi terhadap karat baik sebelum maupun setelah terpasang. Hanya
digunakan baut dari satu product dengan tanda dan kode yang jelas terdapat pada
bout. Semua bout harus dilengkapi dengan ring yang sesuai. Semua baut harus
dikencangkan dengan kunci momen yang besaran gaya torsinya sesuai dengan brosur
teknis produk ybs. Khusus untuk sambungan gordeng dipergunakan baut hitam biasa
dari ST 37 dengan tegangan leleh minimal 2400 kg/cm2.

5.4. Pekerjaan Las

a) Elektroda-elektroda harus dari standart internasional (AWS E 6013, JIS D4313)


yang disetujui dan sesuai dengan kwalitas baja yang digunakan dan ketebalan
las yang ditentukan Elektroda harus disimpan ditempat yang menjamin komposisi
dan sifat-sifat dari elektroda selama masa penyimpanan. Penggunaan arus
listrik untuk pengelasan harus disesuaikan dengan anjuran yang dikeluarkan
oleh pabrik pembuat elektroda yang bersangkutan.

b) Pekerjaan las sebanyak mungkin dilaksanakan dibengkel, pekerjaan las


dilapangan harus baik dan tidak boleh dilakukan dalam
keadaan basah, hujan, angin kencang. standar prosedur pengelasan mengikuti
standard A.W.S (American welding society ).

c) Tebal las minimum 0,7 kali tebal pelat/profil yang disambung dan harus penuh,
kecuali bila ditentukan lain dalam gambar.

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


17
d) Dalam setiap posisi dimana 2(dua) bagian dari satu benda saling
berdekatan harus dibuat suatu las perapat / pengendap guna
mencegah masuknya lengas, terlepas apakah itu diberikan detailnya atau tidak.

e) Bila las-lasan apapun memerlukan pembetulan maka hal ini harus dilakukan
sebagaimana diperintahkan oleh konsultan tanpa diberi biaya tambahan.

f) Untuk sambungan komponen konstruksi baja yang tidak dapat


dihindarkan, berlaku ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

- Hanya diperkenankan ada satu sambungan.

- Semua penyambungan profil harus dilaksanakan dengan las tumpul / Full


Penetration Butt Weld

- Harus diajukan bersamaan dengan pengajuan Shop Drawing.

- Pada pekerjaan dimana akan terjadi lebih dari satu lapisan las, maka lapisan
terdahulu harus dibersihkan dari kerak-kerak las, percikan percikan logam
sebelum memulai lapisan yang baru.

g) Pengujian Las

Pengujian atas kwlitas pengelasan dilakukan dengan methode Non destructive test
yaitu dengan Ultra sonic test. Jumlah tempat pengujian ditetapkan
1 % dari total panjang las. Tempat tempat pengujian ditentukan oleh Konsultan
Manajemen Konstruksi setelah pengelasan selesai.

5.6 Notasi dan Toleransi

Semua yang dinyatakan dalam gambar untuk baut M adalah diameter baut, sedang
diameter lubang baut adalah diameter baut ( M + 0.50 mm). Kalau diameter lubang
lebih besar dari diameter baut + 0.5 mm maka harus dilas ring yang tepat pada
lubang yang kebesaran tsb (dilas penuh) baru dipasang bautnya.

5.7. Shop Drawing

Apa yang diberikan adalah gambar kerja ( working drawing ).

Pemborong berkewajiban memeriksa/ membandingan kecocokan antara masing-


masing gambar yang diberikan. Gambar pabrik (shop drawing) yang terperinci harus
dibuat oleh Pemborong secara teliti. Pemborong bertanggung jawab atas semua
ukuran-ukuran yang dicantumkan pada shop drawing .Shop drawing harus
memberikan informasi jang jelas tentang bagian bagian struktur, termasuk lokasi,
type dan ukuran profil, bout, las. Shop drawing harus memperhatikan working drawing
yang diberikan dan harus mendapat persetujuan perencana lebih dahulu sebelum
dilaksanakan. Shop drawing harus mendapat persetujuan Konsultan Pengawas minimal
satu minggu sebelum pelaksanaan fabrikasi dimulai.

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


18
5.8. Ereksi

Pemborong harus mengajukan cara yang akan digunakan dalam erection berikut
peralatan yang akan digunakan kepada Konsultan Pengawas
untuk mendapatkan persetujuan. Pada saat erection rangka harus dilindungi terhadap
tumbukan, puntiran, dan hal-hal lain yang dapat merusak rangka.

5.9. Tolerensi Dimensi Profil

Lebar profil  1,50 Mm


Tinggi Profil  1,50 Mm
Tebal profil  0,50 Mm
Toleransi berat max 5 %

5.10. Grouting

Bahan yang digunakan harus mempunyai sifat :

 Tidak susut dalam proses pengeringan maupun setelah kering

 Mudah mengalir dan mengisi lobang secara baik flowable.

 Kuat tekan pada umur 7 hari minimal 350 kg/cm2.

 Mempunyai daya lekat yang baik terhadap beton maupun baja.

 Penggunaan bahan harus sesuai dengan petunjuk yang dikeluarkan oleh pabrik
yang bersangkutan

 Bahan yang akan digunakan harus mendapat persetujuan Konsultan Pengawas/


Konsultan perencana.

5.11. Pengecatan

Sebelum pengecatan permukaan baja harus dibersihkan terlebih dahulu dari


minyak, karat dan debu. Selanjutnya dilakukan pengecatan awal dengan menit. Setelah
menit mengering pasanglah lapis cat permanen Jumlah lapis cat minimal 2 x dengan warna
yang berbeda. Harusdigunakan primer antikarat seperti Zincromate Produk ICI.

6. PEKERJAAN BETON BERTULANG

6.1 Lingkup Pekerjaan

Lingkup Pekerjaan beton antara lain:

6.1.1 Pondasi tapak dan Stik Kolom

6.1.2 Sloof

6.1.3 Kolom Utama / praktis

6.1.4 Balok Latai

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


19
6.1.5 Balok Lantai

6.1.6 Plat Lantai

6.1.6 Balok/Ring Balok

6.1.6 Tempat-tempat yang mempergunakan beton bertulang sesuai dengan gambar


rencana.

6.2 Bahan

6.2.1 Semen

 Digunakan Portland Cement Type I menurut NI-8 tahun 1972 dan memenuhi S-
400 menurut standar Cement Portland

yang digariskan oleh Asosiasi Semen Indonesia (NI 8 tahun 1972).

 Semen yang sudah mengeras sebagian dan seluruhnya dalam satu zak semen,
tidak diperkenankan pemakaiannya sebagai bahan campuran.

 Penyimpanan harus sedemikian rupa sehingga terhindar dari tempat semen yang
lembab agar semen tidak cepat mengeras. Tempat penyimpanan semen harus
ditinggikan 30 cm dan tumpukan yang paling tinggi 2 m. Setiap semen yang
baru masuk harus dipisahkan dengan semen yang telah ada (dengan menerapkan
sistim FIFO) agar pemakaian semen dapat dilakukan menurut urutan pengirim.

6.2.2 Pasir Beton

Pasir beton harus berupa butir –butir tajam dan keras, bebas dari bahan-bahan
organik, lumpur dan sejenisnya serta memenuhi komposisi butir serta kekerasan
sesuai dengan syarat–syarat yang tercantum dalam SK SNI T-15. 1991.03.

6.2.3 Kerikil

 Kerikil yang digunakan harus bersih dan bermutu baik, serta mempunyai gradasi
dan kekerasan sesuai yang disyaratkan oleh SK SNI T-15.1991.03

 Timbunan kerikil dan pasir harus dipisahkan agar kedua jens material tersebut
tidak tercampur untuk menjamin adukan beton dengan komposisi material yang
akurat.

6.2.4 Air

Air yang digunakan harus air tawar, tidak mengandung minyak, asam alkali, garam,
bahan –bahan organik atau bahan –bahan lain yang dapat merusak beton atau baja
tulangan. Dalam hal ini sebaiknya dipakai air bersih yang dapat diminum.

6.2.5 Besi Beton

Besi beton yang digunakan adalah baja lunak dengan mutu f’c 17,5 Mpa. Daya
lekat baja tulangan harus dijaga dari kotoran, lemak, minyak, karet lepas dan bahan
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)
20
lainnya. Besi harus disimpan dengan baik, tidak menyentuh tanah dan tidak boleh
disimpan pada ruangan terbuka dalam jangka waktu panjang. Membengkokkan dan
meluruskan tulangan harus dilakukan dalam keadaan batang dingin. Tulangan harus
dipotong dan dibengkokkan sesuai gambar dan harus diminta persetujuan Direksi
terlebih dahulu. Jika pemborong tidak berhasil memperoleh diameter besi sesuai
dengan yang ditetapkan dalam gambar, maka dapat dilakukan penukaran dengan
diameter yang terdekat dengan cacatan : harus ada persetujuan Direksi. Jumlah besi
per satuan panjang atau jumlah besi ditempat tersebut tidak boleh kurang dari yang
tertera dalam gambar (dalam hal ini yang dimaksud adalah jumlah luas). Biaya
tambahan yang diakibatkan oleh penukaran diameter besi menjadi tanggung jawab
pemborong.

6.2.6 Cetakan dan Acuan

a. Peraturan yang dipedomani adalah peraturan Konstruksi kayu Indonesia (PKK I


61) NI-5, dan pembuatan cetakan dan acuan harus memenuhi ketentuan-
ketentuan didalam SK SNI T-15.1991.03.

b. Kayu yang digunakan digunakan adalah kayu kelas III asalkan cukup kuat dan
lurus.

c. Peil Bekesting harus datar, rata dan tidak berlubang-lubang. Bahan yang
digunakan untuk cetakan dan acuan harus bermutu baik sehingga hasil akhir
konstruksi mempunyai bentuk, ukuran dan batas –batas yang sesuai dengan yang
ditunjukkan oleh gambar rencana dan uraian pekerjaan.

6.2.7 Mutu Beton

a. Mutu beton dibuat dengan adukan 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr

b. Mutu beton untuk pekerjaan yang digunakan adalah berdasar pada Mix Design
dari laboratorium yang disepakati antara Kontraktor dan Pemimpin Proyek.

6.3 Tata Cara Kerja Pelaksanaan

6.3.1 Kecuali ditentukan lain dalam Rencana Kerja dan syarat-syarat ini, maka sebagai
pedoman tetap dipakai SK SNI T-15.1991.03.

6.3.2 Pemborong wajib melaporkan secara tertulis pada Direksi apabila ada perbedaan
yang didapat didalam gambar konstruksi dan gambar arsitektur.

6.3.3 Adukan Beton

Pengakuan adukan beton dari tempat pengadukan dan pengecoran harus dilakukan
dengan cara yang disetujui oleh Direksi, yaitu :

 Tidak berakibat pemisahan dan kehilangan bahan-bahan.

 Tidak terjadi perbedaan waktu yang menyolok antara pengikatan beton yang
sudah dicor dan yang akan dicor, dan nilai slump untuk berbagai pekerjaan beton
harus memenuhi SK SNI T – 15.1991.03.

6.3.4 Persiapan Pengecoran

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


21
Pengecoran beton hanya dapat dilaksanakan atas persetujuan tertulis Direksi.
Selama pengecoran berlangsung pekerja dilarang berdiri dan berjalan-jalan di atas
penulangan atau bekisting. Untuk dapat sampai ketempat-tempat yang sulit dicapai,
harus digunakan papan-papan berkaki yang tidak membebani tulangan dan dapat
mempengaruhinya.

6.3.5 Pengecoran Beton

 Memberitahu Direksi Lapangan selambat-lambatnya 24 jam sebelum suatu


pengecoran beton dilaksanakan. Persetujuan Direksi Lapangan untuk mengecor
beton berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan cetakan dan pemasangan besi
serta bukti bahwa Kontraktor dapat melaksanakan pengecoran tanpa gangguan.

 Adukan beton tidak boleh dituang bila waktu sejak dicampurnya air pada semen
dan agregat telah mencapai 1 jam dan waktu ini dapat berkurang lagi jika
Direksi Lapangan menganggap perlu berdasarkan kondisi tertentu.

 Beton harus dicor sedemikian rupa sehingga menghindari terjadinya pemisahan


material (segregagation) dan perubahan letak tulangan.

 Semua pengecoran bagian dasar kontruksi beton menyentuh tanah harus diberi
lantai kerja setebal 5 cm agar menjadi duduknya tulangan dengan baik dan untuk
menghindari penyerapan air semen oleh tanah.

6.3.6 Pemeliharaan Mutu Beton

Beton yang sudah dicor harus dijaga agar tidak kehilangan kelembaban untuk
paling sedikit 14 (empat belas) hari. Untuk keperluan tersebut harus ditempatkan
cara sebagai berikut :

 Dipergunakan karung –karung goni yang senantiasa basah sebagai penutup


beton pada saat proses curing.

 Hasil pekerjaan beton yang tidak baik seperti terjadi keropos, permukaan tidak
mengikuti bentuk yang diinginkan, munculnya besi tulangan pada permukaan
beton, yang lain-lain tidak memenuhi syarat, harus dibongkar lagi sebagian atau
seluruhnya menurut perintah Direksi. Untuk selanjutnya diganti atau diperbaiki
segera atas resiko pemborong.

6.3.7 Benda-benda yang Tertanam dalam Beton

 Semua anker, baut-baut, pipa, dan sebagainya yang diperlukan tertanam dalam
beton harus terikat dengan baik pada cetakan sebelum beton di cor.

 Benda-benda tersebut di atas harus dalam keadaan bersih dari karat dan kotoran
lain pada waktu beton di cor.

 Baut-baut anker harus dipasang dalam posisi yang akurat dan diikat pada tempat
dengan menggunakan template.

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


22
6.3.8 Pembukaan Bekesting

 Cetakan beton dapat dibongkar dengan persetujuan tertulis dari Direksi


Lapangan atau jika umur beton melampaui waktu sebagai berikut:

- Bagian sisi balok 48 jam

- Balok tanpa beban konstruksi 7 hari

- Balok dengan beban konstruksi 21 hari

- Pelat lantai/atap 21 hari

Dengan persetujuan Direksi Lapangan cetakan beton dapat dibongkar lebih awal
asal benda uji yang kondisi perawatannya sama dengan beton sebenarnya telah
mencapai kekuatan 75 % dari kekuatan pada umur 28 hari. Segala izin yang
diberikan oleh Direksi Lapangan sekali-kali tidak boleh menjadi bahan untuk
mengurangi/membebaskan tanggung jawab kontraktor dari adanya kerusakan-
kerusakan yang timbul akibat pembongkaran cetakan tersebut. Pembongkaran
cetakan beton harus dilaksanakan dengan hati-hati sedemikian rupa sehingga
tidak menyebabkan cacat pada permukaan beton, tetap dihasilkan sudut-sudut
yang tajam dan tidak pecah.

 Berkas cetakan beton untuk bagian-bagian konstruksi yang terpendam dalam


tanah harus dicabut dan dibersihkan sebelum dilaksanakan pengurugan tanah
kembali.

 Bekesting bagian konstruksi yang memikul beban pelaksanaan lantai diatasnya


tidak boleh dibongkar sebelum beton lantai diatasnya tersebut mencapai 75 %
dari kekuatan umur 28 hari dan lantai itu sendiri sudah mencapai kekuatan 75 %
dari kekuatan umur 28 hari.

 Semua beton yang tampak dalam pandangan, pertemuan dua bidang harus tajam
dan harus di bidang-bidangnya. Segera setelah cetakan dibuka dan beton masih
relatif segar semua bidang-bidangnya harus dipahat sedangkan lekukan serta
lubang-lubang harus diisi dengan adukan satu semen dan satu pasir. Sebelum
pelaksanaan pekerjaan tersebut di atas harus dibasahi secara menyeluruh. Semua
bagian-bagian atau permukaan yang kasar harus digosok dengan batu
karburandum dengan air dan ditinggalkan dalam warna yang merata.
Penggosokan hanya diperlukan pada permukaan yang kasar akibat cetakan atau
tetesan air semen.

 Permukaan lantai beton harus mempunyai permukaan bentuk fisik yang rata dan
halus. Menaburkan semen kering pada permukaan beton dengan maksud
menyerap kelebihan air tidak dibenarkan sama sekali.

6.3.9 Beton Ready Mix (Beton Siap Curah)

 Penggunaan beton Ready Mix oleh Kontraktor Pelaksana harus disetujui oleh
Konsultan Supervisi.

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


23
 Kontraktor Pelaksana tetap diwajibkan untuk menyerahkan Job Mix Disain
kepada Konsultan Supervisi terhadap semua mutu beton structural yang
menggunakan Beton Ready Mix.

 Job Mix Disain harus disetujui oleh Konsultan Supervisi sebelum digunakan.

 Kualitas beton yang dihasilkan oleh Batching Plant tetap menjadi tanggung
jawab Kontraktor Pelaksana.

7. PEKERJAAN PASANGAN DAN PLASTERAN

7.1 Lingkup Pekerjaan

7.1.1 Pasangan batu bata

Pemasangan dinding bata merah setebal ½ bata dilakukan pada seluruh dinding
bangunan, seperti tertera dalam gambar dan dijelaskan dalam gambar detail.

7.2 Persyaratan Bahan

7.2.1 Batu Bata

Mutu bata yang digunakan dari jenis klas I menurut NI 10 dengan bentuk standar
batu bata adalah prisma empat persegi panjang bersudut siku-siku dan tajam,
permukaannya rata dan tidak menampakkan adanya retak-retak yang merugikan.
Bata merah dibuat dari tanah liat dengan atau campuran bahan lainnya, yang
dibakar pada suhu cukup tinggi hingga tidak hancur bila terendam air.

7.2.2 Pasir

Harus terdiri dari butir-butir yang tajam dan keras, butir-butir harus bersifat masif,
artinya tidak pecah atau hancur oleh pengaruh cuaca, seperti terik matahari dan
hujan. Kadar lumpur tidak boleh melebihi 5 % berat pasir.

7.2.3 Semen

Untuk persyaratan kedua bahan tersebut, mengikuti persyaratan yang telah


digariskan pada pasal beton bertulang. Semen Portland (PC) Tipe II seperti yang
disyaratkan (SNI) No. 5-2049-1994 dan ASTM C.150-84.

7.2.3 Air

Air bersih, bebas dari minyak-minyak, asam alkali dan barang-barang organik
lainnya (PUBI-1982).

7.3 Tata Cara Kerja Pelaksanaan

7.3.1 Mengacu pada ketentuan PT T-03-2000-C ( Tata Cara Pengerjaan Pasangan dan
Plesteran Dinding

7.3.2 Pekerjaan dinding mempunyai dua macam pasangan, yaitu :

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


24
Pasang kedap air (1 Pc : 2 Ps)

 Semua pasangan bata dimulai diatas sloof sampai setinggi 20 cm diatas lantai.

Pasangan dinding saluran keliling bangunan.

Pasangan dinding WC setinggi 1,5-2 m diatas permukaan lantai.

Pasangan dinding Septic Tank.

Pasangan adukan 1 Pc : 4 Ps berada diatas pasangan kedap air tersebut.

7.3.3 Persyaratan Adukan

Adukan pasangan harus dibuat secara hati-hati, diaduk di dalam bak kayu yang
memenuhi syarat. Mencampur semen dengan pasir harus dalam keadaan kering
yang kemudian diberi air sampai didapat campuran yang plastis. Adukan yang telah
mengering akibat tidak habis digunakan sebelumnya, tidak boleh dicampur lagi
dengan adukan yang baru.

7.3.4 Pengukuran (Uit-zet) harus dilakukan oleh Kontraktor secara teliti dan sesuai
gambar, dengan syarat :

 Semua pasangan dinding harus rata (horizontal) dan pengukuran arus dilakukan
dengan benang.

 Pengukuran pasangan benang antara, satu kali menaikkan benang tidak boleh
melebihi 30 cm, dari pasangan bata yang telah selesai.

7.3.5 Lapisan bata yang satu dengan lapisan bata diatas harus berbeda setengah tebal
bata. Potongan bata setengah tidak dibenarkan digunakan ditengah pasangan bata
kecuali pasangan bata sudut.

7.3.6 Pengakhiran sambungan pada satu hari kerja harus dibuat bertangga menurun dan
tidak tegak bergigi untuk menghindari retak dikemudian hari. Pada tempat-tempat
tertentu sesuai gambar diberi kolom-kolom praktis yang ukurannya disesuaikan
dengan tebal dinding.

7.3.7 Lubang untuk alat-alat listrik dan pipa yang ditanam didalam dinding, harus dibuat
pahatan secukupnya pada pasangan bata (sebelum diplester). Pahatan tersebut
setelah dipasang pipa / alat, harus ditutup dengan adukan plester yang dilaksanakan
secara sempurna, dikerjakan bersama-sama dengan plesteran seluruh bidang
tembok.

7.3.8 Dalam mendirikan dinding yang kena udara terbuka, selama waktu hujan lebat
harus diberi perlindungan dengan menutup bagian atas dari tembok dengan sesuatu
penutup yang sesuai (plastik). Dinding yang telah terpasang harus diberi
perawatan/curing dengan cara membasahinya secara terusmenerus paling sedikit 7
hari setelah pemasangannya.

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


25
8. PEKERJAAN PLESTERAN

8.1 Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan plesteran dilakukan pada seluruh pasangan bata, beton bertulang.

8.2 Persyaratan Bahan

Bahan pasir, semen dan air mengikuti persyaratan yang telah digariskan dalam
pasal beton bertulang.

8.3 Tata Cara Kerja Pelaksanaan

8.3.1 Mengacu pada ketentuan PT T-03-2000-C ( Tata Cara Pengerjaan Pasangan dan
Plesteran Dinding

8.3.2 Sebelum plesteran dilakukan, maka :

 Dinding dibersihkan dari semua kotoran

 Dinding dibasahi dengan air

 Semua siar permukaan dinding batu bata dikorek sedalam 0,5 cm.

 Permukaan beton yang akan diplester dibuat kasar agar bahan plesteran dapat
merekat dengan baik.

8.3.3 Adukan plesteran pasangan bata kedap air dipakai campuran 1 Pc : 2 Ps, sedangkan
plesteran bata lainnya dipergunakan campuran 1 Pc : 4 Ps.

8.3.4 Ketebalan plesteran pada suatu bidang permukaan harus sama tebalnya dan tidak
diperbolehkan plesteran yang terlalu tipis dan terlalu tebal. Ketebalan yang
diperbolehkan berkisar antara 1 cm sampai 1,5 cm. Untuk mencapai tebal plester
yang rata sebaiknya diadakan pemeriksaan secara silang dengan menggunakan
mistar kayu panjang yang digerakkan secara horizontal dan vertikal.

8.3.5 Bilamana terdapat bidang plesteran yang bergelombang/tidak rata harus diusahakan
memperbaikinya secara keseluruhan, bidang-bidang yang harus diperbaiki
hendaknya dibongkar secara teratur (dibuat bongkaran berbentuk segi empat) dan
plesteran baru harus rata dengan sekitarnya.

8.3.6 Semua bidang plesteran harus dipelihara kelembabannya selama seminggu sejak
permulaan plesteran (proses curing).

8.3.7 Pekerjaan plesteran baru boleh dilaksanakan setelah pekerjaan penutup atap selesai
dipasang dan setelah pipa –pipa listrik selesai dipasang.

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


26
9. PEKERJAAN LANTAI

9.1 Lingkup Pekerjaan

Pemasangan lantai dibuat untuk semua bagian lantai ruangan, teras, selasar depan
dan keliling bangunan. Pekerjaan lantai terdiri dari :

9.1.1 Lantai beton tumbuk atau beton rabat pada ruangan, emperan

samping kiri dan kanan, belakang dan depan bangunan .

9.1.2 Lantai keramik pada ruangan, teras dan selasar keliling.

9.2 Bahan yang digunakan

9.2.1 Beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 6 Kr.

9.2.2 Keramik 40 x 40 cm (polished) untuk ruangan, keramik 40 x 40 cm (unpolished)


untuk selasar atau teras, keramik 20 x 20 untuk lantai KM/WC dan 20 x 25 cm
untuk dinding KM/WC atau disesuaikan dengan spasifikasi yang telah ditentukan.

9.2.3 Lantai dimana keramik tersebut akan dipasang harus dipersiapkan terlebih dahulu
dengan teliti. Ketinggian (Peil) harus diukur dari yang tetap, satu dan lain hal sesuai
dengan gambar rencana. Bila terdapat penyimpangan hal ini harus segera
diberitahukan ke pengawas lapangan yang kemudian akan memberi keputusannya.

9.2.4 Pemasangan keramik tersebut dengan perekat adukan 1 Pc : 2 Ps, siar (Nad)
maximum 2 mm. Setelah selesai terpasang siarsiar diisi dengan kapur semen
sampai siar-siar tadi tertutup rapat. Setelah sekurang-kurangnya 3 (tiga) hari
pasangan lantai tersebut baru boleh diinjak, kerusakan-kerusakan atau cacat yang
terjadi karena tidak mengindahkan spefisikasi ini menjadi tanggung jawab
kontraktor.

9.3 Lingkup Pekerjaan

9.3.1 Dasar lantai

Untuk semua lantai dilapisi pasir pasang setebal 5 cm dan dipadatkan. Pemeriksaan
sebelum lantai dipasang, kontraktor harus memeriksa semua pasangan pipa-pipa,
saluran-saluran dan lain sebagainya yang harus sudah terpasang dengan baik
sebelum pemasangan lantai dimulai.

9.3.2 Adukan

Untuk beton tumbuk 1 Pc : Ps : 6 Kr dengan plesteran 1 Pc : 2 Ps.

9.3.3 Pemasangan

 Lantai beton tumbuk dipasang dengan tebal 5 cm dan diplester setebal 2 cm,
Adukan perekat lantai dipakai 1 Pc : 3 Ps : 6 Kr dengan plesteran 1 Pc : 3 Ps

 Pekerjaan yang telah selesai tidak boleh ada yang retak, noda dan ccacat lainnya.
Apabila terjadi cacat pada lantai, maka bagian cacat tersebut harus dibongkar
sampai berbentuk bujur sangkar dan pasangan baru harus rata dengan sekitarnya.
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)
27
10. PEKERJAAN KAYU

10.1 Lingkup Pekerjaan

Lingkup pekerjaan kayu meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan, alat–alat bantu
yang diperlukan, sampai pekerjaan konstruksi kayu selesai dilaksanakan. Bagian
Pekerjaannya adalah :

10.1.1 Pekerjaan kosen ventilasi

10.1.2 Papan lisplank, papan talang

10.2 Persyaratan Bahan

10.2.1 Untuk semua rangka kuda-kuda termasuk gording, lisplank papan dan talang
digunakan kayu kelas II dengan kualitas baik.

10.2.2 Untuk semua kayu kosen pintu dan jendela digunakan kayu klas II dengan
kualitas baik.

10.2.3 Daun pintu, jendela, dan papan ruiter digunakan kayu klas II kualitas terbaik.

10.2.4 Ukuran kayu yang tertera dalam gambar merupakan ukuran terpasang. Kayu harus
betul –betul kering, tidak keropos, lurus, tidak cacat / bermata.

10.2.5.1 Seluruh bentuk / model dari kosen, pintu dan jendela serta ventilasi harus
sesuai gambar rencana.

10.2.5.2 Kaca harus memenuhi specifikasi Sbb :

a. Kaca harus mutu baik

b. Ketebalan kaca 5 mm

c. Warna akan ditentukan kemudian

10.3. Tata Cara Kerja Pelaksanaan

10.3.1 Kosen pintu.

 Ukuran kayu untuk kosen pintu adalah 6/13 (ukuran setelah jadi dibuat)

 Konstruksi sambungan kayu harus rapi, tidak longgar, ikatan perkuatan harus
menggunakan pen kayu keras yang sebelumnya bidang sambungan ini harus
dilumuri dengan lem kayu, agar sambungannya dapat melekat dengan baik.

 Setiap kosen pintu harus dilengkapi dengan angker minimal 3 buah untuk
setiap sisi kiri dan kanan, kanan kosen yang melekat ketembok. Khusus untuk
kosen pintu dibawah kosen dilengkapi dengan dork yang diangker kedalam
neut beton.

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


28
 Semua Bidang kosen yang bersinggungan dengan dinding/ beton dibuat tali air,
kemudian dibidang tersebut diawetkan dengan cat meni.

10.3.2 Lisplank

Lisplank dibuat dari papan lebar sesuai gambar. Pemasangannya dipakukan


langsung pada gording. Pemasangan harus rapi dan lurus. Apabila dijumpai
pemasangan yang tidak lurus, maka bagian tersebut harus dibongkar dan
diperbaiki kembali atas beban kontraktor.

11 PEKERJAAN ALMUNIUM

11.1 Semua pekerjaan kusen pintu dan kusen jendela aluminium harus dikerjakan menurut
instruksi pabrik/produsen dan standar-standar antara lain:

 The Alumunium Association (AA)

 Architectural Aluminium Manufactures Association (AAMA)

 American Society for Testing Materials (ASTM)

2. Aluminium yang akan digunakan adalah produksi Super Bangunan-Alcan, NIKKEI, YKK atau
setaraf produksi dalam negeri yang baik (sesual Sll extrusi 0695-82 dan SH jendela 0649-82).
Alloy 6063 T5/Billet yang digunakan harus aslinya (tidak terbuat dari bahan scrap/sisa).

Anodizing terdiri, dari

 Lapisan pertama anodic oxide film tebal 10 micron

 Lapisan kedua resin film tebal 12 micron

3. Seluruh pekerjaan aluminium memiliki syarat-syarat teknis sebagai berikut:

 Kusen Aluminium warna hitam

 Ukuran profil 1.5" x 3"

 Beban angin 100 kg/m2

 Tebal profil minimal 1.35 mm

4. Contoh

Kecuali ditentukan lain, maka semua contoh harus disertakan dan contoh extrusion tidak kurang
dari 30 x 30 cm. Dengan ketebalan seperti yang ditentukan untuk proyek tersebut. Contoh (Mock
up) harus dengan ukuran 1 : 1.

5. Pekerjaan Pelaksanaan

a. Pekerjaan pembuatan/penyetelan dan pemasangan kusen aluminium beserta kaca harus


dilaksanakan oleh pemborong alumunium yang ahli dalam bidangnya.

b. Untuk mendapat ukuran yang tepat, pemborong aluminium harus datang ke lapangan dan
melakukan pengukuran
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)
29
c. Untuk mendapat hasil yang baik, pembuatan/penyetelan kosen alumunium harus dilakukan di
pabrik secara masimal dan dilapangan tinggal pasang

d. Antara tembok/kolom/beton dan kusen aluminium harus diisi dengan “sealen" yang elastis

e. Pemasangan kaca pada kusen aluminium harus diisi karet gasket

Semua detail pertemuan harus halus, rata dan bersih dari goresan serta cacat yang
mempengaruhi permukaan aluminium

f. Sambungan-sambungan vertical maupun horizontal, sambungan sudut maupun silang,


demikian juga pengkombinasian profil-profil alumimum harus dipasang sempurna

g. Fixing accessoris seperti skrup assembling dan engsel-engsel harus terbuat dari bahan-bahan
tahan karat.

h. Kaca tidak boleh bergetar dan diberi tanda setelah terpasang.

6. Hubungan Dengan Material Lain

Apabila aluminium berhubungan dengan besi, maka besi harus dilapis dengan zinc chromate +
bitumen.

7. Pengetesan

Pengetesan terdiri dari hal-hal sebagal berikut :

 Performance Test (Test terhadap kebocoran air, udara, beban angin, kekedapan suara dan
lain-lain harus dilaksanakan di Australia, atau laboratorium lain yang disetujul Direksi)

 Matenial Test (Test terhadap bahan, powder coating, test koros, berat dan lain-lain)
dilaksanakan di dalam negeri yang disetujui Direksi.

 Hasil test harus diserahkan secara lengkap kepada Direksi. Apabila hasil pengetesan gagal,
pemborong wajib melakukan pengetesan ulang hingga mencapai standar test yang disyaratkan.

 Biaya pengetesan dan lain-lain menjadi tanggungjawab pemborong.

8. Garansi (Jaminan)

 Pemborong wajib memberikan garansi bahan selama. 5 tahun. dan garansi pemasangan selama
10 tahun, terhitung sejak selesainya masa perawatan

 Garansi bahan sebagai perlindungan kemungkinan terjadinya cacat pewarnaan akibat dari
proses powder coating yang tidak sempurna dan lain-lain, sedang garansi pemasangan sebagai
perlindungan kemungkinan terjadinya kebocoran udara & air akibat dari aplikasi yang tidak
sempurna.

12. Kunci dan Penggantung Pintu

12.1. Umum

a) Uraian Pekerjaan

 Lingkup Pekerjaan
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)
30
Penyediaan bahan alat-alat penggantung dan pengunci untuk semua pintu-pintu,
jendela-jendela kayu dan aluminium.

 Pemasangan penggantung dan pengunci pada pintu dan jendela sesuai dengan
gambar perencanaan dan daftar material.

 Pekerjaan sehubungan yang diuraikan terpisah

 Persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan kosen pintu dan jendela dari kayu.

 Persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan kosen pintu dan jendela dari alluminium.

b) Ketentuan

Untuk menjamin mutu pemasangan, Supplier diminta untuk mengikuti petunjuk dari
Konsutan Pengawas dan memberi petunjuk teknis mengenai prosedur pelaksanaan
pemasangan peralatan kunci dan penggantung.

c) Penyerahan

Sebelum memulai pekerjaan ini, Pelaksana Pekerjaan harus menyerahkan kepada


Konsultan Pengawas, contoh dan katalog dari produk yang telah disetujui oleh Konsultan
Perencana.

12.2. Material

Merek alat gantung dan pengunci yang dipakai adalah, sekualitas merk Dorma. Kunci 2
slag dengan warna dan tipe ditentukan kemudian oleh Perencana.

 Pintu kaca framless

Top rail DORMA ARCOS Art. No. 27.102/S.S.S Finish

Bottom rail DORMA ARCOS Art. No. 27.111/S.S.S Finish

Dorma Top Center 8066, steel, standard length of PIN (Upper & lower part
compleate)

Door Strap DORMA art No. 8.04.048.001.50

Dorma Floor Spring BTS 80/EN 6 + cover plate 7410/PSS

Mortise Lock DORMA DST 811/B.S 30mm / S.P 76 / S.S

Engsel-engsel, kunci-kunci dan door closer dari kualitas terbaik

Kait angin, grendel, espagnolet dan lain sebagainya perlengkapan pintu dan jendela dari
kualitas yang sejajar dengan engsel serta kuncinya yang tersebut di atas.

Contoh dari alat-alat ini sebelum dipasang seyogianya diperlihatkan kepada Konsultan
Pengawas / Perencana untuk mendapat persetujuannya.

12.3. Pelaksanaan

a) Untuk pintu-pintu kayu pemasangan harus dilakukan oleh tukang-tukang yang


berpengalaman dan akhli dalam bidangnya. Sekrup-sekrup harus tertanam rapih tanpa
merusak daun pintu, kusen maupun alat-alat penggantung dan pengucilainnya. Jika

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


31
pemasangannya tidak rapih, apalagi sampai ada yang cacat, dapat mengakibatkan
seluruh pintu harus diganti atas beban biaya Kontraktor.

b) Khusus untuk daun pintu swing single door/dpuble door letak/tinggi pasangan
penggantung dan pengunci adalah 100cm dari lantai setempat.

12.4. Syarat pemeliharaan

a) Perbaikan

 Pelaksan pekerjaan wajib memperbaiki pekerjaan yang rusak/cacat perbaikan


dilaksanakan sedemikian rupa hingga tidak mengganggu pekerjaan finishing lainnya.

 Kerusakan yang bukan disebabkan oleh tindakan pemilik pada waktu pelaksanaan,
maka pelaksana pekerjaan diwajibkan memperbaiki sampai dinyatakan dapat
diterima olek konsultan Pengawas. Biaya yang ditimbulkan oleh pekerjaan perbaikan
tersebut menjadi tanggung jawab pelaksana pekerjaan.

b) Pengamanan

Pelaksan pekerjaan wajib melakukan perlindungan terhadp pekerjaan yang telah


dilaksanakan untuk dapat dihindarkan dari kerusakan. Biaya yang ditimbulkan oleh
pengamanan pekerjaan tersebut menjadi tanggung jawab pelaksana pekerjaan.

12.5. Syarat Penerimaan

Semua kegiatan pelaksanaan telah memenuhi persyaratan gambar perancanagn, shop


drawing dan pengarahan yang diberikan Konsultan Pengawas.

13. 1 Daun Pintu PVC

13.1. Umum

a) Uraian Pekerjaan

 Lingkup Pekerjaan.

Uraian ini mencakup persyaratan teknis untuk pelaksanaan pekerjaan rangka partisi,
kosen PVC

 Pekerjaan sehubungan yang diuraikan terpisah

 Persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan kaca.

 Persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan cat.

 Persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan kunci dan penggantung untuk pintu dan
jendela.

b) Ketentuan.

 Pengerjaan dan Kualifikasi Pelaksana

Daun Pintu harus merupakan suatu produk jadi dari bengkel kerja yang mempunyai
tenaga ahli/kerja dan peralatan yang lengkap untuk pelaksanaan pekerjaan ini.

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


32
 Bengkel kerja yang akan dipekerjaan harus telah mendapat penelitian/pengujian dan
persetujuan dari Konsultan Pengawas.

c) Penyerahan

 Hal-hal yang harus diserahkan sebelum mulai pelaksanaan

 Contoh bahan-bahan yang akan digunakan.

 Contoh kerja pembuatan pintu/jendela.

d) Perlindungan

 Mengingat pintu adalah merupakan jalur lalu lintas kegiatan selama berlangsungnya
pekerjaan, kusen-kusen pintu/jendela harus dilindungi dari segala kemungkinan
gangguan kerusakan atau kotor.

 Segala kerusakan yang terjadi menjadi beban dan tanggung jawab sepenuhnya
Pelaksana Pekerjaan untuk memperbaiki atau menggantinya.

13.2. Material

a) Kayu

Untuk pekerjaan kayu halus, bahan kayu yang digunakan adalah kayu jenis Sungkai dan
Nyatoh kelas awet 1, kuat 1 mutu kelas A.menurut NI-5 PKKI 1961, telah dikeringkan
dengan proses dry-kiln dan telah diawetkan, diproduksi dengan gergajian mesin serta
dalam keadaan lurus dipakai untuk rangka daun pintu, pemakaiannya sesuai ketentuan
di dalam gambar rencana.

Bahan kayu solid nyatoh dan sungkai harus lepas mata dan memiliki keseragaman
warna dan serat kayu.

b) Kunci dan penggantung

Kunci menggunakan merk, DORMA.atau setara

c) Kaca

Kaca yang digunakan adalah jenis Float Glass produk ASAHI MAS atau produk lain yang
setaraf yang disetujui, dengan ketentuan ukuran dan jenis berwarna atau jernih sesuai
gambar rencana.

13.4. Pelaksanaan

a) Semua bahan pvc fabrikasi (setelah berupa komponen jadi siap dipasang).

b) Setiap memulai pembentukan konfigurasi sesuai gambar diperlukan pembuatan mock-up


( contoh perakitan ) yang sebelumnya dibuat gambar - gambar rencana
perakitan/pelaksanaan (shop drawing) dengan skala minimum 1 : 5 lengkap berikut
elemen-elemen konstruksi (lem , paku , pasak ,dll.).

c) Daun Pintu difabrikasi di lapangan atau di bengkel kerja khusus pekerjaan pvc,
dilaksanakan menurut ukuran dan bentuk yang tertera di dalam gambar rencana, dengan

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


33
hasil pengerjaan pvc harus membentuk permukaan yang halus, rata dan lurus serta
sambungan yang rapi, kokoh dan kuat

d) Pembentukan material dasar dan penyusunan konfigurasi ringan dilaksanakan di pabrik


(workshop) dengan mesin (mechanical work). Pelaksanaan di lapangan hanya
diperkenankan untuk proses pemasangan ke bagian rumah ( site install ).

e) Pelaksana wajib menyusun tabel/daftar profil yang direncanakan digunakan untuk


menghasilkan bentuk sesuai gambar perancangan, lengkap berikut ukuran dan
keterangan keterangan yang diperlukan.

f) Bentuk yang dihasilkan harus sesuai gambar -gambar dan khusus untuk edging profil
profil pvc memiliki ketepatan dengan toleransi maksimum penyimpangan ( 1 mm )

g) Sambungan pvc dilaksanakan sesuai dengan aturan yang umum berlaku. Pasangan
kosen pada pada dinding/kolom harus menggunakan angkur besi sebagai penguatnya,
dengan ketentuan jumlah dan posisi pemasangan sesuai Peraturan Teknis yang umum
berlaku (Peraturan Bangunan Nasional).

h) Kelurusan: Kelurusan ( vertical/horizontal allignment ) dengan ketepatan tinggi dengan


toleransi penyimpangan maksimum ( 2 mm untuk setiap meter panjang).

i) Dalam hal pertemuan kosen pada kolom/dinding beton belum tersedia angkur
besi, dapat digunakan angkur sistim ramset dengan jumlah dan posisi seperti pasangan
angkur pada umumnya.

j) Angkur-angkur arah kesamping, jarak maksimumnya 50 cm (rata-rata 3 atau 4 buah


angkur setiap sisi). Angkur dibuat dari besi bulat diameter 12 mm.

k) Pemasangan alat-alat penggantung dan pengunci harus dilakukan oleh tukang pintu
yang berpengalaman dan ahli dalam bidang ini serta dengan aturan dan peralatan yang
sesuai dan direkomendir oleh pabrik pembuat kunci.

l) Tiap-tiap pemasangan daun pintu pada tempat kedudukannya harus menggunakan 3


(tiga) buah engsel ukuran 4" dan 1(satu) set kunci.

m) Khusus untuk daun pintu ganda, pada sebuah daun pintunya dilengkapi dengan 2 (dua)
set espagnolet yang dipasang 1 di atas dan 1 di bawah.

n) Pemasangan kaca, kunci, penggantung dan pengecatan, persyaratan teknis


pelaksanaannya diuraikan tersendiri/terpisah pada bagian lain.

13.4. Syarat pemeliharaan

a) Perbaikan

Pelaksan pekerjaan wajib memperbaiki pekerjaan yang rusak/cacat perbaikan


dilaksanakan sedemikian rupa hingga tidak mengganggu pekerjaan finishing lainnya.

Kerusakan yang bukan disebabkan oleh tindakan pemilik pada waktu pelaksanaan, maka
pelaksana pekerjaan diwajibkan memperbaiki sampai dinyatakan dapat diterima olek
konsultan Pengawas. Biaya yang ditimbulkan oleh pekerjaan perbaikan tersebut menjadi
tanggung jawab pelaksana pekerjaan.

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


34
b) Pengamanan

Pelaksan pekerjaan wajib melakukan perlindungan terhadp pekerjaan yang telah


dilaksanakan untuk dapat dihindarkan dari kerusakan. Biaya yang ditimbulkan oleh
pengamanan pekerjaan tersebut menjadi tanggung jawab pelaksana pekerjaan.

13.5. Syarat penerimaan

semua kegiatan pelaksanaan telah memenuhi persyaratan gambar perancangan, shop


drawing dan pengarahan yang diberikan konsultan Pengawas.

14,1. Partisi, Rangka dan Pintu/Jendel PVC

14.1. Umum

a) Uraian Pekerjaan

 Lingkup Pekerjaan.

Uraian ini mencakup persyaratan teknis untuk pelaksanaan pekerjaan partisi kaca
rangka alluminium, rangka dan pintu/jendela PVC

 Pekerjaan sehubungan yang diuraian terpisah

 Persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan kaca.

Persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan kunci dan penggantung untuk pintu dan
jendela.

b) Ketentuan Pelaksanaan
Tenaga ahli
Pekerjaan ini harus dilaksanakan oleh tenaga ahli dan berpengalaman di dalam
pelaksanaan pekerjaan ini.
Peralatan
Pelaksana pekerjaan ini harus menyediakan peralatan kerja yang cukup, memadai dan
sesuai untuk pelaksanaan pekerjaan khusus alluminum ini.
Peralatan tersebut antara lain tapi tidak terbatas hanya pada mesin potong, mesin bor,
mesin gurinda dan lain-lain peralatan yang diperlukan guna fabrikasi dan pema-
sangannya.
Sistim
Sistim rangka PVC yang dipakai harus menggunakan profil-profil yang diproduksi di
dalam negeri, yang pembuatannya mendapat lisensi dari suatu sistim luar negeri
yang sudah cukup dikenal.
Pelaksanaan pemasangan terutama dengan pekerjaan yang berhubungan dengan
Electronic Security System (ESS)

Sebelum pekerjaan dimulai Pelaksana Pekerjaan harus mengajukan terlebih dahulu shop
drawing serta contoh-contoh bahan profil aluminium, panil pengisi serta semua per-
lengkapannya (accessories) untuk mendapat persetujuan Konsultan Pengawas dan Pe-
rencana.

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


35
c) Penyerahan

Sebelum memulai pekerjaan, Pelaksana Pekerjaan diminta untuk menyerahkan:

Shop Drawing yang menunjukkan detail, tipe dan sistim pemasangan serta komponen-
kompnen yang diperlukan, dibuat berdasarkan gambar rancangan yang ada serta kondisi
lokasi pemasangan.

Contoh bahan dan contoh miniatur tipe pasangan beserta kelengkapannya.

Contoh pasangan pada lokasi yang ditunjuk oleh Konsultan Pengawas.

14.2. Material

a. Aluminium

a) Profil PVC yang dipakai adalah produk dari , yang merupakan produk dalam negeri serta
harus memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI)i, fabrikasi dies dan profile dengan
toleransi khusus untuk arsitektural.

b) PVC yang dipakai mengguhnakan PABRIKASI STANDAR SNI

14.3 Pelaksanaan

a) Fabrikasi

 Semua jenis jendela PVC harus difabrikasi di work shop / pabrik.

Untuk jenis yang dapat dirakit, harus dilaksanakan di work shop dan siap dipasang di
lapangan. Jika tidak dapat, maka dapat pra rakit, akan tetapi sudah siap di rakit di
lapangan atau dipasang pada bangunan ( struktur yang ada ).

 Semua sambungan harus dikerjakan dengan mesin, rapih, kokoh dan dengan bentuk
sambungan yang sesuai standard toleransi, untuk sambungan yang tahan air harus
diberi sealent dari bagian yang tidak terlihat oleh mata.

b) Cara pemasangan

 Semua unit PVC harus terpasang dengan hubungan siku-siku, tegak lurus, mengikuti
patokan ( bench mark ), dengan menyediakan sambungan untuk komponen lain yang
berhubungan, serta hal-hal lain seperti toleransi untuk pergerakkan karena panas,
penyalur air hujan.

 Kecuali ada keterangan yang lain, maka semua pekerjaan PVC yang berhubungan
dengan beton harus diberi lapisan galvanized.

 Semua bahan pembantu harus sesuai dengan ukuran, tipe, bahan dasar, yang telah
terlebih dahulu disetujui oleh Perencana.

 Sebelum diadakan fabrikasi maka pengukuran dilapangan dan koordinasi dengan


pekerjaan lain terutama dengan pekerjaan yang berhubungan dengan Electronic
Security System (ESS), maka data pelengkap shop drawing menjadi kewajiban
kontraktor PVC

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


36
14.4. Syarat pemeliharaan

a) Perbaikan :

 Pelaksan pekerjaan wajib memperbaiki pekerjaan yang rusak/cacat perbaikan


dilaksanakan sedemikian rupa hingga tidak mengganggu pekerjaan finishing lainnya.

 Kerusakan yang bukan disebabkan oleh tindakan pemilik pada waktu pelaksanaan,
maka pelaksana pekerjaan diwajibkan memperbaiki sampai dinyatakan dapat
diterima olek konsultan Pengawas. Biaya yang ditimbulkan oleh pekerjaan perbaikan
tersebut menjadi tanggung jawab pelaksana pekerjaan.

b) Pengamanan

Pelaksan pekerjaan wajib melakukan perlindungan terhadp pekerjaan yang telah


dilaksanakan untuk dapat dihindarkan dari kerusakan. Biaya yang ditimbulkan oleh
pengamanan pekerjaan tersebut menjadi tanggung jawab pelaksana pekerjaan.

14.5. Syarat Penerimaan

Semua kegiatan pelaksanaan telah memenuhi persyaratan gambar perancangan, shop


drawing dan pengarahan yang diberikan konsultan Pengawas.

15. PEKERJAAN RANGKA ATAP

15.1 Lingkup Pekerjaan

Lingkup Pekerjaan Rangka Atap meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan, alat-
alat bantu yang diperlukan, sehingga konstruksi kuda-kuda rangka baja ringan
selesai dilaksanakan, Rangka atap baja yang dimaksud disini terdiri atas :

Kuda-kuda utama menggunakan rangka kuda-kuda baja ringan Zingalume

Gording menggunakan canal (C)

Mur baut 12 mm

Plat buhul tebal 1.0 mm

Plat perletakan 1.5 mm

15.2 Persyaratan Bahan

Bahan yang dipergunakan untuk pekerjaan ini harus memenuhi syarat-syarat


sebagai berikut :

15.2.1 Semua bagian baja yang digunakan harus dari jenis yang sama kualitasnya. Dalam
hal ini dipakai baja jenis baja ringan dengan komposisi 55% alumunium, 43.5%
seng dan 1.5% silicon alloy dengan ketebalan 0.75 mm.

15.2.2 Batang-batang baja profil yang dipergunakan harus lurus dengan maksimum
bengkok 1/4000 panjang batang, bebas dari puntiran dan lubang-lubang serta
cacat-cacat lainnya.

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


37
15.2.3 Plat baja yang dipergunakan sebagai plat simpul harus benar-benar datar, bebas
dari tekukan-tekukan, puntiran dan lubang-lubang serta cacat lainnya.

15.2.3 Baut-baut untuk konstruksi penghubung menggunakan baut Mild Stell.

15.2 Tata Cara Kerja Pelaksanaan

15.3.1. Bentuk dan dimensi kuda-kuda serta dimensi batang-batang dan plat simpulnya
harus dilaksanakan sesuai gambar rancangan pelaksanaan serta sesuai dengan
keadaan bentang kedudukannya di lapangan pekerjaan. Untuk itu Kontraktor
Pelaksana harus membuat “gambar-gambar pelaksanaan” lebih dahulu. Pekerjaan
kuda-kuda baja ini tidak diperkenankan dilaksanakan sebelum “gambar
pelaksanaan” disetujui Direksi.

15.3.2 Pembuatan kuda-kuda baja harus dilaksanakan di tempat yang datar dengan lantai
kerja yang keras. Bila dilaksanakan di luar lapangan pekerjaan, Kontraktor harus
meminta ijin secara tertulis kepada Direksi dan menunjukkan bengkel tempat
dikerjakannya konstruksi untuk mendapatkan persetujuan dari Direksi sebelum
pekerjaan ini dilaksanakan.

15.3.3 Pemotongan harus dilaksanakan dengan mesian standard. Pelubangan harus


menggunakan bor. Tepian yang tajam akibat pemotongan maupun pemboran
harus ditumpulkan dengan geranda.

15.3.3 Pengelasan harus menggunakan mesin las listrik, dengan hasil tebal las yang rata
serta harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

a. Las yang dipakai adalah las sudut (Filled Weld), dengan mutu las minimal
sama dengan mutu baja yang dilas.

b. Permukaan yang akan dilas harus bebas dari kotoran, minyak, cat, dll.

c. Pengelasan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga baja tidak termakan oleh
las yang dapat mengakibatkan berkurangnya luas efektif penampang baja.

d. Pengelasan di atas hanya boleh dilaksanakan bila konstruksi dalam keadaan


benar-benar diam, tidak pada saat hari hujan atau baja dalam keadaan basah.

e. Hasil dari pengelasan hendaknya dilakukan tes pengelasan dengan


menggunakan colour tes.

15.3.4 Pemasangan kuda-kuda hanya boleh dilaksanakan bila kolom-kolom dan beton
penumpunya telah berumur paling sedikit 14 (empat belas ) hari dan baut-baut
pengikatnya telah terpasang dengan benar.

15.3.5 Pengangkatan kuda-kuda harus dilaksanakan secara hati-hati hingga tidak


menimbulkan puntiran-puntiran pada bidang kuda-kuda. Untuk itu sebelum
diangkat batang-batang penjepit sebagai klem pengaku bidang kuda-kuda harus
dipasang serta konstruksi kuda-kuda telah benar-benar dalam keadaan diam.

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


38
16. PEKERJAAN PENUTUP ATAP

16.1 Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan yang dimaksud meliputi ;

Pekerjaan pemasangan atap metal zincalume / aluzinc, lengkap dengan asesori


penutup bubungan, akhiran bubungan, penutup jurai dan ampig dan atau sesuai
Gambar Kerja.

16.2 Persyaratan Bahan.

16.2.1. Bahan utama :

a. Zincalume / aluzinc.

b. Ketebalan : 0,3 mm.

c. Ukuran : Lebar efektif 1020 mm. dan atau sesuai Gambar Kerja.

d. Warna : Ditentukan kemudian.

16.3 Tata Cara Kerja Pelaksanaan

16.3.1. Asesori (baut pengikat, plat kait, lengkap dengan ring karet kedap air), lembar
pelindung (flashing), lembar penutup bubungan (capping), sealant dan lain-lain
harus dari bahan dan tipe yang sama dengan penutup atap dan atau mengikuti
spesifikasi yang ditentukan pabrik.

16.3.2. Kontraktor wajib memberikan contoh bahan untuk disetujui dengan disertai
keterangan tertulis mengenai spesifikasi bahan, detail bentuk, ukuran serta
petunjuk cara pemasangan.

16.3.3. Bila Pemberi Tugas / Konsultan Pengawas menganggap perlu, maka Pemberi
Tugas berhak meminta Kontraktor agar dalam pelaksanaan pekerjaan ini harus
diawasi oleh tenaga ahli / supervisi khusus dari pabrik pembuat dengan dan atas
biaya tanggungan Kontraktor.

16.3.4. Lembaran penutup atap diangkut ke atas rangka atap hanya apabila akan
dipasang, rusuk atas lembaran penutup atap harus menghadap sisi dimana
pemasangan dimulai.

16.3.5. Kontraktor harus memeriksa dengan teliti serta seksama dan memastikan bahwa
permukaan atas semua gording atau atap sudah satu bidang. Jika belum satu
bidang, dapat menyetel atau mengganjal bagian-bagian ini terhadap rangka
penumbu / gording. Dalam keadaan apapun juga untuk mengatur kemiringan atap,
ganjal tidak diperkenankan dipasang langsung di bawah plat kait. Hal ini harus
diperhatikan sungguh-sungguh oleh Kontraktor Karen penyetelan dan
pengganjalan tidak tepat akan mengakibatkan gangguan pengikatan, terutama jika
jarak penyangga kecil.

16.3.6. Untuk mendapatkan kekuatan pengikatan maksimal apabila dipergunakan plat


kait. Jarak perletakan pertama maupun terakhir dari plat kait terhadap ujung / tepi
lembaran harus memenuhi persyaratan pabrik.
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)
39
16.3.7. Lakukan pemeriksaan setempat terhadap penyetelan plat kait untuk mencegah
pergeseran. Untuk memperbaiki kelurusan, lembaran dapatdisetel 2 mm. dengan
menarik plat kait menjauhi atau menekan ke arah lembaran pada saat mengikatkan
plat kait tersebut. Untuk mencegah plat kait bergeser ke bawah, harus
dipergunakan pengikat positif yaitu sekrup atau baut pada plat kait tersebut.

16.3.8. Pada lembaran akhir di bagian atas, sisi tepi atas lembaran tersebut harus ditekuk
ke bawah. Penekukan dilakukan dengan alat yang disediakan pabrik untuk
pekerjaan tersebut. Penekukan ini untuk mencegah masuknya air kedalam
bangunan. Penekukan dapat dilaksanakan sebelum ataupun sesudah lembaran
dipasang.

16.3.9. Pada lembaran akhis di bagian bawah, sisi tepi lembaran tersebut harus ditekuk ke
bawah untuk mencegah air mengalir melalui sisi bawah lembaran kedalam
bangunan. Penekukan dilakukan dengan alat yang disediakan pabrik untuk
pekerjaan tersebut.

16.3.10Arah pemasangan lembaran dari bawah ke atas kemudian dilanjutkan pemasangan


ke samping dengan arah tetap dari bawah ke atas dan seterusnya. Pada tumpangan
akhir, sebaiknya gunakanlah 2 (dua) lembar atau lebih dengan ukuran yang lebih
pendek. Tumpangan / overlap akhir harus memenuhi persyaratan pabrik.

16.3.11Khusus untuk penutup bubungan (capping), Kontraktor harus sudah menyediakan


lubang pada ujung atas penutup bubungan (capping) untuk tiang penangkal petir,
lengkap dengan karet. Diameter lubang harus tepat sama dengan diameter tiang
penangkal petir.

10.3.12. Kedua sisi tepi arah memanjang penutup bubungan (capping) harus ditakik sesuai
dengan bentuk dan jarak rusuk lembaran setelah penutup bubungan terpasang.
Penakikan dilakukan dengan alat yang disediakan oleh pabrik khusus untuk pekerjaan
tersebut. Setelah ditakik, barulah kedua sisi tepi penutup bubungan (capping) ditekuk
ke bawah dengan alat penekuk yang disediakan pabrik untuk pekerjaan tersebut
hingga menutup sampai lembah antara 2 (dua) rusuk lembaran. Penutup bubungan
(capping) disekrupkan pada setiap rusuk lembaran.

16.2.13. Pemasangan flashing, capping, fixing strip dan lain-lainnya harus dilakukan oleh
Kontraktor sesuai dengan persyaratan teknis dari pabrik pembuat walaupun belum
ataupun tidak tercantum dalam Gambar Kerja maupun Gambar Pelengkap sehingga
didapat hasil yang baik, terhindar dari kemungkinan kebocoran. Dalam kasus ini,
Kontraktor tidak dapat menuntut sebagai pekerjaan tambah.

16.2.14. Kontraktor harus teliti dan rapi sehingga lembaran setelah terpasang rapi dan lurus,
garis-garis rusuk lembaran sejajar, lurus, tidak bergelombang ke arah horizontal
maupun vertikal, menghasilkan penampilan yang baik.

16.2.15. Bagian lembaran setelah terpasang, yang boleh diinjak hanyalah pada rusuk tepat di
atas gording.

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


40
17. PEKERJAAN PLAFOND

17.1 Lingkup Pekerjaan

Meliputi pekerjaan plafond mm dan rangka plafond

17.2 Persyaratan Bahan

17.2.1 Peraturan yang digunakan adalah peraturan Kontruksi kayu Indonesia (PKK I
1961 NI – 5) sepanjang tidak diatur lain oleh perencana.

17.2.2 Kayu lagur plafond digunakan kayu setara klas II yang telah kering atau kayu
jenis. Apabila merk, jenis dan type bahan yang disebutkan diatas tidak ada maka
boleh dipakai bahan yang sekwalitas.

17.2.3 Untuk langit-langit bagian dalam ruangan dan selasar digunakan triplek 4 mm
dengan ukuran seperti tertera dalam gambar Produksi Dalam Negeri serta
mempunyai kualitas yang baik.

17.2.4 Tepi plafond harus lurus, siku dan halus tidak boleh ada pecah-pecah, mudah
dipotong dan di paku.

17.2.5 Kayu lagur harus diketam pada salah satu sisi yang digunakan untuk menempel
bahan flafon.

17.3 Tata Cara Kerja Pelaksanaan

17.3.1 Rangka langit-langit induk dipasang dengan urutan pertama, yang dipakukan pada
gapit kuda-kuda (balok tarik). Rangka ini kemudian dipakai penggantung dari
papan kualitas baik ke kaki kuda-kuda dan gording. Setelah rangka induk
terpasang, dilanjutkan dengan pemasangan rangka pembagi dari kayu ukuran 5/5
cm.

17.3.2 Pemasangan rangka ini harus rapi dan rata dengan waterpass. Kontraktor harus
bertanggung jawab atas ketidak rapian pemasangan rangka ini.

17.3.3 Kayu lat profil dipasang seiring dengan pemasangan Plafond Triplek.
17.3.4 Jarak lagur pembagi 5/7 dan lagur anak 5/5 sesuai dengan bentuk plafond di
gambar.

18. PEKERJAAN SANITAIR/SANITASI

18.1 Lingkup Pekerjaan

Lingkup pekerjaan meliputi pemasangan kloset, floor drain, hole drain, kran air,
pipa air bersih dan air kotor, sumur gali serta septic tank dan resapan.

18.2 Bahan-bahan yang digunakan

18.2.1 Pipa diameter ½”-3/4” untuk keperluan air bersih digunakan sekualitas dengan
tekanan kerja 7 Kg/cm2. Alat penyambung digunakan dari jenis bahan yang sama
dengan bahan untuk pipa.
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)
41
18.2.2 Pipa diameter 3”- 4” untuk keperluan air kotor dan alat penyambung digunakan
dari jenis bahan yang sama dengan bahan untuk pipa.

18.2.2 Perlengkapan-perlengkapan sambungan pipa, terdiri atas knee, sok, elbow,


penutup akhir, reducing sock, faucet sock, socket. ½” dipasang pada tempat sesuai
gambar rancangan pelaksanaan

19.3 Tata Cara Kerja Pelaksanaan

19.3.1 Pemasangan pipa-pipa di dalam bangunan dipasang didalam dinding (inbouw).

19.3.2 Pemasangan pipa-pipa tersebut harus vertikal atau horizontal, tidak boleh
dipasang miring.

19.3.3 Setelah selesai pemasangan seluruh jaringan air, harus dilakukan pengetesan yang
disaksikan oleh Kontraktor, Pengawas dan Pemimpin Proyek. Pengujian harus
menghasilkan tekanan hydraulik sebesar 10 kg/cm2 selama satu jam tanpa
penurunan tekanan. Segala cacat dan kekurangan yang dijumpai dari hasil
pengujian harus diperbaiki dan semua biaya yang timbul akibat kegagalan
pengujian menjadi tanggung jawab kontraktor.

19.3.4 Segala sesuatunya mengenai bentuk, ukuran maupun kapasitas Septic tank dan
sumur peresapannya harus dilaksanakan sesuai gambar yang bersangkutan. Tata
letak sumur peresapan (rembesan) sekurang kurangnya 8,00 m dari sumber air
(sumur gali) agar tidak terjadi pencemaran terhadap sumber air tersebut.

19.3.5 Untuk lokasi pekerjaan yang sudah mempunyai jaringan PDAM sumber air untuk
kebutuhan bangungan diambil dari jaringan PDAM tersebut. Segala biaya yang
timbul dari penyambungan air ini dibebankan kepada kontraktor sesuai dengan
kontrak.

19.4 Persyaratan Pemasangan

19.4.1 Perpipaan harus dikerjakan dengan cara yang benar untuk menjamin kebersihan,
kerapihan, ketinggian yang benar, serta memperkecil banyaknya penyilangan.

19.4.2 Pekerjaan harus ditunjang dengan suatu ruang yang longgar, tidak kurang dari 50
mm diantara pipa –pipa atau dengan bangunan dan peralatan.

19.4.3 Semua pipa dan sambungan pipa harus dibersihkan dengan cermat dan teliti
sebelum dipasang dari semua kotoran, benda –benda tajam / runcing serta
penghalang lainnya harus dibersihkan.

19.4.4 Semua perpipaan yang akan disambung dengan peralatan, harus dilengkapi
dengan UNION atau FLANGE.

19.4.5 Sambungan lengkung, reduser dan expander serta sambungan -sambungan cabang
pada pekerjaan perpipaan harus mempergunakan fitting buatan pabrik.

19.4.6 Semua pekerjaan perpipaan harus dipasang kearah titik buangan. Drainase dan
vents harus mempermudah pengisian maupun pengurasan.

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


42
19.4.7 Pemasangan dilakukan secara menurun guna mempermudah pengisian dan
pengurasan.

19.5 Penyambungan Pipa - pipa

19.5.1 Sambungan ulir

 Penyambungan antara pipa dan fitting mempergunakan sambungan ulir berlaku


untuk ukuran sampai dengan 40 mm.

 Keadaan ulir pada pipa harus dibuat sehingga fitting dapat masuk pada pipa
diputar dengan tangan sebanyak 3 ulir.

 Semua sambungan ulir harus menggunakan perapat Henep dan Zinkwite


dengan campuran minyak.

 Semua potongan pipa harus memakai pipe cutter dengan pisau roda.

 Tiap ujung pipa bagian dalam harus dibersihkan dari bekas cutter dengan
reamer.

 Semua pipa harus bersih dari bekas bahan perapat sambungan.

19.5.2 Sambungan lem

 Penyambungan antara pipa dan fitting, mempergunakan lem yang sesuai


dengan jenis pipa, sesuai rekomendasi dari pabrik pipa.

 Pipa harus masuk sepenuhnya pada fitting, maka untuk ini dipergunakan alat
pres khusus. Selain itu pemotongan pipa mempergunakan alat pemotong
khusus agar pemotongan pipa dapat lurus terhadap batang pipa.

 Cara menyambung lebih lanjut dan terinci harus mengikuti spesifikasi dari
pabrik pipa.

19.5.3 Sambungan yang mudah terbuka.

 Sambungan ini dipergunakan alat – alat sanitair pada lavatory faucet dan
supply valve, waste fitting dan siphon.

 Pada sambungan ini kerapatan diperoleh adanya paking dan bukan seal threat.

19.6 Pembersihan

Setelah pemasangan dan sebelum di uji coba pengoperasian dilaksanakan,


pemipaan disetiap service harus dibersihkan dengan seksama, menggunakan cara
atau metode yang disetujui sampai semua benda-benda asing disingkirkan.

19.7 Pengujian

19.7.1 Sistem air bersih

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


43
 Kalau tidak dinyatakan lain, semua pemipaan harus di uji dengan tekanan air
dibawah tekanan tidak kurang dari tekanan kerja ditambah 50 % dalam jangka
waktu 3 x 24 jam.

Kebocoran harus diperbaiki dan pekerjaan pemipaan harus di uji kembali.

 Peralatan yang rusak akibat uji tekanan harus dilepas dari hubungannya selama
uji tekanan berlangsung.

19.7.2 Sistem air limbah Pipa gravitasi harus diuji dengan tekanan statis sebesar 3,0
meter diatas titik tertinggi salama 1 jam.

20. PEKERJAAN INSTALISASI LISTRIK

20.1 Lingkup Pekerjaan

Lingkup pekerjaan Instalasi Listrik adalah

a. Pemasangan jaringan listrik

b. Pemasangan Lampu

c. Pemasangan Bok Skring & Panel

d. Pemasangan saklar dan, Stop Kontak Dll.

Pekerjaan instalasi listrik meliputi pemasangan seluruh jaringan instalasi didalam


bangunan, pemasukan arus yang bersumber dari instalasi PLN (Perusahaan Listrik
Negara) atau Genset, penyediaan bola lampu, kabel-kabel, pipa isolasi, tiang
listrik, dan sebagainya sehingga listrik menyala. Jumlah titik lampu dan stop
kontak yang harus dipasang sesuai dengan jumlah yang tertera dalam Kontrak.
Titik lampu dan stop kontak diartikan sebagai tempat mata lampu dan stop kontak
yang telah dipasang kabel-kabel yang diperlukan sehingga arus listrik sudah
berfungsi pada titik tersebut. Untuk wilayah yang tidak ada listrik maka item ini
ditiadakan.

20.2 Syarat dan Bahan-bahan yang digunakan

20.2.1 Peraturan yang digunakan adalah peraturan dan standar Listrik Indonesia.

20.2.2 Instalasi listrik harus dikerjakan oleh pihak yang ahli atau pihak Instalatur Ahli
dan telah mempunyai sertifikat baik dari pihak PLN, Instalatur juga harus
mendapat persetujuan dari Direksi. Dalam hal ini pihak kontraktor tetap
bertanggung jawab atas kesempurnaan hasil pekerjaan pemasangan instalasi
tersebut. Apabila merk, jenis dan type bahan yang disebutkan diatas tidak ada
maka boleh dipakai bahan yang sekwalitas.

20.3.3 Pemasangan instalasi listrik harus menggunakan sistem tegangan 220 Volt (sesuai
dengan yang telah ada). Dari panel listrik utama, didistribusikan secara radial
ketempat-tempat yang memerlukannya. Semua peralatan seperti panel – panel,
stop kontak, sesuai dengan peraturan yang ada.

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


44
20.2.4 Komponen – komponen bahan instalasi listrik harus berkwalitas baik dan sesuai
dengan NI-6.

20.2.5 Sistem Pengabelan

Yang dimaksud dengan sistem pengabelan ialah instalasi kabel lengkap dengan
pipa-pipa, clips, juntion boxes, cable racks, cable traya yang lain yang
dipergunakan penyelesaian instalasi kabel.

Cabel-cabel primer, sekunder, maupun yang ke lampu dan stop kontak harus
dipilih dari materai yang tersebut dalam spesifikasi dan gambar, produk dari
pabrik-pabrik yang telah mendapat sertifikat dari PLN. Kabel-kabel yang
dipasang menurut cara yang tertera dibawah ini.

- Kabel NYM : Pemasangan harus didalam pipa pelindung baik diluar maupun
di dalam dan pada pemasangan di bawah tanah diberi pipa pelindung yang
tahan kerusakan mekanis.

- Kabel NYM : pemasangan didalam tembok harus didalam pipa pelindung ,


sedangkan pemasangan diluar tembok tanpa pelindung dengan menggunakan
pemegang kabel (klem - sadel).

- Kaabel NYM : kabel dengan 3 inti untuk satu pass Inti Copper dibungkus
dengan isolasi PVS Isolasi 2 lapis menyelubungi inti

20.2.6 Lampu-lampu

Gambar-gambar yang ada, hanya menunjukkan letak kira-kira dari lampu-lampu,


sedangkan untuk lokasi yang tepat harus disesuaikan dengan gambar-gambar
Arsitektur. Lampu-lampu harus dari type yang cocok dipasang ditempat yang
tepat secara baik. Lampu-lampu yang digunakan lampu pijar, TL, SL Hemat
Energi dan armaturenya yang sesuai dengan Standarisasi Listrik Indonesia dan
spesifikasi gambar rencana.

20.2.7 Stop Kontak.

Gambar-gambar hanya menunjukkan letak kira-kira dari pada stop kontak dan
harus disesuaikan dengan gambar Arsitek. Jika tidak ditentukan lain dipasang 140
cm diatas lantai. Stop kontak harus sejenis terbenam (inbouw) dengan 3 terminal
(satu untuk pertahanan) dan tertutup warna putih.

20.2.8 Panel Listrik

a. Body panel listrik harus dibuat dari besi plat, dengan tebal paling sedikit 1,5
mm. Pelaksanaan pembuatan dilas yang kokoh dan rapi, di cat abu-abu muda
dan pengeringan dengan oven, didasari dengan cat dasar.

a. Komponen panel adalah produksi dari pabrik yang memenuhi syarat/standar


yang diakui internasional seperti DIN, VDE, AIEE atau JIS. Pemasangan
komponen didalam body sedemikian rupa harus mudah dibongkar dan
dipasang kembali bila mana diadakan perawatan.

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


45
c. Pengabelan didalam panel paling kecil menggunakan kabel perpenampang 2,5
mm dan dilaksanakan dengan menggunakan sepatu kabel (cable lug).
Sambungan kabel kebeban harus dengan blok terminal dan tiap-tiap terminal
harus diberi tanda (huruf atau angka-angka) hingga mudah waktu
penyambungan kabel kebeban.

20.3 Penggunaan

20.3.1 Kabel NYM dipergunakan sebagai kabel instalasi penerangan di dalam dinding.

20.3.2 Kabel NYA digunakan sebagai kabel instalasi penerangan.

20.3.3 Grounding

Kawat grounding dapat dipergunakan kawat telanjang (BCC = Bare Copper


Conductore)

20.4 Tata Cara Kerja Pelaksanaan

20.4.1 Pemasangan instalasi listrik dan tata letak titik lampu / stop kontak serta jenis
armature lampu yang dipakai harus sesuai dengan gambar instalasi listrik.
Sedangkan sistim pemasangan pipa-pipa listrik pada dinding maupun beton harus
ditanam (sistim inbouw) dan penarik kabel (jaringan kabel) diatas plafond di ikat
dengan isolator khusus dengan jarak 1,00 atau 1,20 m, atau jaringan kabel diatas
plafond tersebut dimasukkan dalam pipa isolasi. Khusus untuk instalasi stop
kontak harus dilengkapi kabel arde (pertahanan) sesuai dengan peraturan yang
berlaku (mencapai dan terandam air tanah).

20.4.2 Untuk pekerjaan instalasi listrik, atas persetujuan Direksi, pemborong boleh
menunjuk pihak ketiga (instalateur) yang telah memiliki izin usaha instalasi listrik
atau sebagai instalateur yang masih berlaku dari Perusahaan Listrik Negara
(PLN). Pemborong tetap bertanggung jawab penuh atas pekerjaan ini sampai
listrik tersebut menyala (siap digunakan), termasuk biaya pengujian dengan pihak
PLN.

15.4.3 Pengujian instalasi listrik dilakukan kontraktor pada beban penuh salama 1 x 14
jam secara terus menerus. Semua biaya yang timbul akibat pengujian jadi
tanggung jawab kontraktor.

20.4.4 Kontraktor berkewajiban memasukkan arus yang bersumber dari instalasi PLN.
Besarnya daya yang diperlukan adalah sesuai dengan kebutuhan. Pemasukan arus
ini bila harus menambah tiang maka kontraktor harus menambah tiang beton
pracetak. Penambahan tiang dan kabel adalah beban kontraktor.

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


46
21. PEKERJAAN PENGECATAN

21.1 Lingkup Pekerjaan

21.1.1 Menie kayu untuk bidang kosen yang melekat pada tembok, sambungan-
sambungan konstruksi kayu pada kuda –kuda, tiang sandaran dan lain -lain.

21.1.2 Menie besi untuk baut-baut dan besi plat strip.

21.1.3 Cat kayu dan bidang-bidang kosen yang tampak, daun pintu panel dan ventalasi
kayu, lisplank dan lis eternit, serta dinding papan yang dapat dibuka dan plafond
papan rider.

21.1.4 Cat tembok untuk dinding yang diplester dan bidang –bidang beton.

21.1.5 Residu /teer untuk kayu kuda-kuda, gording dan rangka atap.

21.2 Bahan – bahan yang digunakan harus berkualitas baik, seperti

21.2.1 Menie kayu dan besi sekualitas kuda terbang, Platon, Ftalit atau setara.

21.2.2 Cat kayu sekualitas kuda terbang, Avian, Ftalit atau setara.

21.2.3 Cat tembok merk Vinylex setara

21.2.4 Residu dengan kualitas baik dan tidak luntur.

21.2.5 Plamur kayu dan dinding sekualitas RJ.

21.3 Tata Cara Kerja Pelaksanaan

21.3.1 Pekerjaan pengecatan dilaksanakan setelah pemasangan plafond.

21.3.2 Pekerjaan cat menie, residu harus betul-betul rata, berwarna sama, pengecatan
minimal 2 kali.

21.3.3 Pekerjaan cat kayu harus dilakukan lapis demi lapis dengan memperhatikan waktu
pengeringan jenis bahan yang digunakan.

Urutan pekerjaan sebagai berikut :

2 (dua) kali pekerjaan menie kayu / cat dasar.

1 (satu) kali lapis pengisi dengan plamur.

Penghalusan dengan amplas.

21.3.4 Pengecatan dinding harus dilakukan menurut proses sebagai berikut :

 Penggosokan dinding dengan batu gosok sampai rata dan halus, setelah itu
dilap dengan kain basah hingga bersih.

 Pekerjaan cat tembok harus menghasilkan warna merata sama dan tidak
terdapat belang-belang atau noda-noda pengelupas.

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


47
21.3.5 Pengecatan harus dilakukan menurut proses sebagai berikut :

 Membersihkan bidang plafond yang akan dicat.

 Pengecatan plafond 2 (dua) kali, sehingga menghasilkan bidang pengecatan


yang merata dan tidak terdapat belang-belang atau noda-noda pengelupas.

21.3.6 Warna yang digunakan Ditentukan oleh Pemberi Tugas.

22. PEKERJAAN LAIN-LAIN

22.1 Sebelum pekerjaan diserah terimakan, kontraktor diwajibkan membongkar


gudang, bangsal-bangsal kerja, membersihkan bahan-bahan bangunan, kotoran-
kotoran bekas yang ada dalam lokasi bangunan, sehingga pada saat serah terima
dilaksanakan bangunan dalam keadaan bersih dan rapi.

22.2 Untuk lain-lain pekerjaan maupun persyaratan yang belum dan tidak tercantum
dalam Syarat-Syarat Teknis ini serta tidak dijelaskan dalam rapat Penjelasan
Pekerjaan, maka bagian-bagian tersebut harus dilaksanakan sesuai dengan gambar
bestek atau instruksi.

23. PENUTUP

23.1 Pemborong membuat opname photografi sebanyak 3 (tiga) lembar pada saat
belum dimulai, sedang dalam pelaksanaan dan setelah selesai pekerjaan, pada
pandangan yang sama 4 (empat) arah muka, belakang, samping kiri dan samping
kanan. Selain itu laporan harian serta semua Berita acara yang diperlukan.

23.2 Perubahan gambar rencana sesuai dengan kondisi pelaksanaan pekerjaan


dilapangan harus dibuat gambar As Build Drawing untuk mendapatkan
persetujuan pekerjaan dari Direksi.

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)


48