Anda di halaman 1dari 18

Pengurangan Resiko Bencana untuk Kelompok

Berkebutuhan Khusus

Sri Yuliani

Program Studi Ilmu Administrasi Negara


FISIP - Universitas Sebelas Maret
Isu Gender dalam Penanggulangan Bencana
• Bencana – khususnya bencana alam - tidak mendiskriminasi korbannya. Meskipun
demikian, perbedaan perlakuan terhadap korban justru terjadi saat terjadi dan
paska bencana. Pihak yang sering terabaikan kebutuhannya adalah perempuan,
anak dan kelompok rentan lainnya.
• Masalah gender memiliki dimensi sangat penting di dalam bencana yang terjadi
di beberapa negara di Asia Tenggara (Rochelle Jones seperti dikutip Savitri, 2005).
Kondisi rentan pasca bencana alam dan akibatnya dapat dikonstruksi secara sosial
dan memiliki dimensi gender (Savitri, 2005).
• Artinya, perempuan dan laki-laki menghadapi bencana alam dan akibatnya
secara berbeda, sesuai peran mereka dalam masyarakat yang memang
dikonstruksikan secara berbeda. Bencana yang secara fisik terlihat sama, akan
menimbulkan dampak yang berbeda bagi laki-laki dan perempuan, sesuai peran
yang dilekatkan masyarakat kepada mereka.
Arti dan Tujuan Pengarusutamaan Gender dalam
Penanggulangan Bencana ?
• Perka BPBN No. 13 th.2014 tentang Pengarusutamaan Gender dalam
Penanggulangan Bencana mengartikan pengarusutamaan gender sebagai
strategi yang dibangun untuk mengintegrasikan gender menjadi suatu
dimensi terpadu dari perencanaan, penyusunan, pelaksanaan,
pemantauan, dan pengendalian kebijakan dan program pembangunan
nasional (Pasal 1 ayat 1).
Tujuan kebijakan pengarusutamaan gender dalam penanggulangan bencana
adalah :
1. Melaksanakan prinsip-prinsip keadilan dan kesetaraan gender dalam setiap
komponen penyelenggaraan penanggulangan bencana;
2. Mendorong pengarusutamaan gender dengan menyusun perencanaan dan
pengangggaran responsif gender dalam penanggulangan bencana;
3. Mendorong terwujudnya perlindungan dan pemenuhan hak-hak
perempuan dan laki-laki dalam penanggulangan bencana.
Gender, Kesetaraan Gender, Keadilan Gender, Responsif Gender
• Gender adalah konsep yang mengacu pada pembedaan peran, atribut, sifat, sikap
tidak atau perilaku, yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat atau yang
dianggap masyarakat pantas untuk laki-laki dan perempuan.
• Kesetaraan gender adalah kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk
memperoleh kesempatan dan hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan
dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan
keamanan, dan kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan
• Keadilan gender adalah suatu proses untuk menjadi adil terhadap laki-laki dan
perempuan.
• Responsif Gender adalah perhatian yang konsisten dan sistematis terhadap
perbedaan-perbedaan perempuan dan laki-laki di dalam masyarakat yang disertai
upaya menghapus hambatan-hambatan struktural dan kultural dalam mencapai
kesetaraan gender.
Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender dalam
Penanggulangan Bencana
• Pengarusutamaan gender di bidang penanggulangan bencana dilaksanakan
dengan menggunakan indikator empat aspek yaitu :
1. Akses;
2. Partisipasi;
3. Kontrol;
4. Manfaat dari kebijakan dan program
• Ruang lingkup kegiatan meliputi :
1. Penganggaran Responsif Gender (PPRG)
2. Pengarusutamaan gender saat Pra-Bencana;
3. Pengarusutamaan gender saat Tanggap Darurat;
4. Pengarusutamaan gender saat Pasca-Bencana.
PPRG dalam Penanggulangan Bencana

• Penyusunan kebijakan, program dan kegiatan penanggulangan


bencana responsif gender dilakukan berdasarkan analisis gender.
Analisis gender menggunakan data terpilah metode Alur Kerja Analisis
Gender (Gender Analysis Pathway) atau metode analisis lain yang
sesuai.
• Perencanaan responsif gender menghasilkan Anggaran Responsif
Gender
• Anggaran Responsif Gender didokumentasikan dalam bentuk Gender
Budget Statement yang dilampirkan pada saat mengajukan rencana
kerja dan anggaran
Pengarusutamaan gender saat Pra-Bencana :
1. Kajian Risiko Bencana Responsif Gender
2. Peringatan Dini Responsif Gender
3. Mitigasi dan Kesiapsiagaan Bencana Responsif Gender
Pengarusutaman Gender saat Tanggap Darurat :
Tanggap Darurat Responsif Gender : melibatkan laki-laki dan perempuan secara
aktif dalam tanggap darurat, perwakilan yang seimbang dalam kaji tindak, dan
memprioritaskan kelompok rentan
Pelayanan saat tanggap darurat yang responsif gender yang mencakup :
pemenuhan kebutuhan dasar, penampungan dan hunian sementara, kebutuhan air
bersih dan sanitasi, layanan kesehatan, layanan pendidikan, layanan psikososial,
dan keamanan
Pengarusutaman Gender saat Pasca-Bencana :
1. Rehabilitasi dan Rekonstruksi
(Baca : Perka BPBN No. 13 Th. 2014)
Hak dan Kebutuhan Penyandang Disabilitas Dalam
Penanggulangan Bencana
1. Penyandang Disabilitas adalah orang yang memiliki keterbatasan fisik,
mental, intelektual, atau sensorik dalam jangka waktu tertentu atau
permanen, yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dan masyarakat
dapat memenuhi hambatan yang menyulitkan untuk berpartisipasi secara
penuh dan efektif berdasarkan kesamaan hak.
2. Penyandang Disabilitas ganda atau tunaganda adalah orang yang memiliki lebih
dari satu jenis keterbatasan fisik, mental, intelektual, atau sensorik dalam
jangka waktu tertentu atau permanen, yang dalam berinteraksi dengan
lingkungan dan masyarakat dapat menemui hambatan yang menyulitkan
untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif berdasarkan kesamaan hak.

Pemenuhan hak dan perlindungan penyandang disabilitas dalam


penanggulangan bencana meliputi saat Pra-bencana, Tanggap darurat dan
Pasca-Bencana (Baca Perka BPBN No.14 Th.2014)
Analisis Gender dalam Penanggulangan
Bencana
• Penyusunan kebijakan, program dan kegiatan penanggulangan
bencana yang responsif gender dilakukan berdasarkan analisis gender.
• Analisis Gender adalah proses analisis data secara sistematis tentang
kondisi laki-laki dan perempuan khususnya berkaitan dengan tingkat
akses, partisipasi, kontrol dan perolehan manfaat dalam proses
pembangunan untuk mengungkapkan akar permasalahan terjadinya
ketimpangan kedudukan, fungsi, peran dan tanggungjawab antara
laki-laki dan perempuan.
Apa itu Analisis Gender Capacities and Vulnerabilities Analysis Framework
atau CVA?
Background Analisis Kapasitas dan Kerentanan (CVA) dirancang khusus untuk digunakan dalam
intervensi kemanusiaan, dan untuk kesiapsiagaan bencana.
Tujuan CVA dirancang untuk membantu merencanakan bantuan dalam keadaan darurat atau
bencana. Intervensi ditujukan untuk memenuhi kebutuhan mendesak, dan pada saat
yang sama membangun kekuatan orang-orang dan upaya mereka untuk mencapai
pembangunan sosial dan ekonomi jangka panjang.
Kerangka CVA didasarkan pada gagasan bahwa kekuatan (atau kapasitas) dan kelemahan (atau
kerentanan) yang ada pada masyarakat menentukan dampak krisis terhadap mereka,
serta cara mereka merespons krisis. Krisis menjadi bencana ketika melampaui kapasitas
masyarakat untuk mengatasinya.
Kapasitas : kekuatan yang ada pada individu dan kelompok sosial yaitu sumber daya
material dan fisik manusia, sumber daya sosial, dan keyakinan serta sikap mereka.
Kerentanan : faktor jangka panjang yang melemahkan kemampuan orang untuk
mengatasi bencana yang tiba-tiba atau keadaan darurat yang berlarut-larut sehingga
membuat orang lebih rentan terhadap bencana. Kerentanan ada sebelum bencana,
berkontribusi pada tingkat keparahannya, membuat tanggap bencana yang efektif
menjadi lebih sulit, dan berlanjut setelah bencana  bukan sekedar kebutuhan praktis
tapi kebutuhan strategis
Tool 1 : Kategori Kapasitas dan Kerentanan
• CVA Tool 1 : membedakan tiga kategori kapasitas dan kerentanan : 1) kapasitas dan
kerentanan fisik, 2) sosial, dan 3) motivasi.

Kapasitas dan Fitur iklim, tanah, dan lingkungan tempat tinggal atau hidup sebelum krisis;
Kerentanan kesehatan, keterampilan, pekerjaan; perumahan, teknologi, air dan pasokan
Fisik dan makanan; akses ke modal dan aset lainnya. Semua ini akan berbeda untuk
Material wanita dan pria. (Faktor apa saja yang membuat laki-laki dan perempuan
rentan secara fisik/material?)
Sementara perempuan dan laki-laki menderita kekurangan materi selama
krisis, mereka selalu memiliki sumber daya yang tersisa, termasuk
keterampilan dan barang-barang yang mungkin. Ini adalah kapasitas yang
dapat dibangun oleh lembaga.
Pertanyaan kunci :
- Sumber daya produktif, keterampilan, dan bahaya apa yang ada?
- Siapa (pria dan / atau perempuan) yang memiliki akses dan kontrol atas
sumber daya ini?)
Tool 1 : Kategori Kapasitas dan Kerentanan
Kapasitas Tatanan sosial komunitas : struktur politik formal dan sistem informal di mana orang
dan membuat keputusan, membangun kepemimpinan, atau mengatur berbagai kegiatan sosial
dan ekonomi.
Kerentanan
Sosial dan Sistem sosial meliputi sistem keluarga dan komunitas, dan pola pengambilan keputusan di
Organisasi dalam keluarga dan di antara keluarga.

Analisis gender dalam kategori ini sangat penting, karena :


- peran perempuan dan laki-laki dalam berbagai bentuk organisasi ini sangat berbeda.
- Pengambilan keputusan dalam kelompok sosial dapat mengecualikan perempuan, atau
perempuan mungkin memiliki sistem yang berkembang dengan baik untuk pertukaran
tenaga kerja dan barang.
- Perpecahan (konflik) berdasarkan gender, ras, kelas, atau etnis, dapat melemahkan
tatanan sosial suatu kelompok, dan meningkatkan kerentanannya.
Pertanyaan kunci :
- Bagaimana struktur sosial masyarakat sebelum bencana, dan bagaimana hal itu
membantu mereka dalam menghadapi bencana?
- Apa dampak bencana terhadap organisasi sosial?
- Apa tingkat dan kualitas partisipasi dalam struktur ini?
Tool 1 : Kategori Kapasitas dan Kerentanan
Kapasitas Faktor budaya dan psikologis yang didasarkan pada : agama, sejarah respons
dan masyarakat terhadap bencana, upaya luar biasa oleh masyarakat, tetapi ketika
Kerentanan
Motivasi
orang merasa menjadi korban dan tergantung, mereka dapat menjadi fatalistik dan
pasif, dan mengalami penurunan kapasitas untuk mengatasi dan pulih dari situasi
krisis. Kerentanan dapat meningkat dengan bantuan pertolongan yang tidak sesuai,
tidak membangun kemampuan dan kepercayaan diri; tidak menawarkan
kesempatan untuk perubahan.
Pertanyaan kunci :
- Bagaimana masyarakat (laki-laki dan perempuan) memandang diri dan
kemampuan mereka untuk menghadapi lingkungan sosial / politik secara efektif?
- Apa kepercayaan dan motivasi orang-orang sebelum bencana dan bagaimana
dampak bencana terhadap mereka? Ini termasuk keyakinan tentang peran dan
hubungan gender.
- Apakah orang merasa mereka memiliki kemampuan untuk membentuk
kehidupan mereka? Apakah pria dan perempuan merasa mereka memiliki
kemampuan yang sama?
Matriks CVA : Tool 1 (Contoh Kasus Karanganyar)
Kerentanan Kapasitas
Fisik/Material : - Geologi : lereng barat laut perbukitan Gunung Lawu, - SDM : 36 orang Satgas penanggulangan
Sumber daya, keterampilan, dengan kemiringan terjal yaitu 40 – 50. Batuan dasar bencana; ± 1.023 orang relawan di 19
dan bahaya apa yang ada? daerah ini adalah breksi vulkanik, bersifat lepas dan organisasi relawan ; ± 177 orang yang
mudah runtuh; berada di seluruh desa/ kelurahan
- Tidak membangun tembok penahan tebing; saluran air - Sarana dan prasarana yang ada di BPBD;
yang dibangun di dekat permukiman dimungkinkan sarana pra-bencana (Early Warning
membawa material lumpur yang banyak dan akan System)
menimbulkan longsor - Pendanaan yang bersumber dari APBN
- Rawan longsor dan APBD
- Pengetahuan : Diklat; sosialisasi;
Sosial/Organisasi : Adanya kelompok masyarakat yang karena memiliki - BPBD (Perda No. 8 Tahun 2011)
Apa hubungan antara orang- keyakinan tertentu membuat mereka cenderung bersikap - Satgas Penanggulangan Bencana
orang? eksklusif atau tertutup dengan pihak di luar komunitasnya. - 19 organisasi relawan dan jejaring
Apa struktur organisasi kebencanaan di desa/kelurahan di
mereka? Kabupaten Karanganyar.
- Modal sosial : kekerabatan/kerja
bakti/gotong royong/kerjasama

Motivasi/Sikap : Tingkat kesadaran akan bencana rendah. - Kesediaan untuk berpartisipasi


Bagaimana komunitas melihat Penduduk enggan direlokasi, nekad menempati lokasi yang mengikuti penguatan masyarakat sadar
kemampuannya untuk rawan bencana. bencana
membuat perubahan?
Sumber : Leibo, Yuliani, Humsona. Analisis Kebutuhan Gender dalam Mitigasi Bencana di Provinsi Jawa Tengah. Hibah Bersaing Dikti 2013-2014
CVA Tool 2 : Dimensi “Realitas Kompleks”
Untuk membuat matriks CVA mencerminkan kompleksitas realitas, maka selain dimensi kapasitas dan
kerentanan ditambahkan lagi lima dimensi lain yaitu :
Pemilahan komunitas Kapasitas, kerentanan, dan kebutuhan dibedakan berdasarkan gender. Perempuan dan laki-laki mengalami krisis
berdasarkan gender secara berbeda, sesuai dengan peran gender mereka. Mereka memiliki kebutuhan dan minat yang berbeda.
Perempuan, berdasarkan status ekonomi, sosial, dan politik mereka yang lebih rendah, cenderung lebih rentan
terhadap krisis. Mereka juga mungkin lebih terbuka terhadap perubahan - dan peran gender dapat berubah dengan
cepat sebagai akibat dari keadaan darurat.
Pemilahan menurut Analisis berdasarkan : tingkat kekayaan, afiliasi politik, kelompok etnis atau bahasa, usia, dsb. Orang dan kelompok
dimensi sosial yang berbeda dipengaruhi secara berbeda oleh krisis dan intervensi.

Perubahan waktu Masyarakat dinamis, dan berubah seiring waktu. Matriks CVA dapat digunakan menilai kondisi sebelum dan setelah
intervensi - untuk memeriksa perubahan sosial dan untuk mengevaluasi dampak. Secara khusus, Matriks CVA dapat
digunakan untuk menilai perubahan dalam relasi gender sebagai akibat dari keadaan darurat, dan intervensi lembaga.
Interaksi antar Berbagai kategori kerentanan dan kapasitas saling terkait satu sama lain, dan perubahan yang satu akan berdampak
kategori pada yang lain. Misalnya, meningkatkan organisasi sosial masyarakat dapat mengurangi kerentanan mereka terhadap
kerugian materi, dan juga meningkatkan kepercayaan diri kelompok.
Analisis pada CVA dapat diterapkan pada desa-desa dan lingkungan kecil ; kabupaten yang lebih besar, seluruh negara, dan bahkan
berbagai skala dan ke kawasan. Ketika skala aplikasi meningkat, faktor-faktor yang diteliti menjadi kurang tepat didefinisikan; tetapi kita
tingkat masyarakat masih bisa menilai rawan bencana dan potensi pengembangan di setiap tingkat. Ada juga interaksi antara berbagai
tingkat masyarakat. Berbagai kelompok sosial dipengaruhi secara berbeda oleh kebijakan dan kegiatan di tingkat
regional, nasional, dan internasional. Menerapkan CVA ke level yang berbeda dapat membantu menilai hubungan
antara level yang berbeda
Matriks CVA Tool 2 : Berdasar Gender (Kasus Karanganyar)
Kerentanan Kapasitas
Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan
Fisik/Material : Beban tanggungjawab Jumlah perempuan dan anak lebih banyak, tingkat Laki-laki memiliki Daya tahan yang kuat dalam
Sumber daya, keterampilan, ekonomi kerentanan tinggi karena perempuan dan anak kemampuan fisik untuk menghadapi kesulitan hidup.
dan bahaya apa yang ada? memiliki kemampuan fisik untuk menyelamatkan menyelamatkan diri lebih baik.
diri lebih lemah. Trampil (telaten) dalam fungsi
Tidak trampil menjalankan Laki-laki lebih banyak mengelola rumah tangga/
fungsi domestik (mengurus Perempuan dan anak lebih banyak tinggal di rumah menghabiskan waktu di luar merawat korban bencana
rumah tangga/merawat sehingga peluang menjadi korban bencana lebih (ladang/kebun/urbanisasi)
korban) besar sehingga peluang menjadi Kreatif mencari tambahan
korban lebih sedikit. penghasilan melalui sektor
Daya tahan menghadapi Ibu rumah tangga, tidak memiliki ketrampilan tinggi, informal
kesulitan hidup paskabencana tugas domestik, akses sumber daya terbatas Ketrampilan bertani dan
lebih rendah wirausaha bidang agrobisnis;
akses terhadap sumber daya
lebih luas

Sosial/Organisasi : Budaya dan Struktur Jumlah petugas perempuan dalam penanganan Modal sosial : Modal sosial :
Apa hubungan antara orang- organisasi patriarkis bencana sedikit mengakibatkan penanganan bencana -kekerabatan/kohesi sosial dan -kekerabatan/kohesi sosial dan
orang? meletakkan tanggungjawab kurang sensitif gender. organisasi masyarakat ( organisasi masyarakat yang
Apa struktur organisasi sosial/publik pada laki-laki RT/RW; kelompok pengajian; melindungi perempuan ( PKK;
mereka? Adanya perilaku budaya dan beragama yang ikatan keluarga/trah; dsb) kelompok pengajian; ikatan
patriarkis dan tertutup menyebabkan perempuan -Jaringan kekerabatan antar keluarga/trah; dsb)
dan anak-anak rentan sebagai korban bencana. keluarga dan komunitas kuat -Jaringan kekerabatan antar
perempuan kuat
Infrastruktur hukum dan fisik belum sepenuhnya
sensitif gender.
Motivasi/Sikap : Keterbatasan pengetahuan Ketergantungan pada laki-laki (orang tua, suami, Kesediaan untuk Kesediaan untuk berpartisipasi
Bagaimana komunitas melihat akan bencana dan sumber saudara) membuat tidak punya otoritas berpartisipasi dalam dalam sosialisasi dan
kemampuannya untuk daya menyebabkan enggan pengambilan keputusan untuk dirinya sendiri, sosialisasi dan pembentukan pembentukan perempuan sadar
membuat perubahan? menerima perubahan terutama di komunitas yang kolot masyarakat sadar dan tangguh dan tangguh bencana
(direlokasi) bencana
Sumber : Leibo, Yuliani, Humsona. Analisis Kebutuhan Gender dalam Mitigasi Bencana di Provinsi Jawa Tengah. Hibah Bersaing Dikti 2013-2014
Matriks CVA : Tool 2 (Sosial Ekonomi)
Kerentanan Kapasitas
Kaya Menengah Miskin Kaya Menengah Miskin
Fisik/Material : Paling rentan Paling rendah
Sumber daya,
keterampilan, dan
bahaya apa yang
ada?
Sosial/Organisasi : Paling sedikit Paling lemah
Apa hubungan jaringan kapasitas
antara orang- kelembagaannya kelembagaannya
orang?
Apa struktur
organisasi mereka?
Motivasi/Sikap : Motivasi dan Paling rendah
Bagaimana inisiatif menerima kapasitasnya
komunitas melihat perubahan paling untuk menerima
kemampuannya rendah perubahan
untuk membuat
perubahan?
Matriks CVA Tool 2 : (Skala dan Tingkat Masyarakat)
Kerentanan Kapasitas
Surakarta Boyolali Karanganyar Surakarta Boyolali Karanganyar
Fisik/Material : - tinggal di bantaran sungai - curah hujan tinggi,. - Sifat tanahnya lempungan pasir
Sumber daya, - lingkungan kumuh dan - karakteristik Gunung Merapi yang lunak kalau terjadi hujan
keterampilan, dan bahaya padat yang berstatus sebagai gunung mudah longsor
apa yang ada? - bangunan sempit dan non yang sangat aktif. - Rumah dibangun pada lereng
permanen - pemukiman yang sangat padat. perbukitan dengan melakukan
- sarana dan prasarana tidak - Secara geografis lokasi pengupasan tebing.
memadai berlereng dan bertebing serta - Pembuangan limbah dari
struktur tanah berpasir dan mencuci, mandi dan masak
bebatuan sehingga jika diguyur dibuang ke arah tebing di
hujan dengan intensitas tinggi belakang rumah, sehingga
rawan bencana tanah longsor menyebabkan tanah menjadi
lunak dan mudah longsor apalagi
saat hujan turun.

Sosial/Organisasi : - mayoritas penduduk Kondisi demografi yakni Adanya kasus hambatan budaya
Apa hubungan antara miskin dan berpendidikan kepadatan penduduk dan yang membatasi mobilitas
orang-orang? rendah persentase penduduk rentan cukup perempuan sehingga
Apa struktur organisasi - sebagian besar penduduk banyak menghambat penyelamatan diri.
mereka? bekerja sebagai buruh
industri dan buruh
bangunan
- sebagian besar perempuan
tidak bekerja
- usaha perekonomian
keluarga adalah
memelihara ternak

Motivasi/Sikap : - tidak perduli dan nekad kerusakan lingkungan sekitar - nekat membangun rumah di
Bagaimana komunitas tinggal di lokasi rawan sungai dan waduk akibat perilaku dekat tebing yang kondisi
melihat kemampuannya banjir manusia yang mengolah alam tanahnya kurang kuat dan
untuk membuat - enggan di relokasi tanpa mempertimbangkan labil.
perubahan? kelestariannya - rendahnya tingkat kesadaran
akan bencana
- enggan direlokasi