Anda di halaman 1dari 26

BAB II PENGUKURAN SPESIMEN DAN GEOMETRI ULIR 2.1 DASAR TEORI 2.1.

1 Pengertian Pengukuran Geometri Ulir Ulir (screw thread) mempunyai peranan sangat penting didalam konstruksi suatu mesin atau peralatan teknis lainnya. Fungsi tersebut adalah sebagai alat pengunci atau sebagai alat penerus (transmisi) daya. Ulir digunakan untuk mengirimkan kekuatan dan gerak, dan juga digunakan untuk mempercepat dua komponen dengan bantuan nuts, bolts and. Studs. Ada berbagai macam ulir bervariasi dalam bentuk yaitu : included angle, head angle, helix angledll. Ulir diklasifikasikan menjadi Ulir dalam dan ulir luar Pengukuran geometri ulir dimaksudkan untuk memastikan kekuatan atau daya tahan kelelahan dari ulir atau mungkin juga untuk menjamin ketelitian pengubahan gerak dari gerakkan (rotasi menjadi gerakkan translasi) dari system pengubahan gerakan yang memakai ulir.( Shigley,perencanaan teknik, 1989) A. Pengertian Ulir Di dalam sebuah baut atau skrup, terdapat bagian yang berbentuk segitiga bergulung, bagian itu dinamakan ulir. Ulir ini dipakai sebagai pengikat. Ulir dalam pemakaianya selalu bekerja dalam pasangan ulir dalam dan ulir luar. Ulir umumnya berbentuk segitiga sama kaki. Jarak antara puncak dengan puncak berikutnya dari profil ulir disebut jarak bagi. (Elemen masin, sularso 2004)

B. Terminologi Ulir Ulir digunakan untuk mengirimkan kekuatan dan gerak, dan juga digunakan untuk mempercepat dua komponen dengan bantuan kacang, baut dan. kancing. Ada

berbagai macam benang sekrup bervariasi dalam bentuk, oleh sudut disertakan, Z Kepala sudut, sudut heliks dll Ulir terutama diklasifikasikan menjadi 1) thread Eksternal 2) Internal thread Z

External Thread

Internal Thread

Gambar 2.1. Anatomi Ulir Sumber: 1)Screwthread: Ini adalah alur heliks kontinu ditentukan penampang diproduksi di eksternal atau permukaan internal. 2)Crest: Ini adalah permukaan atas bergabung dengan dua sisi benang.

3)Flank: Permukaan antara puncak dan akar.

4) Akar: Bagian bawah alur antara dua sisi-sisi benang 5 Lead: Lead = jumlah mulai pitch x 6,) Pitch: Jarak diukur sejajar dengan sumbu dari titik pada thread untuk yang sesuai selanjutnya titik. 7) Helix sudut: Helix adalah sudut yang dibuat oleh helix benang di garis lapangan dengan sumbu. 8) sudut Flank: Sudut yang dibuat oleh sayap benang dengan tegak lurus dengan sumbu benang. 9) Kedalaman thread: Jarak antara puncak dan akar benang. 10) Termasuk sudut: Sudut termasuk antara sisi-sisi benang diukur dalam pesawat aksial. 11) diameter Mayor: Diameter silinder co-aksial imajiner yang akan menyentuh puncak-puncak eksternal atau internal thread. 12) diameter Minor (Root diameter atau diameter Core): Diameter silinder co-aksial imajiner yang akan menyentuh akar eksternal thread. 13). Addendum jarak radial antara silinder utama dan pitch Untuk thread eksternal. jarak radial antara silinder kecil dan pitch Untuk benang internal. 14) Dedendum: jarak radial antara lapangan dan silinder kecil = Untuk thread eksternal. Z jarak radial antara silinder utama dan pitch = Untuk thread internal. Z

(Metrology in Short 2nd edition; Preben Howarth dan Fiona Redgrave;Unit 3) 2.1.2 Jenis-jenis Alat Untuk Pengukuran Spesimen dan Geometri Ulir Jenis-jenis alat yang digunakan untuk pengukuran specimen dan geometri ulir antara lain sebagai berikut : 1. Vernier Caliper

Gambar.2.2. Vernier Caliper / Jangka Sorong (Sumber:Laboratorium Metrologi Industri dan Kontrol Kualitas) Vernier Caliper dapat digunakan untuk mengukur dimensi bagian dalam dan luar suatu benda. Vernier Caliper terdiri dari bilah utama dan bilah pembantu. Bilah Utama dibagi dalam milimeter, bilah pembantu dibagi 100. 100 garis pada bilah pembantu sama dengan 49 milimeter pada bilah utama. Jadi panjang satu garis pada bilah pembantu adalah = 100/49 mm. Bila suatu garis bilah pembantu berhimpit dengan suatu tanda pada skala utama, maka harga ukurnya adalah jumlah skala dihitung dari angka 0 x 0,02 mm. (Asyari Daryus,2000)

2. Mikrometer Ulir Digital

Gambar 2.3. Mikrometer Ulir Digital

Mikrometer ulir digunakan untuk mengukur diameter pits. Diameter pits adalah diameter dari silinder khayal dengan sumbu yang berimpit dengan sumbu ulir dan memotong sisi ulir sedemikian rupa sehingga tebal ulir dari jarak ruang kosong diantara sisi ulir yang berseberangan adalah sama dengan setengah dari pits. (Asyari Daryus,2000)

3. Three WireUnit Gauge Cara pengukuran diameter pits yang teliti dan banyak dipraktekkan adalah dengan metode tiga kawat. Cara tersebut menggunakan tiga buah kawat dengan diameter sama. Untuk menghindari banyaknya macam diameter kawat, maka kawat pengukur ulir tersebut hanya dibuat menurut set yang tertentu. (Syamsul Arifin, 1981)

Gambar 2.4. Three WireUnit Gauge Carll Zeiss membuat set yang berisi 21 buah kawat dari 0.17mm sampai 6.35 mm yang dapat digunakan untuk mengukur ulir dengan harga pits dari 0.25 mm sampai dengan 12 mm. Jika kawat dari set tersebut dipilih dengan tepat, maka singgungan kawat dengan sisi ulir hanya menyinggung terhadap diameter pits paling jauh sebesar 0.1 p (ke atas atau ke bawah).

4. Screw Pitch Gauge Adalah alat untuk menentukan jumlah Pitch pada suatu ulir dalam satu satuan panjang tertentu (inch). Missal 20 G, artinya dalam 1 inchi terdapat 20 pits. Dengan angka ini dapat diketahui jarak pits. (Asyari Daryus,2000)

Gambar 2.5. Screw Pitch Gauge 5. Outside Mikrometer Kapasitas ukur dari micrometer yang paling kecil adalah sampai dengan 25 mm. Untuk mengukur dimensi luar yang lebih besar dari 25 mm dapat digunakan micrometer luar yang mempunyai kapasitas ukur 25-50mm, 50-75mm dst. Kenaikan tingkat sebesar 25 mm ini dimaksudkan untuk menjaga ketelitian dari micrometer. (Asyari Daryus,2000)

Gambar 2.6. Outside Microm

2.1.3 Cara Menggunakan Macam- Alat Ukur Spesimen dan Ulir

A. Vernier Caliper Pada pengukuran mula-mula kit abaca skala pada bilah utama. Harga Vernier Caliper diperoleh dengan melihat garis yang berimpit dengan garis pada skala utama. (Syamsul Arifin, 1981) B. Mikrometer Ulir Adapun cara penggunaan alat ukur ulir yaitu pertama pilih pana ulir sesuai dengan jarak pits teoritis. Periksa kedudukan nol, dengan cara menyentuhkan kedua sensor pana tersebut. Ukur diameter pits (d2) pada tiga posisi yang berbeda. Ujung kontak dengan sisi yang diperpendek lebih sering digunakan, sebab pengaruh dari kesalahansudut sisi ulir maupun kesalahan dari sudut ujung kontak tersebut dapat dieliminir sehingga dapat diukur diameter fungsional dari ulir. (Syamsul Arifin, 1981) Cara setting nol mikrometer ulir a. Bersihkan anvil dan spindle dengan kain bersih. Putar ratchet stopper sampai anvil dan spindle bersentuhan. Kunci spindle pada posisi ini dengan lock clamp. Mikrometer telah dikalibrasi dengan bendar jika titik nol thimble lurus dengan garis pada outer sleeve. b. Jika ketelitiannya 0,02 mm atau kurang. Kuncilah spindle dengan lock clamp. Putarlah outer sleeve sampai tanda 0 thimble lurus dengan garis dengan menggunakan penyetel. c. Jika ketelitiannya melebihi 0,02 mm. Kuncilah spindle dengan lock clamp. Kendorkan stopper sampai thimble bebas, luruskan tanda 0 thimble dengan garis pada outer sleeve dan kencangkan kembali ratcher stopper. Putarlah outer sleeve sampai tanda 0 thimble lurus dengan garis dengan menggunakan penyetel. (Syamsul Arifin, 1981)

C. Three WireUnit Gauge Cara pengukuran Three WireUnit Gauge tersebut menggunakan tiga buah kawat dengan diameter sama. Setelah tiga kawat dengan diameter yang telah diketahui dipasang pada alur ulir, maka jarak M antara kawat yang berseberangan dapat diukur dengan menggunakan mikrometer. Selanjutnya diameter pits yang dicari dapat dihitung dengan menggunakan rumus. Diameter kawat harus dipilih sedemikian rupa sehingga tepat menyinggung sisi ulir pada lingkaran pits. (Syamsul Arifin, 1981) D. Screw Pits Gauge Pilih screw pits yang sesuai dengan ukuran geometri ulir Setelah terpilih screw pits yang tepat, catat angka yang terdapat pada screw pits tersebut. Missal 20 G, artinya dalam 1 inchi terdapat 20 pits. Dengan angka ini dapat diketahui jarak pits. (Asyari Daryus, 2000) E. Outside Mikrometer Posisi pengukuran sedapat mungkin dilakukan secara vertical dengan ditumpu pada rangka di sebelah landasan tetapnya. Apabila hal ini tidak dimungkinkan maka sebelum pengukuran dilakukan kembali setting nol. Penyetelan kedudukan nol ini dilaksanakan dengan memegang micrometer dengan posisi sesuai dengan posisi pengukuran yang akan dilakukan. Caranya rahang micrometer ditempelkan setelah itu kunci rahanh dengan pengunci kemudian putar angka skala sehingga angka nol tepat pada garis penunjuk, (Taufiq Rochim, 1994) 2.1.4 Teori Perhitungan Geometri Ulir 1. Menghitung harga H, diameter minor (d1), diameter pits (d2)               

2. Menghitung 

untuk kualitas G            

   

3. Menghitung 

apabila ulir dimisalkan mempunyai kualitas 6 

  

   

  

   

        

4. Menghitung toleransi jarak M (Mmax dan Mmin)           

5. Menghitung diameter pitch d2 = M - dD

d2 : diameter pits yang dicari M: harga rata-rata diameter pits P : jarak pits :Sudut (Sumber: modul praktikum metrologi 2001)

2.1.5 Aplikasi Pengukuran Geometri Ulir dalam Kehidupan

2.1.5.1. Sebagai Fastener Pengukuran geometri ulir diterapkan pada dongkrak ulir yang merupakan komponen dari mobil pada sebuah mesin. Berikut ini salah satu contohnya:

Gambar 2.5 dongkrak Ulir http://www.toyota.co.id/cars/reference/hilux/article.php?article_id=1849&Model=H ilux


Untuk melepas :Putar persambungannya dalamarah 1 sampai dongkraknya bebas.

Untuk menyimpan :Putar persambungannya dalam arah 2 sampai dongkrak terikat dengan kuat dan aman untuk mencegah terlempar kedepan pada saat terjadi tabrakan atau pengereman mendadak. http://www.toyota.co.id/cars/reference/hilux/article.php?article_id=1849&Model=H ilux Ulir juga dapat digunakan sebagai power screw perencanaan mesin. Sudah banyaj Studi tentang mekanisme dalam merencanakan suatu mesin agar menghasilkan gerakan yang efektif dan tepat.Untuk mengubah gerak berputar menjadi gerak translasi bolak-balik pada dasarnya dapat dilakukan dengan beberapa

cara. Masingmasing memiliki keunikan tersendiri. Akan tetapi biasanya tidak untuk langkah yang panjang dan memiliki efek dinamik yang besar. Problem tersebut dapat diatasi dengan mekanisme ulir silang sebagaimana power screw tanpa mengubah arah putaran masukannya. Gerak balik terjadi karena adanya peubahan sudut ulir dari poositif menjadi negatif dibagian ujung screw secara gradual. Dengan peubahan sudut ulir yang parabolik ( funsi kwadrat) pada interval sudut putar screw yang maksimum maka efek dinamik karena peubahan kecepatan tersebut dapat diminimalkan

Gambar 2.6 Power Screw Joni Dewanto, Mekanisme Gerak Translasi Bolak-Balik dengan Ulir Silang.1999 2.1.5.2.Sebagai Transmisi Daya Aplikasi pengukuran geometri ulir juga diterapkan pada kompresor ulir( screw compressor ). Kelebihan dari kompresor jenis ini adalah :  Biaya investasinyar endah,  Bentuknya kompak, ringan  Mudah perawatannya,  Mudah operasinyadan  Fleksibel dalam pemasangannya Sehingga kompresor ini sangat popular di industri. Biasanya digunakan dengan ukuran 30 sampai 200 hpatau 22 sampai 150 kW.

Gambar 2.6 Kompresor Screw (Sunyoto,Dkk, 2008, TeknikMesinIndustri. Jilid I Untuk SMK, Jakarta: DirektoratPembinaanSekolahMenengahKejuruan) Selain itu, ulir juga digunakan sebagai turbin pembangkit daya. Di bantul dilakukan penelitian menggunakan ulir bamboo sebagai turbin pembangkit daya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kecepatan arus permukaan dan debit aliran, menghitung daya yang dapat terbangkitkan, menentukan dan merancang turbine ulir dengan material bambu, menentukan / memilih generator yang tepat. Metodologi penelitian dimulai dengan survey lokasi, pengukuran aliran dan debit, desain turbin, pemasangan turbin dan generator untuk Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Instrumen dan alat yang digunakan adalah stop watch, rool meter, bola pingpong, kamera digital, volt meter, ampere meter, turbine, tacho meter, spring scale, generator dan lampu. Berdasarkan survey kondisi geografi. Lokasi Bendung Niten di Desa Pendowoharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul potensial untuk sumber Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dengan potensi daya 14,7 kW. Hasil pengukuran parameter turbin adalah: putaran yang dihasilkan 200 Rpm, pemindahan daya dengan pully satu tingkat Pully Penggerak = 16 inchi Pully yang Digerakkan = 2 inchi. Putaran Pully Penggerak untuk memutarkan generator adalah diestimasikan sekitar 1600 Rpm. Putaran Generator 1350 Rpm. Output daya listrik yang dihasilkan100Watt. Karya: Sukijo (http://mst.ft.ugm.ac.id)

2.2 TUJUAN PRAKTIKUM 2.2.1 Tujuan Umum Dapat memahami tentang arti pengukuran geometri ulir baik mulai dari fungsi serta aplikasinya. 2.2.2 Tujuan Khusus 1. Mengetahui jenis-jenis alat ukur yang dapat digunakan untuk mengukur elemen geometri ulir 2. Mengetahui cara menggunakan alat ukur tersebut 3. Memahami cara mengukur elemen geometri ulir 4. Dapat membandingkan hasil dari alat ukur ulir 5. Mengetahui Aplikasi geometri ulir

2.3 PERALATAN DAN METODE PENGUKURAN

2.3.1

Alat Ukur Praktikum dan Gambarnya

Berikut alat-alat ukur yang digunakan dalam pengukuran geometri ulir : 1. Vernier Caliper

Gambar 2.9. Vernier Caliper Sumber:Laboratorium Metrologi Industri dan Kontrol Kualitas

2. Mikrometer Stand

Gambar 2.10. Mikrometer Stand 3. Outside Mikrometer

Gambar 2.11. Outside Mikrometer 4. Mikrometer Ulir

Gambar 2.12. Mikrometer Ulir

5. Screw Pits Gauge

Gambar 2.13. Screw Pitch Gauge 6. 3 Wireunit Gauge

Gambar 2.14. Wireunit Gauge 2.3.2 Gambar Benda Ukur dalam Pengukuran Spesimen dan Geometri Ulir

Gambar 2.15. Gambar 3D Spesimen

Gambar 2.16 Gambar Baut

2.3.3

Prosedur Pengukuran Geometri Ulir

Berikut ini prosedur pengukuran geometri ulir : 1. Penentuan Spesifikasi Ulir a. Melakukan pemeriksaan profil dasar ulir dengan cara menempelkan gigi mal ulir pada ulir yang diperiksa b. Menghitung jarak pitch dengan rumus( P = 1/G x 1 inch) c. Menuliskan hasil pemeriksaan ulir tersebut seperti tercantum pada mal ulir pada lembar kerja tabel 3. 2. Pengukuran Diameter Pitch dengan Metode Tiga Kawat a. Memilih diameter kawat yang akan digunakan. Diameter kawat (d0) =   , dimana P = Jarak pits teoritis. Diameter kawat yang dipilih adalah dD. b. Mengukur jarak M (jarak antara sisi luar kawat yang bersebrangan), pada tiga posisi yang berbeda.          

dD = diameter kawat yang dipilih = sudut ulir (ulir isometrik = 60o)

d2 = diameter pits yang akan dicari c. Menghitung diameter pits (d2) berdasarkan pengukuran harga M rata-rata          

d. Menuliskan hasil pengukuran dan perhitungan pada lembar kerja, tabel 6

3. Pengukuran dengan Outside Mikrometer a. Memeriksa kedudukan nol mikrometer dengan menggunakan kaliber yang terdapat dalam nol b. Melakukan pengukuran pada tiga tempat yang berbeda, sepanjang ulir tersebut. Gunakan racet untuk memberikan tekanan yang relatif sama pada setiap pengukuran. c. Menuliskan hasil pembacaan pengukuran. 4. Pengukuran Diameter Pitch dengan Mikrometer Ulir a. Memilih pana ulir sesuai dengan jarak Pitch teoritis b. Memeriksa kedudukan nol, dengan cara menyentuhkan kedua sensor pana tersebut. c. Mengukur diameter Pitch (d2) pada tiga posisi yang berbeda. d. Menuliskan hasil pengukuran pada lembar kerja tabel 7.

2.4 2.4.1

PEMBAHASAN Data Pengukuran geometri Ulir

Tabel 1. Data Alat Ukur mm NAMA ALAT UKUR MERK KECERMATAN KAPASITAS UKUR

1. Spesimen 2. Vernier Caliper 3. Outside Mikrometer Mikrometer Screw Screw Pitch Gage Mitutoyo Morhard Whitworth 0.02 0.01 0.01 15 0-25 0-25

Mikrometer Stand 3 WireGage Unit Ulir

Tabel 2. Data Pengukuran Spesimen Objek Ukur A B C D E F Hasil Pengamatan (dalam mm) 1 58.94 9.80 55.02 51.40 40.22 20.20 2 58.96 9.82 54.96 51.42 40.20 20.22 3 58.92 9.82 55.00 51.46 40.22 20.22 Ratarata 58.94 9.81 54.99 51.43 40.21 20.21

Tabel 3 Spesifikasi Ulir Toleransi Yang Digunakan ISO Diameter Mayor (Standar), d Jarak Pits, P Profil Dasar Ulir Geometri Ulir 4.71 1/24 x 2.54 = 1.06 34 G

Tabel 4. Harga Diameter Mayor Posisi 1 2 3 Gambar 1. Pengukuran diameter luar

mm Hasil Pengukuran 4.71 4.72 4.70 4.71

Tabel 5. Harga Teoritik Elemen Geometri dan Toleransi Ulir Besaran H Diameter minor (d1) Diameter pis (d2) Esg Diameter mayor maksimum (dmax) Diameter pits maksimum (d2max) Td (6) Td2 (6) Diameter mayor minimum (dmin) Rumus 0.86603 P (3.1) (3.2) (3.3) (3.4) (3.5) (3.6) (3.7) (3.8) Geometri Ulir 0.9180 3.5625 4.0215 -26.66 m 4.74 mm 4,05 mm 0,18 mm 0,11 mm 4,56 mm

mm

Diameter pits minimum (d2min) Jarak sisi luar kawat maksimum (Mmax) Jarak sisi luar kawat minimum (Mmin)

(3.9) (3.10)

3,94 mm 5,016

(3.11)

4,90

Tabel 6. Diameter Pits (Metode Tiga Kawat) Besaran Diameter kawat teoritis, d0 Diamter kawat yang dipilih, d0 Diamter pits, d2 (3.13) 1 2 3 Gambar 2. Pengukuran diameter pits dengan metode tiga kawat 4.43 6.26 6.25 6.25 6.25 Rumus 0.577 P Posisi

mm Geometri Ulir 0,82 0,62

Tabel 7. Diameter Pits (dengan Mikrometer Screw) Posisi 1 2 3 Gambar 3. Pengukuran diameter pits dengan mikrometer screw
d2

mm Hasil pengukuran 4.35 4.45 4.21 4.34

2.4.2

Perhitungan

Perhitungan harga H , diameter minor (d1), diameter pits (d2) Harga H = 0,86603P = 0,86603 ( 1,06 ) = 0,918 (pembulatan) Diameter minor (d1) = d 2 ( 5/8H ) = 4,71- 2(5/(8x0,92)) = 3,5625 mm Diameter minor (d2) = d-2(3/8H) = 4,71-2(3/(8x0.92)) = 4,0215 mm Perhitungan dmax d2max untuk kualitas G. Esg = - ( 15+11p ) = - (15+ 11x1,06) = -26,66 m

Diameter mayor maksimum (dmax) = d+ Esg = 4,71 + 0,02666 = 4,74 Diameter pits maksimum (d2max) = d2 + Esg =4,0215 + 0,02666= 4,05 Perhitungan dmin dan d2min apabila ulir dimisalkan mempunyai kulitas 6. Td (6) = =

=187,2 3,05 = 0,18 mm Td2 (6) = 90 P0,4 d0,1 = 90x1,060,4 x 4,710,1 = 0,11 mm dmin = dmax Td(6) = 4,74 0,18 = 4,56 mm d2min = d2max Td2 (6) = 4,05 0,11 = 3,94 mm

Perhitungan toleransi jarak M ( Mmax dan Mmin )

Jarak Sisi Luar Kawat Maksimum (Mmax) = d2max + [3+0,076(P/ d2max)2]dD 0,866P = 4,05 + [3+ 0,076( 1,06/4,05)2]0,62 0,866(1,06) = 4,05 + 1,884 0,918 = 5,016 Jarak sisi luar kawat minimum (Mmin) = d2min + [3+0,076(P/ d2min)2]dD 0,866P = 3,94 + [3+ 0,076( 1,06/3,94)2]0,62 0,866(1,06) = 3,94 + 1,88 0.918 = 4.90 Perhitungan diameter pits (d2), berdasarkan pengukuran harga M rata-rata d2 = M - dD

= 6,25 - 0,62 = 6.25-1,86+0.046 = 4.43

2.4.3

Analisis Dari hasil penelitian yang diperoleh pengukuran yang paling cermat yaitu

dengan menggunakan micrometer ulir sedangkan yang kurang cermat yang

menggunakan metode 3 kawat. Sedangkan untuk mengukur ulir secara umum dengan menggunakn mal ulir. Benda Ukur Standar Mikrometer Ulir Metode 3 Kawat Diameter Mayor Diameter Pits 4.71mm 4.34mm 4.43mm

Dari data diatas terbukti mikromter ulir memiliki tingkat ketelitian yang tinggi. Penyebab perbedaan pengukuran yang terjadi dikarenakan parallax error .parallax error adalah kesalahan pembacaan yang disebabkan karena pembacaan dilakukan pada sudut yang berbeda. Cara mengatasinya dengan melakukan pembacaan secara tegak lurus dengan skala yang dibaca.dan yang kedua adalah tidak memperhatikan prisip ABBE. Maksud dari prinsip Abbe adalah sumbu pembacaan/dimensi dan sumbu pengukuran harus koaksial (segaris/berimpit) untuk mendapatkan akurasi maksimum. (Rochim, Taufiq & Wirjomartono, S.H. 2001. Spesifikasi Geometris Metrologi Industri & Kontrol Kualitas.Bandung: ITB Press.) penyimpangan alat ukur sendiri serta penyimpangan operator pada pembacaan skala. Penyimpangan yang terjadi pada metode 3 kawat dapat disebabkan karena pemasang mal ulir pada mikrometer.

2.5 2.5.1

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

a. Perbandingan Data Dari data yang diperoleh, maka dapat dibandingkan hasil pengukuran dengan menggunakan metode 3 kawat, dan dengan micrometer ulir. Harga diameter mayor (9,95mm) dan diameter pits (8,584mm). sedangkan dengan metode 3 kawat hanya didapat diameter pits (9,20mm). b. Keakuratan Dari penggunaan metode-metode di atas, yang memberikan keakuratan dan ketelitian adalah mikrometer ulir karena dengan menggunakan micrometer ulir kita dapat memperolah nilai seluruh diameter, baik diameter mayor, minor, maupun diameter pits. c. Profil Yang Tidak Dapat Diukur Dengan pengunaan mikrometer ulir setiap profil dapat diukur, tetapi dengan metode 3 kawat, diameter mayor tidak dapat ditemukan nilainya.

2.5.2

Saran

a. Praktikan harus teliti dalam melihat skala mikrometer b. Praktikan harus tepat dalam menempatkan 3 Wireunit Gauge c. Oleh karena itu, dalam menggunaan alat ukur tersebut diperlukan ahli yang mempunyai keterampilan dan kecermatan dalam mengukur, dan juga dapat menganalisa data yang diperoleh dari hasil pengukuran. d. Pengalaman pengukur juga akan mempengaruhi hasil pengukuran. Oleh karena itu diperlukan banyak latihan dan pengalaman dalam mengukur.

DAFTAR PUSTAKA Arifin, Syamsul. 1981. Alat Alat Ukur dan Mesin Mesin Perkakas. Jakarta: Yudhistira. Daryus, Asyari. 2000. Alat Bantu dan Alat Ukur. Universitas Darma Persada, Jakarta. Rochim, Taufiq. 1994. Spesifikasi, Metrologi, dan Kontrol Kualitas Geometrik 1, ITB, Bandung. Sularso.2004. Dasar perencanaan dan pemilihan elemen mesin.Jakarta. http://www.toyota.co.id/cars/reference/hilux/article.php?article_id=1849&Model=Hil ux Sunyoto,Dkk, 2008, TeknikMesinIndustri. Jilid I Untuk SMK, Jakarta: DirektoratPembinaanSekolahMenengahKejuruan (http://mst.ft.ugm.ac.id) Sularso.2004. Dasar perencanaan dan pemilihan elemen mesin.Jakarta. Dewanto, Joni. Mekanisme Gerak Translasi Bolak-Balik dengan Ulir Silang.1999. jakarta

(Metrology in Short 2nd edition; Preben Howarth dan Fiona Redgrave