Anda di halaman 1dari 4

Diagnosis Diagnosis definitive demam tifoid adalah dengan isolasi S.

typhii dari dari darah, sumsum tulang atau dari lesi anatomik spesifik lainnya. Adanya gejala klinis khas demam tifoid atau deteksi antibody spesifik menunjukkan kemungkinan diagnosis demam tifoid namun bukanlah diagnosis pasti. Kultur darah adalah pilihan utama diagnosis penyakit ini. (WHO,2003) Spesimen Selama transportasi hingga ke laboratorim, specimen harus ditempatkan dalam suhu ruang (37C) Darah Volume darah kultur adalah faktor yang penting dalam isolasi S. typhi dari pasien tifoid. Pada orang dewasa dan anak yang lebih besar diambil 10-15mL, sedangkan untuk anak yang lebih kecil cukup diambil 2-4 mL. Hal ini dikarenakan kadar bakterimia anak lebih tinggi daripada orang dewasa. Mengurangi jumlah volume darah yang diambil dapat mengurangi sensitivitas hasil kultur. Darah harus diambil dengan teknik steril melalui pungsi vena dan diinokulasikan secepatnya setelah diambil ke dalam medium transport kultur darah yang sesuai. (WHO,2003) Serum Diambil untuk tujuan serologic, 1-3 mL darah diinokulasikan ke dalam tabung tanpa antikoagulan. Sampel kedua harus diambil pada masa kovalesens ( 5 hari kemudian). (WHO,2003) Feses Dapat diambil dari semua pasien tifoid akut dan terutama digunakan untuk diagnosis karier tifoid. Isolasi S. typhi dari fese menunjukkan demam tifoid. Namun gejala klinis pasien harus dipertimbangkan. Specimen harus segera diproses 2 jam setelah pengambilan, jika tidak memungkinkan harus disimpan dalam suhu 4 C. jika tidak dapat diperoleh sampel feses, Swab rectal yang diinokulasikan dalam medium transport Carry Blair dapat digunakan.(WHO,2003) Pemeriksaan darah tepi Anemia normokromi normositik terjadi sebagai akibat perdarahan usus atau supresi pada sumsum tulang. Jumlah leukosit rendah, namun jarang dibawah 3.000/ L. Apabila terjadi abses piogenik maka

jumlah leukosit dapat meningkat mencapai 20.000-25.000/ L. Trombositopenia sering dijumpai, kadangkadang berlangsung beberapa minggu. (IDAI,2010) Pemeriksaan Serologi Samonela dikarakteristikan oleh antigen O (somatic) dan H (flagella) serta beberapa memiliki antigen kapsul Vi (virulensi) . Antigen O dideteksi dengan tes aglutinasi slide dengan antiserum grup spesifik diikuti aglutinasi dengan faktor antiserum sedangkan antigen H dideteksi dengan tes aglutinasi tabung. Berikut adalah komposisi antigen salmonella yang sudah diindentifikasi yang menyebabkan demam tifoid dan demam paratifoid Serotipe Antigen O Antigen H Serogrup Fase 1:2 S. typhi S. paratyphi A S. paratyphi B S. paratyphi C 9,12, (Vi) 1,2,12 1,4,(5), 12 6,7, (Vi) d a : (1,5) b : 1,2 c : 1,5 Grup D1 Grup A Grup B Grup C1

Uji Widal Uji ini mengukur reaksi aglutinasi antibodi terhadap antigen O dan H. umumnya antibody O mucul pada hari ke-6-8 dan antibody H pada hari ke-10-12 setelah onset penyakit. Uji ini dilakukan pada serum fase akut. Serum masa kovalesens juga harus diambil untuk membandingkan derajat titrasi antigen. Setidaknya dibutuhkan 1mL datah setiap kali pemeriksaan untuk memperoleh serum yang cukup. Selain serum, plasma darah juga dapat digunakan untuk pemeriksaan ini. Tes ini hanya mempunyai sensitivitas dan spesifisitas moderat. Menunjukkan hasil negative hingga 30% pada pasien tifoid kultur positif. Hal ini dapat disebabkan karena terapi antibiotic sebelumnya menurunkan respon antibody. Selain itu, s. typhi memiliki antigen O dan H yang sama dengan serotype Salmonella lain dan dapat bereaksi silang dengan epitop antigen Enterobacteriacea lain sehingga

memberikan hasil positif palsu. Positif palsu dapat terjadi pada malaria, typhus, bakterimia akibat organisme lain dan sirosis. Penting untuk menentukan titer antibody populasi normal pada suatu area untuk menentukan berapa titer antibody yang signifikan positif.(WHO,2003) Di Indonesia pengambilan titer O agglutinin 1/40 menunjukkan nilai ramal positif 96%. Banyak center mengajukan nilai diagnosis titer O agglutinin 1/200 atau pada titer sepasang (akut-kovalesens) terjadi kenaikan 4 kali Uji IDL Tubex Uji ini cepat dan sederhana. Prinsip pemeriksaannya adalah mendeteksi antibodi terhadap S. typhi. Uji ini menggunakan antigen O9 yang hanya ditemukan pada Salmonella Grup D. Hasil positif pada uji IDL Tubex ini menunjukkan infeksi Salmonella, walaupun tidak dapat membedakan Salmonella grup D apa yang menyebabkan infeksi. Infeksi karena serotype lain termasuk S. paratyphi A akan memberikan hasil negative. Uji IDL Tubex hanya mendeteksi antibody IgM sehingga digunakan untuk deteksi akut demam tifoid Cara Kerjanya, didalam tabung khusus berbentuk V, serum dicampur 1 menit dengan reagen A (partikel magnet yang dilapisi LPS S. typhi). Kemudian 2 tetes reagen B (partikel lateks biru yang dilapisi antibody spesifik terhadap antigen O9) dicampur selama 1-2 menit. Tabung ditempelkan pada magnet khusus. Kemudian pembacaan hasil didasarkan pada warna akibat ikatan antigen dan antibody yang akan menimbulkan warna dan disamakan dengan warna pada magnet khusus untuk scoring. Warna merah menunjukkan hasil negative, semakin biru menunjukkan hasil yang semakin positif.

Uji Typhidot Uji ini bertujuan untuk mendeteksi antibody IgM dan IgG spesifik terhadap S. typhi. Uji ini sederhana, cepat, ekonomis, diagnositik dini, dengan sensitivitas 95% dan spesifitas 75%. Deteksi adanya IgM menunjukkan infeksi akut fase awal sedangkan deteksi IgM dan IgG menunjukkan infeksi akut pada pertengahan masa infeksi . pada area endemic dimana transmisi tifoid tinggi kadar IgG spesifik seringkali tinggi. Karena titer IgG dapat bertahan lebih dari 2 tahun, peningkatan kadar IgG tidak dapat membedakan infeksi fase akut atau kovalensens. IgG yang positif juga menunjukkan adanya re-infeksi. Uji Typhidot M adalah modifikasi uji typhidot yang lebih baik daripada uji Widal maupun metode uji kultur standar (dalam hal sensitifitas), walaupun kultur tetap menjadi gold standar diagnostik

Uji IgM dipstick Uji ini mendeteksi adanya antibodi IgM terhadap S. typhi. Pemeriksaan ini dapat menggunakan serum dengan perbandingan 1:50 dan darah 1:25. Selanjutnya diinkubasi 3 jam pada suhu kamar. Kemudian dibilas dengan air biarkan kering. Hasil dibaca jika ada warna berarti positif dan hasil negarif jika tidak ada warna. Interpretasi hasil 1+, 2+, 3+ atau 4+ . Berdasarkan studi laboratorium di Indonesia, Kenya, Vietnam dan Eygpt sensitivitas uji ini adalah 65-77% dan spesifitasnya mencapai 95-100% (WHO,2003) Pemeriksaan Mikrobiologi Metoda kultur merupakan gold standar untuk diagnosis demam tifoid. Spesifikasinya lebih dari 90% pada penderita yang belum diobati, kultur darahnya positif pada minggu pertama. Jika sudah diobati hasil positif menjadi 40% namun pada kultur sumsum tulang hasil positif tinggi 90%. Pada minggu selanjutnya kultur tinja meningkat yaitu 85%, berturut-turut positif pada minggu ke-3 dan ke-4. Selama 3 bulan kultur tinja dapat positif karena 3% pasien tersebut termasuk karier kronik. Karier kronik sering terjadi pada orang dewasa daripada anak-anak dan lebih sering pada wanita daripada laki-laiki (Karsinah et al., 1994)