Anda di halaman 1dari 19

Tinjauan Yuridis UU Nomor 41 Tahun 2004 HUKUM WAKAF A.

Pendahuluan Wakaf berasal dari bahasa Arab, waqf yang berarti habs yaitu menghentikan atau menahan. Menurut Ahli fiqih, waqf artinya menahan yang mungkin diambil manfaatnya tanpa menghabisakan atau merusakkan bendanya dan dipergunakan untuk kebaikan. Menurut Imam Syafi i, wakaf adalah suatu ibadah yang disyariatkan, wakaf telah berlaku sah bilamana wakif telah menyatakan dengan perkataan waqaftu (telah saya wakafkan), sekalipun tanpa diputuskan hakim. Al-Jazairi menambahkan pengertian menahan dalam terminologi wakaf itu berarti barang wakaf itu tidak boleh diwariskan, tidak boleh dijual dan tidak boleh dihibahkan. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977 dan Kompilasi Hukum Islam (KHI), menyebutkan bahwa wakaf adalah perbuatan hukum seseorang atau sekelompok orang atau badan hukum yang memisahkan sebagian benda dari miliknya dan melembagakan untuk selama-lamanya guna kepentingan ibadat atau keperluan lainnya sesuai dengan ajaran Islam. Secara yuridis wakaf merupakan perbuatan hukum yang menimbulkan atau mengakibatkan adanya harta yang terpisah dan bertujuan serta adanya nazhir yang mengelola harta tersebut. Sedangkan menurut UU No. 41 tahun 2004 tentang Wakaf dijelaskan bahwa wakaf adalah perbuatan hukum wakif untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut syariah. Dengan demikian, setiap harta yang diwakafkan itu keluar dari kepemilikan orang yang yang mewakafkan (wakif) dan barang tersebut secara hukum dianggap milik Allah SWT. Bagi wakif terhalang

memanfaatkannya untuk kepentingan dirinya dan wajib mendermakan hasilnya sesuai dengan tujuannya. Wakaf adalah salah satu bentuk ibadah dalam ajaran Islam yang memiliki potensi sosial serta ekonomi serta dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan umat. Peranan wakaf di negara kita tidak dapat kita abaikan. Hampir bisa dipastikan bahwa setiap bangunan yang berfungsi keagamaan, sosial, apakah berupa tempat ibadah, komplek keguruan pendidikan, pusat-pusat penyiaran Islam maupun tempat-tempat amal kebajikan lainnya, lazimnya selama ini, berdiri di atas obyek wakaf. Perwakafan merupakan kelembagaan yang sudah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai suatu pranata sosial keagamaan. Sebagaimana tercermin dalam konsideran Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977 yang merupakan dasar hukum perwakafan obyek, dinyatakan bahwa wakaf sebagai lembaga keagamaan yang sifatnya sebagai sarana keagamaan sedangkan dalam Undang-undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf dikatakan bahwa wakaf adalah perbuatan hukum wakif untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut syariah. Muhammad Daud Ali bahwa wakaf telah mengakar dan menjadi tradisi umat Islam di mana pun. Di Indonesia, menurutnya, wakaf telah menjadi penunjang utama bagi perkembangan masyarakat, karena hampir semua rumah ibadah, perguruan Islam, dan lembaga-lembaga keagamaan Islam lainnya dibangun di atas obyek wakaf. Dari beberapa pengertian tentang wakaf di atas dapatlah diketahui bahwa unsur-unsur wakaf itu adalah terdiri dari :

1. Orang yang berwakaf (wakif) yaitu pemilik harta benda yang diwakafkan. 2. Harta yang diwakafkan (mauquf bih). 3. Tujuan wakaf atau yang berhak menerima wakaf yang disebut mauquf alaihi 4. Persyaratan wakaf dari wakil yang disebut shighat atau ikrar wakaf. Pasal 1 UU No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf, memberikan penjelasan beberapa definisi istilah seputar wakaf ini yaitu : 1. Wakaf, adalah perbuatan hukum wakif untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut syariah. 2. Wakif, adalah pihak yang mewakafkan harta benda miliknya. 3. Ikrar wakaf, adalah pernyataan kehendak wakif yang diucapkan secara lisan dan/atau tulisan kepada Nazhir untuk mewakafkan harta benda miliknya. 4. Nazhir, adalah pihak yang menerima harta benda wakaf dari wakif untuk dikelola dan dikembangkan sesuai dengan peruntukannya. 5. Harta benda wakaf, adalah harta benda yang memiliki daya tahan lama dan/atau manfaat jangka panjang serta mempunyai nilai ekonomi menurut syariah yang diwakafkan oleh wakiff. 6. Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf, selanjutnya disingkat PPAIW, adalah pejabat berwenang yang ditetapkan oleh menteri untuk membuat akta ikrar wakaf. Dalam undang-undang tersebut dijelaskan bahwa pihak yang

mewakafkan harta bendanya disebut wakif. Dalam melaksanakan wakaf tersebut harus dilakukan ikrar wakaf yaitu pernyataan kehendak wakif yang diucapkan secara lisan dan atau tulisan kepada nadzir untuk mewakafkan harta benda miliknya.

B. Pemeliharaan Benda Wakaf Obyek wakaf di obyek. air kita terbentang luas, Data terakhir dari Departemen Agama (Depag) terakhir memperlihatkan obyek wakaf di Indonesia tersebar di 403.845 lokasi, seluas 1.566.672.406 meter persegi. Dari total jumlah tersebut 75 % di antaranya sudah bersertifikat wakaf. Data di atas memperlihatkan masih cukup banyak obyek wakaf yang belum memiliki sertifikat yang menjelaskan posisinya sebagai obyek wakaf. Obyek wakaf yang belum bersertifikatlah salah satu kendala pendayagunaan obyek wakaf dan berpotensi menimbulkan sengketa di kemudian hari bahkan diperjual-belikan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Tidak adanya bukti tertulis tersebut pada suatu waktu dapat menyebabkan timbul berbagai permasalahan menyangkut harta wakaf khususnya obyek yang telah diwakafkan. Pada dasarnya harta benda yang telah diikrarkan untuk diwakafkan adalah pengalihan kekuasaan dan penggunaan yang hasilnya untuk kepentingan umum, sedangkan statusnya adalah menjadi milik Allah SWT dan bukan menjadi milik penerima wakaf, namun wakif (orang yang mewakafkan) tetap boleh mengambil manfaatnya. Perwakafan pada hakekatnya merupakan salah satu bentuk pemindahan hak atas obyek. Oleh karena itu, pemindahan hak dalam perwakafan berbeda dengan pemindahan hak atas obyek yang biasa, karena dalam perwakafan mempunyai kelebihan tersendiri, yaitu dipandang sebagai perbuatan ibadah dalam ajaran Islam. Dengan demikian, perbuatan hukum dalam perwakafan obyek ini tidak mempunyai nilai komersial. Dalam kondisi sekarang, prinsip-prinsip perwakafan dikaitkan secara khusus dengan persoalan kemasyarakatan, sehingga wakaf menjadi suatu lembaga keagamaan yang dapat dipergunakan sebagai salah satu sarana pengembangan kehidupan

khususnya bagi umat Islam dalam rangka mencapai kesejahteraan lahir dan batin. Pemfungsian wakaf bukan hanya untuk kepentingan mesjid atau tempat ibadah semata, melainkan juga untuk setiap keperluan masyarakat seperti untuk rumah yatim, sekolah, balai desa, membuat jalan, pasar dan lain-lain untuk kemanfaatan kehidupan masyarakat dan kesejahteraannya. Karena hal ini terbukti memberi sum ban gan yang penting dalam aspek ekonomi dan berperan menjaga keseimbangan kehidupan masyarakat. Sekalipun wakaf dipandang sebagai ibadah yang bersifat multi fungsi kemanfaatan yang besar sebagaimana dikemukakan di atas, dalam kenyataannya menurut Ahmad Azhar Basyir pada umumnya harta wakaf merupakan barang-barang pakai, barangbarang yang menghasilkan, sehingga untuk pemeliharaan barang-barang pakai itu sering menghadapi kesukaran-kesukaran dalam memperoleh sumber-sumber tetap. Realitas kehidupan menunjukkan bahwa masih banyak kasus sengketa wakaf muncul ke permukaan. Hal ini membuktikan bahwa pada masa lalu orang mewakafkan harta bendanya untuk kegiatan keagamaan hanya didasari rasa ikhlas berjuang membesarkan agama Islam tanpa memerlukan adanya bukti tertulis, ini juga disebabkan karena perwakafan dalam literat ur fikih tidak harus tertulis. Apalagi sebelum keluarnya PP Nomor 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan Obyek Milik, perwakafan obyek milik tidak diatur secara tuntas dalam bentuk hukum positif dan belum ada penegasan bahwa ikrar wakaf tersebut harus tertulis dalam bentuk akta ikrar wakaf Data y a n g dikutip di atas memperlihatkan banyak obyek wakaf yang tidak sedikit dari obyek wakaf tersebut belum disertifikatkan. Pada waktu yang lampau, sebelum diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan Obyek Milik, perwakafan obyek

milik tidak diatur secara tuntas dalam bentuk hukum positif. Dan pada waktu yang lampau, perubahan status obyek yang diwakafkan dapat dilakukan secara sepihak oleh nazirnya. Hal ini terutama disebabkan karena adanya beraneka ragam bentuk perwakafan (wakaf keluarga, wakaf umum dan lainlain) dan tidak adanya keharusan mendaftarkan harta diwakafkan sebagai badan hukum. Dalam kondisi dimana nilai dan penggunaan obyek semakin besar dan meningkat seperti sekarang ini, maka obyek wakaf yang tidak memiliki surat-surat dan tidak jelas secara hukum, sering mengundang kerawanan dan peluang terjadinya penyimpangan dan hakikat dari tujuan perwakafan sesuai dengan ajaran agama, sehingga untuk mengamankan dan melindungi obyek-obyek wakaf perlu untuk melakukan pendataan obyek-obyek wakaf secara nasional di seluruh wilayah nusantara. Tujuan lainnya adalah terjaminnya ketertiban wakaf umat Islam. Oleh karena itu, setiap wakaf harus dicatat." Hal yang perlu dilakukan adalah bagaimana agar wakaf-wakaf yang ada itu diamankan sedemikian rupa, sehingga obyek-obyek tersebut tidak jatuh ke tangan atau pihak yang tidak berhak, yang mungkin berniat merebut atau mengambil dengan paksa terhadap obyek-obyek wakaf tidak bisa dilakukan. Maka, untuk melindungi obyek-obyek tersebut, yang mendesak dilakukan adalah melakukan tindakan pengamanan terhadap obyek-obyek tersebut sebagai berikut: Pertama, segera memberikan sertifikat harta benda wakaf yang ada di seluruh pelosok obyek air. Harus diakui, banyak obyek wakaf yang jatuh ke tangan atau pihak-pihak yang tidak berhak. Fenomena ini harus dihentikan dengan memberikan sertifikat terhadap obyek-obyek yang memiliki status wakaf. Pola pelaksanaan wakaf sejak lama memang lebih banyak dilakukan dengan cara kepercayaan tanpa memberikan unsur bukti yang bisa menguatkan secara administratif (hukum). Karena itu, agar obyek-obyek wakaf

itu dapat diselamatkan dari berbagai problematika formilnya, harus segera dilindungi secara hukum melalui sertifikat obyek. Secara teknis, pemberian sertifikat obyek-obyek wakaf memang membutuhkan keteguhan para Nazhir wakaf dan biaya yang tidak sedikit. Sehingga diperlukan peran semua pihak yang berkepentingan terhadap eksistensi obyek-obyek wakaf, khusunya peran Badan Perobyekan Nasional (BPN) dan pemerintah daerah agar memudahkan pengurusannya. Peran BPN sangat signifikan dalam usaha memudahkan proses pembuatan setifikat obyek. Sedangkan peran Pemda di masing-masing wilayah obyek air dalam kerangka otonomi daerah juga sangat penting dalam ikut menanggulangi pembiayaan sertifikasi, pengelolaan, pemberdayaan dan pengembangan obyek-obyek wakaf yang ada.. Oleh karena itu, perlu ada publikasi terhadap pentingnya sertifikasi obyek wakaf secara kontinyu dan gencar agar sisa obyek yang belum disertifikasi segera mendapatkan posisi hukum secara pasti melalui sertifikat obyek. Kedua, memberikan advokasi secara penuh terhadap obyek-obyek wakaf yang menjadi sengketa atau bermasalah secara hukum. Dukungan advokasi ini melibatkan banyak pihak, seperti pihak Nazhir wakaf, pemerintah, ahli-ahli hukum yang peduli terhadap harta wakaf dan masyarakat banyak. Pemberian advokasi ini harus dilakukan secara terpadu agar mendapatkan hasil yang maksimal. Titik tekan keterpaduan ini menjadi hal yang sangat berpengaruh, karena dalam menyelesaikan persoalan hukum, apalagi menyangkut persoalan obyek yang sangat sensitive, terkait erat dengan rasa keadilan materiil dan formil yang memerlukan kekompakan oleh semua pihak yang berkepentingan. Sehingga dengan demikian pencapaian dalam pengamanan obyek-obyek wakaf dapat terpenuhi. Ketiga, pelaksanaan Undang-undang No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf dan Peraturan Pemerintah-nya. Pelaksanaan peraturan perundang-undangan wakaf tersebut sangat penting bagi perlindungan

obyek-obyek wakaf secara umum. Karena perlindungan, pemanfaatan dan pemberdayaan obyek-obyek wakaf secara maksimal dapat dilakukan. Keempat, pemanfaatan dan pemberdayaan obyek wakaf secara produktif. Di samping pengamanan di bidang hukum, pengamanan dalam bidang peruntukan dan pengembangannya harus juga dilakukan. Sehingga antara perlindungan hukum dengan aspek hakikat obyek wakaf yang memiliki tujuan sosial menemukan fungsinya. Keempat langkah pengamanan terhadap obyek-obyek wakaf tersebut harus segera dilakukan oleh semua pihak yang berkepentingan, seperti Nazhir wakaf, pemerintah. Selanjutnya eksistensi wakaf mulai meluas dan berkembang

dengan substansi wakaf tunai (uang). Wakaf jenis ini sebenarnya telah muncul dalam kajian fiqh klasik yang seiring dengan kemunculan ide revitalisasi fiqh muamalah dalam perspektif maqasid al-syariah, yang bermuara pada al-maslahah al-mursalah, sebagaimana dikatakan oleh Umar Chapra. Menurut penulis, hal tersebut merupakan kebalikannya, yaitu ide wakaf uang didasarkan pada al-maslahah al-mursalah yang muaranya adalah al-maqasid al-syariah. Gagasan wakaf tunai yang dipopulerkan melalui pembentukan Social Invesment Bank Limited (SIBL) di Bangladesh yang dikemas melalui instrumen Cash Waqf Certificat telah memberikan kombinasi alternatif solusi mengatasi krisis kesejahteraan yang ditawarkan Chapra, termasuk untuk Indonesia. Dan hal itu merupakan salah satu alasan menurut penulis Majelis Ulama Indonesia memfatwakan hukum BOLEH untuk wakaf tunai sebagaimana dalam keputusan Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia tanggal 28 Safar 1423 H./11 Mei 2002. Wakaf Tunai sangat relevan memberikan model mutual fund melalui mobilisasi dana abadi yang digarap melalui tantangan

profesionalisme yang amanah dalam fund management-nya di tengah keraguan terhadap pengelolaan dana wakaf serta kecemasan krisis investasi domestik, dan sindrom capital flight. Sebagaimana telah disebutkan bahwa perwakafan merupakan pemindahan hak, baik terhadap benda-benda bergerak maupun bendabenda tidak bergerak sehingga Sengketa wakaf dapat terjadi di antara wakif dan nazhir, dan dapat pula terjadi antara nazhir dengan pihak ketiga, seperti ahli waris wakif. sehingga dapat muncul sengketa di antara wakif dan nazhir, atau bahkan dengan pihak ketiga. C. AKTA IKRAR WAKAF Dalam upaya melengkapi sarana hukum, maka Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan Obyek Milik. Salah satu pasal dalam Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977, yaitu pasal 9, mengharuskan perwakafan dilakukan secara tertulis, tidak cukup hanya dengan ikrar lisan saja. Tujuannya adalah untuk memperoleh bukti otentik, misalnya sebagai kelengkapan dokumen pendaftaran obyek wakaf pada Kantor Agraria maupun sebagai bukti hukum apabila timbul sengketa di kemudian hari tentang obyek yang telah diwakafkan. Oleh karena itu, seseorang yang hendak mewakafkan obyek harus melengkapi dan membawa tanda-tanda bukti kepemilikan dan suratsurat lain yang menjelaskan tidak adanya halangan untuk melakukan pelepasan haknya atas obyek tersebut. Untuk kepentingan tersebut mengharuskan adanya pejabat yang khusus ditunjuk untuk melaksanakan pembuatan akta tersebut, dan perlu adanya keseragaman mengenai bentuk dan isi Akta lkrar Wakaf. Undang-Undang Pokok Agraria nomor 5 tahun 1960 juga telah menegaskan pentingnya kepatian hukum akan status obyek, khusunya obyek

yang diperuntukkan untuk kegiatan sosial. Dalam Pasal 19 UU tersebut ditegaskan bahwa : 1. (Untuk menjamin kepastian hukum oleh Pemerintah diadakan pendaftaran obyek diseluruh wilayah Republik Indonesia menurut ketentuanketentuan yang diatur dengan Peraturan Pemerintah. 2. Pendaftaran tersebut dalam ayat (1) pasal ini meliputi :

Pengukuran perpetaan dan pembukuan obyek; Pendaftaran hak-hak atas obyek dan peralihan hak-hak tersebut; Pemberian surat-surat tanda bukti hak, yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat.

RM. Sudikno Mertokusumo memberikan ketegasan prinsip bahwa hukum haruslah berfungsi sebagai perlindungan bagi kepentingan manusia. Agar kepentingan manusia terlindungi secara benar, maka hukum harus dilaksanakan/ditegakkan secara adil. Dalam menegakkan hukum, menurut Sudikno, ada tiga unsur yang tidak boleh tidak harus diperhatikan, yaitu : 1. Kepastian hukum (Rechtssicherheit) 2. Kemanfaatan (Zweckmassigkeit) 3. Keadilan (Gerechtigkeit). Oleh karena itu, hukum harus dilaksanakan dan ditegakkan secara adil. Setiap orang mengharapkan dapat ditetapkannya hukum dalam hal terjadi peristiwa konkret. Bagaimanapun hukumnya, maka itulah yang harus berlaku, dan pada dasarnya tidak dibolehkan menyimpang sebagaimana sebuah pepatah menyatakan, meskipun dunia ini runtuh hukum harus ditegakkan. Demikian juga asas kemanfaatan, kenyataan bahwa banyak obyek wakaf yang belum disertifikatkan dan tidak memiliki akta ikrar wakaf

sementara wakifnya pun sudah lama meninggal, sedangkan obyek wakaf ini perlu dilindungi, maka demi kemaslahatan maka seharusnya ada lembaga isbat yang dapat memberikan penetapan isbat wakaf untuk pengesahan akta ikrar wakaf sebagai bahan untuk pengajuan sertifikat wakaf. Namun yang perlu dicermati dalam upaya isbat wakaf ini adalah, Majelis Hakim harus benar-benar menilai dan menemukan bukti-bukti yang akurat tentang status obyek wakaf tersebut, sehingga peranan penilaian dan persangkaan hakim sebagai salah satu alat bukti sangat berperan dalam kasus ini. Demikian juga saksi yang mengetahui secara benar akan kedudukan dan seluk beluk obyek wakaf tersebut juga sangat menentukan dalam menemukan bukti yang valid dan reliable Perlindungan hukum terhadap obyek wakaf telah secara jelas dinyatakan dalam Undang-Undang Pokok Agraria Pasal 49 Ayat (3) bahwa "Perwakafan Obyek Milik dilindungi dan diatur dengan Peraturan Pemerintah". Untuk memenuhi Ayat 3 Pasal 49 tersebut pengaturan lebih lanjut dimuat di dalam UU No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf. Namun akibat perkembangan sosial dan dampaknya terhadap penerapan ketentuan hukum positif, maka adanya pembaruan aturanaturan hukum merupakan suatu tuntutan yang tidak bisa dihindari. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, Bab VII Undang-Undang Wakaf di atas menyebutkan bahwa Menteri Agama melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan wakaf untuk mewujudkan tujuan dan fungsi wakaf dengan mengikutsertakan Badan Wakaf Indonesia (selanjutnya disebut BWII dengan tetap memperhatikan saran dan pertimbangan Majelis Ulama Indonesia. Dalam melakukan pembinaan, keduanya dapat melakukan kerjasama dengan ormas, para ahli, badan internasional, dan pihak lain yang dipandang perlu, sedangkan dalam melaksanakan tugas pengawasannya dapat menggunakan akuntan publik.

D. Jenis Perkara Wakaf Pasal 226 KHI menyebutkan "Penyelesaian perselisihan

sepanjang yang menyangkut benda wakaf dan Nadzir diajukan kepada Pengadilan Agama setempat sesuai ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku." Pasal tersebut di atas memberikan kewenangan kepada Pengadilan Agama untuk menyelesaikan perselisihan mengenai benda wakaf dan Nadzir. Kata "perselisihan" pada pasal tersebut menunjukkan secara jelas bahwa masalah (perkara) wakaf dan Nadzir merupakan masalah contentius sehingga perkara wakaf merupakan perkara contentius, sedangkan wakaf yang tidak diperselisihkan tidak dianggap sebagai perkara contentius sehingga bukan perkara, sekalipun dapat menimbulkan sengketa pada masa-masa sesudahnya. Pasal 62 ayat (2) Undang-Undang Nomo 41 Tahun 2004 menyebutkan penyelesaian sengketa perwakafan dilakukan dengan cara: musyawarah untuk mufakat, mediasi, arbitrase, atau pengadilan. Dan penjelasan pasal tersebut di atas berbunyi Yang dimaksud dengan mediasi adalah penyelesaian sengketa dengan bantuan pihak ketiga (mediator) yang disepakati oleh para pihak yang bersengketa. Dalam hal mediasi tidak berhasil menyelesaikan sengketa, maka sengketa tersebut dapat dibawa kepada badan arbitrase syariah. Dalam hal badan arbitrase syariah tidak berhasil menyelesaikan sengketa, maka sengketa tersebut dapat dibawa ke pengadilan agama dan/atau mahkamah syariyah. Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama menegaskan kembali kewenangan Peradilan Agama dalam mengadili perkara sengketa wakaf sebagaimana disebutkan dalam Pasal 49 undangundang tersebut yang berbunyi Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara-perkara

di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam di bidang : a) perkawinan, b) waris, c) wasiat, d) hibah, e) wakaf, f) zakat, g) infaq, h) shadaqah, dan i) ekonomi syariah. Dengan demikian sengketa jenis apa pun yang berkaitan dengan wakaf, baik harus diselesaikan oleh Peradilan Agama Penjelasan Pasal 62 ayat (2) Undang-Undang Nomo 41 Tahun 2004 menyebutkan Dalam hal badan arbitrase syariah tidak berhasil menyelesaikan sengketa, maka sengketa tersebut dapat dibawa ke pengadilan agama dan/atau mahkamah syariyah. Lalu bagaimana apabila ketentuan pidana sebagaimana disebutkan dalam Pasal 67 terjadi, lembaga peradilan manakah yang berwenang untuk mengadilinya? Penjelasan pasal tersebut berbunyi cukup jelas,

sedangkan penjelasan Pasal 62 ayat (2) tidak menyebutkan lembaga peradilan lainnya selain lembaga peradilan agama dan /atau mahkamah syariyah. Oleh karena itu, sekalipun bunyi penjelasan pasal cukup jelas, penulis berpendapat bahwa penyelesaian dikembalikan kepada lembaga peradilan yang mengadili perkara pidana, yaitu peradilan umum. Untuk menngadili perkara wakaf, Peradilan Agama harus

mempedomani ketentuan Pasal 54 Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama sehingga hukum acara yang berlaku secara umum untuk Pengadilan Agama di Jawa dan Madura adalah sebagaimana disebutkan dalam Pasal 130 HIR, dan untuk Pengadilan Agama di luar Jawa dan Madura adalah sebagaimana disebutkan dalam Pasal 154 R. Bg., dan dalam melakukan peradilan, Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tetap tidak boleh diabaikan. Satria Effendi mengatakan bahwa berdasarkan informasi hukum yang diterimanya antara 1991 1998, terdapat variasi warna sengketa wakaf, yaitu :

1. Penggugat mendakwa (baca: menggugat, pen.)

adanya ikrar wakaf

dari pemilik sebidang kebun untuk kepentingan meunasah, sedangkan ahli waris dari pemilik kebun itu tidak mengakui adanya ikrar wakaf dari orang tuanya. 2. Dakwaan (baca: gugatan, pen.) adanya penukaran obyek wakaf oleh pihak tertentu. 3. Gugatan pembatalan wakaf karena telah disalahgunakan oleh pihak nazir pada hal-hal yang tidak sejalan dengan maksud pihak yang berwakaf. 4. Pihak tergugat tidak secara tegas mengingkari adanya ikrar wakaf dari pihak orang tuanya. Beliau mengemukakan pula bahwa sengketa wakaf terjadi

disebabkan oleh beberapa kemungkinan berikut ini: 1. Kedangkalan pemahaman sebagian umat Islam tentang kedudukan dan arti harta wakaf, baik bagi wakif maupun masyarakat, sementara wakaf mempunyai dua dimensi: ibadah dan sosial; 2. Harga obyek yang semakin melambung dapat menjadi pemicu timbulnya masalah wakaf; 3. Sewaktu melakukan ikrar wakaf, pihak wakif tidak memperhitungkan kondisi ekonomi pihak ahli waris yang akan ditinggalkan sehingga seluruh hartanya atau sebagian besarnya diwakafkan. Akibatnya, terjadi pengingkaran oleh ahli warisnya; 4. Kondisi ekonomi pihak nazir yang tidak menguntungkan sehingga mendorongnya untuk menyalahgunakan harta wakaf; 5. Kondisi nazir yang tidak memahami bahwa penggunaan harta wakaf harus sesuai dengan tujuan pihak wakif; 6. Pihak yang berwakaf tidak tidak secara tegas memberitahukan anak atau ahli warisnya bahwa obyek tertentu telah diwakafkan kepada pihak tertentu; atau

7. Nazirnya bukan badan hukum, melainkan bersifat pribadi sehingga lebih leluasa dan sekehendak hati mendayagunakan benda wakaf tanpa kontrol. Hal-hal tersebut di atas merupakan permasalahan perwakafan yang memerlukan peraturan-peraturan yang mampu mengantisipasi dampak negatifnya, yang akhirnya diselesaikan di Pengadilan. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, apabila di Pengadilan Agama dalam hal perkawinan ada gugatan/sengketa (Contentius) dan ada permohonan (Voluntair), sementara dalam perkara wakaf hanya ada perkara contentius, seharusnya dalam masalah wakaf perkara yang sifatnya voluntair juga harus ada, misalnya pemberian kewenangan kepada pengadilan agama untuk isbat wakaf. pembahasan ini. Yahya Harahap mengatakan bahwa Pasal 2 ayat (1) dan (2) UU No. 14 Tahun 1970 meskipun telah diganti dan tidak dicantumkan dengan UU No. 4 tahun 2004, masih dianggap relevan yaitu bahwa adanya kewenangan suatu peradilan untuk menyelesaikan perkara yang tidak mengandung unsur sengketa (voluntair) adalah dengan syarat apabila dikehendaki (adanya ketentuan / penunjukan) oleh Undang-undang. Menurut penulis, dalam upaya memelihara harta benda / bendabenda wakaf dan menjaganya agar tetap ada, tidak rusak, dan tidak hilang, maka berdasarkan tujuan umum dan muktabar hukum Islam, yaitu pemeliharaan harta benda wakaf sebagai bagian dari pemeliharaan harta benda, hifzh al-ml, maka benda-benda wakaf yang ada tetapi belum ada AIW-nya, dapat diajukan isbat / pengesahan wakaf kepada Pengadilan Agama, dan produknya berupa penetapan. Pembuatan aturan (hukum) yang demikian dalam hukum Islam dikenal dengan sebutan istishlahi. Di samping Oleh karena itu, dengan beristithrad, isbat wakaf termasuk bagian dari yang akan disampaikan dalam

itu,

penetapan juga dapat dibuat berdasarkan analogi, yaitu dengan

menganalogkannya kepada isbat nikah sebagaimana dalam Pasal 7 ayat (2) KHI. Hal lainnya yang perlu mendapatkan perhatian Hakim adalah apabila suatu benda dinyatakan sebagai wakaf berdasarkan ijma sukti, lalu pada waktu-waktu berikutnya ada pengakuan seseorang tentang benda wakaf itu sebagai miliknya, maka Hakim harus berani menyatakan bahwa benda wakaf yang diakui miliknya itu benar-benar sebagai benda wakaf. Dan termasuk bagian dari benda wakaf adalah hasil yang diperoleh dari pemanfaatan benda wakaf oleh suatu lembaga sosial-keuangan dan /atau lembaga keuangan-sosial, setelah dikurangi biaya-biaya operasional. Pengucapan ikrar wakaf dilakukan di depan Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW) dan perwakafan obyek tersebut hanya dapat dibuktikan dengan adanya AIW setelah diucapkan oleh wakif. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana kalau obyek wakaf tersabut tidak mempunyai AIW dan belum bersertifikat sedangkan wakif sudah meninggal. Maka dalam hal inilah peran Pengadilan Agama dapat memberikan Penetapan Wakaf pembuatan Sertifikat Obyek Wakaf. Demikian pula halnya apabila Pasal 7 ayat (2) KHI dianalogikan kepada isbat wakaf, maka obyek wakaf, bila tidak ada AIW-nya seharusnya dapat juga mengajukan isbat wakafnya ke pengadilan agama. Dan untuk menyempurnakan kewenangan Peradilan Agama dalam mengadili perselisihan tentang benda wakaf dan Nadzir, perlu disiapkan peraturan perundang-undangan yang mengatur dan memberikan kewenangan voluntair (isbat wakaf) kepada lembaga Pengadilan Agama. Berdasarkan uraian di atas, adanya peraturan yang dapat yang diajukan oleh Nazhir dan penetapan tersebut dapat menjadi bahan untuk

melindungi keberadaan obyek wakaf bukan lagi sebagai kebutuhan melainkan juga keharusan dan mutlak diperlukan, agar obyek wakaf tetap terjaga kelestariannya serta dapat lebih ditingkatkan fungsinya.,

Kelahiran dan pengesahan Undang-undang Nomor 41 Tahun 2004 beserta Peraturan Pelaksanaannya yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang wakaf dan Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1977 tentang Pe r wa k a f a n Obyek Milik yang merupakan pelaksanaan dari Pasal 49 Ayat (3) Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Pokok-pokok A g r a r i a (UUPA), diharapkan semakin dapat memperkuat dan melindungi obyek wakaf sesuai dengan fungsi dan tujuannya. E. Penutup 1. Kesimpulan : a. b. Banyak manfaat dari pendaftaran dan sertifikasi obyek wakaf. Obyek wakaf yang tidak bersertifikat dan tidak jelas statusnya sangat rentan untuk dipersengketakan dan menjadi sumber konflik.

DAFTAR PUSTAKA Abdul Ghafur Anshori, Hukum dan Praktik Perwakafan di Indonesia. Yogyakarta Pilar Media, 2006. Ahmad Azhar Basyir, Fungsi Harta Benda dan Wakaf Menurut Islam. Yogyakarta, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Majelis Tabligh Kotamadya Yogyakarta, 1990. Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Fiqh Wakaf. Jakarta: Direktorat

Pemberdayaan Wakaf, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Departemen Agama RI, 2006. _______________, Pedoman Pengelolaan dan pengembangan wakaf. Jakarta: Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Departemen Agama, 2006. Satria Effendi M. Zein, Analisis Fiqh dalam Analisis Yurisprudensi, dalam : Yayasan Al-Hikmah dan Ditbinbapera Islam Mimbar Hukum No. 39 Thun. IX 1998 (September Oktober). Jakarta: PT Tomasu, 1998. Muhammad Daud Ali, Sistem Ekonomi Islam Zakat dan Wakaf. Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1988. Sudikno Mertokusumo,. A. Pitlo, Bab-bab tentang Penemuan Hukum. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1993 Yahya harahap, Hukum Acara Perdata. Jakarta: Sinar Grafika, 2007, cet- V UU No. 41 tahun 2004 tentang wakaf UU No. 4 tahun 2004 tentang kekuasaan kehakiman UU No. 14 tahun 1970 tentang pokok-pokok kekuasaan kehakiman

UU Pokok Agraria No. 5 tahun 1960 PP Nomor 42 tahun 2006 tentang pelaksanaan UU No. 41 tentang wakaf PP Nomor 24 tahun 1997 tentang pendaftaran obyek PP Nomor 28 Tahun 1977 tentang wakaf hak milik Kompilasi Hukum Islam

Beri Nilai