Anda di halaman 1dari 5

BAB III

TINJAUAN JURNAL

3.1 Problem

Pada beberapa jurnal yang telah ditinjau, didapatkan beberapa masalah


yang diangkat pada masing-masing jurnal tersebut. Pada jurnal pertama yang
ditulis oleh Eva Munthe dkk. dengan judul Temponade Jantung et causa
Perikarditis Tuberculosis (No. 184/Vol.38 no. 3/April 2011). Masalah yang
diangkat adalah Tamponade jantung merupakan salah satu bentuk komplikasi
perikarditis TB, perikarditis TB jarang ditemukan, apabila ditemukan dapat
mengancam jiwa. Sebuah laporan kasus menganai laki-laki yang berumur 21
tahun yang mengeluh nyeri ulu hati yang disertai sesak napas. Penderita diduga
mengalami infeksi lambung tetapi ternyata menderita efusi perikardial dengan
tamponade jantung.
Pada jurnal kedua yang ditulis oleh Roswati & Safri dengan judul
Perikardiosentesis Pada Efusi Perikardium Masif (No.202/vol.40 no.3 th. 2013).
Mengangkat masalah yaitu efusi perikardium kronik masif jarang ditemui, dengan
prevalensi 2 – 3,5% dari semua efusi perikardium besar. Insidens tamponade
jantung di Amerika Serikat adalah 2 kasus per 10.000 populasi. Gejala klinik yang
ditimbulkan tergantung dari jumlah cairan dan kecepatan penimbunan cairan
dalam kavum perikardium. Akumulasi cairan yang cepat dengan volume efusi
kecil dapat memberikan gejala tamponade, yaitu sianosis perifer, syok, dan
perubahan status mental. Efusi perikardium bisa akut atau kronik dan
perkembangan penyakit berpengaruh besar terhadap gejala. Sehingga dilaporkan
kasus, pria 36 tahun dirawat dengan diagnosis efusi perikardium kronik masif.
Pada jurnal ketiga yang ditulis oleh Budiyanto Nagawidjaya dengan jududl
Efusi Perikardium Tuberkulosis. Jurnal Kardiologi Indonesia vol. 28, no. 6,
November 2007. Mengangkat masalah yaitu tuberkulosis merupakan salah satu
penyebab perikarditis dengan gejala awalnya hanya demam. Tetapi dalam
perjalanan penyakitnya, perlahan-lahan menjadi progresif karena timbulnya efusi
perikardium yang dapat mengakibatkan tamponade jantung. Karena proses ini
berlangsung perlahan, acap kali diagnosisnya terlambat. Insidensi efusi
perikardium tuberkulosis sekitar 1% dari jumlah kasus tuberkulosis, dengan angka
kematian berkisar 3–40%. Efusi perikardium yang berlanjut menjadi tamponade
jantung dan perikarditis konstriktif merupakan penyebab kematian tersering. Oleh
karenanya, semua pasien perikarditis tuberkulosis dianjurkan dirawat di rumah
sakit, untuk observasi kemungkinan terjadi efusi perikardium atau tamponade
jantung yang mengancam kehidupan.
Pada jurnal ke empat yang ditulis oleh Taufik Suryadi dengan judul
Kematian Mendadak Kardiovaskuler. Jurnal kedokteran Syiah Kuala vol. 17, no.
2, Agustus 2017. Mengangkat masalah yaitu kematian mendadak merupakan
kematian yang terjadi pada 24 jam sejak gejala-gejala timbul, namun pada kasus-
kasus forensik sebagian besar kematian terjadi dalam hitungan menit bahkan detik
sejak gejala pertama timbul. Dilaporkan laki-laki berusia 42 tahun meninggal
secara mendadak setelah mengalami kejang-kejang dan tidak sadarkan diri.
Setelah dilakukan pemeriksaan oleh tenaga medis di Instalasi Gawat Darurat
(IGD), pasien dinyatakan Death on Arrival (DOA). Dari hasil pemeriksaan luar
dijumpai bintik kemerahan pada kelopak mata bagian dalam serta warna kebiruan
pada ujung jari tangan dan kaki tanda-tanda terjadinya asfiksia. Sebab kematian
adalah akibat kegagalan sistem kardiovaskuler yang terjadi secara mendadak.

3.2 Intervensi

Pada masing-masing jurnal intervensi yang dilakukan berbeda-beda. Pada


jurnal pertama, Diagnosis perikarditis TB pasien ini ditegakkan dengan
ditemukannya struktur tuberkel dan sel datia Langhans pada pemeriksaan
histopatologi jaringan perikardium. Hasil pemeriksaan ekokardiografi
menunjukkan banyak fibrin dan perlekatan antara perikardium parietal dan viseral.
Penatalaksanaan tamponade jantung akibat perikarditis TB yaitu pemberian terapi
kausal utama obat antituberkulosis, terapi kortikosteroid: prednison tablet dosis
awal 80 mg per hari kemudian diturunkan bertahap. Perikardiosentesis dilakukan
bila terjadi efusi perikardium, merupakan tindakan penyelamatan dini.
Perikardiektomi dilakukan pada tamponade jantung berulang yang tidak dapat
diatasi dengan perikardiosentesis serta pada kasus perikarditis konstriksi sehingga
tidak mungkin dilakukan perikardiosentesis. Perikardiektomi dilakukan pada kasus
ini karena tamponade jantung akibat perikarditis konstriktif.
Pada jurnal kedua, intervensi yang dilakukan berdasarkan dengan kasus
yang muncul pada penderita Tamponade Jantung. Tamponade Jantung merupakan
komplikasi perikarditis yang paling fatal dengan gambaran klinis tergantung
kecepatan akumulasi cairan perikardium; akumulasi cairan dapat menyebabkan
kompensasi, seperti takikardia, peningkatan resistensi vaskuler perifer dan
peningkatan volume intravaskular guna membantu sistem. Sehingga intervensi
yang dilakukan adalah Terapi efusi perikardial terdiri dari:

a. Terapi non-spesifik atau simptomatik

1. Perikardiosentesis. Perikardiosentesis merupakan tindakan aspirasi efusi


perikardium atau pungsi perikardium yang bisa dilakukan melalui insisi
kecil di bawah ujung sternum atau di antara tulang iga di sisi kiri toraks.
Dapat dipasang pig tail catheter selama 2-3 hari. Drainase perikardium ini
dipertahankan selama beberapa hari sampai dengan jumlah cairan yang
keluar kurang dari 50 mL/hari. Periode ini memberikan waktu aposisi dan
adhesi antara perikardium viseral dan parietal. Angka kekambuhan sekitar
6-12%. Komplikasi tindakan pungsi perikard adalah pneumothorax,
laserasi dinding ventrikel, laserasi arteri mamaria interna.

2. Pericardial window. Tindakan ini memerlukan torakotomi dan dilakukan


drainase dari kavum perikardium ke kavum pleura. Angka kekambuhan
sekitar 5-20%.

3. Perikardiodesis. Dilakukan pemberian tetrasiklin, tiotepa, atau bleomisin


ke dalam kavum perikardium untuk melengketkan perikardium.
Tetrasiklin 500 mg dalam 25 mL salin normal dimasukkan dalam 2-3
menit, atau bleomisin 45 mg dalam 20 mL salin normal.

b. Terapi spesifik: untuk mengatasi penyebab efusi.


c. Perikardiektomi. Suatu prosedur pembedahan membuka perikardium
untuk mengalirkan cairan di dalamnya. Indikasi operasi: efusi perikardium
berulang atau masif dengan tamponade jantung, biopsi perikardium,
pemasangan alat pacu jantung. Kontraindikasi: perikarditis infeksiosa,
infeksi, keganasan.

Pada jurnal ketiga, intervensi yang dilakukan yaitu semua pasien yang
dipastikan atau tersangka menderita efusi perikadium tuberkulosis, perlu segera
dirawat di rumah sakit dan dilakukan observasi kemungkinan terjadi tamponade
jantung. Tatalaksana efusi perikardium tuberkulosis meliputi pemberian Obat Anti
Tuberkulosis (OAT), kortikosteroid, perikardiosintesis dan perikardiektomi.

3.3 Compare

Pada beberapa jurnal yang ditinjau, memiliki berbagai masalah yang


berbeda dengan fokus utama nya adalah penyakit temponade jantung. Intervensi
yang dilakukan juga bervariasi tergantung dengan masalah yang timbul. Pada
jurnal pertama dan kedua mengangkat sebuah laporan kasus di sebuah rumah
sakit. Pada jurnal pertama membahas penyakit tamponade jantung penyebab
perikarditis tuberculosis. Pada jurnal kedua membahas tentang perikardiosentesis
pada efusi perikardium masif, dan temponade jantung merupakan komplikasi dari
perikarditis. Pada jurnal ketiga membahas tentang efusi perikardium tuberkulosis
yang dimana merupakan komplikasi dari tamponade jantung yang perlu diamati
dan ditanggulangi dengan segera. Pada jurnal keempat membahas tentang sebuah
laporan kasus kematian mendadak dikarenakan sistem kardiovaskuler yang salah
satunya dikarenkan tamponade jantung.

3.4 Out Come

Out come merupakan hasil yang didapat dari beberapa jurnal yang telah
ditinjau. Pada jurnal pertama, hasil yang didapatkan yaitu Tamponade jantung
merupakan salah satu komplikasi yang harus segera diatasi karena dapat fatal.
Ekokardiografi merupakan alat diagnostik pilihan dan sensitif untuk mendiagnosis
efusi perikardium dan tamponade jantung. Penatalaksanaan tamponade jantung
karena perikarditis TB meliputi pemberian obat antituberkulosis,kortikosteroid,
perikardiosentesis dan perikardiektomi.
Pada jurnal kedua, hasil yang didapatkan yaitu pada laporan kasus telah
dilaporkan satu kasus efusi perikardium masif e. c. tuberkulosis yang merupakan
komplikasi dari temponade jantung + TB paru dalam pengobatan dengan efusi
pleura bilateral + anemia berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan fisik,
laboratorium, radiologi, EKG, dan ekokardiografi . Dilakukan tindakan
perikardiosentesis. Pasien pulang berobat jalan dengan perbaikan klinis.
Pada jurnal ketiga, hasil yang didapatkan yaitu Efusi Perikardium
Tuberkulosis merupakan manifestasi perikarditis tuberkulosis yang disebabkan
oleh penyebaran fokus tuberkulosis pada organ tubuh lainnya. Tamponade jantung
perlu diamati dan ditanggulangi dengan segera pada efusi perikardium
tuberkulosis. Ekokardiografi merupakan alat diagnostik pilihan dan sensitif untuk
mendiagnosis efusi perikardium dan tamponade jantung. Diagnosis efusi
perikardium tuberkulosis meliputi pemeriksaan laboratorium, bakteriologi,
analisis cairan efusi perikardium, uji tuberkulin dan histopatologi. Tatalaksana
efusi perikardium tuberkulosis meliputi pemberian OAT, kortikosteroid,
perikardiosintesis dan perikardiektomi.
Pada jurnal keempat, hasil yang didapatkan yaitu sebuah kasus kematian
mendadak kardiovaskuler yang kerap terjadi. Pemeriksaan forensik pada kasus
kematian mendadak diperlukan untuk menyingkirkan adanya tindak pidana.
Aspek medikolegal pada kasus ini adalah suatu kematian akibat penyakit alamiah
yang diderita selama hidupnya, dengan tidak ditemukannya tanda -tanda
kekerasan maupun keracunan.