Anda di halaman 1dari 8

Urgensi Dakwah Remaja Masjid Sebuah Pengantar Oleh Juni Supriyanto

PENDAHULUAN Pemuda dan Remaja Dalam perjalanan sejarahnya, pemuda senantiasa mengambil peran-peran penting yang menentukan wajah bangsa ini ke depan. Beberapa momentum sejarah seperti Kebangkitan Nasional, Sumpah Pemuda, Masa Revolusi tahun 1945, revolusi 1966, reformasi 1998 dan selanjutnya senantiasa diwarnai oleh peran heroik pemuda. Tokoh-tokoh seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, dan Mohammad Natsir lahir di zamannya adalah ketika berusia muda di bawah usia 30 tahun. Mereka menjadi pencetus, penggerak, dan pendobrak zamannya dan mengajak bangsanya untuk mau berubah dan terbebas dari kungkungan penjajah. Pada saat ini,pemuda juga turut memainkan peran dalam banyak bidang sebagai penggerak, sekaligus motivator, misalnya dalam proses demokratisasi, penemuan teknologi, pembentukkan karakter budaya bangsa, dan sebagainya. Jika dilihat secara demografis, maka penduduk dengan range usia 15-35 menempati peringkat yang terbesar yaitu mencapai 80,7 juta atau kurang lebih 37,2% dari total penduduk Indonesia (Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga; Badan Pusat Statistik, 2005). Sebagian besar adalah pemuda yang masuk dalam kategori miskin. Dari sudut pendidikan, pemuda yang masuk kategori miskin tersebut tidak dapat melanjutkan pendidikan sehingga menjadikan kualitas SDM pemuda rendah dan sulit bersaing dalam era globalisasi ini. Data yang bersumber dari Penyajian Data Informasi Kementerian Negara Pemuda & Olahraga Tahun 2006 menyebutkan bahwa jumlah Pemuda Indonesia pada tahun 2005 adalah sebesar 81,3 juta jiwa. Lihat tabel 1.1 dan gambar 1.1.

> 65 5%

35 - 65 30%

< 15 28%

15-19 9% 30-35 10% 25-29 9% 20-24 9%

Gambar 1.1.Komposisi Penduduk Indonesia Berdasarkan Kelompok Umur Tahun 2005

Sumber: Sensus Penduduk (1971, 1980, 1990, 2000) dan Supas (1995, 2005) yang telah diolah kembali

Jika dibanding dengan jumlah total penduduk Indonesia yang diambil dari Sensus Penduduk (1971, 1980, 1990, 2000) dan Supas (1995, 2005), pada tahun 2005 jumlah pemuda adalah sebesar 219 juta jiwa, maka pemuda merupakan komponen terbesar dari penduduk Indonesia yaitu sebesar 37%. Berdasarkan data tersebut diatas, maka kelompok umur remaja & pemuda menjadi penting dalam prioritas pembangunan bangsa & negara. Dalam ilmu psikologi, juga dikenal istilah Remaja yaitu seseorang yang berumur antara 13 19 tahun. Remaja diartikan sebagai masa anak-anak menuju dewasa ditandai dengan perubahan fisik dan secara mental tidak mau diperlakukan seperti anak-anak lagi. Adapun ciri-ciri remaja yang dijelaskan oleh Ridwan (Ridwan, 2008, hal 48) adalah sebagai berikut: 1. Pertumbuhan fisik Mengalami pertumbuhan secara cepat, untuk mengimbangi pertumbuhan yang cepat itulah remaja membutuhkan tidur dan makan lebih banyak. Dalam hal ini kadang-kadang orang tua atau pihak orang dewasa tidak mengerti sehingga menimbulkan konflik yang berujung pada ketidakpatuhan terhadap orang tua atau orang dewasa. 2. Perkembangan seksual Alat reproduksi seksual mulai berproduksi dan terjadi perubahan fisik secara seksual, yang secara psikologis menjadi rentan untuk diejek oleh lingkungan sekitar. Perkembangan seksual bersamaan dengan perkembangan hormon mengakibatkan emosi yang meledak-ledak. 3. Cara berpikir kausalitas. Yaitu menyangkut hubungan sebab akibat dan sering terjadi hal-hal yang menimbulkan permasalahan dengan orang dewasa. 4. Emosi yang meluap-luap Keadaan hormon menjadi penyebab keadaan jiwa yang tidak stabil yang nantinya akan berujung pada ketidakstabilan emosi. Dalam beberapa kasus kenakalan maupun kriminal yang melibatkan remaja hal tersebut ditenggarai karena emosi sesaat yang tidak dapat dibendung dengan pemikiran yang realistis. 5. Mulai tertarik lawan jenis 6. Menarik perhatian lingkungan Remaja berusaha mendapatkan status dari lingkungan, untuk itulah mereka mencari perhatian dari lingkungannya. 7. Terikat dengan kelompok Remaja lebih tertarik dengan kelompoknya dibanding dengan orang tuanya. Dalam kondisi tertentu, tarikan kelompok ini menjurus pada hal-hal negatif sehingga ditemukan banyak kasus misalnya remaja terlibat tawuran, perkelahian dan juga penyalahgunaan Narkoba. Pemikiran golongan pemuda yang fresh(segar),creative minority(penuh kreativitas), lebih memungkinkan dirinya untuk menuangkan gagasan-gagasan secara lebih segar dan kreatif. Ini pula yang membedakan ia dengan kelompok usia tua yang cenderung pro status quo dan ajeg dengan kemapanan dan kenyamanan. Akan tetapi, pemuda juga tidak lepas dari ragam persoalan yang mengitarinya. Gaya hidup yang hedonistis (hidup senang berfoya-foya), kenakalan pemuda, angka pengangguran yang tinggi, terjemurus ke dalam penggunaan obat-obatan terlarang, kehidupan free sex yang semakin meningkat jumlahnya adalah sejumlah persoalan yang menghinggapi para pemuda. Dalam persoalan pengangguran misalnya, prosentasenya mencapai 50%. Banyak lulusan SMA dan juga perguruan tinggi yang masuk golongan pemuda (lulusan SMA sampai Perguruan Tinggi) menjadi pengangguran. Data Biro Pusat Statistik 2007 menyebutkan bahwa dari sekitar jumlah pengangguran berdasarkan level pendidikan yang mencapai total 10.011.142 orang, pengangguran

lulusan SMA mencapai 4.070.553 atau sekitar 40,6%. Sementara, pengangguran lulusan diploma mencapai 397.191 orang atau sekitar 3,9%. Pengangguran lulusan sarjana mencapai 566.588 orang atau sekitar 5,6%. Jika ketiga kelompok level pendidikan ini digabung (kelompok usia muda), maka jumlah pengangguran di kalangan pemuda mencapai 50,3%! Jumlah di atas akan semakin meningkat jika melihat masih banyak anggota masyarakat yang tidak melaporkan atau tidak terdata/tercatat pada BPS. Untuk diperlukan sebuah konsep pembangunan pemuda yang terencana, jelas dan terintegrasi terhadap aspek-aspek yang mempengaruhi remaja dan pemuda. Pembangunan Pemuda berdasarkan penelitian Juni Supriyanto (Supriyanto, 2009)terdiri atas 2 hal yaitu: 1. Pembangunan pemuda harus dititikberatkan dalam mempersiapkan pemuda dalam menghadapi ketidakpastian masa depan. 2.Pembangunan pemuda adalah pembangunan disegala bidang, yaitu tidak hanya berupa pembangunan fisik (ex. fasilitas, sarana, prasarana, lingkungan, kesehatan) tetapi juga pembangunan karakter pemuda / character building (misal kejiwaan, mental, spiritual) dan pembangunan kapasitas pemuda / capacity building (misal kompetensi, pendidikan, training, ketrampilan) Masjid Salah satu potensi besar umat Islam yang saat ini belum mampu untuk dikapitalisasi menjadi modal untuk meningkatkan syiar Islam dalam membangun peradaban. Fakta penting yang terjadi adalah masjid dibangun sedemikian banyak, namun belum mampu menghantarkan masyarakat Indonesia seperti para sahabat Rasulullah. Tercatat menurut rekapitulasi Masjid & Mushola di DKI Jakarta, jumlah masjid yang berada di wilayah DKI sebanyak 2.831 Masjid dan 5.661 Mushola . Sedangkan di Indonesia, menurut Dr H Ahmad Sutarmadi dalam wawancara dengan harian Republika, diperkirakan 700 ribu Masjid berdiri yang merupakan terbesar di Dunia. Namun kendala terbesar adalah Masjid menjadi bangunanbangunan megah tapi sepi dari ruh umat, kosong dan hanya untuk kegiatan-kegiatan ibadah ma dhoh saja. Kondisi masjid dewasa ini jauh dari kondisi masjid jaman rasulullah. fakta-fakta yang bisa kita lihat sangat bertolak belakang dengan model ideal tersebut. Beberapa fakta yang dapat kita saksikan tentang masjid dewasa ini adalah: 1. Masjid besar dan banyak namun sepi jama ah. Semangat umat islam saat ini hanya dapat bangunan fisik semata. Mereka berlomba-lomba membangun masjid, namun lupa untuk meramaikan masjid. Bahkan terjadi membangun masjid untuk simbolisasi status sosial seseorang. 2. Toilet masjid dapat dipastikan kondisinya kotor dan bau, sehingga tidak mencerminkan umat Islam mencintai keindahan dan kebersihan. Belum lagi karpet atau alas yang tidak pernah dicuci atau lantai tidak pernah disapu. Hal ini menimbulkan pertanyaan, bagaimana kita bisa khusyuk untuk bercengkerama dengan Allah jika kita selalu diganggu dengan aroma tidak sedap serta sirkulasi udara yang tidak baik?. 3. Masjid dikelola apa adanya tanpa manajemen yang baik, bahkan hanya menggunakan manajemen kekeluargaan. 4. Masjid hanya untuk ibadah ritual sholat tidak memaksimalkan potensinya yang besar. Tidak ada aktivitas selain waktu sholat, setelah itu masjid sepi dan dikunci. Tidak ada diskusi, bedah buku/kitab, kajian tematis, rapat strategi pengumpulan dan penyaluran ZISWAF yang efektif dan efisien, apalagi sebagai tempat untuk menuntut ilmu-ilmu dunia, seperti pelatihan computer, kewirausahaan, kesenian, dsb. 5. Jama ah masjid terbesar adalah orang-orang tua, sepi dari remaja maupun pemuda.

Yang hadir di masjid adalah orang tua yang sudah memang sudah sepantasnya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Generasi muda cenderung tidak ke masjid karena tidak ada sesuatu menarik bagi mereka. Daya tarik itu ternyata diberikan oleh institusi-institusi diluar Masjid yang belum tentu memberikan pengajaran nilai-nilai Islam dalam aktivitasnya bahkan bisa jadi malah bertentangan dengan nilai nilai Islam. 6. Remaja dan pemuda enggan aktif di organisasi remaja / pemuda masjid karena dominasi orang tua yang tidak memberikan ruang gerak bagi remaja / pemuda. Perbedaan pendapat, beda jaman atau masalah komunikasi kerap menjadi batu sandungan dalam hubungan antara pemuda dan orang tua. Orang tua terkadang terlalu membatasi bahkan tidak memberikan ruang sama sekali bagi remaja. Banyak alasan yang timbul, karena remaja menyajikan konten yang tidak Islami, atau karena orang tua takut kehilangan power , atau karena remaja sesuai tabiatnya ingin cepat dan tidak sabar dalam menghadapi orang tua. Akibatnya anak muda yang kreatif, inovatif, punya energi besar untuk bergerak dan punya idealisme cenderung tidak berada di masjid. Mereka diasuh oleh institusi-institusi yang tidak mengajarkan nilai-nilai Islam dalam beraktivitas/bermuamalah. Dampaknya umat kehilangan generasi penerus yang kelak mampu menerima tongkat estafet perjuangan. Yang ada adalah generasi yang jauh dari Islam walaupun dia beragama Islam. Berangkat dari kondisi tersebut maka diperlukan beberapa kondisi untuk menuju masjid yang ideal seperti jaman rasulullah, yaitu 1. Adanya keterbukaan pengurus masjid Keterbukaan ini menjadi penting untuk dapat merangkul stakeholder masjid, dimana hal ini mempunyai tujuan agar dapat membuka potensi masjid. Stakeholder / pemangku kepentingan terhadap masjid meliputi: a. Pengurus DKM b. Jamaah masjid c. Masyarakat d. Pemerintah e. Organisasi remaja / pemuda dibawah DKM f. Swasta g. Organisasi-organisasi Islam h. Penceramah, dai dan juga ustad

Pengurus DKM

Media

Jamaah Masjid

Swasta

Masjid
Pencera mah, Da'i, Ustad

Remaja Masjid

Masya rakat
Organisa si Islam

Pemerin tah

Gambar 2. Stakeholder Masjid 2. Pelibatan berbagai pihak. Program yang disusun melalui pelibatan ini akan menghasilkan program kegiatan bersama, sehingga ada rasa memiliki oleh semua pihak, dan juga muncul rasa bahwa semua diterima kehadirannya. Masjid bukan menjadi sebuah basis yang eksklusif bagi satu golongan tetapi menjadi inklusif untuk semua umat. Pelibatan ini juga membuka peluang untuk bekerja sama dengan berbagai stakeholder yaitu masyarakat, remaja masjid, dan juga organisasi Islam, termasuk pemerintah, swasta, dan media. 3. Optimalisasi Remaja Masjid Salah satu komponen penting dalam pengembangan masjid adalah Remaja Masjid. Remaja masjid menjadi penting untuk menghidupkan masjid karena sifat dasar dari remaja dan pemuda itu sendiri yaitu penuh ide kreatifitas dan inovasi. Sehingga kegiatan masjid akan lebih beraneka dan tidak monoton serta mampu menarik jama ah dari kalangan muda. Yang tidak kalah penting adalah tujuan untuk kaderisasi, generasi muda yang cinta masjid kelak akan menjadi penerus sebagai pengurus masjid. Tidak hanya menjadi pengurus masjid, optimalisasi masjid untuk menghasilkan generasi cinta masjid yang kelak menghasilkan pemimpin-pemimpin yang cinta masjid, seperti halnya sahabat-sahabat Rasulullah SAW.

MENGGABUNG 2 POTENSI Dengan melihat potensi besar yang terdapat dalam remaja/pemuda, serta potensi masjid sebagai pusat peradaban umat islam, maka dapat disimpulkan sebuah kekuatan besar yang menunggu untuk dikembangkan dalam sebuah program pembangunan remaja/pemuda masjid. Kekuatan remaja/pemuda masjid tersebut tidak akan berhasil / muncul jika tidak dikembangkan sesuai dengan syariat yang merupakan dasar atas masjid tersebut, serta wajib mempertimbangkan ciri khas pemuda dan remaja.

Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (JPRMI) hadir untuk menjawab tantangan tersebut dalam mengembangkan Organisasi Pemuda Remaja Masjid (OPRM) KONSEP PENGEMBANGAN PEMUDA & REMAJA MESJID PERMASALAHAN UMUM OPRM 1. Kurangnya minat target dakwah terhadap kegiatan yang ada di mesjid 2. Kepengurusan yang kurang solid atau kaderisasi yang tidak berjalan dengan baik 3. Kegiatan inti OPRM lebih banyak terfokus hanya pada kegiatan basic seperti pendidikan dan pembinaan 4. Hubungan pengurus Mesjid dan OPRM kurang harmonis atau secara posisi OPRM punya daya tawar lebih rendah 5. Antar OPRM satu dengan yang lain tidak punya sinergi kerja dan terkadang menjadi overlapping target dakwah atau kegiatan MODAL KERJA YANG DIMILIKI OLEH OPRM 1. Beberapa OPRM sebenarnya mempunyai banyak sekali fasilitas yang beragam mulai untuk oleh raga, bisnis, pendidikan, jaringan kerja yang cukup baik 2. Pengalaman kerja masing-masing OPRM ada yang sudah cukup lama GAMBARAN OPRM YANG DIINGINKAN Menjadikan mesjid mempunyai kekuatan dasar yang kokoh mencakup pendidikan dan pembinaan. Disamping kegiatan basic OPRM juga mempunyai kegiatan lain yang berkualitas sebagai penarik target dakwah untuk datang ke mesjid. TARGET PENGEMBANGAN JANGKA PENDEK 1. Diharapkan kepengurusan masing-masing OPRM ditiap wilayah, daerah, dan kecamatan seluruh Indonesia sudah dapat menjalankan kegiatan dasar OPRM yaitu pendidikan dan pembinaan kemudian minimal punya satu kegiatan penarik yang kuat. 2. Meningkatnya minat target dakwah untuk aktif di OPRM. 3. Jaringan kerja antar OPRM sudah terbentuk dan juga jaringan dengan pihak lain di luar OPRM sudah mulai berkembang. STRATEGI PENGEMBANGAN 1. Meningkatkan kerjasama saling menguatkan antar OPRM dalam dalam satu lingkup kerja dengan membagi tugas dan peran yang jelas pada masing-masing OPRM sehingga target dakwah menjadi tertarik aktif di OPRM karena kegiatannya lengkap dan menarik. 2. Meningkatkan pengetahuan dan kreativitas seluruh pengurus OPRM dalam pengembangan dakwah. FUNGSI JPRMI 1. Membagi peran masing-masing OPRM agar tercipta sinergi dakwah 2. Memperkokoh kegiatan OPRM mulai dari dasar sampai pengembangan 3. Memperluas jaringan kerja dengan pihak luar dan mengupayakan peningkatan peran serta segenap pihak terhadap pengembangan masjid 4. Berupaya mencarikan akses pendanaan 5. Membagi segala informasi yang penting bagi pengembangan dakwah kepada seluruh OPRM

PROGRAM KERJA PEMBINAAN JARINGAN JPRMI 1. Membagi peran dan fungsi masing-masing OPRM yang dimulai dari (Tugas PW dan PD) a. Pendataan OPRM di seluruh Wilayah b. Pembagian peran yang jelas oleh masing2 OPRM mulai dari OPRM tingkat wilayah sampai OPRM kelurahan c. Mengembangkan masing-masing peran agar mempunyai manfaat satu sama lain 2. Membuat manhaj dakwah OPRM yang lebih detail dan praktis yang dimulai dari (Tugas PP) a. Melakukan diskusi dengan pihak terkait untuk mencari ide pengembangan dan mengumpulkan segala informasi pengelolaan OPRM saat ini b. Menyepakati manhaj tersebut c. Membukukan manhaj tersebut danmembagikannya pada seluruh OPRM 3. Memperkokoh kepengurusan masing-masing OPRM (Tugas PW, PD) a. Menyiapkan training bagi OPRM secara rutin b. Menyiapkan tutor organisasi bagi tiap OPRM yang diharapkan bisa menjadi pembimbing bagi OPRM c. Melakukan koordinasi rutin dengan seluruh OPRM yang ada pada masing-masing daerah 4. Mengembangkan kemampuan OPRM dalam meningkatkan kemampuan merekrut dan membina anggota PEMBAGIAN FUNGSI DAN PERAN ANTAR OPRM Jenis Program dasar tujuan akhir adalah rekrutmen y Pendidikan y Pembinaan Jenis Program Pendukung tujuan akhir adalah melalui kegiatan ini target dakwah menjadi tertarik datang ke mesjid dan mengikuti program dasar 1. Konsultasi dan Pengembangan diri 2. Kewirausahaan 3. Pembinaan kader lanjut 4. Sosial 5. Olah Raga 6. Seni 7. Forum Diskusi CONTOH KATEGORISASI OPRM BERDASARKAN PERAN DKI JAKARTA A. OPRM DKI (RISKA dan YISC) pembinaan ada pada PW Jakarta 1. Melakukan kegiatan syiar tidak rutin yang mempunyai sinergi kerja dengan JPRMI dalam lingkup DKI Jakarta 2. Minimal mempunyai satu peran dengan program yang bersifat rutin dengan lingkup kerja DKI Jakarta : contoh : forum kajian rutin, dll Tentunya kegiatan yang harus dilakukan minimal harus kegiatan yang sulit dilakukan oleh daerah akan tetapi diharapkan kegiatan tersebut dapat bermanfaat bagi OPRM lain yang ada di Jakarta B. OPRM tingkat kotamadya atau kecamatan pembinaan ada pada PD a. Masing-masing minimal mempunyai satu peran melalui program yang rutin b. Perlu diketahui bahwa jika satu OPRM bisa melakukan program rutin, maka program tersebut minimal harus dapat melayani seluruh OPRM yang ada di kotamdya yang

bersangkutan. Sehingga masing2 OPRM akan mempunyai banyak kegiatan dapat di jual ke target dakwah masing-masing C. OPRM tingkat kelurahan Minimal mampu melakukan perekrutan secara berkesinambungan dan melakukan beberapa kegiatan tambahan yang bersifat tidak rutin LANGKAH KERJA 1. Memilih 1 OPRM yang akan ditunjuk menjadi mesjid tingkat kecamatan dan menunjuk PIC JPRMI tingkat Kecamatan JPRMI dan DPC 2. Melakukan pendataan OPRM untuk mengetahui kondisi terkini dan rekomendasi pengembangan 3. JPRMI dan OPRM membuat kesepakatan pengembangan yang dilakukan agar tercipta sinergi antar OPRM 4. JPRMI menyiapkan segala perangkat yang dibutuhkan OPRM agar pengembangan program dasar dan penunjang berjalan dengan baik 5. Training spesifik dan bantuan teknis pada masing-masing program baik dasar maupun penunjang sesuai kebutuhan OPRM

Bibliography
Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga; Badan Pusat Statistik. (2005). Profil Pemuda Indonesia 2005. Jakarta: Kementerian Negara Pemuda Dan Olahraga. Supriyanto, J. (2009). Analisis Pembangunan Pemuda Indonesia (Studi Indikator Pembangunan Pemuda Indonesia). Jakarta: Universitas Indonesia.