Jelajahi eBook
Kategori
Jelajahi Buku audio
Kategori
Jelajahi Majalah
Kategori
Jelajahi Dokumen
Kategori
Disusun Oleh :
FAKULTAS TARBIYAH
PENDIDIKAN BAHASA ARAB
UNIVERSITAS DARUSSALAM GONTOR DIVISI MANTINGAN
NGAWI INDONESIA
1443-2022
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Bahwa kita tahu, salah satu tokoh yang meneliti tentang perkembangan
kognitif dan mengemukakan tahapan-tahapan perkembangan kognitif adalah Jean
Piaget. Ia juga dikenal sebagai “perintis besar dalam teori konstruktivis tentang
pengetahuan” oleh Ernst von Glasersfeld. Tahapan yang di adalah tahap sensory
motoric (0-2 tahun), pra-operasional (2-7 tahun), operasional konkret (7-11 tahun)
dan juga operasional formal (11-15 tahun). Yang dapat kita pelajari tentang Jean
Piaget antara lain adalah perkembangan moral, tahapan-tahapan pribadi pada
manusia, dll.
Seperti yang kita tahu, bahwa perkembangan moral pada manusia
adalah hal penting yang harus kita pelajari. Sebagai pendidik dan pengajar, kita
harus tahu, bagaimana perkembangan anak didik kita dalam kesehariannya.
Dengan pantauan yang intensif kepada mereka semua, dapat kita ajarkan sedikit
demi sekit tentang perkembangan moral. Agar kita dapat mengetahui bagaimana
mengajar juga mendidik mereka dengan tepat.
Sebagai orang islam, kita mempunyai Al-Qur’an yang dapat kita jadikan
sebagai tempat untuk kembali mengambil pelajaran yang sudah ada pada zaman
dahulu. Seperti Pendidikan moral yyang satu ini. Selain kita bisa mengambil
pengertian dari tokoh-tokoh barat, kita juga bisa merujuk kepada Al-Qur’an
sebagai pedoman umat muslim di dunia.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana Pendidikan moral menurut Jean Piaget?
2. Apa pengertian Pendidikan moral menurut Kohlberg?
3. Bagaimana tahapan-tahapan Pendidikan moral pada manusia?
4. Bagaimana Pendidikan moral menurut Islam?
C. TUJUAN PEMBUATAN MAKALAH
1. Agar pembaca dapat mengetahui tentang Pendidikan moral pada manusia
2. Agar pembaca dapat mengerti tahapan-tahapan Pendidikan moral pada
manusia
3. Agar pembaca dapat membedakan pengertian Pendidikan moral menurut
Jean Piaget dan Kohlberg
4. Agar pembaca dapat membedakan Pendidikan moral menurut tokoh barat
dan menurut islam
BAB II
PEMBAHASAN
A. Beberapa tahapan pribadi dan sosial pada manusia
Perkembangan sosial selama 2 tahun pertama meliputi perkembangan
tanda-tanda sosial diantara teman sebaya, gaya sosial, pada masa toddler
berhubungan dengan sejarah kelekatan. Perilaku sosial mulai sejak usia 12
bulan, seperti saat bayi merespon kesedihan orang lain, pada usia 0-12 bulan
bayi dapat menunjukkan kesedihan dirinya, pada usia 18-22 bulan bayi dapat
mencoba menghibur teman sebaya yang sedih, sudah mulai bisa berbagi
dengan mainan orang lain. Pada usia 2-6 tahun anak-anak secara bertahap
belajar bagaimana menjadi anggota sosial. Pada tahun-tahun awal kanak-
kanak, anak-anak mengembangkan berbagai cara yang dapat meningkatkan
pemahaman diri mereka.
Pemahaman diri sendiri dan memahami orang lain
Pemahaman diri, menurut protet Erikson mengenai masa kanak-kanak
awal, anak telah mulai substansi, dan makna konsep diri. Meskipun bukan
merupakan identitas diri utuh, pemahaman diri memberikan dasar identitas
yang rasional. Pemahaman diri yang bersifat awal melibatkan pengenalan diri.
Pada masa kanak-kanak awal, anak berfikir bahwa diri dapat menjelaskan
melalui banyak karakteristik material, seperti ukuran, bentuk, warna. Mereka
membedakan diri mereka dari orang lain melalui fisik. Anak-anak prasekolah
sering menggambarkan diri mereka dalam aktivitas seperti permainan.
Pemahaman anak-anak akan orang lain mengalami kemajuan pada masa
kanak-kanak awal.
Tahap perkembangan pribadi dan sosial menurut Erikson:
1. Percaya diri dan tidak percaya diri (trust versus mistrust) [0-18 bulan]
2. Kebebasan dan keraguan (autonomy versus doubt) [18 bulan sampai 3
tahun]
3. Inisiatif dan kesalahan (initiative versus guilt) [3 sampai 6 tahun]
4. Industri dan rendah hati (industry versus inferiority) [6 sampai 12
tahun]
5. Identitas dan pencarian peran diri (identitiy versus role confusion) [12
sampai 18 tahun]
6. Kekariban dan isolasi (intimacy versus isolation) [masa perkembangan
awal]
7. Generasi dan kecintaan pada diri (generativity versus self absorption)
[masa perkembangan tengah]
8. Integritas dan keputus asaan (integrity versus despair) [masa
perkembangan akhir]
1
Dwi Wijayanti, Analisis Pengaruh Teori Kognitif, (Trihayu: Jurnal Pendidikan ke-SD-an,
vol. 1, Nomor 2, Januari 2015), h. 88.
perbuatan, sikap dan kewajiban, akhlak mulia, budi pekerti luhur agar
mencapai kedewasaannya dan bertanggung jawab.2
2
Mulianah Khaironi, Pendidikan Moral pada Anak Usia Dini, (Jurnal Golden Age 1.01,
2017), h. 15.
3
J.W Santrock, Childern (10th ed), (New York: Mc- Graw Hill, 2008), 316.
4
Masganri, Sit, Perkembangan Peserta didik, (Medan: Perdana Pubhlishing, 2012), 142.
a. 4-7 tahun: tahap moralitas heteronom; pada tahap ini cara berpikir anak
tentang keadilan dan peraturan bersifat obyektif dan mutlak artinya
tidak dapat diubah dan tidak dapat ditiadakan oleh kekuasaan manusia.
b. 7-10 tahun: tahap transisi; anak menunjukkan sebagian sifat dari tahap
moralitas heteronom, dan sebagian sifat lain dari tahap moralitas
autonom.
c. 10- dan seterusnya: tahap moralitas autonom; anak menunjukkan
kesadaran bahwa peraturan dan hukum diciptakan oleh manusia, oleh
karenanya dalam menilai suatu perbuatan, anak-anak selain
mempertimbangkan akibat-akibat yang ditimbulkan oleh suatu
perbuatan, juga sekaligus mempertimbangkan maksud dan ikhtiar dari
si pelaku.
Secara esensial temuan Piaget tentang penilaian moral dalam
perkembangan kognitif memiliki kecocokan dengan teori dua tahap. Anak
yang lebih muda dari usia 10 atau 11 tahun memikirkan tentang dilemma moral
dengan satu cara, sedangkan anak yang usianya lebih tua akan berpikir dengan
beragam cara. Anak yang lebih muda memandang aturan sebagai sesuatu yang
absolute dan baku. Bagi mereka aturan adalah produk orang tua atau Tuhan
yang harus dipatuhi dan tak ada satupun yang bisa merubahnya. Namun pada
anak yang lebih tua, mereka memahami aturan boleh berubah asal disepakati
semua pihak. Aturan bukanlah hal yang bersifat sakral atau absolut tapi sebagai
alat yang digunakan manusia secara kooperatif.
D. Teori Perkembangan Moral Piaget yang dikembangkan oleh Kohlberg
Lawrence Kohlberg menekankan bahwa cara berpikir anak tentang
moral berkembang dalam beberapa tahapan. Kohlberg membagi
perkembangan moral menjadi tiga tingkat diantaranya:
Tingkat pertama penalaran Prakonvensional pada tahap ini perilaku
diinterprestasikan melalaui reward dan punnishment eksternal dengan
melewati dua tahapan.
• Tahapan pertama yakni tahap moralitas hetorom dimana akibat- akibat
fisik menentukan baik buruknya suatau tindakan.
• Tahapan kedua moralitas individualisme dimana pada tahap ini
memenadangf kebenaran adalah suatu perbuatan yang setara apabila
orang lain berbuat jahat maka boleh saja dia membalas perbutan jahatnya
tersebut.
Pada tingkat kedua penalaran konvensional dimana peraturan
ditentukan oleh orang tua, pemerintah atau orang yang lebih memiliki
wewenang penuh. Pada tingkat ini merupakan kelanjutan dari tahap
pertama dan kedua yang disebut.
• Tahap ketiga yakni ekspetasi interpersonal mutual dimana seseorang
menganggap perilaku baik merupakan perilaku menyenangkan pada
tahap ini seseorang dapat menghargai kepercayaan, perhatian,dan
persetujuan sebagai dasar penilaian moral.
Tingkat ketiga penalaran pasca konvensional pada tahap ini
individu tidak bergantung kepada otoritas kelompok melainkan dapat
merumuskan prinsip moral yang memiliki keabsahan dan dapat
diterapkan. Pada tingkat ini terdapat tahap kelima dan tahap keenam.
• Tahap kelima adalah kontrak atau utulitas sosial dan hak individu dimana
hukum dan tata tertib tidak lagi dipandang sebagai hal yang kaku namun
hukum dan tata tertib bisa saja berubah berdasarkan pertimbangan
rasional mengenai manfaat sosial.
• Tahap keenam Prinsip etis universal dimana seseorang telah
mengembangkan standart moral berdasarkan hak asasi universal. Pada
hakikatnya prinsip etis universal meerupakan prinsip-prinsip universisal
keadilan resiprositas dan persamaan hak asasi manusia, serta rasa hormat
terhadap manusia sebagai pribadi individual.
Teori perkembangan menurut Kohlberg dikatakan masih memiliki
kelemahan khususnya dalam universalitas, maksudnya adalah gambaran
tahapan penlaran Kohlberg merupakan interpretasi moralitas yang secara unik
ditemukan dalam masyarakat demokratis barat, sehingga tidak dapat
diterapkan pada budaya bukan barat.5 Hubungannya dengan perilaku moral
5
Ibid, 101
serta perbedaan gender dalam penalaran moral sebagian ahli berpendapat
bahwa tahapan moral menurut Kohlberg tidak dapat diterapkan secara
seimbang pada laki-laki dan perempuan.
6
Syafrilsyah, Mohd. Zailani Bin Mohd Yusuf, dan Muhammad Khairi Bin Othman, “Moral
dan Akhlak dalam Psikologi Moral Islami”, Psikoislamedia Jurnal Psikologi, 164
7
Syafrilsyah, Mohd. Zailani Bin Mohd Yusuf, dan Muhammad Khairi Bin Othman, “Moral
dan Akhlak dalam Psikologi Moral Islami”, Psikoislamedia Jurnal Psikologi, 163.
adalah hal yang sensitive untuk menerima rangsangan atau stimulus, dan
mengalami proses yaitu yang dimaksud dengan masa peka anak. Masa peka
adalah masa terjadinya kematangan fungsi fisik dan psikis yang siap merespon
rangsangan yang diberikan oleh lingkungan. Masa ini juga merupakan masa
dasar untuk mengembangkan kemampuan kognitif, motoric, Bahasa, social
emosional, agama, dan moral.
Berdasarkan undang undang nomor 20 tahun 2003 yang membahas
tentang Pendidikan nasional pada anak usia dini tertulis di pasal 28 ayat 1 yang
berbunyi sebagai berikut. “Pendidikan anak usia dini diselenggarakan bagi
anak sejak lahir sampai dengan enam tahun dan bukan merupakan persyaratan
untuk mengikuti Pendidikan dasar.” Dan pada anak usia dini mempunyai
golden age dalam pertumbuhannya, yaitu sangat berkembang pesat dalam hal
fisik dan motorik anak. Bahkan ada yang menyatakan bahwa pada anak usia 4
tahun, 50% kecerdasan telah tercapai, dan 80% kecerdasan tercapai pada usia
8 tahun.8
Perkembangan emosional seorang anak itu belajar dari diri sendiri,
yang kemudian belajar untuk memahami orang lain dalam masalah emosi. Dan
pada anak kecil mereka juga baru belajar untuk mengekspresikan kebanggaan,
rasa malu, dan rasa bersalah itu adalah contoh dari emosi sadar diri pada anak
kecil. Pada anak usia 2-4 tahun secara signifikan meningkatkan jumlah istilah
yang mereka gunakan untuk menggambarkan emosi, dan mungkin salah satu
penyebab timbulnya sebuah emosi anak usia 2-4 tahun adalah perasaan nya
sendiri.
Dan pada anak usia 4-5 tahun, anak-anak menunjukkan peningkatan
kemampuan dalam merefleksiakan sebuah emosi, dan mereka juga mulai
memahami bahwa peristiwa yang sama akan menimbulkan perasaan yang
berbeda pada orang yang berbeda, dan pada anak usia 5 tahun, dia bisa akurat
menentukan penyebab ataupun hasil emosi dalam keadaan yang menentang
dan dapat menggambarkan strategi yang akan dibangun untuk menghadapi
ataupun menghindari munculnya sebuah emosi.
8
Mursid, pengembangan pembelajaran PAUD. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2015)
hal.2
Menurut teori jean piaget anak-anak yang bermain kelereng itu belajar
bagaimana cara menggunakan ataupun bagaimana cara bermain kelereng, dan
piaget juga menyimpulkan bahwa anak-anak mengalami dua tahap yang
berbeda ketika berfikir tentang moralitas.
a. Dari usia 4-7 tahun, anak-anak menampilkan moralitas hoteronom,
tahap pertama perkembanagan moral adalah teori dari piaget. Anak-anak
menganggap keadilan dan aturan sebagai sifat dunia yang tidak dapat
berubah ataupun dihapus dari control manusia.
b. Dari usia 7-10 tahun, anak-anak menunjukkan masa transisi,
menunjukkan sebagaian fitur tahap pertama penalaran moral dan
Sebagian fitur tahap kedua, moralitas otonom.
c. Dari usia 10 dan lebih tua, anak-anak menunjukkan moralitas otonom,
mereka menjadi sadar bahwa aturan-aturan dan hukum diciptakan oleh
manusia, dan dalam menilai suatu Tindakan, mereka mempertimbangkan
niat sang actor dan konsekuensinnya.
Permainan adalah sarana pertama yang akan membantu pertumbuhan
emosi dan moral seorang anak, karena dalam permainan anak akan belajar,
berunding, diskusi, menyelesaikan konflik, bergaul, bersabar, dan yang paling
penting adalah belajar untuk berinteraksi dengan orang lain. Permainan juga
membentuka anak-anak memahami konsep keadilan dan persaingan.9Anak-
anak tidak selalu mempunyai emosi yang negatif, tetapi seorang anak
terkadang juga mempunyai emosi yang positif.
Adapun karakteristik emosi pada anak adalah sebagai berikut :
a) Berlangsung secara singkat, dan berakhir secara tiba-tiba
b) Memiliki volume yang lebih kuat atau tinggi dari orang dewasa
c) Bersifat sementara
d) Lebih sering terjadi dari pada orang dewasa.
Adapun yang dinamakan permainan sosial, merupakan permainan yang
melibatkan interaksi dengan teman sebaya. Dan berdasarkan pengamatan anak-
9
Rina wijayanti, Permainan Tradisional Sebagai Media Pengembangan Kemampuan Sosial
Anak, Vol.5 No. 1, Mei 2014tetapi menggunakan permainan yang sama dengan s, Cakrawala Dini,
Hlm. 54
anak dalam permainan bebas di sekolah pra taman kanak-kanak, parten
mengusulkan jenis permainan berikut:
1. Permainan Soliter, dimana kanak-kanak usia 2-3 tahun asik bermain
sendiri tanpa memperdulikan orang sekitar.
2. Permainan Paralel, Ketika anak bermain secara terpisah tetapi
menggunakan permainan yang sama dengan teman sekitarnya dan
sebaya nya.
3. Permainan Asosiatif, melibatkan interaksi sosial dengan sedikit atau
tanpa organisasi. Meminjam minjamlkan mainan dan mengikuti atau
memimpin satu sama lain adalah salah satu contoh dari permainan
asosiatif.
4. Permainan Kooperatif, terdiri dari interaksi sosial dalam kelompok
dengan rasa identitas kelompok dan aktifitas yang di organisasikan.
Permainan kooperatif kecil tampak pada tahun-tahun pra sekolah.10
Dan Adapun cara membimbing perkembangan sosio-emosional
anak, dengan strategi sebagai berikut:
1. Menemukan sesuatu yang dapat membantu mereka dalam
mengembangkan emosi.
2. Sajikan model moral yang positif bagi anak-anak dan gunakan situasi
emosional untuk meningkatkan perkembangan moral.
3. Beri anak kesempatan untuk berinteraksi dengan teman sebaya.
4. Monitor kegiatan menonton televisi atau sosial media yang lain pada
anak. Dan sebisa mungkin meminimalisir anak dalam pengguanaan
media sosial dan menonton televisi, dan biarkannlah anak berkembang
dengan teman sebaya nya. Pada hal perkembangan moral dan emosi
sosial pada anak, peran orang tua sangat penting dalam kehidupan
anak, karena mempengaruhi bagaimana hidup sang anak untuk
kedepannya.
G. Perkembangan emosi dan sosial anak pada masa sekolah menengah dan
sekolah tinggi
10
Eva Pebriani, Terjemahan Pengembangan Cipta Bahasa dan Seni, (Jambi: 2018) hal 16
Pada zaman sekarang terdapat banyak masalah yang timbul akibat
ketidakseimbangan emosi dan rusaknya moral anak remaja khususnya, remaja
pada masa sekolah menengah dan sekolah tinggi. Meningkatnya
penyimpangan emosi juga dilihat dari meningkatnya angka tingkat depresi di
seluruh dunia dan juga tanda-tanda tumbuhnya gelombang agresivitas di mana
remaja berumur belasan tahun memegang senjata-senjata tajam yang di bawa
ke sekolah-sekolah, perperangan antar sekolah, balap liar, fenomena tersebut
memberikan penjelasan bahwa semakin maju teknologi semakin banyak
penyimpangan dalam kehidupan ini, dan paling banyak yang di lakukan oleh
remaja pada masa sekolah menengah dan sekolah tinggi adalah narkoba dan
minuman keras.11
Namun perkembangan emosi dan sosial juga dibutuhkan oleh remaja
masa sekolah menengah dan sekolah tinggi yaitu dengan kecerdasan
emosional. Kata emosi secra sederhana didefinisikan sebagai “menerapkan
gerakan” untuk mengeluarkan perarasaan. Emosi adlah sumber energi atau
sumber semangat manusia yang paling kuat dan bukanlah sesuatu yang bersifat
negatif atau positif. Menurut goleman adalah setiap kegiatan atau pergolakan
pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-luap.
Kecerdasan emosional menurut Goleman dalam Development of a
concept and test of psychologikal well being,serangkain kemampuan pribadi,
emosi dan sosial yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil
dalam mengatasi tuntunan dan tekanan lingkungan. Menurut Cooper,
kecerdasan Emosional adalah kemampuan merasakn, memahami, dan secara
efektof menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi,
informasi, koneksi, dan pengaruh yang manusiawi.12
Contoh perkembangan emosi anak pada masa sekolah menengah dan
sekolah tinggi di Parren siswa tingkat 8 atau setara dengan 1 SMP dianjurkan
memeberikan les/pengajaran. Mereka membantu dengan pelajaran matematika
dan lain-lain. Salah satunya Sam Stevens yang sudah mengajarkan Billy Ames
11
Hanif Cahyo Adi Kistoro, ‘Kecerdasan Emosional Dalam Pendidikan Islam’, Jurnal
Pendidikan Agama Islam, 11.1 (2017), 1–18 <https://doi.org/10.14421/jpai.2014.111-01>.
12
Anisatul Masruroh, ‘Konsep Kecerdasan Emosional Dalam Perspektif Pendidikan Islam’,
MUDARRISA: Journal of Islamic Education, 6.1 (2015), 61 <https://doi.org/10.18326/mdr.v6i1.759>.
selama sebulan. Di suatu hari ketika mereka akan memulai pemebelajaran.
Billy melihat sesuatu yang aneh di bibir sam. Lalu Sam menjawab “apakah
kamu tidak pernah melihat cicin bibir”. Dan Billy menjawab “banyak laki-laki
memakai itu”. Dan ketika Billy menanyakan pendapat orang tua Sam, dia
menjawab aku akan melepasnya sebelum aku sampai ke rumah, dan akau akan
memakainya ketika aku berangkat sekolah.
Percakapan diantara Sam dan Billy mejelaskan perbedaan diantara
dunia seorang remeja sekolah menengah dan seorang anak sedolah dasar. Sam
di umurnya 13 tahun yang baru akan memasuki masa remajanya, idealisme dan
komitmrnnya yang baik yang mejelaskan kesukarelawanannya dalam menjadi
pengajar bagi adik kelasnya, namun di lain waktu menunjukkan kebebasannya
dengan memiliki tindik bibir dan cincin bibir yang berlawanan dengan
keinginan orangtua nya. Kebebasannya ini sangat didukung oleh kawan
sebayanya, dan ini adalah kelicikan anak kepada orangtua atau gurunya.
Namun Sam masih mengandalkan orangtuanya dan orang yang lebih dewasa
darinya dalam menunjukkan dirinya kepada masa depan yang baik, dan dia
melepas cincin bibirnya di rumah untuk menghindari perdebatan dengan
orangtuanya.
Sedangkan dunia anak seumuran Billy berbeda dengan Sam. Dia
mungkin mengangumi keberanian sam, tapi dia tidak akan berani mengambil
langkah lebih jauh, kehidupan Billy memiliki peraturan yang leibh sderhana.
Dia mungkin berbuat kesalahan, namun dalam batas yang sempit. Karna dia
tau peraturan adalah peraturan, dan dia akan mendapatkan hukuman jika dia
melanggar peraturan tersebut. Dan ini merupakn salah satu perkembangan
emosi anak pada masa sekolah menengah ataupun sekolah tinggi.
Dan fenomena diatas merupakan salah satu permasalah remaja, dan
permasalahan remaja lainnya adalah :
1. Emosional yang tidak teratur
2. Pembulian
3. Dikeluarkan dari sekolah
4. Obat-obatan terlarang dan minuman keras
5. Menunggak
6. Hamil di luar nikah
7. Berhubungan diluar batas dengan sama jenis.
Dan pada masa remaja juga mengalami prubahan dalam hubungan
sosial mereka, ketika seorang anak mulai memasuki masa remajanya, biasanya
mereka menghabiskan waktunya lebih kepada teman daripada bersama
anggota keluarganya ataupun dirinya sendiri, remaja yang memiliki
keharmonisan dalam hubungannya dengan temannya, tidak akan pernah
merasa sendiri, dan akan melakukan yang lebih baik disokolah darpada seorang
anak yang kekurangan dukungan dalam pertemannannya.13
Oleh karena itu kita sebagai umat islam harus selalu bersandar pada
dasar yang menjadi acuan dalam pendidikan yang merupakan nilai kebenaran
yang akan mengantarkan kita pada tujuan dan cita-cita yang diinginkan, yaitu
al-Quran dan Sunnah, dan beberapa alasan yang menjadikan al-Quran dan
Sunnah dasar bagi pendidikan dalam islam menurut Zuhairini adalah :
1. Al-Quran diturunkan kepada umat manusia sebagai petunjuk ke arah
yang benar dan jalan hidup yang lurus, yang berarti memberi bimbingan
ke jalan yang diridhaoi Allah SWT.
2. Menurut hadist Nabi dianatar sifat mukmin ialah saling menasehati
untuk mengajarkan ajaran Allah, yang dapat diartikan sebagai usaha
atau dalam bentuk pendidikan islam.
3. Al-Quran dan Hadist menerangkan bahwa Nabi adalah bener-benar
pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus, sehingga beliau
memerintahkan kepada ummatNya agar saling memberi petunjuk,
bimbingan, penyuluhan, dan pendidikan islam.14
13
V. A.C. Henmon and M. J. Nelson, Educational Psychology, Psychological Bulletin, 1928,
XXV <https://doi.org/10.1037/h0074121>.
14
Cahyo Adi Kistoro.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Tentang Pendidikan moral menurut Jean Piaget “peraturan, nilai-nilai
dan prinsip moral, kesadaran orang untuk menerima dan melakukan peraturan,
nilai-nilai dan prinsip yang telah baku dan dianggap benar” dan menurut
Kohlberg “beberapa tahapan. Kohlberg membagi perkembangan moral
menjadi tiga tingkat.” Teori-teori ini mempunyai tujuan yang sama yaitu
pembentukan moral pada manusia sesuai dengan pemikiran mereka para
pengkemuka. Juga dalam perkembangan anak saat usia dini.
Kembali lagi kita sebagai umat islam, harus berpegang teguh dengan
Al-Qur’an sebagai pedoman umat islam seluruh dunia. Dengan berlandaskan
pada Al-Qur’an dalam mengajar juga mendidik anak terlebih anak usia dini,
kita dapat lebih mendalami tentang ayat-ayat yang berhubungan dengan
Pendidikan. Agar kita semua juga dapat mengetahui cara mendidik serta
mengajar anak menurut syari’at islam yang baik dan benar.
B. KRITIK
Pertama, untuk menumbuhkan kesadaran diri,
seorang pendidik harus mengenali dirinya sendiri, mensyukuri nikmat dengan
memaksimalkan potensi yang dimilikinya, merumuskan tujuan hidup( visi)
yang jelas, mengambil pelajaran dari suatu peristiwa, dan ber- islah
memperbaiki diri. Kedua, pengendalian diri dapat dilakukan dengan bersikap
sabar, istiqamah, senantiasa ber- istigfar, dan tawadu ’. Ketiga, motivasi diri
dapat ditempuh dengan berprasangka baik terhadap
ketetapan Allah, percaya bahwa Allah swt menjanjikan kemudahan dan
nikmat- Nya sangat luas, setiap usaha akan mendatangkan hasil, tidak bersikap
lemah, setiap problem telah diukur kadarnya, dan senantiasa mengobarkan
semangat. Keempat, empati dapat dipupuk dengan
meniru sifat- sifat Allah swt seperti pengampun, mengasihi, melindungi,
berbicara dengan lunak, santun, lemah lembut, menegur dengan baik,
bijaksana, halus, mempermudah urusan sulit, menampakan cinta dan
memaafkan. Kelima, kecakapan sosial dapat dibentuk dengan
membiasakan bersilaturrahmi, bersikap adil, berbuat kebaikan( ihsan),
memberi ucapan selamat( tahni’ah), saling menolong dalam kebaikan(
ta’awun), dan saling menasehati ( nasaha).
Sedangkan, Lawrence Kohlberg menawarkan tahap-tahap
perkembanagn moral pada individu yang dengan pemahaman kita terhadap
pentahapan yang terdapat dalam perkembangan moral tersebut akan membantu
kita atau para pendidik dalam mengaktualisasikan Pendidikan karakter yang
efektif dengan dukungan teori perkembangan moral ini.
Menerapkan pendidikan karakter yang sesuai dengan kondisi tahap
perkembangan moral individu merupakan upaya bijak yang dapat dilakukan
pendidik dalam dinamika pendidikan karakter. Mengimplementasikan aspek
moral knowing, moral feeling dan moral behaviour sebagai esensi dari
pendidikan karakter akan lebih mudah bila pendidik benar-benar memahami di
posisi dan tahap perkembangan moral mana peserta didik tersebut sedang
berlangsung.
DAFTAR PUSTAKA
Dwi Wijayanti, Analisis Pengaruh Teori Kognitif, (Trihayu: Jurnal Pendidikan ke-SD-
an, vol. 1, Nomor 2, Januari 2015), h. 88.
Mulianah Khaironi, Pendidikan Moral pada Anak Usia Dini, (Jurnal Golden Age 1.01,
2017), h. 15.
J.W Santrock, Childern (10th ed), (New York: Mc- Graw Hill, 2008), 316.
Masganri, Sit, Perkembangan Peserta didik, (Medan: Perdana Pubhlishing, 2012), 142.
Ibid, 101
Syafrilsyah, Mohd. Zailani Bin Mohd Yusuf, dan Muhammad Khairi Bin Othman,
“Moral dan Akhlak dalam Psikologi Moral Islami”, Psikoislamedia Jurnal
Psikologi, 164
Ibid, hal. 163
Mursid, pengembangan pembelajaran PAUD. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2015) hal.2
Rina wijayanti, Permainan Tradisional Sebagai Media Pengembangan Kemampuan
Sosial Anak, Vol.5 No. 1, Mei 2014tetapi menggunakan permainan yang sama
dengan s, Cakrawala Dini, Hlm. 54
Eva Pebriani, Terjemahan Pengembangan Cipta Bahasa dan Seni, (Jambi: 2018) hal
16
Hanif Cahyo Adi Kistoro, ‘Kecerdasan Emosional Dalam Pendidikan Islam’, Jurnal
Pendidikan Agama Islam, 11.1 (2017), 1–18
<https://doi.org/10.14421/jpai.2014.111-01>.
Anisatul Masruroh, ‘Konsep Kecerdasan Emosional Dalam Perspektif Pendidikan
Islam’, MUDARRISA: Journal of Islamic Education, 6.1 (2015), 61
<https://doi.org/10.18326/mdr.v6i1.759>.