Anda di halaman 1dari 9

Kalisampurno Dari Masa Ke Masa

Desa Kalisampurno merupakan Desa yang terletak di Kecamatan Tanggulangin,


Kabupaten Sidoarjo dan merupakan di wilayah Provinsi Jawa Timur. Secara geografis Desa
Kalisampurno merupakan desa yang sangat subur dengan luas wilayah 107.787 hektar dan
masyarakatnya bermata pencaharian di bidang pertanian, industri rumah tangga Tas, Kerajinan
Kulit, Antena yang mempunyai dengan karakter masyarakat. tingkat kesehatan masyarakat Desa
Kalisampurno cukup baik karena ditunjang dengan sarana dan prasarana yang cukup memadai
serta kesadaran masyarakat yang cukup tinggi tentang arti kesehatan.

Gambar balai desa kalisampurno

Desa Kalisampurno terbagi menjadi 2 wilayah, yaitu Desa Kalisampurno dan Perum
TAS (Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera). Secara administratif pemerintahan terbagi
menjadi 2 Dusun, 9 RW dan 59 RT. Desa Kalisampurno terdiri dari 2 Dusun, yaitu Dusun
Kalisawah, Dusun Sampurno yang mempunyai adat dan cerita yang berbeda – beda.

Peta Administrasi Wilayah Desa Kalisampurno


A. Legenda / Asal – Usul Desa ;

Desa Kalisampurno terdiri dari hamparan dataran tanah darat dan sebagian tanah sawah
pertanian. Desa Kalisampurno dilewati oleh aliran sungai di ujung selatan dan timur Desa yang
digunakan untuk irigasi lahan persawahan sekaligus untuk pembuangan air hujandari semua
penjuru Desa. Keberadaan desa Kalisampurno yang sekarang sudah mapan baik secara ekonomi,
pendidikan maupun fasilitas umum ini adalah merupakan desa yang yang didirikan atau di rintis
oleh dua tokoh yaitu:

1). Mbah Secoboyo

2). Mbah Singoyudho

Atas jerih payah dua tokoh itulah siapa sangka tempat yang asalnya merupakan daerah
yang kosong tidak berpenghuni, bahkan terkenal angker tapi sekarang telah menjadi desa yang
tentram, damai dan masyarakatnya sangat agamis.

Dusun Kalisawah merupakan Dusun yang berada di bagian sebelah timur Desa
Kalisampurno yang berbatasan dengan Desa ketapang. Sebelum menjadi Dusun Kalisawah,
tempat ini dahulunya adalah pedukuhan masyarakat yang dinamakan dukuh pandean. Nama
dukuh pandean awal mula dari mbah Secoboyo merupakan seorang pande besi. Mbah secoboyo
membuat alat-alat pertanian sendiri untuk membabat Desa ini dan menempati tanah yang saat ini
lebih dikenal sebagai tanah rawu. Tanah yang di tempati inilah yang dinamakan Dukuh Pandean.

Mbah Coboyo hidup dengan nyaman di atas tanah yang dibabat sendiri. Banyak tanah yang
diubahnya menjadi tanah persawahan, hingga beliau tinggal di atas tanah yang dikelilingi oleh
area persawahan. Setelah beberapa lama mbah Coboyo mendiami dukuh Pandean, beliau tidak
kerasan dan pindah tempat tinggal dikarenakan sawah-sawah semakin luas. Tanah yang
dibabatnya berubah menjadi sawah-sawah yang dialiri air atau aliran sungai yang menjadikan
tanah persawahan menjadi subur. Karena itulah nama dukuh pandean dirubah nama menjadi
dukuh Kalisawah. Kalisawah berasal dari dua kata yaitu kali atau sungai dan sawah, yang
bermakna tanah persawahan subur yang diliri oleh sungai. Pada tahun 1950an Pemerintahan
Kecamatan tanggulangin merubah pedukuhan menjadi pedusunan, maka hingga sekarang orang
lebih mengenal dengan nama Dusun Kalisawah.
Dusun Sampurno merupakan Dusun yang berada di bagian sebelah barat Desa
Kalisampurno yang berbatasan dengan Desa wunut dan Desa kedensari. Sebelum menjadi
Pedusunan, Dusun Sampurno juga merupakan pedukuhan. Nama dukuh Sampurno berasal dari
mbah singoyudho, beliau orang yang membabat alas daerah tersebut dan memberi nama dukuh
Sampurno. Kata Sampurno merupakan dalam bahasa Indonesia yang berarti sempurna. Mbah
singoyudho memberi nama tersebut berkeinginan kehidupan masyrakatnya mempunyai
kehidupan sosial yang sempurna dari segi agama, ekonomi dll. Hingga sekarang disebut dengan
nama Dusun Sampurno.
Pedukuhan Kalisawah dan pedukuhan Sampurno sudah terbentuk. Hingga pada saat
kepemimpinan kepala Desa Sarikerto yaitu kurang lebih pada tahun 1971. Pedukuhan Sampurno
bergabung menjadi satu dengan dukuh Kalisawah yang dikarenakan jumlah perumahan di dukuh
Sampurno hanya sedikit. Dengan bergabungnya tersebut maka Desa diberi nama Kalisampurno.
Nama Desa Kalisampurno berasal dari dua kata yaitu kata kali dan Sampurno. Kata kali
merupakan bahasa Jawa yang mempunyai arti dalam bahasa Indonesia berarti sungai, sedangkan
Sampurno juga merupakan bahasa Jawa yang mempunyai arti dalam bahasa Indonesia adalah
sempurna. Jadi kata Kalisampurno bermakna sungai yang sempurna, yang mempunyai arti
bahwa tanah Desa Kalisampurno tanahnya subur karena kecukupan air dengan adanya aliran
sungai dan masyrakatnya mempunyai kehidupan sosial yang sempurna dari segi agama, ekonomi
dll.
Karena bertambahnya penduduk masyarakat sidoarjo yang tinggi. Maka pada awal tahun
2000an investor membuat lahan untuk dibuat perumahan diatas tanah sawah masyarakat
Kalisampurno. Perumahan yang dibuat diberi nama Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera
II. Jadi sampai saat ini desa kalisampurno mempunyai luas wilayah 107.787 hektar dan terbagi
menjadi 2 wilayah, yaitu desa kalisamurno dan perumahan tanggulangin anggun sejahtera II.

B. Dua tokoh dibalik berdirinya Desa Kalisampurno


1. Mbah Secoboyo
Sebelum berdirinya Desa Kalisampurno yang sekarang, dahulunya adalah berupa hutan
belukar tidak berpenghuni kemudian setelah abad ke 17 yaitu pada tahun 1742 datang seorang
perantau dari kota Surakarta yang bernama Secoboyo, Siapakah Secoboyo itu?.
Secoboyo atau orang lebih mengenalnya Mbah Coboyo adalah seorang perantau dari
Surakarta. Pada abad ke 17 di Surakarta mengalami penjajahan oleh bangsa belanda. Terjadilah
peperangan antara bangsa belanda dengan para penduduk dibantu dengan tentara.Karena terjadi
peperangan banyak orang yang mencari perlindungan di tempat yang aman atau orang jawa biasa
menyebutnya ngungsi. Termasuk juga Mbah Coboyo mengungsi dengan menaiki sebuah batang
pohon dan ngintir mengikuti aliran sungai tanpa arah dan tujuan. Hingga pada tahun 1742, mbah
Coboyo sampai hutan belukar tidak berpenghuni.
Hutan belukar yang tidak berpenghuni dirasa aman untuk ditempati dan berlindung dari
peperangan. Mbah Coboyo memulai menebang pohon, membuat sawah dan membangun sebuah
tempat yang nyaman untuk dihuni atau orang jawa menyebutnya babat alas. Sebelum menebang
pohon dan membuat sawah dan lain sebagainya beliau terlebih dahulu membuat alat-alatnya
(mande) untuk membuat berbagai alat pertanian.
Mbah Coboyo hidup dengan nyaman di atas tanah yang dibabat sendiri. Banyak tanah yang
diubahnya menjadi tanah persawahan, hingga beliau tinggal di atas tanah yang dikelilingi oleh
area persawahan. Tanah tersebut disebut tanah Rawu dan tempat tinggal pertama kali disebut
dulu diberi nama dukuh Pandean. Tanah tersebut masih ada hingga sekarang, bertempat di RT 01
RW 02.
Gambar Tanah Rawu

Setelah beberapa lama mbah Coboyo mendiami dukuh Pandean, beliau tidak kerasan.
Karena dukuh Pandean tersebut sekitarnya sudah menjadi tanah sawah yang dirasanya kurang
nyaman. Kemudian beliau pindah di tanah yang lain yang tidak jauh dari dukuh Pandean yang
hingga sekarang dinamakan Kalisawah.
Mbah Coboyo mendiami tanah Kalisawah hingga beliau menghembuskan nafas
terakhirnya. Mbah Coboyo dimakamkan di pemakaman Dusun Kalisawah tepatnya di RT 07 RW
02, beliau dimakamkan bersandingan dengan makam istrinya. Begitu besar jasa-jasa beliau untuk
membuat Desa ini hingga kita bisa nikmati sampai sekarang.

2. Mbah Singoyudho

Pada abad ke – 14 kerajan Majapahit, terjadilah perang saudara atau lebih di kenal dengan
istilah perang paregreg yakni terdiri dari 2 kubu. Kubu timur di pimpin Bhre Wirabhumi. Beliau
adalah putra raja Hayam Wuruk dari istri selir dan dari kubu barat di pimpin Wikarama
Wardhana yang tidak lain adalah menantu Prabu Hayam Wuruk. Dengan terjdinya perang
saudara itu, akhirnya kubu timur menderita kekalahan yang akhirnya Bhre Wirabumi di nyatakan
tewas pada saat terjadinya perang tersebut. Dengan demikian kubu barat yang dipimpin Wikrama
Wardhana yang menjadi penguasa kerajan Majapahit.
Karena terjadi perang saudara itulah, maka banyak diantara prajurit perang menjadi
korban. Akan tetapi tidak sedikit pula yang selamat dari perang itu. Untuk menghindari perang
saudara terjadi lagi. Maka banyak diantara para prajurit perang yang akhirnya keluar dan
meninggalkan kerajaan Majapahit untuk mengembara. Salah satu di antaranya yaitu prajurit yang
gagah dan pemberani yang mempunyai julukan “Singo Yudho”.

Dari pengembaraannya itu sampailah beliau di sebuah wilayah kecil yang saat ini bernama
Dusun Sampurno. Di dusun kecil inilah beliau memulai untuk membuka Lahan baru ( Babat
Alas ) yang memang pada saat itu Dusun Sampuno ini masih hutan Belantara. Dari awal Babat
Alas itulah ahirnya beliau mulai bercocok tanam, menanam di area pesawahan ataupun juga di
area perkebunan. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun dan pada akhirnya beliau pun
meninggal di Dusun Sampurno itu. Dan di makamkan pula di Dusun Sampurno. Tepatnya saat
ini di wilayah RT 16 RW. 05 Dusun Sampuruno. Dan pada akhirnya banyak warga yang
menyebutnya dengan nama Mbah Singo Yudho atau Mbah Cangga yang akhirnya menjadi
sesepuh di Dusun Sampurno.

Gambar Makam Islam Dusun Sampurno Gambar Makam Mbah Singo Yudho

C. Sejarah Pemerintahan Desa


Pemerintah Desa (Pemdes) Kalisampurno jauh sebelum merdeka sudah berdiri.
Pemerintahan Desa Kalisampurno terbentuk, hal ini tidak ada bukti dokumen pendukung namun
kalau menurut cerita sebagian tokoh masyarakat desa Kalisampurno bahwa sudah sejak lama di
Kalisampurno sudah terdapat pemerintahan diperkirakan yaitu pada tahun 1742, sebagaimana
urutan beberapa orang yang pernah menjabat kepala desa di desa Kalisampurno, diantaranya
adalah:

Pertama, Surodiwongso Tahun 1742 - 1819, Surodiwongso menjabat sebagai kepala desa
Kalisampurno pada masa penjajahan Belanda. Sebagai kepala desa pada masa penjajahan
tentunya beliau tentunya tidak mudah pada saat itu Indonesia masih di bawah kekusaan Belanda,
sehingga menurut sebagian cerita beliau terkadang sikapnya cenderung keras terhadap
masyarakatnya sebagaimana Belanda, namun demikian beliau juga mempunyai sifat bijaksana,
semisal kalau ada masyarakat yang tidak mampu bayar upeti / pajak sawah, maka sebagian
sawah masyarakat tersebut diminta dan berikan pada masyarakat yang lain. Menurut cerita yang
ada bahwa Surodiwongso bertempat di daerah wilayah RW. 03 Desa Kalisampurno, karena jasa
beliau daerah tempat tinggal beliau dijadikan nama jalan di wilayah tersebut.

Kedua, Suronoto Tahun 1819 - 1869, Setelah berakhirnya kepemimpinan Surodiwongso


tampuk kekuasaan desa Kalisampurno dipimpin oleh kepala desa bernama Suronoto. Beliau
diperkirakan bertempat tinggal di Daerah RW. 04 Desa Kalisampurno, karena nama Suronoto
digunakan sebagai nama jalan di wilayah tersebut sebagai pengingat bahwa seumur hidupnya
didekasikan untuk Desa Kalisampurno memimpin selama 50 Tahun. Pembangunan pada saat itu
belum begitu banyak sperti sekarang, Suronoto lebih menekankan pada pemberdayaan
masyarakat melalui membatik dan pertanian. Menurut cerita yang ada membatik merupakan
keseharian dan pekerjaan masyarakat Desa Kalisampurno, bisa dibuktikan banyaknya tempat
merendam kain yang ada didepan rumah warga, untuk saat ini tempat-tempat terebut banyak
yang hilang karena padatnya penduduk.

Ketiga, Surotruno Tahun 1869 – 1904, Sebagai seorang pemimpin Surotruno tidak jauh
beda dengan gaya kepemimpinan kepala desa sebelumnya. Pada masa kepemimpinan Surotruno
tidak banyak cerita tentang prestasi kebijakan-kebijakan apa saja yang dibuat hal ini mungkin
karena beliau hanya meneruskan tugas-tugas kepala desa pendahulunya, sebagaimana
Surodiwongso, Suronoto kepemimpinan Surotruno juga tidak ada dokumen tertulis sebagai data
pendukung mengenai kebijakan apa saja yang dibuat.

Keempat, Surojoyo Tahun 1904 – 1908, Surojoyo menjabat kepala desa menggantikan
Surotruno setelah jabatannya berakhir. Sistem pemilihan kepala desa saat itu masih dengan cara
penunjukkan karena saat itu memang belum ada Pilkades atau pemilihan Kepala Desa. Beliau
menjabat kepala desa hanya sebentar kurang lebih selama hampir 4 tahun, hal ini karena
diperkirakan lurah Surojoyo menjabat mulai tahun 1904 dan berakhir pada tahun 1908.
Meskipun sebentar menjadi Kepala Desa Kalisampurno, karena jasa beliau nama beliau
dijadikan nama jalan desa.

Kelima, Sarikerto Tahun 1908 – 1935, masa kepemimpinan Kepala Desa Sarikerto
sangatlah sulit karena pada masa itu merupakan peralihan penjajahan belanda digantikan oleh
jepang. Banyak masyarakat yang mengadu kepada kepala desa karena sistem tanam paksa yang
dilakukan jepang. Sarikerto tetap memperjuangkan apa yang menjadi hak petani desa. Karena
penjajahan Jepang yang begitu kejam, banyak warga desa Kalisampurno melakukan pengungsian
ke tempat yang aman, ada yang sampai ke Pasuruan, Malang, Probolinggo, hingga banyuwangi.
Sebagai seorang pemimpin Sarikerto tetap bertahan di tanah kelahiran untuk mempertahankan
tanah air tercinta hingga pada tahun 1935 beliau tidak sanggup melanjutkan tugasnya karena
tutup usia.
Keenam, Sarirejo Tahun 1935 – 1940, setelah habis masa tugas dan perjuangan lurah
Sarikerto sebagai kepala desa, kepemimpinan desa Kalisampurno dilanjutkan oleh Sarirejo yang
terkenal dengan istilah mbah lurah jo. Mbah lurah jo dipilih dengan cara pemilihan, tetapi tidak
seperti Pilkades saat ini, uniknya yang memilih kepala desa karena tidak sebegitu banyaknya
masyrakat maka yang memilih berbaris dengan jongkok di belakang calon kepala desa dan
akhirnya banyak warga yang berbaris jongkok di belakang mbah lurah jo. Kepemimpinan mbah
lurah jo meneruskan apa yang dilakukan oleh Sarikerto, tidak begitu banyak perubahan tentang
kebijakan yang ada.

Ketujuh, Tatak Hadi Suryo Tahun 1940 – 1981, selama kurang lebih empat puluh satu
tahun, kepala desa Tatak Hadi Suryo banyak melakukan perubahan dalam administrasi desa,
perangkat desa Kalisampurno sudah mulai tertata, hal ini dibuktikan dengan sudah adanya posisi
perangkat desa carik merupakan sekeretaris desa, petengan yang berfungsi untuk menjaga
keamanan desa, tuwowo yang berfungsi mendistribusikan pengairan, bayan yang bertugas
memimpin diwilayah dusun atau saat ini dinamakan kasun, moden yang bertugas untuk
pengurusan orang meninggal dunia, dll. Kepala desa Tatak Hadi Suryo banyak melakukan
kebijakan terutama di bidang pertanian, petani sangat bersyukur dengan hasil yang didapat.
Kepemimpinan kepala desa Tatak Hadi Suryo juga mengalami kendala karena selama
kepemimpinannya ada peristiwa besar seperti kemerdekaan Republik Indonesia, peristiwa G30S-
PKI. Kediaman kepala desa Tatak Hadi Suryo masih berdiri kokoh di RT. 01 RW. 01 Desa
Kalisampurno, karena kebesaran jasa beliau dijadikan nama jalan di wilayah tersebut.

Kedelapan, Katam Tahun 1982 – 1998, Katam merupakan kelahiran Sidoarjo 08 Mei
1948. Pada saat kepemimpinan Kepala Desa Katam banyak kebijakan-kebijakan yang
bermanfaat baik untuk masyarakat maupun untuk pemerintahn desa, diantara gagasannya adalah
meminta sebagian sawah gogol yang sedang digarap masyarakat, karena sebenarnya status sawah
gogol yang ada di tangan masyarakat adalah masih berstatus hak pakai karena saat itu belum ada
sawah yang bersertifikat. Tujuan meminta sebagian dari sawah gogol tersebut adalah untuk
dijadikan inventaris desa berupa sawah kemakmuran yang hasilnya dijadikan sebagai sumber
keuangan desa yang sekarang terkenal dengan istilah APB-Des (Anggaran pendapatan dan
Belanja Desa), hal ini karena saat itu itu belum ada kucuran dana subsidi baik dari pemerintah
pusat maupun pemerintah daerah setingkat propinsi ataupun Kabupaten. Disamping itu, dengan
adanya sawah kemakmuran tersebut sedikit banyak terjadi pemerataan ekonomi masyarakat, hal
ini karena dalam mengerjakan sawah kemakmuran kepala desa melibatkan masyarakat.
Kepemimpinan kepala desa Katam dalam sistem pemerintahan, administrasi, perangkat desa
Kalisampurno sudah tertata.

Kesembilan, Ikhwanul Muslimin Tahun 1998 – 2007, melalui Pilkades estafet


kepemimpinan desa Kalisampurno kemudian dilanjutkan oleh Ikhwanul Muslimin sebagai
kepala desa terpilih, beliau adalah putra dari mantan kepala desa Katam. Ikhwanul Muslimin
melakukan pengembangan pembangunan sangat pesat seperti pembangunan pemukiman warga
yang dibangun diatas tanah sawah yaitu adanya Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera II
(Perum TAS II). Banyak orang berbondong-bondong untuk masuk di wilayah Desa
Kalisampurno, jumlah perpadatan penduduk semakin meningkat begitu cepat.

Kesepuluh, Drs. Achmad Rifai Tahun 2007 – 2013, Pilkades Desa Kalisampurno
dilaksanakan pada pertengahan tahun 2007 dan terpilihlah seorang Bapak pemimpin kelahiran
Sidoarjo, 15 Juli 1946 yang bernama Drs. Achmad Rifai sebagai Kepala Desa Kalisampurno.
Sebelum menjadi seorang Kepala Desa, beliau adalah seorang guru, banyak program-
programnya tentang pengembangan Pendidikan untuk kemajuan Desa.

Kesebelas, H. Nuryono Tahun 2013 – Oktober 2019. H. Nuryono adalah pribumi asli Desa
Kalisampurno yang sangat disegani oleh Masyarakat. H. Nuryono seorang Kepala Desa
kelahiran Sidoarjo, 10 Agustus 1960. Selama kepemimpinannya peningkataan di sektor
perekonomian desa meningkat dengan pesat. Beliau merupakan pengusaha sukses, karena
kelincahan dalam bidang usaha, di awal kepemimpinanya mendirikan sebuah pasar desa dan
diberi nama Pasar Desa Sampurna.

Keduabelas, Slamet Riadi Tahun 2019 – Februari 2021. Seorang Penjabat Kepala Desa
Kalisampurno. Karena masa Berakhirnya kepemimpinan H. Nuryono, untuk mengisi kekosongan
kursi kepemimpinan hingga terpilihnya kepala desa terpilih yang baru. Pilkades tidak bisa segera
dilaksanakan karena adanya wabah virus corona dan kepemimpinan sejatinya hanya 1 tahun atau
sampai terpilihnya Kepala Desa definitif, maka perpanjangan Pj. Kepala Desa dilakukan sampai
Kepala Desa baru dilantik. Masa kerja beliau 1 Tahun 4 Bulan, beliau merupakan pegawai
Kecamatan Tanggulangin di bidang Kasi Pemerintahan.

Ketigabelas, Dedi Purwandoyo Februari 2021 – Sekarang.

Desa mempunyai sejarah kepemimpinan Desa yang dahulu seorang pemimpin desa
disebut Lurah dan sekarang telah diganti nama dengan Kepala Desa sesuai dengan peraturan
pemerintah.

D. Kondisi Geografis

Desa kalisampurno terdiri dari hamparan dataran tanah dan sawah pertanian. Desa
kalisampurno dilewati oleh aliran sungai dari ujung selatan hingga ujung timur desa yang
digunakan sebagai irigasi lahan pertanian dan juga di manfaatkan untuk pembungan air hujan
dari penjuru desa. Desa kalisampurno tergolong wilayah yang dekat dengan akses jalan raya
surabaya – malang yang berada sekitar 300 meter yang terletak di sebelah timur, dan jalan raya
tanggulangin – tulangan yang terletak di sisi utara desa.

Sebelah utara Desa Kalisampurno berbatasan dengan Desa Kludan Kecamatan


Tanggulangin, di sebelah timur berbatasan langsung dengan Desa Katapang Kecamatan
Tanggulangin, di sebelah selatan berbatasan langsung dengan Desa Wunut Kecamatan Porong
dan di sebelah barat berbatasan langsung dengan Desa Kedensari Kecamatan Tanggulangin.

Daftar Pustaka
1. Arsip Sejarah Desa Kalisampurno
2. Bapak Dedy Purwandoyo selaku Kepala Desa Kalisampurno
3. Seluruh Perangkat Desa Kalisampurno
4. Sesepuh Desa Kalisampurno
5. Pemuda-Pemudi Desa Kalisampurno
6. Buku sejarah kalisampurno edisi pertama tahun 2015 karya Karang Taruna Aditya Karya
Desa Kalisampurno.

Tim Penulis

1. Maulidia Nur Rachmah


2. Dewi Ratih Aprilia
3. Feby Leonica Hidayat
4. I Gusti Ramadhan
5. Miftakul Jannah