Anda di halaman 1dari 10

5) a)

Reaksi Substitusi Elektrofilik Unimolekuler dan Mekanismenya Bagaimana pengaruh struktur alkil halida dalam reaksi substitusi elektrofilik unimolekuler (SE1). Jawab : Reaktivitas alkil halida dalam dalam reaksi substitusi dapat mempengaruhi mekanisme reaksi. Reaksi substitusi SE1, laju reaksi alkil halida 30 > 20 > 10. jadi alkil halida yang dapat melakukan eaksi SE1 adalah alkil halida tersier dan sekunder. Alkil halida primer dapat melakukan reaksi SE1 dalam bentuk alilik dan benzilik. (R3)3 CX > (R2) CH X > RC H2 X > CH3X Reaksi substitusi SE2 laju reaksi alkil halida 10 > 20 > 30. jadi alkil halida primer lebih cenderung pada reaksi SE2, laju reaksi CH3Cl > CH3CH2Cl. b) Bagaimana pengaruh pelarut dalam reaksi substitusi elektrofilik (SE1). Jawab : Pengaruh pelarut dalam reaksi substitusi dan eliminasi terletak pada kemampuan atau ketidakmampuan pelarut mensolvasi ion-ion : karbokation, nukleofil/basa, dangugus lepas/pergi, kemampuan pelarut mensolvasi ditentukan oleh kepolaran pelarut tersebut. Pelarut polar membantu menstabilkan karbokation dengan jalan solvasi. Jadi pelart yang polar reaksi SE1 sedangkan pelarut yang kurang polar atau non polar lebih cenderung ke SE2.

6) a.

Reaksi Substitusi Elektrofilik Bimolekuler dan Mekanismenya Tuliskan persamaan reaksi umum untuk reaksi substitusi elektrofil bimolekuler (SE2) beserta keterangannya. Jawab : Persamaan reaksi umum untuk reaksi SE2 : R H + E+ Dimana : R-H E+ H+ RE : substrat : elektrofil : ion hidrogen : produk reaksi R E + H+

Reaksi substitusi elektrofilik dapat terjadi pada senyawa alifatis dan senyawa aromatis. b. Bagaimanakah mekanisme reaksi substitusi elektrofil (SE ) untuk senyawa 2 propana yang direaksikan dengan suatu elektrofil. Jawab : H3C - CH2 - CH2 + E+ H3C - CH2 - CH2 + H+ n-

7) a)

Reaksi Substitusi Elektrofilik Senyawa Aromatik dan Mekanismenya Jelaskan bagaimana pengaruh gugus penarik elektron (EWG) dalam reaksi substitusi senyawa aromatik. Jawab : Senyawa derivate halide benzena dapat bereaksi dengan nukleofil jika pada posisi orto dan para ada gugus deaktivasi (adanya substituen yang menarik elektron pada cincin). Substituen penarik elektron menyebabkan cincin miskin elektron dan menjadi lebih menarik bagi nukleofil yang menyerang.

EWG

EWG

EWG

Semakin banyak EWG yang terikat pada aril halida semakin mudah untuk melakukan reaksi substitusi, terutama gugus EWG yang terikat pada gugus orto dan para. b) Bandingkan pengaruh gugus aktivasi dan gugus deaktivasi dalam reaksi substitusi elektrofil senyawa aromatik. Jawab : Benzena tersubstitusi yang mempunyai gugus aktivasi dapat melakukan reaksi SE lebih cepat daripada benzena yang mempunyai gugus deaktivasi akan lebih lambat dalam melakukan reaksi SE. Gugus aktivasi akan mengakibatkan energi aktivasi menjadi lebih rendah sehingga laju reaksi lebih tinggi. Benzena tersubstitusi dengangugus aktivasi merupakan pengarah orto dan para, sedangkan gugus deaktvasi merupakan pengarah beta. 8) a) Reaksi Substitusi Radikal Bebas dan Mekanismenya Bandingkan antara konsep reaksi radikal bebas dan konsep reaksi substitusi radikal bebas. Berikan contoh. Jawab : Reaksi radikal bebas Radikal bebas merupakan atom atau grup atom yang memiliki sebuah elektron tidak berpasangan/bebas. Radikal bebas dibentuk jika ikatan terbelah menjadi dua yang sama dan setiap atom mendapat satu dari dua elektron yang dipakai untuk berikatan. Contoh : Radikal klorin Cl

Reaksi substitusi radikal bebas Reaksi substitusi radikal bebas merupakan reaksi yang berhubungan dengan radukal bebas. Mekanismenya menyangkut reaksi berantai. Pada reaksi berantai untuk setiap penonaktifan yang terjadi pada suatu bagian, bagian lain menjadi aktif sehingga proses terus berlangsung. Contoh : CH3 + Cl CH2 + HCl

CH2 + Cl2

CH2Cl + Cl

b)

Bandingkan antara konsep inisiasi rantai dan konsep propagasi rantai, dengan menggunakan contoh. Jawab : Inisiasi Rantai Rantai terinisiasi oleh sinar ultraviolet yang memutuskan molekul klorin menjadi radikal. Cl2 Reaksi propagasi rantai Berikut ini merupakan reaksi yang membuat reaksi terus berjalan CH3 + Cl CH2 + HCl 2Cl

CH2 + Cl2

CH2Cl + Cl

9) a)

Reaksi Adisi Elektrofilik dan Mekanismenya Bandingkan pengaruh kestabilan karbokation (C+) dan hyperkonjugasi terhadap produk rekasi dalam reaksi adisi elektrofil HX. Berikan contoh. Jawab : Kestabilan karbokation (C+) Produk reaksi dalam reaksi adisi elektrofil HX dipengaruhi oleh kestabilan karbokation (C+) dimana karbokation 30 > 20 > 10. R R H

RCR
+

RCH
+

RCH
+

30 Hyperkonyugasi

20

10

Produk reaksi dipengaruhi oleh banyaknya hyperkonyugasi, semakin banyak hyperkonyugasi semakin stabil produknya. Kadang-kadang diikuti dengan reaksi penataan ulang terutama untuk kestabilan produk reaksi. CH3 CH3

H3C C H
+

H3C C CH3
+

6 hyperkonyugasi

9 hyperkonyugasi

Bandingkan antara konsep reaksi adisi elektrofil X2 dengan konsep reaksi adisi elektrofil H2 O. Jawab : Reaksi adisi elektrofil X 2 Cl2 dan Br2 merupakan adisi halogen yang sering digunakan pada senyawa ikatan rangkap tak jenuh.senyawa X2 diatas sering digunakan untuk uji kualitatif senyawa alkena dan alkuna di laboratorium. F2 dan I2 bukan pereaksi yang berguna dalam reaksi adisi ikatan rangkap tak jenuh. Fluor mudah meledak dalam senyawa organik sedangkan I2 memang dapat mengadisi ikatan rangkap, tetapi produk1,2-diiodoalkana tidak stabil mudah melepaskan I2 dan membentuk kembali senyawa alkena. Reaksi adisi elektrofil H2 O Reaksi adisi elektrofil senyawa hidrokarbon tak jenuh dengan air menggunakan katalis asam sebaiknya tidak menggunakan asam HX karena selain menghasilkan senyawa alkohol (senyawa target) juga menghasilkan senyawa alkil halida. Untuk menghindari hal diatas sebaiknya menggunakan asam sulfat H2SO4. reaksi adisi elektrofil ini mengikuti aturan markownikoff
http://tinangkung.blogspot.com/2010/04/tugas-organic-lanjut.html

Substitusi elektrofilik
Kata Kunci: substitusi elektrofilik Ditulis oleh Jim Clark pada 23-09-2004

Latar belakang Substitusi elektrofilik terjadi pada banyak reaksi yang mengandung cincing benzen (arene). Untuk mempermudah sebelumnya kita akan melihat hanya pada cincin benzen. Ini yang perlu anda mengerti untuk mekanisme substitusi elektrofilik:
y y

Benzen, C6 H6, adalah molekul planar yang berupa cincin dari 6 buah karbon yang masing-masing terikat pada hidrogen. Terjadi delokalisasi pada bagian atas dan bawah dari bidang planar cincin.(lihat gambar).

y y

Keberadaan dari elektron yang terdelokaslisasi ,embuat benzen stabil. Benzen memolak reaksi adisi sebab akan mengakibatkan hilangnya delokalisasi yang membuat hilangngnya stabilisasi.

Benzen dilambangkan dengan simbol berikut ini, dimana cincin melambangkan elektron yang terdelokalisasi dan setiap sudut dari segienam merupakan atom karbon yang berikatan dengan hidrogen

Reaksi substitusi elektrofilik diakibatkan ol eh ion positif Benzen dan elektrofil Karena elektron yang terdelokalisasi ter-exposed di bagian atas dan bawah dari bidang planar tempat molekul carbon berada, benzen menjadi sangat tertarik pada elektrofil (atom/molekul yang mencari daerah yang kaya akan elektron pada molekul yang lain. Elektrofil bisa merupakan ion positif, atau bagian yang yang memiliki polaritas positif pada sebuah molekul. Elektron yang terdelokalisasi pada bagian atas dan bawah dari bidang planar molekul benzen sangat mudah diserang, sama seperti bagian atas dan bawah pada molekul eten. Namun hasil keduanya tidaklah sama.

Jika benzen mengalami reaksi adisi sama seperti eten sebagian dari elekton yang terdelokalisasi harus berikatan dengan atom atau grup yang baru. Sehingga delokalisasi akan terputus, dan ini membutuhkan energi. Sebaliknya, delokalisasi akan bisa tetap dipertahankan jika atom hidrogen digantikan dengan sesuatu yang lain (reaksi substitusi). Atom hidrogen tidak memiliki hubungan dengan dislokalisasi.

Pada kebanyakan reaksi dengan benzen, elektrofil merupakan ion positif dan reaksi ini memiliki suatu pola general. Mekanisme general Tahap pertama Seandainya elektrofil merupakan ion positif X+. Dua dari elektron pada sisten yang terdeloakalisai tertarik kearah X+ dan membentuk ikatan. Sehingga terjadi pemutusan dislokalisasi, walaupun tidak seluruhnya.

Ion yang terbentuk pada tahap ini bukan merupakan hasil akhir. Tahap ini hanya merupakan tahap antara. Hasilnya merupakan hasil antara.

Masih terjadi delokalisasi pada hasil antara, namun hanya pada sebagian daerah dari ion. Ion pada hasil antara bermuatan positif sebagai hasil dari penggabungan molekul netral dan ion positif. Muatan positif ini lalu menyebar sepanjang daerah yang terdelokalisasi pada cincin. Anda cukup menggambarkan + pada bagian tengah cincin untuk menunjukkan hal ini. Hidrogen pada bagian bagian atas dari gambar bukanlah hidrogen yang baru, hidrogen tersebut sudah berikatan pada carbon yang sama sebelum reaksi. Dan untuk lebih memperjelas reaksi selanjutnya hidrogen tersebut perlu dituliskan. Tahap kedua

Disini kita akan memerkenalkan ion baru, Y-. Darimana ini datang? Anda harus ingat bahwa tidak mungkin untuk mendapatkan positif ion saja pada suatu sistem kimia. Jadi ion Ymerupakan ion yang sebelumnya berikatan dengan X+.

Elektron tidak berpasangan pada Y- membentuk ikatan dengan atom hidrogen pada bagian atas dari cincin. Ini berarti bahwa pasangan dari elektron yang menghubungkan hidrogen dengan cincin tidak diperlukan lagi. Bagian tersebut lalu bergerak kebawah dan mengisi ruang kosong pada daerah dislokalisasi elektron dan mengembalikan dislokalisasi elektron seperti semula. Sehingga stabilitas benzen-pun kembali. Energi pada reaksi Dislokalisasi sempurna terputus sementara saat X menggantikan H pada cincin dan ini membutuhkan energi. Namun energi tersebut terbayar saat dislokalisasi kembali terbentuk. Energi awal yang diperlukan menjadi energi aktivasi dari reaksi (sekitar 150 kJ mol-1), dan ini berarti reaksi benzen memiliki kecepatan reaksi yang lambat. Substitusi elektrofilik yang tidak diakibatkan ion positif Halogenasi dan sulfonisasi Pada reaksi ini, elektrofilik merupakan molekul dengan polaritas positif (bukannya ion positif). Reaksi ini akan dibahas pada bagian lain dari site ini.
http://www.chem-istry.org/materi_kimia/mekanisme_reaksi_organik/substitusi_elektrofilik1/substitusi_ele ktrofilik/ Kemudahan benzena mengalami reaksi substitusi elektrofilik menyebabkan benzena memiliki banyak senyawa turunan. Semua senyawa karbon yang mengandung cincin benzena digolongkan sebagai turunan benzena. Berikut ini beberapa turunan benzena yang um um: http://lapheniapunablog.blogspot.com/2010/05/senyawa -turunan-benzena.html regio c itu arah tertentu

Iya benar, semestinya gugus pendorong elektron itu akan menghasilkan subtituen pada orto dan para. Dan gugus penarik elektron itu meta. Kita bisa lihat dari mekanisme resonansinya, gugus pendorong elektron akan menyebabkan muatan negatif pada posisi orto dan para, sehingga serangan elektrofil (E+) akan di orto dan para juga.

danang <danang@...> wrote:


maaf, setahu saya untuk pengarah orto dan para itu atom yang berikatan langsung dengan cincin benzena harus mempunyai pasangan elektron menyendiri seperti ( OH, -NH2, -X/halogen), kecuali alkil. den semua ini mengaktivasi cincin kecuali halogen (yang mendeaktivasi)... sedangkan untuk posisi meta, atom yang berikatan dengan cincin benzena tidak mempunyai pasangan elektron bebas seperti (NO2, CHO dll)... jadi menurut saya penjelasan anda terbalik... Terima kasih...

Danang Widya Wardhana ----- Original Message ----From: chandra_oki To: kimia_indonesia@yahoogroups.com Sent: Wednesday, February 14, 2007 11:30 AM Subject: [kimia_indonesia] Re: Penentuan Posisi Ortho

bentuk meta,orto, dan para sangat ditentukan oleh gugus yan telah melekat sebelumnya.sebagai contoh kalo benzen mengikat OH.krn O memiliki elektronegativitas yg tinggi mk cenderung membentuk posisi meta pada substitusi selanjutnya, tp jk lebih dulu mengikat NO yang memiliki sifat elelktro positif(pada N yg digunakan untuk berikatan)mk cenderung membentuk orto dan para pada reaksi substitusi berikutnya.hal demikian disebabkan pada posisi tersebut siklik benzen lebih stabil.jadi kesimpulannya penentuan orto, meta,dan para tergantung pada gugus awal yang mengikat benzen by;