Anda di halaman 1dari 7

MODUL PERSEMAIAN/PEMBIBITAN

OLEH:
KANSIH SRI HARTINI
DWI ENDAH WIDYASTUTI






STAFF PENGAJAR DEPARTEMEN KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA







DIKLAT WAS-GANISPHPL-BINHUT
JULI 2010

MODUL : PERSEMAIAN DAN PEMBIBITAN


Tujuan

Tujuan modul adalah agar peserta pelatihan setelah mengikuti pelatihan ini, dapat
memahami dan menjelaskan:
1. Pengertian dan fungsi pembibitan dan persemaian
2. Beberapa petunjuk teknis mengenai pembibitan dan persemaian
3. Aspek-aspek kegiatan pembibitan dan persemaian
4. Perencanaan pembibitan dan persemaian
5. Pelaksanaan kegiatan pembibitan dan persemaian

1. Pengertian dan Fungsi Pembibitan dan Persemaian

Pembibitan/persemaian didefinisikan sebagai suatu tempat yang digunakan
untuk menyemaikan benih suatu jenis tanaman den gan perlakuan tertentu dan
selama periode waktu yang telah ditetapkan. Tujuan utama pembuatan pembibitan
adalah sebagai upaya penyediaan bibit yang berkualitas baik dalam jumlah yang
memadai, sesuai dengan rencana penanaman.
Terdapat beberapa permasalahan yang seringkali menghambat keberhasilan
persemaian. Permasalahan tersebut adalah:
a. Tiadanya tenaga kerja yang memadai
b. Pengadaan bahan dan peralatan yang tidak sesuai dengan kebutuhan di
persemaian
c. Kurangnya persediaan air untuk menyiram
d. Pengadaan benih yang tidak baik kualitasnya
Kegiatan pengadaan semai di persemaian adalah salah satu kegiatan dalam
periode regenerasi. Pada periode ini kegiatan persemaian, penanaman dan
pemeliharaan, merupakan kegiatan yang berurutan. Bila terjadi kegagalan pada
persemaian akan mempengaruhi kegiatan berikutnya. Kegagalan yang sering timbul
di persemaian antara lain:

a. Kondisi semai yang tidak memenuhi baik kualitas maupun kuantitas
b. Target yang tidak dapat diselesaikan tepat pada waktunya

2. Beberapa Petunjuk Teknis Mengenai Pembibitan dan Persemaian

Petunjuk teknis tentang pembibitan dan persemaian dapat dijumpai pada:
a. SK Dirjen PH no. 151/Kpts/IV-BPHH/1993 tentang Pedoman Tebang Pilih
Tanam Indonesia
b. SK Menhut No. 206/ Kpts-II/1995 tentang Pedoman Teknis Penyelenggara an
Pembuatan Hutan Tanaman Industri


3. Aspek-aspek Kegiatan Pembibitan dan Persemaian
Terdapat beberapa aspek kegiatan yang harus dipenuhi untuk memperlancar
kegiatan persemaian. Aspek-aspek kegiatan tersebut antara lain:
a. Pemilihan lokasi persemaian
b. Perencanaan kegiatan persemaian
c. Pelaksanaan kegiatan persemaian
Pemilihan Lokasi Persemaian
Pada umumnya persemaian mempunyai 2 tipe, yaitu persemaian tetap dan
persemaian sementara/tidak tetap. Kedua tipe persemaian mempunyai persyaratan -
persyaratan yang agak berbeda. Persemaian tidak tetap membutuhkan persyaratan
yang lebih sedikit dibanding dengan persemaian tetap. Perbedaan antara keduanya
adalah sebagai berikut:
Persemaian sementara
Ciri-ciri:
1. Tidak terlalu luas, hanya untuk beberapa kali produksi bibit
2. Umumnya digunakan dalam jangka waktu 1-3 tahun, paling lama 5 tahun
3. Letak berpindah-pindah sesuai lokasi penanaman
4. Bentuk bangunan sederhana


Keuntungan persemaian sementara:
1. Biaya pengangkutan bibit yang dikeluarkan lebih murah
2. kondisi ekosistem di pembibitan mirip dengan di lapangan

Kerugian persemaian sementara:
1. Kadang-kadang hasil yang diperoleh kurang memuaskan karena kurangnya
tenaga yang terlatih
2. Biaya mahal karena tersebarnya pekerja-pekerja dengan hasil yang dicapai
rendah

Persemaian tetap
Ciri-ciri:
1. Umumnya berukuran luas
2. Digunakan dalam jangka waktu yang lama
3. Bentuk bangunan modern dan permanent
4. Peralatan lebih canggih.

Keuntungan persemaian tetap:
1. Bila tidak menggunakan media dalam polybag maka pengolahan tanahmya
memungkinkan dilakukan secara mekanis
2. Pengawasan dapat lebih efisien (tenaga terlatih dan tidak menyebar)
3. Penerapan teknologi persemaian lebih mudah dilaksanakan untuk
meningkatkan kualitas tanaman
4. Administrasi bibit lebih mudah dilaksanakan

Kerugian persemaian tetap:
1. Biaya transportasi bibit lebih mahal
2. Persentase kerusakan bibit dalam transportasi tinggi

Untuk memilih lokasi persemaian tetap perlu dipertimbangkan persyaratan
baik aspek fisik, sosial ekonomi, dan teknis. Persyaratan yang dipertimbangkan
adalah:
Aspek Teknis:
Dari aspek ini faktor-faktor yang harus dipertimbangkan adalah:
a. Lokasi tanaman
b. Adanya jalan angkutan darat atau jalur angkutan air
c. Luas persemaian. Luas persemaian yang diperlukan, dapat diperhitungkan
dengan rumus-rumus yang sering dipergunakan adalah :

Luas persemaian = x (luas bedengan tabur + sapih)

Luas bedengan sapihan dapat diperhitungkan dengan jumlah produksi
bibit/semai yang dihasilkan. Sedangkan luas bedengan tabur dapat diperkirakan
dari jumlah benih yang akan ditabur. Untuk mencari luas bedengan sapih
dipergunakan rumus sebagai berikut:
Rumus 1 = L = TB xW , dimana L = luas areal bedengan sapih (m2)
T = jumlah semai yang akan dihasilkan
D = jumlah semai setiap m2
W = lebar bedengan sapih (m)
Contoh:
T = 100.000 batang semai
D = 100 semai
W= 1 m
Maka: luas areal untuk bedengan sapih = x x 1 m2 = 1.000 m2, atau
bila panjang bedengan sapih 5 m, akan dibutuhkan bedengan sapih sebanyak 200
buah. Pada umumnya besaran angka ini ditambah sekitar 10-15% untuk angka
keamanan.
Selanjutnya untuk mencari luas areal bedengan tabur dapat dipergunakan rumus
yang sama, tetapi dengan beberapa pertimbangan sebagai berikut:
- Angka T = harus ditambah dengan perkiraan besaran angka prosentase
kematian semai pada waktu dalam bedengan sapihan
- Angka D = jumlah semai di bedengan tabur perkesatuan luas (m2)
Sesuai dengan contoh di atas, bila kematian semai di bedengan sapih adalah 20%
maka semai yang dihasilkan dari bedengan tabur menjadi :
100.000 batang + ( x 100.000 batang) = 120.000 batang.
Luas bedengan tabur dapat diperhitungkan sebagai berikut:
L = x x 1 m2 = 240 m2 = 48 bedengan tabur (bila panjang
bedengan 5 m dan jumlah semai di bedengan tabur = 500 semai/m2)
Setelah luas bedengan sapih dan bedengan tabur diketemukan maka luas
persemaian dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Rumus 2 = A = x x m , dimana
A = luas persemaian dalam m2
L1 = luas bedengan tabur
L2= luas bedengan sapih

Atau luas persemaian = beuengn tb beuengn h x 100
Untuk perhitungan contoh di atas adalah:
Luas persemaian = x (240+1000) x 1 m2 = 2066,6 m2
Angka 60 di sini adalah 60% di mana luas areal produksi (bedengan tabur dan
bedengan sapih) biasanya menempati 60%, sedangkan fasilitas dan utilitas lain
seperti jalan, rumah, gudang, sarana pengairan, barak kerja dan kantor, luasnya
sekitar 40%.
d. Letak persemaian
Aspek Fisik:
Faktor yang sangat memerlukan keberhasilan persemaian antara lain:
a. Faktor air
b. Faktor kondisi tanah
c. Faktor kelerengan


Aspek Ketenagakerjaan:
Kegiatan persemaian merupakan kegiatan yang sangat erat dengan masalah
ketenagakerjaan. Untuk persemaian yang cukup luas, masalahketenagakerjaan
dalam arti kuantitas menjadi faktor yang sangat dominan dalam menentukan
keberhasilannya. Meskipun di beberapa negara maju atau ada beberapa
persemaian di negara berkembang telah mempergunakan tenaga mekanis, tetapi
justru kualitas atau ketrampilan tenaga operator ini yang sangat menentukan.