Anda di halaman 1dari 53

GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP DOKTER GIGI UMUM

TERHADAP DESAIN GIGI TIRUAN SEBAGIAN LEPASAN


(Kajian pada Dokter Gigi Umum)

LAPORAN PENELITIAN

SKRIPSI INI DIBUAT SEBAGAI KARYA TULIS ILMIAH


PROGRAM SARJANA KEDOKTERAN GIGI STRATA I
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS TRISAKTI

Dara Gloria Mestika Randa


NIM : 040001500181

Pembimbing :
drg. Andy Wirahadikusumah Sp. Pros

UNIVERSITAS TRISAKTI
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
JAKARTA
2020
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Gigi berperan penting bagi penampilan seseorang, disamping untuk fungsi pengunyahan
serta fungsi bicara. Gangguan pada gigi seperti karies, penyakit periodontal dan trauma dapat
mengakibatkan terjadinya kehilangan gigi.1 Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun
2018 menyatakan bahwa proporsi terbesar masalah gigi di Indonesia adalah gigi
rusak/berlubang/sakit (45,3%). Sedangkan masalah kesehatan mulut yang mayoritas dialami
penduduk Indonesia adalah gusi bengkak dan/atau keluar bisul (abses) sebesar 14%. 2
Penggunaan gigi tiruan untuk menggantikan gigi yang hilang penting dilakukan untuk
mengembalikan kondisi fungsional dan estetik pasien. Saat ini kesadaran masyarakat akan
kesehatan gigi semakin meningkat. Hal ini memungkinkan meningkatnya penggunaan gigi tiruan
sebagian pengganti gigi yang hilang.1

Kehilangan gigi merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut yang banyak muncul di
masyarakat karena sering mengganggu fungsi pengunyahan, bicara, estetis, bahkan hubungan
sosial. Karies dan penyakit periodontal merupakan penyebab utama penyakit ini. 3 Kehilangan
gigi yang terjadi dapat ditanggulangi dengan pembuatan restorasi berupa gigi tiruan sebagian
lepasan (GTSL) untuk menanggulangi kehilangan sebagian gigi dan gigi tiruan lepasan penuh
untuk menanggulangi kehilangan seluruh gigi.4

Komponen GTSL terdiri dari elemen gigi, cengkeram, dan basis, dimana basis pada gigi
tiruan sebagian lepasan dapat terbuat dari bahan logam atau akrilik. Bahan yang masih sering
dipakai sampai saat ini adalah resin akrilik. 5 Sebelum merancang GTSL untuk pasien tertentu,
klinisi harus memiliki pengetahuan yang mendalam tentang desain dan fungsi berbagai bagian
dan komponen GTSL.

Menempatkan komponen tanpa mengetahui alasannya atau menyampaikan kepada


tekniker untuk merancang GTSL yang tidak dilatih dapat berakhir dengan kegagalan protesa dan
perawatan secara keseluruhan.6 GTSL yang dirancang dengan baik dapat mengembalikan fungsi
mulut, estetika dan memberikan tekanan minimum pada jaringan keras dan jaringan lunak pada
rongga mulut. Sedangkan GTSL yang dirancang dengan buruk dapat mengakibatkan kehilangan
tulang periodontal, karies, gingivitis, kerusakan periodontal dan stomatitis jaringan pendukung.7

Dokter gigi bertanggung jawab penuh dalam mendesain GTSL karena dokter gigi yang
memahami kondisi biologis rongga mulut pasien dan faktor lain yang berhubungan dengan
desain GTSL. Hal ini sesuai dengan pernyataan The Academy of Prosthodontics bahwa
perencanaan perawatan, preparasi gigi penyangga dan mendesain GTSL merupakan tanggung
jawab dokter gigi. Desain GTSL harus berdasarkan prinsip desain yang bijaksana serta
pemeriksaan klinis yang teliti. Desain GTSL untuk masing-masing individu pasien harus
berdasarkan kondisi gigi yang tersisa dan kondisi rongga mulutnya.8

Dengan adanya prevalensi yang terus meningkat menurut riset yang telah dilakukan,
diperlukan pengetahuan dan sikap dokter gigi umum yang memadai. Peneliti ingin mengetahui
gambaran pengetahuan dan sikap dokter gigi umum terhadap desain gigi tiruan sebagian
lengkap.

B. Rumusan Masalah

Masalah penelitian ini dapat dirumuskan menjadi bagaimana gambaran pengetahuan dan
sikap dokter gigi umum terhadap desain gigi tiruan sebagian lepasan?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap
dokter gigi umum terhadap desain gigi tiruan sebagian lepasan.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi ilmu pengetahuan
Untuk memberi pemahaman lebih mengenai desain gigi tiruan sebagian lepasan.
2. Bagi profesi dokter gigi
Untuk menambah informasi tentang desain gigi tiruan sebagian lepasan dan sebagai salah
satu panduan dalam menentukan desain gigi tiruan sebagian lepasan.
3. Bagi masyarakat
Untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang bagaimana gigi tiruan yang
baik dan benar.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Gigi Tiruan Sebagian Lepasan
1. Pengertian Gigi Tiruan Sebagian Lepasan
Gigi tiruan sebagian lepasan (GTSL) adalah gigi tiruan yang menggantikan satu
atau beberapa gigi yang hilang pada rahang atas atau rahang bawah dan dapat dibuka
pasang oleh pasien.9 GTSL merupakan pilihan pengobatan alternatif yang dapat
menghemat biaya dan masih banyak digunakan untuk memulihkan pasien yang
kehilangan sebagian giginya.10 GTSL juga merupakan bentuk perawatan yang dapat
diterima untuk memelihara atau meningkatkan fonetik, membangun atau meningkatkan
efisiensi pengunyahan, menstabilkan hubungan gigi dan mengembangkan estetika yang
diperlukan.11
2. Fungsi Gigi Tiruan Sebagian Lepasan
Suatu alat tiruan biasanya sebagai pengganti gigi yang sudah hilang dengan
maksud menghindari akibat-akibat yang tidak diinginkan. Fungsi gigi tiruan sebagian
lepasan (GTSL) dapat diungkapkan dalam suatu kalimat singkat yaitu “memulihkan apa
yang sudah hilang, sambil melestarikan apa yang masih ada”.
Fungsi GTSL adalah memperbaiki fungsi mastikasi, memulihkan fungsi estetik,
meningkatkan fungsi fonetik, serta mempertahankan jaringan mulut yang sudah ada agar
tetap sehat.
a) Pemulihan Fungsi Estetik
Alasan utama seorang pasien mencari perawatan prostodontik biasanya
karena masalah estetik, terutama yang disebabkan hilangnya gigi sehingga
menyebabkan berubahnya bentuk wajah. Sebaliknya, pasien pada umumnya dapat
menerima kenyataan hilangnya gigi, dalam jumlah besar sekalipun, sepanjang
penampilan wajahnya tidak terganggu. Mereka yang kehilangan gigi depan
biasanya mempunyai wajah dengan bibir masuk ke dalam sehingga wajahnya
terdistorsi pada dasar hidung, sedangkan dagunya menjadi tampak lebih kedepan.
Selain itu, timbul garis yang berjalan dari lateral sudut bibir dan lipatan-lipatan
yang tidak sesuai dengan usia penderita.
b) Peningkatan Fungsi Bicara
Alat bicara dapat dibagi dalam dua bagian. Bagian pertama, bagian yang
bersifat statis, yaitu gigi, palatum, dan tulang alveolar. Bagian kedua yang bersifat
dinamis, yaitu lidah, bibir, pita suara, dan mandibula. Alat bicara yang tidak
lengkap dan kurang sempurna dapat memengaruhi suara, misalnya pada pasien
yang kehilangan gigi depan atas dan bawah. Pada pasien ini, dapat timbul
kesulitan bicara, meskipun bersifat sementara.
Proses terbentuknya suara berawal dari laring, lidah, palatum dan dibantu
gigi-geligi sehingga akhirnya terbentuk suara. Rongga mulut dan sinus maksilaris
dalam hal ini berfungsi sebagai ruang resonansi.
c) Perbaikan dan Peningkatan Fungsi Pengunyahan
Secara umum dikatakan bahwa makanan harus dikunyah terlebih dahulu,
supaya proses pencernaan dapat berlangsung dengan baik. Sebaliknya,
pencernaan yang tidak sempurna dapat menyebabkan penurunan kesehatan secara
keseluruhan.
Pola kunyah seseorang yang kehilangan sebagian giginya biasanya
mengalami perubahan. Jika kehilangan beberapa gigi terjadi pada kedua rahang,
tetapi pada satu sisi, pengunyahan akan dilakukan semaksimal mungkin oleh
geligi asli pada sisi lainnya. Pada keadaan seperti ini, tekanan kunyah akan
dipikul satu sisi atau bagian saja. Dengan pemakaian gigi tiruan maka akan
meningkatkan efisiensi pengunyahan pasien.
d) Pelestarian Jaringan Mulut
Pemakaian GTSL berperan dalam mencegah atau mengurangi efek yang
timbul karena hilangnya gigi sehingga jaringan mulut yang tersisa tetap sehat.
e) Pencegahan Migrasi Gigi
Bila sebuah gigi dicabut atau hilang, gigi tetangganya dapat bergerak
memasuki ruang kosong tersebut. Migrasi seperti ini pada tahap selanjutnya
menyebabkan renggangnya gigi-gigi lain, selain gigi tersebut menjadi miring.
Dengan demikian, terjebaknya sisa makanan akan memudahkan terjadinya
akumulasi plak interdental.
Membiarkan ruang bekas gigi begitu saja juga akan mengakibatkan
terjadinya erupsi berlebih gigi antagonis dengan akibat serupa. Bila erupsi
berlebih ini sudah demikian hebat sehingga menyentuh tulang alveolar pada
rahang lawannya akan terjadi kesulitan dalan pembuatan protesa di kemudian hari
karena gigi yang sudah erupsi berlebih ini akan membuat ruang untuk menyusun
gigi antagonis menjadi sangat berkurang, bahkan tidak ada lagi.
f) Peningkatan Distribusi Beban Kunyah
Hilangnya sejumlah gigi yang banyak mengakibatkan bertambah beratnya
beban oklusal pada gigi yang masih tinggal. Keadaan ini akan memperburuk
kondisi periodontium, apalagi bila sebelumnya sudah ada penyakit periodontium.
Akhirnya, gigi menjadi goyang dan miring, terutama ke labial untuk gigi depan
atas. Bila perlekatan periodontium gigi-gigi ini kuat, beban berlebih tadi akan
menyebabkan abrasi berlebih pada permukaan oklusal/insisal atau merusak
restorasi yang dipakai.
Overerupsi gigi pada keadaan tertentu dapat juga mengakibatkan
terjadinya kontak oklusi prematur atau interferensi oklusal. Pola kunyah jadi
berubah, karena pasien berusaha menghindari kontak prematur ini. Walaupun
beban oklusal sekarang jadi berkurang, perubahan pola ini mungkin saja
menyebabkan disfungsi otot kunyah.12
3. Komponen Gigi Tiruan Sebagian Lepasan
a) Cengkeram
Cengkeram kawat adalah jenis cengkeram yang lengannya terbuat dari
kawat jadi. Ukuran yang sering dipakai untuk keperluan pembuatan gigi tiruan
sebagian adalah yang bulat dengan ukuran 0,7mm untuk gigi anterior dan 0,8mm
untuk gigi posterior.
Syarat yang harus dipenuhi dalam pembuatan cengkeram yaitu antara
lain :
1) Sandaran dan bahan tidak boleh mengganggu oklusi maupun artikulasi
2) Lengan cengkeram melewati garis survei
3) Ujung lengan cengkeram harus bulat
4) Tidak ada bekas tang dan lekukan yang rusak
Cengkeram kawat oklusal yang masing-masing dibagi menjadi beberapa bentuk,
yaitu :
1) Cengkeram tiga jari
Cengkeram ini dibentuk dengan menyoldir lengan-lengan kawat pada
sandaran atau menanamnya kedalam basis.

Gambar 1. Cengkeram tiga jari.13

2) Cengkeram dua jari


Berbentuk sama seperti akers clasp tetapi tanpa sandaran, yang bila perlu
dapat ditambahkan berupa sandaran cor. Tanpa sandaran, cengkeram ini
dengan sendirinya berfungsi retentif saja pada protesa dukungan jaringan.

Gambar 2. Cengkeram dua jari.13

3) Cengkeram jackson
Indikasi pemakaian cengkeram ini sama seperti cengkeram dua jari.
Gambar 3. Cengkeram Jackson.13

4) Cengkeram setengah jackson


Cengkeram ini disebut juga cengkeram satu jari atau cengkeram C.

Gambar 4. Cengkeram setengah Jackson atau cengkeram C.13

5) Cengkeram S
Berbentuk seperti huruf S, cengkeram ini bersandaran pada singulum gigi
kaninus. Biasa dipakai untuk kaninus bawah, dapat pula digunakan untuk
kaninus atas.14
Gambar 5. Cengkeram S.13

6) Cengkeram Panah (Arrow Crib)


Disebut Panah, karena berbentuk anak panah yang ditempatkan pada
interdental gigi, dan diperuntukkan bagi anak-anak dimana retensi kurang.
Itulah sebabnya cengkeram ini dipakai untuk protesa sementara selama
masa pertumbuhan.

Gambar 6. Cengkeram Panah.15

7) Cengkeram Adam
Cengkeram ini merupakan penahan langsung Ortodontik
Gambar 7. Cengkeram Adam.15

8) Rush Anker Crib

Gambar 8. Rush Anker Crib.15

Cengkeram kawat gingival yang masing-masing dibagi menjadi beberapa bentuk,


yaitu :
1) Cengkeram Meacock
Gambar 9. Cengkeram Meacock.15

2) Cengkeram Panah Anker

Gambar 10. Cengkeram Panah Anker.15

3) Cengkeram Ball
Gambar 11. Cengkeram Ball.15

4) Cengkeram C

Gambar 12. Cengkeram C.15

b) Basis Gigi Tiruan


Basis gigi tiruan merupakan salah satu komponen dari gigi tiruan yang
digunakan sebagai tempat anasir gigi tiruan dan bagian yang bersandar di atas
tulang yang tertutup oleh jaringan lunak. Basis gigi tiruan berfungsi sebagai
pengganti tulang alveolar yang telah hilang, mengembalikan estetik wajah,
mendukung elemen gigi tiruan dan menyalurkan gaya oklusal ke struktur
pendukung rongga mulut.
Syarat bahan basis gigi tiruan adalah tidak menyebabkan iritasi, memiliki
penampilan yang mirip dengan jaringan disekitarnya, memiliki stabilitas yang
baik, merupakan penghantar termal yang baik, memiliki permukaan yang keras
sehingga tidak mudah tergores atau aus serta halus dan mengkilat, memiliki
stabilitas warna yang baik, mudah dimanipulasi, mudah diperbaiki apabila terjadi
fraktur, mudah dibersihkan dan memiliki harga yang ekonomis.14 Bahan basis gigi
tiruan dapat terbuat dari bahan akrilik, metal-akrilik dan termoplastis.
Pada umumnya bahan akrilik masih sering diminati karena mudah
dimanipulasi, warna sesuai jaringan sekitar, dapat direparasi apabila terjadi
kerusakan dan biaya yang murah.16 Bahan akrilik juga memiliki kekurangan yaitu
adanya porositas. Dalam jangka waktu tertentu resin akrilik menunjukkan
kecenderungan menyerap air atau cairan.17
Saat ini bahan termoplastis mulai banyak diminati karena memiliki
keunggulan seperti kuat namun fleksibel sehingga tidak mudah patah, warna
translusen sehingga estetik baik, tidak memerlukan kawat cengkeram, namun
harga relative lebih mahal.16 Tetapi basis gigi tiruan bahan termoplastis ini juga
mempunya sifat fisik yang kurang menguntungkan yaitu pengerutan, perubahan
dimensi dan penyerapan air.17
c) Elemen Gigi
Elemen atau gigi tiruan merupakan bagian yang berfungsi menggantikan gigi
asli yang hilang. Seleksi gigi tiruan merupakan tahap yang cukup sulit dalam
proses pembuatan protesa, kecuali pada kasus dimana masih ada gigi asli yang
bisa dijadikan panduan atau mungkin sudah dilakukan rekaman pra ekstraksi gigi.
Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan gigi adalah ukuran gigi,
bentuk gigi, jenis kelamin, umur, warna gigi dan kondisi penderita.14

B. Tahap Pembuatan Gigi Tiruan Sebagian Lepasan


Pembuatan desain merupakan salah satu faktor terpenting sebagai penentu keberhasilan
atau kegagalan dalam pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan, sebuah desain yang tepat dapat
mencegah kerusakan jaringan pada mulut.13 Terdapat lima tahapan dalam pembuatan desain
yaitu :
1. Tahap I : Menentukan kelas dari masing-masing daerah tidak bergigi (sadel)
Daerah tidak bergigi pada suatu lengkungan gigi dapat bervariasi panjang,
macam, jumlah dan letaknya. Semua ini akan mempengaruhi rencana pembuatan desain
protesa, baik dalam bentuk sadel, konektor, maupun dukungannya. Menurut Applegate,
daerah tidak bergigi (DTG) dapat dibagi menjadi enam kelas dengan masing-masing
indikasi protesanya (IP) yaitu :
a) Kelas I Applegate-Kennedy
DTG : Sadel berujung bebas (free end) pada kedua sisi.
IP : Protesa lepasan, dua sisi (bilateral) dan dengan perluasan basisi ke distal.
b) Kelas II Applegate-Kennedy
DTG : Berupa sadel berujung bebas (free end) satu sisi.
IP : Protesa lepasan, dua sisi dan dengan perluasan basis ke distal.
c) Kelas III Applegate-Kennedy
DTG : Berupa sadel tertutup (paradental), kedua gigi tetangganya kuat, tetapi
tidak mampu memberikan dukungan (support) sepenuhnya.
IP : Protesa lepasan, dua sisi dan dengan dukungan dari gigi.
d) Kelas IV Applegate-Kennedy
DTG : Berupa sadel tertutup dan melewati garis tengah.
IP : Protesa cekat atau lepasan, dua sisi.
e) Kelas V Applegate-Kennedy
DTG : Berupa sadel tertutup dan gigi tetangga bagian depan tidak kuat menerima
dukungan.
IP : Protesan lepasan dua sisi.
f) Kelas VI Applegate-Kennedy
DTG : Berupa sadel tertutup dan kedua gigi tetangganya kuat.
IP : Protesa cekat atau lepasan, satu sisi dan dukungan dari gigi.
2. Tahap II : Menentukan macam dukungan dari setiap sadel
Bentuk daerah tidak bergigi ada dua macam yaitu daerah tertutup (paradental) dan
daerah berujung bebas (free end). Sesuai dengan sebutan ini, bentuk sadel protesa juga
dibagi dua macam dan dikenal dengan sebutan serupa, yaitu sadel tertutup atau
paradental (paradental saddle) dan sadel berujung bebas (free end saddle).
Ada tiga pilihan untuk dukungan sadel paradental, yaitu dukungan dari gigi, dari
mukosa, atau dari gigi dan mukosa (kombinasi). Sebaliknya, untuk sadel berujung bebas,
dukungan bisa berasal dari mukosa, atau dari gigi dan mukosa (kombinasi).18
Sebagai tahapan penting dalam proses pembuatan protesa, survei merupakan
prosedur diagnostik yang dapat menganalisis hubungan dimensional antara jaringan lunak
dan keras di dalam mulut. Survei diperlukan untuk menetapkan gigi yang akan dijadikan
penahan, lokasi penempatan cengkeram, dan lain-lain. Dengan melakukan survei
memungkinkan pembuatan geligi tiruan yang mudah dipasang dan dilepas oleh
pemakainya, enak dilihat dan dipakai pada saat mengunyah maupun istirahat, berfungsi
secara optimal, dapat menahan gaya-gaya pemindah yang cenderung melepas protesa dari
tempatnya, dan tidak menjadi jebakan sisa makanan antara celah gigi dan protesanya.12
Dukungan terbaik untuk protesa sebagian lepasan hanya dapat diperoleh jika
faktor-faktor berikut ini diperhatikan dan dipertimbangkan, yaitu keadaan jaringan
pendukung, panjang sadel, dan keadaan rahang yang akan dipasangi protesa.
3. Tahap III : Menentukan jenis penahan
Ada dua macam penahan untuk protesa, penahan langsung (direct retainer) yang
diperlukan untuk setiap protesa, dan penahan tidak langsung (indirect retainer) yang tidak
selalu dibutuhkan untuk setiap protesa. Faktor-faktor berikut perlu diperhatikan untuk
menentukan jenis penahan yang dipilih :
a) Dukungan dari sadel
b) Stabilisasi protesa
c) Estetika
4. Tahap IV : Menentukan jenis konektor
Untuk protesa resin, konektor yang dipakai biasanya berbentuk pelat. Pada protesa
kerangka logam, bentuk konektor bervariasi dan dipilih sesuai indikasinya. Kadang-
kadang pada protesa kerangka logam ini digunakan lebih dari satu konektor.
5. Tahap final : Menggabungkan semua bagian tersebut di atas menjadi suatu kesatuan
desain yang utuh

C. Kerja Sama Antara Dokter Gigi dan Tekniker.


Seorang dokter gigi biasanya melakukan proses diagnosis dan rencana perawatan yang
kemudian diteruskan dengan langkah-langkah awal perawatan, seperti preparasi mulut, prosedur
bedah dan seterusnya. Pekerjaan kemudian dilanjutkan tekniker setelah model kerja diperoleh
dari cetakan kedua. Pada saat pemasangan di dalam mulut, proses dilanjutkan lagi oleh dokter
gigi.
Dari ilustrasi di atas, terlihat jelas perlunya kedua pihak, doker gigi dan tekniker untuk
memahami semua aspek pekerjaannya masing-masing. Tanpa kerja sama dan pemahaman yang
baik antara semua pihak yang bersangkutan, perawatan dapat berakhir dengan ketidakpuasan.
Kerja sama yang baik hanya akan tercapai jika dilandasi saling pengertian dan pandangan
yang sama terhadap semua tugas yang akan dikerjakan bersama, selain adanya kesadaran
mengenai tugas dan tanggung jawab setiap pihak yang terlibat disini. Hasil yang lebih optimal
akan tercapai jika hal tersebut dilengkapi lagi dengan rasa saling menghormati dan percaya satu
sama lain.
Sesuai dengan pendidikan dan pengetahuan yang dikuasai, tugas seorang dokter gigi
adalah melaksanakan pelayanan dan perawatan kesehatan gigi dan mulut pasien sekaligus
bertanggung jawab atas hasil perawatan yang telah dilakukannya. Dalam pembuatan restorasi
dental, sudah sepantasnya jika dokter gigi yang menetapkan rencana desain protesa yang akan
diberikannya. Laboratorium teknik gigi berwenang melaksanakan pembuatan restorasi dental
sesuai dengan permintaan dokter gigi, oleh sebab itu, mereka tidak bertanggung jawab kepada
pasien, tetapi kepada dokter gigi yang mengirim pekerjaan kepadanya.18

D. Pengetahuan
1. Definisi Pengetahuan
Pengetahuan diartikan sebagai pemahaman atau informasi tentang subjek yang
diperoleh seseorang berdasarkan pengalaman atau studi dan yang ada dalam pikiran
seseorang atau yang dikenal oleh orang-orang pada umumnya. Istilah pengetahuan juga
sering digunakan untuk mengartikan teori atau praktik.19
2. Tingkat Pengetahuan
a) Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya,
termasuk mengingat kembali (recall) terhadap suatu rangsangan yang telah
diterima. Tahu (know) merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Cara
mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari meliputi menyebutkan,
menguraikan, mendefinisikan dan sebagainya.
b) Memahami
Memahami adalah kemampuan untuk menjelaskan secara benar objek yang
diketahui. Meskipun istilah “pemahaman” sudah sering terkait dengan membaca,
penggunaan pemahaman yang diletakkan di sini lebih luas karena terkait dengan
berbagai komunikasi yang lebih besar. Istilah “pemahaman” yang mencakup
tujuan, perilaku, atau tanggapan tersebut yang mewakili pemahaman pesan yang
terkandung dalam komunikasi.
c) Aplikasi
Aplikasi yaitu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada
situasi dan kondisi yang sebenarnya. Kategori aplikasi mengikuti aturan ini untuk
menerapkan sesuatu yang membutuhkan “pemahaman” dari metode, teori, prinsip
atau abstraksi yang diterapkan.
d) Analisis
Analisis yaitu kemampuan untuk menjabarkan suatu materi atau objek ke dalam
komponen-komponen tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut.
Analisis merupakan tingkat yang agak lebih maju daripada keterampilan
pemahaman dan aplikasi. Dalam pemahaman, penekanannya adalah pada
pemahaman makna dan maksud materi.
e) Sintesis
Sintesis yaitu kemampuan untuk menggabungkan bagian-bagian ke dalam suatu
bentuk tertentu yang baru. Sintesis dalam hal ini didefinisikan sebagai penyatuan
elemen dan bagian sehingga membentuk keseluruhan. Ini adalah proses dari
unsur-unsur, bagian, dll, dan menggabungkannya sedemikian rupa untuk
membentuk pola atau struktur.
f) Evaluasi
Evaluasi yaitu kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu objek
tertentu. Evaluasi didefinisikan sebagai pembuatan penilaian tentang nilai, untuk
beberapa tujuan, ide, karya, solusi, metode, material, dll. Evaluasi melibatkan
penggunaan kriteria serta standar untuk menilai sejauh mana bagian yang akurat,
efektif, ekonomis, atau memuaskan.
3. Pengukuran Pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dilakukan dengan menanyakan tentang isi materi yang
ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Menurut Arikunto (2006) pengetahuan
seseorang dapat diketahui dan diinterpretasikan dengan skala yang bersifat kualitatif,
yaitu baik jika jawaban benar 76-100%, cukup jika jawaban benar 56-75%, dan kurang
jika jawaban benar kurang dari 56%.
E. Sikap
1. Definisi Sikap
Sikap adalah keyakinan seseorang yang sudah bertahan lama pada suatu objek,
subjek, atau konsep yang mempengaruhi seseorang untuk merespons dengan cara
tertentu.20 Mann menyatakan bahwa sekalipun diasumsikan sikap merupakan predisposisi
evaluatif yang banyak menentukan bagaimana individu bertindak, tetapi sikap dan
tindakan nyata seringkali jauh berbeda. Hal ini dikarenakan tindakan nyata tidak hanya
ditentukan oleh sikap semata, tetapi oleh berbagai faktor eksternal lainnya.21
2. Tingkatan Sikap
a) Menerima (Receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang
diberikan (objek).
b) Merespon (Responding)
Merespon artinya memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan
menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.
c) Menghargai (Valuing)
Menghargai diartikan mengajak orang lain untuk mengerjakan atau
mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.
d) Organisasi (Organization)
Meliputi konseptualisasi nilai-nilai menjadi sistem nilai, serta pemantapan dan
prioritas nilai yang telah dimiliki.
e) Karakteristik (Characterization)
Berkenan dengan keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang
yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya.22
3. Pengukuran Sikap
Pengukuran sikap menurut Wawan dan Dewi (2010), ranah afektif tidak dapat
diukur seperti halnya ranah kognitif, karena dalam ranah afektif kemampuan yang diukur
adalah menerima (memperhatikan), merespon, menghargai, mengorganisasi dan
menghayati. Skala yang digunakan untuk mengukur ranah afektif seseorang terhadap
kegiatan suatu objek diantaranya menggunakan skala sikap. Hasil pengukuran berupa
kategori sikap, yakni sikap positif kecenderungan tindakan adalah mendekati,
menyenangi, mengharapkan objek tertentu dan sikap negatif terdapat kecenderungan
untuk menjauhi, menghindari, membenci dan tidak menyukai objek tertentu.
Pernyataan positif diberi nilai sebagai berikut :
Jawaban tidak setuju : nilai 1
Jawaban setuju : nilai 2
Pernyataan negatif diberi nilai sebagai berikut :
Jawaban setuju : nilai 1
Jawaban tidak setuju : nilai 2
Selanjutnya hasil skor total responden dibandingkan (X) dengan skor median
dengan interpretasi sebagai berikut :
X > median = sikap positif
X < median = sikap negatif
(Azwar, 2009)21

BAB III
KERANGKA TEORI

A. Kerangka Teori
Gigi berperan penting bagi penampilan seseorang, disamping untuk fungsi pengunyahan
serta fungsi bicara. Gangguan pada gigi seperti karies, penyakit periodontal dan trauma dapat
mengakibatkan terjadinya kehilangan gigi. Penggunaan gigi tiruan untuk menggantikan gigi
yang hilang penting dilakukan untuk mengembalikan kondisi fungsional dan estetik pada pasien.
Kehilangan gigi yang terjadi dapat ditanggulangi dengan pembuatan restorasi berupa gigi tiruan
sebagian lepasan (GTSL) untuk menanggulangi kehilangan sebagian gigi. Fungsi GTSL adalah
memperbaiki fungsi mastikasi, memulihkan fungsi estetik, meningkatkan fungsi fonetik, serta
mempertahankan jaringan mulut yang sudah ada agar tetap sehat.
Dalam proses pembuatan desain protesa sebagian lepasan berlaku suatu prinsip yang
umum dan penting. Pertama-tama, dokter gigi perlu mengetahui selengkap-lengkapnya keadaan
fisik pasien yang akan menerima protesa. Selain itu, sebelumnya dokter gigi juga sudah
memahami betul data mengenai bentuk, indikasi dan fungsi dari cengkeram, letak sandaran,
macam konektor, bentuk sadel dan jenis dukungan yang akan diterapkan untuk sebuah protesa.
Sebagai pemenuhan tanggung jawab dokter gigi kepada pasien, dokter gigi lah yang
wajib membuat rencana desain protesa yang akan diberikannya. Tidak bijaksana dan tidak pula
adil apabila pembuatan desain ini dilimpahkan begitu saja kepada tekniker gigi. Seorang tekniker
hanya tahu tentang pasien dari sepasang model yang diterimanya dari dokter gigi, karena itu
sedikitpun ia tidak memahami keadaan fisik pasien tersebut.
Maka dari itu rencana pembuatan desain merupakan salah satu penentu keberhasilan atau
kegagalan sebuah protesa. Tak kurang pentingnya, sebuah desain yang betul atau tepat guna
dapat mencegah terjadinya kerusakan jaringan dalam mulut, akibat kesalahan yang tidak
seharusnya terjadi dan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Pengetahuan dokter gigi umum terhadap desain GTSL

Desain GTSL

Sikap dokter gigi umum terhadap desain GTSL


Gambar 13. Kerangka Teori.

B. KERANGKA KONSEP

Gambaran pengetahuan dan sikap dokter gigi umum

Desain GTSL

Gambar 14. Kerangka Konsep.

BAB IV
METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian


Penelitian ini adalah penelitian observasional deskriptif dengan pendekatan cross-
sectional yang bertujuan untuk menggambarkan pengetahuan dan sikap dokter gigi umum
terhadap desain gigi tiruan sebagian lepasan.

B. Lokasi dan Waktu


1. Lokasi : Jakarta
2. Waktu : Januari 2021 – Februari 2021

C. Populasi dan Sampel Penelitian


1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah dokter gigi umum yang berpraktek di Jakarta.
2. Sampel
Pemilihan sampel dilakukan dengan cara Random Sampling. Adapun cara
pengambilan data dilakukan dengan pengisian kuesioner oleh responden.
3. Kriteria Inklusi dan Eksklusi
a) Kriteria Inklusi
Dokter Gigi Umum yang pernah membuat gigi tiruan sebagian lepasan akrilik.
b) Kriteria Eksklusi
Dokter Gigi Umum yang belum pernah membuat gigi tiruan sebagian lepasan
akrilik.
4. Rumus Sampel
n=

n=

n = 96,04
n = 100 (dibulatkan)

Keterangan :
n = jumlah sampel yang dibutuhkan
= deviat buku alfa (1,96)
P = 0,05
Q = 1-P
d = presisi

Jadi, sampel yang dibutuhkan untuk penelitian ini adalah 100 orang.

D. Definisi Operasional Variabel


Tabel 1. Definisi Operasional Variabel

Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Skala

Pengetahuan Pemahaman atau informasi tentang Kuesioner Nominal


desain gigi tiruan sebagian lepasan
yang diperoleh seseorang berdasarkan
pengalaman atau studi

Sikap Sikap merupakan kecenderungan yang Kuesioner Nominal


belum disertai tindakan nyata

E. Bahan dan Alat


Kuesioner
Komputer
Alat Tulis
Handphone

F. Cara Kerja
1. Menggunakan kuesioner online dalam bentuk google form
2. Menganalisa data
3. Menyajikan hasil penelitian

G. Analisis Data
Analisis data dilakukan menggunakan Uji Validitas dan Uji Reliabilitas kuesioner untuk
memastikan bahwa kuesioner dalam penelitian ini mampu mengukur variabel penelitian dengan
benar.

BAB V

HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian yang diperoleh dari penelitian pada pengetahuan dan sikap Dokter Gigi
umum terhadap desain gigi tiruan sebagian lepasan akrilik yang dilakukan pada Dokter Gigi
umum yang praktek di DKI Jakarta. Pada penelitian ini, peneliti melibatkan Dokter Gigi umum
yang pernah membuat gigi tiruan sebagian lepasan akrilik sebanyak 102 peserta penelitian.
Perempuan mendominasi dalam subjek penelitian ini (63.7% perempuan, 36.3% laki-laki)

Hasil pengamatan ditampilkan dalam bentuk tabel, sehingga lebih mudah untuk melihat
hasil penelitian. Hasil pengamatan adalah sebagai berikut :

Tabel 2. Frekuensi jawaban gambaran distribusi pada dokter gigi umum tentang berapa sering membuat
gigi tiruan sebagian lepasan.

Pertanyaan Kuesioner Hasil Pertanyaan

Seberapa sering Anda membuat gigi Tidak pernah : 15.7%


tiruan sebagian lepasan untuk pasien
yang kehilangan gigi? 1-2 kasus per bulan : 61.8%

Lebih dari 3 kasus per bulan : 11.8%

1-2 kasus dalam 6 bulan : 5.9%

1-2 kasus per tahun :4.9%

Berdasarkan dari hasil kuesioner yang diberikan, 61.8% responden menyatakan bahwa
sebanyak 1-2 kasus per bulan mereka membuat gigi tiruan sebagian lepasan untuk pasien yang
kehilangan gigi, sedangkan sebanyak 15.7% responden menyatakan bahwa tidak pernah
membuat gigi tiruan sebagian lepasan untuk pasien yang kehilangan gigi, 11.8% responden
menyatakan lebih dari 3 kasus per bulan, sebanyak 5.9% responden menyatakan 1-2 kasus dalam
6 bulan, dan 4.9% responden menyatakan 1-2 kasus per tahun membuatkan gigi tiruan sebagian
lepasan untuk pasien yang kehilangan gigi.

Tabel 3. Frekuensi jawaban gambaran distribusi pada dokter gigi umum tentang pertimbangan dalam
menentukan indikasi pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan.

Pertanyaan Kuesioner Hasil Pertanyaan


Apa pertimbangan Anda dalam Pembuatan gigi tiruan cekat tidak
menentukan indikasi pembuatan gigi memungkinkan : 19.6%
tiruan sebagian lepasan
Jumlah gigi yang tersisa : 33.3%

Keinginan pasien : 24.5%

Kehilangan tulang alveolar yang banyak :


14.7%

Waktu pembuatan yang singkat : 2%

Biaya : 5.9%

Pada saat ditanya apa pertimbangan Dokter Gigi dalam menentukan indikasi pembuatan
gigi tiruan sebagian lepasan, 33.3% responden menyatakan jumlah gigi yang tersisa, 24.5%
responden menyatakan keinginan pasien, 19.6% responden menyatakan pembuatan gigi tiruan
cekat tidak memungkinkan, 14.7% responden menyatakan kehilangan tulang alveolar yang
banyak, 5.9% responden menyatakan biaya, dan 2% responden menyatakan waktu pembuatan
yang singkat.

Tabel 4. Frekuensi jawaban gambaran distribusi pada dokter gigi umum tentang cara berkomunikasi
dengan tekniker laboratorium dental.
Pertanyaan Kuesioner Hasil Pertanyaan

Saat mendesain gigi tiruan sebagian Secara verbal : 13.9%


lepasan, bagaimana cara Anda
berkomunikasi dengan tekniker Dengan memberi tanda pada model kerja :
laboratorium dental? 26.7%

Menggunakan formulir laboratorium


dental : 13.9%

B dan C (Dengan memberi tanda pada


model kerja dan Menggunakan formulir
laboratorium dental) : 44.6%

Tidak berkomunikasi dengan tekniker

laboratorium dental : 1%

Sebanyak 44.6% responden menyatakan bahwa saat cara mereka berkomunikasi dengan
tekniker laboratorium dental saat mendesain gigi tiruan sebagian lepasan adalah dengan memberi
tanda pada model kerja dan menggunakan formulir laboratorium dental, sedangkan 26.7%
responden menyatakan dengan memberi tanda pada model kerja, 13.9% responden menyatakan
secara verbal, sebanyak 13.9% responden juga menyatakan dengan menggunakan formulir
laboratorium dental, sedangkan 1% responden menyatakan tidak berkomunikasi dengan tekniker
laboratorium dental.

Tabel 5. Frekuensi jawaban gambaran distribusi pada dokter gigi umum tentang seberapa sering
melakukan survey.
Pertanyaan Kuesioner Hasil Pertanyaan

Seberapa sering Anda melakukan Tidak pernah : 18.6%


survey?
Hampir tidak pernah : 20.6%

Kadang-kadang : 59.8%

Hampir selalu : -

Selalu : 1%

Sebanyak 59.8% responden menyatakan kadang-kadang melakukan survey, sedangkan


20.6% responden menyatakan hampir tidak pernah, 18.6% responden menyatakan tidak pernah
melakukan survey, dan 1% responden menyatakan selalu melakukan survey.

Tabel 6. Frekuensi jawaban gambaran distribusi pada dokter gigi umum tentang apakah tekniker
laboratorium dental mengikuti instruksi desain yang telah diberikan.

Pertanyaan Kuesioner Hasil Pertanyaan

Apakah tekniker laboratorium dental Tidak pernah : 9.1%


mengikuti instruksi desain yang anda
berikan? Hampir tidak pernah : 4%

Kadang-kadang : 64.6%

Hampir selalu : 14.1%

Selalu 8.1%

Sebanyak 64.6% responden menyatakan bahwa tekniker laboratorium dental kadang-


kadang mengikuti instruksi desain yang diberikan, sedangkan 14.1% responden menyatakan
hampir selalu, 9.1% menyatakan tidak pernah, 8.1% responden menyatakan selalu, dan 4%
responden menyatakan hampir tidak pernah.
Tabel 7. Frekuensi jawaban gambaran distribusi pada dokter gigi umum tentang referensi dalam
mendesain gigi tiruan sebagian lepasan.

Pertanyaan Kuesioner Hasil Pertanyaan

Referensi mana yang Anda ikuti dalam Mc Cracken's : 56.4%


mendesain gigi tiruan sebagian lepasan?
Stewart's : 28.7%

Sumber referensi lain (sebutkan) : 2%

Tidak ada : 12.9%

Sebanyak 56.4% responden menyatakan merekam menggunakan Mc Cracken’s sebagai


sumber referensi ketika mendesain gigi tiruan sebagian lepasan, 28.7% responden menyatakan
menggunakan Stewart’s, 12.9% responden menyatakan tidak ada referensi, dan 2% responden
menyatakan menggunakan sumber referensi lain tanpa menyebutkan sumber lain nya.

Tabel 8. Frekuensi jawaban gambaran distribusi pada dokter gigi umum tentang opsi yang dipilih dalam
memodifikasi struktur gigi asli.

Pertanyaan Kuesioner Hasil Pertanyaan

Jika Anda perlu memodifikasi struktur Enameloplasti : 34%


gigi asli untuk membuat atau
mengurangi gerong (undercut), opsi apa Menyerahkan sepenuhnya kepada tekniker
yang Anda pilih? laboratorium dental : 42%

Mengubah desain gigi tiruan sebagian


lepasan : 16%

Mengubah arah insersi 8%

Saat ditanya jika perlu memodifikasi struktur gigi asli untuk membuat atau mengurangi
gerong (undercut), sebanyak 42% responden menyatakan bahwa mereka menyerahkan
sepenuhnya kepada tekniker laboratorium dental, 34% responden menyatakan bahwa
enameloplasti adalah opsi mereka, sedangkan 16% responden menyatakan untuk mengubah
desain gigi tiruan sebagian lepasan, dan 8% responden menyatakan untuk mengubah arah insersi.

Tabel 9. Frekuensi jawaban gambaran distribusi pada dokter gigi umum tentang jenis cengkeram
penahan yang disukai di zona estetika rahang atas untuk sebuah gigi tiruan sebagian lepasan.

Pertanyaan Kuesioner Hasil Pertanyaan

Jenis cengkeram penahan apa yang Wrought wire : 10.8%


Anda sukai di zona estetika rahang atas
untuk sebuah gigi tiruan sebagian Occlusally approaching : 45.1%
lepasan?
Gingivally approaching : 31.4%

Tidak tahu : 12.7


%

Sebanyak 45.1% responden menyatakan occlusally approaching adalah jenis cengkeram


penahan yang mereka sukai di zona estetika rahang atas untuk sebuah gigi tiruan sebagian
lepasan, 31.4% responden menyatakan gingivally approaching, 12.7% responden menyatakan
tidak tahu, dan 10.8% responden menyatakan wrought wire.

Tabel 10. Frekuensi jawaban pengetahuan pada dokter gigi umum tentang pertimbangan besarnya
gerong gigi penahan dalam mendesain gigi tiruan sebagian lepasan.

Pertanyaan Kuesioner Pengetahuan Hasil Penelitian Pengetahuan

Apakah menurut Anda dalam mendesain Tidak perlu : 2.9%


gigi tiruan sebagian lepasan diperlukan
pertimbangan besarnya gerong gigi Perlu : 90.2%
penahan?
Sangat perlu : 4.9%
Tidak tahu : 2%

Berdasarkan dari hasil kuesioner yang telah dibagikan, sebanyak 90.2% responden
menyatakan bahwa diperlukan pertimbangan besarnya gerong gigi penahan, 4.9% responden
menyatakan sangat perlu, 2.9% responden menyatakan tidak perlu, sedangkan 2% responden
menyatakan bahwa tidak tahu.

Tabel 11. Frekuensi jawaban pengetahuan pada dokter gigi umum tentang mempelajari kembali
pengetahuan dasar tentang mendesain atau tidak.

Pertanyaan Kuesioner Pengetahuan Hasil Penelitian Pengetahuan

Ketika Anda mulai mendesain gigi tiruan Tidak pernah : 53.9%


sebagian lepasan, apakah Anda
mempelajari kembali pengetahuan dasar Tidak butuh : 3.9%
Anda tentang mendesain?
Hampir selalu : 27.5%

Selalu : 14.7%

Sebanyak 53.9% responden menyatakan tidak pernah mempelajari kembali pengetahuan


dasar tentang mendesain, 27.5% responden menyatakan hampir selalu, 14.7% responden
menyatakan selalu, sedangkan 3.9% responden menyatakan tidak butuh.

Tabel 12. Frekuensi jawaban pengetahuan pada dokter gigi umum tentang fungsi implan gigi dalam
memberikan retensi dan dukungan di gigi tiruan sebagian lepasan.

Pertanyaan Kuesioner Pengetahuan Hasil Penelitian Pengetahuan

Apakah Anda mengetahui fungsi implan Tidak tahu : 4.9%


gigi dalam memberikan retensi dan
dukungan di gigi tiruan sebagian lepasan? Ragu-ragu : 8.8%
Tahu : 85.3%

Sangat tahu : 1%

Sebanyak 85.3% responden menyatakan tahu fungsi implan gigi dalam memberikan
retensi dan dukungan di gigi tiruan sebagian lepasan, 8.8% responden menyatakan ragu-ragu,
4.9% responden menyatakan tidak tahu, sedangkan 1% responden menyatakan sangat tahu.

Tabel 13. Frekuensi jawaban pengetahuan pada dokter gigi umum tentang pentingnya memilih konektor
utama untuk gigi tiruan sebagian lepasan.

Pertanyaan Kuesioner Pengetahuan Hasil Penelitian Pengetahuan

Apakah menurut Anda saat memilih Tidak penting : 2%


konektor utama untuk gigi tiruan
sebagian lepasan merupakan faktor yang Ragu-ragu : 1%
penting?
Penting : 95%

Sangat penting : 2%

Sebanyak 95% responden menyatakan pentingnya memilih konektor utama untuk gigi
tiruan sebagian lepasan, 2% responden menyatakan sangat penting, 2% responden juga
menyatakan tidak penting, sedangkan 1% responden menyatakan ragu-ragu.

Tabel 14. Frekuensi jawaban pengetahuan pada dokter gigi umum tentang setuju atau tidak saat
mendesain cengkeram harus selalu didukung oleh sandaran.

Pertanyaan Kuesioner Pengetahuan Hasil Penelitian Pengetahuan

Apakah Anda setuju saat mendesain Tidak setuju : 3%


cengkeram harus selalu didukung oleh
sandaran? Ragu-ragu : 3%

Setuju : 93.1%

Sangat setuju : 1%

Sebanyak 93.1% responden menyatakan setuju saat mendesain cengkeram harus selalu
didukung oleh sandaran, 3% responden menyatakan tidak setuju dan ragu-ragu, sedangkan 1%
responden menyatakan sangat setuju.

Tabel 15. Frekuensi jawaban pengetahuan pada dokter gigi umum tentang menempatkan penahan
indirek (indirect retainer) dalam kasus kelas I, II dan IV Kennedy.

Pertanyaan Kuesioner Pengetahuan Hasil Penelitian Pengetahuan

Apakah kita perlu menempatkan penahan Tidak perlu : 4%


indirek (indirect retainer) dalam kasus
kelas I, II dan IV Kennedy? Ragu-ragu : 4%

Perlu : 91.1%

Sangat perlu : 1%

Sebanyak 91.1% responden menyatakan bahwa perlu menempatkan penahan indirek (indirect
retainer) dalam kasus kelas I, II, dan IV Kennedy, 4% responden menyatakan tidak perlu dan
ragu-ragu, sedangkan 1% responden menyatakan sangat perlu.

Tabel 16. Hasil Penelitian Sikap

Pertanyaan Kuesioner Sikap Hasil Penelitian Sikap

Menurut Anda siapa yang harus Dokter Gigi : 72.5%


bertanggung jawab untuk merancang gigi Tekniker laboratorium dental : 17.6%
tiruan sebagian lepasan?
Keduanya : 9.8%

Tidak keduanya : -

Apakah mensurvei pekerjaan tekniker Dokter Gigi : 15.7%


laboratorium dental atau dokter gigi?
Tekniker laboratorium dental : 12.7%

Keduanya : 71.6%

Tidak keduanya : -

Berdasarkan dari hasil kuesioner yang dibagikan, sebanyak 72.5% responden menyatakan
bahwa Dokter Gigi yang harus bertanggung jawab untuk merancang gigi tiruan sebagian lepasan,
sedangkan 17.6% responden menyatakan bahwa tekniker laboratorium dental yang harus
bertanggung jawab untuk merancang gigi tiruan sebagian lepasan dan 9.8% responden
menyatakan keduanya yang harus bertanggung jawab untuk merancang gigi tiruan sebagian
lepasan.

Sebanyak 71.6% responden menyatakan mensurvei adalah pekerjaan dokter gigi dan
tekniker laboratorium dental, sedangkan 15.7% responden menyatakan mensurvei adalah
pekerjaan dokter gigi dan 12.7% responden menyatakan mensurvei adalah pekerjaan tekniker
laboratorium dental.

BAB VI
PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan
sikap dokter gigi umum terhadap desain gigi tiruan sebagian lepasan. Penelitian dilakukan secara
observasional yang berlangsung pada April - May 2021 yang dilakukan pada dokter gigi umum
yang berpraktek di DKI Jakarta dengan jumlah sampel sebanyak 102 orang, responden terdiri
dari 65 perempuan dan 37 laki-laki.
Berdasarkan dari hasil kuesioner gambaran distribusi pengalaman dokter gigi umum yang
telah dibagikan, 61.8% responden menyatakan bahwa sebanyak 1-2 kasus per bulan mereka
membuat gigi tiruan sebagian lepasan untuk pasien yang kehilangan gigi, dalam hal ini penulis
mengasumsikan bahwa pengalaman dokter gigi umum dalam mendesain gigi tiruan sebagian
lepasan sudah cukup baik, sedangkan sebanyak 15.7% responden menyatakan bahwa tidak
pernah membuat gigi tiruan sebagian lepasan untuk pasien yang kehilangan gigi, hasil tersebut
juga bisa diasumsikan bahwa mungkin banyak dokter gigi yang belum cukup memahami
mendesain gigi tiruan sebagian lepasan karena mereka tidak berpengalaman dalam hal tersebut.
Dalam hal pertimbangan Dokter Gigi untuk menentukan indikasi pembuatan gigi tiruan
sebagian lepasan, 33.3% responden menyatakan jumlah gigi yang tersisa, 24.5% responden
menyatakan keinginan pasien, 19.6% responden menyatakan pembuatan gigi tiruan cekat tidak
memungkinkan, 14.7% responden menyatakan kehilangan tulang alveolar yang banyak, 5.9%
responden menyatakan biaya, dan 2% responden menyatakan waktu pembuatan yang singkat.
Apabila gigi tiruan sebagian lepasan dirancang dengan benar akan menghasilkan pemulihan yang
baik pada gigi yang tersisa yang memiliki kelainan atau bisa dikatakan dapat menciptakan suatu
keadaan fungsional yang bebas dari kelainan periodontal selain menggantikan gigi yang hilang.
Jika dokter gigi mendesain gigi tiruan sebagian lepasan secara baik dapat mempertahankan gigi
yang tersisa bertahan lebih lama di rongga mulut dan mengembalikan fungsional dan
kenyamanan pasien.24
Sebanyak 44.6% responden menyatakan bahwa saat cara mereka berkomunikasi dengan
tekniker laboratorium dental saat mendesain gigi tiruan sebagian lepasan adalah dengan memberi
tanda pada model kerja dan menggunakan formulir laboratorium dental. Dari hasil ini bisa
diasumsikan bahwa sebagian besar cara komunikasi dokter gigi dengan tekniker laboratorium
dental sudah baik, dokter gigi memberi tanda pada model kerja dan juga menggunakan formulir
laboratorium dental atau yang biasa disebut sebagai surat perintah kerja, sedangkan tekniker
laboratorium dental hanya tinggal mengikuti petunjuk yang sudah diberikan oleh dokter gigi.
Walaupun sebagian besar sudah berkomunikasi dengan baik, tapi 13.9% responden menyatakan
secara verbal. Dalam hal ini berarti dokter gigi dan tekniker laboratorium dental tidak
menggunakan instruksi secara tertulis, yang bisa menjadi salah satu faktor kegagalan dalam
pembuatan desain gigi tiruan sebagian lepasan yang tidak sesuai.
Sebanyak 59.8% responden menyatakan kadang-kadang melakukan survei. Dalam hal ini
bisa diasumsikan bahwa dokter gigi melakukan desain tanpa melakukan survei yang dimana
survei adalah tahap penting dalam mendesain gigi tiruan sebagian lepasan, karena survei
merupakan prosedur diagnostik yang dapat menganalisis hubungan dimensional antara jaringan
lunak dan keras di dalam mulut.
Sebanyak 64.6% responden menyatakan bahwa tekniker laboratorium dental kadang-
kadang mengikuti instruksi desain yang diberikan. Dalam hal ini penulis mengasumsikan bahwa
tekniker laboratorium dental tidak mengikuti instruksi desain yang diberikan karena mungkin
instruksi yang diberikan oleh dokter gigi tidak cukup lengkap, atau mungkin bisa karena
instruksi survey tidak dilakukan oleh dokter gigi. Dalam pembuatan restorasi dental sudah
sepantasnya dokter gigi memberikan instruksi lengkap kepada tekniker laboratorium dental yang
meliputi jenis protesa, macam dukungan, cengkeram, pemilihan gigi penyangga, warna dan
bentuk elemen, konektor, dan sebagainya.18

Sebanyak 56.4% responden menyatakan menggunakan Mc Cracken’s sebagai sumber


referensi ketika mendesain gigi tiruan sebagian lepasan, 28.7% responden menyatakan
menggunakan Stewart’s. Prinsip desain menurut Mc Cracken’s dan Stewart’s kurang lebih sama,
hanya terdapat perbedaan diantara Mc Cracken’s dan Stewart’s pada konektor mandibula mayor.
Pada Mc Cracken’s terdiri dari 6 macam konektor mandibula mayor yaitu, lingual bar, plat
lingual, sublingual bar, lingual bar dengan singulum bar, singulum bar, dan labial bar. Sedangkan
pada Stewart’s hanya terdapat 4 macam konektor mandibula mayor yaitu, lingulan bar, plat
lingual, double lingual bar, dan labial bar.23,25

Saat ditanya jika perlu memodifikasi struktur gigi asli untuk membuat atau mengurangi
gerong (undercut), sebanyak 42% responden menyatakan bahwa mereka menyerahkan
sepenuhnya kepada tekniker laboratorium dental. Dalam hal ini penulis berpendapat bahwa
seharusnya dokter gigi tidak menyerahkannya kepada tekniker laboratorium dental, yang
seharusnya dilakukan oleh dokter gigi adalah memodifikasi terlebih dahulu setelah itu mengirim
cetakannya kepada tekniker laboratorium dental. Walaupun dari hasil penelitian ini banyak yang
menyerahkan sepenuhnya kepada tekniker laboratorium dental, tidak sedikit juga dokter gigi
yang memilih opsi lain yaitu sebanyak 34% responden menyatakan bahwa enameloplasti adalah
opsi mereka, sedangkan 16% responden menyatakan untuk mengubah desain gigi tiruan sebagian
lepasan, dan 8% responden menyatakan untuk mengubah arah insersi.

Berdasarkan dari hasil kuesioner pengetahuan yang telah dibagikan, sebanyak 90.2%
responden menyatakan bahwa diperlukan pertimbangan besarnya gerong gigi penahan,
sedangkan 2% responden menyatakan bahwa tidak tahu apakah diperlukan pertimbangan atau
tidak. Gerong terbagi dalam 2, ada gerong retentif atau diharapkan dan gerong tidak diharapkan.
Gerong retentif atau diharapkan berguna untuk menahan protesa di dalam mulut karena bisa
dipakai untuk meletakkan lengan cengkeram, sedangkan gerong tidak diharapkan merupakan
gerong yang justru menyulitkan pemasangan atau pengeluaran geligi tiruan, gerong seperti ini
tidak dibutuhkan untuk retensi, bahkan dapat menyukarkan proses kerja selanjutnya. Maka dari
itu besarnya gerong gigi penahan perlu dipertimbangkan.12

Sebanyak 53.9% responden menyatakan tidak pernah mempelajari kembali pengetahuan


dasar tentang mendesain, 3.9% responden menyatakan tidak butuh mempelajari kembali
pengetahuan dasar tentang mendesain. Dari hasil data yang diperoleh, penulis mengasumsikan
bahwa banyaknya responden yang tidak pernah mempelajari kembali pengetahuan dasar tentang
mendesain terjadi karena dalam sebulan 1-2 pasien datang untuk dibuatkan gigi tiruan sebagian
lepasan, yang mungkin membuat dokter gigi menjadi semakin mahir untuk melakukan tindakan
tersebut, jadi dokter gigi tidak lagi mempelajari pengetahuan dasar tentang mendesain. Namun,
dalam hal ini penulis menyarankan agar dokter gigi tetap memperbaharui ilmu pengetahuan
karena ilmu kedokteran gigi akan terus berkembang.
Sebanyak 85.3% responden menyatakan tahu fungsi implan gigi dalam memberikan
retensi dan dukungan di gigi tiruan sebagian lepasan, sedangkan 1% responden menyatakan
sangat tahu fungsi implan gigi dalam memberikan retensi dan dukungan di gigi tiruan sebagian
lepasan. Implan dapat digunakan untuk mendukung berbagai macam protesa cekat dan lepasan.
Penggunaan implan sangat sering dilaporkan dalam hubungan dengan gigi tiruan sebagian
lepasan, fungsi implan memberikan dukungan yang lebih baik untuk gigi tiruan sebagian
lepasan.23
Sebanyak 95% responden menyatakan penting untuk memilih konektor utama untuk gigi
tiruan sebagian lepasan, sedangkan 2% responden menyatakan sangat penting untuk memilih
konektor utama untuk gigi tiruan sebagian lepasan. Hal ini sesuai dengan tahapan pembuatan
gigi tiruan sebagian lepasan, karena konektor utama berfungsi meneruskan gaya oklusal ke
jaringan lunak atau mukosa pada daerah tak bergigi.18
Sebanyak 93.1% responden menyatakan setuju saat mendesain cengkeram harus selalu
didukung oleh sandaran, sedangkan 1% responden menyatakan sangat setuju saat mendesain
cengkeram harus selalu didukung oleh sandaran. Dalam hal ini, peneliti sangat setuju bahwa saat
mendesain cengkeram harus selalu didukung oleh sandaran, karena syarat yang harus dipenuhi
dalam pembuatan cengkeram salah satunya adalah sandaran. Sandaran merupakan bagian geligi
tiruan yang bersandar pada permukaan gigi penyangga, yang bertujuan memberikan dukungan
vertikal pada protesa.
Sebanyak 91.1% responden menyatakan bahwa perlu menempatkan penahan indirek
(indirect retainer) dalam kasus kelas I, II, dan IV Kennedy, sedangkan 1% responden
menyatakan sangat perlu menempatkan penahan indirek (indirect retainer) dalam kasus kelas I,
II dan IV Kennedy. Menurut penelitian dari Khan M. F., et al pada tahun 2020 dengan jumlah
sampel sebanyak 573 orang, sebanyak 39.8% responden menyatakan bahwa kadang-kadang
perlu menempatkan penahan indirek (indirect retainer) dalam kasus kelas I, II, dan IV Kennedy.
Berdasarkan dari hasil kuesioner sikap yang dibagikan kepada 102 sampel, sebanyak
72.5% responden menyatakan bahwa Dokter Gigi yang harus bertanggung jawab untuk
merancang gigi tiruan sebagian lepasan. Dalam hal ini berkontradiksi dengan hasil kuesioner
gambaran distribusi yang dibagikan, banyak yang tidak melakukan survey sendiri bahkan banyak
yang menyerahkannya kepada tekniker laboratorium dental untuk memodifikasi. Penulis
menyimpulkan bahwa dokter gigi belum sepenuhnya memahami konsep mendesain gigi tiruan
sebagian lepasan dengan benar.
Sebanyak 71.6% responden menyatakan mensurvei adalah pekerjaan dokter gigi dan
tekniker laboratorium dental, sedangkan 15.7% responden menyatakan mensurvei adalah
pekerjaan dokter gigi. Dalam penelitian sebelumnya menyajikan hasil penelitian ketika dokter
ditanya tentang perlunya mensurvei sekitar 40% responden memberikan jawaban negatif tentang
mensurvei. Ketika dokter ditanya tentang sikap mereka tentang mensurvei, apakah itu pekerjaan
dokter gigi atau tekniker laboratorium dental, sekitar 50% dari dokter setuju bahwa itu tugas
dokter gigi.6

BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa
dokter gigi sudah memahami bawah mendesain gigi tiruan sebagian lepas adalah
pekerjaan yang mereka harus lakukan, tapi dokter gigi belum cukup baik memahami
konsep mendesain gigi tiruan sebagian lepasan dengan benar. Tidak hanya menggambar
desain, memilih konektor dan memilih cengkeram, tapi mereka juga harus memahami
bahwa melakukan survei dan memodifikasi struktur gigi asli untuk membuat atau
mengurangi gerong adalah pekerjaan yang dilakukan oleh dokter gigi. Dokter gigi harus
memahami konsep desain gigi tiruan sebagian lepasan yang baik, salah satunya
melakukan survei dan melakukan modifikasi struktur gigi asli sendiri. Dokter gigi perlu
memperbaharui ilmu perkembangan gigi tiruan sebagian lepasan yang terbaru, jangan
merasa puas dengan ilmu yang didapatkan sekarang.
Sedangkan untuk tekniker laboratorium gigi bertanggung jawab dalam pembuatan
restorasi dental sesuai dengan permintaan dokter gigi. Walaupun tekniker laboratorium
dental hanya menangani aspek tahap pembuatan protesa, bagaimanapun juga tekniker
laboratorium dental tetap merupakan bagian dari tim perawatan yang bertujuan untuk
mencegah penyakit mulut dan melestarikan kesehatan mulut. Keberhasilan dari
perawatan prostodontik adalah hasil kerja sama tiga pihak terkait yaitu dokter gigi,
tekniker laboratorium dental, dan pasien. Jadi dengan memahami dengan baik tugas
masing-masing pihak akan menghasilkan keberhasilan perawatan prostodontik.

B. Saran
1. Perlu ditingkatkan dengan baik komunikasi antara dokter gigi dan tekniker
laboratorium dental.
2. Perlu dilakukan pengembangan penelitian sejenis dengan melibatkan populasi
yang lebih luas untuk mendapatkan hasil yang lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Mokoginta, R. S., Wowor, V. N. S. & Opod, H. Pengaruh tingkat pendidikan


masyarakat terhadap upaya pemeliharaan gigi tiruan di Kelurahan Upai Kecamatan
Kotamobagu Utara. e-GIGI 4, (2016).
2. Sakti, E. S. Faktor Risiko Kesehatan Gigi dan Mulut. Pus. Data dan Inf. Kementeri.
Kesehat. RI 2016–2021 (2019).
3. Siagian, K. V. Kehilangan sebagian gigi pada rongga mulut. e-CliniC 4, (2016).
4. Gaib, Z. Faktor – Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Terjadinya Kandidiasis
Eritematosa Pada Pengguna Gigitiruan Lengkap. e-GIGI 1, (2013).
5. Sofya, P. A., Rahmayani, L., Fatmawati, F. & Bahan, A. Tingkat Kebersihan Gigi
Tiruan Sebagian Lepasan Resin Akrilik Ditinjau Dari Frekuensi Dan Metode
Pembersihan. J. Syiah Kuala Dent. Soc. 1, 91–95 (2016).
6. Khan, M. F. et al. Knowledge and Attitude Regarding Designing Removable Partial
Denture Among Interns and Dentist; Dental Schools in Pakistan. J. Pakistan Dent.
Assoc. 29, 66–70 (2020).
7. Raja, H. Z., Mumtaz, M., Shabbir, A., Saleem, M. N. & Shakoor, A. Effect of
Interactive Teaching Methods on Removable Partial Denture Designing. J.
Pakistan Dent. Assoc. 29, 124–129 (2020).
8. FENDY, W. A. Klasifikasi dan Desain Gigi Tiruan Sebagian Lepasan. 1–12 (2012).
9. Yunisa, F. & Pegangan, G. Pengaruh Kedalaman Undercut Gigi Pegangan Dan
Tipe Bahan Cengkeram Termoplastik Nilon Terhadap Kekuatan. Bagian
Prosthodonsia Fak. Kedokt. Gigi Univ. Gadjah Mada Abstr. 284–291 (2014).
10. Park, J. H., Lee, J. Y., Shin, S. W. & Kim, H. J. Effect of conversion to implant-
assisted removable partial denture in patients with mandibular Kennedy
classification Ⅰ: A systematic review and meta-analysis. Clin. Oral Implants Res.
31, 360–373 (2020).
11. Shala, K. S. et al. Patient’s Satisfaction with Removable Partial Dentures: A
Retrospective Case Series. Open Dent. J. 10, 656–663 (2016).
12. Margo, A., Setiabudi, I., Gunadi, haryanto A., Burhan, L. & Suryatenggara, (alm)
Freddy. Buku Ajar Prostodonsia Sebagian Lepasan (volume 1). (EGC, 2014).
13. Pane, D. N., Fikri, M. EL & Ritonga, H. M. Prosedur Pembuatan Gigi Tiruan
Sebagian Lepasan Akrilik Rahang Atas Klasifikasi Kennedy Klas IV pada Kasus
Palatum Dangkal, Resorbsi Tulang Alveolar dengan Relasi Rahang Kelas III. J.
Chem. Inf. Model. 53, 1689–1699 (2018).
14. Suganda, R., Sutrisno, E. & Wardana, I. W. Prosedur Pembuatan Gigi Tiruan Jacket
Crown All Acrylic Pada Gigi 11 Dan 21 Dengan Gigi Tiruan Sebagian Lepasan
Saddle Acrylic Pada Gigi 25. J. Chem. Inf. Model. 53, 1689–1699 (2013).
15. Feldman, E. School of dentistry. J. Hist. Dent. 53, 24 (2005).
16. Catur S, S., Silalahi, P. R. & Mertisia, I. Prosedur Pembuatan Gigi Tiruan Sebagian
Lepasan Akrilik Pada Gigi 2 Untuk Menggantikan Gigi Tiruan Sebagian
Nonformal. J. Anal. Kesehat. 6, 611 (2018).
17. Naini, A. Perbedaan Stabilitas Warna Bahan Basis Gigi Tiruan Resin Akrilik
dengan Resin Nilon Termoplastis Terhadap Penyerapan Cairan. Stomatognatic
(J.K.G Unej) 9, 28–32 (2012).
18. Margo, A., Setiabudi, I., Gunadi, H. A., Burhan, L. & Suryatenggara, (alm) Freddy.
Buku Ajar Prostodonsia Sebagian Lepasan (volume 2). (2014).
19. Dentistry, C. Oral Health Knowledge Among Dental Students. 36, 18–24 (2012).
20. Bashiru, B. & Omotola, O. Oral health knowledge, attitude and behavior of
medical, pharmacy and nursing students at the University of Port Harcourt, Nigeria.
J. Oral Res. Rev. 8, 66 (2016).
21. Rahayu, C., Widiati, S. & Widyanti, N. Hubungan antara Pengetahuan, Sikap, dan
Perilaku terhadap Pemeliharaan Kebersihan Gigi dan Mulut dengan Status
Kesehatan Periodontal Pra Lansia di Posbindu Kecamatan Indihiang Kota
Tasikmalaya. Maj. Kedokt. Gigi Indones. 21, 27 (2014).
22. Crumb, L. N. The classification of biographical dictionaries in reference collections
using the library of congress classification system. Cat. Classif. Q. 3, 41–44 (1983).
23. Barsby, M. Book Review: Stewart’s Clinical Removable Partial Prosthodontics.
Primary Dental Care vol. os17 (2010).
24. Lenggogeny, P. & Masulili, S. L. C. Gigi Tiruan Sebagian Kerangka Logam
sebagai Penunjang Kesehatan Jaringan Periodontal. Maj. Kedokt. Gigi Indones. 20,
123 (2015).
25. Carr, A. B. & Brown, D. T. McCracken’s Removable Partial Prtosthodontics.
(Elsevier, 2016).
Lampiran 1. Kuesioner

KUISIONER PENELITIAN
“GAMBARAN SIKAP DAN PENGETAHUAN DOKTER GIGI UMUM TERHADAP
DESAIN GIGI TIRUAN SEBAGIAN LEPASAN”

Identitas responden
Inisial nama :
Tanggal lahir : ____ hari ___ bulan ___ tahun
Jenis kelamin :

Petunjuk pengisian kuisioner :


Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar menurut Anda.
A. Gambaran Distribusi Pengalaman Dokter Gigi

N Pertanyaan dan Jawaban


o.

1. Seberapa sering Anda membuat gigi tiruan sebagian lepasan akrilik untuk pasien
yang kehilangan gigi sebagian?
a. Tidak pernah
b. 1-2 kasus per bulan
c. Lebih dari 3 kasus per bulan
d. 1-2 kasus dalam 6 bulan
e. 1-2 kasus per tahun

2 Apa pertimbangan Anda dalam menentukan indikasi pembuatan gigi tiruan


sebagian lepasan akrilik?
a. Pembuatan gigi tiruan cekat tidak memungkinkan
b. Jumlah gigi yang tersisa
c. Keinginan pasien
d. Kehilangan tulang alveolar yang banyak
e. Waktu pembuatan yang singkat
f. Biaya

3 Saat mendesain gigi tiruan sebagian lepasan akrilik, bagaimana cara Anda
berkomunikasi dengan tekniker laboratorium dental?
a. Secara verbal
b. Dengan memberi tanda pada model kerja
c. Menggunakan formulir laboratorium dental
d. B dan C
e. Tidak berkomunikasi dengan tekniker laboratium dental

4 Seberapa sering Anda melakukan survei?


a. Tidak pernah
b. Hampir tidak pernah
c. Kadang-kadang
d. Hampir selalu
e. Selalu

5 Apakah tekniker laboratorium dental mengikuti instruksi desain yang anda


berikan?
a. Tidak pernah
b. Hampir tidak pernah
c. Kadang-kadang
d. Hampir selalu
e. Selalu

6 Referensi mana yang Anda ikuti dalam mendesain gigi tiruan sebagian lepasan
akrilik?
a. Mc Cracken’s
b. Stewart’s
c. Sumber referensi lain (sebutkan)
d. Tidak ada

7 Jika Anda perlu memodifikasi struktur gigi asli untuk membuat atau mengurangi
gerong (undercut), opsi apa yang Anda pilih?
a. Enameloplasti
b. Menyerahkan sepenuhnya kepada tekniker laboratorium dental
c. Mengubah desain GTSL
d. Mengubah arah insersi

8 Jenis cengkeram penahan apa yang Anda sukai di zona estetika rahang atas untuk
sebuah gigi tiruan sebagian lepasan akrilik
a. Wrought wire
b. Occlusaly approaching
c. Gingivally approaching
d. Tidak tahu
B. Pengetahuan

N Pertanyaan dan Jawaban


o.

1. Apakah menurut Anda dalam mendesain gigi tiruan sebagian lepasan akrilik
diperlukan pertimbangan besarnya gerong gigi penahan?
a. Tidak perlu
b. Perlu
c. Sangat perlu
d. Tidak tahu

2 Ketika Anda mulai mendesain gigi tiruan sebagian lepasan akrilik, apakah Anda
mempelajari kembali pengetahuan dasar Anda tentang mendesain?
a. Tidak pernah
b. Tidak butuh
c. Hampir selalu
d. Selalu

4 Apakah Anda mengetahui fungsi implan gigi dalam memberikan retensi dan
dukungan di gigi tiruan sebagian lepasan?
a. Tidak tahu
b. Ragu-ragu
c. Tahu
d. Sangat tahu

5 Apakah menurut Anda saat memilih konektor utama untuk gigi tiruan sebagian
lepasan akrilik merupakan faktor yang penting?
a. Tidak penting
b. Ragu-ragu
c. Penting
d. Sangat penting

6 Apakah Anda setuju saat mendesain cengkeram harus selalu didukung oleh
sandaran?
a. Tidak setuju
b. Ragu-ragu
c. Setuju
d. Sangat setuju

7 Apakah kita perlu menempatkan penahan indirek (indirect retainer) dalam kasus
kelas I, II, dan IV Kennedy?
a. Tidak perlu
b. Ragu-ragu
c. Perlu
d. Sangat perlu

C. Sikap
N Pernyataan Do Tekn Kedua Tidak
o kte iker nya kedua
r lab nya
gigi

1 Menurut
Anda siapa
yang harus
bertanggung
jawab untuk
merancang
gigi tiruan
sebagian
lepasan
akrilik

2 Apakah
mensurvei
pekerjaan
tekniker lab
atau dokter
gigi

A. Distribution of Dentist Experiences.

N Question and Answer


o.

1. How often do you provide service of RPD to partially edentulous patient?


a. Never
b. 1-2 cases per month
c. More than 3 cases per month
d. 1-2 cases in 6 months
e. 1-2 cases per year

2 On which bases you decide for the treatment option of RPD?


a. Fixed not possible
b. Number of natural teeth present
c. Patient demand
d. Excessive alveolar bone loss
e. Cross arch stabilization
f. Cost and patient demand

3 While designing an RPD how do you communicate with the Laboratory?


a. Verbally
b. Mark on primary cost
c. On laboratory form
d. Both b and c
e. None

4 How often you do survey?


a. Never
b. No need
c. Sometimes
d. All the time

5 Does your dental technician follow your design instruction?


a. Never
b. Sometimes
c. Most of the times
d. Always

B. Knowledege

N Question and Answer


o.

1. Are you aware of how to transfer the need of tooth modification to be transferred
in the patient’s mouth?
a. Not aware
b. Little bit
c. Aware
d. Fully aware

2 When you start designing an RPD do you review your basic knowledge about
designing?
a. Never
b. Sometimes
c. Most of the times
d. Always

3 Which reference do you follow in designing an RPD?


a. BDJ
b. Mc Cracken’s
c. Stewart’s
d. ADA guidelines
e. Other notes
f. No need

4 Are you aware of the function of dental implants in providing retention and
support in RPD?
a. Not aware
b. Little bit
c. Aware
d. Fully aware

5 What do you think when selecting a major connector for RPD rigidity is an
important factor?
a. Never
b. Sometimes
c. Most of the time
d. Always

6 Do you agree when we design a clasp it should always be supported by a rest?


a. Never
b. Sometimes
c. Most of the time
d. Always
7 Do we need to put indirect retainers in Kennedy’s class I, II & IV cases?
a. Never
b. Sometimes
c. Most of the times
d. Always

8 If you need to modify the natural tooth structure to create or reduce an undercut
what option will you prefer?
a. Enameloplasty
b. Restoration
c. Crown
d. No need
e. Altering the RPD design
f. Change the path of insertion

9 What type of retainer do you prefer in the maxillary esthetic zone for an RPD
a. Wrought wire
b. Occlusaly approaching
c. Gingivally approaching
d. Procession attachments

C. Attitude

N Pernyataan Den Dental Bot Not


o tist technic h requi
ian red

1 In your
opinion who
should be
responsible
for designing
an RPD

2 Is surveying
the job of
dental
technician or
a dentist

Anda mungkin juga menyukai