Anda di halaman 1dari 17

BAKTERIOLOGI

Staphylococcus epidermidis

Dosen : Pestariati, S.Si., M.Kes

Oleh :

Ni Made Sukma Wija Yanti ( P27834122083 )

KEMENTRIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN SURABAYA
JURUSAN TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
2022
Staphylococcus epidermidis

A. Pengertian

Staphylococcus epidermidis merupakan satu dari tiga spesies bakteri Gram positif
Staphylococcus yang sering dijumpai dan memiliki kepentingan klinis (Jawetz et al., 2010).
Staphylococcus epidermidis adalah flora normal pada kulit, saluran napas dan saluran cerna
manusia (Jawetz et al., 2010). Staphylococcus epidermidis juga dapat ditemukan pada
membran mukosa ( Namvar et al., 2014).

Staphylococcus epidermidis merupakan bakteri yang bersifat oportunistik (menyerang


individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah). Bakteri ini adalah salah satu patogen
utama infeksi nosokomial, khususnya yang berkaitan dengan infeksi benda asing. Orang yang
paling rentan terhadap infeksi ini adalah pengguna narkoba suntikan, bayi baru lahir, lansia,
dan mereka yang menggunakan kateter atau peralatan buatan lainnya. Organisme ini
menghasilkan glycocalyx "lendir" yang bertindak sebagai perekat mengikuti ke plastik dan
sel-sel, dan juga menyebabkan resistensi terhadap fagositosis dan beberapa jenis antibiotik.
Staphylococcus epidermidis memberikan kontribusi sekitar 65-90% dari semua
Staphylococcus yang ditemukan dari flora aerobik manusia. Orang yang sehat dapat
memiiliki hingga 24 strain (jenis) dari spesies, beberapa di antaranya dapat bertahan di
permukaan yang kering untuk waktu yang lama. Hospes bagi organisme ini adalah manusia
dan hewan berdarah panas lainnya (Nilsson, 1998).

B. Klasifikasi Staphylococcus epidermidis

Genus Staphylococcus terdiri dari sekurangnya 30 spesies. Tiga spesies utama yang
penting secara klinik adalah Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, dan
Staphylococcus saprophyticus. Menurut Vasanthakumari (2007) klasifikasi bakteri
Staphylococcus epidermidis sebagai berikut :

Kingdom : Eubacteria

Phyllum : Firmicutes

Classis : Bacilli

Ordo : Bacillales

Familia : Staphylococcaceae
Genus : Staphylococcus

Spesies : Staphylococcus epidermidis

C. Morfologi dan Karakteristik

Staphylococcus epidermidis merupakan bakteri opotunistik yang menyerang individu


ketika sistem tubuh lemah. Ciri-ciri penting dari bakteri Staphylococcus epidermidis adalah
berbentuk kokus, berdiameter 0,5-1,5 µm. Staphylococcus epidermidis berkoloni
mengerombol menyerupai buah anggur, koloni biasanya berwarna putih atau krem. Bakteri
ini merupakan Gram positif (Pramasanti, 2008). Staphylococcus epidermidis bersifat aerob
fakultatif. Staphylococcus epidermidis ini tidak memiliki protein A pada dinding selnya yang
membedakannya dengan Staphylococcus aureus. Staphylococcus aureus mempunyai
komponen dinding sel yang berupa Protein A. Protein ini dapat mengikat pada bagian Fc
molekul IgG kecuali IgG3. Protein A berperan penting dalam bidang imunologi dan
teknologi laboratorium diagnostik. Protein A jika dilekati molekul IgG terhadap antigen
bakteri spesifik dapat mengaglutinasi bakteri yang mempunyai antigen tersebut atau ko-
aglutinasi (Brooks, dkk., 2005). Protein ini juga berperan dalam menghalangi aktivitas
fagositosis (Gupte, 1990). Staphylococcus bersifat koagulasi negatif, dalam keadaan anaerob
tidak meragi manitol (Todar, 2011).
Staphylococccus epidermidis adalah bakteri gram-positif berbentuk bulat dan berdiameter ± 1 µm,
biasanya tersusun dalam rangkaian tak beraturan seperti anggur. Pada biakan yang masih muda sel
coccus akan terlihat memberikan pewarnaan gram-positif yang kuat (berwarna keunguan) tetapi pada
biakan yang sudah tua sel kokus akan berubah menjadi bakteri gram negatif (berwarna kemerahan).
Staphylococcus epidermidis mudah berkembang pada suhu 37 ̊C tetapi suhu terbaik untuk
menghasilkan pigmen pada suhu ruangan (20-25 ̊C). Koloni pada medium padat berbentuk bulat,
halus, meninggi dan berkilau. Staphylococcus epidermidis berwarna abu-abu hingga putih dan akan
menghasilkan koloni yang banyak setelah inkubasi selama 24 jam (Brooks dkk, 2008).

D. Patogenitas

Staphylococcus epidermidis adalah mikrobia normal pada kulit manusia dan bersifat nonpatogen
bagi orang sehat. Bakteri Staphylococcus epidermidis dapat menjadi patogen yang dapat
menyebabkan infeksi nosokomial pada persendian dan pembuluh darah. Staphylococcus epidermidis
juga mampu memproduksi toksin atau zat racun dan lendir yang memudahkan untuk menempel di
mana saja, termasuk pada permukaan alat-alat yang terbuat dari plastik atau kaca. Lendir tersebut pula
yang membuat Staphylococcus epidermidis menjadi lebih resisten terhadap fagositosis yaitu
mekanisme pembunuhan bakteri oleh sistem kekebalan tubuh serta membuat resisten terhadap
beberapa obat antibiotik (Sinaga dalam Lenny, 2016). Staphylococcus epidermidis dapat
menyebabkan penyakit pembengkakan (abses) seperti jerawat, infeksi kulit, infeksi saluran kemih dan
infeksi ginjal (Radji, 2011).

Gejala-gejala yang timbul tergantung dari lokasi infeksi. Infeksinya mungkin ringan atau
bahkan bisa berakibat fatal. Biasanya infeksi Staphylococcus sp. menyebabkan terbentuknya
suatu kantung berisi nanah, yaitu abses dan bisul (furunkel & karbunkel). Staphylococcus sp.
dapat menyebar melalui pembuluh darah dan menyebabkan abses pada organ dalam (seperti
paru-paru), tulang (osteomielitis) dan lapisan dalam dari jantung dan katupnya (endokarditis).
Staphylococcus sp. juga dapat menyebabkan selulitis (suatu infeksi dibawah kulit). Biasanya
bisul juga terjadi karena stafilokokus. Dua macam infeksi stafilokokus kulit yang cukup
serius adalah Nekrolitik epidermal toksik dan Sindroma kulit terbakar (Scalded skin
syndrome), yang bisa menimbulkan pengelupasan kulit yang meluas (Jawetz, 1992). Bayi
baru lahir biasanya mengalami infeksi kulit Staphylococcus sp. dalam waktu 6 minggu
setelah lahir. Gejala yang paling sering ditemukan adalah kulit seperti melepuh yang berisi
nanah di daerah lipatan lengan, kelamin dan lipatan leher. Infeksi Staphylococcus sp. yang
lebih berat bisa menyebabkan banyak abses, pengelupasan kulit yang luas, infeksi darah,
infeksi selaput otak dan medula spinalis (meningitis) serta pneumonia (Djide, 2003).

Staphylococcus epidermidis dianggap sebagai patogen oportunistik yaitu tidak


menyebabkan penyakit pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang normal, akan tetapi
dapat menyerang orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Penyakit yang dapat
ditimbulkan dari bakteri ini meliputi infeksi saluran kencing, infeksi pada implan protesa
didalam tubuh, sepsis, endokarditis, dan endophtalmitis. Staphylococcus epidermidis
memproduksi biofilm berupa susunan matriks polimerik yang dapat melekat pada permukaan
inert atau hidup. Biofilm berfungsi untuk melindungi sel-sel bakteri terhadap mekanisme
pertahanan inang dan agen antimikroba (Namvar et al., 2014). Kemampuan bakteri
Staphylococcus epidermidis dalam membentuk lapisan biofilm pada perangkat prostetik
menjadi faktor utama timbulnya infeksi ( Jawetz et al., 2010).

E. Identifikasi

Menurut (Jawetz, 1992) untuk uji laboratorium, sampel yang digunakan untuk
menentukan bakteri Staphylococcus adalah

 Nanah
 Darah

 Usapan Luka

 Cairan Otak

Setelah mendapatkan sampel, maka tahapahn uji untuk melakukan identifikasi bakteri
Staphylococcus epidermidis dilakukan dengan cara sebagai berikut.

a. Hari Pertama

Mengisolasi bakteri Staphylococcus epidermidis pada media Blood Agar Plate (BAP)
kemudian diinkubasi 24 jam, suhu 37 ̊C. Selain itu bakteri juga diisolasi di media Mannitol
Salt Agar (MSA). Media agar darah atau Blood Agar Plate adalah media pertumbuhan
bakteri yang telah diperkaya dengan darah (Cappuccino dan Sherman, 2014). Media ini
digunakan untuk pertumbuhan bakteri patogen dan memungkinkan untuk diferensiasi bakteri
perdasarkan kemampuan hemolitiknya. Media BAP yang umum digunakan terbuat dari darah
domba dan mejadi media standar (Krihariyani, dkk., 2016). Darah domba tersebut telah
didefibrinasi terlebih dahulu. Proses defibrinasi berfungsi untuk menghilangkan benang-
benang fibrin sehingga dapat mencegah pembekuan darah. Media BAP terbuat dari media
basal dengan penambahan 5-10% darah defibrinasi (Turista dan Puspitasari, 2019). Darah
domba mengandung protein, lemak dan karbohidrat. Kandungan tersebut dibutuhkan oleh
bakteri-bakteri patogen.
Komponen darah domba yang penting dalam media BAP adalah eritrosit. Eritrosit
digunakan untuk melihat ada tidaknya hemolisis. Jumlah eritrosit darah domba bergantung
pada asupan nutrien. Eritrosit pada darah domba dewasa berkisar antara 9,0-11,1 juta eritrosit
(Turista dan Puspitasari, 2019).Permasalahan di lapangan seringkali kesulitan dalam
pengadaan darah domba. Oleh karena itu, Peneliti mencoba membuat media BAP darah
manusia sebagai alternatif pengganti darah domba. Ciri-ciri pertumbuhan koloni bakteri
Staphylococcus epidermidis di Media BAP adalah :
 Ukuran koloni sedang-besar

 Warna putih susu

 Anhemolisa (tidak ada zona bening di sekeliling koloni)


Gambar 1. Koloni Bakteri Staphylococcus epidermidis di media BAP

Sumber : (Damayanti, 2018)

Inokulasi dilakukan pada media Mannitol Salt Agar (MSA) bertujuan untuk mengetahui
bakteri Staphylococcus sp. tersebut dapat meragi atau memfermentasi alkohol atau tidak. Jika
setelah dilakukan inokulasi dan diinkubasi tumbuh koloni bakteri yang disekelilingnya
muncul warna kekuningan maka koloni bakteri yang tumbuh dinyatakan positif
memfermentasi manitol, tetapi jika tidak maka koloni bakteri yang muncul tidak
memfermentasi manitol. Bakteri Staphylococcus epidermidis dapat meragi glukosa, dalam
keadaan anaerob tidak meragi manitol dan tidak memproduksi enzim koagulase (Staf
Pengajar FKUI, 1993). Berbeda dengan Staphylococcus aureus yang memfermentasi manitol
maka disekitar koloninya akan muncul warna kekuningan.
Berikut adalah cara penanaman/inokulasi bakteri Staphylococcus epidermidis pada media
Mannitol Salt Agar (MSA).
1. Siapkan cawan petri berisi media MSA

2. Ambil 1 (satu) ose biakan bakteri pada media NA, kemudian inokulasikan secara
higienis pada permukaan media MSA dengan goresan zig-zag, selanjutnya inkubasi
pada suhu ±37 ̊C selama 2x24 jam.

3. Amati perubahan warna yang terjadi pada media (Situmorang dan Silitonga, 2021).

Hasil yang didapatkan tidak terdapat warna kuning disekitar koloni bakteri yang tumbuh.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 2 di bawah ini.
Gambar 2. Staphylococcus pada media MSA

b. Hari Kedua

Pada hari kedua dilakukan pengamatan ciri khas morfologi koloni yang tumbuh pada
media BAP kemudian menanam koloni pada media BA (Blood Agar) dan BB (Blood Broth).
Kemudian inkubasi selama 24 jam pada suhu 37 ̊C. Setelah 24 jam didapatkan bahwa pada
kedua media yaitu BA dan BB, koloni bakteri Staphylococcus epidermidis tidak dapat
melisiskan darah yang terkandung di dalam media atau disebut anhemolisa. Untuk lebih
jelasnya, dapat dilihat gambar 2 di bawah ini.

Gambar 3. Media Blood Agar (Kanan), Media Blood Broth (Kiri)

Sumber : (Damayanti, 2018)


c. Hari ketiga

Pada hari ketiga ini melakukan 2 kegiatan yaitu mengamati media BA dan BB yang telah
diinkubasi, setelahnya melakukan pegecatan gram dari media BA dan BB. Selanjutnya
melakukan uji katalase dengan menggunakan H2O2 dan melakukan uji D-Nase untuk
diinkubasi selama 24 jam (Damayanti, 2018).

 Uji Pewarnaan Gram

Pewarnaan gram merupakan pewarnaan differensial, karena dapat membedakan bakteri


yang bersifat gram positif dan gram negatif.

Bakteri gram positif, ialah bakteri yang mengikat pewarna bakteri utama dengan kuat,
sehingga tidak dapat dilunturkan dan tidak dapat diwarnai lagi oleh pewarna bakteri lawan.
Sedangkan Bakteri gram negatif, adalah bakteri yang kemampuan mengikat pewarna bakteri
utama tidak kuat, sehingga dapat dilunturkan oleh peluntur, dan dapat diwarnai oleh pewarna
bakteri lawan. Selain itu ada pula bakteri yang bersifat gram variabel. Bakteri-bakteri ini
mempunyai sifat intermedier antara gram positif dan negatif. Sehingga kadang-kadang
bersifat gram positif, kadang-kadang bersifat negatif (Sukmawati, 2018).

Perbedaan sifat bakteri tidak mutlak tegas dan spesifik, tetapi masih tergantung beberapa
faktor yang menyebabkan variasi dalam pewarnaan gram, yaitu :

1. Perubahan keasaman, apabila pH turun kemungkinan bakteri gram positif dapat


berubah menjadi gram negatif, demikian pula sebaliknya.

2. Penyimpangan cars pewarnaan, misalnya pencucian yang terlalu lama, dapat


menyebabkan bakteri-bakteri gram positif memberikan hasil gram negatif.

3. Faktor medium juga mempengaruhi. Bakteri gram positif lemah apabila terlalu lama
ditumbuhkan dalam medium yang mengandung bahan yang mudah difermentasi,
dapat berubah menjadi gram negatif.

4. Umur bakteri, bakteri-bakteri gram positif yang terlalu tug akan kehilangan nutrisi,
sehingga dapat berubah menjadi gram negatif.

5. Perlakuan khusus, bakteri gram positif yang bagian-bagian selnya (jenis-jenis lemak,
karbohidrat, protein) dihilangkan dengan melarutkan dalam air pangs, eter atau
larutan ribonuklease, dapat berubah menjadi gram negatif. Bakteri gram negatif
apabila ditambah dengan larutan pekat DNA dapat berubah menjadi gram positif,
misalnya Escherichia coli (Sukmawati, 2018).

Dibawah ini merupakan tahap-tahap yang harus dilakukan dalam melakukan uji
pewarnaan gram.

1. Siapkan 2 kaca objek, kemudian tambahkan NaCl fisiologis dan bakteri dari media
BA dan media BB, kemudian fiksasi.

2. Kaca objek diletakan di atas bak pewarna, kemudian digenangi dengan karbol gentian
violet selama 3 menit. Kelebihan zat warna dibuang, dan dibilas dengan air mengalir.

3. Olesan digenangi dengan lugol selama 2 menit, pereaksi berlebih dibuang, dan dibilas
dengan air mengalir.

4. Olesan digenangi oleh alkohol 95% tetes demi tetes selama 30 detik atau sampai
semua zat warna hilang, kemudian dibilas dengan air mengalir.

5. Pewarnaan yang terakhir dengan safranin selama 1 menit, kelebihan zat warna
dibuang dan dibilas dengan air, kemudian dikeringkan dengan kertas saring.

6. Preparat dilihat di bawah mikroskop dengan pembesaran 10x dilanjutkan 100x.

7. Hasil percobaan digambar dengan teliti. Sel bakteri yang bewarna ungu menunjukkan
bakteri masuk kelompok gram positif, sedangkan bakteri gram negatif akan berwarna
merah (Damayanti, 2018).

Hasil Pemeriksaan :

1. Bentuk bakteri Coccus/bulat.

2. Berwarna ungu, dengan jenis gram positif.

3. Memiliki ukuran dengan diameter 0,8-1 µm.

4. Susunan bakterinya 2-2, 4-4, bergerombol seperti buah anggur.


Gambar 4. Morfologi Bakteri Staphylococcus epidermidis di bawah Mikroskop

Dengan Pengecatan Gram

Sumber : (Damayanti, 2018)

 Uji Katalase

Bakteri akan menghasilkan Hidrogen Peroksida atau bahkan superoksida yang sangat
toksik sebagai hasil samping dari respirasi aerob. Bahan – bahan tersebut harus diuraikan
secara enzimatik agar tidak mengakibatkan kematian pada bakteri. Staphylococcus
epidermidis menghasilkan enzim katalase yang mengubah Hidrogen Peroksida menjadi air
dan Oksigen dengan mekanisme sebagai berikut :
katalase
2H2O2 2H2O + O2
Uji katalase untuk membedakan Stafilokokkus dengan Streptokokus (Brooks, dkk.,
2005). Uji katalase dilakukan dengan meletakkan bakteri Staphylococcus epidermidis di
dalam larutan hidrogen peroksida 3% pada object glass, kemudian diamati terbentuknya
gelembung gas. Terbentuknya gelembung gas menunjukkan hasil katalase positif dan tidak
terbentuknya gas menunjukkan hasil katalase negatif (Cappuccino dan Sherman, 2014).

Berikut ini adalah tahapan-tahapan dalam melakukan uji katalase, diantaranya :

1. Siapkan kaca objek tambahkan NaCl Fisiologis dan bakteri dari media BA.

2. Tambahkan H2O2, homogenkan, catat hasil.


Hasil yang didapatkan pada uji katalase adalah bakteri Staphylococcus epidermidis
menghasilkan gelembung udara yang artinya bakteri ini memiliki sifat katalase positif (+).
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 5.

Gambar 5. Bakteri Staphylococcus epidermidis menghasilkan gelembung pada uji


katalase

Sumber : (Damayanti, 2018)

 Uji D-Nase
Uji D-Nase digunakan sebagai uji konfirmasi identifikasi bakteri Staphylococcus
aureus. Bakteri Staphylococcus aureus yang menunjukkan hasil koagulase positif umumnya
juga menghasilkan enzim hidrolisis D-Nase. Cara uji D-Nase dilakukan dengan cara
menumbuhkan bakteri pada media agar yang mengandung D-Nase (Cappuccino dan
Sherman, 2014). D-Nase agar mengandung triptose 2%, asam deoksiribonukleat 0,2%,
sodium klorida 0,5% dan indikator metil hijau (Pumipuntu, dkk., 2017). Setelah diinkubasi
pada suhu 37 ̊C selama 24 jam, aktivitas D-Nase ditentukan dengan penambahan HCl 10%
atau 0,1 % toluidine biru pada permukaan agar. Biakan positif yang mampu menghidrolisis
D-Nase akan menunjukkan daerah terang (halo) pada penuangan HCl atau warna merah rose
dengan toluidine biru disekitar koloni. Hal tersebut menunjukkan bakteri menghasilkan
enzim deoksiribonuklease atau D-Nase (Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, 2003).
Berikut adalah tahapan dalam uji D-Nase.
1. Menyiapkan media D-Nase.
2. Menggoreskan bakteri kedalam media D-Nase kira-kira 1cm, inkubasi selama 24 jam
pada suhu 37 ̊C.
d. Hari Keempat
Pada hari keempat, ada 2 kegiatan yang dapat dilakukan yaitu uji melihat hasil uji dari uji
D-Nase yang telah dilakukan pada hari ketiga, dan melakukan tes koagulase terhadap bakteri
pada media BA.

 Identifikasi hasil uji D-Nase dengan cara digenangi dengan HCl

Gambar 6. Hasil Uji D-Nase digenangi dengan HCl


Sumber : (Damayanti, 2018)
Hasil yang didapat adalah jika bakteri merupakan koloni bakteri Staphylococcus
epidermidis, maka hasil yang didapat adalah bila media D-Nase digenangi dengan HCl 10%
maka tidak terbentuk zona bening disekitar koloni. Selanjutnya dilakukan tes koagulase pada
koloni bakteri (Damayanti, 2018).

 Uji Koagulase

Koagulase merupakan protein menyerupai enzim yang dapat menggumpalkan plasma


karena adanya faktor yang terdapat dalam serum jika ditambah dengan oksalat atau sitrat
(Brooks, dkk., 2005). Koagulase bekerja dengan mengubah fibrinogen menjadi fibrin dan
menjadi petunjuk galur Staphylococcus sp. yang memiliki kemampuan ini seperti
Staphylococcus aureus. Benang fibrin yang terbentuk akan mengelilingi bakteri sehingga
bakteri akan terlindungi dari aktivitas anti stafilokokkus dan fagositosis. Uji Koagulase dapat
dilakukan dengan dua metode yaitu metode slide dan metode tabung.

Pelaksanaan metode slide lebih cepat dibandingkan dengan metode tabung, yaitu berkisar
antara 1-2 menit sedangkan metode tabung perlu diinkubasi selama 4 sampai 24 jam terlebih
dahulu untuk melihat hasil koagulase (Jiwintarum, dkk., 2015). Metode tabung digunakan
untuk konfirmasi jika hasil metode slide negatif (Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya,
2003). Uji Koagulase dilakukan dengan menyiapkan suspensi bakteri Staphylococcus
epidermidis yang diletakkan di dalam plasma yang mengandung sitrat. Plasma yang
digunakan untuk uji koagulase biasanya dari plasma kelinci 3,8% atau plasma manusia 3,8%.
Plasma domba 3,8% masih jarang digunakan di lapangan (Jiwintarum, dkk., 2015).

Hasil penelitian Jiwintarum, dkk. tahun 2015, waktu pembentukan fibrin lebih cepat
menggunakan plasma manusia 3,8% daripada plasma kelinci 3,8%. Plasma yang telah
diinokulasi diamati ada tidaknya koagulasi atau pembentukan fibrin. Terbentuknya bekuan
dalam waktu 4 jam menandakan hasil uji positif pada metode tabung, sedangkan hasil uji
dikatakan negatif jika setelah 24 jam inkubasi tidak terjadi koagulase. Koagulase positif
mengindikasikan Staphylococcus sp. yang patogen sedangkan hasil negatif mengindikasikan
Staphylococcus sp. nonpatogen seperti Staphylococcus epidermidis (Cappuccino dan
Sherman, 2014).

Terdapat dua bentuk koagulase (Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, 2003) yaitu:

a) Free coagulase

Bentuk koagulase ini memerlukan aktivasi oleh faktor plasma atau Coagulase Reacting
Factor (CRF) untuk mengubah fibrinogen menjadi fibrin. Free coagulase langsung
dibebaskan ke dalam medium. Biasanya menggunakan tes metode tabung dengan plasma
berupa plasma kelinci.
b) Bound coagulase (clumping factor)
Bentuk koagulase ini tidak membutuhkan CRF untuk mengubah fibrinogen menjadi fibrin.
Koagulase ini tidak dapat diperoleh di media pertumbuhan bakteri. Tes koagulase bentuk ini
menggunakan metode slide dengan plasma berupa plasma manusia.

Tahapan untu melakukan uji koagulase metode slide adalah sebagai berikut.

1. Siapkan objek glass, kemudian tambahkan plasma sitrat, NaCl dan bakteri.

2. Homogenkan dan catat hasilnya.

3. Hasil positif ditunjukkan dengan terjadinya gumpalan pada plasma. Sebaliknya,


jikatidak terjadi gumpalan maka uji dinyatakan negatif.
Hasil yang terjadi adalah bakteri ini memberikan hasil koagulase negatif yaitu tidak
terjadi pembekuan pada plasma yang dicampurkan dengan koloni bakteri ini. Faktor
koagulase berfungsi untuk melindungi bakteri dari fagositosis dan respon imun hospes
(Soedarto, 2015).
Kesimpulan

Staphylococcus epidermidis merupakan bakteri opotunistik yang menyerang individu


ketika sistem tubuh lemah. Ciri-ciri penting dari bakteri Staphylococcus epidermidis adalah
berbentuk kokus, berdiameter 0,5-1,5 µm. Staphylococcus epidermidis berkoloni
mengerombol menyerupai buah anggur, koloni biasanya berwarna putih atau krem. Bakteri
ini merupakan Gram positif (Pramasanti, 2008). Staphylococcus epidermidis bersifat aerob
fakultatif. Untuk membedakan atau mengidentifikasi Staphylococcus epidermidis , maka
dilakukan serangkaian uji. Pada uji BAP Staphylococcus epidermidis tidak dapat melakukan
hemolisa atau bersifat anhemolisa. Staphylococcus tidak dapat memfermentasi mannitol jadi
warna media MSA tetap berwarna merah. Staphylococcus epidermidis menghasilkan uji
katalase positif, D-Nase negatif, dan koagulase negatif.
DAFTAR PUSTAKA

Brooks, G.F., Janet, S.B., Stephen, A.M.2005. Mikrobiologi Kedokteran .Alih Bahasa :
Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.Jakarta : Salemba
Medika.

Brooks, G.F., Butel, J.S., Ornston, L.N., 2008, Jawetz, Melnick & Adelberg Mikrobiologi
Kedokteran (terj.), Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Cappuccino, JG. dan Sherman, N. 2014. Manual Laboratorium Mikrobiologi Edisi


Kedelapan. Alih Bahasa: Nur Miftahurrahman. Jakarta: EGC.

Damayanti, A. (2018). Morfologi dan Patogenitas Staphylococcus epidermidis.

Djide, M. N., 2003, Mikrobiologi Farmasi, 90, 96-97, Makassar, Jurusan Farmasi UNHAS.

Gupte, S., 1990, Mikrobiologi Dasar, alih bahasa oleh Julius, E. S., Edisi ketiga, 43, Binarupa
Aksara, Jakarta.

Jawetz, E., Melnick, J.L. And Adelberg, E.A., 1992. Mikrobiologi untuk Profesi Kesehatan
(Judul Asli : Review of Medical Physiology), Edisi ke9.Setiawan, I., Tengadi, K.A.,
Santoso, A. EGC Penerbit Buku kedokteran, Jakarta.

Jawetz, M., et al. 2010. Mikrobiologi Kedokteran. Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Krihariyani, Dwi dkk. 2016. Pola Pertumbuhan Staphylococcus aureus pada Media Agar
Darah Manusia Golongan O, AB dan Darah Domba sebagai Kontrol. Jurnal Ilmu dan
Teknologi Kesehatan. 3 (2): 191-200.

Lenny, Astry Azmi. 2016. Daya Hambat Ekstrak Buah Alpukat (Persea americana Mill)
Terhadap Pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis. Skripsi.
Universitas Muhammadiyah. Semarang. Diunduh dari :
http://repository.unimus.ac.id/115/1/SKRIPSI%20FULL%20TEXT.pdf

Namvar AE, Bastarahang S, Abbasi N, Ghehi GS, Farhadbakhtiarian S, Arezi P, Hosseini M,


Baravati SZ, Jokar Z, and Chermahin SG, 2014. Clinical characteristics of
Staphylococcus epidermidis: A Systematic Review. GMS Hygiene and Infection Control
Vol 9 (3): 1-10.

Nilsson, Lars, Flock, Pei, Lindberg, Guss.1998. A Fibrinogen-Binding Protein of


Staphylococcus epidermidis. Infection and Immunity . Amerika : American Society for
Microbiology (ASM).

Pramasanti, 2008, Perawatan Jerawat, kesehatan.07x.net, 26 Agustus 2022.

Pumipuntu,N., dkk. 2017. Screening Method for Staphylococcus aureus Identification in


Subclinical Bovine Mastitis from Dairy Farms. www.veterinaryworld.org.

Radji, Maksum. 2011. Buku Ajar Mikrobiologi Panduan Mahasiswa Farmasi dan
Kedokteran. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Situmorang, N., & Silitonga, E. M. M. (2021). Identifikasi Bakteri Staphylococcus aureus


dan Staphylococcus epidermidis Pada Laboratorium Mikrobiologi Politeknik, 4(1), 228–
234.

Soedarto. (2015). Mikrobiologi Kedokteran . jakarta: CV. Sagung Seto.

Sukmawati, D. (2018). Modul Praktikkum Laboratorium Mikrobiologi.

Todar, K. 2011. Fermentation of Food By Lactic Acid Bacteria. Todars Online Textbook of
Bacteriology. http://textbookofbacteriology.net/lactics.html.

Turista, Dora Dayu Rahma dkk. 2019. The Growth of Staphylococcus aureus in the Blood
Agar Plate Media of Sheep Blood and Human Blood Group A,B, AB and O. Jurnal
Teknologi Laboratorium. 8 (1): 01-07.

Vasanthakumari, R., 2007, Textbook of Microbiology, BI Publication Pvt Ltd.,New Delhi.