Anda di halaman 1dari 6

Segmentasi Plot: Laskar pelangi adalah salah satu novel yang menurut saya fenomenal dengan latar indah

panorama Belitung, dimulai dari karyawan tambang timah sampai narasi tokoh utama, Haikal, yang menceritakan kilas balik perjalanan hidupnya. Sampai kemudian cerita menggambarkan sebuah bangunan reyot dari kayu sampai papan nama hijau bertuliskan "SD Muhammadiyah ". Disitulah cerita itu berpusat. Cerita tentang kegigihan seorang lelaki tua mempertahankan keberadaan sebuah sekolah. Sebuah sekolah yang disebutnya menilai kecerdasan anak tidak sampai angka-angka tapi sampai hati. Cerita tentang idealisme seorang guru perempuan yang menolak tawaran - tawaran mengajar di tempat lain demi keinginan untuk mengajari anak -anak miskin yang berada disekolah tersebut. Hidup terkadang getir dan laskar pelangi adalah kegetiran itu. Rumah kayu reyot sampai penerangan lampu minyak tanah, sepeda rongsokan, isi rumah yang muram, sekolah yang hampir roboh dan anak-anak kumal yang ke sekolah bertelanjang kaki. Dan kegetiran itu dihadapkan secara kontras sampai kemakmuran mereka yang berada di dalam tembok PN Timah. Sekolah yang lebih bagus dan lengkap fasilitasnya, anak-anak di dalam tembok yang bermain sepatu roda. Sementara di balik kawat teralis anak-anak miskin hanya bisa menyaksikan sampai menahan air liur untuk kemudian petugas keamanan akan mengusirnya. Kekontrasan itu kemudian disatukan dalam sebuah adegan saat anak-anak SD Muhammadiyah harus mengikuti ujian di SD PN Timah. Kekontrasan itu semakin menonjol saat anak-anak kumal mesti berada dalam satu ruangan sampai anak-anak SD PN Timah yang jauh lebih "bersih". Pandangan aneh yang menyergap saat anak-anak kumal itu ke sekolah tanpa berseragam dan mengenakan sandal, kekikukan yang tak mampu ditutupi di wajah Bu Guru Muslimah dan pandangan meremehkan dari guru-guru pengawas ujian. Ada sebuah nilai yang barangkali mesti kita petik, saat kita lebih suka menilai orang dari apa yang dikenakannya. Saat kita menjadi minder dan tidak percaya diri di saat berada dalam hal ini. Novel ini juga mengingatkan properti masa lalu dan kemudian secara geli kadang kita ikut mentertawakannya. Mahar, seorang anak yang suka mendengarkan radio, berkali-kali menjemur baterai agar bisa dipergunakan kembali. Di masa lalu baterai untuk radio memang

tidak langsung dibuang saat sudah habis tenaganya, melainkan dijemur untuk kemudian dipergunakan lagi bahkan sampai baterai mengeluarkan cairan kekuning-kuningan. Kebiasaan Ayah Haikal membersihkan kaca lampu tempel. Haikal yang memakai pomade dan ibu saya membiasakan saya untuk memakainya saat berangkat sekolah. Juga setrika jago yang memakai arang,di mana saat setrika sudah sedemikian panas maka dilandasan setrika mesti ditaruh di atas daun pasang segar agar panasnya setrika tersebut segera turun. Secara keseluruhan novel ini bertutur sampai lancar.Gambar-gambar muram silih berganti sampai gambar-gambar terang dan indah.Dukungan dari pemain-pemain Senior berkarakter menambah apik film ini.Kredit poin patut diberikan kepada Cut Mini Theo yang mampu lebur dalam watak yang diperankannya.Cut Mini Theo tampil sangat wajar sampai aksen Melayu yang jauh dari kesan dibuat-buat.Film ini juga mampu merubah genre sebuah tontonan yang biasanya berkisar pada horor dan tampilan "cling" dan kemewahan. Namun kekhawatiran saya terbukti.Di tengah-tengah film berlangsung saya tidak mampu menyembunyikan perasaan yang larut dalam suasana film yang terbangun.Kalau toh kemudian mata saya berkaca-kaca,karena kegetiran itu memang tidak mengenal batas dan tidak tahu akan berhenti di mana dan berlaku untuk siapa.Sampai seorang anak pesisir miskin yang cerdas mesti menjadi kepala rumah tangga dan bertenggung jawab membesarkan ketiga adiknya karena ayahnya mengalami kecelakaan saat melaut. Di Akhir penghujung cerita ini ada pendatang baru yang membuat kelompok mereka bertambah jumlahnya menjadi 11 orang. Seorang gadis tomboy dari keluarga kaya raya. Ayahnya adalah seorang berpendidikan tinggi dan memiliki pengaruh pada suatu perusahaan milik BUMN di Pulau Belitong. Sangat kontras bila membandingkannya dengan murid-murid Laskar Pelangi lainnya. Dengan kedatangan pendatangan baru yang bernama Flo pada akhir cerita ini, alur cerita semakin menarik dan petualangan kehidupan para Laskar Pelangi lebih banyak melewati cobaan, rintangan, tantangan, dan pertentangan yang pada saat melihatnya akan membuat kita selalu penasaran.

II. Pembahasan

A. Metode Analisis Naratif Sekilas tentang analisis naratif, dalam hal ini Analisis - naratif menggunakan pendekatan pendekatan dan metode yang dikembangkan oleh para sastrawan. Pertanyaan pentingnya: 1. Bagaimana struktur dan dinamika cerita? 2. Apa yang diceritakan dan bagaimana menceritakannya? 3. Bila ada konflik, bagaimana perkembangannya, apa motifnya? 4. Apa makna atau pesan cerita ini? Apa yang diceritakan dan bagaimana penceritaannya 1. Apa yang diceritakan (isi)
y y y y

Latar (setting): Waktu, Tempat, Situasi-kondisi, suasana Tokoh cerita Adegan Alur cerita

2. Cara penceritaan
y y y y y y y

Pengulangan Pemelukan (inklusio) Pensejajaran Rujukan ke PL (implisit dan eksplisit) Peramalan Ringkasan Persepsi pencerita

Salah satu pergeseran yang paling penting dalam analisa naratif dimulai pada tahun 1960-an dengan ahli teori Perancis, Kristen Metz, yang membangun teori linguistik, termasuk juga Ferdinand de Saussure, yang membawa analisis struktural ke dalam ilmu pengetahuan film. Metz, bersama dengan Roland Barthes, menetapkan dasar untuk beberapa karya dalam aspek naratif, termasuk pergeseran ke arah analisa ceramah. Dengan mengadopsi metodologi dari bidang semiotics, Metz mulai mencari bagaimana bioskop bisa dikatakan sesuatu yang menandakan, atau menghasilkan suatu makna. Makna tersebut merupakan suatu proses dinamis

yang tergantung pada material signifiers, yang (mana) untuk bioskop sendiri, meliputi representational gambaran, sebutan/judul, berbicara bahasa, memecahkan, dan musik dan cakupan mereka mengenai yang ditandai, atau makna denotative dan connotative. Signifying practice menjadi istilah untuk bagaimana film menceritakan sesuatu. Metz yang memulai dengan evaluasi cinematic dengan bahasa dan secara sistematis menggambarkan kode dalam karya-karya di bioskop, banyak seperti Roland Barthes dalam menggambarkan kode dalam literatur. Dengan S/Z (1970) khususnya, Barthes menunjukkan bahwa realisme tergantung di atas sistem textual, intertextual, dan extratextual kode. Analisa naratif harus meliputi merinci suatu kode arti/pengertian teks, tetapi juga melibatkan dan memperhatikan pembatasan dan konteks budaya. Asumsinya adalah bahasa itu adalah suatu kekuatan sosial yang berjuang untuk membentuk bagaimana kita harus berpikir dan bertindak. Sedangkan realisme merupakan suatu mode yang telah ditentukan secara budaya, ideologis, dan penonton atau pembaca harus berjuang untuk memecahkan kode dari sistem teks atau berjuang untuk menyerapnya hingga menemukan suatu logika. Film realis telah diserang untuk strategi penyamarannya yang khayal dan dibuat seperti alami. Metz dan yang lain mulai untuk menganalisa keyakinan mengenai "impression of reality", yang dihasilkan oleh isyarat cinematic yang kuat, dan langkah kedua mengenai structuralisme, lebih tertarik akan intertextual dan extratextual kode spectatorship dan ideologi, yang menjadi komponen pusat dari teori naratif. Pada tahun 1970-an dan 1980-an, banyak ahli teori naratif yang terus meningkat dan bergeser dari menjelaskan kejadian yang naratif, ke menjelaskan proses mengenal sebagai suatu kabar. Seorang ahli linguistik yang berpengaruh adalah mil Benveniste. Bagi Benveniste, cerita (histoire) mencoba untuk menyembunyikan tanda komunikasinya, memperkenalkan dirinya sendiri dalam sesuatu yang bukan perseorangan, cara yang objektif. Sebagai pembanding, tulisan juga termasuk dalam narasi. Dalam literatur, perbedaan bisa disederhanakan menuju ke apakah penceritaan menggambarkan informasi tersebut sebagai fakta yang diberikan atau sebagai acuan referensi kepada seorang narator, seperti dalam " I-You." Proses penyampaian, ucapan, dan struktur penonton berhubungan dengan teks tersebut. Yang diumumkan selalu suatu produk ucapan/kabar, yang (mana), [seperti;suka] bahasa, adalah suatu proses sosial. Analis membongkar tanda komunikasi ini, yang (mana). Penonton tidak hanya digambarkan oleh struktur visual dari film bioskop, tetapi naratif juga yang

dievaluasi, mengenai bagaimana mereka memperkuat atau menantang isu budaya yang dominan. Jika penonton diposisikan secara visual, mereka juga diposisikan secara cultural di dalam struktur simbolis atau yang mythic dari ideologi yang dominan. III. Analisis Analisis isi (content analysis) mempunyai beberapa pengertian, seperti dicantumkan di bawah ini (Bailey, 1987): (1) Analisis isi merupakan teknik penelitian untuk mendeskripsikan secara kuantitatif, objektif, dan sistematik, dari isi komunikasi (Berelson, 1954). (2) Analisis isi adalah suatu teknik penelitian untuk membuat perujukan pengenalan karakteristik tertentu di dalam teks secara sistematik dan objektif (Stone, et.al., 1966). (3) Pada uraian tertentu kita mengusulkan penggunaan istilah 'content analysis' dan 'coding' secara bergantian guna menunjukkan deskripsi kuantitatif, sistematik, dan objektif, dari suatu prilaku simbolik (Cartwrigt, 1953). Dalam segmentasi plot di atas kita mengetahui bahwa Riri riza mengurutkan peristiwa -peristiwa kronologinya dengan sangat tepat. Sebagian besar peristiwa terjadi saat di akhir - akhir cerita. Berkenaan dengan analisis struktur naratif film ini, maka saya ingin mengurai ciri itu mulai dari gaya peng aluran waktu yang sangat lama, akan tetapi Riri riza memakai pendekatan yang lebih konvensional, terutama dari segi naratif. Di tengah -tengah alur cerita lebih emosional dan menghadirkan struktur naratif yang lebih tertata dan kronologis. Ia pun tak lagi banyak bermain dengan gaya dan medium. Film menggunakan alur Holywood dengan artian penonton di suguhkan alur yang menyenangkan. Dialog-dialog yang membangun naratif film pun tak lepas dari unsur gaya-gayaan yang maha hebat dan di sini gaya menemukan irisan serta korelasi dengan naratif. Dialog-dialog yang kadang mengambil dari film-film lain dan film-film dia sebelumnya kadang berisi hal-hal tidak penting, dan kadang berisi guyonan. Dalam konteks tradisonalisasi dan modernisasi film Laskar pelangi tersebut menggambarkan sangat kontras dengan kehidupan seorang yang miskin di tengah - tengah budaya yang tradisonal di suatu tempat dan waktu yang sama IV. Penutup Dengan penjabaran yang telah diuraikan di atas, maka jelas sekali konsep yang di pakai film ini

sangat jelas, konsep bahwa seorang anak tradisonal bisa bersaing dengan anak modern. Dalam hal ini Film Laskar Pelangi tetap mempertahankan kebudayaan atau adat tradisionalnya. dalam alur cerita dari karakteristik tokoh sentral yang ada sangatlah bagus dalam memainkan adegan demi adegan film tersebut walupun masih agak kaku dalam aktingnya